filsafat

Free Rider Problem: Mengapa Satu Orang Bisa Menikmati Hasil Kerja Orang Lain Tanpa Ikut Bekerja?

Pernahkah Anda berada dalam kelompok kerja di mana satu orang tidak pernah muncul, tidak pernah mengerjakan tugas, tetapi namanya tetap tercantum dan nilainya tetap sama dengan yang lain? Pernahkah Anda membayar pajak, lalu melihat orang lain yang tidak membayar pajak tetapi tetap menikmati jalan yang sama, rumah sakit yang sama, dan keamanan yang sama? Pernahkah Anda kerja bakti membersihkan lingkungan, sementara tetangga Anda hanya menonton dari balik jendela?

Itulah Free Rider Problem. Sebuah masalah klasik dalam ekonomi, etika, dan politik. Ia terjadi ketika seseorang menikmati manfaat dari sumber daya bersama tanpa ikut menanggung biaya atau usaha untuk memeliharanya. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Free Rider Problem?

Free Rider Problem adalah situasi di mana individu mendapat keuntungan dari barang atau layanan publik tanpa berkontribusi secara adil. Barang publik adalah barang yang tidak bisa dibatasi aksesnya. Jika satu orang menikmatinya, orang lain juga bisa menikmatinya. Contohnya adalah jalan raya, taman kota, keamanan nasional, dan udara bersih.

Karena barang publik tidak bisa dibatasi, orang punya godaan untuk tidak berkontribusi. Ia berpikir, “Kalau saya tidak bayar, saya tetap bisa menikmati. Kalau saya tidak kerja, orang lain akan kerja.” Lama-kelamaan, jika terlalu banyak orang berpikir seperti itu, sistemnya runtuh. Tidak ada yang membayar. Tidak ada yang bekerja. Semua orang rugi.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya teori ekonomi. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda merasa bahwa Anda bekerja lebih keras daripada anggota tim Anda? Pernahkah Anda merasa bahwa Anda membayar lebih banyak, tetapi mendapat manfaat yang sama? Pernahkah Anda merasa bahwa orang lain menikmati hasil kerja Anda tanpa berterima kasih?

Free Rider Problem juga muncul dalam keluarga. Satu orang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Yang lain hanya duduk. Satu orang membayar semua tagihan. Yang lain hanya memakai. Satu orang merawat orang tua. Yang lain hanya datang saat lebaran.

Free Rider Problem juga muncul dalam lingkungan. Satu orang mendaur ulang sampah. Yang lain membuang sampah sembarangan. Satu orang menghemat air. Yang lain boros. Satu orang menanam pohon. Yang lain menebang.

Free Rider Problem juga muncul dalam demokrasi. Satu orang rajin mengikuti pemilu. Yang lain golput. Tetapi ketika pemerintah membuat kebijakan, semua orang terkena dampaknya. Yang golput pun menikmati hasilnya tanpa ikut memilih.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa dalam kelompok tugas. Ia mengerjakan seluruh makalah. Temannya hanya menempelkan nama. Nilainya sama. Mahasiswa itu merasa kesal. Temannya merasa aman. Ia menjadi free rider.

Seorang karyawan di kantor. Ia selalu datang tepat waktu. Ia menyelesaikan pekerjaannya. Rekan kerjanya sering terlambat. Rekan kerjanya sering menunda. Tetapi gajinya sama. Bonusnya sama. Karyawan itu merasa tidak adil. Rekan kerjanya menjadi free rider.

Seorang warga di kompleks perumahan. Ia membayar iuran keamanan. Ia membayar iuran kebersihan. Tetangganya tidak membayar. Tetapi tetangganya tetap menikmati keamanan. Tetangganya tetap menikmati kebersihan. Warga itu merasa dirugikan. Tetangganya menjadi free rider.

