Cryptomnesia Exploitation: Ketika Ide Orang Lain Terasa Seperti Ide Anda Sendiri
Pernahkah Anda merasa memiliki ide
yang sangat cemerlang?
Anda merasa ide itu muncul dari
dalam diri Anda. Anda merasa itu
adalah gagasan orisinal Anda. Tetapi
beberapa waktu kemudian, Anda
menyadari bahwa ide itu sebenarnya
pernah Anda dengar dari orang lain.
Anda hanya lupa sumbernya.
Karena lupa, Anda mengklaim ide itu
sebagai milik Anda sendiri.
Inilah yang disebut Cryptomnesia.
Dan teknik manipulasi yang
memanfaatkannya disebut
Cryptomnesia Exploitation.
Cryptomnesia adalah fenomena
di mana memori yang terlupakan
muncul kembali, tetapi tanpa label
sumbernya. Isi memori itu ada.
Anda mengingatnya. Tetapi Anda
tidak menyadari bahwa memori itu
bukan berasal dari diri Anda.
Dalam konteks manipulasi, pelaku
dapat menyelipkan ide, saran, atau
keinginan ke dalam kepala Anda
secara halus. Beberapa waktu
kemudian, Anda merasa bahwa ide
itu muncul dari diri Anda sendiri.
Anda merasa bahwa itu adalah
keinginan Anda. Padahal, itu adalah
tanaman yang ditanam oleh orang
lain. Karena Anda merasa itu milik
Anda, Anda akan
memperjuangkannya dengan
mati-matian.
Teknik ini berhubungan dengan
Source Confusion Creation yang
telah dibahas sebelumnya.
Pada teknik itu, Anda lupa dari mana
informasi berasal. Pada Cryptomnesia
Exploitation, Anda tidak hanya lupa
sumbernya. Anda merasa bahwa
sumbernya adalah diri Anda sendiri.
Anda salah mengklaim ide itu sebagai
milik Anda. Itulah yang membuat ide
atau keinginan itu sangat sulit untuk
dibongkar.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Orang Sering Mengklaim Ide
Orang Lain sebagai Ide Sendiri
Eksperimen Alan Brown dan
Laurie Murphy (1989):
Cryptomnesia in Dyads
Alan Brown dan Laurie Murphy dari
Southern Methodist University
melakukan eksperimen yang sangat
terkenal tentang bagaimana orang
secara tidak sadar menjiplak ide
orang lain dan mengklaimnya sebagai
ide sendiri. Penelitian ini diterbitkan
dalam jurnal Journal of Experimental
Psychology: Learning, Memory, and
Cognition. Mereka menyebut
fenomena ini sebagai cryptomnesia.
Dalam eksperimen ini, partisipan
dibagi menjadi beberapa pasangan.
Setiap pasangan diminta bergantian
menyebutkan contoh-contoh dari
berbagai kategori. Misalnya, kategori
hewan, kategori alat musik, kategori
buah, kategori negara, dan kategori
olahraga. Satu partisipan
menyebutkan satu contoh, lalu
partisipan lain menyebutkan contoh
lain. Mereka bergantian sampai tidak
ada lagi contoh yang bisa disebutkan.
Setelah sesi itu selesai,
partisipan diberi tugas lain yang tidak
berhubungan. Tujuannya untuk
mengalihkan perhatian mereka.
Setelah jeda, partisipan diminta
mengingat kembali contoh-contoh
yang mereka sebutkan sendiri.
Mereka juga diminta mengingat
contoh-contoh yang disebutkan oleh
pasangan mereka.
Hasilnya, partisipan sering kali salah
mengklaim contoh yang disebutkan
oleh pasangan sebagai contoh yang
mereka sebutkan sendiri. Mereka lupa
bahwa contoh itu berasal dari pasangan.
Mereka merasa bahwa mereka yang
pertama kali menyebutkannya.
Tingkat kesalahan ini cukup tinggi,
terutama untuk kategori yang sulit.
Dialog setelah eksperimen:
Brown: “Apakah Anda yakin contoh
ini Anda yang sebutkan?”
Partisipan: “Iya. Saya rasa saya yang
menyebutkannya.”
Brown: “Padahal dalam catatan kami,
contoh itu disebutkan oleh pasangan
Anda.”
Partisipan: “Serius? Saya tidak ingat.
Saya pikir itu ide saya.”
Brown: “Jadi Anda mengingat
contohnya, tetapi lupa dari
mana asalnya?”
Partisipan: “Iya. Saya lupa bahwa itu
dari pasangan saya.”
Brown dan Murphy menyimpulkan
bahwa cryptomnesia adalah
fenomena yang umum. Orang dapat
mengingat informasi, tetapi lupa
sumbernya. Ketika informasi itu
adalah ide, orang cenderung
mengklaimnya sebagai ide sendiri.
Dalam Cryptomnesia Exploitation,
pelaku menyelipkan ide kepada
korban. Korban mengingat ide itu.
Korban lupa bahwa ide itu berasal
dari pelaku. Korban mengklaimnya
sebagai ide sendiri.
Korban memperjuangkannya.
Pelaku tidak perlu mengakui
apa pun.
Eksperimen Richard Marsh,
Joshua Landau, dan Jason
Hicks (1997): Unconscious
Plagiarism in Idea Generation
Richard Marsh, Joshua Landau, dan
Jason Hicks dari University of Georgia
melakukan eksperimen lanjutan
tentang bagaimana orang secara
tidak sadar menjiplak ide orang lain
dalam situasi brainstorming.
Penelitian ini diterbitkan dalam
jurnal Journal of Experimental
Psychology: Applied.
Mereka menyebut fenomena ini
sebagai unconscious plagiarism.
Dalam eksperimen ini, partisipan
dibagi menjadi beberapa kelompok
kecil. Setiap kelompok diminta
melakukan sesi brainstorming
untuk menghasilkan ide-ide kreatif.
Misalnya, ide untuk memperbaiki
kualitas lingkungan kampus, ide
untuk meningkatkan pengalaman
mahasiswa baru, atau ide untuk
mengurangi sampah plastik. Setiap
partisipan diminta menyumbangkan
ide secara bergantian. Peneliti
mencatat ide siapa yang berasal
dari siapa.
Setelah sesi brainstorming selesai,
partisipan diberi tugas lain yang
tidak berhubungan. Setelah jeda,
partisipan diminta mengingat
kembali ide-ide yang muncul dalam
sesi brainstorming. Mereka diminta
menuliskan ide mana yang mereka
sumbangkan sendiri, dan ide mana
yang berasal dari anggota
kelompok lain.
Hasilnya, partisipan sering kali salah
mengklaim ide anggota kelompok lain
sebagai ide mereka sendiri. Mereka
lupa bahwa ide itu berasal dari
orang lain. Mereka merasa bahwa
mereka yang pertama kali
mengusulkannya. Semakin banyak ide
yang dihasilkan, semakin tinggi
tingkat kesalahan klaim.
Dialog setelah eksperimen:
Marsh: “Apakah ide ini Anda yang
usulkan?”
Partisipan: “Iya. Saya yakin itu ide
saya.”
Marsh: “Padahal dalam catatan kami,
ide itu diusulkan oleh anggota lain.”
Partisipan: “Saya tidak ingat.
Saya merasa itu ide saya.”
Marsh: “Apakah Anda menyadari
bahwa Anda baru saja mengklaim
ide orang lain?”
Partisipan: “Tidak. Saya benar-benar
merasa itu ide saya.”
Marsh menyimpulkan bahwa dalam
situasi kolaboratif, orang cenderung
mengklaim ide orang lain sebagai ide
sendiri. Ini terjadi karena otak tidak
menyimpan sumber ide secara
akurat. Otak hanya menyimpan isi
ide. Ketika ide itu muncul kembali,
orang merasa bahwa itu adalah ide
mereka. Dalam Cryptomnesia
Exploitation, pelaku memanfaatkan
ini. Pelaku menyelipkan ide dalam
obrolan santai. Korban mengingat
ide itu. Korban lupa sumbernya.
Korban mengklaimnya sebagai ide
sendiri. Korban memperjuangkannya.
Mengapa Cryptomnesia
Exploitation Begitu Efektif?
Manusia tidak suka diatur.
Jika Anda tahu bahwa ide itu berasal
dari orang lain, Anda bisa menolaknya.
Anda bisa memfilternya. Anda bisa
bertanya: “Apa motivasi orang ini?”
Tetapi jika Anda merasa bahwa ide itu
adalah ide Anda, Anda tidak akan
menolaknya. Anda akan
memperjuangkannya. Anda akan
merasa bahwa itu adalah bagian dari
identitas Anda. Pelaku memanfaatkan
ini. Pelaku menyelipkan ide sedikit
demi sedikit. Beberapa minggu
kemudian, Anda yang
menjalankannya. Tanpa dipaksa.
Tanpa diingatkan. Karena Anda
merasa bahwa itu adalah keinginan
Anda sendiri.
Cryptomnesia Exploitation juga
memanfaatkan keterbatasan
memori sumber. Otak manusia
menyimpan informasi dalam jaringan
asosiatif. Informasi yang sering
muncul atau yang emosional akan
tersimpan lebih kuat. Tetapi sumber
informasi sering kali tidak tersimpan
dengan baik. Ketika informasi itu
muncul kembali, otak tidak bisa
membedakan apakah itu berasal dari
diri sendiri atau dari orang lain.
Pelaku memanfaatkan celah ini.
Selain itu, Cryptomnesia Exploitation
memanfaatkan ego. Manusia ingin
merasa bahwa dirinya adalah pemilik
ide yang baik. Ketika ide yang baik
muncul di kepala, orang cenderung
mengklaimnya sebagai ide sendiri.
Pelaku tidak perlu berdebat. Pelaku
tidak perlu memaksa. Pelaku hanya
perlu menanam ide. Korban yang akan
mengklaimnya. Korban yang akan
memperjuangkannya. Pelaku tinggal
mendukung dari belakang.
Tiga Fase Cryptomnesia
Exploitation:
Kisah Rina dan Sistem Baru
Untuk memahami cara kerja teknik ini,
kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia bekerja di sebuah perusahaan.
Fase 1: Menyisipkan Ide
di Obrolan Santai
Seorang rekan kerja bernama Doni
ingin agar perusahaan mengadopsi
sistem baru. Ia tahu bahwa jika ia
yang mengusulkan, banyak orang
akan menolak karena mereka tidak
suka diatur. Doni memutuskan
untuk menggunakan Cryptomnesia
Exploitation.
Suatu hari, Doni mengobrol santai
dengan Rina di pantry.
Doni: “Rina, kamu nggak ngerasa ya,
kerjaan kita sekarang lambat banget.
Kalau ada sistem yang lebih cepat,
mungkin kita bisa pulang lebih awal.”
Rina: “Iya ya. Kadang ngerasa
capek juga.”
Doni: “Bayangin kalau semua data
langsung masuk, laporan otomatis
jadi. Nggak perlu ngetik ulang.”
Rina: “Enak juga tuh.”
Doni hanya menyebut sekali. Ia tidak
mengulanginya. Ia tidak
menyarankan secara formal. Ia hanya
menyelipkan ide. Rina mendengarnya.
Ia mengingat isinya. Ia tidak menandai
bahwa ide itu berasal dari Doni.
Fase 2: Memberi Jeda
Doni tidak mengungkit lagi. Ia tidak
menanyakan apakah Rina setuju.
Ia tidak memberikan proposal.
Ia hanya diam. Ia membiarkan ide
itu mengendap di kepala Rina.
Dua minggu berlalu. Rina sibuk
dengan pekerjaannya. Ia melupakan
obrolan di pantry. Ia tidak ingat
bahwa Doni yang pertama kali
berbicara tentang sistem baru.
Fase 3: Ide Muncul Kembali
Suatu hari, perusahaan mengadakan
rapat untuk membahas efisiensi
kerja. Rina duduk di rapat. Tiba-tiba
sebuah ide muncul di kepalanya.
Ia merasa bahwa itu adalah ide
cemerlang. Ia merasa bahwa itu
adalah ide yang muncul dari
pengalamannya sendiri.
Rina: “Pak, saya punya ide.
Bagaimana kalau kita mengadopsi
sistem baru? Semua data bisa
langsung masuk. Laporan otomatis
jadi. Kita bisa hemat waktu.”
Atasan dan rekan-rekan melihat
Rina. Mereka merasa ide itu bagus.
Doni, yang duduk di sudut ruangan,
tersenyum tipis. Ia tidak
mengklaim ide itu. Ia tidak
mengatakan bahwa ia yang
pertama kali menyebutkannya.
Ia hanya berkata:
Doni: “Wah, ide bagus tuh.
Saya setuju.”
Rina merasa bahwa idenya diterima.
Ia merasa bangga. Ia tidak ingat
bahwa ide itu berasal dari Doni.
Ia merasa bahwa itu adalah idenya
sendiri.
Fase 4: Memperjuangkan Ide
Rina mulai memperjuangkan ide itu.
Ia membuat proposal. Ia meyakinkan
tim. Ia menghadapi penolakan.
Ia berdebat dengan rekan yang ragu.
Ia merasa bahwa itu adalah
perjuangannya. Ia merasa bahwa
itu adalah bagian dari dirinya.
Doni hanya mendukung dari
belakang. Ia tidak perlu berjuang.
Ia tidak perlu meyakinkan siapa pun.
Rina yang melakukan semuanya.
Rina yang mengorbankan waktu.
Rina yang menghadapi risiko.
Dan ketika sistem itu berhasil,
Rina yang mendapatkan pujian.
Doni juga mendapatkan
keuntungan dari sistem itu.
Ia tidak perlu mengakui apa pun.
Ia tidak perlu berterima kasih.
Ia hanya tersenyum. Cryptomnesia
Exploitation berhasil.
Tiga Contoh Nyata dengan
Dialog Orisinal
1. Hubungan Pasangan
Seorang pasangan, Doni, ingin
mengajak Rina liburan ke Bali.
Ia tahu bahwa Rina akan menolak
jika ia yang mengajak secara
langsung. Rina sedang sibuk.
Rina sedang menabung. Rina tidak
suka direpotkan. Doni memutuskan
untuk menanam ide.
Doni: “Rina, tadi aku lihat foto
teman di Bali. Pantainya bagus ya.
Tenang. Cocok buat istirahat.”
Rina: “Iya ya. Bagus.”
Doni tidak mengajak. Ia hanya
menyebut. Ia tidak mengulang.
Ia tidak bertanya. Ia membiarkan
ide itu mengendap.
Sebulan kemudian, Rina tiba-tiba
berkata:
Rina: “Doni, kayaknya kita perlu
liburan. Aku pengen ke Bali.
Aku capek banget.”
Doni: “Wah, ide bagus tuh.
Kapan?”
Rina: “Aku yang atur ya.
Kamu tinggal ikut.”
Rina merasa bahwa itu adalah
keinginannya sendiri. Ia merasa
bahwa ia yang berinisiatif.
Ia yang mencari hotel. Ia yang
memesan tiket. Ia yang mengatur
jadwal. Doni hanya ikut.
Doni tidak perlu mengakui bahwa
ia yang menanam ide. Rina sudah
merasa bahwa itu adalah idenya.
Dan Rina akan memperjuangkannya.
Jika ada hambatan, Rina yang akan
menyelesaikan. Doni menikmati
hasilnya. Cryptomnesia Exploitation
berhasil.
2. Marketing dan Gaya Hidup
Sebuah perusahaan ingin menjual
produk perawatan kulit premium.
Mereka tidak bisa hanya
mengiklankan produk. Mereka perlu
menanamkan keinginan. Mereka
menggunakan Cryptomnesia
Exploitation.
Iklan itu tidak muncul sekali.
Ia muncul di banyak tempat.
Di televisi, di media sosial, di podcast,
di artikel. Iklan itu tidak
mengatakan, “Belilah produk ini.”
Iklan itu menampilkan gaya hidup.
Kulit yang bercahaya. Pagi yang
tenang. Rutinitas yang mewah.
Produk itu hanya muncul sekilas.
Seorang konsumen, Maya, melihat
iklan itu berkali-kali. Ia tidak
mengingat setiap iklan. Ia tidak
mengingat pesannya. Yang ia ingat
hanya perasaan. Perasaan bahwa ia
ingin kulit yang bercahaya.
Perasaan bahwa ia ingin rutinitas
yang tenang.
Beberapa bulan kemudian,
Maya melihat produk itu di toko.
Ia merasa bahwa ia memang ingin
membelinya. Ia merasa bahwa itu
adalah keinginannya sendiri.
Ia tidak ingat bahwa keinginan itu
ditanam oleh iklan. Ia membeli.
Ia memakai. Ia merasa bahwa itu
adalah pilihan sadarnya. Padahal,
keinginan itu adalah tanaman
orang lain. Cryptomnesia
Exploitation berhasil.
3. Politik dan Opini Publik
Seorang kandidat, Pak Doni, ingin
membentuk opini publik. Ia tidak
bisa memaksa. Ia tidak bisa
mengatur. Ia perlu membuat
orang merasa bahwa opini itu
berasal dari mereka sendiri.
Ia menggunakan Cryptomnesia
Exploitation.
Timnya menyebarkan pesan di media
sosial. Pesan itu tidak muncul dalam
bentuk seruan. Pesan itu muncul
dalam bentuk pertanyaan.
“Apa kita sudah sejahtera?”
“Apa pemimpin kita sudah benar?”
“Apa kita sudah merdeka?”
Pertanyaan itu muncul di banyak
akun. Di grup diskusi. Di kolom
komentar. Di status orang.
Seorang pemilih, Bima, membaca
pertanyaan itu. Ia tidak mengingat
siapa yang menulis. Ia tidak
mengingat dari mana asalnya.
Yang ia ingat hanya pertanyaan itu.
Ia mulai memikirkannya. Ia mulai
meragukan keadaan. Ia mulai
merasa bahwa ada yang salah.
Beberapa minggu kemudian,
Bima berbicara dengan temannya.
Ia berkata:
Bima: “Menurut gue, kita ini nggak
sejahtera. Pemimpin kita salah.
Kita harus berubah.”
Teman: “Iya ya. Gue juga ngerasa gitu.”
Bima merasa bahwa itu adalah
pendapatnya sendiri. Ia merasa bahwa
itu adalah hasil pemikirannya.
Ia tidak ingat bahwa pendapat itu
ditanam oleh pertanyaan-pertanyaan
yang ia baca. Ia mulai
memperjuangkan pendapat itu.
Ia mulai mengajak orang lain.
Ia mulai mendukung kandidat.
Padahal, pendapat itu adalah
tanaman orang lain. Cryptomnesia
Exploitation berhasil.
Cara Melindungi Diri dari
Cryptomnesia Exploitation
Jika Anda merasa bahwa ide atau
keinginan Anda mungkin berasal
dari orang lain, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, sadari bahwa ide
bisa datang dari luar.
Jangan langsung mengklaim
bahwa ide yang muncul
di kepala Anda adalah ide
orisinal Anda. Tanyakan pada
diri sendiri: “Apakah saya
pernah mendengar ini dari
seseorang? Kapan? Dari siapa?”
Kedua, catat ide dan
sumbernya. Jika Anda
mendengar ide yang menarik,
tuliskan. Catat siapa yang
mengatakannya. Catat kapan.
Catat konteksnya. Ini membantu
Anda melacak sumber ide jika ide
itu muncul kembali di kepala Anda.
Ketiga, verifikasi. Sebelum Anda
mengklaim ide itu sebagai ide Anda,
periksa kembali catatan Anda.
Apakah ide itu benar-benar berasal
dari Anda, atau Anda pernah
mendengarnya dari orang lain?
Jujurlah pada diri sendiri.
Keempat, jangan langsung
klaim. Jika Anda ragu, tanyakan
kepada orang lain. “Apakah saya
pernah menyebutkan ide ini
sebelumnya? Atau ini ide yang
pernah kita bicarakan?”
Ini membantu Anda menghindari
klaim yang salah.
Kelima, ingat bahwa tidak
semua yang ada di kepala
Anda adalah milik Anda.
Otak Anda menyerap banyak
informasi dari lingkungan. Tidak
semua informasi itu berasal dari
pemikiran Anda sendiri. Beberapa
di antaranya adalah tanaman
orang lain. Kenali perbedaannya.
Keenam, waspadai ide yang
datang tiba-tiba tanpa proses
berpikir. Jika sebuah ide muncul
begitu saja tanpa Anda merasa
pernah memikirkannya, tanyakan:
“Dari mana ide ini berasal?”
Ide yang orisinal biasanya muncul
dari proses berpikir yang panjang.
Ide yang ditanam sering kali muncul
tiba-tiba dan terasa asing.
Ketujuh, jaga jarak dari orang
yang suka menyelipkan ide.
Jika seseorang sering menyelipkan
ide atau keinginan tanpa mengakui
sumbernya, Anda boleh membatasi
interaksi. Anda boleh menolak untuk
menjadi tanah tempat orang lain
menanam. Anda berhak memiliki ide
yang benar-benar berasal dari diri
Anda sendiri.
Cryptomnesia Exploitation adalah
teknik yang memanfaatkan
kecenderungan otak untuk melupakan
sumber ide dan mengklaimnya sebagai
milik sendiri. Pelaku tidak perlu
menyerang Anda secara langsung.
Pelaku hanya perlu menyelipkan ide.
Anda mengingatnya. Anda lupa
sumbernya. Anda mengklaimnya
sebagai ide Anda.
Anda memperjuangkannya.
Kenali polanya. Catat sumber ide.
Verifikasi. Dan ingatlah bahwa tidak
semua yang ada di kepala Anda
adalah milik Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Cryptomnesia
Exploitation.
Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo ngerasa punya ide
cemerlang. Lo pikir itu asli dari lo.
Tapi beberapa waktu kemudian,
lo sadar ide itu sebenernya pernah
lo denger dari orang lain. Lo cuma
lupa sumbernya. Dan karena lupa,
lo ngerasa itu ide lo sendiri. Nah,
itu yang namanya Cryptomnesia.
Simpelnya, cryptomnesia itu
fenomena di mana memori yang
terlupakan muncul kembali, tapi
tanpa label sumbernya. Jadi isinya
ada, tapi lo nggak sadar kalau itu
bukan dari lo. Dalam konteks
manipulasi, pelaku bisa nancepin
ide, saran, atau keinginan
ke kepala lo secara halus. Terus
beberapa waktu kemudian,
lo ngerasa ide itu muncul dari
diri lo sendiri. Lo ngerasa itu
keinginan lo. Padahal itu tanaman
orang lain. Dan karena lo ngerasa
itu milik lo, lo bakal bela
mati-matian.
Ini masih nyambung banget sama
Source Confusion Creation
yang barusan kita bahas. Di situ
kita ngomongin gimana lo lupa
sumber informasi. Nah, kalau
cryptomnesia ini lebih dalam.
Bukan cuma lupa sumber. Tapi
lo ngerasa sumbernya adalah diri
lo sendiri. Jadi lo nggak cuma
salah nginget. Lo salah klaim.
Dan itu yang bikin ide atau
keinginan itu susah dibongkar.
Kenapa ini ampuh? Karena manusia
itu nggak suka diatur. Kalau lo tau
ide itu dari orang lain, lo bisa nolak.
Lo bisa ngefilter. Tapi kalau lo
ngerasa itu ide lo, lo nggak bakal
nolak. Lo malah bakal perjuangin.
Pelaku tinggal nancepin dikit-dikit.
Beberapa minggu kemudian, lo yang
jalan sendiri. Tanpa dipaksa. Tanpa
diingetin. Karena lo ngerasa itu
keinginan lo.
Contoh gampangnya gini.
Rekan kerja lo lagi ngobrol santai.
Dia bilang, “Enak ya kalau kita pake
sistem baru. Lebih cepet, lebih rapi.”
Dia cuma nyebut sekali. Lo nggak
mikir apa-apa. Dua minggu
kemudian, lo di meeting.
Tiba-tiba lo ngomong,
“Gue punya ide. Kita pake sistem
baru.” Semua orang liat lo.
Lo ngerasa itu ide lo. Padahal dari
rekan lo. Tapi lo lupa.
Itu cryptomnesia.
Di hubungan juga gitu. Pasangan lo
bilang, “Kayaknya enak kalau kita
liburan ke Bali.” Dia cuma nyebut
sekali. Lo cuekin. Tapi sebulan
kemudian, lo tiba-tiba pengen
ke Bali. Lo ngerasa itu keinginan
lo. Lo yang ngajak. Lo yang atur.
Padahal dia yang nanem. Tapi dia
nggak perlu ngaku. Dia cuma ikut
aja. Dan lo ngerasa lo yang
berjuang buat liburan itu.
Di marketing juga sering. Iklan nyebut
sebuah gaya hidup, sebuah nilai,
sebuah keinginan. Nggak sekali.
Tapi beberapa kali. Di tempat yang
beda. Terus lo lupa sumbernya.
Beberapa bulan kemudian,
lo ngerasa lo emang pengen itu.
Lo beli. Lo pake. Lo pamer. Padahal
itu keinginan yang ditanem.
Cara pakainya, bagi pelaku,
gampang.
Pertama, selipin ide di obrolan
santai. Jangan formal.
Jangan serius.
Kedua, jangan ulangin di hari yang
sama. Ketiga, kasih jeda.
Bisa beberapa hari, bisa beberapa
minggu. Keempat, pas target mulai
ngerasa itu ide dia, dukung. Bilang,
“Wah, ide bagus tuh.”
Kelima, target bakal ngerasa itu
milik dia. Dan lo nggak perlu
ngaku apa-apa.
Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau ide bisa
datang dari luar.
Kedua, catat. Kalau ada ide, tulis.
Kapan lo denger, dari siapa.
Ketiga, verifikasi. Tanya ke diri lo
sendiri, “Ini asli dari gue, atau gue
pernah denger dari orang lain?”
Keempat, jangan langsung klaim.
Mikir dulu. Kelima, inget, nggak
semua yang ada di kepala lo itu
milik lo.
Jadi, Cryptomnesia Exploitation
itu ibarat lo lagi nemu kertas di meja
lo. Ada tulisan di situ. Lo baca.
Lo pikir lo yang nulis. Padahal itu
tulisan orang lain yang ditaruh
di meja lo. Tapi karena lo nemu
sendiri, lo ngerasa itu karya lo.
Dan lo bela. Padahal pena orang lain
yang nulis.
