The State of Presence
Memasuki Keheningan Saat Ini
Pejamkan mata dan arahkan
perhatian sepenuhnya ke dalam diri.
Ajukan satu pertanyaan sederhana:
apa pikiran berikutnya yang akan
muncul? Jangan mencoba
menjawabnya. Tugasnya bukan
berpikir, melainkan menunggu.
Tetap waspada terhadap pikiran
berikutnya yang mungkin muncul
kapan saja. Dalam penantian itu,
ada kualitas kesadaran yang berbeda:
perhatian yang hidup, tajam, dan
hadir.
Pada saat ini, tidak ada pikiran lain
yang muncul. Tidak ada
kekhawatiran tentang masa depan,
tidak ada penyesalan tentang masa
lalu. Yang ada hanyalah kesadaran
yang berjaga. Inilah keadaan
presence—kehadiran penuh
di saat ini.
Kewaspadaan Tanpa Pikiran
Keadaan ini mirip seperti seekor
kucing yang mengawasi lubang
tikus. Ia tidak tegang, tetapi
sepenuhnya siaga. Seluruh
perhatiannya tertuju pada momen
sekarang. Dalam kewaspadaan
seperti ini, pikiran tidak
menguasai. Kesadaran berdiri
sendiri, tanpa gangguan.
Selama kewaspadaan itu terjaga,
pikiran-pikiran tidak datang.
Tidak ada kekacauan batin. Ada
ketenangan yang alami, bukan
karena dipaksakan, tetapi karena
perhatian sepenuhnya berada
di saat ini.
Saat Kehadiran Mulai Melemah
Namun, keadaan ini bisa berubah.
Ketika konsentrasi mulai melemah
dan kewaspadaan menurun, sesuatu
terjadi di dalam pikiran. Kekacauan
mulai bergerak kembali.
Pikiran-pikiran muncul, satu demi
satu. Kedamaian yang tadi ada
perlahan terganggu.
Inilah momen ketika perhatian
kembali terseret oleh arus mental.
Tanpa disadari, kesadaran tidak
lagi berada di saat ini, melainkan
terbawa oleh isi pikiran. Dunia
batin kembali ramai.
Kembali ke Saat Ini
Begitu menyadari bahwa perhatian
telah melemah, satu-satunya jalan
adalah kembali ke saat ini. Bukan
dengan melawan pikiran, tetapi
dengan kembali hadir. Mengamati.
Menyadari bahwa pikiran telah
mengambil alih, lalu kembali berjaga.
Kehadiran tidak perlu diciptakan.
Ia selalu ada. Yang dibutuhkan
hanyalah kesadaran untuk kembali
kepadanya.
Pelajaran dari Zen Masters
Para Zen Master mengajarkan
keadaan presence dengan cara yang
tidak biasa. Mereka mengejutkan
muridnya dengan pukulan tongkat
kayu dari belakang. Jika seorang
murid tidak berkonsentrasi atau
sedang larut dalam pikirannya,
reaksinya akan spontan dan kacau.
Sebaliknya, murid yang benar-benar
hadir akan merasakan kehadiran
sang guru sebelum serangan terjadi.
Ia menangkap sinyal halus,
mengantisipasi apa yang akan
terjadi, dan siap melindungi dirinya.
Kehadiran membuatnya waspada
tanpa rasa takut.
Kehadiran dan Kesiapan
Perbedaan ini menunjukkan satu hal
penting: kehadiran adalah kesiapan.
Saat seseorang benar-benar hadir
dan waspada, ia tidak mudah
terkejut oleh apa pun yang muncul.
Ia selaras dengan momen sekarang.
Sebaliknya, ketika tidak hadir,
pikiran mengembara. Reaksi
menjadi lambat atau berlebihan.
Segala sesuatu datang seolah
tiba-tiba, padahal kesadaranlah
yang tertinggal di belakang.
Terseret oleh Arus Pikiran
Jika tidak hadir dan tidak waspada,
pikiran akan terus menarik
kesadaran ke mana pun ia pergi.
Keadaannya seperti sepotong kayu
yang hanyut di sungai. Ia tidak
memilih arah. Ia hanya mengikuti
arus.
Tanpa kehadiran, seseorang tidak
hidup dari kesadaran, tetapi dari
reaksi. Pikiran menentukan arah,
bukan kesadaran.
Berakar dengan Dalam
Berakar dengan dalam berarti tidak
lagi hanyut. Ini adalah keadaan
di mana tubuh dan pikiran
sepenuhnya berada di sini. Tidak
terpecah. Tidak terbagi antara
masa lalu dan masa depan.
Berakar berarti memiliki kendali
penuh atas tubuh dan pikiran.
Bukan dengan paksaan, melainkan
melalui kesadaran. Pikiran disadari,
bukan diikuti. Tubuh dirasakan,
bukan diabaikan.
Kesadaran Penuh terhadap
Lingkungan
Dalam keadaan berakar, kesadaran
terbuka terhadap lingkungan
sekitar. Suara, gerakan, dan
keberadaan lain dirasakan apa
adanya. Tidak ada jarak antara
pengamat dan yang diamati.
Inilah inti dari The State of Presence:
kewaspadaan tanpa ketegangan,
keheningan tanpa tidur, dan
kesadaran yang sepenuhnya hidup
di saat ini.
Berikut contoh sehari-hari
