Data yang lambat dapat membuat perdagangan saham bertindak aneh
Ketika Data Pasar Terlambat Mengubah Wajah
Perdagangan Saham
Dalam Flash Boys, Michael Lewis memaparkan sebuah
masalah mendasar yang sering tidak terlihat oleh
investor biasa: data pasar yang tidak tiba pada
semua orang secara bersamaan. Perbedaan
waktu yang sangat singkat ini dalam skala milidetik
atau mikrodetik cukup untuk mengubah cara harga
saham bergerak dan siapa yang diuntungkan di pasar.
Mengapa Data Bisa Terlambat
Lewis menjelaskan bahwa ada dua penyebab
utama keterlambatan data pasar:
- Jarak Fisik dan Kecepatan Pengiriman
Sinyal
Data harga saham dikirim dari bursa ke berbagai
pelaku pasar melalui jaringan. Semakin jauh jarak
fisik server penerima dari bursa, semakin lama
waktu tempuh data tersebut, walaupun hanya
dalam hitungan mikrodetik. - Perbedaan Jalur Informasi
Bursa saham menyediakan dua jenis data:- Feed publik: Gratis atau lebih murah,
tapi dikirim lebih lambat. - Feed premium: Berbayar mahal, tetapi
dikirim jauh lebih cepat.
Perusahaan-perusahaan High-Frequency
Trading (HFT) membayar untuk
mendapatkan feed premium ini, sehingga
mereka bisa melihat perubahan harga
sebelum pihak lain.
- Feed publik: Gratis atau lebih murah,
Contoh Harga Bergerak Aneh karena Perbedaan
Kecepatan Informasi
Michael Lewis memberikan gambaran bagaimana harga
bisa tampak “aneh” di mata investor biasa.
Misalnya, harga saham sebuah perusahaan naik
di Bursa A. Perusahaan HFT yang memiliki akses data
tercepat mengetahui hal ini lebih dulu, lalu segera
membeli saham yang sama di Bursa B dengan harga
lama. Begitu pembelian besar itu terjadi, harga
di Bursa B juga naik.
Bagi investor biasa yang melihat layar harga, ini terlihat
seperti lonjakan harga mendadak tanpa alasan
jelas. Padahal, lonjakan itu disebabkan oleh pergerakan
pihak yang lebih cepat memanfaatkan keterlambatan
data antar-bursa.
Bagaimana Pelaku HFT Memanfaatkannya
Menurut Lewis, strategi HFT dalam memanfaatkan
keterlambatan data berjalan seperti ini:
- Mendeteksi Perubahan Lebih Cepat
Algoritma mereka membaca perubahan harga
di satu bursa melalui feed premium. - Bergerak ke Bursa Lain
Dalam waktu mikrodetik, algoritma mengirim
order ke bursa lain yang belum memperbarui harga. - Mengambil Keuntungan dari Selisih Harga
Sementara
Mereka membeli di harga lama dan menjual segera
setelah harga baru muncul. Selisih tipis ini, jika
dilakukan ribuan kali sehari, menghasilkan
keuntungan besar.
Bagi pembaca awam, bayangkan dua pasar buah di kota
berbeda. Pasar pertama menaikkan harga jeruk dari
Rp10.000 menjadi Rp12.000. Sebelum pasar kedua
tahu, ada pedagang cepat yang memborong jeruk
di pasar kedua seharga Rp10.000 lalu menjualnya
kembali seharga Rp12.000. Keuntungannya kecil
per transaksi, tapi sangat besar jika dilakukan
terus-menerus.
Siapa yang Diuntungkan dan Dirugikan
Berdasarkan kisah di buku:
Pihak yang diuntungkan:
- Perusahaan HFT yang punya akses feed data
tercepat. - Bursa saham yang menjual akses premium
dengan biaya tinggi.
Pihak yang dirugikan:
- Investor ritel yang bergantung pada feed publik.
- Investor institusi seperti dana pensiun, yang
ordernya besar sehingga lebih mudah “disusul”
oleh pelaku HFT.
Kesimpulan dari Buku
Lewis menegaskan bahwa keterlambatan data bukan
sekadar masalah teknis, tetapi sumber keuntungan
utama bagi pelaku perdagangan tercepat. Selama
informasi tidak sampai ke semua pihak dalam
waktu yang sama, pihak yang paling cepat akan
selalu berada di depan bukan karena strategi
investasi yang lebih baik, tetapi karena mereka
lebih dulu tahu apa yang akan terjadi.

Cepat: karena mereka memproses data lebih dulu,
mereka bisa melakukan order sebelum harga baru
berlaku, sehingga beli di harga lama.
Lambat: saat mereka menerima dan melihat harga,
harganya sudah naik, jadi tidak sempat beli
di harga lama.
