Shadow Questioning: Teknik Pertanyaan Samar yang Membuat Lawan Bicara Berpikir Lebih Dalam dan Berbicara Lebih Banyak
Pernahkah Anda ditanya dengan
pertanyaan yang tidak langsung,
seperti “Kok bisa?” atau “Sejak kapan
kamu merasa begitu?” Pertanyaan itu
tidak menuntut jawaban singkat.
Ia membuat Anda berhenti sejenak,
merenung, lalu mulai menjelaskan
panjang lebar. Anda merasa didorong
untuk membuka hal-hal yang selama
ini hanya Anda simpan di dalam.
Tanpa sadar, Anda telah ditarik
masuk oleh Shadow Questioning.
Teknik ini adalah cara mengajukan
pertanyaan yang sengaja dibuat
samar. Anda tidak bertanya “Siapa?”
atau “Kapan?” yang bisa dijawab
singkat. Anda bertanya
“Menurutmu kenapa?” atau
“Gimana ceritanya sampai begitu?”
Pertanyaan seperti ini tidak mencari
jawaban pendek. Ia mendorong
lawan bicara untuk berpikir lebih
dalam dan membuka diri.
Shadow Questioning masih satu
rumpun dengan Conscious
Forgetting dan The Lost Word
yang baru saja dibahas. Bedanya,
Conscious Forgetting
menggunakan pura-pura lupa, dan
The Lost Word menggunakan
pura-pura mencari kata. Shadow
Questioning menggunakan
pertanyaan yang tidak jelas arahnya.
Semuanya bertujuan membuat
lawan bicara lebih terlibat dan lebih
terbuka.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Pertanyaan Terbuka dan Samar
Mendorong Pengungkapan
Lebih Banyak
Eksperimen Mishler (1986):
Research Interviewing dan
Pertanyaan Terbuka
Elliot Mishler, seorang peneliti
di bidang wawancara, melakukan
studi mendalam tentang bagaimana
jenis pertanyaan memengaruhi
jawaban. Ia menemukan bahwa
pertanyaan tertutup yang menuntut
jawaban “ya” atau “tidak”
menghasilkan jawaban yang pendek
dan terbatas. Sebaliknya, pertanyaan
terbuka yang tidak langsung
mengarah, seperti “Bagaimana kamu
memandang hal itu?” atau “Apa yang
kamu rasakan saat itu?”,
menghasilkan jawaban yang jauh
lebih panjang dan lebih kaya.
Mishler menyimpulkan bahwa
pertanyaan samar memberi ruang
kepada lawan bicara untuk
menafsirkan dan memilih sendiri
bagian mana yang ingin ia ceritakan.
Ia tidak merasa dibatasi. Ia merasa
diundang untuk berbicara. Perasaan
inilah yang membuatnya lebih
terbuka dan lebih jujur.
Shadow Questioning menggunakan
prinsip ini. Anda memberi
pertanyaan yang tidak langsung,
sehingga lawan bicara Anda merasa
bebas untuk mengeksplorasi
jawaban. Semakin bebas ia merasa,
semakin banyak yang ia ungkapkan.
Eksperimen Wubbels,
Brekelmans, dan Hooymayers
(1992): Teacher Questioning
dan Keterlibatan Siswa
Theo Wubbels dan timnya meneliti
bagaimana guru menggunakan
pertanyaan untuk meningkatkan
keterlibatan siswa. Mereka
menemukan bahwa pertanyaan yang
samar dan terbuka, seperti
“Apa pendapatmu tentang ini?”
atau “Mengapa kamu berpikir
begitu?”, mendorong siswa untuk
berpikir kritis dan berbicara lebih
banyak. Siswa tidak bisa menjawab
dengan satu kata. Mereka harus
menyusun argumen dan
menjelaskan alasan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa
pertanyaan samar memaksa otak
bekerja lebih keras. Jawaban tidak
bisa diberikan secara otomatis.
Harus ada proses berpikir. Dalam
proses berpikir itu, lawan bicara
Anda sering kali menemukan dan
mengungkapkan hal-hal yang
tadinya tersembunyi.
Mengapa Shadow Questioning
Begitu Efektif?
Manusia cenderung merasa perlu
menjelaskan ketika ditanya sesuatu
yang tidak jelas. Pertanyaan langsung
seperti “Siapa?” atau “Kapan?” bisa
dijawab singkat. Tetapi pertanyaan
seperti “Kok bisa?” atau “Gimana
rasanya?” menuntut jawaban yang
lebih panjang. Dalam jawaban
panjang itu, biasanya keluar hal-hal
yang tadinya disimpan.
Teknik ini juga bekerja karena
memberi kesan bahwa Anda peduli.
Pertanyaan samar seperti
“Ada yang kamu pendam?” atau
“Apa yang kamu rasain sekarang?”
terasa lebih hangat daripada
pertanyaan interogatif.
Lawan bicara Anda merasa diajak
untuk berbagi, bukan diperiksa.
Selain itu, pertanyaan samar
membuat Anda terlihat sebagai
pendengar yang baik. Anda tidak
memotong dengan pertanyaan
yang mengarah. Anda membiarkan
lawan bicara Anda memilih arah
ceritanya sendiri. Ini membuatnya
merasa dihargai dan lebih nyaman.
Tiga Langkah Menerapkan
Shadow Questioning:
Kisah Sari dan Temannya
yang Murung
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Sari.
Temannya, Rina, terlihat murung
saat mereka bertemu di kafe.
Langkah 1: Jangan Bertanya
Langsung
Rina duduk dengan lesu. Ia menatap
gelasnya tanpa minum.
Sari tidak langsung bertanya,
“Kamu kenapa?” Ia tahu pertanyaan
itu biasanya dijawab dengan
“Nggak apa-apa.”
Sari: “Kamu keliatan beda hari ini.”
Langkah 2: Ajukan Pertanyaan
Samar
Rina menghela napas. Ia tidak
menjawab langsung.
Sari melanjutkan dengan lembut,
“Ada yang lagi kamu pikirin?”
Rina menoleh. Ia terdiam sejenak,
lalu mulai berbicara.
Rina: “Aku ngerasa capek banget.
Bukan capek fisik, tapi capek hati.”
Langkah 3: Diam dan Biarkan
Lawan Bicara Mengisi
Sari tidak menyela. Ia hanya menatap
Rina dengan tenang.
Rina melanjutkan ceritanya tentang
tekanan di kantor dan masalah
dengan keluarganya. Tanpa Sari
harus bertanya lebih jauh, Rina
sudah membuka semua yang ia
rasakan.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Percakapan dengan Rekan
yang Terlihat Stres
Raka sedang bekerja ketika melihat
rekannya, Bima, menatap layar
dengan wajah tegang.
Raka: “Bima, kelihatan berat hari ini.”
Bima menghela napas. “Iya, banyak
banget yang harus dikerjain.”
Raka: “Biasanya kamu bisa tenang.
Ada yang beda?”
Bima terdiam, lalu mulai bercerita
tentang tekanan dari atasan dan
rasa khawatirnya terhadap target.
Raka tidak perlu bertanya detail.
Bima membuka semuanya sendiri.
2. Menggali Kebutuhan Klien
Maya sedang berbicara dengan klien,
Bu Rina, yang tampak ragu-ragu.
Maya: “Bu Rina kayaknya masih ada
yang mengganjal.”
Bu Rina tersenyum tipis. “Tidak kok.
Saya cuma lagi mikir.”
Maya: “Mikirnya ke arah mana, Bu?”
Bu Rina akhirnya mengungkapkan
kekhawatirannya tentang biaya
tambahan yang tidak terduga. Maya
mendapat informasi penting tanpa
harus menekan.
3. Mendekati Pasangan yang
Sedang Bête
Raka pulang dan mendapati istrinya,
Sari, diam di sofa.
Raka: “Kamu diem aja dari tadi.”
Sari: “Aku capek.”
Raka: “Capeknya yang gimana?”
Sari terdiam, lalu mulai bercerita
tentang rasa lelahnya mengurus
rumah dan anak. Raka pun
mengerti apa yang selama ini
tidak terucap.
Cara Melindungi Diri dari
Shadow Questioning
Jika seseorang menggunakan
pertanyaan samar untuk membuat
Anda terus berbicara, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, jangan merasa wajib
menjawab panjang. Anda boleh
menjawab singkat atau berkata,
“Belum bisa aku ceritain sekarang.”
Kedua, kendalikan arah
jawaban Anda. Jika pertanyaannya
terlalu samar, Anda bisa bertanya
balik, “Maksudmu yang bagaimana?”
Ketiga, batasi informasi yang
Anda berikan. Tidak semua hal
harus dibagikan. Pertanyaan samar
tidak mengharuskan Anda
membuka semuanya.
Keempat, gunakan diam
sebagai jawaban.
Jika pertanyaan tidak jelas, Anda
bisa diam sejenak lalu berkata,
“Aku pikir-pikir dulu.”
Shadow Questioning adalah teknik
yang memanfaatkan dorongan
manusia untuk mengisi ruang.
Dengan pertanyaan yang tidak
langsung, Anda membuat lawan
bicara berpikir dan berbicara lebih
banyak. Gunakan dengan bijak,
karena pertanyaan yang baik bisa
membuka hati, tetapi pertanyaan
yang terlalu samar bisa membuat
orang merasa diinterogasi. Bertanya
dengan lembut adalah seni, dan
dalam kelembutan itu, banyak hal
yang bisa terungkap.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Shadow Questioning.
Kalau lo masih ingat, di daftar baru
ini kita barusan bahas Conscious
Forgetting dan The Lost Word.
Dua-duanya main di area halus yang
bikin lawan bicara lo ngerasa
dilibatkan. Nah, Shadow
Questioning ini masih satu
rumpun, tapi beda.
Kalau Conscious Forgetting itu lo
pura-pura lupa, dan The Lost Word
itu lo pura-pura nyari kata, Shadow
Questioning ini lo ngajuin
pertanyaan yang samar. Pertanyaan
yang nggak langsung nunjuk
ke jawaban. Dan justru karena samar,
lawan bicara lo bakal mikir lebih
dalam dan ngomong lebih banyak.
Simpelnya, Shadow Questioning
adalah teknik bertanya yang sengaja
nggak spesifik. Lo nanya sesuatu
yang nggak langsung ngarah, kayak
“Lo yakin?” atau “Kok bisa gitu?”
atau “Menurut lo, kenapa?”
Pertanyaan kayak gini nggak nyari
jawaban singkat. Dia bikin lawan
bicara lo berhenti, mikir, terus mulai
ngejelasin. Lo nggak perlu
ngorek-ngorek. Cukup lemparkan satu
pertanyaan samar, dan dia yang buka
sendiri.
Kenapa ini ampuh? Karena manusia
itu cenderung ngerasa perlu
ngejelasin kalau ditanya sesuatu yang
nggak jelas. Pertanyaan langsung
kayak “Siapa?” atau “Kapan?”
itu gampang dijawab singkat. Tapi
pertanyaan kayak “Kok lo bisa mikir
gitu?” atau “Terus gimana rasanya?”
itu butuh jawaban yang lebih
panjang. Dan di tengah jawaban
panjang itu, biasanya keluar hal-hal
yang tadinya dia simpan.
Contoh gampangnya gini. Temen lo
bilang, “Gue udah males sama
kerjaan gue.” Lo jangan langsung
nanya, “Kenapa?” Itu terlalu biasa.
Lo coba tanya, “Kok bisa sampe
segitunya?” atau “Sejak kapan lo
ngerasa gitu?” Temen lo bakal
berhenti sebentar, lalu mulai cerita
lebih dalam. Dia bakal buka
alasan-alasan yang mungkin selama
ini cuma dia pendem. Dan lo cuma
dengerin.
Di dunia kerja, teknik ini bisa dipake
buat gali pendapat orang. Misalnya
rapat, dan ada rekan yang cuma
diem. Lo bisa lempar pertanyaan
samar, “Gimana menurut lo soal arah
proyek ini?” Dia nggak bisa jawab
singkat. Dia bakal ngomong lebih
banyak. Atau ke klien, “Apa yang
sebenernya bikin lo ragu?” Pertanyaan
ini bikin dia mikir dan ngomong jujur,
karena dia ngerasa lo peduli.
Contoh lain di hubungan personal.
Pasangan lo lagi bete.
Jangan langsung nanya, “Lo kenapa?”
yang sering dijawab “Nggak apa-apa.”
Coba ganti dengan, “Ada yang lo
pendem ya?” atau “Gimana perasaan
lo sekarang?” Pertanyaan ini lebih
ngena karena dia ngerasa lo ngajak
dia buka, bukan sekedar interogasi.
Menariknya, kalau lo inget, teknik ini
juga nyambung sama Deliberate
Misinterpretation di daftar lama.
Bedanya, kalau Deliberate
Misinterpretation itu lo sengaja salah
nangkep, Shadow Questioning ini lo
sengaja nanya nggak jelas.
Dua-duanya sama-sama bikin lawan
bicara lo ngomong lebih banyak.
Cara pakainya gampang.
Pertama, perhatiin topiknya. Jangan
langsung nanya. Dengerin dulu apa
yang dia omongin.
Kedua, pilih sudut yang samar.
Misalnya, “Kok bisa?” atau
“Gimana ceritanya?” atau
“Apa yang lo rasain soal itu?”
Ketiga, jangan buru-buru nambal
pertanyaan. Biarin dia diem dulu.
Biasanya diem itu yang bikin dia
mulai nyari jawaban.
Keempat, pas dia mulai ngejelasin,
dengerin. Jangan potong. Semakin
lo diem, semakin dia ngomong.
Tapi ingat, jangan terlalu sering
nanya samar. Nanti lo keliatan kayak
orang yang nggak paham-paham.
Pakai di momen yang pas, terutama
pas lo mau gali sesuatu.
Jadi, Shadow Questioning
itu ibarat lo melempar bola ke arah
yang agak gelap. Lawan bicara lo
nggak tau bola itu bakal jatuh
di mana. Tapi dia ngerasa harus
ngejar. Dan pas dia ngejar, dia
keluar dari tempat
persembunyiannya.
Gimana? Mulai kerasa kan dalemnya?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas Silent Permission. Ini soal
gimana lo bisa ngasih izin tanpa
ngomong. Stay tuned.
