Membangun Tim Kelas Dunia: Attitude Lebih Penting daripada Skill
Tim yang kuat tidak pernah lahir dari
keberuntungan. Mereka dibentuk
melalui proses yang sadar, terukur,
dan berprinsip. Dalam Built, Not
Born, salah satu fondasi penting
yang ditekankan adalah bahwa
kemampuan teknis bukanlah titik
awal terpenting. Yang jauh lebih
krusial adalah attitude sikap,
karakter, etika kerja, dan cara
seseorang memperlakukan orang
lain. Skill bisa dilatih, tetapi attitude
menentukan apakah seseorang
mampu berkembang atau justru
menjadi hambatan.
Di sinilah perjalanan membangun
tim kelas dunia dimulai.
Attitude Lebih Penting
Daripada Skill
Seorang kandidat bisa datang dengan
CV gemerlap, pengalaman mentereng,
dan daftar sertifikasi panjang. Namun,
jika ia sulit diajak bekerja sama, tidak
mau belajar, atau cenderung
mengganggu harmoni kerja, seluruh
skill tersebut kehilangan nilainya.
Pendekatan Paychex perusahaan yang
dibangun Golisano jelas:
Rekrut berdasarkan attitude,
latih untuk skill.
Skill adalah hal teknis yang dapat
dipelajari: SOP, tools, prosedur,
teknik kerja. Tetapi attitude adalah
fondasi yang tidak bisa dibentuk
sepenuhnya oleh perusahaan.
Perusahaan hanya bisa memolesnya,
bukan menciptakannya dari nol.
Tim yang solid terbentuk bukan
karena setiap individu adalah “yang
paling pintar”, tetapi karena mereka
mau bekerja keras, terbuka,
kooperatif, dan memiliki keinginan
untuk berkembang.
Budaya Kerja: Hormat, Kerja Sama,
Keadilan, dan Kreativitas
Sebuah tim hanya dapat bekerja
maksimal jika berdiri di atas budaya
yang sehat.
Paychex menekankan empat nilai
inti:
Saling menghormati
Kerja sama
Keadilan dalam perlakuan
dan peluangKreativitas sebagai ruang
tumbuh
Jika pemimpin tidak secara aktif
menciptakan budaya tersebut, maka
budaya akan tumbuh sendiri secara
organik sering kali menjadi sesuatu
yang tidak diinginkan: politik kantor,
feodalisme, drama, atau stagnasi.
Karena itu, pemimpin harus
mengambil kendali dari awal: budaya
tidak boleh dibiarkan terbentuk
secara kebetulan.
Mengamati Kandidat Secara
Mendalam Saat Rekrutmen
Catatan penting dari Golisano:
karakter seseorang muncul dalam
detail kecil.
Bukan hanya jawaban interview
yang penting, tetapi:
cara ia masuk ruangan
bagaimana ia menyapa staf
resepsionisbagaimana ia memperlakukan
orang yang ia anggap
“tidak penting”bagaimana ia bersikap ketika
diberi keheningan sengaja
Diam bukan sekadar jeda itu adalah
alat untuk melihat reaksi asli kandidat.
Orang dengan attitude baik akan tetap
sopan, tenang, dan jujur.
Orang dengan attitude buruk sering
terlihat gelisah, defensif, atau tidak
sabar.
Rekrutmen bukan tentang mencari
“yang paling mengesankan di atas
kertas”, tetapi yang paling sehat
untuk tim dalam jangka panjang.
Pelatihan yang Immersive
dan Inklusif
Di Paychex, trainee tidak ditempatkan
di sudut terisolasi. Kantor trainee
diposisikan di pusat kantor,
sehingga mereka berinteraksi
langsung dengan staf permanen.
Tujuannya jelas:
Trainee belajar lebih cepat
karena melihat ritme kerja
nyataStaf lama ikut membantu
membentuk culture dan
standarTrainee merasa menjadi bagian
dari tim sejak hari pertama
Pelatihan bukan tentang memberi
modul PDF dan berharap mereka
paham. Pelatihan adalah pengalaman
yang hidup, berinteraksi, dan
terhubung.
Pengembangan Profesional yang
Konsisten dan Menyenangkan
Belajar tidak boleh membosankan.
Paychex memastikan bahwa pelatihan
jangka panjang diselingi pengalaman
yang menyenangkan:
kegiatan team building
program interaktif
aktivitas yang merangsang
kreativitasmomen-momen positif yang
membuat orang menikmati
proses belajar
Karyawan yang berkembang adalah
karyawan yang loyal.
Dan karyawan yang loyal adalah aset
terbesar perusahaan.
Gaji Kompetitif Tidak Cukup:
Waspadai Rasa Aman
Berlebihan
Gaji tinggi memang menarik talenta
terbaik, tetapi ada efek samping:
zona nyaman.
Karyawan yang merasa “sudah aman
secara finansial” bisa menjadi kurang
agresif dalam berkembang. Untuk itu,
Built, Not Born menekankan
pentingnya keseimbangan:
Gaji pokok yang kuat
→ menarik dan menstabilkanInsentif berbasis kinerja
→ menjaga semangat bertumbuh
Dengan kombinasi ini, karyawan tidak
hanya merasa dihargai, tetapi juga
memiliki ruang untuk mengejar
pencapaian yang lebih tinggi.
Dikelilingi Orang yang Mau
Bekerja Keras dan Berpikir
Besar
Pada akhirnya, perusahaan adalah
cermin dari orang-orang di dalamnya.
Pemimpin harus mengelilingi dirinya
dengan orang yang:
mau bekerja keras tanpa
mengeluhberani memecahkan masalah
punya kreativitas dan inisiatif
tidak takut menghadapi
tantangan barumemiliki dorongan untuk selalu
melakukan yang terbaik
Perusahaan tumbuh ketika timnya
tumbuh. Tim tumbuh ketika
attitude-nya kuat.
Dan attitude yang kuat dimulai dari
proses seleksi dan pengembangan
yang tepat.
Pesan besar dari Built, Not Born jelas:
Tim kelas dunia tidak dibeli,
tetapi dibangun.
Dengan memilih orang berdasarkan
attitude, menanamkan budaya yang
sehat, melatih dengan cara yang benar,
dan memberi insentif yang mendorong
pertumbuhan, sebuah perusahaan
dapat menciptakan lingkungan yang
penuh energi, inovatif, dan siap
menang dalam jangka panjang.
Jika fondasinya benar, sisanya akan
mengikuti.
Attitude Lebih Penting daripada
Skill
Bayangkan kamu sedang mencari
teman seperjalanan naik motor
ke luar kota.
Kamu mungkin menemukan orang
yang motornya bagus, pengalamannya
banyak, dan pernah touring jauh.
Tapi kalau orang itu:
gampang marah,
tidak sabaran,
suka menyalahkan orang lain,
atautidak mau mendengar saran,
perjalanan yang seharusnya
menyenangkan bisa berubah
jadi masalah.
Sebaliknya, kalau dia mungkin belum
terlalu jago baca GPS atau belum
berpengalaman jauh, tapi:
ramah,
mau belajar,
tenang saat ada masalah,
dan bisa diajak kerja sama,
perjalanan akan jauh lebih aman
dan lancar.
Itulah inti dari rekrut berdasarkan
attitude, latih untuk skill.
Skill itu seperti belajar baca GPS
bisa diasah.
Tapi attitude itu seperti karakter
dasar kalau salah, perjalananmu
penuh drama.
Budaya Kerja: Hormat, Kerja Sama,
Keadilan, Kreativitas
Pikirkan rumah makan sederhana
milik keluarga.
Kalau pemiliknya tidak menetapkan
aturan dari awal, para pegawai bisa
bekerja seenaknya:
ada yang merasa paling senior,
ada yang suka memerintah,
ada yang kerja setengah hati,
ada yang suka menyalahkan
saat pelanggan komplain.
Lama-lama suasananya jadi tidak enak,
banyak bisik-bisik, lalu pelanggan kabur.
Tapi kalau pemilik membangun budaya:
saling menghormati,
kerja sama yang adil,
semua orang punya suara,
ide baru boleh dicoba,
rumah makan itu bukan hanya enak
makanannya, tapi juga enak “udaranya”.
Budaya itu seperti bumbu dasar:
kalau salah dari awal, seluruh
masakan jadi kacau.
Mengamati Kandidat Saat
Rekrutmen
Proses rekrutmen itu seperti saat
kamu ingin menyewa kos untuk
orang baru.
Kadang bukan isi formulirnya yang
penting, tapi:
bagaimana dia menyapa ibu kos,
apakah dia sopan ke tetangga,
bagaimana wajahnya saat
menunggu lama,bagaimana dia bereaksi ketika
diberi “diam sebentar”.
Kesan kecil ini seperti melihat
kebiasaan orang di pagi hari:
apakah dia orang yang rapi dan
tenang, atau orang yang bikin satu
rumah rame tiap subuh.
Attitude seseorang paling kelihatan
saat situasinya tidak nyaman.
Pelatihan yang Immersive dan
Inklusif
Pelatihan yang baik itu seperti
mengajari anak kecil berenang.
Kamu tidak menyuruhnya baca buku
“Cara Berenang”, lalu berharap dia
bisa.
Yang benar adalah:
turun ke kolam,
lihat orang lain berenang,
dibimbing sedikit demi sedikit,
merasakan suasana sebenarnya.
Begitu juga trainee. Kalau
ditempatkan di tengah aktivitas,
mereka lebih cepat nyaman dan
cepat bisa.
Pengembangan Profesional
yang Menyenangkan
Belajar di kantor itu seperti latihan
futsal rutin.
Kalau tiap minggu hanya disuruh lari
keliling lapangan, semua orang bisa
bosan.
Tapi kalau diselingi:
permainan kecil,
kompetisi ringan,
suasana santai,
orang jadi betah dan semangat untuk
datang lagi.
Belajar yang menyenangkan membuat
orang bertahan lebih lama dan
memberi yang terbaik.
Gaji Kompetitif Tidak Cukup
Gaji besar itu seperti punya
AC yang dingin.
Nyaman, tapi bisa bikin terlalu betah.
Kalau tidak ada pemicu lain,
orang jadi malas bergerak.
Karena itu gaji perlu ditemani
insentif ibarat ada kipas tambahan
yang mengarah ke area tertentu
supaya tetap ada dorongan untuk
bekerja lebih baik.
Keseimbangan inilah yang menjaga
semangat tetap hidup.
Dikelilingi Orang yang Mau
Bekerja Keras
Bayangkan kamu ingin membangun
kebun sayur bersama tetangga.
Kalau orang-orangnya:
suka mencari alasan,
malas mencangkul,
tidak mau memikirkan cara baru,
atau cepat menyerah,
kebunnya tidak akan berkembang.
Tapi kalau mereka:
mau berkotor-kotor,
mau belajar teknik baru,
mau memecahkan masalah
bersama,dan punya semangat tinggi,
kebun kecil itu bisa berubah jadi
lahan subur.
Perusahaan pun sama: ia tumbuh
sebesar kualitas orang-orang
di dalamnya.
Tim kelas dunia itu seperti rumah
kokoh:
tidak bisa dibeli jadi, harus dibangun
dari pondasinya.
Attitude adalah fondasi itu.
Skill adalah bata dan semen yang
ditambahkan kemudian.
Kalau fondasinya kuat, bangunan
apa pun di atasnya bisa berdiri tegak.
Berikut contoh-contoh kasus
1. Attitude vs Skill: Siapa yang
Lebih Layak Direkrut?
Kasus nyata:
PT Sinar Jaya membuka lowongan
Customer Support dengan gaji awal
Rp6.000.000/bulan.
Ada dua kandidat:
Kandidat A
(Skill Tinggi, Attitude
Buruk)Pengalaman 5 tahun
Skill teknis lengkap
Namun: sering memotong
pembicaraan, defensif, dan
tampak meremehkan
resepsionisSetelah 2 bulan bekerja,
ia menolak SOP baru, tidak
mau dilatih ulang, dan
memicu konflik dengan tim.
Kerugian yang muncul:
Retur pelanggan meningkat:
kerugian Rp12.000.0001 staf resign karena konflik:
biaya rekrut ulang
Rp8.000.000Total kerugian:
Rp20.000.000
Kandidat B
(Skill Menengah,
Attitude Sangat Baik)Pengalaman 1 tahun
Jujur bilang masih perlu
belajarSopan, menghargai staf
junior, mau menerima
feedbackDalam 2 bulan: belajar
cepat dan mendapatkan
rating pelanggan 4.9/5
Dampak positif:
Naikkan retensi pelanggan:
tambahan omzet
Rp9.000.000Menjadi role model
trainee baru
❗ Kesimpulan dari pemimpin
HR:
“Skill A memang lebih tinggi, tetapi
B memberi nilai jauh lebih besar
untuk tim.”
2. Budaya Kerja Sehat:
Menghemat Biaya &
Menambah Produktivitas
Kasus budaya kerja yang gagal
(tanpa intervensi pemimpin):
Sebuah perusahaan rintisan
membiarkan budaya tim terbentuk
“sendiri”.
Ternyata yang terbentuk adalah:
senioritas berlebihan
gosip antar-departemen
saling menyalahkan
Akibatnya:
Proyek tertunda 10 hari
Biaya lembur naik
Rp15.000.000Dua karyawan performa tinggi
resign → biaya rekrut
Rp20.000.000
Total kerugian: Rp35.000.000
Kasus pemimpin yang
“mengarahkan” budaya
dari awal:
Perusahaan menanamkan nilai:
hormat, kerja sama, keadilan,
kreativitas.
Langkah sederhana:
Setiap proyek dimulai dengan
role clarity meeting 15 menitSetiap minggu wajib 1 sesi
diskusi tanpa menyalahkanIde karyawan diapresiasi
(yang dipakai diberi bonus
kecil Rp300.000)
Dampaknya dalam 3 bulan:
Lead time proyek turun 20%
Tidak ada konflik besar
Turnover karyawan turun ke 0%
Budaya sehat = biaya stabil
+ tim lebih produktif.
3. Mengamati Kandidat dari
Hal-Hal Kecil: Contoh
Rekrutmen yang Mengubah
Keputusan
Kasus: Dua kandidat
sama-sama bagus di CV
Gaji posisi: Rp10.000.000
Kandidat X terlihat
“sempurna” saat interview.
Namun, resepsionis
melapor bahwa X:
tidak menyapa
melempar formulir
dengan nada terburu-burumenggelengkan kepala saat
diminta menunggu
Kandidat Y skill-nya sedikit
di bawah X, tetapi:
menyapa resepsionis
sabar saat ada
“keheningan sengaja”bertanya sopan saat
butuh klarifikasi
Perusahaan memilih Y.
Dalam 6 bulan, Y naikkan
performa tim 18%, membawa
klien senilai Rp120.000.000.
Jika memilih X, kemungkinan
besar tim akan kacau.
4. Pelatihan Immersive:
Dampaknya pada Kecepatan
Belajar
Kasus sederhana: Trainee
diberi tempat duduk
di tengah kantor
Perusahaan menempatkan trainee
langsung di area produksi, bukan
ruangan khusus.
Dampak dalam 1 bulan:
| Metode | Kecepatan Belajar | Biaya Pelatihan |
|---|---|---|
| Pelatihan modul PDF saja | 40% materi terserap | Rp12.000.000 |
| Pelatihan immersive (aktif) | 90% materi terserap | Rp6.000.000 |
Kenapa biaya turun?
Karena trainee belajar dari mentor
alami di tim → tidak perlu trainer
tambahan.
Attitude trainee yang mau
bertanya dan mendengar
membuat metode immersive
bekerja sangat efektif.
5. Pengembangan Profesional
yang Menyenangkan: Contoh
Kegiatan
Kasus: Team building
sederhana yang meningkatkan
retensi
Sebuah perusahaan IT
menggabungkan pelatihan bulanan
dengan aktivitas kreatif.
Contoh:
workshop 2 jam
kemudian game strategi 30 menit
biaya per orang: Rp50.000
Dampaknya dalam 6 bulan:
tingkat kehadiran training
naik dari 40% → 92%retensi karyawan naik 25%
3 karyawan mengusulkan
inovasi yang menambah
omzet Rp80.000.000
Belajar yang menyenangkan
= lebih banyak ide muncul.
6. Gaji Tinggi vs Insentif:
Contoh Nyata Zona Nyaman
Kasus: Karyawan menjadi
kurang agresif
Gaji pokok Customer Manager:
Rp18.000.000
Selama 6 bulan:
target tidak tercapai
tidak ada inovasi baru
karyawan merasa “ya sudah
yang penting gaji aman”
Setelah perusahaan mengubah
struktur:
gaji pokok: Rp15.000.000
insentif pencapaian target:
Rp3.000.000 – Rp10.000.000
Hasil 2 bulan kemudian:
70% tim mengejar insentif
omzet naik Rp90.000.000
performa kembali hidup
Gaji pokok aman + insentif sehat
= kombinasi yang mendorong
pertumbuhan.
7. Mengelilingi Diri dengan
Orang yang Mau Bekerja Keras
Kasus: 1 karyawan dengan
attitude hebat mengubah tim
Di sebuah startup kecil, ada staf
bernama D.
Skill awal: biasa saja
Attitude: luar biasa mau belajar,
proaktif, selalu membantu tim.
Dalam 1 tahun:
ia membuat SOP baru
(menghemat biaya operasional
Rp25.000.000)membantu 3 karyawan baru
adaptasimeningkatkan kualitas layanan
tanpa biaya tambahan
Tim lain mulai meniru pola kerjanya.
Pemimpin menyadari: satu orang
dengan attitude tinggi bisa
“menularkan” energi positif
ke seluruh tim.
Penutup dengan Nilai Inti
Contoh-contoh di atas menunjukkan
bahwa:
Attitude yang baik
menghasilkan nilai jangka
panjangRekrutmen menjadi lebih akurat
Budaya kerja lebih sehat
Biaya turun, performa naik
Pelatihan lebih efektif
Insentif lebih tepat sasaran
Dan tim tumbuh lebih cepat
Tim kelas dunia bukan dibentuk
oleh orang paling jago, tetapi
oleh orang yang mau tumbuh
bersama.
