filsafat

Utilitarianism: Apakah Tujuan Menghalalkan Segala Cara?

Pernahkah Anda dihadapkan pada pilihan yang sulit, di mana Anda harus mengorbankan sesuatu yang kecil untuk menyelamatkan sesuatu yang lebih besar? Mungkin Anda pernah membatalkan janji dengan seorang teman karena ada urusan keluarga yang lebih penting. Mungkin Anda pernah memilih untuk tidak jujur pada seseorang demi kebaikan banyak orang. Mungkin Anda pernah berpikir, “Yang penting hasilnya baik. Cara sedikit kotor tidak apa-apa.” Jika ya, Anda sudah menyentuh salah satu teori moral paling berpengaruh dalam sejarah. Teori itu bernama Utilitarianism. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Utilitarianism?

Utilitarianism adalah teori etika yang mengatakan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Ia adalah bentuk consequentialism, yaitu pandangan bahwa baik buruknya suatu tindakan dinilai dari akibatnya, bukan dari niat atau aturan yang melandasinya.

Inti dari Utilitarianism sederhana. Ketika Anda menghadapi pilihan, hitunglah berapa banyak kebahagiaan yang dihasilkan dan berapa banyak penderitaan yang ditimbulkan. Pilihlah tindakan yang memaksimalkan kebahagiaan dan meminimalkan penderitaan. Kebahagiaan di sini bisa berarti kesenangan, kepuasan, atau kesejahteraan. Penderitaan bisa berarti rasa sakit, kekecewaan, atau kesengsaraan.

Teori ini tidak bertanya apakah Anda berbohong atau jujur. Ia tidak bertanya apakah Anda mencuri atau tidak. Ia hanya bertanya, “Apa akibatnya?” Jika berbohong menghasilkan lebih banyak kebahagiaan daripada jujur, maka berbohong adalah tindakan yang benar. Jika mencuri menghasilkan lebih banyak kebahagiaan daripada tidak mencuri, maka mencuri adalah tindakan yang benar. Ini terdengar mengejutkan. Tetapi itulah logika Utilitarianism.

Jeremy Bentham dan Hedonic Calculus

Salah satu filsuf yang paling terkenal mengembangkan Utilitarianism adalah Jeremy Bentham. Ia hidup pada abad ke-18 dan ke-19. Ia adalah seorang filsuf Inggris, ahli hukum, dan reformis sosial. Ia percaya bahwa masyarakat harus diatur berdasarkan prinsip kebahagiaan terbesar.

Bentham mengembangkan apa yang ia sebut sebagai hedonic calculus. Ini adalah metode untuk mengukur kesenangan dan penderitaan. Ia mengusulkan tujuh faktor untuk menilai suatu tindakan.

Pertama, intensitas. Seberapa kuat kesenangan atau penderitaan itu? Kedua, durasi. Berapa lama kesenangan atau penderitaan itu berlangsung? Ketiga, kepastian. Seberapa yakin kita bahwa kesenangan atau penderitaan itu akan terjadi? Keempat, kedekatan. Seberapa dekat kesenangan atau penderitaan itu dengan kita? Kelima, fekunditas. Apakah kesenangan itu akan menghasilkan kesenangan lebih lanjut? Keenam, kemurnian. Apakah kesenangan itu bebas dari penderitaan? Ketujuh, luas. Berapa banyak orang yang terpengaruh?

Dengan hedonic calculus, Bentham berharap bisa membuat etika menjadi ilmu yang objektif. Ia ingin menghilangkan keraguan moral. Ia ingin membuat keputusan moral bisa dihitung seperti matematika.

Bentham juga terkenal dengan kalimatnya, “Alam telah menempatkan manusia di bawah kekuasaan dua tuan, yaitu rasa sakit dan kesenangan. Mereka menentukan apa yang kita lakukan.” Baginya, kesenangan adalah satu-satunya kebaikan intrinsik. Penderitaan adalah satu-satunya kejahatan intrinsik.

John Stuart Mill dan Kesenangan yang Lebih Tinggi

Bentham punya pengikut setia, termasuk John Stuart Mill. Mill adalah seorang filsuf Inggris yang hidup pada abad ke-19. Ia adalah anak dari teman Bentham, James Mill. Ia dididik secara ketat oleh ayahnya. Ia belajar bahasa Yunani pada usia tiga tahun. Ia belajar bahasa Latin pada usia delapan tahun. Ia belajar filsafat pada usia dua belas tahun. Ia mengalami krisis mental pada usia dua puluh tahun. Ia pulih setelah membaca puisi Wordsworth.

Mill menyempurnakan Utilitarianism Bentham. Ia menyadari bahwa hedonic calculus Bentham terlalu sederhana. Ia menyadari bahwa tidak semua kesenangan itu sama. Ada kesenangan yang lebih tinggi dan ada kesenangan yang lebih rendah.

Mill menulis, “Lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada babi yang puas. Lebih baik menjadi Socrates yang tidak puas daripada orang bodoh yang puas.” Baginya, kesenangan intelektual, moral, dan estetika lebih berharga daripada kesenangan fisik. Membaca buku lebih tinggi daripada makan enak. Menolong orang lebih tinggi daripada berfoya-foya. Menikmati seni lebih tinggi daripada menonton hiburan murahan.

Mill juga menekankan pentingnya kebebasan individu. Ia menulis buku berjudul “On Liberty.” Ia berargumen bahwa setiap orang harus bebas melakukan apa pun yang ia inginkan, selama tidak menyakiti orang lain. Ia percaya bahwa kebebasan adalah syarat untuk kemajuan dan kebahagiaan.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya teori filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda harus memilih antara menguntungkan satu orang atau menguntungkan banyak orang? Pernahkah Anda harus memilih antara mengecewakan satu teman atau mengecewakan seluruh kelompok? Pernahkah Anda harus memilih antara jujur dan menyakiti perasaan seseorang, atau berbohong dan menyelamatkan perasaan banyak orang?

Utilitarianism sering muncul dalam kebijakan publik. Ketika pemerintah membuat undang-undang, mereka sering mempertimbangkan dampaknya pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Ketika pemerintah membangun jalan tol, mereka mungkin harus menggusur rumah beberapa orang. Mereka melakukan itu karena jalan tol dianggap memberi manfaat bagi banyak orang.

Utilitarianism juga muncul dalam kedokteran. Ketika ada wabah penyakit, rumah sakit harus memutuskan siapa yang mendapat perawatan terlebih dahulu. Mereka mungkin memilih pasien yang memiliki peluang kesembuhan lebih besar, atau pasien yang memiliki peran penting di masyarakat. Mereka melakukan itu untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa.

Utilitarianism juga muncul dalam bisnis. Ketika perusahaan harus memutuskan apakah akan menutup pabrik atau mempertahankannya, mereka mempertimbangkan berapa banyak pekerja yang akan kehilangan pekerjaan dan berapa banyak keuntungan yang akan diperoleh. Mereka sering memilih opsi yang memberi keuntungan terbesar bagi perusahaan dan pemegang saham.

Utilitarianism juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda memilih untuk tidak membuang sampah sembarangan, Anda melakukannya karena Anda tahu bahwa sampah sembarangan merugikan banyak orang. Ketika Anda memilih untuk memakai masker saat sakit, Anda melakukannya karena Anda tidak ingin menulari orang lain. Ketika Anda memilih untuk menghemat air, Anda melakukannya karena Anda tahu bahwa air adalah sumber daya bersama.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang dokter di ruang gawat darurat memiliki satu ventilator. Ada dua pasien. Pasien pertama adalah seorang anak muda yang memiliki peluang sembuh 80 persen. Pasien kedua adalah seorang lansia yang memiliki peluang sembuh 20 persen. Dokter itu harus memilih. Ia menggunakan logika Utilitarianism. Ia memilih anak muda karena peluangnya lebih besar untuk bertahan hidup. Ia memilih untuk menyelamatkan satu nyawa dengan peluang lebih tinggi.

Seorang manajer perusahaan memiliki anggaran terbatas. Ia bisa memberikan bonus besar kepada lima karyawan terbaik, atau bonus kecil kepada semua karyawan. Ia menggunakan logika Utilitarianism. Ia memilih bonus kecil kepada semua karyawan karena lebih banyak orang yang bahagia, meskipun kebahagiaan itu lebih kecil.

Seorang guru memiliki waktu terbatas. Ia bisa memberikan perhatian khusus kepada satu siswa yang sangat berbakat, atau memberikan perhatian merata kepada semua siswa. Ia menggunakan logika Utilitarianism. Ia memilih perhatian merata karena lebih banyak siswa yang terbantu.

Seorang politisi harus memutuskan apakah akan menaikkan pajak untuk membiayai program kesehatan gratis. Ia menggunakan logika Utilitarianism. Ia menaikkan pajak karena program kesehatan gratis akan menyelamatkan banyak nyawa, meskipun beberapa orang kaya akan membayar lebih banyak.

Seorang pengguna media sosial melihat berita tentang bencana alam. Ia ingin membantu. Ia bisa menyumbang dalam jumlah besar kepada satu keluarga, atau menyumbang dalam jumlah kecil kepada banyak keluarga. Ia menggunakan logika Utilitarianism. Ia menyumbang dalam jumlah kecil kepada banyak keluarga karena lebih banyak orang yang terbantu.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Utilitarianism bukan hanya teori. Ia adalah cara berpikir yang sering kita gunakan tanpa sadar. Kita sering menghitung untung rugi. Kita sering memilih yang memberi manfaat terbesar bagi jumlah terbanyak.

Kritik terhadap Utilitarianism

Utilitarianism tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf menolak atau meragukan teori ini.

Pertama, masalah keadilan. Utilitarianism bisa membenarkan ketidakadilan jika ketidakadilan itu menguntungkan banyak orang. Misalnya, jika memperbudak satu kelompok minoritas membuat mayoritas hidup sejahtera, apakah itu dibenarkan? Utilitarianism mungkin mengatakan ya. Tetapi banyak orang merasa itu salah.

Kedua, masalah hak individu. Utilitarianism mengabaikan hak individu. Jika menghilangkan hak satu orang menghasilkan kebahagiaan lebih besar bagi banyak orang, maka itu dibenarkan. Misalnya, jika membunuh satu orang dan mengambil organnya bisa menyelamatkan lima orang, apakah itu dibenarkan? Utilitarianism mungkin mengatakan ya. Tetapi banyak orang merasa itu salah.

Ketiga, masalah pengukuran. Bagaimana kita mengukur kebahagiaan? Apakah kebahagiaan itu sama untuk semua orang? Apakah kebahagiaan orang kaya sama dengan kebahagiaan orang miskin? Apakah kebahagiaan orang sehat sama dengan kebahagiaan orang sakit? Sulit untuk mengukur kebahagiaan secara objektif.

Keempat, masalah prediksi. Kita tidak bisa memprediksi masa depan dengan pasti. Kita tidak tahu apa akibat dari tindakan kita dalam jangka panjang. Tindakan yang tampak baik dalam jangka pendek bisa buruk dalam jangka panjang. Tindakan yang tampak buruk dalam jangka pendek bisa baik dalam jangka panjang.

Kelima, masalah minoritas. Utilitarianism cenderung mengorbankan minoritas demi mayoritas. Jika 51 persen orang ingin menindas 49 persen orang, apakah itu dibenarkan? Utilitarianism mungkin mengatakan ya, karena kebahagiaan mayoritas lebih besar. Tetapi banyak orang merasa itu salah.

Keenam, masalah motivasi. Jika kita selalu menghitung untung rugi, apakah kita masih bisa mencintai dengan tulus? Apakah kita masih bisa berkorban tanpa pamrih? Apakah kita masih bisa bersahabat tanpa mengharapkan imbalan? Utilitarianism bisa membuat hidup ini terasa dingin dan transaksional.

Tanggapan terhadap Kritik

Pendukung Utilitarianism punya tanggapan. Mereka tidak selalu mengatakan bahwa teori ini sempurna. Mereka sering mengatakan bahwa teori ini adalah panduan yang berguna.

Mereka mengatakan bahwa Utilitarianism tidak harus mengorbankan keadilan. Dalam jangka panjang, ketidakadilan menciptakan ketidakstabilan. Ketidakstabilan menciptakan penderitaan. Jadi, menghormati keadilan sebenarnya menguntungkan banyak orang dalam jangka panjang.

Mereka juga mengatakan bahwa Utilitarianism tidak harus mengabaikan hak individu. Hak individu adalah alat untuk melindungi kebahagiaan. Jika hak individu dilanggar, maka kebahagiaan jangka panjang akan rusak. Jadi, menghormati hak individu sebenarnya adalah cara untuk memaksimalkan kebahagiaan.

Mereka juga mengatakan bahwa pengukuran kebahagiaan tidak harus sempurna. Kita bisa menggunakan perkiraan. Kita bisa menggunakan data. Kita bisa menggunakan penilaian. Yang penting adalah kita berusaha untuk mempertimbangkan kepentingan semua orang.

Mereka juga mengatakan bahwa Utilitarianism tidak harus mengorbankan minoritas. Dalam praktiknya, kita harus melindungi minoritas karena minoritas juga bagian dari masyarakat. Kebahagiaan mereka juga penting. Kebahagiaan mereka juga harus dihitung.

Mereka juga mengatakan bahwa Utilitarianism tidak harus dingin. Kita bisa mencintai dan berkorban karena itu memberi kita kebahagiaan. Kebahagiaan kita sendiri adalah bagian dari kebahagiaan keseluruhan. Jadi, mencintai dan berkorban bisa menjadi tindakan yang utilitarian.

Tiga Fase Menghadapi Utilitarianism

Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda percaya bahwa yang penting adalah hasil. Anda percaya bahwa tujuan menghalalkan cara. Anda tidak ragu mengorbankan sedikit untuk kebaikan banyak.

Fase kedua, Anda meragukan. Anda melihat bahwa Utilitarianism bisa membenarkan ketidakadilan. Anda melihat bahwa Utilitarianism bisa mengabaikan hak individu. Anda mulai bertanya, “Apakah ini benar? Apakah ada batas yang tidak boleh dilanggar?”

Fase ketiga, Anda mencari keseimbangan. Anda menyadari bahwa Utilitarianism berguna dalam banyak situasi. Tetapi Anda juga menyadari bahwa Utilitarianism tidak sempurna. Anda mulai menggabungkannya dengan prinsip lain. Anda mulai mempertimbangkan keadilan, hak, dan martabat manusia.

Cara Menyikapi Utilitarianism

Pertama, gunakan sebagai alat, bukan sebagai dogma. Utilitarianism adalah cara untuk berpikir. Ia bukan satu-satunya cara. Gunakan ia ketika Anda menghadapi dilema moral. Tetapi jangan gunakan ia untuk membenarkan semua hal.

Kedua, pertimbangkan jangka panjang. Ketika Anda menghitung kebahagiaan, jangan hanya melihat jangka pendek. Pikirkan akibat jangka panjang. Tindakan yang tampak menguntungkan sekarang bisa merugikan nanti.

Ketiga, hormati hak individu. Jangan korbankan individu hanya demi mayoritas. Setiap orang punya martabat. Setiap orang punya hak. Hak itu tidak boleh dilanggar hanya karena angka.

Keempat, lindungi minoritas. Minoritas juga bagian dari masyarakat. Kebahagiaan mereka juga penting. Jangan biarkan mereka ditindas hanya karena jumlah mereka lebih kecil.

Kelima, jujurlah pada diri sendiri. Ketika Anda menggunakan logika Utilitarianism, sadari bahwa Anda sedang menghitung. Jangan berpura-pura bahwa Anda tidak menghitung. Jangan berpura-pura bahwa Anda tidak punya kepentingan.

Keenam, berbelas kasihlah. Utilitarianism bisa membuat kita dingin. Jangan biarkan itu terjadi. Ingatlah bahwa di balik setiap angka ada manusia. Di balik setiap statistik ada kehidupan.

Ketujuh, libatkan orang lain. Ketika Anda membuat keputusan yang memengaruhi banyak orang, libatkan mereka. Dengarkan suara mereka. Hormati pendapat mereka. Jangan memutuskan sendiri.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak tahu segalanya. Anda tidak bisa memprediksi masa depan. Anda tidak bisa mengukur kebahagiaan dengan sempurna. Terimalah bahwa keputusan Anda mungkin salah. Terimalah bahwa Anda mungkin perlu berubah.

Penutup

Utilitarianism mengajarkan satu hal yang praktis. Ketika Anda menghadapi pilihan, pikirkan akibatnya. Pikirkan siapa yang diuntungkan. Pikirkan siapa yang dirugikan. Pilihlah yang memberi manfaat terbesar bagi jumlah terbanyak.

Ini bisa terasa membebaskan. Anda tidak perlu terikat pada aturan kaku. Anda tidak perlu terikat pada tradisi. Anda bisa fleksibel. Anda bisa menyesuaikan diri dengan situasi.

Tetapi ini juga bisa terasa menakutkan. Jika tujuan menghalalkan cara, apa yang tidak boleh dilakukan? Jika mayoritas selalu benar, apa yang terjadi pada minoritas? Jika kebahagiaan adalah satu-satunya ukuran, apa yang terjadi pada keadilan?

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah menggunakan logika Utilitarianism? Apakah Anda pernah mengorbankan sesuatu yang kecil untuk menyelamatkan sesuatu yang lebih besar? Dan jika ya, apakah Anda merasa keputusan itu benar? Atau apakah Anda masih meragukannya?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai mempertimbangkan akibat dari tindakan Anda.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Utilitarianism: Apakah Tujuan Menghalalkan Segala Cara?

Coba inget lagi. Lo lagi di situasi yang bikin lo harus milih. Dua pilihan. Dua-duanya nggak enak. Tapi lo harus milih satu.

Mungkin lo punya janji sama temen lo. Tapi di saat yang sama, ada urusan keluarga yang lebih penting. Lo batalin janji lo. Temen lo kecewa. Tapi keluarga lo selamat. Lo ngerasa bersalah. Tapi lo juga ngerasa keputusan lo bener.

Mungkin lo punya duit terakhir. Lo bisa beliin makan buat diri lo sendiri. Atau lo bisa beliin makan buat adik lo yang belum makan dari pagi. Lo pilih adik lo. Lo ngerasa lapar. Tapi lo ngerasa keputusan lo bener.

Terus muncul suara kecil di kepala lo. “Apa gue boleh ngelakuin ini? Apa salah kalo gue kecewain satu orang demi nyelametin banyak orang? Apa yang penting hasilnya, atau caranya?”

Kalo lo pernah stuck di momen kayak gini, lo udah nyentuh salah satu teori moral paling berpengaruh dalam sejarah. Namanya Utilitarianism. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat keputusan lo sehari-hari dengan mata yang beda.

Sebenernya Utilitarianism Itu Apa Sih?

Utilitarianism itu simpelnya gini: tindakan yang bener adalah tindakan yang ngasih kebahagiaan terbesar buat jumlah orang terbanyak.

Ini yang disebut consequentialism. Pandangan bahwa baik buruknya suatu tindakan dinilai dari akibatnya. Bukan dari niat. Bukan dari aturan. Bukan dari perasaan. Cuma dari hasil.

Intinya sederhana. Waktu lo ngadepin pilihan, hitunglah berapa banyak kebahagiaan yang dihasilkan. Berapa banyak penderitaan yang ditimbulkan. Pilihlah tindakan yang memaksimalkan kebahagiaan. Meminimalkan penderitaan.

Teori ini nggak nanya apakah lo bohong atau jujur. Nggak nanya apakah lo nyuri atau nggak. Dia cuma nanya. “Apa akibatnya?”

Kalo bohong ngasih lebih banyak kebahagiaan daripada jujur, maka bohong adalah tindakan yang bener. Kalo nyuri ngasih lebih banyak kebahagiaan daripada nggak nyuri, maka nyuri adalah tindakan yang bener.

Ini kedengeran ngejutin. Tapi itulah logika Utilitarianism.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma teori filsuf. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Utilitarianism nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah di posisi harus milih antara nguntungin satu orang atau nguntungin banyak orang. Lo pilih banyak orang. Lo ngecewain satu orang. Lo ngerasa bersalah. Tapi lo juga ngerasa keputusan lo bener.

Kedua, lo mungkin pernah di posisi harus milih antara jujur dan nyakitin perasaan seseorang, atau bohong dan nyelametin perasaan banyak orang. Lo pilih bohong. Lo ngerasa nggak nyaman. Tapi lo ngerasa itu yang terbaik.

Ketiga, lo mungkin pernah di posisi harus milih antara ngasih ke satu orang yang butuh banget, atau ngasih ke banyak orang yang butuh sedikit. Lo pilih banyak orang. Lo ngerasa adil. Tapi lo juga ngerasa kasian sama yang satu orang itu.

Keempat, lo mungkin pernah mikir “yang penting hasilnya baik. Cara sedikit kotor nggak apa-apa.” Itu tanda lo lagi pake logika Utilitarianism. Sadar atau nggak.

Tanda-Tanda Lo Lagi Pake Logika Utilitarianism

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngorbanin kepentingan lo sendiri demi orang banyak? Itu tanda lo lagi pake logika Utilitarianism.

  2. Lo pernah milih opsi yang nggak nyaman buat lo, tapi nguntungin banyak orang? Itu tanda lo lagi ngitung untung rugi.

  3. Lo pernah mikir “yang penting hasilnya baik”? Itu tanda lo lagi mikir consequentialism.

  4. Lo pernah ngerasa bersalah, tapi lo tetep ngerasa keputusan lo bener? Itu tanda lo lagi nimbang antara cara dan hasil.

  5. Lo pernah ngorbanin satu orang demi kelompok? Itu tanda lo lagi pake logika ini.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener pribadi. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Bentham dan Kalkulator Kebahagiaan

Salah satu filsuf yang paling terkenal ngembangin Utilitarianism adalah Jeremy Bentham. Dia hidup di abad ke-18 dan ke-19. Dia filsuf Inggris. Dia ahli hukum. Dia reformis sosial.

Bentham ngembangin apa yang dia sebut hedonic calculus. Ini metode buat ngukur kesenangan dan penderitaan. Dia usulin tujuh faktor buat nilai suatu tindakan.

Pertama, intensitas. Seberapa kuat kesenangan atau penderitaan itu?

Kedua, durasi. Berapa lama kesenangan atau penderitaan itu berlangsung?

Ketiga, kepastian. Seberapa yakin kita bahwa kesenangan atau penderitaan itu bakal terjadi?

Keempat, kedekatan. Seberapa deket kesenangan atau penderitaan itu sama kita?

Kelima, fekunditas. Apa kesenangan itu bakal ngasilin kesenangan lebih lanjut?

Keenam, kemurnian. Apa kesenangan itu bebas dari penderitaan?

Ketujuh, luas. Berapa banyak orang yang terpengaruh?

Dengan hedonic calculus, Bentham berharap bisa bikin etika jadi ilmu yang objektif. Dia pengen ngilangin keraguan moral. Dia pengen bikin keputusan moral bisa dihitung kayak matematika.

Mill dan Kesenangan yang Lebih Tinggi

Bentham punya pengikut setia. Namanya John Stuart Mill. Dia filsuf Inggris yang hidup di abad ke-19. Dia dididik secara ketat sama ayahnya. Dia belajar bahasa Yunani umur tiga tahun. Belajar bahasa Latin umur delapan tahun. Belajar filsafat umur dua belas tahun. Dia ngalamin krisis mental umur dua puluh tahun. Dia pulih setelah baca puisi Wordsworth.

Mill nyempurnain Utilitarianism Bentham. Dia nyadar bahwa hedonic calculus Bentham terlalu sederhana. Dia nyadar bahwa nggak semua kesenangan itu sama. Ada kesenangan yang lebih tinggi. Ada kesenangan yang lebih rendah.

Mill nulis, “Lebih baik jadi manusia yang nggak puas daripada babi yang puas. Lebih baik jadi Socrates yang nggak puas daripada orang bodoh yang puas.”

Buat Mill, kesenangan intelektual, moral, dan estetika lebih berharga daripada kesenangan fisik. Baca buku lebih tinggi daripada makan enak. Nolong orang lebih tinggi daripada berfoya-foya. Nikmatin seni lebih tinggi daripada nonton hiburan murahan.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di rumah sakit. Dokter di ruang gawat darurat punya satu ventilator. Ada dua pasien. Pasien pertama anak muda. Peluang sembuh 80 persen. Pasien kedua lansia. Peluang sembuh 20 persen. Dokter harus milih. Dia pake logika Utilitarianism. Dia milih anak muda. Karena peluangnya lebih gede buat bertahan hidup.

Di kantor. Manajer punya anggaran terbatas. Dia bisa ngasih bonus gede ke lima karyawan terbaik. Atau bonus kecil ke semua karyawan. Dia pake logika Utilitarianism. Dia milih bonus kecil ke semua. Karena lebih banyak orang yang bahagia. Meskipun kebahagiaan itu lebih kecil.

Di sekolah. Guru punya waktu terbatas. Dia bisa ngasih perhatian khusus ke satu siswa yang sangat berbakat. Atau ngasih perhatian merata ke semua siswa. Dia pake logika Utilitarianism. Dia milih perhatian merata. Karena lebih banyak siswa yang terbantu.

Di politik. Politisi harus mutusin apakah naikin pajak buat biayain program kesehatan gratis. Dia pake logika Utilitarianism. Dia naikin pajak. Karena program kesehatan gratis bakal nyelametin banyak nyawa. Meskipun beberapa orang kaya bakal bayar lebih banyak.

Di medsos. Lo liat berita tentang bencana alam. Lo pengen bantu. Lo bisa nyumbang jumlah gede ke satu keluarga. Atau nyumbang jumlah kecil ke banyak keluarga. Lo pake logika Utilitarianism. Lo nyumbang jumlah kecil ke banyak keluarga. Karena lebih banyak orang yang terbantu.

Fase-Fase Lo Ngadepin Utilitarianism

Fase pertama: lo ngerasa yakin.
Lo percaya bahwa yang penting adalah hasil. Lo percaya bahwa tujuan menghalalkan cara. Lo nggak ragu ngorbanin sedikit buat kebaikan banyak.

Fase kedua: lo ngeraguin.
Lo liat bahwa Utilitarianism bisa membenarkan ketidakadilan. Lo liat bahwa Utilitarianism bisa ngabaikan hak individu. Lo mulai nanya. “Apa ini bener? Apa ada batas yang nggak boleh dilanggar?”

Fase ketiga: lo nyari keseimbangan.
Lo nyadar bahwa Utilitarianism berguna dalam banyak situasi. Tapi lo juga nyadar bahwa Utilitarianism nggak sempurna. Lo mulai gabungin sama prinsip lain. Lo mulai pertimbangin keadilan. Hak. Martabat manusia.

Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?

Utilitarianism nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin teori ini.

Pertama, masalah keadilan. Utilitarianism bisa membenarkan ketidakadilan kalo ketidakadilan itu nguntungin banyak orang. Misalnya, kalo memperbudak satu kelompok minoritas bikin mayoritas hidup sejahtera, apa itu dibenarkan? Utilitarianism mungkin bilang iya. Tapi banyak orang ngerasa itu salah.

Kedua, masalah hak individu. Utilitarianism ngabaikan hak individu. Kalo ngilangin hak satu orang ngasilin kebahagiaan lebih gede buat banyak orang, maka itu dibenarkan. Misalnya, kalo bunuh satu orang dan ngambil organnya bisa nyelametin lima orang, apa itu dibenarkan? Utilitarianism mungkin bilang iya. Tapi banyak orang ngerasa itu salah.

Ketiga, masalah pengukuran. Gimana kita ngukur kebahagiaan? Apa kebahagiaan itu sama buat semua orang? Apa kebahagiaan orang kaya sama dengan kebahagiaan orang miskin? Susah ngukur kebahagiaan secara objektif.

Keempat, masalah prediksi. Kita nggak bisa memprediksi masa depan dengan pasti. Kita nggak tau apa akibat dari tindakan kita dalam jangka panjang.

Kelima, masalah minoritas. Utilitarianism cenderung ngorbanin minoritas demi mayoritas. Kalo 51 persen orang pengen nindas 49 persen orang, apa itu dibenarkan? Utilitarianism mungkin bilang iya. Tapi banyak orang ngerasa itu salah.

Keenam, masalah motivasi. Kalo kita selalu ngitung untung rugi, apa kita masih bisa mencintai dengan tulus? Apa kita masih bisa berkorban tanpa pamrih? Utilitarianism bisa bikin hidup ini berasa dingin dan transaksional.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Utilitarianism punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang teori ini sempurna. Mereka sering bilang teori ini panduan yang berguna.

Mereka bilang Utilitarianism nggak harus ngorbanin keadilan. Dalam jangka panjang, ketidakadilan nciptain ketidakstabilan. Ketidakstabilan nciptain penderitaan. Jadi, ngormatin keadilan sebenarnya nguntungin banyak orang dalam jangka panjang.

Mereka juga bilang Utilitarianism nggak harus ngabaikan hak individu. Hak individu adalah alat buat nglindungin kebahagiaan. Kalo hak individu dilanggar, maka kebahagiaan jangka panjang bakal rusak.

Mereka juga bilang pengukuran kebahagiaan nggak harus sempurna. Kita bisa pake perkiraan. Kita bisa pake data. Yang penting adalah kita berusaha buat mempertimbangkan kepentingan semua orang.

Cara Nyikapin Utilitarianism Tanpa Kehilangan Akal

1. Gunain sebagai alat, bukan dogma.
Utilitarianism adalah cara buat berpikir. Dia bukan satu-satunya cara. Gunain dia waktu lo ngadepin dilema moral. Tapi jangan gunain dia buat membenarkan semua hal.

2. Pertimbangkan jangka panjang.
Waktu lo ngitung kebahagiaan, jangan cuma liat jangka pendek. Pikirin akibat jangka panjang. Tindakan yang keliatannya nguntungin sekarang bisa ngerugiin nanti.

3. Hormati hak individu.
Jangan korbankan individu cuma demi mayoritas. Setiap orang punya martabat. Setiap orang punya hak. Hak itu nggak boleh dilanggar cuma karena angka.

4. Lindungi minoritas.
Minoritas juga bagian dari masyarakat. Kebahagiaan mereka juga penting. Jangan biarin mereka ditindas cuma karena jumlah mereka lebih kecil.

5. Jujur sama diri sendiri.
Waktu lo pake logika Utilitarianism, sadari bahwa lo lagi ngitung. Jangan pura-pura bahwa lo nggak ngitung. Jangan pura-pura bahwa lo nggak punya kepentingan.

6. Berbelas kasih.
Utilitarianism bisa bikin kita dingin. Jangan biarin itu terjadi. Ingetlah bahwa di balik setiap angka ada manusia. Di balik setiap statistik ada kehidupan.

7. Libatkan orang lain.
Waktu lo bikin keputusan yang memengaruhi banyak orang, libatkan mereka. Dengerin suara mereka. Hormati pendapat mereka. Jangan mutusin sendiri.

8. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Lo nggak bisa memprediksi masa depan. Lo nggak bisa ngukur kebahagiaan dengan sempurna. Terimalah bahwa keputusan lo mungkin salah. Terimalah bahwa lo mungkin perlu berubah.

9. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti apa yang bikin hidup ini adil. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Kegagalan

Yang paling lo takutin bukan kegagalan. Bukan kesalahan. Bukan ketidaksempurnaan.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo udah ngorbanin seseorang demi orang banyak. Kalo lo sadar lo udah ngecewain satu orang demi kelompok. Kalo lo sadar lo udah bikin keputusan yang bikin satu orang menderita demi kebahagiaan banyak orang. Dan lo harus hidup dengan keputusan itu.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa nimbang. Kalo lo sadar, lo bisa belajar. Kalo lo sadar, lo bisa lebih hati-hati. Kalo lo sadar, lo bisa lebih berbelas kasih. Kalo lo sadar, lo bisa lebih bijak.

Utilitarianism bukan tentang nolak keadilan. Dia tentang ngitung akibat. Dia tentang mempertimbangkan orang banyak. Tapi dia juga harus diimbangi dengan prinsip lain. Hak. Keadilan. Martabat.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Utilitarianism ngajarin satu hal yang praktis. Waktu lo ngadepin pilihan, pikirin akibatnya. Pikirin siapa yang diuntungin. Pikirin siapa yang dirugiin. Pilihlah yang ngasih manfaat terbesar buat jumlah terbanyak.

Ini bisa berasa membebaskan. Lo nggak perlu terikat aturan kaku. Lo nggak perlu terikat tradisi. Lo bisa fleksibel. Lo bisa nyesuaiin diri sama situasi.

Tapi ini juga bisa berasa menakutkan. Kalo tujuan menghalalkan cara, apa yang nggak boleh dilakuin? Kalo mayoritas selalu bener, apa yang terjadi pada minoritas? Kalo kebahagiaan adalah satu-satunya ukuran, apa yang terjadi pada keadilan?

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah pake logika Utilitarianism? Lo pernah ngorbanin sesuatu yang kecil buat nyelametin sesuatu yang lebih gede? Dan kalo iya, lo ngerasa keputusan itu bener? Atau lo masih ngeraguinnya?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai nimbang. Lo cuma harus mulai mikir.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai mempertimbangkan akibat dari tindakan lo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *