buku

Tawar-Menawar dengan Keras

Sahabat, kita tiba di dua bab penutup
dari buku 
Never Split the
Difference
. Chris Voss membongkar
strategi tawar-menawar keras yang
bisa langsung kamu pakai dalam
negosiasi harga, lalu menutup
dengan konsep paling misterius dan
paling berharga: menemukan Angsa
Hitam. Mari kita selami satu per satu.

Bab 9: Tawar-Menawar dengan
Keras

Chris Voss membuka bab ini dengan
satu kenyataan pahit: negosiasi pada
akhirnya sering kali bermuara pada
angka. Uang, harga, gaji, diskon.
Dan di titik inilah banyak negosiator
kehilangan pegangan. Mereka terlalu
cepat menyerah, terlalu takut
menyinggung, atau justru terlalu
agresif hingga lawan kabur.
Voss menawarkan jalan tengah yang
terstruktur dan terbukti efektif,
yang ia sebut sebagai 
Model
Ackerman
.

Model ini bukan ciptaan Voss sendiri,
melainkan diadaptasi dari dunia
negosiasi penyanderaan dan dinamai
berdasarkan seorang negosiator
senior. Model Ackerman adalah peta
langkah demi langkah untuk
menyampaikan tawaran balik yang
terkesan masuk akal, sulit ditolak,
dan membuat lawan bicara merasa
bahwa mereka telah mendapatkan
hasil maksimal. Ada empat langkah
utama yang harus diikuti secara
berurutan.

Langkah pertama: Tetapkan
target harga.
 Ini adalah angka pasti
yang ideal bagimu. Angka ini
bukanlah angka asal-asalan; ia harus
masuk akal berdasarkan riset dan
pemahamanmu tentang pasar atau
situasi. Target ini adalah tujuan
akhir yang ingin kamu capai.

Langkah kedua: Tawarkan 65%
dari target.
 Tawaran pertama harus
rendah. Jauh lebih rendah dari yang
kamu harapkan diterima. Tujuannya
bukan untuk menghina, melainkan
untuk menciptakan ruang negosiasi
yang lebar. Ketika kamu memulai
dari 65%, semua kenaikan berikutnya
akan terasa seperti konsesi besar yang
kamu berikan, padahal sebenarnya
kamu sedang bergerak menuju target
yang sudah direncanakan.

Langkah ketiga: Naikkan
bertahap.
 Setelah tawaran pertama,
kamu akan menaikkan tawaranmu
sebanyak tiga kali hingga mencapai
target. Kenaikan ini tidak boleh sama
besar. Voss memberikan rumus
persisnya: naikkan ke 85%, lalu
ke 95%, lalu ke 100% dari targetmu.
Perhatikan bahwa setiap kenaikan
semakin kecil. Ini menciptakan kesan
bahwa kamu sudah semakin
mendekati batas maksimummu,
bahwa ruangmu untuk bergerak
sudah hampir habis, dan bahwa
tawaran terakhirmu adalah angka
final yang sudah diperas
habis-habisan.

Langkah keempat: Akhiri dengan
angka non-bulat.
 Jangan pernah
menutup dengan angka bulat seperti
50.000, 100.000, atau 10.000. Angka
bulat terkesan asal-asalan dan bisa
dinegosiasikan lagi. Sebagai gantinya,
gunakan angka ganjil, spesifik, dan
tidak bulat. Voss mencontohkan
angka seperti 48.720 atau 97.350.
Angka seperti ini menciptakan ilusi
bahwa ia adalah hasil perhitungan
yang matang. Lawan bicara akan
berpikir, “Mereka pasti sudah
menghitung dengan cermat sampai
ke angka segitu. Ini pasti sudah
mentok.”

Contoh penggunaan Model
Ackerman dalam negosiasi gaji:

  • Targetmu:
    Rp20.000.000 per bulan.