Seorang pengguna transportasi umum. Ia membayar tiket. Ia membayar pajak. Orang lain tidak membayar. Orang lain menyelonong masuk. Orang lain tetap sampai tujuan. Pengguna itu merasa bodoh karena sudah jujur. Orang lain menjadi free rider.

Seorang relawan dalam kegiatan sosial. Ia menyumbang tenaga. Ia menyumbang uang. Orang lain hanya melihat. Orang lain hanya mengkritik. Orang lain tidak membantu. Relawan itu merasa lelah. Orang lain menjadi free rider.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Free Rider Problem bukan hanya teori. Ia terjadi di sekitar kita. Ia terjadi pada kita. Ia terjadi karena kita.

Tiga Fase Menghadapi Free Rider Problem

Fase pertama, Anda merasa sendirian. Anda bekerja keras. Anda berkontribusi. Anda merasa bahwa Anda yang menanggung semuanya. Anda merasa bahwa orang lain tidak peduli.

Fase kedua, Anda mulai tergoda. Anda melihat bahwa orang lain tidak bekerja, tetapi tetap mendapat manfaat. Anda berpikir, “Mengapa saya harus bekerja? Mengapa saya harus jujur? Mengapa saya harus peduli?” Anda mulai mengurangi usaha. Anda mulai ikut menjadi free rider.

Fase ketiga, Anda mencari solusi. Anda menyadari bahwa jika semua orang menjadi free rider, sistemnya runtuh. Anda mulai mencari cara untuk mengubah keadaan. Anda mulai menuntut keadilan. Anda mulai membangun aturan. Anda mulai mengajak orang lain untuk berkontribusi.

Solusi-Solusi untuk Free Rider Problem

Para ekonom dan filsuf sudah mencoba menyelesaikan masalah ini. Tidak ada satu solusi yang sempurna. Tetapi ada beberapa pendekatan yang menarik.

Yang pertama adalah pajak dan sanksi. Pemerintah memaksa orang untuk berkontribusi melalui pajak. Jika seseorang tidak membayar pajak, ia dikenakan sanksi. Ini mengurangi free rider.

Yang kedua adalah insentif. Ketika orang diberi imbalan untuk berkontribusi, mereka lebih mau bekerja. Misalnya, bonus untuk karyawan yang berprestasi. Beasiswa untuk siswa yang rajin. Penghargaan untuk warga yang aktif.

Yang ketiga adalah transparansi. Ketika kontribusi setiap orang terlihat, orang lebih sulit menjadi free rider. Mereka malu. Mereka takut dinilai. Mereka merasa diawasi.

Yang keempat adalah ukuran kelompok. Semakin kecil kelompok, semakin sulit menjadi free rider. Karena kontribusi setiap orang lebih terlihat. Karena tanggung jawab lebih jelas.

Yang kelima adalah norma sosial. Ketika masyarakat punya budaya gotong royong, orang lebih mau berkontribusi. Mereka tidak mau dianggap egois. Mereka tidak mau dikucilkan.

Yang keenam adalah kepemilikan bersama. Ketika orang merasa memiliki, mereka lebih mau merawat. Ketika mereka merasa bahwa sumber daya itu milik mereka, mereka lebih mau menjaga.

Cara Menyikapi Free Rider Problem

Pertama, jangan langsung menuduh. Kadang orang tidak berkontribusi karena mereka tidak tahu. Kadang karena mereka tidak mampu. Kadang karena mereka tidak diajak. Tanyakan dulu. Dengarkan dulu.

Kedua, buat aturan yang jelas. Dalam kelompok, bagi tugas dengan spesifik. Tentukan siapa mengerjakan apa. Tentukan kapan deadline-nya. Tentukan bagaimana mengukur kontribusinya.

Ketiga, catat kontribusi. Tuliskan siapa mengerjakan apa. Ini membuat kontribusi terlihat. Ini membuat free rider sulit bersembunyi.

Keempat, berikan apresiasi. Ketika seseorang berkontribusi, hargai. Sebut namanya. Berikan pujian. Ini membuat orang merasa dihargai. Ini membuat orang mau terus berkontribusi.

Kelima, jangan menjadi free rider. Anda tidak suka ketika orang lain menjadi free rider. Jangan lakukan hal yang sama. Jadilah orang yang berkontribusi. Jadilah orang yang bisa diandalkan.

Keenam, bicarakan masalahnya. Jika Anda merasa ada free rider dalam kelompok Anda, bicarakan. Jangan diam. Jangan menyimpan kesal. Sampaikan dengan baik. Cari solusi bersama.

Ketujuh, libatkan semua orang. Ketika orang merasa dilibatkan, mereka lebih mau berkontribusi. Ketika mereka merasa bahwa suaranya didengar, mereka lebih mau bekerja. Ajak mereka merancang aturan. Ajak mereka mengambil keputusan.

Kedelapan, rendah hati. Kadang Anda juga bisa menjadi free rider tanpa sadar. Mungkin Anda menikmati hasil kerja orang lain tanpa mengakui. Mungkin Anda mengambil manfaat tanpa memberi. Periksa diri Anda. Perbaiki.

Kritik terhadap Solusi-Solusi

Setiap solusi punya kritik. Pajak dianggap membebani. Sanksi dianggap terlalu keras. Insentif dianggap bisa disalahgunakan. Transparansi dianggap melanggar privasi. Norma sosial dianggap bisa menindas. Kepemilikan bersama dianggap sulit diatur.

Tidak ada solusi yang sempurna. Setiap solusi punya risiko. Setiap solusi punya batas. Yang penting adalah kita terus mencari. Yang penting adalah kita tidak menyerah.

Penutup

Free Rider Problem mengajarkan satu hal yang menantang. Manusia cenderung mengambil manfaat tanpa memberi. Manusia cenderung menghindari usaha jika bisa. Manusia cenderung menjadi free rider jika dibiarkan.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika semua orang menjadi free rider, tidak ada yang bekerja. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang berkontribusi. Sistemnya runtuh. Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita bisa membangun aturan. Kita bisa membangun budaya. Kita bisa membangun kesadaran. Kita bisa mencegah free rider.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah merasa menjadi free rider? Apakah Anda pernah merasa orang lain menjadi free rider? Dan jika ya, apa yang Anda lakukan? Apakah Anda diam? Apakah Anda protes? Apakah Anda ikut menjadi free rider? Atau apakah Anda memilih untuk tetap berkontribusi, meskipun orang lain tidak?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai memeriksa kontribusi Anda sendiri.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Free Rider Problem: Kenapa Lo Bisa Numpang Enak Tanpa Ikut Bayar?

Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi di angkutan umum. Mungkin bus. Mungkin kereta. Mungkin angkot. Lo duduk. Lo diem. Lo ngerasa nyaman. Lo nggak ngapa-ngapain. Lo cuma duduk. Lo cuma jalan. Lo cuma sampe tujuan.

Tapi tunggu dulu. Lo ngerasa nggak sih ada yang aneh? Ada yang nggak adil? Lo duduk di angkutan umum. Lo nikmatin fasilitas. Lo nikmatin jalan yang mulus. Lo nikmatin lampu lalu lintas yang teratur. Lo nikmatin keamanan yang dijaga. Tapi lo nggak bayar lebih. Lo cuma bayar tiket. Itu pun kalo lo bayar. Kalo lo numpang? Kalo lo nggak bayar? Kalo lo nebeng?

Terus muncul pertanyaan yang bikin lo mikir. “Kalo gue nggak bayar, siapa yang dirugiin? Kalo gue nggak ikut kerja bakti, siapa yang bersihin? Kalo gue nggak ikut bayar pajak, siapa yang biayain jalan? Kalo gue nggak ikut ngurangin sampah, siapa yang ngerasain efeknya?”

Kalo lo pernah mikir kayak gini, lo udah nyentuh salah satu masalah paling fundamental dalam ekonomi, politik, dan kehidupan sosial. Namanya Free Rider Problem. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat kontribusi lo sehari-hari dengan mata yang beda.

Sebenernya Free Rider Problem Itu Apa Sih?

Free Rider Problem itu simpelnya gini: situasi di mana seseorang bisa dapet manfaat dari sesuatu tanpa ikut berkontribusi. Dan karena dia nggak ikut berkontribusi, dia jadi “penumpang gratis.”

Istilah “free rider” artinya penunggang gratis. Orang yang naik kendaraan tanpa bayar. Orang yang dapet manfaat tanpa usaha. Orang yang nikmatin hasil kerja orang lain tanpa ikut kerja.

Masalah ini muncul dalam banyak konteks. Ekonomi. Politik. Lingkungan. Organisasi. Keluarga. Pertemanan. Di mana pun ada sumber daya bersama, di situ ada potensi free rider.

Konsep ini pertama kali dibahas secara formal dalam ekonomi publik. Terutama sama filsuf dan ekonom kayak Mancur Olson. Dia nulis buku tahun 1965 judulnya The Logic of Collective Action. Di situ, dia ngejelasin kenapa kelompok besar sering gagal mencapai tujuan bersama. Karena setiap individu punya insentif buat jadi free rider. Nggak ikut kerja. Tapi tetep dapet manfaat.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma teori ekonomi. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Free Rider Problem nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah ngerasa dimanfaatin. Lo kerja kelompok. Lo ngerjain semua. Temen lo cuma nongkrong. Tapi nilai dibagi rata. Lo kesel. Lo ngerasa nggak adil. Tapi lo nggak bisa ngomong. Karena kalo lo ngomong, lo dianggap nggak solid.

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa jadi satu-satunya yang peduli. Lo bersihin sampah di lingkungan lo. Lo bayar iuran. Lo ikut rapat. Tapi tetangga lo nggak peduli. Mereka buang sampah sembarangan. Mereka nggak bayar. Mereka nggak dateng. Tapi mereka tetep nikmatin lingkungan yang bersih.

Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa pengen jadi free rider juga. Lo capek jadi satu-satunya yang usaha. Lo capek jadi satu-satunya yang bayar. Lo capek jadi satu-satunya yang peduli. Lo mulai mikir, “Kalo gue nggak ikut, apa yang terjadi? Apa ada yang ngerasa? Apa ada yang gantiin?”

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa sistem ini nggak adil. Lo ngerasa yang rajin dapet sama kayak yang males. Lo ngerasa yang jujur dapet sama kayak yang curang. Lo ngerasa yang peduli dapet sama kayak yang nggak peduli. Dan lo mulai nanya, “Apa gunanya usaha kalo hasilnya sama aja?”

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Masalah Ini

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa dimanfaatin dalam kerja kelompok? Itu tanda lo lagi ngerasain Free Rider Problem.

  2. Lo pernah ngerasa jadi satu-satunya yang peduli? Itu tanda lo lagi ngerasain ketimpangan kontribusi.

  3. Lo pernah mikir “mending gue nggak ikut usaha juga”? Itu tanda lo lagi kelelahan jadi kontributor.

  4. Lo pernah ngerasa sistem ini nggak adil? Itu tanda lo lagi mikir soal struktur.

  5. Lo pernah ngerasa pengen nuntut orang lain buat ikut berkontribusi? Itu tanda lo lagi nyentuh inti masalah ini.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener manusiawi. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di kerja kelompok. Lo dapet tugas kelompok. Lima orang. Satu tugas. Lo ngerjain. Lo bikin. Lo selesaiin. Temen lo yang lain? Cuma nongkrong. Cuma ngasih ide. Cuma muncul pas presentasi. Tapi nilai dibagi rata. Lo dapet A. Mereka juga dapet A. Lo kesel. Lo ngerasa nggak adil. Tapi lo nggak bisa ngomong. Karena kalo lo ngomong, lo dianggap nggak solid.

Di lingkungan. Lo tinggal di komplek. Ada iuran keamanan. Ada iuran kebersihan. Lo bayar. Lo ikut kerja bakti. Lo ikut rapat. Tetangga lo? Nggak bayar. Nggak ikut. Nggak peduli. Tapi mereka tetep nikmatin keamanan. Tetep nikmatin kebersihan. Tetep nikmatin lingkungan yang nyaman.

Di pajak. Lo bayar pajak. Lo bayar setiap tahun. Lo bayar sesuai aturan. Tapi ada yang nggak bayar. Ada yang ngemplang. Ada yang korupsi. Mereka nikmatin jalan yang mulus. Mereka nikmatin fasilitas umum. Mereka nikmatin keamanan. Tapi mereka nggak ikut bayar.

Di lingkungan global. Negara-negara maju udah ngerusak lingkungan selama ratusan tahun. Sekarang, negara berkembang disuruh ikut ngurangin emisi. Negara maju nggak mau bayar lebih. Negara berkembang nggak mau dikorbanin. Semua pengen nikmatin udara bersih. Tapi nggak ada yang mau ngorbanin kenyamanan.

Di diri lo sendiri. Lo ikut organisasi. Lo jadi pengurus. Lo kerja. Lo bikin acara. Lo capek. Anggota lain? Cuma dateng pas acara. Cuma nuntut. Cuma ngeluh. Tapi nggak ikut kerja. Lo capek. Lo ngerasa sendiri. Lo mulai mikir, “Apa gunanya gue jadi pengurus?”

Fase-Fase Lo Ngadepin Free Rider Problem

Fase pertama: lo ngerasa peduli.
Lo peduli. Lo berkontribusi. Lo kerja. Lo bayar. Lo ikut. Lo ngerasa bahwa lo bagian dari sesuatu. Lo ngerasa bahwa lo punya tanggung jawab. Lo ngerasa bahwa lo harus ikut.

Fase kedua: lo ngerasa capek.
Lo mulai ngerasa bahwa lo sendiri. Lo mulai ngerasa bahwa orang lain nggak peduli. Lo mulai ngerasa bahwa cuma lo yang usaha. Lo mulai ngerasa capek. Lo mulai ngerasa kesel. Lo mulai ngerasa pengen berhenti.

Fase ketiga: lo milih.
Lo punya pilihan. Lo bisa terus berkontribusi meskipun sendiri. Lo bisa jadi free rider juga. Lo bisa coba ngubah sistem. Lo bisa coba ngajak orang lain. Lo bisa coba nuntut keadilan. Lo milih. Dan pilihan itu punya konsekuensi.

Cara Nyikapin Free Rider Problem Tanpa Kehilangan Akal

1. Sadari bahwa lo nggak sendiri.
Kalo lo ngerasa cuma lo yang peduli, lo mungkin bener. Tapi lo mungkin juga nggak sadar ada yang peduli tapi diem. Ada yang peduli tapi takut. Ada yang peduli tapi capek. Coba cari mereka. Coba kumpulin mereka.

2. Jangan langsung ngejudge.
Orang yang nggak berkontribusi belum tentu jahat. Mungkin dia sibuk. Mungkin dia punya masalah. Mungkin dia nggak tau. Mungkin dia nggak ngerti. Coba ngobrol. Coba pahami. Coba cari tau.

3. Komunikasi.
Kalo lo ngerasa dimanfaatin, ngomong. Jangan diem. Jangan pendam. Jangan biarin rasa kesel numpuk. Ngomong dengan jelas. Ngomong dengan tenang. Ngomong dengan alasan. Kadang, orang nggak sadar kalo mereka jadi free rider. Kadang, mereka cuma butuh diingetin.

4. Bikin sistem yang jelas.
Kalo lo bagian dari kelompok, bikin aturan. Siapa ngerjain apa. Siapa bayar berapa. Siapa dapet apa. Sistem yang jelas bikin free rider lebih susah. Sistem yang jelas bikin kontribusi lebih terlihat.

5. Kasih konsekuensi.
Kalo ada yang nggak berkontribusi, kasih konsekuensi. Bukan hukuman yang kejam. Tapi konsekuensi yang adil. Mungkin dia nggak dapet manfaat. Mungkin dia nggak dapet nilai. Mungkin dia nggak dapet akses. Konsekuensi bikin orang mikir.

6. Hargai kontributor.
Jangan cuma fokus pada free rider. Hargai yang udah berkontribusi. Berterima kasih. Kasih apresiasi. Bikin mereka ngerasa dihargain. Bikin mereka ngerasa bahwa usaha mereka berarti.

7. Mulai dari diri sendiri.
Lo nggak bisa ngontrol orang lain. Lo cuma bisa ngontrol diri sendiri. Jadi, mulai dari diri sendiri. Tetep berkontribusi. Tetep peduli. Tetep kerja. Bukan karena orang lain. Tapi karena lo punya prinsip.

8. Terima bahwa lo nggak bisa ngubah semua orang.
Ada orang yang nggak peduli. Ada orang yang nggak mau berubah. Ada orang yang milih jadi free rider. Lo nggak bisa maksa mereka. Lo cuma bisa milih. Tetep berkontribusi atau nggak. Dan terima konsekuensinya.

9. Cari keseimbangan.
Lo nggak harus jadi pahlawan yang ngorbanin segalanya. Lo nggak harus jadi martir yang capek sendiri. Cari keseimbangan. Kontribusi secukupnya. Peduli secukupnya. Jaga diri lo juga. Jangan sampe lo burnout.

10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin kenapa orang jadi free rider. Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin kenapa sistem ini nggak adil. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Jadi Free Rider

Yang paling lo takutin bukan jadi free rider. Bukan jadi penumpang gratis. Bukan jadi orang yang nggak berkontribusi.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo udah capek. Kalo lo sadar lo udah nggak peduli. Kalo lo sadar lo udah berhenti berusaha. Kalo lo sadar lo udah jadi sama kayak mereka. Dan lo nggak bisa balik lagi. Karena lo udah kehilangan alasan buat peduli.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa milih. Kalo lo sadar, lo bisa berubah. Kalo lo sadar, lo bisa mulai dari sekarang. Kalo lo sadar, lo bisa cari alasan baru. Kalo lo sadar, lo bisa nemuin prinsip yang lebih kuat.

Free Rider Problem bukan tentang nyalahin diri lo. Dia tentang ngingetin lo bahwa lo punya pilihan. Dia tentang ngingetin lo bahwa lo punya nilai. Dia tentang ngingetin lo bahwa lo punya peran.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Free Rider Problem ngajarin satu hal yang menantang. Lo bisa dapet manfaat tanpa berkontribusi. Lo bisa nikmatin hasil kerja orang lain tanpa ikut kerja. Lo bisa jadi penumpang gratis.

Ini bisa berasa menggoda. Kalo lo bisa dapet tanpa usaha, kenapa harus usaha? Tapi ini juga bisa berasa mengganggu. Karena kalo semua orang jadi free rider, nggak ada yang kerja. Nggak ada yang bayar. Nggak ada yang peduli.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah ngerasa dimanfaatin? Lo pernah ngerasa jadi satu-satunya yang peduli? Lo pernah mikir “mending gue nggak ikut usaha juga”?

Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo tetep berkontribusi? Apa lo ikut jadi free rider? Apa lo nyoba ngubah sistem? Atau lo cuma diem dan ngerasa capek?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai sadar. Lo cuma harus mulai milih.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain kontribusi lo dan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *