Dari Relawan ke Perekrut Rahasia: Awal John Perkins Menjadi Economic Hit Man
Dari Hutan Amazon ke Dunia
Ekonomi Global
Pada bulan September 1968, John
Perkins tiba di Ekuador sebagai
sukarelawan Peace Corps. Ia baru
berusia dua puluhan, penuh semangat,
dan sama sekali belum menyadari
bahwa petualangan kecilnya di hutan
Amazon akan menjadi pintu masuk
menuju jaringan kekuasaan ekonomi
global yang ia ungkapkan dalam
bukunya The New Confessions of an
Economic Hit Man.
Ekuador adalah negeri dengan
kontras ekstrem: di satu sisi
berdiri Pegunungan Andes yang
megah, di sisi lain terbentang hutan
tropis yang menjadi hulu Sungai
Amazon. Di sinilah Perkins bekerja,
hidup di antara suku asli Shuar,
masyarakat pribumi yang masih
berburu dan mencari makan dari
alam seperti leluhur mereka ribuan
tahun lalu. Bagi Perkins, ini adalah
pengalaman yang memikat.
Ia merasa menemukan kedamaian
dan kesederhanaan hidup yang tak
bisa dijumpai di dunia modern.
Namun, masa itu tidak berlangsung
lama. Sebelum ia sempat
benar-benar melebur dalam
kehidupan hutan, dunia modern
datang menjemputnya kembali
melalui sosok yang sama sekali
berbeda dari apa pun yang ada
di sekitarnya.
Kedatangan Pria Berjas
di Tengah Hutan
Pada tahun 1969, seorang pria
bernama Einar Greve datang
menemuinya. Ia mengenakan
setelan jas yang rapi dan
mengilap, penampilan yang tampak
janggal di tengah panas lembabnya
hutan Ekuador. Dari pertemuan
pertama, jelas bahwa pria ini bukan
bagian dari dunia yang sama dengan
masyarakat Shuar.
Greve memperkenalkan dirinya
sebagai wakil presiden
perusahaan konsultan Chase
T. Main Inc., atau biasa disebut
MAIN. Perusahaan ini bekerja sama
dengan lembaga-lembaga
internasional besar seperti Bank
Dunia (World Bank). Tujuan
kedatangannya bukan untuk proyek
sosial, melainkan untuk membangun
bendungan hidroelektrik
di Ekuador proyek besar yang
membutuhkan pinjaman miliaran
dolar.
Masalahnya, Ekuador tidak
memiliki dana sendiri. Agar Bank
Dunia mau meminjamkan uang,
proyek itu harus dianggap “layak”
secara ekonomi. Untuk itu, MAIN
membutuhkan seseorang di lapangan
yang bisa mengumpulkan data
ekonomi dan sosial secara
langsung seseorang yang tahu
kondisi lokal dan bisa dipercaya
oleh kedua pihak.
Greve melihat Perkins sebagai orang
yang tepat. Ia tahu bahwa Perkins
sebelumnya pernah
direkomendasikan untuk bergabung
dengan NSA (National Security
Agency) lembaga intelijen yang
terkenal dengan analisis data dan
kemampuan observasi. Hal itu
membuat Greve yakin bahwa Perkins
memiliki disiplin dan latar belakang
yang dibutuhkan.
Tugas Pertama: Mengirim
Laporan dari Lapangan
Greve meminta Perkins untuk
mengirim laporan berkala
tentang kondisi ekonomi dan potensi
pembangunan di Ekuador.
Ia menekankan bahwa laporan itu
penting bagi evaluasi Bank Dunia.
Perkins menerima tantangan itu.
Dalam satu tahun berikutnya,
ia mengirim 15 laporan
komprehensif tentang kemajuan
ekonomi, infrastruktur, dan kondisi
sosial di berbagai wilayah Ekuador.
Laporan-laporan itu tidak hanya
mendeskripsikan data mentah,
tetapi juga memberikan analisis
tentang prospek investasi dan
pembangunan. Informasi tersebut
sangat berharga, karena banyak
ekonom profesional yang dikirim
oleh MAIN gagal menyelesaikan
pekerjaannya akibat kondisi lapangan
yang berat. Salah satu bahkan
mengalami gangguan mental di desa
terpencil di sepanjang jalur
Pan-American.
Sebaliknya, Perkins justru berhasil
mengumpulkan data yang mendalam,
meski dengan fasilitas minim.
Ia memahami budaya lokal, bisa
berinteraksi dengan masyarakat
setempat, dan sanggup bertahan
di lingkungan yang ekstrem. Semua
ini membuat namanya menonjol
di antara banyak kandidat lain.
Catatan;
Pada masa itu, MAIN (Chas.
T. Main Inc.) mengirim para
ekonom dan insinyur muda
ke negara-negara berkembang
seperti Ekuador, Kolombia, dan
Panama untuk melakukan
pengumpulan data lapangan.
Tugas mereka bukan hanya duduk
di kantor, melainkan harus:
bepergian ke wilayah
terpencil,berinteraksi dengan masyarakat
lokal yang bahasanya mereka
tidak kuasai,hidup di daerah tanpa listrik,
tanpa jalan layak, dan tanpa
fasilitas medis,serta menghadapi iklim
ekstrem di pegunungan Andes
atau hutan hujan Amazon.
Para pekerja ini dituntut menghasilkan
laporan ekonomi yang akurat dan
komprehensif, padahal akses
terhadap data dan dukungan logistik
sangat terbatas. Mereka harus
mengumpulkan angka-angka penting
pendapatan masyarakat, potensi energi,
sumber daya alam dengan sedikit sekali
bantuan dari pemerintah setempat.
Salah satu ekonom yang dikirim oleh
MAIN bahkan mengalami gangguan
mental karena tekanan tersebut.
Ia dikisahkan bekerja di desa
terpencil di sepanjang jalur
Pan-American, menghadapi
kesulitan ekstrem hingga akhirnya
mengalami kelelahan psikologis
(mental breakdown).
Kisah itu menunjukkan betapa
kerasnya kondisi di lapangan bagi
para ekonom “teknokrat” yang
terbiasa bekerja di lingkungan
modern. Mereka diharapkan mampu
berpikir rasional dan produktif
di tempat yang sepenuhnya asing
dan sulit.
Berbeda dari mereka, John Perkins
justru bisa bertahan karena
pengalamannya sebagai sukarelawan
Peace Corps. Ia sudah terbiasa hidup
di hutan Amazon, beradaptasi
dengan masyarakat adat, dan
memahami ritme kehidupan
pedalaman. Hal itulah yang membuat
laporan-laporannya menonjol dan
akhirnya menarik perhatian pihak
MAIN membuka jalan baginya untuk
direkrut secara resmi pada tahun 1971.
Rekrutmen ke Dunia Rahasia:
MAIN dan Peran Baru Perkins
Pada awal tahun 1971, MAIN
secara resmi merekrut John
Perkins sebagai economic
forecaster atau peramal ekonomi.
Secara formal, itulah jabatan
resminya. Namun, sebagaimana
ia akui dalam bukunya, peran
sebenarnya jauh berbeda dari
yang tertulis di kontrak kerja.
Sebagai “economic forecaster,” tugas
utamanya adalah menyusun proyeksi
pertumbuhan ekonomi negara-negara
berkembang untuk mendukung
proyek besar biasanya proyek
infrastruktur seperti bendungan,
pembangkit listrik, atau jalan raya.
Tapi di balik itu, tujuan sebenarnya
adalah politik dan strategis:
membuat negara-negara tersebut
berutang besar kepada lembaga
keuangan internasional, sehingga
mereka akan bergantung secara
ekonomi dan politik kepada Amerika
Serikat.
Inilah awal mula bagaimana John
Perkins secara perlahan berubah
dari seorang idealis muda menjadi
bagian dari jaringan yang ia sebut
sebagai corporatocracy
perpaduan antara pemerintah,
korporasi, dan lembaga keuangan
global yang mengendalikan arah
ekonomi dunia.
Catatan:
MAIN adalah singkatan dari Chas.
T. Main Inc., sebuah perusahaan
konsultan teknik dan ekonomi
yang berbasis di Boston, Amerika
Serikat. Didirikan pada awal abad
ke-20, perusahaan ini awalnya
bergerak di bidang rekayasa sipil
dan perencanaan proyek besar,
seperti pembangunan bendungan,
pembangkit listrik, sistem
irigasi, dan infrastruktur energi.
Namun pada tahun 1960–1970-an,
MAIN mulai terlibat dalam
proyek-proyek internasional yang
dibiayai oleh Bank Dunia
(World Bank), Bank
Pembangunan Inter-Amerika
(IDB), dan lembaga-lembaga
keuangan global lainnya. Dalam
konteks yang diceritakan John
Perkins di The New Confessions of an
Economic Hit Man, perusahaan seperti
MAIN menjadi alat tidak langsung
bagi pemerintah Amerika Serikat untuk
memperluas pengaruh ekonomi
di negara berkembang.
Tugas resmi mereka adalah melakukan
studi kelayakan ekonomi dan
teknis suatu proyek besar. Namun
menurut Perkins, di balik peran itu,
MAIN juga membantu menciptakan
proyeksi ekonomi yang sengaja
dilebih-lebihkan, agar negara
penerima bantuan mengambil utang
besar yang pada akhirnya membuat
mereka bergantung pada
Amerika dan lembaga
keuangannya.
Jadi, ketika John Perkins direkrut
oleh MAIN pada tahun 1971, ia
sebenarnya tidak hanya bergabung
dengan perusahaan teknik, tetapi
juga masuk ke dalam sistem global
yang menggunakan
pembangunan sebagai sarana
pengendalian ekonomi dan
politik.
Dari Pengamat Jadi Pelaku
Perjalanan Perkins dari relawan
Peace Corps hingga menjadi analis
di MAIN menggambarkan perubahan
besar dalam hidupnya. Ia memulai
kariernya dengan niat untuk
membantu masyarakat miskin
di pedalaman, tetapi berakhir
di posisi yang justru membuatnya
berperan dalam memperdalam
ketimpangan global.
Dalam hutan Amazon, ia pernah
hidup bersama orang-orang yang
menggantungkan hidup pada alam.
Namun kini, ia bekerja untuk sistem
yang menilai alam sebagai sumber
daya yang harus diubah menjadi
angka keuntungan, pinjaman,
dan investasi.
Ia menyadari kemudian bahwa
pekerjaannya bukan sekadar menulis
laporan ekonomi. Ia sedang
menyiapkan panggung bagi
kebijakan yang akan menjerat
negara-negara seperti Ekuador
dalam siklus utang utang yang
akan memaksa mereka menyerahkan
kendali atas sumber daya alam
mereka sendiri kepada kepentingan
asing.
Kesimpulan
Kisah ini adalah bab penting dalam
The New Confessions of an
Economic Hit Man. Dari sinilah awal
perjalanan John Perkins sebagai
bagian dari sistem “penaklukan
ekonomi” modern dimulai.
Dari luar, ia tampak sebagai analis
ekonomi yang bekerja untuk
pembangunan global. Namun
di balik laporan dan angka-angka
yang ia tulis, tersembunyi strategi
dominasi yang halus namun
efektif. Ia, yang dulu hanya ingin
menghindari perang di Vietnam dan
membantu masyarakat pedalaman,
kini menjadi salah satu “eksekutor”
kekaisaran ekonomi baru sebuah
kekaisaran yang menaklukkan
dunia bukan dengan pasukan dan
senjata, tetapi dengan utang,
proyek pembangunan, dan
perhitungan ekonomi yang
direkayasa.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Dari Hutan Tenang ke Dunia
yang Penuh Perhitungan
Bayangkan kamu sedang hidup
tenang di kampung pedalaman yang
asri, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Semua terasa sederhana orang saling
membantu, hidup dari alam, dan tak
ada yang sibuk membicarakan uang
atau politik.
Itulah kehidupan yang dijalani John
Perkins ketika muda. Ia datang
ke Ekuador sebagai sukarelawan
Peace Corps tahun 1968, ingin
membantu masyarakat suku asli
di hutan Amazon. Ia bekerja, makan,
dan hidup bersama mereka
merasakan kedamaian yang tidak
pernah ia temukan di dunia modern.
Namun, seperti orang kota yang
tiba-tiba datang ke desa membawa
proposal dan jas rapi, dunia luar
akhirnya menemukan jalan masuk
ke kehidupannya.
Pria Berjas di Tengah Lumpur
Tahun 1969, datanglah seorang pria
bernama Einar Greve. Bayangkan
seseorang berjas rapi, sepatu
mengilap, dan berbicara dengan
nada meyakinkan berdiri di tengah
panas dan lumpur hutan Amazon.
Ia terlihat seperti pejabat bank
yang tersesat di kebun singkong.
Greve memperkenalkan diri sebagai
wakil presiden perusahaan konsultan
MAIN (Chas T. Main Inc.), yang
bekerja sama dengan lembaga besar
seperti Bank Dunia. Katanya,
mereka ingin membangun proyek
besar: bendungan raksasa
di Ekuador. Tapi ada satu masalah
Ekuador tak punya uang.
Maka Greve menjelaskan:
“Kami bisa bantu pinjamkan dana
dari Bank Dunia, asal proyek ini
dianggap layak.”
Untuk itu, MAIN butuh seseorang
yang bisa mengumpulkan data dan
memberi laporan seolah-olah proyek
itu akan membawa kemakmuran.
Orang itu harus bisa dipercaya oleh
dua pihak oleh warga lokal, dan
oleh perusahaan asing.
Dan Greve melihat sosok itu
di depan matanya: John Perkins,
anak muda yang paham kondisi
lapangan, tahu budaya lokal, dan
(kebetulan) pernah
direkomendasikan ke lembaga
intelijen Amerika, NSA.
Laporan dari Pedalaman
Greve lalu memintanya untuk menulis
laporan ekonomi dan sosial
tentang Ekuador. Bagi Perkins, itu
tampak seperti pekerjaan sederhana:
menulis data dan cerita dari lapangan.
Tapi di balik itu, laporan tersebut
adalah dasar yang menentukan
apakah Bank Dunia akan “memberi
pinjaman besar” ke Ekuador.
Selama setahun, Perkins mengirim
lebih dari selusin laporan lengkap.
Ia menulis tentang infrastruktur,
kondisi masyarakat, dan potensi
pembangunan. Ia bahkan berhasil
melakukan hal yang tak sanggup
dilakukan para profesional lain
bertahan di hutan, bergaul dengan
masyarakat lokal, dan memahami
detail kehidupan mereka.
Bagi MAIN, laporan itu emas. Mereka
menemukan seseorang yang bukan
hanya bisa bekerja keras, tapi juga
bisa membuat “cerita” pembangunan
yang meyakinkan.
Rekrutmen ke Dunia Rahasia
Awal tahun 1971, MAIN pun secara
resmi merekrutnya. Jabatan
di kontrak terlihat aman: economic
forecaster, alias peramal ekonomi.
Tapi seperti label makanan yang
menutupi bahan aslinya, jabatan
itu hanya kamuflase.
Tugas sejatinya adalah membuat
proyeksi pertumbuhan
ekonomi negara-negara
berkembang yang “mendukung”
proyek-proyek besar. Tapi
rahasianya: proyeksi itu harus
terlihat sangat optimistis cukup
untuk meyakinkan pemerintah dan
lembaga keuangan agar memberi
pinjaman besar.
Dengan begitu, negara-negara itu
akan berutang begitu banyak,
sampai mereka tak bisa lepas
dari kendali para pemberi
pinjaman. Setelah itu, mereka
akan “diminta” untuk membuka
pintu bagi perusahaan Amerika,
menjual minyak, atau
memberikan izin tambang dengan
harga murah.
Dengan kata lain, pekerjaan
Perkins adalah membungkus
jerat utang agar tampak
seperti hadiah pembangunan.
Dari Niat Baik ke Peran yang
Tak Disadari
Perubahan dalam hidupnya ibarat
seseorang yang awalnya ingin
membantu petani menanam padi,
tapi lama-lama justru bekerja
untuk perusahaan yang membeli
sawah mereka satu per satu.
Di hutan Amazon, Perkins belajar
hidup sederhana bersama suku
Shuar. Tapi di dunia MAIN, ia
belajar bahwa kekuasaan global bisa
tumbuh dari angka-angka laporan.
Ia bukan lagi anak muda yang
menulis tentang hutan, melainkan
orang yang menghitung bagaimana
hutan itu bisa diubah menjadi
proyek miliaran dolar.
Laporan-laporannya menjadi dasar
kebijakan yang membuat
negara-negara seperti Ekuador
terjebak dalam siklus utang.
Pembangunan memang terjadi, tapi
hasilnya mengalir ke luar negeri
ke bank, kontraktor, dan perusahaan
besar Amerika.
Dunia Baru, Senjata Baru
Jika dulu penjajahan dilakukan
dengan senjata dan kapal perang,
kini bentuknya lebih canggih. Yang
dikirim bukan lagi tentara,
melainkan ekonom, konsultan, dan
“analis pembangunan.” Mereka
datang dengan jas, bukan seragam
militer. Mereka menaklukkan, tapi
dengan angka, bukan peluru.
John Perkins akhirnya sadar bahwa
dirinya telah menjadi bagian dari
kekaisaran ekonomi modern sebuah
sistem yang menaklukkan negara
lewat utang, proyek, dan janji manis
kemakmuran.
Penutup
Perjalanan John Perkins dari relawan
Peace Corps menjadi “economic hit
man” adalah kisah tentang bagaimana
niat baik bisa berubah menjadi
alat kekuasaan, ketika uang dan
politik ikut bermain.
Ia berangkat ke hutan untuk
membantu orang miskin, tapi
pulang dengan peran yang membuat
banyak negara kehilangan
kemandirian.
Ia pernah ingin menyelamatkan
dunia dari perang, tapi akhirnya
justru menjadi bagian dari “perang
ekonomi” yang jauh lebih halus.
Kekuasaan di dunia modern tidak
selalu menaklukkan dengan senjata.
Kadang, ia datang dengan senyum,
dasi, dan kontrak pinjaman.