  • Tawaran pertama (65%):
    “Berdasarkan perhitungan saya,
    angka yang saya ajukan adalah
    Rp13.000.000.” (Perusahaan
    akan menolak, dan itu yang
    kamu inginkan.)

  • Kenaikan pertama (85%):
    “Saya memahami keberatan
    Anda.
    Setelah mempertimbangkan
    kembali, saya bisa
    menyesuaikan ke Rp17.000.000.”

  • Kenaikan kedua (95%):
    “Saya benar-benar ingin
    bergabung dengan tim ini.
    Angka terbaik yang bisa saya
    tawarkan adalah
    Rp19.000.000.”

  • Kenaikan ketiga (100% dengan
    angka non-bulat): “Saya sudah
    berdiskusi dengan keluarga dan
    ini adalah angka final saya:
    Rp19.850.000.”

Angka final yang tidak bulat itu akan
terkesan sangat terhitung. Lawan
bicara akan sulit membantahnya
karena ia terlihat seperti hasil
kalkulasi yang presisi.

Selain Model Ackerman,
Voss melengkapi bab ini dengan satu
teknik tambahan yang sangat berguna
saat tawaranmu ditolak atau saat
lawan menekanmu untuk menaikkan
lebih tinggi lagi. Teknik ini disebut
Ancaman Sekutu. Intinya, kamu
tidak mengatakan “tidak” atas
namamu sendiri, melainkan
memindahkan tekanan kepada pihak
ketiga yang tidak hadir di ruangan.

Caranya sederhana: gunakan frasa
seperti, 
“Maaf, bos saya tidak
mengizinkan lebih dari ini,”
 atau
“Saya sudah berusaha
meyakinkan tim keuangan,
tetapi ini batas maksimum
yang mereka setujui.”
 Pihak ketiga
ini tidak perlu benar-benar ada secara
spesifik; ia adalah struktur yang kamu
gunakan untuk menolak tanpa menjadi
musuh. Dengan teknik ini, kamu dan
lawan bicara tetap bisa duduk
di pihak yang sama, bersama-sama
menghadapi “bos” atau “tim” yang
tidak bisa dinegosiasikan.

Voss menutup bab ini dengan satu
aturan emas: 
jangan pernah
langsung menerima tawaran
pertama.
 Meskipun tawaran
pertama itu sudah sangat bagus,
bahkan melebihi ekspektasimu,
jangan katakan “ya” seketika.
Jika kamu langsung menerima,
lawan bicara akan langsung menyesal.
Ia akan berpikir, “Ah, seharusnya aku
menawar lebih rendah tadi.”
Penyesalan ini bisa merusak
implementasi kesepakatan. Solusinya,
selalu beri jeda. Katakan kamu perlu
memikirkannya, atau ajukan
pertanyaan terkalibrasi sebelum
menerima. Ini membuat lawan bicara
merasa bahwa mereka telah
bernegosiasi dengan keras dan
mendapatkan hasil terbaik.

Bab 10: Temukan Angsa Hitam

Bab terakhir ini membahas konsep
yang paling dalam dan paling
misterius di seluruh buku.
Voss menyebutnya 
Black Swans atau
Angsa Hitam. Dalam dunia negosiasi,
Angsa Hitam adalah 
informasi
tersembunyi yang, sekali
diketahui, bisa mengubah
seluruh dinamika percakapan.

Ini adalah sesuatu yang tidak terlihat
di permukaan, tidak diucapkan secara
langsung, tetapi memiliki kekuatan
untuk membalikkan segalanya.
Voss menegaskan bahwa dalam setiap
negosiasi, selalu ada Angsa Hitam.
Tugas negosiator adalah
menemukannya sebelum lawan
menemukan milikmu.

Dari mana Angsa Hitam berasal?
Voss menjelaskan bahwa setiap orang
memiliki setidaknya 
tiga penggerak
yang tidak terlihat.
 Ini adalah
motivasi, ketakutan, atau keinginan
yang tidak pernah mereka ungkapkan
di meja perundingan. Bisa jadi mereka
butuh uang bukan untuk diri sendiri,
tetapi untuk biaya pengobatan anak
yang sakit. Bisa jadi mereka menolak
kesepakatan bukan karena harga,
tetapi karena mereka takut terlihat
lemah di depan atasannya.
Penggerak-penggerak ini tersembunyi
di balik argumen logis dan posisi resmi.

Untuk menemukan Angsa Hitam,
Voss membekali kita dengan empat
radar pendeteksi:

  • Sadari perbedaan antara
    ketakutan rahasia dan
    keinginan rahasia.

    Di permukaan, semua orang
    berbicara tentang apa yang
    mereka inginkan: harga lebih
    tinggi, deadline lebih panjang,
    tanggung jawab lebih besar.
    Namun di bawahnya,
    sering kali ada ketakutan yang
    lebih kuat daripada keinginan.
    Lawan bicaramu mungkin takut
    kehilangan muka,
    takut mengecewakan timnya,
    atau takut dianggap tidak
    kompeten. Ketakutan inilah
    yang sering kali menjadi kunci.
    Jika kamu bisa menemukan
    dan meredakan ketakutan itu,
    keinginan mereka akan
    menjadi lebih fleksibel.

  • Dengarkan yang tidak
    terucap.
     Kata-kata hanyalah
    sebagian kecil dari komunikasi.
    Voss mengajak kita untuk
    menajamkan pendengaran pada
    hal-hal yang tersirat: nada suara
    yang berubah di kata tertentu,
    jeda panjang sebelum menjawab
    pertanyaan spesifik, atau
    perpindahan kata ganti dari
    “saya” ke “kami”. Semua ini
    adalah kebocoran informasi.
    Seseorang mungkin berkata
    “menurut saya ini terlalu mahal”
    dengan nada datar, tetapi ia
    berkata “kami tidak bisa
    menerima ini” dengan suara
    bergetar. Getaran itu adalah
    petunjuk bahwa keputusan
    sebenarnya ada di tangan
    orang lain yang tidak hadir
    di ruangan.

  • Amati kemarahan atau
    keheningan sebagai sinyal.

    Kemarahan sering kali muncul
    bukan karena apa yang baru saja
    kamu katakan, melainkan
    karena kamu tanpa sengaja
    menyentuh sesuatu yang sangat
    sensitif. Jika lawan tiba-tiba
    marah, itu adalah Angsa Hitam
    yang muncul ke permukaan.
    Jangan balas marah. Beri label.
    “Sepertinya ada sesuatu yang
    sangat penting bagi Anda
    di sini.” Sebaliknya, keheningan
    yang panjang juga adalah sinyal.
    Ketika seseorang diam setelah
    kamu mengajukan pertanyaan,
    itu bisa berarti ia sedang
    bergulat dengan pikirannya
    sendiri. Mungkin di sanalah
    kunci jawabannya.

  • Tembus “dunia” lawan
    dengan pertanyaan yang
    digerakkan oleh label.

    Inilah teknik aktif untuk
    membuka pintu yang tertutup.
    Gunakan label untuk menyentuh
    sesuatu yang belum terungkap.
    Contoh frasa: 
    “Sepertinya ada
    sesuatu yang belum
    terungkap di sini…”
     atau
    “Sepertinya ada hal lain
    yang membuat Anda ragu,
    di luar yang sudah kita
    bicarakan.”
     Frasa ini adalah
    kail yang dilemparkan ke dalam
    air keruh. Ia tidak menuduh;
    ia membuka kemungkinan.
    Lalu diam. Biarkan keheningan
    memancing Angsa Hitam itu
    ke permukaan.

Contoh dalam negosiasi bisnis:

  • Kamu sudah bernegosiasi
    dengan calon klien selama
    berminggu-minggu. Semua poin
    teknis sudah disepakati, tetapi ia
    terus menunda penandatanganan
    kontrak tanpa alasan yang jelas.
    Di permukaan, ia berbicara
    tentang revisi kecil dan
    pertimbangan internal. Kamu
    mencurigai ada Angsa Hitam.

  • Kamu (dengan suara tenang):
    “Sepertinya ada sesuatu yang
    belum terungkap di sini.
    Sesuatu yang membuat Anda
    ragu untuk menandatangani,
    di luar revisi-revisi yang
    sudah kita bahas.”

  • Klien: (Diam selama hampir
    sepuluh detik.)
    “Sebenarnya… ini bukan
    keputusan saya sendiri. Saya
    harus meyakinkan dewan direksi,
    dan salah satu anggota dewan
    pernah punya pengalaman buruk
    dengan perusahaan sejenis.
    Saya tidak tahu bagaimana
    menghadapinya.”

  • Angsa Hitam telah ditemukan.
    Masalahnya bukan tentang
    kontrak atau revisi. Masalahnya
    adalah satu orang di dewan
    direksi yang memiliki trauma
    masa lalu. Dari sini, percakapan
    berubah: kamu dan klien bisa
    bersama-sama menyusun
    strategi untuk meyakinkan
    anggota dewan itu, bukan lagi
    berdebat tentang angka dan
    klausul.

Voss menutup buku ini dengan satu
pesan yang merangkum seluruh
perjalanan dari Bab 1 hingga Bab 10:
negosiasi adalah penggalian
informasi.
 Siapa yang paling banyak
mendengar, dialah yang menang.
Angsa Hitam adalah harta karun
terakhir yang menunggu untuk
ditemukan di setiap percakapan,
asalkan kamu bersedia mendengarkan
lebih dalam, mengamati lebih tajam,
dan bertanya dengan lebih sabar.

Sahabat, selesailah perjalanan kita
menyusuri seluruh isi buku
Never
Split the Difference
. Dari aturan
baru negosiasi yang berbasis emosi,
teknik mirroring (cermin) dan
labeling (memberi label), kekuatan
kata “tidak” dan “betul”, pertanyaan
terkalibrasi, ilusi kendali, jaminan
eksekusi, tawar-menawar model
Ackerman, hingga pencarian Angsa
Hitam. Semua alat ini bukan sekadar
teori, melainkan keterampilan yang
bisa langsung kamu bawa ke dalam
percakapan apa pun: dari meja rapat,
negosiasi gaji, hingga obrolan dengan
pasangan dan anak. Kini giliranmu
untuk mempraktikkannya.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, gaes. Ini dia bab pamungkas yang
udah lo tunggu-tunggu. Setelah lo jago
ngeredam emosi, nanya dengan cerdas,
dan bikin lawan bicara lo ngerasa jadi
bos, sekarang saatnya lo belajar jurus
pamungkas buat tawar-menawar
harga yang keras. Plus, Chris Voss
bakal ngebongkar konsep paling
misterius dan paling berharga dalam
negosiasi: cara nemuin
Angsa Hitam, informasi
tersembunyi yang bisa jungkir balikin
seluruh permainan. Siap?
Yuk, kita tuntaskan!

Bab 9: Tawar-Menawar Keras,
Jangan Sampe Lo Kalah
di Angka!

Chris Voss buka bab ini dengan
kenyataan pahit: ujung-ujungnya,
negosiasi seringkali cuma soal angka.
Harga, gaji, diskon. Dan di titik
inilah banyak negosiator pada keok.
Mereka terlalu cepet nyerah, takut
bikin tersinggung, atau malah
kebablasan agresif sampe lawan
kabur. Voss nawarin jalan tengah
yang udah teruji dan terstruktur,
namanya 
Model Ackerman.

Ini peta langkah demi langkah buat
nyampein tawaran balik yang
keliatannya masuk akal, susah ditolak,
dan bikin lawan bicara lo ngerasa
mereka udah dapet hasil paling
maksimal. Model ini punya empat
langkah yang harus lo ikutin urut:

  • Langkah 1: Tetapkan Target
    Harga Lo.
     Ini angka ideal yang
    lo pengen. Bukan ngawang, ya,
    harus masuk akal. Ini tujuan
    akhir lo.

  • Langkah 2: Tawarkan 65%
    dari Target Lo.

    Tawaran pertama lo harus
    rendah, jauh dari target.
    Tujuannya bukan buat ngejek,
    tapi buat nyiptain ruang
    negosiasi yang gede.
    Nanti setiap lo naikin,
    keliatannya kayak konsesi gede,
    padahal lo cuma lagi jalan
    ke target.

  • Langkah 3: Naikin
    Bertahap.
     Lo bakal naikin
    tawaran lo tiga kali sampe
    nyampe target. Kenaikannya
    nggak boleh sama rata.
    Rumusnya: naikin ke 85%, lalu
    ke 95%, lalu ke 100%. Perhatikan,
    setiap kenaikan makin kecil.
    Ini ngeberi kesan lo udah makin
    mepet batas maksimum, dan
    tawaran terakhir lo adalah angka
    final yang bener-bener udah
    diperes.

  • Langkah 4: Akhiri dengan
    Angka Non-Bulat.

    Jangan pernah nutup pake
    angka bulat kayak 50.000 atau
    100.000. Itu keliatan ngasal.
    Pake angka ganjil, spesifik,
    kayak 48.720 atau 97.350.
    Ini nyiptain ilusi kalau itu hasil
    perhitungan matang. Dijamin
    lawan lo bakal mikir,
    “Wah, ini pasti udah mentok.”

Contoh di negosiasi gaji:

  • Target lo: Rp20.000.000.

  • Lo (65%): “Dari itungan gue,
    gue rasa Rp13.000.000.”
    (Biar dia nolak).

  • Lo (85%): “Oke, gue ngerti.
    Gue bisa naikin
    ke Rp17.000.000.”

  • Lo (95%): “Gue beneran
    pengen di tim ini. Angka
    terbaik gue Rp19.000.000.”

  • Lo (100% non-bulat):
    “Ini udah final banget, gue
    udah ngobrol panjang.
    Rp19.850.000.”

Angka koma-koma itu ampuh
banget, gaes.

Selain itu, Voss ngenalin jurus
tambahan yang berguna banget
pas tawaran lo ditolak
mentah-mentah: 
Ancaman Sekutu.
Intinya, lo nggak nolak atas nama diri
sendiri, lo mindahin tekanannya
ke “pihak ketiga” yang nggak ada
di ruangan. Lo bilang, “Maaf, bos gue
nggak ngizinin lebih dari ini,” atau
“Tim keuangan gue udah mentok
di angka ini.” Dengan gini, lo dan
lawan bicara lo bisa duduk di pihak
yang sama, bareng-bareng “melawan”
bos lo. Lo nggak jadi musuh.

Aturan emas terakhir dari bab ini:
jangan pernah langsung terima
tawaran pertama!
 Walau udah
mantep banget, jangan bilang “oke”
saat itu juga. Kalau lo langsung
terima, dia bakal langsung nyesel,
“Anjir, harusnya gue nawar lebih
rendah tadi!” Penyesalan ini bisa
ngerusak kesepakatan. Jadi, selalu
kasih jeda. Bilang aja lo perlu mikir
dulu.

Bab 10: Temukan Angsa Hitam,
Harta Karun Tersembunyi
di Balik Kata-Kata

Bab pamungkas ini ngomongin konsep
paling dalem dan paling misterius:
Black Swans alias Angsa Hitam.
Di dunia negosiasi, Angsa Hitam
adalah informasi tersembunyi yang,
begitu lo tahu, bisa langsung ngubah
total dinamika obrolan. Ini sesuatu
yang nggak kelihatan di permukaan,
tapi kekuatannya dahsyat.
Voss nekenin, di setiap negosiasi pasti
ada Angsa Hitam. Tugas lo adalah
nemuinnya, sebelum lawan lo nemuin
Angsa Hitam lo.

Dari mana asalnya? Setiap orang
punya 
penggerak tersembunyi:
motivasi, ketakutan, atau keinginan
yang nggak pernah diungkapin
di meja. Bisa jadi dia butuh duit
bukan buat sendiri, tapi buat biaya
pengobatan anaknya. Bisa jadi dia
nolak bukan karena harga, tapi
takut dibilang lemah sama bosnya.

Buat nemuin Angsa Hitam,
Voss ngasih empat radar pendeteksi:

  1. Bedain Ketakutan Rahasia
    vs. Keinginan Rahasia.
    Di permukaan, orang
    ngomongin apa yang mereka
    MAU. Tapi di bawahnya, yang
    lebih kuat seringkali adalah apa
    yang mereka TAKUTKAN.
    Takut malu, takut gagal. Kalau
    lo bisa nemuin dan ngeredain
    ketakutan itu, kunci pun terbuka.

  2. Dengerin yang Nggak
    Terucap.
     Perhatiin nada suara
    yang berubah, jeda panjang,
    atau pergantian kata ganti dari
    “saya” ke “kami”. Itu semua
    kebocoran informasi. Getaran
    di suara itu petunjuk bahwa
    ada sesuatu yang lebih besar.

  3. Amati Kemarahan atau
    Keheningan.
     Kalau lawan
    lo tiba-tiba marah, itu artinya
    lo tanpa sengaja nyentuh
    sesuatu yang sensitif banget.
    Itu Angsa Hitam yang muncul
    ke permukaan. Jangan dilawan,
    kasih label. Sebaliknya,
    keheningan panjang juga
    sinyal kuat.

  4. Tembus “Dunia” Lawan
    dengan Pertanyaan
    Berlabel.
     Ini teknik aktifnya.
    Gunakan label buat buka pintu
    yang tertutup.
    Contoh: “Sepertinya ada
    sesuatu yang belum terungkap
    di sini…” atau “Sepertinya ada
    hal lain yang bikin Anda ragu…”
    Lalu, DIAM. Biarin keheningan
    yang mancing Angsa Hitam
    itu naik.

Contohnya: Lo udah nego sama klien
berminggu-minggu, semua poin udah
oke, tapi dia terus nunda tanda
tangan tanpa alasan jelas. Lo curiga
ada Angsa Hitam. Lo tanya,
“Sepertinya ada sesuatu yang belum
terungkap di sini. Sesuatu yang bikin
Anda ragu untuk tanda tangan…”
Dia diem lama, terus ngaku,
“Sebenernya… ini bukan keputusan
saya sendiri. Saya harus meyakinkan
dewan direksi, dan satu anggota
dewan trauma sama kasus serupa.”

Boom! Angsa Hitam ketemu.
Masalahnya bukan di kontrak, tapi
di satu orang di dewan direksi.
Dari sini, obrolan berubah total.

Voss nutup buku ini dengan pesan
yang udah jadi napasnya: negosiasi
adalah penggalian informasi. Siapa
yang paling banyak mendengar,
dialah yang menang. Angsa Hitam
adalah harta karun pamungkas
yang bisa lo temuin di setiap
percakapan, asal lo mau dengerin
lebih dalem, ngamatin lebih tajam,
dan bertanya dengan lebih sabar.

Gimana, gaes? Selesai sudah
petualangan kita. Dari teknik
cermin, ngasih label, kekuatan
“Betul”, pertanyaan terkalibrasi,
ilusi kendali, sampe nemuin Angsa
Hitam. Sekarang, semua alat udah
di tangan lo. Saatnya lo turun
ke lapangan dan praktekin! 🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *