Psikologi

Source Confusion Creation: Ketika Anda Lupa dari Mana Informasi Berasal dan Mudah Diarahkan

Pernahkah Anda mengingat suatu
informasi, tetapi Anda lupa dari mana
Anda mendapatkannya?
Anda ingat isinya. Anda ingat bahwa
Anda pernah mendengarnya. Tetapi
Anda tidak ingat siapa yang
mengatakannya. Anda tidak ingat
apakah itu dari berita, dari teman,
dari media sosial, atau dari mimpi.
Inilah yang disebut
source
confusion
. Dan teknik manipulasi
yang memanfaatkannya disebut
Source Confusion Creation.

Source Confusion Creation adalah
teknik manipulasi di mana pelaku
menyelipkan informasi kepada
Anda tanpa menandai sumbernya
dengan jelas. Informasi itu masuk
ke kepala Anda. Anda mengingat
isinya. Tetapi Anda lupa dari mana
asalnya. Karena sumbernya hilang,
Anda tidak bisa menilai apakah
informasi itu kredibel atau tidak.
Anda menganggapnya sebagai fakta.
Pelaku memanfaatkan ini untuk
mengarahkan persepsi dan
keputusan Anda.

Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Manusia Sering
Lupa Sumber Informasi

Eksperimen Daniel Schacter,
Joan Harbluk, dan Donald
McLachlan (1984):
Source Amnesia

Daniel Schacter, Joan Harbluk, dan
Donald McLachlan dari University
of Toronto melakukan eksperimen
yang sangat terkenal tentang
bagaimana manusia dapat mengingat
informasi tetapi lupa dari mana
informasi itu berasal. Penelitian ini
diterbitkan dalam jurnal Journal of
Verbal Learning and Verbal Behavior.
Mereka menyebut fenomena ini
sebagai
source amnesia.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta membaca serangkaian
pertanyaan trivia. Beberapa
pertanyaan memiliki jawaban yang
sudah diketahui partisipan.
Beberapa pertanyaan memiliki
jawaban yang tidak diketahui
partisipan. Untuk pertanyaan yang
tidak diketahui, peneliti
memberikan jawaban yang benar.
Peneliti juga memberi tahu
partisipan bahwa jawaban itu
berasal dari peneliti, bukan dari
pengetahuan partisipan sendiri.

Setelah itu, partisipan diminta
mengingat kembali jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Mereka juga diminta mengingat
dari mana jawaban itu berasal.
Apakah jawaban itu mereka
ketahui sendiri, atau apakah
jawaban itu diberikan oleh peneliti.

Hasilnya, partisipan sering kali
mengingat jawaban yang benar,
tetapi lupa bahwa jawaban itu
diberikan oleh peneliti. Mereka
mengira bahwa jawaban itu adalah
pengetahuan mereka sendiri.
Mereka merasa bahwa mereka sudah
tahu jawaban itu sejak dulu. Padahal,
mereka baru tahu dari peneliti
beberapa menit sebelumnya.

Dialog setelah eksperimen:

Schacter: “Apakah Anda tahu jawaban
dari pertanyaan ini sebelumnya?”

Partisipan: “Iya. Saya rasa saya
sudah tahu.”

Schacter: “Apakah Anda yakin?
Jawaban itu saya yang berikan tadi.”

Partisipan: “Serius? Saya tidak ingat.
Saya pikir saya tahu sendiri.”

Schacter: “Jadi Anda mengingat
jawabannya, tetapi lupa dari
mana asalnya?”

Partisipan: “Iya. Saya lupa bahwa
itu dari Anda.”

Schacter menyimpulkan bahwa
manusia dapat mengingat informasi
tanpa mengingat sumbernya.
Informasi itu terlepas dari
konteksnya. Orang merasa bahwa
informasi itu adalah miliknya sendiri.
Dalam Source Confusion Creation,
pelaku menyelipkan informasi kepada
korban. Korban mengingat isinya.
Korban lupa bahwa informasi itu
berasal dari pelaku. Korban
menganggapnya sebagai fakta.
Pelaku dapat mengarahkan korban
berdasarkan informasi itu.

Eksperimen Larry Jacoby,
Colleen Kelley, Jane Brown,
dan Jennifer Jasechko (1989):
Becoming Famous Overnight

Larry Jacoby, Colleen Kelley, Jane
Brown, dan Jennifer Jasechko dari
McMaster University melakukan
eksperimen tentang bagaimana
source confusion dapat membuat
orang salah mengira bahwa nama
yang tidak dikenal adalah nama
terkenal. Penelitian ini diterbitkan
dalam jurnal Journal of Personality
and Social Psychology.
Mereka menyebut fenomena ini
sebagai
false fame effect.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta membaca daftar nama.
Sebagian nama adalah nama
terkenal, seperti politisi atau
selebritas. Sebagian nama adalah
nama yang tidak dikenal, nama
fiktif yang dibuat oleh peneliti.
Setelah membaca daftar itu,
partisipan diminta melakukan
tugas lain. Kemudian, partisipan
diminta menilai nama-nama baru.
Sebagian nama baru adalah nama
terkenal. Sebagian nama baru
adalah nama yang tidak dikenal.
Sebagian nama baru adalah nama
yang sebelumnya muncul di daftar
pertama, yaitu nama fiktif.

Hasilnya, partisipan cenderung
menilai nama fiktif yang sebelumnya
muncul di daftar pertama sebagai
nama terkenal. Mereka lupa bahwa
nama itu berasal dari daftar yang
mereka baca. Mereka hanya merasa
bahwa nama itu familiar. Familiaritas
itu mereka artikan sebagai ketenaran.
Mereka mengira bahwa nama itu
adalah nama orang terkenal.

Dialog setelah eksperimen:

Jacoby: “Mengapa Anda menilai
nama ini terkenal?”

Partisipan: “Karena saya merasa
pernah mendengarnya. Namanya
familiar.”

Jacoby: “Apakah Anda ingat dari
mana Anda mendengarnya?”

Partisipan: “Tidak. Saya hanya
merasa itu nama terkenal.”

Jacoby: “Nama itu sebenarnya fiktif.
Itu muncul di daftar yang saya
berikan tadi.”

Partisipan: “Serius? Saya tidak ingat.
Saya pikir itu nama bintang film.”

Jacoby menyimpulkan bahwa
familiaritas dapat disalahartikan
sebagai kebenaran atau ketenaran.
Orang lupa dari mana familiaritas itu
berasal. Mereka hanya merasa bahwa
sesuatu itu akrab. Dan rasa akrab itu
mereka terjemahkan sebagai sesuatu
yang valid. Dalam Source Confusion
Creation, pelaku membuat informasi
menjadi familiar. Korban lupa
sumbernya. Korban menganggapnya
sebagai fakta. Pelaku mengarahkan
korban.

Eksperimen Marcia Johnson,
Shahin Hashtroudi, dan Debra
Lindsay (1993):
Source Monitoring

Marcia Johnson, Shahin Hashtroudi,
dan Debra Lindsay dari Princeton
University melakukan penelitian
tentang bagaimana manusia
memantau sumber informasi.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal
Psychological Bulletin. Mereka
mengembangkan kerangka kerja
source monitoring yang
menjelaskan bagaimana orang
membedakan antara informasi yang
berasal dari pengalaman nyata,
imajinasi, atau sumber lain.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta membayangkan berbagai
kejadian, seperti berjalan di pantai,
makan di restoran, atau bertemu
seseorang. Sebagian kejadian itu
benar-benar dialami oleh partisipan
dalam eksperimen sebelumnya.
Sebagian lainnya hanya dibayangkan.
Setelah itu, partisipan diminta
mengingat kejadian mana yang
benar-benar dialami dan mana
yang hanya dibayangkan.

Hasilnya, partisipan sering kali salah
mengira bahwa kejadian yang mereka
bayangkan benar-benar terjadi.
Mereka mengingat detail kejadian itu.
Mereka mengingat perasaan yang
menyertainya. Tetapi mereka lupa
bahwa kejadian itu hanya ada
di imajinasi mereka. Mereka
menganggapnya sebagai memori
nyata.

Dialog setelah eksperimen:

Johnson: “Apakah Anda benar-benar
mengalami kejadian ini?”

Partisipan: “Iya. Saya ingat saya
berjalan di pantai dan merasakan
pasirnya.”

Johnson: “Apakah Anda yakin?
Itu hanya kejadian yang Anda
bayangkan.”

Partisipan: “Serius? Saya pikir itu
nyata. Saya ingat detailnya.”

Johnson: “Itulah yang disebut source
confusion. Anda mengingat detailnya,
tetapi lupa bahwa itu hanya imajinasi.”

Johnson menyimpulkan bahwa
memori manusia tidak selalu akurat
dalam membedakan antara
pengalaman nyata dan imajinasi.
Ketika informasi diulang atau
dibayangkan dengan detail, informasi
itu dapat terasa nyata. Orang lupa
bahwa itu berasal dari imajinasi.
Dalam Source Confusion Creation,
pelaku membuat korban
membayangkan atau mendengar
informasi berulang kali. Korban lupa
sumbernya. Korban menganggapnya
sebagai kenyataan.

Mengapa Source Confusion
Creation Begitu Efektif?

Otak manusia sering memisahkan isi
informasi dari sumber informasi.
Ketika Anda mendengar sesuatu,
Anda menyimpan isinya.
Tetapi Anda sering lupa dari mana
informasi itu berasal. Apalagi jika
informasi itu diulang-ulang, atau jika
sumbernya tidak penting bagi Anda.
Lama-kelamaan, informasi itu terasa
seperti milik Anda sendiri.
Anda merasa bahwa Anda yang tahu.
Padahal asalnya dari luar.

Source Confusion Creation juga
memanfaatkan
familiaritas.
Sesuatu yang familiar terasa aman.
Sesuatu yang aman terasa benar.
Ketika pelaku menyelipkan informasi
berulang kali, informasi itu menjadi
familiar. Korban lupa bahwa
informasi itu berasal dari pelaku.
Korban menganggapnya sebagai
fakta yang sudah diketahui umum.

Selain itu, Source Confusion Creation
memanfaatkan
keterbatasan
perhatian
. Ketika Anda mendengar
informasi dalam obrolan santai,
Anda tidak selalu mencatat
sumbernya. Anda hanya menangkap
isinya. Pelaku memanfaatkan
kelengahan ini. Pelaku menyelipkan
informasi di saat Anda tidak waspada.
Anda mengingat isinya. Anda lupa
sumbernya. Pelaku mengarahkan
Anda.

Empat Fase Source Confusion
Creation:
Kisah Rina dan Rumor
di Kantor

Untuk memahami cara kerja
teknik ini, kita akan mengikuti
kisah Rina. Ia bekerja di sebuah
perusahaan.

Fase 1: Menyelipkan Informasi
di Obrolan Santai

Seorang rekan kerja bernama Doni
ingin membuat Rina percaya bahwa
proyek baru akan gagal. Doni tidak
ingin terlihat sebagai sumber
informasi. Ia ingin Rina percaya
bahwa informasi itu datang dari
tempat lain.

Suatu hari, Doni mengobrol santai
dengan Rina di pantry.

Doni: “Rina, kamu dengar nggak?
Katanya proyek baru itu banyak
kendala. Ada yang bilang,
anggarannya bakal dipotong.
Timnya juga belum siap.”

Rina: “Oh ya? Dari mana?”

Doni: “Nggak tau. Aku cuma dengar
aja dari orang-orang. Tapi kayaknya
serius.”

Doni tidak memberikan sumber yang
jelas. Ia hanya menyelipkan informasi.
Rina mendengarnya. Ia mengingat
isinya. Ia tidak mengingat bahwa
Doni yang mengatakannya.

Fase 2: Mengulang
di Kesempatan Berbeda

Beberapa hari kemudian, Doni
kembali mengobrol dengan Rina.
Ia menyelipkan informasi yang
sama lagi.

Doni: “Rina, kamu masih ingat soal
proyek baru? Katanya makin nggak
jelas. Ada yang bilang, kliennya
mulai ragu.”

Rina: “Iya ya. Aku juga
dengar-dengar gitu.”

Rina tidak menyadari bahwa
informasi itu berasal dari Doni.
Ia merasa bahwa informasi itu
sudah beredar di kantor.
Ia merasa bahwa itu fakta.

Fase 3: Membiarkan Sumber
Hilang

Doni tidak pernah menegaskan bahwa
ia sumber informasi. Ia hanya
menyelipkan informasi itu
di obrolan-obrolan santai. Ia tidak
pernah memberikan bukti. Ia tidak
pernah menyebut nama. Ia hanya
membuat informasi itu terasa familiar.

Rina mulai membicarakan informasi
itu dengan rekan lain. Ia berkata,
“Katanya proyek baru bakal gagal.”
Ia tidak ingat bahwa Doni yang
pertama kali mengatakan itu.
Ia merasa bahwa itu adalah
pengetahuan umum.

Fase 4: Konfirmasi dan
Pengaruh

Suatu hari, Doni melihat Rina sedang
berbicara dengan tim proyek.
Ia mendekat dan berkata:

Doni: “Iya, aku juga dengar gitu.
Kayaknya proyek ini memang
bermasalah.”

Rina merasa bahwa informasinya
dikonfirmasi. Ia semakin yakin.
Ia mulai menyebarkan informasi itu
ke lebih banyak orang. Tim proyek
menjadi panik. Moral mereka
menurun. Proyek itu benar-benar
menjadi bermasalah. Padahal,
masalah itu awalnya hanya rumor
yang diselipkan Doni. Doni berhasil
menggunakan Source Confusion
Creation. Ia tidak perlu menjadi
sumber yang terlihat. Ia hanya perlu
menyelipkan informasi. Rina yang
menyebarkannya. Rina yang
menanggung risikonya.

Tiga Contoh Nyata dengan
Dialog Orisinal

1. Gosip di Grup Keluarga

Seorang anggota keluarga, Bu Sari,
ingin membuat keluarganya percaya
bahwa sepupunya sedang mengalami
masalah keuangan. Ia tidak ingin
terlihat sebagai sumber gosip.
Ia menyelipkan informasi di grup
keluarga.

Bu Sari: “Eh, tadi aku dengar kabar
kurang enak soal si Andi. Katanya
usahanya lagi sepi. Tapi aku nggak
tau bener nggak.”

Anggota keluarga lain: “Oh ya?
Kasihan ya.”

Beberapa hari kemudian, anggota lain
membahas hal yang sama.

Anggota lain: “Iya, katanya si Andi lagi
susah. Aku juga dengar.”

Tidak ada yang ingat bahwa Bu Sari
yang pertama kali membahasnya.
Informasi itu menjadi rumor keluarga.
Andi dijauhi. Padahal, belum tentu
informasi itu benar.

2. Rumor di Media Sosial

Seorang pengguna media sosial,
Doni, ingin menyebarkan berita
palsu tentang seorang tokoh.
Ia tidak menulis status. Ia hanya
berkomentar di postingan
orang lain.

Doni: “Katanya si X lagi ada masalah
hukum. Tapi aku nggak tau detailnya.”

Beberapa orang membaca komentar
itu. Mereka mengingat isinya.
Mereka lupa bahwa itu hanya
komentar Doni.
Mereka menganggapnya sebagai
berita. Mereka menyebarkannya
di grup lain. Berita itu menjadi viral.
Padahal, sumber aslinya adalah
komentar tanpa bukti.

3. Fitnah di Lingkungan Kerja

Seorang karyawan, Bima, ingin
menjatuhkan rekannya, Rina.
Ia menyelipkan informasi
kepada atasan.

Bima: “Pak, saya dengar Rina sering
telat ngumpulin laporan. Tapi saya
nggak tau pasti.”

Atasan: “Oh ya? Nanti saya cek.”

Beberapa hari kemudian, atasan
memanggil Rina. Ia bertanya
tentang laporan yang katanya telat.
Rina terkejut. Ia tidak pernah telat.
Atasan mengatakan bahwa ia
mendengar dari beberapa orang.
Ia tidak ingat bahwa Bima yang
pertama kali mengatakan. Rina
kehilangan kepercayaan atasan.
Padahal, informasi itu tidak
terbukti.

Cara Melindungi Diri dari
Source Confusion Creation

Jika Anda merasa sedang menerima
informasi tanpa sumber yang jelas,
ada beberapa langkah yang bisa
dilakukan.

Pertama, sadari bahwa Anda
sering lupa sumber.

Ketika Anda mendengar informasi
penting, tanyakan pada diri sendiri:
“Siapa yang mengatakan ini?
Dari mana asalnya?”

Kedua, catat sumbernya.
Jika informasi itu penting, tuliskan
dari siapa Anda mendengarnya.
Catat tanggal dan konteksnya.
Ini membantu Anda melacak sumber
jika informasi itu dipertanyakan.

Ketiga, verifikasi ke sumber asli.
Jangan hanya percaya pada informasi
yang sumbernya tidak jelas.
Cek ke sumber resmi. Tanya kepada
orang yang berwenang. Jangan
menyebarkan sebelum Anda yakin.

Keempat, jangan asal menyebar.
Jika Anda tidak tahu sumbernya,
jangan mengatakan informasi itu
kepada orang lain. Informasi tanpa
sumber adalah informasi yang tidak
dapat dipertanggungjawabkan.

Kelima, waspadai informasi
yang terlalu sering muncul.

Jika informasi yang sama muncul
berulang kali dari mulut yang
berbeda, bisa jadi itu adalah
kampanye untuk membuat
informasi itu terasa familiar.
Familiaritas bukan bukti
kebenaran.

Keenam, tanyakan motif.
Jika seseorang terus menyelipkan
informasi negatif tentang orang lain,
tanyakan: “Apa motif orang ini?
Apakah dia ingin membantu, atau
ingin menjatuhkan?” Anda berhak
memilih informasi yang Anda
konsumsi.

Ketujuh, ingat bahwa informasi
tanpa sumber itu seperti uang
tanpa nominal.
Ia tidak jelas
nilainya. Ia tidak bisa diverifikasi.
Jangan biarkan informasi seperti itu
mengendalikan keputusan Anda.

Source Confusion Creation adalah
teknik yang memanfaatkan
kecenderungan otak untuk
melupakan sumber informasi.
Pelaku tidak perlu menyerang Anda
secara langsung. Pelaku hanya perlu
menyelipkan informasi.
Anda mengingat isinya. Anda lupa
sumbernya. Anda menganggapnya
sebagai fakta. Kenali polanya.
Catat sumbernya. Verifikasi.
Dan ingatlah bahwa informasi yang
tidak jelas asalnya tidak layak
dipercaya.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya
Source Confusion
Creation
.

Source Confusion Creation ini lebih
spesifik ke satu hal: lo lupa dari mana
lo dapet informasi itu. Isinya masih
di kepala lo. Tapi sumbernya ilang.
Dan itu yang bikin lo gampang
dikibulin.

Simpelnya, source confusion adalah
fenomena di mana lo inget sesuatu,
tapi lo lupa siapa yang bilang, atau
di mana lo denger. Jadi, informasi
itu lepas dari konteksnya. Lo nggak
tau lagi apakah itu dari berita, dari
temen, dari mimpi, atau dari film.
Yang lo inget cuma isinya.
Dan karena sumbernya ilang,
lo nggak bisa ngejudge apakah
informasi itu kredibel atau nggak.
Pelaku manfaatin itu.

Kenapa ini ampuh? Karena otak kita
sering misahin isi sama sumber.
Pas lo denger sesuatu, lo simpen
isinya. Tapi lo sering lupa dari mana.
Apalagi kalau informasi itu
diulang-ulang, atau kalau sumbernya
nggak penting buat lo. Lama-lama,
informasi itu ngerasa kayak milik lo
sendiri. Lo ngerasa lo yang tau.
Padahal asalnya dari luar.

Contoh gampangnya gini. Lo lagi
ngobrol sama temen. Dia cerita
gosip soal artis. Lo denger. Seminggu
kemudian, lo cerita ke orang lain.
Lo bilang, “Gue denger si A lagi cerai.”
Padahal lo nggak tau dari mana.
Bisa jadi dari temen lo. Bisa jadi dari
Instagram. Bisa jadi dari mimpi.
Tapi lo ngerasa itu fakta. Itu source
confusion.

Di dunia kerja juga gitu. Lo lagi rapat.
Ada yang bilang, “Kayaknya proyek
ini bakal telat.” Lo denger. Beberapa
hari kemudian, lo ngomong ke tim lo,
“Proyek ini bakal telat.” Lo nggak
inget siapa yang bilang. Tapi lo
ngerasa itu informasi valid.
Akhirnya tim lo panik. Padahal bisa
jadi orang yang bilang itu cuma
nebak.

Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, selipin informasi
di obrolan santai. Jangan terlalu
formal. Kedua, ulangin di kesempatan
berbeda. Ketiga, jangan tandain
sumbernya. Biarin target lupa.
Keempat, pas target mulai yakin,
konfirmasi. “Iya, gue juga denger gitu.”
Kelima, target bakal ngerasa itu fakta.
Padahal itu cuma informasi yang
sumbernya ilang.

Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo sering lupa
sumber.
Kedua, catat. Kalau denger info
penting, tulis dari siapa.
Ketiga, verifikasi. Cek ke sumber
asli.
Keempat, jangan asal nyebar.
Kalau lo nggak tau sumbernya,
jangan bilang.
Kelima, inget, informasi tanpa
sumber itu kayak uang tanpa
nominal. Nggak jelas nilainya.

Jadi, Source Confusion Creation
itu ibarat lo nemu kertas di jalan.
Isinya tulisan. Lo baca. Lo inget.
Tapi lo lupa di mana nemunya.
Dan lo lupa siapa yang nulis. Yang lo
inget cuma tulisannya. Akhirnya lo
ngerasa itu tulisan lo sendiri. Padahal
itu tulisan orang lain. Dan orang lain
itu bisa ngarahin lo ke mana aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *