Buku The Intelligent Investor Benjamin Graham, Mengenal “Mr. Market”

Benjamin Graham
Bayangkan Kamu Memiliki
Sebagian Bisnis
Mari mulai dari sebuah gambaran
sederhana. Kamu membeli sebagian
kecil dari sebuah bisnis dengan harga
seribu dolar. Setiap hari, ada satu
orang aneh, moody, dan cenderung
bipolar yang datang ke rumahmu.
Orang ini disebut Mr. Market.
Mr. Market selalu membawa opini
tentang berapa nilai bagian
bisnismu hari ini.
Ia menawarkan dua hal:
membelinya darimu, atau
menjualkan bagian tambahan
kepadamu.
Masalahnya: opini Mr. Market
sering kali tidak masuk akal.
Ketika Penilaian Mr. Market
Benar-Benar Tak Masuk Akal
Sejarah sudah membuktikan betapa
absurdnya penilaian Mr. Market.
Pada Maret 2000, ia menilai bagian
bisnismu seharga $2.600.
Hanya setahun kemudian, pada
Maret 2001, ia bilang nilai itu tinggal
$500.
Padahal?
Selama periode itu:
Pendapatan perusahaan naik
50%.Laba naik 20%.
Bisnisnya makin kuat tapi
harga yang ditawarkan
Mr. Market justru jatuh drastis.
Inilah inti masalahnya: Mr. Market
tidak rasional. Ia bisa berlebihan
dalam optimisme, lalu tiba-tiba
tenggelam dalam pesimisme.
Mengapa Kamu Tidak Boleh
Mengikuti Mood Mr. Market
Inti pesannya sederhana:
Jangan biarkan Mr. Market
menentukan berapa nilai
sebenarnya dari investasimu.
Sebagaimana Benjamin Graham
tekankan, saham bukan sekadar
simbol dan harga yang berkedip
di layar. Saham adalah
kepemilikan dalam sebuah
bisnis.
Karena itu, nilai sebenarnya dari
bisnis tidak selalu sama dengan
harga yang ditawarkan
Mr. Market. Sering kali:
Ia menawarkan harga yang
terlalu tinggi, atauJustru terlalu rendah.
Tugasmu bukan mengikuti mood-nya,
melainkan mengetahui nilai bisnis
yang kamu miliki.
Gunakan Mr. Market sebagai
Kesempatan, Bukan Penentu
Inilah kelebihan Mr. Market:
Ia tidak memaksamu menerima
tawarannya.
Ia hanya menawarkan kesempatan.
Jika ia datang dengan harga konyol
yang terlalu tinggi, itulah saat
tepat untuk menjual.
Jika ia datang dengan harga yang
sangat murah, itulah saat
membeli.
Tetapi jika tawarannya tidak
masuk standarmu?
Abaikan saja.
Dulu Mr. Market Datang Sekali
Sehari. Sekarang 100 Kali
Sehari
Ketika gagasan ini pertama kali
ditulis, orang hanya melihat harga
saham sekali sehari di koran pagi.
Mr. Market “datang berkunjung”
mungkin sekali sehari.
Hari ini, Mr. Market muncul setiap
kali kamu membuka ponsel
dan kalau kamu seperti kebanyakan
orang, itu bisa lebih dari 100 kali
sehari.
Notifikasi harga naik, turun, prediksi,
rumor, drama, headline semua
membuat Mr. Market tampak
mendesak, penting, dan harus
ditanggapi.
Padahal tidak.
Seringnya ia berkunjung tidak berarti
kamu harus bertransaksi lebih sering.
Bila tawarannya tidak masuk akal,
kamu berhak mengucapkan:
“Maaf, saya tidak tertarik
hari ini.”
Lalu lanjutkan hidupmu.
Menjaga Kepala Tetap Dingin
Pelajaran paling penting:
Investor yang rasional harus
bisa menjaga kepala tetap
dingin.
Karena:
Mr. Market akan terus panik.
Ia akan terus berubah-ubah.
Ia akan terus menawarkan
penilaian yang absurd.
Tapi kamu tidak wajib ikut gila
bersamanya.
Sikap tenanglah yang membedakan
investor bijak dari korban pasar.
Pelajaran Pertama: Mengenal
“Mr. Market”
Bayangkan Kamu Punya
Warung Kecil
Anggap saja kamu punya 10%
kepemilikan sebuah warung makan.
Kamu beli bagian itu seharga
Rp15 juta.
Setiap pagi, ada tetanggamu yang
aneh sifatnya moody, tidak stabil,
kadang super ceria, kadang super
muram. Dia selalu datang sambil
teriak:
“Hari ini bagian warungmu aku
hargai Rp40 juta! Mau jual nggak?”
Besoknya dia datang lagi sambil
murung:
“Aduh, kayanya warungmu jelek
deh… aku cuma mau beli Rp7 juta
hari ini.”
Kamu pasti bingung:
“Lho, ini orang waras nggak sih?”
Tetangga aneh inilah Mr. Market.
Ia selalu datang menawarkan harga
tapi mood-nya berubah lebih
cepat dari status WA orang
patah hati.
Ketika Penilaian Mr.
Market Benar-Benar Aneh
Bayangkan warung itu sebenarnya
makin maju:
Pembeli bertambah 50%
Keuntungan naik 20%
Makanan makin laris
Tapi si tetangga tiba-tiba bilang
harga warungmu “jatuh banget”.
Itu seperti warungmu makin rame,
tapi dia ngomong:
“Hari ini aku cuma mau beli
Rp5 juta ya…”
Padahal kamu baru saja nambah meja
baru karena pelanggan makin banyak.
Inilah inti masalahnya:
Yang dia nilai bukan
warungnya, tapi mood
dirinya sendiri.
Kenapa Kamu Tidak Boleh
Percaya Mood Mr. Market
Ibarat kamu punya motor.
Harga motor tidak berubah hanya
karena tetangga kalian lagi bete.
Saham juga begitu.
Harga saham bisa berubah-ubah, tapi
nilai bisnis tidak otomatis berubah
secepat itu.
Tugasmu adalah memahami
“motor”-nya
bukan menelan mentah-mentah
cerita dari tetangga yang emosian ini.
Gunakan Mr. Market sebagai
Kesempatan, Bukan Komando
Hal baiknya, Mr. Market
tidak pernah memaksa.
Ia cuma menawarkan.
Jadi:
Kalau dia datang dengan harga
konyol terlalu tinggi, kamu
bisa menjual.Kalau dia datang dengan harga
super murah, kamu bisa
membeli.Kalau harganya tidak masuk
akal?
Tinggal bilang:“Tidak minat hari ini.”
Lalu tutup pagar rumah. Selesai.
Dulu Datangnya Sekali Sehari.
Sekarang 100 Kali Sehari
Dulu kamu ketemu tetangga ini
paling sehari sekali.
Sekarang?
Dia nongol tiap kali kamu buka HP:
notifikasi harga naik
harga turun
berita heboh
rumor
headline dramatis
Serasa tetangga itu manggil-manggil
kamu dari jendela setiap lima menit:
“Woi! Warungmu lagi naik nih!”
“Woi! Turun lagi nih!”
“Cepet jual! Cepet beli!”
Padahal kamu lagi makan siang.
Banyaknya “kunjungan” ini membuat
kita merasa harus bereaksi.
Padahal… enggak.
Seringnya dia datang bukan
berarti kamu wajib
meladeninya.
Kunci Utama: Tetap Tenang
Dalam hidup sehari-hari:
Tetangga yang dramatis
tetap akan dramatis.Orang moody tetap akan
moody.Mr. Market tetap akan
muncul dengan harga
yang absurd.
Tapi kamu tidak harus ikut emosian.
Investor yang bijak justru seperti
orang yang tersenyum dan berkata:
“Terima kasih infonya, saya lanjut
kerja dulu ya.”
Ketenanganmu adalah pelindung
dari kegilaan Mr. Market.
