Paradoks Toleransi: Jika Kita Toleran pada Semua Hal, Apakah Toleransi Itu Akan Hancur?
Pernahkah Anda melihat sebuah perdebatan tentang kebebasan berbicara? Di satu sisi, ada orang yang berkata, “Semua orang berhak mengatakan apa pun. Kita harus toleran.” Di sisi lain, ada orang yang berkata, “Tetapi jika kita membiarkan kelompok yang membenci kita berbicara, mereka akan menghancurkan kita.” Anda mungkin merasa bingung. Anda ingin toleran. Anda tidak ingin membatasi kebebasan. Tetapi Anda juga tidak ingin toleransi itu dipakai untuk menghancurkan toleransi itu sendiri.
Itulah inti dari Paradoks Toleransi. Sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh seorang filsuf Austria-Inggris bernama Karl Popper. Ia mengajak kita memikirkan batas dari toleransi. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Apa Itu Paradoks Toleransi?
Paradoks Toleransi adalah gagasan bahwa jika sebuah masyarakat bersikap toleran tanpa batas, maka toleransi itu akan dihancurkan oleh kelompok yang tidak toleran. Kelompok yang tidak toleran akan memanfaatkan kebebasan yang diberikan untuk menyebarkan kebencian, menindas kelompok lain, dan akhirnya merebut kekuasaan. Jika mereka berhasil, mereka tidak akan memberikan toleransi yang sama kepada orang lain. Mereka akan menindas balik. Maka, untuk mempertahankan toleransi, masyarakat harus bersedia untuk tidak toleran terhadap intoleransi.
Karl Popper menulis tentang gagasan ini dalam bukunya yang berjudul “The Open Society and Its Enemies,” yang diterbitkan pada tahun 1945. Ia tidak mengatakan bahwa kita harus menindas semua orang yang berbeda pendapat. Ia tidak mengatakan bahwa kita harus membungkam semua kritik. Ia hanya mengatakan bahwa kita tidak boleh toleran tanpa batas. Kita tidak boleh membiarkan kelompok yang ingin menghancurkan masyarakat terbuka untuk menggunakan kebebasan demi kehancuran.
Popper menulis, “Jika kita memperluas toleransi tanpa batas bahkan kepada mereka yang tidak toleran, jika kita tidak siap untuk mempertahankan masyarakat yang toleran terhadap serangan dari yang tidak toleran, maka yang toleran akan dihancurkan.” Ia menambahkan bahwa kita harus mengklaim, dalam nama toleransi, hak untuk tidak toleran terhadap yang tidak toleran. Kita harus menghentikan mereka jika mereka mengancam.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya teori politik. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda berada di grup media sosial yang penuh dengan ujaran kebencian? Anda ingin keluar. Tetapi Anda juga merasa bahwa Anda harus tetap di sana untuk melawan. Anda bingung. Apakah Anda harus toleran pada ujaran kebencian? Atau apakah Anda harus melawannya?
Pernahkah Anda melihat berita tentang kelompok yang menyerang tempat ibadah? Mereka mengklaim bahwa mereka punya hak untuk menyatakan pendapat. Mereka mengklaim bahwa mereka dilindungi oleh kebebasan berbicara. Apakah masyarakat harus membiarkan mereka? Atau apakah masyarakat harus bertindak?
Pernahkah Anda melihat diskusi tentang ujaran kebencian di internet? Ada yang berkata, “Biarkan saja. Nanti mereka akan diam sendiri.” Ada yang berkata, “Hapus. Blokir. Laporkan.” Mana yang benar?
Paradoks Toleransi juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, ada murid yang terus mengejek murid lain karena agamanya. Guru berkata, “Kita harus toleran. Jangan terlalu sensitif.” Murid yang diejek merasa tidak aman. Ia merasa bahwa toleransi dipakai untuk membenarkan penindasan.
Di kantor, ada karyawan yang terus membuat lelucon rasis. Atasan berkata, “Ah, dia hanya bercanda. Kita harus toleran.” Karyawan yang menjadi sasaran lelucon itu merasa tidak nyaman. Ia merasa bahwa toleransi dipakai untuk membenarkan pelecehan.
Di media sosial, ada akun yang menyebarkan hoaks dan hasutan. Platform berkata, “Kami tidak bisa menghapus. Kami menjunjung kebebasan berbicara.” Akun itu terus tumbuh. Ia memengaruhi banyak orang. Akhirnya, terjadi kekerasan. Apakah platform itu bersalah?
Di tingkat negara, ada partai yang ingin menghapus demokrasi. Ia ikut pemilu. Ia menggunakan kebebasan berbicara untuk menyebarkan propaganda. Jika ia menang, ia akan mengubah sistem. Ia akan menindas lawan-lawan politiknya. Apakah negara harus membiarkan partai itu ikut pemilu? Atau apakah negara harus melarangnya?
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Paradoks Toleransi bukan hanya teori. Ia menyentuh keamanan, keadilan, dan kebebasan.
Tiga Fase Menghadapi Paradoks Toleransi
Fase pertama, masyarakat terlalu toleran. Masyarakat membiarkan semua orang berbicara. Masyarakat membiarkan semua kelompok berkembang. Masyarakat berpikir bahwa dialog akan menyelesaikan segalanya. Masyarakat tidak menyadari bahwa ada kelompok yang tidak ingin berdialog. Ada kelompok yang ingin menghancurkan.
Fase kedua, kelompok intoleran tumbuh. Mereka memanfaatkan kebebasan. Mereka menyebarkan kebencian. Mereka merekrut pengikut. Mereka menyerang kelompok lain. Masyarakat mulai merasa tidak aman. Masyarakat mulai bertanya, “Apakah kita terlalu toleran?”
Fase ketiga, masyarakat merespons. Ada dua kemungkinan. Pertama, masyarakat terus toleran. Ia membiarkan kelompok intoleran tumbuh. Akhirnya, kelompok itu merebut kekuasaan. Toleransi hancur. Kedua, masyarakat bertindak. Ia membatasi kelompok intoleran. Ia melindungi toleransi dengan tidak mentoleransi intoleransi. Toleransi bertahan.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Paradoks Toleransi
Paradoks Toleransi tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan pemikir menolak atau meragukan gagasan ini.
Pertama, siapa yang menentukan apa itu intoleransi? Jika pemerintah punya kekuasaan untuk melarang kelompok yang dianggap intoleran, pemerintah bisa menyalahgunakan kekuasaan itu. Pemerintah bisa melarang kelompok yang hanya berbeda pendapat. Pemerintah bisa melarang oposisi. Pemerintah bisa melarang kritik. Itu bukan toleransi. Itu tirani.
Kedua, apakah melarang intoleransi itu efektif? Jika kita melarang kelompok intoleran, mereka bisa menjadi martir. Mereka bisa bergerak di bawah tanah. Mereka bisa semakin kuat. Kadang, membiarkan mereka berbicara justru membuat argumen mereka lemah. Orang bisa melihat sendiri bahwa ide mereka buruk.
Ketiga, apakah kita tidak munafik? Jika kita mengklaim toleransi, tetapi tidak toleran pada kelompok tertentu, apakah kita tidak melanggar prinsip kita sendiri? Apakah kita tidak menjadi apa yang kita lawan?
Keempat, apakah ada batas yang jelas? Kapan sebuah ucapan menjadi intoleransi? Apakah kritik pada agama itu intoleransi? Apakah kritik pada budaya itu intoleransi? Apakah kritik pada pemerintah itu intoleransi? Sulit membuat batas yang jelas.
Tanggapan terhadap Kritik
Pendukung Paradoks Toleransi punya tanggapan. Mereka tidak selalu mengatakan bahwa kita harus melarang semua yang tidak setuju. Mereka sering mengatakan bahwa kita harus membedakan antara ide dan tindakan.
Ide boleh berbeda. Ide boleh dikritik. Ide boleh diperdebatkan. Tetapi tindakan yang merugikan harus dihentikan. Ujaran kebencian yang memicu kekerasan bukan sekadar ide. Itu tindakan. Diskriminasi bukan sekadar ide. Itu tindakan. Terorisme bukan sekadar ide. Itu tindakan.
Mereka juga mengatakan bahwa batas itu harus ditentukan oleh hukum yang adil. Bukan oleh pemerintah yang sewenang-wenang. Bukan oleh mayoritas yang menindas. Hukum harus melindungi hak semua orang. Hukum harus melindungi kebebasan berbicara. Tetapi hukum juga harus melindungi keamanan.
Mereka juga mengatakan bahwa kita tidak perlu melarang semua hal. Kita bisa menggunakan pendidikan. Kita bisa menggunakan dialog. Kita bisa menggunakan media. Kita bisa menggunakan tekanan sosial. Kita bisa mengisolasi kelompok intoleran. Kita bisa membuat mereka tidak populer. Kita bisa membuat ide mereka tidak diterima.
Mereka juga mengatakan bahwa kita harus berani. Jika kita hanya diam, kelompok intoleran akan menang. Jika kita hanya takut, kita akan kehilangan kebebasan. Kita harus melawan. Kita harus berbicara. Kita harus bertindak.
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang guru melihat muridnya mengejek murid lain karena warna kulitnya. Guru itu berkata, “Kita harus toleran. Jangan marah. Maafkan saja.” Murid yang diejek merasa tidak dilindungi. Ia merasa bahwa toleransi dipakai untuk membenarkan pelecehan. Guru itu seharusnya bertindak. Ia seharusnya menegur murid yang mengejek. Ia seharusnya mengajarkan bahwa kebebasan berbicara bukan kebebasan untuk menyakiti.
Seorang karyawan melihat rekan kerjanya menyebarkan berita palsu tentang agama tertentu. Karyawan itu berkata, “Ah, biarkan saja. Itu kan pendapat.” Berita palsu itu menyebar. Ia memicu kebencian. Akhirnya, terjadi konflik. Karyawan itu menyesal. Ia seharusnya melaporkan. Ia seharusnya melawan.
Seorang pengguna media sosial melihat akun yang menghasut kekerasan. Ia berkata, “Ah, itu kan hanya akun kecil. Tidak akan berpengaruh.” Akun itu tumbuh. Ia direkrut oleh kelompok besar. Ia menjadi bagian dari gerakan yang berbahaya. Pengguna itu menyesal. Ia seharusnya melaporkan. Ia seharusnya memblokir.
Seorang politisi berkata, “Kita harus toleran pada semua partai. Kita tidak boleh melarang partai apa pun.” Partai yang ingin menghapus demokrasi ikut pemilu. Ia menang. Ia mengubah konstitusi. Ia melarang partai lain. Politisi itu menyesal. Ia seharusnya bertindak. Ia seharusnya melindungi demokrasi.
Seorang ibu berkata, “Anak saya boleh berteman dengan siapa saja. Saya tidak boleh ikut campur.” Anaknya berteman dengan anak yang mengajaknya melakukan hal berbahaya. Anaknya terluka. Ibu itu menyesal. Ia seharusnya membimbing. Ia seharusnya melindungi.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Paradoks Toleransi bukan hanya teori. Ia adalah pilihan yang harus kita buat. Kita harus memilih kapan harus toleran dan kapan harus bertindak.
Cara Menyikapi Paradoks Toleransi
Pertama, bedakan antara ide dan tindakan. Ide boleh diperdebatkan. Tindakan yang merugikan harus dihentikan. Jangan toleran pada kekerasan. Jangan toleran pada diskriminasi. Jangan toleran pada hasutan.
Kedua, lawan dengan argumen. Jika seseorang menyebarkan ide buruk, lawan dengan argumen. Jangan hanya membungkam. Jangan hanya marah. Tunjukkan mengapa ide itu salah. Tunjukkan akibatnya. Tunjukkan alternatifnya.
Ketiga, dukung hukum yang adil. Hukum harus melindungi kebebasan berbicara. Tetapi hukum juga harus melindungi keamanan. Hukum harus melarang ujaran kebencian yang memicu kekerasan. Hukum harus melarang diskriminasi. Hukum harus melarang hasutan.
Keempat, jangan kucilkan orang karena identitas. Jangan benci orang karena agamanya. Jangan benci orang karena sukunya. Jangan benci orang karena warna kulitnya. Benci tindakannya, bukan orangnya. Kritik idenya, bukan dirinya.
Kelima, didiklah diri Anda. Semakin Anda tahu, semakin Anda bisa membedakan. Semakin Anda tahu, semakin Anda bisa melawan. Semakin Anda tahu, semakin Anda bisa toleran pada yang benar dan tidak toleran pada yang salah.
Keenam, beranilah bersuara. Jangan diam. Jangan takut. Jangan biarkan kelompok intoleran mendominasi. Suara Anda penting. Tindakan Anda penting. Keberanian Anda penting.
Ketujuh, jangan munafik. Jangan menuntut toleransi untuk diri Anda, tetapi tidak memberi toleransi pada orang lain. Jangan membungkam orang lain hanya karena berbeda. Jangan melanggar prinsip Anda sendiri.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Anda mungkin salah. Anda mungkin terlalu keras. Anda mungkin terlalu lembut. Belajarlah. Perbaiki diri. Tumbuhlah.
Penutup
Paradoks Toleransi mengajarkan satu hal yang menantang. Toleransi bukan berarti menerima segalanya. Toleransi bukan berarti diam pada ketidakadilan. Toleransi bukan berarti membiarkan diri dihancurkan. Toleransi adalah keseimbangan. Toleransi adalah keberanian. Toleransi adalah keadilan.
Ini bisa terasa sulit. Kita ingin toleran. Kita ingin baik. Kita ingin damai. Tetapi kadang kita harus keras. Kadang kita harus melawan. Kadang kita harus tidak toleran pada intoleransi.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah menghadapi situasi di mana Anda harus memilih antara toleran dan melawan? Apakah Anda pernah melihat toleransi dipakai untuk membenarkan kejahatan? Dan jika ya, apa yang Anda lakukan? Apakah Anda diam? Apakah Anda bertindak? Apakah Anda memilih untuk melindungi toleransi dengan tidak mentoleransi mereka yang ingin menghancurkannya?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai memikirkan batas toleransi Anda sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Paradox of Tolerance: Kenapa Lo Nggak Bisa Toleran Sama Orang yang Nggak Toleran?
Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi ngobrol sama seseorang. Mungkin di medsos. Mungkin di kampus. Mungkin di kantor. Mungkin di keluarga. Topiknya berat. Topiknya soal perbedaan. Soal keyakinan. Soal identitas.
Lo dengerin dia ngomong. Dia bilang A harus gini. B harus gitu. C nggak boleh ada di sini. D nggak punya hak buat ngomong. Lo mulai nggak nyaman. Lo mulai kesel. Lo mulai pengen bantah.
Tapi terus ada suara di kepala lo. Suara yang bilang, “Tapi lo kan orang yang toleran. Lo kan nggak boleh ngehakimin. Lo kan harus nerima perbedaan. Lo kan harus ngormatin pendapat orang lain.”
Lo diem. Lo bingung. Lo ngerasa terjepit. Di satu sisi, lo pengen bantah. Di sisi lain, lo ngerasa bantah itu berarti lo nggak toleran. Dan lo mulai nanya dalam hati. “Apa gue harus toleran sama orang yang nggak toleran? Apa gue harus diem aja? Apa gue harus nerima pandangan yang nggak nerima gue?”
Kalo lo pernah stuck di momen kayak gini, lo udah nyentuh salah satu dilema paling pelik dan paling relevan di zaman sekarang. Namanya Paradox of Tolerance. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat toleransi dengan mata yang beda.
Sebenernya Paradox of Tolerance Itu Apa Sih?
Paradox of Tolerance itu simpelnya gini: kalo masyarakat yang toleran ngasih toleransi tanpa batas sama yang nggak toleran, maka yang nggak toleran bakal ngambil alih. Dan toleransi itu sendiri bakal hancur.
Dengan kata lain: kalo lo toleran sama semua orang, termasuk orang yang nggak toleran, lo bakal kalah. Dan toleransi lo bakal mati.
Istilah ini dipopulerin sama filsuf Austria-Inggris namanya Karl Popper. Dia hidup di abad ke-20. Lahir 1902. Meninggal 1994. Dia filsuf sains. Dia juga filsuf politik. Dia nulis buku terkenal tahun 1945. Judulnya The Open Society and Its Enemies. Di situ, dia ngejelasin gagasan ini.
Popper nulis, “Kalo kita ngasih toleransi tanpa batas, bahkan sama yang nggak toleran, maka kalo yang nggak toleran itu cukup kuat, mereka bakal ngehancurin yang toleran. Jadi, kita harus ngaku bahwa kita punya hak buat nolak toleransi sama yang nggak toleran. Kita harus ngaku bahwa masyarakat yang toleran nggak boleh toleran sama yang nggak toleran.”
Tapi Popper juga nambah catatan penting. Dia bilang, “Kita harus selalu siap buat nolak toleransi sama yang nggak toleran. Tapi kita harus hati-hati. Jangan sampe kita pake alasan ini buat nindas pendapat yang beda. Jangan sampe kita pake alasan ini buat ngekang kebebasan.”
Jadi, ada garis tipis. Di satu sisi, lo nggak boleh toleran sama yang nggak toleran. Di sisi lain, lo nggak boleh pake alasan itu buat nolak semua yang nggak lo suka. Dan garis itu susah banget ditentuin.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma teori politik. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Paradox of Tolerance nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah ngerasa bingung di medsos. Ada postingan yang bikin lo kesel. Ada komentar yang bikin lo marah. Ada akun yang nyebarin kebencian. Lo pengen lapor. Lo pengen blokir. Lo pengen bantah. Tapi lo mikir, “Apa gue nggak toleran? Apa gue nggak ngormatin kebebasan berbicara?”
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa terjepit di keluarga. Ada om atau tante yang ngomong sesuatu yang rasis. Ada saudara yang ngomong sesuatu yang seksis. Ada orang tua yang ngomong sesuatu yang diskriminatif. Lo pengen bantah. Tapi lo takut dianggap nggak sopan. Lo takut bikin keributan. Lo takut dianggap nggak toleran.
Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa toleransi lo disalahgunain. Lo toleran sama orang lain. Lo ngasih ruang. Lo ngasih kesempatan. Tapi mereka pake ruang itu buat nyerang lo. Mereka pake kesempatan itu buat ngehancurin lo. Dan lo ngerasa bodoh. Lo ngerasa dimanfaatin.
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo harus milih antara jadi toleran atau jadi bener. Kalo lo toleran, lo diem aja. Kalo lo bener, lo bantah. Dan lo nggak bisa dua-duanya. Dan lo bingung.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Paradoks Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah bingung harus toleran atau bantah? Itu tanda lo lagi nyentuh Paradox of Tolerance.
Lo pernah ngerasa toleransi lo disalahgunain? Itu tanda lo lagi ngerasain dilema ini.
Lo pernah diem aja padahal lo pengen bantah? Itu tanda lo lagi kejebak paradoks ini.
Lo pernah ngerasa bersalah karena nggak toleran? Itu tanda lo lagi mikir.
Lo pernah mikir “apa gue harus toleran sama orang yang nggak toleran?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti paradoks ini.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener pelik. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di medsos. Ada akun yang nyebarin hoaks. Ada akun yang nyebarin kebencian. Ada akun yang nyerang orang lain. Lo bisa lapor. Lo bisa blokir. Tapi kalo lo diem, mereka bakal makin kuat. Kalo lo biarin, mereka bakal makin berani. Dan akhirnya, mereka bakal ngambil alih ruang publik. Dan suara lo bakal tenggelam.
Di kampus. Ada kelompok yang nolak mahasiswa dari minoritas. Ada kelompok yang nolak kuliah dari dosen yang beda pandangan. Ada kelompok yang bikin suasana nggak aman. Lo bisa diem. Lo bisa toleran. Tapi kalo lo diem, kelompok itu bakal makin gede. Kalo lo toleran, kampus lo bakal jadi tempat yang nggak ramah buat semua orang. Dan akhirnya, cuma kelompok itu yang bisa ada di situ.
Di kerjaan. Ada bos yang diskriminatif. Ada rekan yang rasis. Ada lingkungan yang toxic. Lo bisa diem. Lo bisa toleran. Tapi kalo lo diem, mereka bakal makin parah. Kalo lo toleran, lo bakal jadi bagian dari masalah. Dan akhirnya, lo bakal ngerasa nggak nyaman di tempat kerja lo sendiri.
Di politik. Ada partai yang nolak hak kelompok tertentu. Ada pemimpin yang nyebarin kebencian. Ada kebijakan yang nindas minoritas. Lo bisa diem. Lo bisa toleran. Tapi kalo lo diem, mereka bakal makin kuat. Kalo lo toleran, demokrasi lo bakal mati. Dan akhirnya, lo bakal hidup di negara yang nggak ngehargain lo.
Di diri lo sendiri. Lo punya prinsip. Lo punya nilai. Lo punya batas. Lo toleran sama banyak hal. Tapi ada saatnya, lo harus milih. Lo harus nentuin. Lo harus bantah. Bukan karena lo nggak toleran. Tapi karena kalo lo nggak bantah, prinsip lo bakal hilang. Nilai lo bakal hancur. Dan lo bakal jadi orang yang nggak punya pendirian.
Fase-Fase Lo Ngadepin Paradoks Ini
Fase pertama: lo toleran tanpa batas.
Lo ngerasa bahwa toleransi itu harus total. Lo ngerasa bahwa lo harus nerima semua orang. Lo ngerasa bahwa lo harus ngormatin semua pandangan. Lo nggak punya batas. Lo nggak punya garis.
Fase kedua: lo mulai ngerasa nggak nyaman.
Lo mulai nyadar bahwa toleransi lo disalahgunain. Lo mulai nyadar bahwa orang lain pake kebebasan lo buat ngerusak lo. Lo mulai ngerasa kesel. Lo mulai ngerasa capek. Lo mulai ngerasa bodoh.
Fase ketiga: lo mulai nentuin batas.
Lo mulai mikir. Lo mulai nimbang. Apa yang masih bisa lo toleran? Apa yang udah nggak bisa? Kapan lo harus diem? Kapan lo harus bantah? Lo mulai nentuin batas. Lo mulai nentuin garis. Lo mulai nentuin prinsip.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Paradox of Tolerance nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan pemikir nolak atau ngeraguin gagasan ini.
Pertama, masalah penyalahgunaan. Gagasan ini bisa disalahgunain. Orang bisa bilang, “Gue nggak toleran sama lo karena lo nggak toleran.” Padahal, lo cuma beda pendapat. Padahal, lo cuma ngritik. Jadi, gagasan ini bisa dipake buat ngekang kritik.
Kedua, masalah siapa yang nentuin. Siapa yang nentuin siapa yang “nggak toleran”? Siapa yang nentuin batasnya? Kalo yang nentuin adalah yang berkuasa, maka mereka bisa nindas siapa pun yang mereka nggak suka.
Ketiga, masalah kebebasan berbicara. Kalo kita nolak toleransi sama yang nggak toleran, apakah itu berarti kita ngekang kebebasan berbicara? Apakah itu berarti kita nggak ngasih ruang buat pendapat yang beda? Apakah itu berarti kita jadi sama kayak mereka?
Keempat, masalah slippery slope. Kalo kita mulai nolak toleransi sama satu kelompok, di mana berhentinya? Apa nggak bakal terus meluas? Apa nggak bakal semua orang dianggap “nggak toleran”?
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Paradox of Tolerance punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang gagasan ini sempurna. Mereka sering bilang gagasan ini penting.
Mereka bilang, Paradox of Tolerance bukan tentang nolak pendapat yang beda. Dia tentang nolak tindakan yang ngerusak. Beda pendapat itu sehat. Nyerang orang itu nggak sehat. Ngritik itu penting. Nindas itu nggak penting.
Mereka bilang, batasnya harus jelas. Bukan “apa yang gue nggak suka.” Tapi “apa yang nyerang martabat manusia.” Bukan “apa yang bikin gue nggak nyaman.” Tapi “apa yang ngerusak kebebasan orang lain.”
Mereka bilang, kebebasan berbicara bukan kebebasan tanpa konsekuensi. Lo boleh ngomong. Tapi orang lain boleh bantah. Lo boleh punya pendapat. Tapi orang lain boleh nolak. Kebebasan berbicara bukan berarti bebas dari kritik.
Mereka bilang, Popper sendiri udah ngingetin. Dia bilang, kita harus hati-hati. Jangan sampe kita pake alasan ini buat nindas pendapat yang beda. Jangan sampe kita pake alasan ini buat ngekang kebebasan. Jadi, gagasan ini bukan lisensi buat nindas. Tapi pedoman buat ngejaga.
Cara Nyikapin Paradox of Tolerance Tanpa Kehilangan Akal
1. Bedain antara pendapat dan tindakan.
Pendapat yang beda itu boleh. Tindakan yang ngerusak itu nggak boleh. Lo boleh nolak pendapat. Tapi lo harus hormati hak orang lain buat punya pendapat. Yang nggak boleh adalah tindakan yang nyerang, nindas, atau ngehancurin.
2. Tentukan batas lo.
Lo nggak bisa toleran sama segalanya. Lo nggak bisa nerima segalanya. Lo punya batas. Lo punya nilai. Tentukan batas itu. Tentukan nilai itu. Dan pegang teguh. Bukan karena lo nggak toleran. Tapi karena lo punya prinsip.
3. Jangan pake alasan ini buat nindas.
Jangan pake Paradox of Tolerance buat nolak semua yang nggak lo suka. Jangan pake buat ngekang kritik. Jangan pake buat ngejek orang lain. Gunain dengan bijak. Gunain dengan hati-hati.
4. Hati-hati sama label.
Jangan gampang ngecap orang sebagai “nggak toleran.” Karena label itu bisa ngerusak. Label itu bisa ngejebak. Label itu bisa bikin lo salah. Periksa dulu. Pahami dulu. Baru nilai.
5. Hormati martabat manusia.
Yang nggak boleh ditoleransi adalah yang nyerang martabat manusia. Yang nolak hak orang lain. Yang ngehancurin kebebasan orang lain. Itu batasnya. Itu garisnya.
6. Jangan diem aja.
Kalo lo liat ketidakadilan, jangan diem. Kalo lo liat penindasan, jangan diem. Kalo lo liat kebencian, jangan diem. Bantah. Lawan. Perjuangin. Bukan karena lo nggak toleran. Tapi karena lo peduli.
7. Cari sekutu.
Lo nggak perlu ngadepin semua ini sendirian. Cari orang yang punya nilai yang sama. Cari orang yang punya prinsip yang sama. Bersama, lo bisa lebih kuat. Bersama, lo bisa lebih berarti.
8. Jangan jadi ekstrem.
Jangan jadi ekstrem dalam toleransi. Jangan juga jadi ekstrem dalam nolak. Cari keseimbangan. Cari titik tengah. Cari cara yang bijak. Bukan yang paling keras. Bukan yang paling lembut. Tapi yang paling tepat.
9. Terbuka pada dialog.
Kadang, orang yang keliatan “nggak toleran” cuma salah paham. Kadang, mereka cuma kurang informasi. Kadang, mereka cuma takut. Coba dialog. Coba pahami. Coba jelasin. Mungkin mereka bisa berubah. Mungkin lo juga bisa belajar.
10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti di mana batasnya. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Jadi Nggak Toleran
Yang paling lo takutin bukan jadi nggak toleran. Bukan jadi keras. Bukan jadi tegas.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo udah terlalu lama diem. Kalo lo sadar lo udah terlalu lama toleran. Kalo lo sadar lo udah ngorbanin prinsip lo demi kenyamanan. Kalo lo sadar lo udah jadi bagian dari masalah. Bukan karena lo jahat. Tapi karena lo takut dianggap nggak toleran.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa bantah. Kalo lo sadar, lo bisa lawan. Kalo lo sadar, lo bisa berjuang. Kalo lo sadar, lo bisa nentuin batas. Kalo lo sadar, lo bisa nemuin suara lo.
Paradox of Tolerance bukan tentang bikin lo jadi keras. Dia tentang bikin lo sadar. Dia tentang bikin lo bijak. Dia tentang bikin lo nentuin batas. Dia tentang bikin lo berani.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Paradox of Tolerance ngajarin satu hal yang menantang. Kalo lo toleran tanpa batas, toleransi lo bakal dihancurin. Kalo lo ngasih ruang ke semua orang, ruang lo bakal diambil. Kalo lo diem aja, suara lo bakal tenggelam.
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo lo nggak bisa toleran sama segalanya, apa lo masih toleran? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo lo punya batas, lo punya prinsip. Kalo lo punya prinsip, lo punya pendirian. Kalo lo punya pendirian, lo punya kekuatan.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah bingung harus toleran atau bantah? Lo pernah ngerasa toleransi lo disalahgunain? Lo pernah diem aja padahal lo pengen bantah?
Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo terus diem? Apa lo mulai bantah? Apa lo mulai nentuin batas? Apa lo mulai nemuin suara lo?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nentuin batas.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa toleransi itu bukan tentang diem aja. Tapi tentang tau kapan harus ngomong.
