Tidak Memiliki Asuransi yang Tepat
Dalam kehidupan finansial, salah
satu kesalahan besar yang sering
dilakukan orang pintar adalah tidak
memiliki asuransi yang tepat. Jill
Schlesinger menekankan bahwa
kesalahan ini bisa muncul dalam
dua bentuk ekstrem:
underinsured dan overinsured.
Terlalu Sedikit Asuransi
(Underinsured)
Banyak orang yang secara finansial
cerdas tetap mengambil risiko besar
karena tidak memiliki perlindungan
yang memadai. Contohnya adalah
seorang guru berusia 30-an yang
sama sekali tidak memiliki asuransi
disabilitas.
Masalahnya, jika terjadi kecelakaan
atau sakit serius yang membuatnya
tidak bisa bekerja, penghasilan
mereka akan hilang tanpa
perlindungan. Ini menunjukkan
bahwa meski seseorang memiliki
rencana keuangan yang baik, tanpa
asuransi yang tepat, seluruh strategi
finansial bisa terganggu.
Terlalu Banyak Asuransi
(Overinsured)
Di sisi lain, ada mereka yang
memiliki terlalu banyak perlindungan,
misalnya eksekutif berusia 50-an
dengan lima polis asuransi jiwa.
Situasi ini menunjukkan
overinsurance: membayar premi
tinggi untuk sesuatu yang sebenarnya
tidak sesuai kebutuhan nyata.
Schlesinger menunjukkan bahwa
memiliki terlalu banyak asuransi
bukan hanya boros, tetapi bisa
mengalihkan dana yang seharusnya
bisa diinvestasikan atau digunakan
untuk tujuan finansial lain yang
lebih penting.
Prinsip “Right Amount,
Right Type, Right Time”
Solusi yang disarankan oleh
Schlesinger adalah prinsip
“right amount, right type,
right time”:
Right Amount:
Memastikan jumlah
pertanggungan sesuai kebutuhan,
tidak kurang dan tidak berlebihan.Right Type:
Memilih jenis asuransi yang tepat
sesuai risiko yang dihadapi
misalnya disability insurance
untuk pekerja yang pendapatannya
tergantung kemampuan fisik atau
long-term care untuk usia lanjut.Right Time:
Membeli asuransi pada waktu
yang tepat, ketika masih muda
dan premi lebih rendah, atau
ketika risiko tertentu mulai
meningkat.
Prinsip ini menekankan
keseimbangan. Asuransi seharusnya
melindungi finansial tanpa menjadi
beban, dan seharusnya ada strategi
yang jelas kapan, berapa, dan jenis
apa yang dibutuhkan.
Kesalahan finansial terkait asuransi
tidak selalu karena ketidaktahuan,
tetapi bisa karena ketidakpedulian
atau salah strategi. Jill Schlesinger
memperingatkan bahwa baik
underinsurance maupun
overinsurance sama-sama berisiko.
Dengan menerapkan prinsip
“right amount, right type, right
time”, seseorang bisa memastikan
perlindungan finansial optimal,
melindungi penghasilan dan aset,
tanpa membuang-buang sumber
daya.
1. Terlalu Sedikit Asuransi
(Underinsured)
Bayangkan kamu naik sepeda motor
tanpa helm. Kamu pikir,
“Ah, selama saya hati-hati, tidak
masalah.”
Tapi kalau tiba-tiba jatuh, cedera
parah, dan tidak bisa kerja, semua
penghasilan hilang begitu saja.
Itulah yang terjadi pada orang yang
underinsured: meski mereka
pintar mengatur uang, tanpa
perlindungan yang cukup, satu
kejadian buruk bisa merusak semua
rencana finansial.
2. Terlalu Banyak Asuransi
(Overinsured)
Sekarang bayangkan kamu punya
lima helm berbeda untuk satu
motor
helm A, B, C, D, dan E. Semua
mahal, tapi kamu hanya butuh
satu yang standar dan nyaman.
Itu seperti orang yang overinsured:
membayar banyak premi untuk
asuransi yang sebenarnya tidak
terlalu dibutuhkan. Uang yang bisa
dipakai untuk investasi atau tujuan
penting lain jadi terbuang percuma.
3. Prinsip “Right Amount,
Right Type, Right Time”
Right Amount (Jumlah
yang Tepat):
Pakai helm yang pas, tidak
terlalu kecil, tidak terlalu besar.
Cukup untuk melindungi
kepala, tapi tidak berlebihan.Right Type (Jenis yang
Tepat):
Pilih helm untuk motor, bukan
helm sepeda atau helm main
ski. Sama seperti memilih
asuransi yang sesuai risiko:
disability insurance untuk
pekerja, long-term care untuk
usia lanjut.Right Time (Waktu yang
Tepat):
Beli helm sebelum jatuh, bukan
setelah kecelakaan. Demikian
juga, asuransi sebaiknya dimulai
lebih awal saat premi masih
murah, bukan menunggu risiko
tinggi muncul.
Dengan prinsip ini, perlindungan
optimal, tapi tetap efisien. Uang
tidak terbuang sia-sia, dan risiko
finansial tetap aman.
Memiliki asuransi itu seperti helm
untuk hidup finansialmu:
Terlalu sedikit → risiko besar
Terlalu banyak → boros
Kuncinya adalah keseimbangan:
cukup, sesuai kebutuhan, dan
tepat waktu. Dengan begitu,
rencana keuangan tetap aman
dan tetap bisa berkembang.
Contoh
Tidak Memiliki Asuransi yang
Tepat
1. Terlalu Sedikit Asuransi
(Underinsured)
Kasus:
Ani, seorang guru berusia 32 tahun,
memiliki penghasilan Rp 8.000.000
per bulan dan tabungan
Rp 50.000.000. Ani tidak memiliki
asuransi disabilitas.
Skenario risiko:
Suatu hari Ani mengalami kecelakaan
yang membuatnya tidak bisa
mengajar selama 1 tahun.
Dampak finansial:
Penghasilan hilang: 12 bulan
× Rp 8.000.000
= Rp 96.000.000Tabungan hanya
Rp 50.000.000
→ tidak cukup menutupi
kebutuhan hidup setahun
penuh.Tanpa asuransi disabilitas,
Ani terpaksa memotong
kebutuhan dasar dan
menunda rencana finansial
lainnya.
Pelajaran:
Tanpa asuransi yang tepat, rencana
keuangan Ani bisa terganggu meski
ia cerdas dalam menabung atau
berinvestasi.
2. Terlalu Banyak Asuransi
(Overinsured)
Kasus:
Budi, seorang eksekutif berusia
50 tahun, memiliki 5 polis asuransi
jiwa dengan total premi
Rp 7.000.000 per bulan.
Skenario finansial:
Total premi tahunan:
Rp 7.000.000 × 12
= Rp 84.000.000Budi memiliki aset dan
tabungan Rp 5 miliar.Kebutuhan proteksi jiwa
sebenarnya cukup
Rp 1 miliar.
Dampak:
Premi yang dibayarkan terlalu
tinggi dibandingkan kebutuhan
nyata
→ Rp 84.000.000 per tahun
bisa dialokasikan ke investasi
atau dana pensiun.Overinsurance mengurangi
fleksibilitas finansial dan
mengalihkan dana dari
tujuan penting lain.
Pelajaran:
Budi seharusnya menyesuaikan
jumlah pertanggungan sesuai
kebutuhan nyata, bukan
membeli polis berlebihan.
3. Prinsip “Right Amount,
Right Type, Right Time”
Solusi yang tepat:
Right Amount:
Sesuaikan pertanggungan
dengan risiko. Misal Ani
sebaiknya memiliki asuransi
disabilitas dengan benefit
Rp 8.000.000 per bulan
selama 1 tahun
→ premi sekitar
Rp 1.200.000/bulan.Right Type:
Pilih jenis asuransi sesuai
risiko, bukan asal banyak.
Bagi Budi, cukup 1 polis
jiwa Rp 1 miliar, bukan
5 polis.Right Time:
Membeli lebih muda lebih
murah. Premi Ani saat
32 tahun lebih rendah
dibandingkan jika
menunggu sampai usia 40-an.
Hasil:
Ani terlindungi jika tidak bisa
bekerja
→ tabungan tetap aman.Budi membayar premi lebih
efisien
→ sisanya bisa diinvestasikan.
