buku

Jalan Tak Terduga yang Membawa John Perkins Menjadi “Pelayan” Kekuatan Amerika

Ketika Dunia Dikuasai
Ketakutan Baru

Dalam The New Confessions of an
Economic Hit Man
, John Perkins
membuka kisah pribadinya dengan
latar ketegangan global yang sedang
memuncak pada tahun
1950–1960-an. Saat itu, Iran bukan
satu-satunya negara yang membuat
para perancang strategi Amerika
sulit tidur di malam hari. Di Asia
Tenggara, tepatnya di Vietnam,
sedang berlangsung pemberontakan
anti-kolonial yang mendapat
dukungan dari Uni Soviet.

Bagi Washington, situasi ini
menimbulkan dilema besar. Amerika
Serikat sebenarnya tidak ingin terlalu
jauh membantu kekaisaran Prancis
yang sedang runtuh, tetapi di sisi lain,
mereka juga tidak bisa membiarkan
Vietnam jatuh ke tangan komunis.
Maka dimulailah serangkaian
kebijakan bantuan militer: uang,
senjata, dan penasihat dikirim
ke Vietnam
. Namun, semua itu
tidak cukup. Prancis kalah, dan
Amerika pun terpaksa meningkatkan
keterlibatannya. Pada tahun 1965,
tentara Amerika ditempatkan
langsung di Vietnam.

Dalam waktu singkat, jutaan pemuda
Amerika menghadapi ancaman wajib
militer. Mereka bisa dipanggil kapan
saja untuk dikirim ke medan perang.
Di antara mereka adalah John
Perkins
, seorang pemuda berusia
20 tahun asal New Hampshire dari
keluarga konservatif. Ia baru lulus
sekolah menengah dan sama sekali
tidak membayangkan bahwa rasa
takut terhadap perang akan menjadi
titik awal dari perjalanan hidup yang
mengubah pandangannya terhadap
dunia.

Ketakutan, Penolakan, dan
Keputusan untuk Menghindari
Wajib Militer

Perkins mengakui bahwa sejak awal,
ia menolak untuk ikut perang
di Vietnam. Bukan karena ia ingin
melawan negaranya, tetapi karena
di dalam dirinya ada naluri intuitif
yang menolak gagasan bahwa
orang-orang yang ia sebut “musuh”
sebenarnya mungkin berada
di pihak yang benar. Ia tidak ingin
mengangkat senjata untuk tujuan
yang tidak ia pahami sepenuhnya.

Di masa itu, banyak pemuda Amerika
yang menolak perang dengan cara
ekstrem ada yang kabur ke Kanada
untuk menghindari wajib militer.
Namun, Perkins tidak ingin
melanggar hukum. Ia mencari cara
resmi untuk menghindari panggilan
militer. Salah satu cara paling umum
adalah melanjutkan kuliah,
karena mahasiswa masih mendapat
penangguhan sementara dari wajib
militer.

Maka, ia mendaftar dalam program
tiga tahun di Boston University.
Tetapi penundaan itu hanya bersifat
sementara. Setelah lulus, pemuda
di bawah usia 26 tahun tetap berisiko
dipanggil. Perkins tahu waktunya
terbatas, dan ia harus mencari jalan
lain untuk menghindari perang
sesuatu yang lebih permanen.

Kesempatan dari NSA: Jalan
Menuju Dunia Baru

Nasib mempertemukan Perkins
dengan Frank, teman keluarga yang
bekerja di National Security
Agency (NSA)
.

NSA (National Security Agency)
adalah lembaga intelijen Amerika
Serikat yang bertugas menangani
keamanan dan pengumpulan
informasi rahasia, khususnya
di bidang komunikasi dan siber.

Didirikan pada tahun 1952,
NSA berfokus pada:

  • Penyadapan dan analisis
    sinyal komunikasi
    (signals intelligence / SIGINT)
    dari dalam maupun luar negeri.

  • Perlindungan sistem
    komunikasi pemerintah
    AS (information assurance)
    agar tidak diretas atau disadap
    oleh pihak asing.

  • Pemantauan aktivitas digital
    global
    , terutama yang berkaitan
    dengan keamanan nasional dan
    ancaman terorisme.

NSA bekerja secara sangat rahasia dan
memiliki pengaruh besar dalam
operasi intelijen modern Amerika.

Frank berusaha
membantunya dengan mengatur
wawancara kerja di lembaga tersebut.
Hasilnya: Perkins diterima. Dengan
posisi itu, ia terbebas dari wajib
militer
, karena pegawai pemerintah
dikecualikan dari panggilan
ke Vietnam.

Namun, sebelum bisa benar-benar
bekerja di NSA, Perkins harus
menyelesaikan studinya terlebih
dahulu. Di masa-masa akhir
kuliahnya, ia menghadiri seminar
tentang Peace Corps
(Korps Perdamaian)
sebuah program sukarelawan yang
dijalankan pemerintah Amerika
untuk membantu negara-negara
berkembang. Di sana,
ia menemukan dua fakta penting:

  1. Relawan Peace Corps
    dibebaskan dari wajib
    militer.

  2. Program itu membutuhkan
    tenaga di wilayah Amazon
    ,
    baik untuk pekerjaan
    administratif maupun lapangan.

Bagi Perkins, ini adalah pilihan yang
sempurna: ia bisa tetap “patuh” pada
hukum, bebas dari perang, dan
sekaligus memulai petualangan yang
terdengar menarik. Ia mendaftar
menjadi sukarelawan Peace Corps dan
bersiap untuk dikirim ke Amerika
Selatan.

Sebuah Nasihat yang Mengubah
Segalanya

Sebelum berangkat, Perkins
menelepon Frank untuk memberi
kabar. Ia mengira Frank akan kecewa
karena ia meninggalkan peluang
karier di NSA demi hidup sukarelawan
di hutan Amazon. Namun, tanggapan
Frank justru mengejutkannya.

Frank mengatakan bahwa keputusan
itu mungkin justru akan membuka
jalan baru bagi Amerika
.
Ia menjelaskan bahwa Vietnam
sebentar lagi akan jatuh
ke tangan komunis
, dan perhatian
Amerika akan segera beralih
ke kawasan lain khususnya Amazon,
yang dikenal memiliki cadangan
minyak dan sumber daya alam
yang melimpah
.

Menurut Frank, pemerintah dan
perusahaan-perusahaan besar akan
membutuhkan orang-orang yang
memahami wilayah Amazon,
karena di sanalah sumber daya baru
dunia akan ditemukan. Dengan kata
lain, menjadi bagian dari Peace
Corps di sana bukan berarti keluar
dari sistem, tetapi masuk
ke dalamnya dari pintu
belakang
.

Jalan Menuju Dunia Para
“Economic Hit Men”

John Perkins tidak menyadari bahwa
pilihannya untuk menghindari wajib
militer justru menjadi langkah awal
dari perjalanan panjangnya sebagai
bagian dari sistem kekuasaan
ekonomi global. Pengalamannya
di Amazon mempertemukannya
dengan dunia pembangunan,
kontrak internasional, dan lembaga
keuangan besar yang tersembunyi
di balik bendera “bantuan” dan
“kerjasama”.

Dari situ, ia perlahan memahami
bagaimana proyek-proyek
pembangunan sering kali digunakan
bukan untuk membantu negara
miskin, tetapi untuk menjerat
mereka dalam utang dan
ketergantungan ekonomi
.
Ia yang dulu ingin menghindari
perang, justru menjadi bagian dari
mesin ekonomi yang melanjutkan
perang dalam bentuk lain perang
tanpa senjata, tapi dengan pinjaman
dan perjanjian bisnis.

Kesimpulan

Kisah John Perkins dalam bab ini
menunjukkan ironi sejarah yang
pahit
. Upayanya untuk
menghindari perang fisik malah
menuntunnya masuk ke perang
ekonomi global. Ia lolos dari wajib
militer, tetapi akhirnya menjadi
bagian dari sistem yang
menaklukkan negara-negara
lain dengan cara yang lebih
halus
.

Seperti yang ia tulis dalam The New
Confessions of an Economic Hit Man
,
kehidupan sering kali menuntun
kita ke jalan yang tak terduga. Dalam
kasusnya, ketakutannya terhadap
perang membawanya ke peran yang
jauh lebih besar sebagai salah satu
saksi sekaligus pelaku dari strategi
modern yang menggabungkan
kekuatan politik, ekonomi, dan
pengaruh korporasi untuk
membentuk dunia sesuai
kepentingan kekuasaan Amerika.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Dunia yang Dikuasai Rasa
Takut Baru

Bayangkan dunia saat itu seperti
lingkungan kampung yang lagi tegang.
Dua “preman besar” Amerika dan
Uni Soviet sama-sama punya senjata
paling berbahaya di seluruh kota.
Kalau salah satu mulai berkelahi,
seluruh kampung bisa hancur.
Karena itu, semua orang hidup
dalam ketakutan.

Di salah satu sudut kampung itu, ada
masalah baru: Vietnam. Negara kecil
ini seperti warga yang mulai menolak
diperintah oleh “tuan tanah” lamanya,
Prancis, dan malah mulai didekati
oleh preman besar lainnya, Uni Soviet.
Amerika gelisah. Mereka tidak mau
Vietnam berpihak ke musuh, tapi juga
tidak mau ikut perang besar-besaran.
Jadi mereka kirim uang, senjata, dan
penasihat tapi semua itu tidak berhasil.
Akhirnya, Amerika pun ikut turun
tangan langsung.

Banyak anak muda Amerika akhirnya
kena wajib militer seperti anak
kampung yang dipaksa ikut jaga
malam di wilayah berbahaya.
Di antara mereka, ada seorang
pemuda bernama John Perkins,
yang baru lulus sekolah dan sama
sekali tidak ingin terlibat dalam
“perkelahian besar” itu.

Takut Perang, Tapi Takut Juga
Jadi Buronan

Perkins bukan pemberontak. Ia hanya
punya perasaan kuat bahwa perang
itu salah arah. Ia tidak ingin menembak
orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Tapi di saat yang sama, ia juga tidak
ingin jadi buronan karena kabur dari
panggilan militer.

Waktu itu, banyak teman
seangkatannya memilih kabur ke luar
negeri agar tidak ikut perang. Tapi
Perkins ingin tetap bersih di mata
hukum. Jadi ia mencari cara resmi
untuk menunda panggilan wajib
militer salah satunya dengan kuliah.

Ia mendaftar di Boston University,
berharap bisa menunda panggilan
sampai situasi lebih aman. Tapi ia
tahu, waktu berjalan cepat. Setelah
lulus, jika belum punya jalan lain,
ia tetap bisa dipanggil masuk
perang. Ia butuh solusi permanen.

Tawaran Aneh dari Pemerintah

Suatu hari, seorang kenalan keluarga
bernama Frank, yang bekerja
di badan intelijen Amerika (NSA),
memberinya jalan keluar. Frank
menawarkannya kesempatan kerja
di lembaga tersebut. Bagi Perkins,
itu seperti menemukan “surat sakti”
bekerja di instansi pemerintah
berarti bebas dari wajib militer.

Tapi nasib punya rencana lain.
Sebelum resmi bekerja di NSA,
Perkins mendengar tentang program
Peace Corps semacam lembaga
sukarelawan pemerintah yang
dikirim ke negara-negara miskin
untuk membantu pembangunan.
Dan para relawannya juga bebas
dari wajib militer.

Jadi, kalau diibaratkan, Perkins
seperti orang yang sedang dikejar
anjing, lalu melihat dua jalan
di depan: satu ke kantor besar yang
kaku (NSA), dan satu lagi ke hutan
Amazon yang penuh misteri tapi
aman. Ia memilih jalan ke hutan
yaitu Amazon.

Nasihat Aneh dari Orang Dalam

Sebelum berangkat, Perkins
menelepon Frank untuk berpamitan.
Ia kira Frank akan kecewa karena ia
meninggalkan kesempatan besar
di NSA. Tapi ternyata tidak. Frank
malah berkata,

“Jalanmu itu justru menarik. Jangan
kaget kalau nanti kamu malah punya
peran besar untuk Amerika.”

Frank menjelaskan bahwa dunia
sedang berubah. Setelah Vietnam,
perhatian Amerika akan beralih
ke tempat lain yang kaya sumber daya
salah satunya kawasan Amazon
di Amerika Selatan. Menurut Frank,
suatu hari nanti
perusahaan-perusahaan besar akan
berlomba ke sana mencari minyak
dan tambang, dan mereka butuh
orang-orang yang paham wilayah itu.

Dengan kata lain, meski Perkins
merasa sedang “kabur” dari sistem,
sebenarnya ia justru sedang
melangkah masuk ke jantungnya
lewat pintu yang tak terlihat.

Masuk ke Dunia Para
“Pemain Halus”

Perjalanan di Amazon membuat
Perkins melihat sisi lain dari dunia
pembangunan. Ia mulai bekerja
sama dengan lembaga keuangan
besar dan perusahaan internasional
yang mengaku ingin membantu
negara berkembang. Tapi lama-lama
ia sadar, proyek-proyek itu bukan
sekadar “bantuan”.

Bayangkan ada seseorang yang
datang ke rumahmu sambil berkata:

“Kami mau bantu kamu merenovasi
rumah. Pinjam dulu uang dari kami,
nanti kami bantu desain dan beli
bahan bangunannya.”

Kedengarannya baik, tapi lama-lama
kamu sadar: semua bahan bangunan
harus dibeli dari toko mereka, semua
tukangnya dari mereka, dan kamu
harus mencicil pinjaman itu seumur
hidup. Rumahmu memang terlihat
megah, tapi kamu tidak lagi bebas.

Begitulah yang dilihat Perkins.
Negara-negara miskin dibuat
berutang demi pembangunan yang
dikendalikan dari balik layar.
Mereka seolah dibantu, padahal
perlahan dijerat dalam
ketergantungan ekonomi.

Dan tanpa disadarinya, Perkins
sendiri menjadi bagian dari sistem itu
seorang “economic hit man”, pemain
halus yang menaklukkan negara
bukan dengan senjata, tapi dengan
utang dan janji manis pembangunan.

Jalan Tak Terduga

Ironinya, keinginannya untuk
menghindari perang justru
membawanya ke perang jenis baru
perang ekonomi global yang jauh
lebih sunyi tapi tidak kalah
mematikan.

Ia lolos dari medan perang
di Vietnam, tapi akhirnya menjadi
bagian dari sistem yang “menembak”
negara-negara berkembang dengan
pinjaman dan kebijakan ekonomi
yang menghancurkan kemandirian
mereka.

Dalam bukunya, John Perkins
menulis bahwa hidup sering kali
membawa kita ke jalan yang tidak
kita rencanakan. Ia ingin
menghindari perang, tapi justru
menjadi “pelayan” dari kekuatan
yang menjalankan perang dengan
cara baru perang yang tidak pakai
senjata, tapi tetap menaklukkan
dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *