Menjalani Kehidupan UNSCRIPTED
Sahabat, kita tiba di bagian terakhir
dari buku UNSCRIPTED. Setelah
melalui perjalanan panjang
membongkar naskah, membangun
kerangka pikir, dan menerapkan
kerangka kewirausahaan, MJ DeMarco
menutup bukunya dengan sebuah
pengingat yang sangat penting:
kebebasan finansial bukanlah tujuan
akhir. Ia hanyalah alat. Apa yang
kamu lakukan setelah bebas, itulah
yang menentukan apakah hidupmu
benar-benar kaya atau hanya
sekadar kosong.
Bagian 4: Menjalani Kehidupan
UNSCRIPTED
DeMarco membuka bagian terakhir
ini dengan sebuah peringatan yang
serius. Ia telah melihat terlalu banyak
pengusaha yang berhasil keluar dari
Script, mencapai kebebasan finansial,
tetapi kemudian menghancurkan
hidup mereka sendiri.
Mereka menjadi kaya, lalu bercerai.
Mereka menjadi kaya, lalu jatuh sakit
karena mengabaikan kesehatan.
Mereka menjadi kaya, lalu merasa
hampa karena tidak ada lagi yang
harus dikejar. Uang, kata DeMarco,
adalah alat yang ampuh, tetapi ia
bukan tujuan. Jika kamu mencapai
kebebasan tetapi tidak memiliki
apa pun yang bermakna untuk
dijalani, kamu akan sama
menderitanya seperti ketika kamu
terjebak dalam naskah.
Pernikahan dan Hubungan adalah
salah satu pilar yang paling ditekankan
oleh DeMarco. Ia menulis dengan nada
yang sangat personal di sini, berbagi
pengalamannya sendiri tentang
bagaimana pernikahannya hampir
hancur karena obsesinya mengejar
kesuksesan. Ia memperingatkan
bahwa tidak ada gunanya membangun
kerajaan bisnis jika kamu kehilangan
orang yang paling berarti dalam
hidupmu. Pasangan yang mendukung,
yang memahami visimu, yang bersedia
berjalan bersamamu melewati
masa-masa sulit, adalah aset yang
jauh lebih berharga daripada uang
satu miliar dolar. DeMarco mendorong
para pembacanya untuk memilih
pasangan dengan hati-hati, dan setelah
menikah, untuk secara aktif merawat
hubungan itu. Kebebasan finansial
tanpa cinta adalah kebebasan yang
sunyi.
Kesehatan adalah pilar kedua yang
sering kali diabaikan oleh para
pengusaha. DeMarco mengakui
bahwa ia sendiri pernah jatuh
ke dalam jebakan ini: bekerja enam
belas jam sehari, makan makanan
cepat saji, tidak pernah berolahraga,
dan mengandalkan kopi serta
adrenalin untuk tetap berjalan.
Tubuh manusia, kata DeMarco,
adalah kendaraan yang membawamu
sepanjang perjalanan ini. Jika kamu
tidak merawatnya, ia akan mogok
di tengah jalan. Tidak ada gunanya
pensiun di usia empat puluh tahun
dengan tubuh yang sudah hancur.
DeMarco menyarankan untuk
menjadwalkan olahraga seperti kamu
menjadwalkan rapat bisnis: tidak bisa
dinegosiasikan, tidak bisa ditunda.
Spiritualitas, dalam definisi
DeMarco, tidak selalu berarti agama.
Ia mendefinisikannya secara lebih
luas: kesadaran bahwa ada sesuatu
yang lebih besar dari dirimu sendiri.
Ini bisa berupa keyakinan kepada
Tuhan, bisa juga berupa rasa syukur
kepada alam semesta, atau
keyakinan bahwa hidupmu memiliki
tujuan yang melampaui sekadar
mengumpulkan uang. Tanpa dimensi
spiritual ini, kata DeMarco,
kesuksesan akan terasa hampa.
Kamu akan mencapai puncak gunung
hanya untuk menyadari bahwa tidak
ada apa-apa di sana.
Warisan adalah pilar terakhir.
DeMarco berpendapat bahwa manusia
pada dasarnya ingin meninggalkan
sesuatu, ingin hidupnya berarti, ingin
dikenang setelah ia tiada. Warisan ini
tidak harus berupa yayasan amal
raksasa atau bangunan yang dinamai
dengan namamu. Warisan bisa berupa
anak-anak yang kamu besarkan
dengan baik, orang-orang yang kamu
bantu melalui bisnismu, atau
perubahan positif yang kamu
ciptakan di komunitasmu. Bisnis yang
kamu bangun, jika dijalankan dengan
benar, adalah salah satu bentuk
warisan. Ia bisa terus hidup, terus
memberi manfaat, dan terus
menciptakan nilai, bahkan setelah
kamu tiada.
Kesimpulan: The UNSCRIPTED
Finale
DeMarco menutup bukunya bukan
dengan rangkuman, melainkan
dengan sebuah ajakan untuk
bertindak. Ia tahu bahwa banyak
pembaca yang akan menyelesaikan
buku ini, merasa termotivasi untuk
sementara waktu, dan kemudian
kembali ke kehidupan lama mereka.
Ia menyebut ini sebagai
“efek buku motivasi”: kamu merasa
hebat saat membaca, tetapi tidak
ada yang berubah setelahnya.
DeMarco memohon kepada para
pembacanya: jangan biarkan itu
terjadi. Jangan hanya membaca.
Jangan hanya belajar. Lakukan
sesuatu. Ambil langkah pertama,
sekecil apa pun, hari ini juga. Dunia
ini penuh dengan orang-orang yang
tahu banyak hal tetapi tidak pernah
bertindak. Jangan menjadi salah
satu dari mereka.
Ia menegaskan kembali pesan
utamanya: naskah itu ada
di mana-mana. Ia nyaman.
Ia mudah. Ia diterima oleh
masyarakat. Tetapi ia tidak akan
pernah memberimu kebebasan sejati.
Jika kamu menginginkan kehidupan
yang berbeda, kamu harus berani
mengambil jalan yang berbeda.
Jalan itu tidak mudah. Jalan itu
penuh dengan kegagalan, penolakan,
dan ketidakpastian. Tetapi hanya
di jalan itulah kebebasan
menunggumu.
Contoh Penerapan Bagian 4:
Menjalani Kehidupan
UNSCRIPTED
Situasi: Dua Tahun Kemudian,
Raka Telah Mencapai
Kebebasan Finansial
Dua tahun telah berlalu sejak Raka
memulai bisnis katering sehatnya
dari dapur rumah. Banyak hal telah
berubah. Raka akhirnya
mengundurkan diri dari bank, tepat
pada hari ketika pendapatan bersih
bisnisnya mencapai dua puluh lima
juta rupiah per bulan. Ia tidak lagi
terjebak macet setiap pagi. Ia tidak
lagi harus meminta izin untuk pulang
lebih awal jika anaknya sakit.
Ia adalah bos bagi dirinya sendiri.
Bisnisnya kini berjalan tanpa
kehadirannya. Ratna, mantan ibu
rumah tangga yang dulu menjadi
mitra dapurnya, kini menjadi kepala
operasional yang mengelola dapur
komersial dengan lima belas
karyawan. Raka hanya perlu
memeriksa laporan keuangan
mingguan dan sesekali datang untuk
mencoba menu baru.
Sistem pemesanan berjalan otomatis
melalui aplikasi yang ia bangun.
Pelanggan memesan, dapur
memasak, kurir mengantar.
Uang masuk ke rekeningnya setiap
hari, bahkan saat ia tidur.
Raka telah mencapai apa yang oleh
DeMarco disebut sebagai detachment
(pelepasan). Waktunya tidak lagi
terikat pada pendapatannya. Ia bebas.
Tetapi DeMarco memperingatkan
bahwa kebebasan adalah pedang
bermata dua. Banyak orang yang
mencapai kebebasan justru tersesat.
Mereka tidak tahu apa yang harus
dilakukan dengan waktu mereka.
Mereka kehilangan tujuan.
Raka bertekad untuk tidak jatuh
ke dalam jebakan yang sama. Ia ingat
pelajaran dari Bagian 4: kehidupan
UNSCRIPTED bukan hanya tentang
uang. Ia tentang mengisi kelima
ember kekayaan secara seimbang.
Langkah Pertama: Memperbaiki
Ember Kesehatan yang Hampir
Kosong
Suatu pagi, Raka bangun dan
merasakan sesuatu yang aneh
di dadanya. Bukan sakit yang tajam,
hanya rasa tidak nyaman yang
samar. Ia mengabaikannya selama
beberapa hari, sampai istrinya,
Maya, memaksanya untuk periksa
ke dokter.
Dokter memeriksa tekanan darahnya,
menimbang berat badannya, dan
mengambil sampel darah. Hasilnya
mengejutkan. Tekanan darah Raka
tinggi, kolesterolnya di atas normal,
dan ia kelebihan berat badan dua
belas kilogram. Dokter berkata
dengan nada serius, “Pak Raka, Anda
beruntung datang sekarang.
Jika terus seperti ini, dalam lima
tahun Anda bisa terkena serangan
jantung.”
Raka terdiam. Ia telah menghabiskan
tiga tahun terakhir membangun
bisnisnya. Ia duduk di depan komputer
selama berjam-jam. Ia makan
makanan cepat saji karena tidak
punya waktu memasak. Ia berhenti
berolahraga. Ironisnya, ia menjual
makanan sehat kepada orang lain,
tetapi ia sendiri tidak menjalani
gaya hidup sehat.
Ia ingat kata-kata DeMarco:
“Tubuhmu adalah kendaraan yang
membawamu sepanjang perjalanan
ini. Jika kamu tidak merawatnya,
ia akan mogok di tengah jalan.”
Raka membayangkan dirinya
meninggal di usia empat puluh tahun,
meninggalkan Maya dan anaknya
sendirian. Semua uang yang ia
hasilkan tidak akan berarti apa-apa.
Keesokan harinya, Raka memulai
rutinitas baru. Ia bangun pukul
setengah enam pagi dan berlari
kecil di taman dekat rumahnya
selama tiga puluh menit. Awalnya
sangat sulit. Lututnya sakit, napasnya
tersengal, dan ia merasa ingin berhenti
setiap lima menit. Tetapi ia ingat siklus
3A: Act, Assess, Adjust. Ia terus
mencoba. Setelah satu bulan, ia bisa
berlari tanpa berhenti. Setelah tiga
bulan, ia mulai menikmatinya.
Ia juga mengubah pola makannya.
Ia mulai makan makanan yang sama
dengan yang ia jual kepada
pelanggannya: nasi merah, dada
ayam, sayuran, buah-buahan.
Ia berhenti minum kopi instan dan
menggantinya dengan air putih.
Dalam enam bulan, berat badannya
turun sepuluh kilogram. Tekanan
darahnya kembali normal. Ia merasa
lebih berenergi, lebih fokus, dan
lebih bahagia.
Langkah Kedua:
Menyelamatkan Ember
Hubungan yang Mulai Retak
Suatu malam, setelah makan malam,
Maya duduk di hadapannya dengan
ekspresi serius. “Raka, aku perlu
bicara,” katanya.
Raka meletakkan ponselnya.
“Ada apa?”
“Aku merasa kita semakin jauh,”
kata Maya. “Kamu sudah bebas dari
kantor, tapi kamu masih sibuk terus.
Dulu, setidaknya kita punya akhir
pekan. Sekarang, kamu selalu ada
di depan laptop. Anakmu mulai
lupa suaramu.”
Raka terdiam. Ia ingin membela diri,
mengatakan bahwa semua ini untuk
keluarga, untuk masa depan mereka.
Tetapi ia tahu Maya benar.
Sejak bisnisnya berkembang, ia justru
semakin jarang hadir. Ia selalu punya
alasan: rapat dengan tim, mencoba
menu baru, mengecek laporan
keuangan. Ia telah keluar dari Slowlane,
tetapi ia tanpa sadar masuk ke penjara
baru: penjara obsesinya sendiri.
Ia ingat kata-kata DeMarco:
“Tidak ada gunanya membangun
kerajaan bisnis jika kamu kehilangan
orang yang paling berarti dalam
hidupmu.” Raka memutuskan untuk
berubah.
Ia dan Maya membuat kesepakatan.
Setiap hari Jumat malam adalah
family night. Tidak ada pekerjaan.
Tidak ada ponsel. Hanya mereka
bertiga: Raka, Maya, dan Bima,
anak mereka yang kini berusia enam
tahun. Mereka akan makan malam
bersama, bermain board game, atau
sekadar menonton film sambil
berpelukan di sofa.
Raka juga menjadwalkan makan
malam berdua di restoran bersama
Maya setiap hari Sabtu. Tanpa Bima.
Hanya mereka berdua, seperti dulu
sebelum semua kesibukan ini
dimulai. Awalnya canggung. Mereka
sudah lama tidak berbicara tentang
hal-hal di luar pekerjaan dan anak.
Tetapi perlahan, mereka mulai
menemukan kembali satu sama lain.
Suatu malam, saat mereka duduk
di restoran Italia kecil di dekat rumah,
Maya menggenggam tangan Raka.
“Terima kasih sudah kembali,”
katanya. Raka merasakan sesuatu
yang tidak bisa diberikan oleh uang:
kedamaian.
Langkah Ketiga: Mengisi Ember
Spiritualitas
Setelah memperbaiki kesehatan dan
hubungannya, Raka masih merasakan
ada sesuatu yang kurang. Ia sudah
punya uang. Ia sudah punya waktu.
Ia sudah sehat. Ia sudah dekat
dengan keluarganya. Tetapi masih
ada kehampaan kecil yang tidak
bisa ia jelaskan.
Ia teringat pada konsep Spiritualitas
yang diajarkan DeMarco.
Bukan tentang agama tertentu,
melainkan tentang kesadaran bahwa
ada sesuatu yang lebih besar dari
dirinya sendiri.
Raka memulai kebiasaan baru.
Setiap pagi, sebelum semua orang
bangun, ia duduk di balkon
rumahnya selama sepuluh menit.
Ia tidak membuka ponsel. Ia tidak
membaca buku. Ia hanya duduk
diam, menatap langit, dan menarik
napas dalam-dalam. Ia merenungkan
apa yang ia syukuri hari itu. Awalnya
terasa aneh. Tetapi setelah beberapa
minggu, ia mulai menantikan
momen-momen sunyi ini.
Ia juga mulai melakukan sesuatu
yang belum pernah ia lakukan
sebelumnya: ia menjadi sukarelawan.
Sebulan sekali, ia datang ke panti
asuhan di dekat rumahnya dan
memasak untuk anak-anak di sana.
Ia membawa bahan-bahan segar
dari dapurnya dan mengajari
mereka cara membuat makanan
sehat. Anak-anak itu mulai
memanggilnya
“Om Raka si tukang masak.”
Ia tidak dibayar untuk ini. Ia tidak
mendapatkan pelanggan baru dari
sini. Tetapi ia mendapatkan sesuatu
yang lebih berharga: rasa bahwa
hidupnya berarti.
Langkah Keempat:
Membangun Warisan
Suatu hari, Raka duduk dan
memikirkan tentang masa depan.
Ia tidak akan hidup selamanya.
Apa yang akan ia tinggalkan?
Ia memutuskan untuk menulis buku.
Bukan buku resep, melainkan buku
tentang perjalanannya: dari seorang
pekerja kantoran yang terjebak
macet dan terjebak naskah, menjadi
seorang pengusaha yang berhasil
membangun kebebasannya sendiri.
Ia ingin orang lain tahu bahwa
jalan keluar itu ada. Ia menuangkan
semua yang ia pelajari dari DeMarco,
semua kesalahan yang ia buat,
semua pelajaran pahit yang ia
dapatkan. Ia menulis di malam hari,
setelah Bima tidur, selama enam
bulan.
Buku itu akhirnya terbit dengan
judul “Dari Macet ke Merdeka:
Kisah Seorang Budak Korporat
yang Membebaskan Diri.” Ia tidak
berharap buku itu menjadi bestseller.
Tetapi kemudian, surat-surat mulai
berdatangan. Seorang pria dari
Surabaya menulis bahwa ia
berhenti dari pekerjaannya yang
membuatnya stres dan memulai
bisnis kecil setelah membaca buku
Raka. Seorang ibu rumah tangga
dari Bandung menulis bahwa ia
akhirnya berani menjual kue
buatannya setelah bertahun-tahun
ragu. Setiap surat adalah pengingat
bahwa hidupnya telah menyentuh
orang lain.
Raka juga mulai merintis program
magang di dapurnya. Ia menerima
anak-anak muda dari keluarga
kurang mampu, melatih mereka
memasak, mengajari mereka
dasar-dasar bisnis, dan membantu
mereka mendapatkan pekerjaan.
Beberapa dari mereka akhirnya
membuka usaha sendiri. Yang lain
bekerja di restoran atau hotel.
Semuanya membawa serta sesuatu
yang diajarkan Raka: bahwa mereka
tidak harus mengikuti naskah.
Langkah Kelima: Refleksi
di Usia Empat Puluh Tahun
Di usia empat puluh tahun, Raka
duduk di teras rumahnya,
menyeruput teh hangat, dan
merenungkan hidupnya. Ia teringat
pada definisi sukses yang ia tulis
bertahun-tahun yang lalu di buku
catatannya: “Sukses adalah memiliki
bisnis yang stabil, dengan jam kerja
fleksibel, yang memungkinkanku
hadir untuk anak-anakku.”
Ia tersenyum. Ia telah mencapai itu.
Lebih dari itu, ia telah mencapai
sesuatu yang tidak pernah ia
bayangkan.
Bisnisnya berjalan lancar. Ratna
dan timnya mengelola operasional
sehari-hari. Raka hanya perlu hadir
untuk rapat strategis sekali
seminggu.
Kesehatannya prima. Ia bisa berlari
sepuluh kilometer tanpa berhenti.
Tekanan darahnya normal.
Pernikahannya bahagia. Ia dan Maya
baru saja merayakan ulang tahun
pernikahan mereka yang kedua belas.
Bima, yang kini berusia delapan
tahun, suka bermain sepak bola
dengannya di halaman belakang
setiap sore.
Ia memiliki kedamaian batin.
Setiap pagi, ia masih duduk
di balkonnya, menatap langit,
dan merasa bersyukur.
Ia telah meninggalkan warisan.
Bukunya telah membantu ribuan
orang. Program magangnya telah
mengubah hidup puluhan anak
muda.
Raka tersadar bahwa ia tidak lagi
hidup dalam naskah. Ia telah
menulis naskahnya sendiri.
Dan naskah itu, dengan segala
ketidaksempurnaannya, adalah
miliknya sepenuhnya.
Sahabat, selesailah perjalanan kita
menyusuri seluruh isi buku
UNSCRIPTED karya MJ DeMarco.
Dari mengenali naskah yang
memperbudak kita, membangun
kerangka pikir yang baru,
menerapkan kerangka kewirausahaan,
hingga menjalani kehidupan yang
benar-benar bermakna. Raka hanyalah
contoh fiksi. Tetapi prinsip-prinsip
yang ia terapkan adalah nyata, dan
tersedia bagi siapa pun yang berani
mengambil langkah pertama.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita udah sampe di bagian
pamungkas dari UNSCRIPTED.
Setelah lo ngelalui perjalanan panjang
nan berliku, mulai dari bongkar
naskah, bangun kerangka pikir,
sampe terjun ke dapur kewirausahaan,
MJ DeMarco nutup bukunya dengan
PENGINGAT yang super PENTING.
Ini yang sering dilupain banyak orang:
KEBEBASAN FINANSIAL BUKANLAH
TUJUAN AKHIR. Dia hanyalah ALAT.
Yang lo lakuin SETELAH lo bebas,
ITULAH yang nentuin apakah hidup
lo BENER-BENER KAYA. Atau cuma
KOSONG MELOMPONG.
Bagian 4: Menjalani Kehidupan
yang Gak Terskrip, Biar Gak
Kaya Raya tapi Hampa
DeMarco buka bagian terakhir ini
dengan PERINGATAN SERIUS.
Dia udah ngeliat TERLALU BANYAK
pengusaha yang berhasil KELUAR
dari Script. Mereka berhasil nyampe
KEKAYAAN FINANSIAL. Tapi
kemudian, mereka malah
NGANCURIN HIDUP MEREKA
SENDIRI. Udah kaya raya, terus
CERAI. Udah kaya raya, terus
SAKIT-SAKITAN karena ngabaikan
kesehatan. Udah kaya raya, terus
ngerasa HAMPA karena gak ada lagi
yang harus dikejar. Duit, kata
DeMarco, adalah ALAT YANG
AMPUH. Tapi dia BUKAN TUJUAN.
Kalo lo nyampe KEBEBASAN, tapi lo
gak punya APA PUN YANG
BERMAKNA buat dijalanin, lo bakal
SAMA MENDERITANYA kayak pas
lo masih terjebak dalam naskah.
Bahkan mungkin lebih menderita.
Pernikahan dan Hubungan
adalah salah satu PILAR yang paling
ditekankan DeMarco. Dia nulis
dengan nada yang SUPER
PERSONAL di sini. Dia berbagi
cerita pribadinya sendiri, gimana
PERNIKAHANNYA HAMPIR
HANCUR gara-gara OBSESINYA
ngejar kesuksesan. Dia ngingetin,
GAK ADA GUNANYA lo bangun
kerajaan bisnis, kalo lo
KEHILANGAN ORANG YANG
PALING BERARTI dalam hidup lo.
Pasangan yang mendukung. Yang
paham visi lo. Yang rela jalan
bareng lo ngelalui masa-masa sulit.
Itu adalah ASET yang JAUH LEBIH
BERHARGA daripada uang satu
miliar dolar. DeMarco ngedorong lo
buat milih pasangan dengan
HATI-HATI. Dan setelah lo nikah,
RAWAT hubungan itu SECARA
AKTIF. Jangan dianggep kayak
tanaman liar yang bisa tumbuh
sendiri. Kebebasan finansial TANPA
CINTA adalah KEBEBASAN YANG
SUNYI. Sendiri di puncak.
Kesehatan adalah pilar kedua yang
SERING BANGET diabaikan para
pengusaha. DeMarco ngaku, dia
SENDIRI PERNAH jatuh ke jebakan
ini. Kerja 16 jam sehari.
Makan makanan cepat saji.
Gak pernah olahraga. Ngandelin
kopi dan adrenalin buat tetep berdiri.
Tubuh manusia, kata DeMarco,
adalah KENDARAAN yang bawa lo
sepanjang perjalanan ini. Kalo lo
GAK NGERAWAT kendaraan itu,
dia bakal MOGOK DI TENGAH
JALAN. Gak ada gunanya lo pensiun
di umur 40 tahun, tapi dengan tubuh
yang UDAH HANCUR lebur.
DeMarco nyaranin buat
NGAJADWALIN olahraga kayak lo
ngajadwalin rapat bisnis. GAK BISA
DITAWAR. GAK BISA DITUNDA.
Udah jadi harga mati.
Spiritualitas, dalam definisi
DeMarco, gak selalu berarti agama.
Dia mendefinisikan lebih LUAS.
Yaitu KESADARAN kalo ada
SESUATU YANG LEBIH GEDE dari
diri lo sendiri. Bisa berupa keyakinan
kepada Tuhan. Bisa juga berupa
RASA SYUKUR ke alam semesta. Atau
keyakinan kalo hidup lo punya
TUJUAN yang melampaui sekadar
ngumpulin duit. Tanpa DIMENSI
SPIRITUAL ini, kata DeMarco,
kesuksesan bakal terasa HAMPA.
Lo bakal nyampe PUNCAK GUNUNG,
terus sadar… GAK ADA APA-APA
DI SANA. Cuma angin dan batu.
Warisan adalah pilar terakhir.
DeMarco berpendapat, MANUSIA
pada dasarnya PENGEN NINGGALIN
SESUATU. Pengen hidupnya
BERARTI. Pengen DIKENANG
setelah dia tiada. Warisan ini gak
harus berupa yayasan amal raksasa
atau gedung yang dinamain pake
nama lo. Warisan bisa berupa
ANAK-ANAK yang lo besarkan
dengan BAIK. Orang-orang yang lo
BANTU lewat bisnis lo. Atau
PERUBAHAN POSITIF yang lo
ciptakan di komunitas lo. Bisnis
yang lo bangun, kalo dijalankan
dengan benar, adalah SALAH SATU
BENTUK WARISAN. Dia bisa
TERUS HIDUP. Terus ngasih
MANFAAT. Dan terus NYIPTAIN
NILAI. Bahkan SETELAH LO TIADA.
Kesimpulan: Jangan Cuma
Dibaca, Lakuin!
DeMarco nutup bukunya BUKAN
dengan rangkuman. Tapi dengan
AJAKAN BUAT BERTINDAK.
Dia tau, BANYAK pembaca yang
bakal SELESAI baca buku ini.
Ngerasa TERMOTIVASI untuk
sementara waktu.
Dan kemudian… BALIK LAGI
ke kehidupan lama mereka. Dia
nyebut ini “EFEK BUKU MOTIVASI”.
Lo ngerasa HEBAT pas baca, tapi
GAK ADA YANG BERUBAH
setelahnya. Balik kayak semula.
DeMarco MOHON ke para
pembacanya: JANGAN BIARIN ITU
TERJADI. Jangan cuma BACA.
Jangan cuma BELAJAR. LAKUIN
SESUATU. Ambil LANGKAH
PERTAMA. Sekecil apapun. HARI
INI JUGA. Dunia ini PENUH
dengan orang-orang yang TAHU
BANYAK HAL, tapi GAK PERNAH
BERTINDAK. Jangan jadi salah
satu dari mereka. Jangan cuma
jadi penonton.
Dia negasin lagi PESAN UTAMANYA.
NASKAH itu ADA DI MANA-MANA.
Dia NYAMAN. Dia MUDAH. Dia
DITERIMA oleh masyarakat. Tapi
dia GAK AKAN PERNAH ngasih lo
KEBEBASAN SEJATI. Kalo lo pengen
KEHIDUPAN YANG BERBEDA,
lo harus BERANI ngambil JALAN
YANG BERBEDA. Jalan itu GAK
MUDAH. Jalan itu PENUH dengan
KEGAGALAN, PENOLAKAN, dan
KETIDAKPASTIAN. Tapi HANYA
di jalan itulah KEBEBASAN nunggu
lo. Gak ada jalan pintas.
