Nonlinear Compliments: Pujian Tak Terduga yang Menusuk Lebih Dalam
Pernahkah Anda menerima pujian
yang membuat Anda terdiam sejenak,
bukan karena pujian itu berlebihan,
tetapi karena pujian itu menyentuh
sisi diri Anda yang jarang Anda
sadari? Misalnya, orang lain memuji
Anda bukan karena penampilan atau
hasil kerja yang sudah jelas, tetapi
karena cara Anda menunggu orang
selesai bicara, atau cara Anda
menyusun barang di meja.
Pujian seperti itu terasa berbeda.
Ia tidak seperti basa-basi. Ia terasa
lebih tulus dan lebih dalam.
Inilah yang disebut Nonlinear
Compliments.
Teknik ini masih berhubungan
dengan False Flattery yang pernah
dibahas sebelumnya. Bedanya,
False Flattery biasanya memuji hal
yang jelas terlihat dan sering kali
dilebih-lebihkan, seperti
“Kamu cantik banget” atau
“Kamu pintar banget”. Nonlinear
Compliments justru memuji sisi yang
tidak terduga, sisi yang jarang
diperhatikan orang. Karena tidak
terduga, pujiannya menancap lebih
dalam.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Pujian yang Tidak Terduga
Meningkatkan Rasa Suka dan
Kedekatan
Eksperimen Jones dan
Wortman (1973): Ingratiation
dan Pujian yang Tidak Terduga
Edward Jones dan Camille Wortman
melakukan penelitian tentang
ingratiation, yaitu strategi untuk
membuat orang lain menyukai kita.
Mereka menemukan bahwa pujian
yang diberikan pada hal-hal yang
tidak terduga memiliki efek yang
lebih kuat daripada pujian pada
hal-hal yang sudah jelas.
Dalam eksperimen mereka, partisipan
menerima pujian dari seorang aktor.
Separuh partisipan menerima pujian
yang umum dan mudah ditebak,
seperti “Kamu terlihat baik hari ini”.
Separuh lainnya menerima pujian
yang spesifik dan tidak terduga,
seperti “Cara kamu menjelaskan
pendapat tadi sangat terstruktur.
Jarang ada yang bisa melakukan itu.”
Hasilnya, partisipan yang menerima
pujian tidak terduga menilai
si pemberi pujian sebagai lebih tulus
dan lebih menyenangkan.
Mereka juga merasa lebih dekat secara
emosional. Jones menyimpulkan
bahwa pujian yang tidak terduga
menciptakan kesan bahwa si pemberi
benar-benar memperhatikan, bukan
sekadar mengucapkan basa-basi.
Eksperimen Fogg dan
Nass (1997): Efek Pujian
Spesifik pada Komputer
B.J. Fogg dan Clifford Nass melakukan
eksperimen yang menarik tentang
pujian dari komputer. Partisipan
diminta berinteraksi dengan program
komputer yang memberikan umpan
balik. Separuh partisipan menerima
pujian umum, seperti “Kerja bagus”.
Separuh lainnya menerima pujian
spesifik, seperti “Kamu memilih
strategi yang tepat di langkah ketiga”.
Hasilnya, partisipan yang menerima
pujian spesifik merasa lebih dihargai
dan lebih menyukai program
komputer itu. Meskipun mereka tahu
bahwa pujian itu berasal dari mesin,
pujian yang spesifik tetap terasa
lebih bermakna.
Eksperimen ini menunjukkan bahwa
otak manusia merespons pujian yang
tidak terduga dan spesifik dengan
lebih kuat. Prinsip yang sama bekerja
dalam Nonlinear Compliments:
semakin tidak terduga pujiannya,
semakin besar dampaknya.
Mengapa Nonlinear
Compliments Begitu Efektif?
Orang sudah kebal terhadap pujian
yang itu-itu saja. Jika Anda memuji
hal yang sudah sering didengar
seseorang, otaknya hanya menangkap
itu sebagai basa-basi. Tetapi jika Anda
memuji hal yang bahkan ia sendiri
tidak sadari, ia akan terkejut. Ia akan
berpikir, “Orang ini benar-benar
memperhatikan saya.” Pada saat
itulah Anda memenangkan
perhatiannya.
Selain itu, pujian yang tidak terduga
membuat orang penasaran pada
dirinya sendiri. Ia jadi menyadari
ada sisi baik yang selama ini tidak ia
hargai. Dan Anda adalah orang yang
menunjukkannya pertama kali.
Otomatis Anda menjadi orang
yang spesial di matanya.
Pujian nonlinear juga terasa lebih
tulus karena tidak mengikuti pola
umum. Ia tidak terdengar seperti
kalimat yang diucapkan kepada
semua orang. Ia terdengar seperti
pengamatan pribadi yang hanya
bisa muncul dari perhatian yang
sungguh-sungguh.
Tiga Langkah Menerapkan
Nonlinear Compliments:
Kisah Maya dan Rekan Kerjanya
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Maya.
Ia bekerja di sebuah tim yang sibuk.
Rekan kerjanya, Rian, dikenal
sebagai orang yang sangat cepat
dalam menyelesaikan pekerjaan.
Langkah 1: Amati Hal Kecil
yang Tidak Terlihat
Suatu hari, Maya dan Rian sedang
mengerjakan proyek bersama.
Maya memperhatikan bahwa Rian
selalu memeriksa ulang setiap angka
sebelum laporan dikirim. Ia tidak
terburu-buru mengirimkan hasil.
Ia memberi jeda untuk memastikan
semuanya benar.
Maya tidak langsung memuji.
Ia menyimpan pengamatan itu.
Langkah 2: Sampaikan dengan
Tenang dan Spesifik
Setelah pekerjaan selesai, Maya
berkata kepada Rian, “Rian, aku
perhatiin kamu tuh teliti banget.
Kamu selalu cek ulang angka
sebelum kirim. Itu bikin aku tenang,
karena kita nggak pernah dapat
komplain soal data.”
Rian terkejut. Biasanya orang memuji
kecepatannya. Jarang ada yang
menyadari ketelitiannya. Ia merasa
dilihat dengan cara yang berbeda.
Langkah 3: Biarkan Pujian
Itu Menempel
Maya tidak melanjutkan dengan
permintaan apa pun. Ia hanya
tersenyum dan kembali bekerja.
Rian terdiam sejenak, lalu
berkata, “Makasih. Aku nggak
nyangka ada yang notice.”
Sejak saat itu, Rian merasa lebih dekat
dengan Maya. Pujian yang tidak
terduga itu menciptakan ikatan yang
tidak bisa dihasilkan oleh pujian biasa.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Pujian untuk Teman yang
Sering Mendominasi Percakapan
Andi memiliki teman bernama Bima
yang suka mendominasi percakapan.
Suatu hari, Andi memperhatikan
bahwa Bima selalu memberi
kesempatan kepada orang yang lebih
pendiam untuk bicara setelah ia
selesai.
Andi: “Bim, aku suka caramu selalu
nanya pendapat orang yang diem.
Itu bikin suasana jadi adil.”
Bima terkejut. Biasanya orang
mengomentari sifatnya yang cerewet.
Pujian ini membuatnya merasa
dihargai untuk hal yang tidak ia
sadari.
2. Pujian untuk Pasangan
yang Sering Sibuk
Rina ingin memberikan apresiasi
kepada suaminya, Dito, yang
sering pulang larut. Suatu malam,
Rina memperhatikan bahwa Dito
selalu meletakkan sepatunya
dengan rapi di rak, meskipun lelah.
Rina: “Dito, aku perhatiin kamu selalu
rapi nyusun sepatu, walau udah capek.
Itu kecil, tapi bikin rumah terasa
teratur.”
Dito tersenyum. Pujian itu sederhana,
tetapi terasa lebih hangat daripada
“makasih sudah kerja keras”.
3. Pujian untuk Atasan yang
Tegas
Seorang karyawan, Fajar, ingin
memberikan apresiasi kepada
atasannya, Bu Sari, yang terkenal
tegas. Fajar memperhatikan bahwa
Bu Sari selalu memberikan arahan
yang jelas sebelum meminta hasil.
Fajar: “Bu, saya salut. Ibu selalu kasih
arahan yang rinci sebelum kami mulai.
Itu bikin kami nggak bingung dan bisa
kerja lebih efektif.”
Bu Sari tersenyum. Ia jarang dipuji
untuk hal itu. Pujian ini membuatnya
merasa dihargai.
Cara Melindungi Diri dari
Nonlinear Compliments
yang Manipulatif
Nonlinear Compliments bisa digunakan
dengan niat baik atau buruk.
Jika seseorang menggunakannya untuk
mengambil keuntungan, ada beberapa
hal yang bisa Anda lakukan.
Pertama, jangan biarkan pujian
yang tidak terduga membuat
Anda lengah. Nikmati pujiannya,
tetapi tetap evaluasi niat orang
tersebut. Apakah ia memuji karena
tulus atau karena ada maunya?
Perhatikan apakah setelah pujian
ada permintaan yang menyusul.
Kedua, jangan cepat merasa
berutang. Pujian bukanlah alat
tukar. Anda tidak wajib membalas
dengan melakukan sesuatu yang
tidak ingin Anda lakukan.
Ketiga, tetap kritis terhadap
tindakan, bukan hanya
kata-kata. Orang yang tulus akan
menunjukkan perhatian secara
konsisten, bukan hanya lewat
pujian sesekali.
Nonlinear Compliments mengajarkan
bahwa perhatian yang tulus adalah
hadiah yang langka. Ketika Anda
memuji sisi yang tidak terduga dari
seseorang, Anda menunjukkan
bahwa Anda benar-benar melihatnya.
Itu adalah cara yang kuat untuk
membangun koneksi. Gunakan
dengan tulus, dan Anda akan
mendapatkan kepercayaan yang tidak
bisa dibeli oleh pujian kosong.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Nonlinear Compliments.
Kalau lo masih ingat, di daftar lama kita
pernah bahas False Flattery. Itu kan
pujian palsu yang sengaja
dilebih-lebihkan buat ngeluluhin lo.
Nah, Nonlinear Compliments ini
masih berhubungan sama pujian, tapi
beda pendekatan. Kalau False Flattery
biasanya muji hal yang jelas-jelas
kelihatan, kayak “Kamu cantik banget”
atau “Kamu pinter banget”, Nonlinear
Compliments justru muji sisi yang
nggak terduga. Sisi yang jarang orang
sadari. Dan justru karena nggak
terduga, pujiannya ngena lebih dalam.
Simpelnya, Nonlinear Compliments
adalah pujian yang sengaja diarahkan
ke hal yang nggak biasa. Bukan soal
penampilan, bukan soal hasil kerja
yang udah jelas, tapi ke hal kecil yang
sering luput. Misalnya, bukan muji
“Presentasi lo keren”, tapi
“Gue suka cara lo nungguin orang
selesai ngomong dulu sebelum lo jawab.
Itu jarang banget.” Itu pujian yang
nggak linear. Nggak lurus ke hal yang
udah obvious.
Kenapa ini ampuh? Karena orang tuh
udah kebal sama pujian yang itu-itu
aja. Kalau lo muji hal yang udah
sering dia denger, otaknya cuma
nangkep itu sebagai basa-basi. Tapi
kalau lo muji hal yang bahkan dia
sendiri nggak sadar, dia bakal kaget.
Dia bakal mikir, “Wah, orang ini
bener-bener merhatiin gue.” Dan
di saat itu, lo menang perhatian dia.
Selain itu, pujian yang nggak terduga
juga bikin orang penasaran sama
dirinya sendiri. Dia jadi ngerasa ada
sisi baik yang selama ini nggak dia
hargai. Dan lo yang nunjukin sisi itu
duluan. Otomatis lo jadi orang yang
spesial di matanya.
Contoh gampangnya gini. Lo ketemu
orang yang biasanya dipuji karena
jago ngomong. Dia udah biasa denger,
“Wah, lo jago banget presentasi.”
Nah, lo coba cari hal lain. Lo bilang,
“Gue perhatiin lo tuh sabar banget
nanggepin pertanyaan yang
diulang-ulang. Nggak semua orang
bisa kayak gitu.” Dia bakal diem
sebentar. Soalnya pujian itu nggak
dia duga. Dia bakal ngerasa lo
ngeliat dia lebih dalam. Dan dia
bakal inget lo lebih lama.
Contoh lain di kantor. Ada rekan yang
selalu dipuji karena kerjaannya cepet.
Lo bilang, “Lo tuh jarang banget
panik pas dikejar deadline. Itu yang
bikin tim ngerasa tenang.” Itu pujian
ke sifat yang nggak dia sadari.
Dia bakal ngerasa dihargai. Dan dia
bakal ngerasa lo orang yang jeli.
Menariknya, teknik ini bisa juga
dipake di hubungan personal.
Misalnya ke pasangan atau temen
deket. Jangan cuma muji
“Kamu baik.” Tapi cari yang lebih
spesifik. “Gue suka cara lo ngingetin
gue makan. Itu hal kecil, tapi bikin
gue ngerasa diperhatiin.” Itu pujian
nonlinear. Efeknya lebih dalem
daripada pujian umum.
Tapi lo harus hati-hati.
Jangan sampe pujiannya justru
nyinggung. Misalnya, “Lo tuh
lumayan sabar buat orang yang
biasanya jutek.” Itu bukan pujian.
Itu sindiran. Jadi, pastikan yang
lo ucapin benar-benar tulus dan
positif.
Cara pakainya gampang.
Pertama, pas ngobrol, jangan
buru-buru muji. Perhatiin dulu lawan
bicara lo. Cari satu hal kecil yang
jarang orang notice. Bisa dari cara dia
ngomong, cara dia nunggu, cara dia
nanggepin, atau bahkan cara dia nata
barang.
Kedua, sampaikan dengan tenang dan
tulus. Jangan berlebihan. Nada lo
harus natural, bukan kayak lagi muji
supaya dapet sesuatu.
Ketiga, sebutkan spesifiknya. Jangan
cuma bilang “Lo baik.” Tapi “Lo tuh
teliti banget nyusun laporan. Sampai
titik koma aja lo cek.”
Keempat, biarin pujian itu nempel.
Nggak usah langsung ganti topik.
Biarin dia nyerna.
Jadi, Nonlinear Compliments itu
ibarat lo ngasih hadiah di hari yang
nggak spesial. Nggak ada yang
nyangka. Justru karena nggak
disangka, hadiahnya lebih berkesan.
Orang nggak akan inget pujian
keseratus soal penampilan mereka.
Tapi mereka bakal inget lo yang muji
kesabaran mereka saat orang lain
nggak ada yang sadar.
Gimana? Mulai kebayang kan bedanya
sama pujian biasa? Kalau lo mau
lanjut, berikutnya ada The
Peripheral Glimpse. Ini tentang
cara ngeliatin orang dari sudut mata
yang bisa ngungkap banyak hal.
Stay tuned.
