filsafat

Problem of the Criterion: Bagaimana Kita Bisa Tahu Apa yang Benar Kalau Kita Belum Tahu Cara Mengetahuinya?

Pernahkah Anda berdebat tentang sesuatu yang penting, lalu sadar bahwa Anda dan lawan bicara Anda tidak punya cara yang sama untuk menentukan siapa yang benar? Anda merasa yakin dengan bukti Anda. Dia merasa yakin dengan buktinya. Kalian berdua saling melempar argumen. Tetapi tidak ada kesepakatan tentang bagaimana cara menilai argumen itu sendiri. Akhirnya, perdebatan itu tidak selesai. Kalian hanya berputar-putar.

Itulah inti dari Problem of the Criterion. Sebuah masalah mendasar dalam filsafat pengetahuan. Ia bertanya, bagaimana kita bisa menentukan kriteria kebenaran, jika kita belum punya contoh pengetahuan yang jelas? Dan bagaimana kita bisa mengenali contoh pengetahuan yang jelas, jika kita belum punya kriteria kebenaran? Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Problem of the Criterion?

Problem of the Criterion adalah masalah sirkularitas dalam epistemologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan. Masalah ini pertama kali dirumuskan dengan tajam oleh seorang filsuf Yunani kuno bernama Sextus Empiricus. Ia adalah seorang skeptis. Ia menunjukkan bahwa ada tiga kemungkinan ketika kita mencoba menentukan kriteria kebenaran.

Yang pertama, kita mengklaim punya kriteria. Tetapi untuk tahu bahwa kriteria itu benar, kita perlu kriteria lain. Lalu kriteria lain itu perlu kriteria lagi. Ini berlanjut tanpa akhir. Ini disebut regresi tak terbatas.

Yang kedua, kita mengklaim punya kriteria. Tetapi kita membenarkan kriteria itu dengan dirinya sendiri. Itu seperti mengatakan, “Kriteria ini benar karena kriteria ini mengatakan bahwa ia benar.” Itu berputar-putar. Ini disebut circular reasoning.

Yang ketiga, kita mengklaim punya kriteria. Tetapi kita menerimanya begitu saja tanpa pembenaran. Kita hanya menganggapnya jelas. Padahal, orang lain mungkin tidak menganggapnya jelas. Ini disebut asumsi dogmatis.

Ketiga kemungkinan itu terasa tidak memuaskan. Tetapi kita tidak bisa keluar dari lingkaran itu. Itulah Problem of the Criterion.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya masalah filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda berdebat tentang politik? Anda punya fakta. Lawan Anda punya fakta. Anda punya sumber. Lawan Anda punya sumber. Kalian berdua merasa benar. Tetapi kalian tidak punya cara yang sama untuk menilai fakta dan sumber itu. Akhirnya, kalian hanya saling bicara tanpa didengar.

Pernahkah Anda berdebat tentang agama? Anda punya kitab suci. Lawan Anda punya kitab suci. Anda punya tafsir. Lawan Anda punya tafsir. Kalian berdua merasa yakin. Tetapi kalian tidak punya kriteria bersama untuk menilai tafsir itu. Akhirnya, kalian hanya saling mengutip.

Pernahkah Anda berdebat tentang moral? Anda merasa sesuatu itu salah. Lawan Anda merasa sesuatu itu benar. Kalian berdua punya alasan. Tetapi kalian tidak punya standar bersama untuk menilai alasan itu. Akhirnya, kalian hanya saling menghakimi.

Problem of the Criterion juga muncul dalam sains. Ilmuwan punya kriteria untuk menguji teori. Tetapi dari mana kriteria itu datang? Apakah kriteria itu sendiri bisa diuji? Jika ya, dengan kriteria apa? Jika tidak, apakah sains hanya berdiri di atas asumsi?

Problem of the Criterion juga muncul dalam hukum. Hakim punya kriteria untuk menilai bukti. Tetapi dari mana kriteria itu datang? Apakah kriteria itu adil? Bagaimana kita tahu? Siapa yang menentukan?

Problem of the Criterion juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda memilih berita, bagaimana Anda tahu berita itu benar? Anda punya sumber. Tetapi bagaimana Anda tahu sumber itu bisa dipercaya? Anda punya pengalaman. Tetapi bagaimana Anda tahu pengalaman itu tidak menipu? Anda punya akal. Tetapi bagaimana Anda tahu akal itu tidak salah? Pada akhirnya, Anda hanya bisa percaya pada sesuatu.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa belajar filsafat. Ia membaca tentang Problem of the Criterion. Ia mulai bertanya, “Bagaimana saya tahu bahwa apa yang saya pelajari itu benar? Bagaimana saya tahu bahwa dosen saya benar? Bagaimana saya tahu bahwa buku ini benar?” Ia merasa goyah. Ia merasa tidak ada dasar yang kokoh.

Seorang karyawan berdebat dengan rekan kerjanya tentang cara terbaik menyelesaikan proyek. Mereka punya pendapat berbeda. Mereka punya data berbeda. Mereka tidak punya kriteria bersama untuk menilai data itu. Akhirnya, mereka tidak sepakat. Proyek itu terhambat.

Seorang ibu berdebat dengan anaknya tentang aturan rumah. Ibu punya aturan. Anak punya alasan. Mereka tidak punya standar bersama untuk menilai aturan itu. Akhirnya, mereka bertengkar. Hubungan mereka renggang.

Seorang pengguna media sosial membaca berita. Ia ingin tahu apakah berita itu benar. Ia mencari sumber lain. Ia menemukan sumber yang bertentangan. Ia tidak punya kriteria untuk menilai sumber mana yang lebih baik. Akhirnya, ia memilih yang sesuai dengan keyakinannya. Ia tidak benar-benar tahu. Ia hanya percaya.

Seorang filsuf merenung tentang pengetahuan. Ia bertanya, “Bagaimana saya bisa tahu apa pun? Jika saya butuh kriteria untuk mengetahui, dan kriteria itu butuh pembenaran, dan pembenaran itu butuh kriteria lagi, apakah pengetahuan itu mungkin?” Ia merasa bingung. Ia merasa bahwa ia tidak bisa keluar dari lingkaran itu.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Problem of the Criterion bukan hanya teori. Ia menyentuh bagaimana kita berdebat, bagaimana kita percaya, dan bagaimana kita hidup bersama.

Tiga Fase Menghadapi Problem of the Criterion

Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda punya keyakinan. Anda punya kriteria. Anda tidak pernah mempertanyakan dari mana kriteria itu datang. Anda merasa bahwa dunia ini jelas.

Fase kedua, Anda merasa goyah. Anda membaca tentang Problem of the Criterion. Anda menyadari bahwa kriteria Anda tidak punya dasar yang kokoh. Anda mulai bertanya, “Bagaimana saya tahu bahwa kriteria saya benar? Bagaimana saya tahu bahwa saya tidak sedang salah?”

Fase ketiga, Anda mencari jalan keluar. Anda menyadari bahwa Anda tidak bisa keluar dari lingkaran itu sepenuhnya. Anda mulai memilih pendekatan. Anda mungkin menjadi metodis. Anda mungkin menjadi partikularis. Anda mungkin menjadi skeptis. Yang penting, Anda tidak lagi menerima begitu saja.

Tanggapan-Tanggapan terhadap Problem of the Criterion

Para filsuf sudah mencoba menanggapi masalah ini. Tidak ada satu jawaban yang diterima semua orang. Tetapi ada beberapa pendekatan yang menarik.

Yang pertama adalah metodisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kita harus mulai dari kriteria. Kita tetapkan dulu apa yang membuat sesuatu disebut pengetahuan. Baru kemudian kita menilai keyakinan kita. Kita tidak perlu memulai dari contoh. Kita mulai dari aturan. Kriteria itu dianggap sebagai titik awal yang tidak perlu dipertanyakan.

Yang kedua adalah partikularisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kita harus mulai dari contoh. Kita sudah punya banyak contoh pengetahuan yang jelas. Kita tahu bahwa kita tahu banyak hal. Kita tahu bahwa kita punya tangan. Kita tahu bahwa kita sedang berpikir. Kita tahu bahwa matahari bersinar. Dari contoh-contoh itu, kita menyusun kriteria. Kriteria itu tidak perlu sempurna. Ia hanya perlu menjelaskan contoh-contoh yang sudah kita terima.

Yang ketiga adalah skeptisisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Kita tidak bisa mengetahui apa pun dengan pasti. Kita harus menangguhkan penilaian. Kita harus hidup dengan keraguan. Skeptisisme bukanlah keputusasaan. Skeptisisme adalah kerendahan hati.

Yang keempat adalah foundationalisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa ada keyakinan dasar yang tidak perlu dibenarkan oleh keyakinan lain. Keyakinan itu langsung jelas. Keyakinan itu menjadi fondasi bagi keyakinan lain. Problem of the Criterion diselesaikan dengan mengakui bahwa ada titik henti. Tidak semua hal perlu dibenarkan.

Yang kelima adalah koherentisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa keyakinan tidak perlu fondasi. Keyakinan saling mendukung satu sama lain seperti jaring. Sebuah keyakinan dianggap benar jika ia konsisten dengan keyakinan lain. Kebenaran adalah koherensi. Tidak ada kriteria tunggal. Tidak ada fondasi tunggal.

Kritik terhadap Tanggapan-Tanggapan

Setiap tanggapan punya kritik. Metodisme dianggap dogmatis. Ia menerima kriteria tanpa pembenaran. Partikularisme dianggap arbitrer. Siapa yang menentukan contoh mana yang jelas? Skeptisisme dianggap melumpuhkan. Jika kita tidak tahu apa pun, bagaimana kita bisa hidup? Foundationalisme dianggap tidak realistis. Apakah ada keyakinan yang benar-benar tidak perlu dibenarkan? Koherentisme dianggap terlalu longgar. Jika semua keyakinan saling mendukung, apakah satu keyakinan bisa benar sendirian?

Cara Menyikapi Problem of the Criterion

Pertama, akui bahwa masalah ini nyata. Anda tidak perlu berpura-pura bahwa Anda punya semua jawaban. Mengakui kerumitan adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.

Kedua, jangan takut pada sirkularitas. Semua sistem pengetahuan pasti punya titik awal. Titik awal itu tidak bisa dibenarkan oleh sistem itu sendiri. Itu bukan kelemahan. Itu kenyataan. Yang penting adalah Anda sadar akan titik awal itu.

Ketiga, jujurlah tentang asumsi Anda. Ketika Anda berdebat, akui asumsi Anda. Katakan, “Saya memulai dari keyakinan ini. Saya tidak bisa membuktikannya sepenuhnya. Tetapi saya memilih untuk memercayainya.” Itu lebih jujur daripada berpura-pura bahwa Anda punya bukti yang sempurna.

Keempat, hargailah dialog. Jika Anda dan lawan bicara Anda punya kriteria yang berbeda, jangan langsung menyerang. Cobalah memahami kriteria mereka. Cobalah mencari titik temu. Mungkin Anda tidak akan sepakat. Tetapi setidaknya Anda saling memahami.

Kelima, jangan dogmatis. Jangan menganggap bahwa kriteria Anda adalah satu-satunya kriteria yang benar. Terbukalah pada kemungkinan bahwa Anda salah. Terbukalah pada kemungkinan bahwa ada cara lain untuk melihat sesuatu.

Keenam, jangan skeptis berlebihan. Skeptisisme yang ekstrem melumpuhkan. Anda tetap perlu hidup. Anda tetap perlu bertindak. Anda tetap perlu membuat keputusan. Gunakan kriteria yang Anda punya. Perbaiki jika perlu. Jangan menunggu kepastian yang sempurna.

Ketujuh, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Problem of the Criterion mengingatkan kita bahwa pengetahuan manusia itu terbatas. Terimalah batas itu. Hidup dengan rasa kagum.

Kedelapan, fokus pada tindakan. Terlalu banyak berpikir tentang kriteria bisa membuat Anda lumpuh. Kadang yang paling penting bukanlah menyelesaikan masalah filosofis, tetapi bagaimana Anda memperlakukan orang lain. Mulailah dari sana.

Penutup

Problem of the Criterion mengajarkan satu hal yang mendalam. Kita tidak bisa keluar dari lingkaran pengetahuan sepenuhnya. Setiap kriteria butuh pembenaran. Setiap pembenaran butuh kriteria. Pada akhirnya, kita harus memilih titik awal. Kita harus percaya pada sesuatu.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika tidak ada dasar yang kokoh, bagaimana kita bisa yakin? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu sempurna. Kita tidak perlu tahu segalanya. Kita hanya perlu jujur. Kita hanya perlu rendah hati. Kita hanya perlu terus belajar.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah merasa terjebak dalam perdebatan yang tidak ada ujungnya? Apakah Anda pernah merasa bahwa Anda dan lawan bicara Anda tidak punya kriteria bersama? Dan jika ya, apa yang Anda lakukan? Apakah Anda memaksakan kriteria Anda? Apakah Anda menyerah? Apakah Anda mencari titik temu? Atau apakah Anda hanya memilih untuk hidup dengan kerendahan hati, karena itu cara terbaik untuk menghadapi misteri pengetahuan?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai memeriksa kriteria yang Anda gunakan setiap hari.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Problem of the Criterion: Gimana Lo Tau Cara Lo Tau Itu Bener?

Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi debat sama seseorang. Mungkin soal agama. Mungkin soal politik. Mungkin soal sains. Mungkin soal hidup lo sendiri. Lo ngerasa punya bukti. Lo ngerasa punya alasan. Lo ngerasa punya cara buat nentuin mana yang bener.

Terus dia nanya satu pertanyaan yang bikin lo diem. “Dari mana lo tau cara lo buat nentuin bener itu bener?”

Lo diem. Lo mikir. Lo coba jawab. Lo bilang, “Ya karena cara ini masuk akal.” Dia nanya lagi, “Masuk akal menurut apa?” Lo bilang, “Ya menurut logika.” Dia nanya lagi, “Gimana lo tau logika itu bener?” Lo mulai bingung. Lo mulai muter. Lo mulai ngerasa ada yang bolong. Tapi lo nggak tau di mana.

Itulah yang disebut Problem of the Criterion. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat cara lo tau sesuatu dengan mata yang beda.

Sebenernya Problem of the Criterion Itu Apa Sih?

Problem of the Criterion itu simpelnya gini: sebelum lo bisa tau sesuatu, lo butuh standar. Tapi buat tau standar itu bener, lo butuh standar lain. Dan buat tau standar lain itu bener, lo butuh standar lain lagi. Muter.

Dengan kata lain: gimana lo nentuin cara buat nentuin bener dan salah, tanpa udah pake cara buat nentuin bener dan salah?

Ini masalah lama. Udah dibahas sejak zaman Yunani kuno. Salah satu yang paling terkenal adalah Sextus Empiricus. Dia filsuf skeptis. Dia hidup sekitar abad ke-2 atau ke-3 Masehi. Dia nulis buku yang ngejelasin pandangan skeptis. Di situ, dia ngejelasin masalah ini.

Dia bilang, buat nentuin apakah sesuatu itu bener, lo butuh kriteria. Tapi buat nentuin apakah kriteria itu bener, lo butuh kriteria lain. Dan buat nentuin kriteria lain itu bener, lo butuh kriteria lain lagi. Nggak ada ujungnya. Atau lo bakal muter. Atau lo bakal berhenti di satu titik tanpa alasan.

Masalah ini disebut juga diallelus. Artinya roda. Karena lo muter terus. Nggak ada jalan keluar.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat kuno. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Problem of the Criterion nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah debat yang nggak ada ujungnya. Lo punya standar. Dia punya standar. Lo bilang, “Buktiin.” Dia bilang, “Bukti lo bukan bukti.” Lo bilang, “Ini fakta.” Dia bilang, “Fakta menurut siapa?” Lo capek. Karena dua-duanya pake standar yang beda. Dan nggak ada cara buat nentuin standar mana yang bener tanpa pake standar.

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bingung percaya siapa. Lo liat berita. Ada yang bilang A. Ada yang bilang B. Dua-duanya punya sumber. Dua-duanya punya bukti. Dua-duanya punya alasan. Lo nggak tau harus percaya yang mana. Karena lo nggak punya kriteria yang jelas.

Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa sains dan agama nggak bisa akur. Sains pake bukti empiris. Agama pake wahyu. Dua-duanya punya kriteria sendiri. Dan tiap kriteria ngerasa paling bener. Tapi gimana lo nentuin kriteria mana yang bener? Pake kriteria apa?

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo nggak bisa yakin apa pun. Lo ngerasa bahwa semua argumen bisa dibantah. Semua bukti bisa diragukan. Semua standar bisa dipersoalkan. Dan lo mulai mikir, “Apa gue bisa tau apa pun? Atau gue cuma bisa percaya?”

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Problem of the Criterion

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah debat yang muter karena beda standar? Itu tanda lo lagi nyentuh Problem of the Criterion.

  2. Lo pernah ngerasa nggak bisa nentuin standar mana yang bener? Itu tanda lo lagi ngalamin masalah ini.

  3. Lo pernah ngerasa semua argumen bisa dibantah? Itu tanda lo lagi nyentuh keraguan.

  4. Lo pernah mikir “gimana gue tau cara gue tau itu bener?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti masalah.

  5. Lo pernah ngerasa bahwa lo butuh dasar buat dasar? Itu tanda lo lagi mikir.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener fundamental. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di hukum. Pengadilan pake saksi. Kesaksian. Tapi gimana lo tau saksi itu bisa dipercaya? Pake saksi lain. Tapi gimana lo tau saksi lain itu bisa dipercaya? Pake saksi lain lagi. Muter. Atau pake bukti fisik. Tapi gimana lo tau bukti fisik itu valid? Pake ahli. Tapi gimana lo tau ahli itu bener? Pake standar. Tapi gimana lo tau standar itu bener?

Di medsos. Lo liat fact checker. Lo percaya. Tapi gimana lo tau fact checker itu bener? Karena ada fact checker lain yang bilang gitu. Tapi gimana lo tau fact checker lain itu bener? Karena ada fact checker lain lagi. Muter. Atau karena lo percaya aja. Itu bukan kriteria. Itu iman.

Di diri lo sendiri. Lo pake logika buat mikir. Tapi gimana lo tau logika itu bener? Pake logika. Muter. Lo pake pengalaman buat belajar. Tapi gimana lo tau pengalaman itu bener? Pake pengalaman. Muter. Lo pake perasaan buat nentuin. Tapi gimana lo tau perasaan itu bener? Pake perasaan. Muter.

Fase-Fase Lo Ngadepin Problem of the Criterion

Fase pertama: lo ngerasa punya kriteria.
Lo punya cara buat nentuin bener. Lo punya standar. Lo punya metode. Lo nggak pernah nanya dari mana. Lo nggak pernah nanya kenapa. Lo cuma pake. Lo cuma jalanin.

Fase kedua: lo mulai mikir.
Ada yang nanya. Ada yang nantang. Ada yang bikin lo ragu. Lo mulai nanya. “Kok gue pake kriteria ini?” “Dari mana gue dapet?” “Gimana gue tau ini bener?” Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa muter.

Fase ketiga: lo nyari jalan keluar.
Lo mulai baca. Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai nyari jawaban. Lo mungkin nemuin jawaban. Lo mungkin nggak nemuin jawaban. Lo mungkin milih satu posisi. Lo mungkin milih posisi lain. Yang penting, lo mulai mikir.

Kritik: Kenapa Banyak yang Bilang Problem Ini Nggak Fatal?

Problem of the Criterion nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf bilang masalah ini nggak harus bikin lo lumpuh. Ada beberapa alasan.

Pertama, masalah praktis. Dalam hidup sehari-hari, lo nggak butuh kriteria yang sempurna. Lo cuma butuh kriteria yang cukup. Lo nggak perlu buktiin logika itu bener. Lo cuma perlu pake logika. Lo nggak perlu buktiin pengalaman itu bener. Lo cuma perlu pake pengalaman. Lo tetep bisa hidup.

Kedua, masalah pseudo. Ada yang bilang Problem of the Criterion cuma masalah bahasa. Cuma masalah cara kita ngomong. Kalo kita ngomong dengan lebih hati-hati, masalahnya hilang. Kita nggak perlu cari dasar yang mutlak. Kita cuma perlu cari dasar yang cukup buat konteks tertentu.

Ketiga, masalah infinitisme. Ada yang bilang regresi tak terbatas itu nggak masalah. Kita bisa terus nyari alasan. Kita nggak perlu berhenti. Kita nggak perlu dasar yang mutlak. Kita cuma perlu proses yang terus jalan.

Keempat, masalah fallibilism. Ada yang bilang kita nggak perlu kepastian. Kita cuma perlu kemungkinan. Kita nggak perlu tau dengan pasti. Kita cuma perlu percaya dengan alasan yang cukup. Dan alasan yang cukup itu bisa berubah. Dan itu nggak apa-apa.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Problem of the Criterion bilang, kritik itu valid. Tapi nggak bikin masalahnya hilang. Karena dalam banyak situasi, lo beneran butuh kriteria. Lo beneran butuh standar. Lo beneran butuh cara buat nentuin bener dan salah.

Mereka bilang, kalo lo nggak punya kriteria, lo bakal bingung. Lo bakal muter. Lo bakal nggak bisa milih. Lo bakal nggak bisa bertindak. Jadi, masalah ini nyata. Bukan cuma masalah bahasa.

Mereka bilang, masalah ini ngingetin kita buat rendah hati. Kita nggak punya dasar yang mutlak. Kita cuma punya dasar yang kita pilih. Dan pilihan itu bisa salah. Dan itu nggak apa-apa.

Mereka bilang, masalah ini ngedorong kita buat mikir lebih dalem. Bukan buat berhenti mikir. Bukan buat nyerah. Tapi buat nanya lebih dalam. Buat nyari lebih dalam. Buat ngerti lebih dalam.

Cara Nyikapin Problem of the Criterion Tanpa Kehilangan Akal

1. Jangan cari kepastian mutlak.
Lo nggak akan pernah nemuin dasar yang nggak bisa diragukan. Kecuali mungkin keberadaan lo sendiri. Jadi, jangan nuntut kepastian mutlak. Cari cukup. Cari yang cukup buat lo hidup. Cari yang cukup buat lo milih. Cari yang cukup buat lo bertindak.

2. Bedain konteks.
Kriteria buat sains beda sama kriteria buat agama. Kriteria buat hukum beda sama kriteria buat hubungan. Jangan pake satu kriteria buat semua hal. Sesuaiin kriteria sama konteks.

3. Terima fallibilism.
Lo bisa salah. Gue bisa salah. Semua orang bisa salah. Nggak ada yang punya kriteria yang sempurna. Jadi, terima bahwa lo bisa salah. Dan siap buat belajar. Siap buat berubah. Siap buat perbaiki.

4. Uji kriteria lo.
Kriteria lo nggak harus sempurna. Tapi kriteria lo harus bisa diuji. Kalo kriteria lo nggak bisa diuji, curiga. Kalo kriteria lo nggak bisa disalahin, curiga. Kriteria yang baik adalah kriteria yang bisa dikritik. Kriteria yang baik adalah kriteria yang bisa diperbaiki.

5. Dialog.
Lo nggak perlu nentuin kriteria sendirian. Lo bisa dialog. Lo bisa diskusi. Lo bisa dengerin orang lain. Mungkin mereka punya kriteria yang lebih baik. Mungkin mereka punya perspektif yang lo nggak punya. Mungkin lo bisa belajar dari mereka.

6. Jangan dogmatis.
Jangan ngerasa bahwa kriteria lo yang paling bener. Jangan ngerasa bahwa standar lo yang paling sempurna. Jangan ngerasa bahwa metode lo yang paling valid. Karena bisa jadi ada yang lebih baik. Bisa jadi ada yang lebih tepat. Bisa jadi lo yang salah.

7. Fokus pada praktik.
Kadang, lo nggak perlu nyelesaiin masalah teoretis. Kadang, lo cuma perlu hidup. Lo cuma perlu milih. Lo cuma perlu bertindak. Lo cuma perlu belajar dari pengalaman. Dan pengalaman itu bisa ngasih lo kriteria yang lebih baik dari teori apa pun.

8. Terima bahwa lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa buktiin kriteria lo dengan sempurna. Lo nggak akan pernah bisa nemuin dasar yang mutlak. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.

9. Cari keseimbangan.
Lo nggak bisa cuma pake satu kriteria. Lo nggak bisa cuma pake logika. Lo nggak bisa cuma pake pengalaman. Lo nggak bisa cuma pake perasaan. Lo butuh keseimbangan. Lo butuh gabungan. Lo butuh kebijaksanaan.

10. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Nggak ada yang tau segalanya. Bahkan kriteria lo pun nggak sempurna. Terimalah itu. Dan teruslah belajar.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Ketidaktahuan

Yang paling lo takutin bukan ketidaktahuan. Bukan keraguan. Bukan ketidakpastian.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak punya dasar. Kalo lo sadar lo nggak punya kriteria yang sempurna. Kalo lo sadar lo cuma bisa percaya. Kalo lo sadar lo cuma bisa milih. Kalo lo sadar lo harus tetep hidup meskipun nggak tau. Dan lo nggak bisa lari dari itu.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa rendah hati. Kalo lo sadar, lo bisa belajar. Kalo lo sadar, lo bisa dialog. Kalo lo sadar, lo bisa tumbuh. Kalo lo sadar, lo bisa nemuin kriteria yang lebih baik. Bukan yang sempurna. Tapi yang cukup.

Problem of the Criterion bukan tentang bikin lo lumpuh. Dia tentang bikin lo sadar. Dia tentang bikin lo jujur. Dia tentang bikin lo rendah hati. Dia tentang bikin lo terus nyari.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Problem of the Criterion ngajarin satu hal yang menantang. Lo nggak bisa nentuin bener tanpa kriteria. Tapi lo nggak bisa nentuin kriteria bener tanpa kriteria lain. Dan itu muter. Nggak ada ujungnya. Atau lo berhenti di satu titik tanpa alasan.

Ini bisa berasa menakutkan. Kalo nggak ada dasar yang mutlak, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo nggak ada dasar yang mutlak, lo bebas. Lo bebas buat nyari. Lo bebas buat milih. Lo bebas buat nemuin kriteria yang bener-bener milik lo.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah debat yang muter karena beda standar? Lo pernah ngerasa nggak bisa nentuin standar mana yang bener? Lo pernah mikir “gimana gue tau cara gue tau itu bener?”

Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo diem? Apa lo nyari jawaban? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai nerima bahwa lo nggak akan pernah punya jawaban yang sempurna?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa cara lo tau pun perlu diuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *