Proyek Pemerintah dan Ilusi “Penciptaan Lapangan Kerja”
Berdasarkan buku “Economics
in One Lesson” karya Henry
Hazlitt
Ketika ekonomi sedang lesu dan
pengangguran meningkat, kita
sering mendengar seruan seperti ini:
“Pemerintah harus turun tangan!
Bangun jembatan, jalan tol, waduk
apa saja, yang penting rakyat bekerja!”
Seruan itu terdengar masuk akal,
bahkan penuh semangat kebangsaan.
Namun, bagi Henry Hazlitt, di situlah
awal dari kekeliruan ekonomi
yang paling populer di dunia
modern.
Ia menamainya: the fallacy of public
works as job creation kekeliruan
menganggap bahwa proyek
pemerintah otomatis menciptakan
kemakmuran.
Apa yang Terlihat dan Apa
yang Tidak Terlihat
Hazlitt memulai dengan logika
sederhana:
Ketika pemerintah memulai
proyek besar misalnya,
membangun jembatan
kita langsung melihat hasil
nyatanya.
Ada pekerja konstruksi yang
bekerja, truk material yang
berjalan, dan gaji yang
beredar di pasar.
Ekonomi tampak “bergerak”.
Namun, yang tidak terlihat
jauh lebih penting:
uang untuk proyek itu tidak
muncul dari udara kosong.
Ia berasal dari pajak yang dipungut
dari masyarakat atau dari utang
yang kelak harus dibayar juga
oleh masyarakat yang sama.
Jika uang itu tidak diambil melalui
pajak, masyarakat akan
menggunakannya untuk hal lain
membeli pakaian, makanan, buku,
kendaraan, atau memperluas usaha
mereka sendiri.
Dengan kata lain, uang itu juga
akan menciptakan lapangan
kerja, tapi di sektor-sektor yang
benar-benar dibutuhkan rakyat.
Hazlitt menyimpulkan:
“Every dollar the government spends
must first be taken from someone else.
There is no new job created only a
job shifted.”
Proyek yang “Ada Pekerjaan,
Tapi Tak Ada Manfaat”
Hazlitt tidak menolak pembangunan
infrastruktur yang berguna.
Yang ia kritik adalah pembangunan
yang tidak memiliki nilai
ekonomi nyata, tapi dijalankan
hanya demi alasan “agar ada pekerjaan”.
Ia menggambarkan dengan satir:
Bayangkan pemerintah
mempekerjakan 10.000 orang
untuk menggali lubang di pagi
hari dan menimbunnya kembali
sore hari.
Secara teknis, angka pengangguran turun
tapi tidak ada nilai yang tercipta.
Masyarakat membayar pajak, tapi tidak
mendapat manfaat apa pun.
Begitu pula dengan proyek jembatan,
monumen, atau gedung pemerintahan
yang dibangun bukan karena
kebutuhan, tapi karena
“alokasi anggaran”.
Hazlitt akan bertanya tajam:
“Apakah jembatan itu benar-benar
dibutuhkan, atau hanya dibangun
agar tampak ada pekerjaan?”
Jika jawabannya yang kedua, maka
itu bukan kebijakan ekonomi
melainkan pemborosan yang
dibungkus dengan istilah moral.
Pajak Bukan Uang Baru
Salah satu kesalahan umum dalam
berpikir ekonomi adalah mengira
bahwa uang pemerintah adalah
uang yang “berbeda” dari uang
masyarakat.
Padahal, pemerintah tidak punya
sumber daya selain yang
diambil dari warganya sendiri.
Ketika pemerintah menghabiskan
satu miliar rupiah untuk proyek
tertentu, ia harus terlebih dahulu
mengambil satu miliar dari
saku masyarakat, entah lewat
pajak langsung, pungutan, atau
pinjaman.
Hazlitt menyebut hal ini sebagai
“pemindahan tenaga kerja dari
sektor produktif ke sektor
administratif”.
Para pekerja yang digaji oleh proyek
pemerintah itu sebenarnya dibayar
oleh hilangnya daya beli
masyarakat di tempat lain.
Mereka bekerja bukan karena ada
kebutuhan ekonomi nyata, tetapi
karena kebijakan politik yang
memindahkan aliran uang.
Efisiensi vs. Populisme
Menurut Hazlitt, sektor swasta
memiliki mekanisme alami untuk
menyesuaikan diri dengan
kebutuhan masyarakat:
Jika ada permintaan nyata,
bisnis akan mempekerjakan
orang untuk memenuhinya.Jika permintaan menurun,
produksi dikurangi dan
tenaga kerja dialihkan
ke sektor lain yang lebih
berguna.
Namun dalam sektor publik, logika
itu hilang.
Proyek sering dijalankan bukan
karena efisien, tapi karena
terlihat populer.
“Program padat karya” menjadi
contoh nyata pekerja direkrut,
jalan dibangun, parit digali,
tetapi manfaat jangka panjangnya
kecil.
Hazlitt menyebutnya sebagai
“penciptaan pekerjaan semu”:
pekerjaan yang ada di atas kertas,
tapi tidak menambah kesejahteraan
riil.
Nilai Manfaat Harus Jadi Ukuran
Hazlitt menekankan bahwa ukuran
keberhasilan ekonomi bukan
seberapa banyak orang bekerja,
tetapi seberapa banyak nilai
yang dihasilkan dari pekerjaan
itu.
Jika pemerintah mempekerjakan
ribuan orang untuk membangun
sesuatu yang tidak dibutuhkan,
itu sama saja seperti menggali
lubang dan menimbunnya lagi.
Kita sibuk bekerja, tapi tidak maju
ke mana-mana.
Sebaliknya, jika masyarakat diberi
kebebasan untuk menggunakan
uangnya sendiri,
mereka akan menyalurkan
pengeluaran ke barang dan jasa
yang memang mereka inginkan
sehingga menciptakan lapangan
kerja alami yang
berkelanjutan.
Pelajaran dari Hazlitt
Hazlitt mengingatkan bahwa
“penciptaan lapangan kerja” hanyalah
slogan politik jika tidak disertai
penciptaan nilai riil.
Kita harus menilai kebijakan bukan
dari jumlah pekerja yang diserap,
tapi dari manfaat jangka panjang
yang benar-benar dihasilkan.
“The art of sound economics,”
tulis Hazlitt,
“consists in looking not merely
at the immediate but at the
longer effects of any act or policy.”
Proyek pemerintah bisa bermanfaat
bila memang dibutuhkan, efisien,
dan produktif.
Namun jika tujuannya hanya agar
terlihat sibuk dan menurunkan
angka pengangguran sementara,
maka pada akhirnya itu hanyalah
biaya sosial yang dibayar
dengan nama kemakmuran.
Kesimpulan
Henry Hazlitt mengajak kita
melihat melampaui slogan
“penciptaan lapangan kerja”.
Karena setiap pekerjaan yang
diciptakan oleh pemerintah
dengan uang pajak,
berarti ada pekerjaan lain di sektor
swasta yang tidak terjadi akibat
uang itu diambil.
Maka, menciptakan pekerjaan
bukan berarti menciptakan
kemakmuran.
Pekerjaan sejati adalah yang
menghasilkan nilai nyata bagi
masyarakat,
bukan yang sekadar menampilkan
kesibukan di depan kamera.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
