buku

Jangan Percaya pada Kekalahan

Kasus 1: Mahasiswa yang
Hampir Menyerah Skripsi

Raka adalah mahasiswa tingkat akhir
yang sudah tiga kali ditolak proposal
skripsinya. Setiap kali menerima
revisi, ia mulai berkata dalam hati,
“Aku memang tidak cukup pintar.
Pasti aku tidak akan lulus tepat waktu.”
Tanpa sadar, ia mulai mengurangi
usahanya. Ia menunda bimbingan,
jarang membaca referensi, dan
semakin takut bertemu dosen.

Di titik terendah, Raka menyadari
bahwa sebelum benar-benar gagal,
ia sudah lebih dulu mempercayai
kekalahan. Ia lalu memutuskan
mengubah sikap mentalnya.
Setiap pagi ia menegaskan pada
dirinya, “Aku tidak percaya pada
kekalahan. Aku bisa menyelesaikan
ini.” Ia mulai kembali aktif
bimbingan, memperbaiki proposal
sedikit demi sedikit, dan berhenti
memikirkan kemungkinan gagal.

Masalahnya tidak langsung hilang.
Revisi tetap ada. Namun sikapnya
berubah. Ia tidak lagi merangkak
dalam ketakutan, melainkan berdiri
menghadapi rintangan. Beberapa
bulan kemudian, proposalnya
disetujui. Hambatan yang dulu terasa
besar ternyata tidak sebesar yang
dibayangkannya ketika ia dikuasai
pikiran kalah.

Kasus 2: Pedagang yang Sepi
Pembeli

Siti membuka usaha kecil menjual
kue rumahan. Pada bulan-bulan
pertama, penjualannya sangat rendah.
Ia mulai berpikir, “Usahaku memang
tidak akan berhasil. Aku tidak
berbakat berdagang.” Pikiran itu
membuatnya malas promosi dan
enggan mencoba strategi baru.

Suatu hari ia tersadar bahwa sikap
mentalnya justru memperparah
keadaan. Ia memutuskan untuk tidak
lagi memelihara pikiran kekalahan.
Ia berkata pada dirinya bahwa usaha
ini belum berhasil, tetapi belum tentu
gagal. Ia mulai belajar pemasaran
sederhana, memperbaiki kemasan,
dan menawarkan produknya secara
lebih aktif.

Perubahan itu tidak instan. Namun
perlahan pelanggan bertambah. Yang
berubah pertama kali bukan
situasinya, melainkan keyakinannya.
Ketika ia berhenti percaya pada
kekalahan, energinya terkumpul
untuk bertindak. Rintangan yang
sebelumnya tampak seperti akhir
ternyata hanya fase awal.

Kasus 3: Pekerja yang Gagal
Promosi

Andi sudah dua kali gagal
mendapatkan promosi jabatan.
Ia mulai merasa bahwa atasannya
tidak menyukainya dan kariernya
sudah mentok. Ia bekerja sekadarnya
karena merasa percuma berusaha
lebih. Dalam pikirannya, ia sudah
“dikalahkan”.

Namun setelah merenung,
ia menyadari bahwa kekalahan itu
belum benar-benar terjadi. Yang ada
hanyalah keputusan batinnya untuk
percaya bahwa ia kalah. Ia mulai
mengubah pendekatan: meningkatkan
keterampilan, meminta umpan balik
secara terbuka, dan memperbaiki
kualitas kerjanya.

Dengan iman kepada Tuhan bahwa
setiap usaha ada maknanya, dan
iman kepada dirinya sendiri bahwa
ia mampu berkembang, Andi kembali
berdiri tegak. Setahun kemudian,
ia memang belum juga promosi,
tetapi reputasinya meningkat dan
tanggung jawabnya bertambah.
Ia tidak lagi hidup dalam postur
mental yang merangkak. Kekalahan
tidak lagi menguasai pikirannya.

Inti dari Ketiga Kasus

Dalam setiap contoh, kekalahan
pertama tidak terjadi di luar,
melainkan di dalam pikiran. Ketika
seseorang percaya bahwa ia kalah,
ia melemahkan tindakannya sendiri.
Namun ketika ia memutuskan,
“Saya tidak percaya pada kekalahan,”
sikap mentalnya berubah.

Iman kepada Tuhan memberikan
dasar untuk berdiri tegak. Hambatan
tetap ada, tetapi tidak lagi diperbesar
oleh ketakutan. Seperti yang
ditekankan Peale, kekalahan sejati
bukan saat seseorang jatuh,
melainkan saat ia memutuskan untuk
mempercayai bahwa dirinya telah kalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *