Social Loafing Encouragement: Ketika Tanggung Jawab Tersebar dan Tidak Ada yang Benar-Benar Bekerja
Pernahkah Anda berada dalam kerja
kelompok di mana tugas harus
selesai minggu depan, tetapi
teman-teman Anda santai saja?
Ada yang bermain ponsel, ada yang
mengobrol, ada yang mengerjakan
hal lain. Anda berpikir, “Ya sudah,
saya kerjakan sendiri nanti.”
Tetapi lama-kelamaan, Anda juga
ikut santai. Bukan karena Anda
malas. Tetapi karena Anda melihat
yang lain juga tidak bergerak.
Inilah yang disebut Social Loafing.
Dan teknik yang memanfaatkannya
disebut Social Loafing
Encouragement.
Social loafing adalah kecenderungan
orang untuk mengurangi usaha ketika
bekerja dalam kelompok.
Bukan karena tidak mampu. Tetapi
karena tanggung jawabnya terbagi.
Ia merasa, “Ah, kan ada yang lain.”
“Kalaupun saya tidak maksimal, tidak
akan terlihat.” “Yang penting ada yang
mengerjakan.” Akibatnya, semua
orang berpikir seperti itu.
Dan hasilnya, tidak ada yang
benar-benar mengerjakan. Pelaku
memanfaatkan ini untuk melemahkan
kelompok, atau membiarkan
kelompok gagal sementara ia
mencuci tangan.
Teknik ini berhubungan dengan
Bystander Effect Exploitation
dan Deindividuation Triggers
yang telah dibahas sebelumnya.
Pada kedua teknik itu,
kerumunan membuat orang tidak
bertindak atau kehilangan identitas.
Pada Social Loafing Encouragement,
tanggung jawab tersebar.
Setiap orang merasa bukan tanggung
jawabnya. Tidak ada yang
mengerjakan.
Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Individu
Mengurangi Usaha dalam
Kelompok
Eksperimen Max
Ringelmann (1913):
The Ringelmann Effect
Max Ringelmann, seorang insinyur
pertanian dari Prancis, melakukan
eksperimen yang menjadi dasar
dari social loafing. Meskipun
eksperimen ini dilakukan lebih dari
seratus tahun yang lalu, temuan ini
masih relevan hingga sekarang.
Dalam eksperimen ini, Ringelmann
meminta para pekerja untuk
menarik tali sekuat tenaga.
Ia mengukur gaya tarikan yang
dihasilkan oleh satu orang,
dua orang, tiga orang, hingga
delapan orang. Semua peserta
diminta menarik tali sekuat mungkin.
Peneliti mengukur total gaya yang
dihasilkan oleh kelompok.
Jika setiap orang menarik dengan
kekuatan penuh, maka gaya total
kelompok seharusnya sama dengan
jumlah gaya individu dikalikan
jumlah orang. Misalnya, jika satu
orang menghasilkan gaya 100 unit,
maka delapan orang seharusnya
menghasilkan gaya 800 unit.
Hasilnya, gaya total kelompok jauh
lebih kecil dari yang seharusnya.
Satu orang menarik dengan gaya
sekitar 100 unit. Dua orang
menghasilkan sekitar 186 unit.
Tiga orang menghasilkan sekitar
255 unit. Delapan orang hanya
menghasilkan sekitar 392 unit.
Artinya, rata-rata gaya per orang
menurun seiring bertambahnya
jumlah orang dalam kelompok.
Dialog setelah eksperimen:
Ringelmann: “Mengapa Anda tidak
menarik sekuat tenaga?”
Pekerja: “Saya tidak tahu.
Saya merasa ada yang lain yang
menarik. Jadi saya tidak perlu
terlalu kuat.”
Ringelmann: “Apakah Anda merasa
bertanggung jawab penuh atas
tarikan kelompok?”
Pekerja: “Tidak juga. Ada banyak
orang di sini. Kalau saya kurang
kuat, tidak akan terlihat.”
Ringelmann menyimpulkan bahwa
individu cenderung mengurangi
usaha ketika bekerja dalam
kelompok. Ia tidak merasa bahwa
usaha pribadinya akan diukur
secara langsung. Ia merasa bahwa
tanggung jawabnya tersebar.
Dalam Social Loafing
Encouragement, pelaku
menciptakan kondisi yang sama.
Pelaku membuat kelompok besar.
Pelaku tidak membagi tugas
dengan jelas. Korban merasa
bukan tanggung jawab pribadinya.
Korban mengurangi usaha.
Eksperimen Bibb Latané, Kipling
Williams, dan Stephen
Harkins (1979): The Clapping
and Shouting Experiment
Bibb Latané, Kipling Williams, dan
Stephen Harkins dari Ohio State
University melakukan eksperimen
yang lebih terkontrol tentang social
loafing. Penelitian ini diterbitkan
dalam jurnal Journal of Personality
and Social Psychology. Mereka ingin
menguji apakah orang mengurangi
usaha ketika mereka merasa tidak
dapat diidentifikasi.
Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta berteriak atau bertepuk
tangan sekuat mungkin. Mereka
memakai headphone dan penutup
mata. Mereka diberi tahu bahwa
mereka akan berteriak atau
bertepuk tangan dalam kelompok
berukuran satu, dua, empat, atau
enam orang. Sebenarnya, peneliti
hanya memutar suara teriakan atau
tepukan yang sudah direkam.
Partisipan tidak benar-benar
mendengar suara partisipan lain.
Peneliti mengukur tingkat kebisingan
yang dihasilkan oleh setiap partisipan
secara individual melalui mikrofon
yang dipasang di dekat mulut mereka.
Hasilnya, semakin besar kelompok
yang partisipan bayangkan, semakin
kecil usaha yang mereka keluarkan.
Partisipan yang mengira mereka
sendirian berteriak paling keras.
Partisipan yang mengira mereka
dalam kelompok enam orang
berteriak paling pelan. Penurunan
usaha terjadi bahkan ketika
partisipan tidak benar-benar bekerja
dalam kelompok nyata. Hanya
dengan merasa bahwa mereka berada
dalam kelompok, usaha mereka
menurun.
Dialog setelah eksperimen:
Latané: “Mengapa Anda berteriak
lebih pelan ketika merasa ada
orang lain?”
Partisipan: “Saya merasa tidak perlu
terlalu keras. Ada yang lain yang
berteriak.”
Latané: “Apakah Anda merasa usaha
Anda akan diukur?”
Partisipan: “Tidak. Saya pikir peneliti
akan mengukur suara kelompok,
bukan suara saya.”
Latané: “Jadi Anda mengurangi
usaha karena merasa tidak terlihat?”
Partisipan: “Iya. Kalau saya sendirian,
saya akan berteriak sekuat mungkin.”
Latané menyimpulkan bahwa social
loafing terjadi ketika individu merasa
bahwa kontribusinya tidak dapat
diidentifikasi. Ketika usaha individu
tidak diukur secara terpisah,
orang cenderung mengurangi usaha.
Dalam Social Loafing Encouragement,
pelaku menciptakan kondisi di mana
kontribusi individu tidak terlihat.
Pelaku tidak membagi tugas secara
spesifik. Korban merasa usahanya
tidak akan diukur.
Korban mengurangi usaha.
Eksperimen Steven Karau dan
Kipling Williams (1993):
Meta-Analysis of Social
Loafing
Steven Karau dan Kipling Williams
dari University of Waterloo
melakukan meta-analisis besar
terhadap 78 studi tentang social
loafing. Penelitian ini diterbitkan
dalam jurnal Journal of Personality
and Social Psychology.
Mereka menganalisis data dari
ribuan partisipan dari berbagai
negara dan berbagai jenis tugas.
Meta-analisis ini menemukan
beberapa faktor yang meningkatkan
atau mengurangi social loafing.
Social loafing lebih besar terjadi
ketika tugas bersifat sederhana,
ketika kelompok berukuran besar,
ketika kontribusi individu tidak
dapat diidentifikasi, dan ketika
individu merasa bahwa
rekan-rekannya juga tidak
berusaha maksimal.
Sebaliknya, social loafing berkurang
ketika tugas bersifat menantang,
ketika kelompok berukuran kecil,
ketika kontribusi individu dapat
diidentifikasi, dan ketika individu
merasa bahwa usahanya akan
dihargai.
Dialog setelah meta-analisis:
Karau: “Apa yang membuat social
loafing lebih besar?”
Asisten: “Ketika tugasnya mudah,
kelompoknya besar, dan kontribusi
individu tidak terlihat.”
Karau: “Apa yang membuat social
loafing berkurang?”
Asisten: “Ketika tugasnya menantang,
kelompoknya kecil, dan kontribusi
individu diakui.”
Karau: “Jadi social loafing bukan
sekadar kemalasan. Ia adalah
respons terhadap kondisi kelompok?”
Asisten: “Iya. Ketika individu merasa
usahanya tidak berarti,
ia mengurangi usaha.”
Karau dan Williams menyimpulkan
bahwa social loafing adalah fenomena
yang dapat diprediksi dan
dikendalikan. Pelaku Social Loafing
Encouragement memanfaatkan
kondisi yang meningkatkan social
loafing. Pelaku membuat kelompok
besar. Pelaku membuat tugas tidak
jelas. Pelaku menghilangkan
pengukuran kontribusi individu.
Korban mengurangi usaha.
Proyek gagal.
Mengapa Social Loafing
Encouragement Begitu Efektif?
Manusia cenderung menghemat
tenaga. Jika ada kesempatan untuk
mengendur, ia mengendur.
Apalagi jika tidak ada yang melihat,
atau jika kontribusinya tidak diukur.
Pelaku cukup membuat kelompok
besar, atau tugas yang tidak jelas
pembagiannya. Lalu pelaku diam.
Lama-kelamaan, yang rajin akan
capek sendiri. Yang malas semakin
malas. Proyek berantakan.
Social Loafing Encouragement juga
memanfaatkan difusi tanggung
jawab. Ketika banyak orang hadir,
tanggung jawab tidak lagi terletak
pada satu orang. Setiap orang
merasa bahwa orang lain akan
mengerjakan. Tidak ada yang
merasa wajib. Pelaku memanfaatkan
ini. Pelaku menciptakan kelompok
yang besar. Korban merasa bukan
tanggung jawabnya.
Selain itu, Social Loafing
Encouragement memanfaatkan
ketidakjelasan pengukuran.
Ketika kontribusi individu tidak
diukur, orang merasa usahanya tidak
akan dihargai. Ia merasa bahwa
bekerja keras atau santai tidak akan
berbeda hasilnya.
Pelaku memanfaatkan ini. Pelaku
tidak membagi tugas. Pelaku tidak
mencatat kontribusi. Korban
mengurangi usaha.
Tiga Fase Social Loafing
Encouragement:
Kisah Rina dan Proyek Tim
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia bekerja di sebuah perusahaan.
Fase 1: Menciptakan Kelompok
Besar
Seorang manajer bernama Doni ingin
agar proyek tertentu gagal. Ia tidak
ingin terlihat bersalah.
Ia menggunakan Social Loafing
Encouragement. Ia membentuk tim
besar untuk menangani proyek itu.
Ia memasukkan banyak orang
ke dalam tim. Ada yang kompeten.
Ada yang tidak. Ada yang rajin.
Ada yang malas.
Doni: “Proyek ini sangat penting.
Saya akan bentuk tim yang besar.
Kita akan bekerja bersama-sama.”
Rina termasuk dalam tim itu.
Ia melihat bahwa ada sepuluh orang
dalam tim. Ia merasa bahwa proyek
itu pasti akan selesai karena banyak
yang mengerjakan.
Rina: “Dengan sepuluh orang, pasti
cepat selesai.”
Fase 2: Tidak Membagi Tugas
dengan Jelas
Doni tidak membagi tugas secara
spesifik. Ia tidak menentukan siapa
mengerjakan apa. Ia hanya
memberikan gambaran umum.
Doni: “Rekan-rekan, ini proyeknya.
Tolong diselesaikan bersama-sama.
Saya percaya kalian bisa. Kalau ada
apa-apa, tanya saja.”
Rina merasa bahwa tugasnya tidak
jelas. Ia tidak tahu harus
mengerjakan bagian mana.
Ia menunggu arahan. Tetapi arahan
tidak datang.
Rina: “Saya harus mulai dari mana?”
Beberapa hari berlalu. Tidak ada
yang bergerak. Semua orang
menunggu. Semua orang merasa
bahwa ada yang lain yang akan
memulai.
Fase 3: Semua Orang
Mengurangi Usaha
Doni diam. Ia tidak mengingatkan.
Ia tidak memeriksa. Ia tidak
mengukur. Ia hanya menunggu.
Rina melihat bahwa tidak ada yang
mengerjakan. Ia merasa bahwa
bekerja keras tidak akan dihargai.
Ia merasa bahwa tanggung
jawabnya tersebar. Ia mengurangi
usaha.
Rina: “Ah, nanti juga ada yang
ngerjain. Saya santai dulu.”
Yang rajin, seperti Maya, awalnya
mencoba mengerjakan. Tetapi ia
melihat bahwa yang lain santai.
Ia merasa capek sendiri.
Ia akhirnya mengurangi usaha.
Maya: “Kenapa saya harus
capek-capek? Yang lain juga santai.”
Proyek itu berjalan lambat. Deadline
semakin dekat. Tidak ada yang
benar-benar mengerjakan.
Akhirnya, proyek itu gagal.
Doni mengumpulkan tim.
Doni: “Rekan-rekan, proyek ini gagal.
Saya kecewa. Tapi ini tanggung jawab
kita bersama. Saya tidak bisa
menyalahkan satu orang.”
Rina merasa bersalah. Tetapi ia
juga merasa bahwa bukan hanya dia
yang salah. Semua orang salah.
Doni tidak terkena dampak.
Ia menyalahkan tim. Ia tidak
mengakui bahwa ia yang
menciptakan kondisi social loafing.
Ia tidak membagi tugas. Ia tidak
mengukur. Ia tidak mengingatkan.
Social Loafing Encouragement
berhasil.
Tiga Contoh Nyata dengan
Dialog Orisinal
1. Tugas Kelompok di Sekolah
Seorang mahasiswa, Bima,
mendapatkan tugas kelompok.
Kelompoknya terdiri dari enam orang.
Dosen tidak membagi tugas secara
spesifik. Ia hanya mengatakan,
“Silakan selesaikan makalah ini
bersama-sama.”
Bima dan teman-temannya
berkumpul. Mereka berdiskusi
sebentar. Lalu mereka pulang.
Tidak ada pembagian tugas. Tidak
ada deadline per orang. Tidak ada
yang mencatat kontribusi.
Beberapa hari kemudian, Bima
bertanya di grup obrolan.
Bima: “Gimana nih?
Kita harus mulai kapan?”
Teman 1: “Santai aja. Nanti juga
ada yang ngerjain.”
Teman 2: “Iya. Yang penting nama
kita ada.”
Bima merasa tidak nyaman. Tetapi ia
juga tidak ingin mengerjakan sendiri.
Ia menunggu. Akhirnya, hanya satu
orang yang mengerjakan. Itu pun
karena ia merasa kasihan pada nilai
kelompok. Yang lain hanya
menempelkan nama. Social loafing
terjadi.
2. Proyek di Tempat Kerja
Seorang manajer, Bu Sari,
membentuk tim untuk mengerjakan
proyek besar. Tim itu terdiri dari
delapan orang. Bu Sari tidak membagi
tugas. Ia hanya memberikan
gambaran umum. Ia tidak menetapkan
deadline per orang. Ia tidak mencatat
kontribusi.
Anggota tim, Doni, awalnya
bersemangat. Ia mengerjakan
bagiannya. Tetapi ia melihat bahwa
yang lain santai. Ia merasa bahwa
usahanya tidak dihargai.
Ia akhirnya ikut santai.
Doni: “Kenapa gue harus capek?
Yang lain juga santai.”
Proyek itu berjalan lambat. Deadline
semakin dekat. Bu Sari mulai panik.
Ia memanggil tim.
Bu Sari: “Kalian ini kenapa?
Proyeknya belum selesai!”
Doni: “Kami sudah berusaha, Bu.
Tapi tugasnya tidak jelas. Kami
tidak tahu harus mengerjakan apa.”
Bu Sari: “Saya sudah bilang,
kerjakan bersama-sama!”
Doni: “Tapi kami tidak tahu bagian
masing-masing. Jadi kami bingung.”
Proyek itu gagal. Bu Sari menyalahkan
tim. Tim menyalahkan Bu Sari.
Tidak ada yang bertanggung jawab.
Social loafing terjadi.
3. Kegiatan Sosial di Lingkungan
Seorang ketua RT, Pak Doni, ingin
mengadakan acara kerja bakti.
Ia mengundang seluruh warga.
Ia tidak membagi tugas. Ia hanya
mengatakan, “Ayo kita kerja bakti
bersama-sama.”
Warga datang. Mereka melihat bahwa
tidak ada pembagian tugas. Ada yang
membawa sapu. Ada yang membawa
cangkul. Ada yang hanya menonton.
Semua orang menunggu arahan.
Arahan tidak datang.
Salah satu warga, Rina, mulai
menyapu. Ia melihat bahwa yang lain
hanya berdiri. Ia merasa capek
sendiri. Ia akhirnya berhenti.
Rina: “Kenapa gue harus capek?
Yang lain juga nggak gerak.”
Kerja bakti itu berjalan lambat. Hanya
beberapa orang yang bekerja.
Yang lain hanya mengobrol. Acara
selesai dengan hasil yang tidak
maksimal. Pak Doni kecewa. Tetapi ia
tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Ia yang tidak membagi tugas. Social
loafing terjadi.
Cara Melindungi Diri dari Social
Loafing Encouragement
Jika Anda merasa sedang berada
dalam kelompok yang tidak efektif,
ada beberapa langkah yang bisa
dilakukan.
Pertama, minta pembagian tugas
yang jelas. Ketika Anda bekerja
dalam kelompok, jangan menerima
tugas yang tidak jelas. Katakan,
“Siapa mengerjakan apa?
Kapan deadline-nya?
Bagaimana kita mengukur hasilnya?”
Pembagian tugas yang jelas
mengurangi social loafing.
Kedua, ukur kontribusi.
Jika perlu, tuliskan di grup.
Catat siapa mengerjakan apa.
Ini membuat kontribusi individu
terlihat. Ketika kontribusi terlihat,
orang akan lebih bertanggung
jawab.
Ketiga, kecilkan kelompok.
Semakin kecil kelompok, semakin
kecil social loafing. Jika Anda bisa
memilih, pilih kelompok yang
lebih kecil. Jika tidak bisa, bagi
kelompok besar menjadi
subkelompok kecil.
Keempat, jangan menjadi
orang yang mengerjakan
semuanya.
Anda berhak menuntut yang lain.
Jika Anda merasa mengerjakan
semuanya, bicarakan dengan
kelompok. Katakan, ”
Saya butuh bantuan. Kita bagi
tugasnya.”
Kelima, jadikan tugas
menantang.
Tugas yang menantang
mengurangi social loafing. Jika
tugas terasa mudah, tambahkan
tantangan. Misalnya, target lebih
tinggi, atau standar kualitas
yang lebih baik.
Keenam, berikan
penghargaan pada kontribusi.
Jika Anda pemimpin, hargai
kontribusi individu. Sebutkan nama.
Berikan apresiasi. Ini membuat
orang merasa usahanya dihargai.
Ketujuh, ingat bahwa kerja
kelompok bukan berarti
menanggung semuanya.
Anda memiliki hak untuk menuntut
pembagian yang adil. Anda tidak
wajib menjadi orang yang
menanggung beban paling berat.
Social Loafing Encouragement
adalah teknik yang memanfaatkan
kecenderungan manusia untuk
mengurangi usaha dalam kelompok.
Pelaku menciptakan kelompok
besar. Pelaku tidak membagi tugas.
Pelaku tidak mengukur kontribusi.
Korban mengurangi usaha. Proyek
gagal. Kenali polanya.
Minta pembagian tugas yang jelas.
Ukur kontribusi. Kecilkan kelompok.
Dan ingatlah bahwa kerja kelompok
adalah kerja sama. Bukan kerja
sendirian.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik terakhir dari
daftar ini. Namanya Social Loafing
Encouragement.
Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo lagi kerja kelompok.
Tugasnya harus selesai minggu depan.
Tapi lo liat temen-temen lo santai aja.
Ada yang main ponsel, ada yang
ngobrol, ada yang ngerjain hal lain.
Lo mikir, “Ya udah, gue kerjain
sendiri aja nanti.” Tapi lama-lama,
lo juga ikut santai. Bukan karena lo
males. Tapi karena lo liat yang lain
juga nggak gerak. Nah, itu yang
namanya Social Loafing.
Simpelnya, social loafing adalah
kecenderungan orang buat ngurangin
usaha kalau dia kerja dalam kelompok.
Bukan karena dia nggak mampu.
Tapi karena tanggung jawabnya
kebagi. Dia ngerasa, “Ah, kan ada yang
lain.” “Kalaupun gue nggak maksimal,
nggak akan keliatan.” “Yang penting
ada yang ngerjain.” Akibatnya,
semua orang mikir kayak gitu.
Dan hasilnya, nggak ada yang
bener-bener ngerjain. Pelaku bisa
manfaatin ini buat ngelemesin
kelompok, atau buat ngebiarin
kelompok gagal, sementara dia
cuci tangan.
Ini masih nyambung sama Bystander
Effect Exploitation dan
Deindividuation Triggers yang
barusan kita bahas. Di situ kita
ngomongin gimana kerumunan bikin
orang nggak bertindak, atau
kehilangan identitas. Nah, kalau
social loafing ini lebih ke penyebaran
tanggung jawab. Semua orang
ngerasa bukan tanggung jawab dia.
Jadi nggak ada yang ngerjain.
Kenapa ini ampuh? Karena manusia
itu cenderung ngirit tenaga. Kalau
ada kesempatan buat ngendur, dia
ngendur. Apalagi kalau nggak ada
yang ngeliat, atau kalau kontribusinya
nggak diukur. Pelaku tinggal bikin
kelompok yang gede, atau tugas
yang nggak jelas pembagiannya.
Terus dia diem aja. Lama-lama,
yang rajin bakal capek sendiri.
Yang males makin males.
Dan proyeknya berantakan.
Contoh gampangnya gini. Di kantor,
ada proyek tim. Bos nggak bagi tugas
dengan jelas. Dia cuma bilang,
“Tolong selesaikan ini
bareng-bareng.” Semua orang
ngerasa nggak ada tanggung jawab
pribadi. Akhirnya, cuma satu dua
orang yang gerak. Yang lain nunggu.
Proyeknya telat. Dan bos nggak bisa
nyalahin siapa-siapa. Itu social
loafing.
Di sekolah juga gitu. Tugas kelompok.
Semua anggota ngerasa, “Nanti juga
ada yang ngerjain.” Akhirnya, yang
rajin ngerjain semua. Yang lain cuma
numpang nama. Itu social loafing.
Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, bikin kelompok yang gede.
Jangan yang kecil. Kedua, jangan bagi
tugas yang jelas. Biarin ambigu.
Ketiga, jangan kasih deadline
per orang. Keempat, diem aja.
Jangan gerak. Kelima, yang lain
bakal ngerasa nggak ada tanggung
jawab. Dan proyeknya gagal.
Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, kalau lo kerja kelompok,
minta pembagian tugas yang jelas.
Siapa ngerjain apa, kapan
deadline-nya. Kedua, ukur
kontribusi. Kalau perlu, tulis di grup.
Biar keliatan. Ketiga, jangan biarin
tanggung jawab menyebar. Kecilin
kelompok. Keempat, jangan jadi
orang yang ngerjain semua.
Lo berhak nuntut yang lain.
Kelima, inget, kerja kelompok
bukan berarti lo harus nanggung
semuanya.
Jadi, Social Loafing
Encouragement itu ibarat lo lagi
tarik tambang. Kalau semua orang
tarik, tambangnya jalan. Tapi kalau
semua orang cuma megang tali,
nggak ada yang tarik, tambangnya
nggak ke mana-mana. Pelaku
tinggal ngelepas tali. Lo yang
kelelahan sendiri. Dan dia duduk
manis di pinggir.
