Falsificationism: Mengapa Ilmu yang Baik Harus Berani Salah?
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang mengklaim memiliki jawaban untuk segala hal? Apa pun yang terjadi, ia selalu punya penjelasan. Jika ramalannya tepat, ia bilang itu bukti kehebatannya. Jika ramalannya meleset, ia bilang itu karena faktor lain, atau karena Anda kurang percaya. Ia tidak pernah salah. Ia selalu benar. Tetapi justru karena ia tidak pernah bisa salah, kita merasa ada yang tidak beres. Klaimnya terasa kosong. Klaimnya terasa tidak ilmiah.
Lalu muncul pertanyaan. Apa yang membedakan ilmu yang sebenarnya dari klaim yang hanya tampak ilmiah? Apa yang membuat sains begitu kuat? Apakah karena sains selalu benar? Atau karena sains berani salah?
Seorang filsuf Austria-Inggris bernama Karl Popper mengajukan jawaban yang menantang. Ia mengatakan bahwa ilmu bukanlah tentang mencari pembenaran. Ilmu adalah tentang mencari kesalahan. Gagasannya dikenal sebagai Falsificationism. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Siapa Itu Karl Popper?
Karl Popper lahir pada tahun 1902 di Wina, Austria. Ia hidup di zaman yang penuh gejolak. Ia melihat bangkitnya totalitarianisme. Ia melihat bagaimana ideologi-ideologi besar mengklaim memiliki kebenaran mutlak. Ia melihat bagaimana sains bisa disalahgunakan. Ia ingin menemukan cara untuk membedakan pengetahuan yang sah dari klaim yang kosong.
Popper menulis banyak buku. Salah satu yang paling terkenal adalah “The Logic of Scientific Discovery,” yang diterbitkan pada tahun 1934. Di dalam buku itu, ia mengajukan gagasan tentang falsifikasi. Ia ingin membedakan sains dari pseudosains. Ia ingin menunjukkan bahwa sains bukanlah tentang mengumpulkan bukti yang mendukung, tetapi tentang berani menguji dan menyalahkan teori.
Apa Itu Falsificationism?
Falsificationism adalah pandangan bahwa sebuah teori atau hipotesis disebut ilmiah hanya jika ia bisa difalsifikasi. Artinya, harus ada kemungkinan bahwa teori itu salah. Harus ada bukti atau pengamatan yang, jika ditemukan, akan membuktikan bahwa teori itu tidak benar.
Popper menolak gagasan bahwa sains maju dengan mengumpulkan bukti yang mendukung. Menurutnya, tidak peduli berapa banyak angsa putih yang Anda lihat, Anda tidak bisa membuktikan bahwa semua angsa itu putih. Satu angsa hitam saja sudah cukup untuk menyalahkan teori itu. Jadi, kekuatan sains bukan pada kemampuannya membuktikan kebenaran, tetapi pada kemampuannya membuktikan kesalahan.
Sebuah teori yang tidak bisa difalsifikasi bukanlah teori ilmiah. Ia mungkin terdengar mendalam. Ia mungkin terdengar meyakinkan. Tetapi jika tidak ada satu pun kemungkinan yang bisa menyalahkannya, maka teori itu tidak memberi kita pengetahuan apa pun. Ia hanya memberi kita ilusi pengetahuan.
Contoh: Angsa Hitam
Popper sering menggunakan contoh angsa. Bayangkan seseorang mengatakan, “Semua angsa itu putih.” Anda bisa pergi ke seluruh dunia dan melihat jutaan angsa. Semuanya putih. Apakah itu membuktikan bahwa semua angsa putih? Tidak. Seberapa pun banyaknya angsa putih yang Anda lihat, masih ada kemungkinan ada satu angsa hitam di suatu tempat yang belum Anda lihat.
Tetapi jika Anda suatu hari menemukan satu angsa hitam, maka teori “semua angsa putih” langsung runtuh. Satu pengamatan saja cukup untuk menyalahkan teori itu. Itulah kekuatan falsifikasi.
Contoh: Teori Gravitasi
Ambil contoh teori gravitasi Newton. Teori ini mengatakan bahwa setiap benda bermassa menarik benda lain dengan gaya tertentu. Teori ini sangat berhasil. Ia bisa memprediksi gerak planet, jatuhnya apel, dan pasang surut air laut. Tetapi teori ini juga bisa difalsifikasi. Jika suatu hari ada benda yang tidak mengikuti hukum gravitasi Newton, maka teori itu salah. Dan memang, kemudian Einstein menunjukkan bahwa teori Newton tidak berlaku dalam kondisi ekstrem. Teori Newton direvisi. Itulah sains.
Contoh: Astrologi dan Psikoanalisis
Popper sangat kritis terhadap astrologi dan beberapa bentuk psikoanalisis. Menurutnya, kedua bidang itu tidak ilmiah karena tidak bisa difalsifikasi. Astrologi bisa menjelaskan apa pun. Jika seseorang lahir dengan zodiak tertentu dan menjadi sukses, itu karena bintangnya. Jika ia gagal, itu karena aspek lain. Tidak ada pengamatan yang bisa menyalahkan astrologi. Ia selalu punya alasan.
Psikoanalisis, menurut Popper, juga sering tidak bisa difalsifikasi. Jika seseorang setuju dengan teori Freud, itu bukti teori itu benar. Jika ia menolak, itu bukti bahwa ia sedang dalam penyangkalan. Teori itu tidak bisa salah. Karena tidak bisa salah, ia tidak memberi pengetahuan yang bisa diuji.
Maksudnya begini.
Popper tidak sedang menilai apakah astrologi atau psikoanalisis itu benar atau salah. Ia menilai apakah keduanya bisa disebut ilmu atau tidak. Menurut Popper, syarat sebuah teori disebut ilmiah adalah teori itu harus bisa dibuktikan salah. Kalau sebuah teori tidak mungkin salah, maka teori itu tidak ilmiah.
Contoh astrologi:
Ramalan astrologi sering dibuat begitu lentur sehingga apa pun yang terjadi bisa dianggap cocok.
Kalau Anda sukses, dikatakan karena bintang Anda bagus.
Kalau Anda gagal, dikatakan karena ada aspek lain yang menyeimbangkan.
Kalau Anda sakit, ada penjelasan. Kalau Anda sehat, ada penjelasan juga.
Jadi, tidak ada hasil pengamatan yang bisa membuat astrologi salah. Astrologi selalu punya alasan untuk membenarkan dirinya. Karena tidak bisa disalahkan, astrologi tidak ilmiah menurut Popper.
Contoh psikoanalisis menurut Popper:
Popper mengkritik sebagian teori Freud karena dianggap punya masalah serupa.
Kalau pasien setuju dengan tafsir Freud, itu dianggap bukti teori itu benar.
Kalau pasien menolak, penolakan itu dianggap bukti bahwa pasien sedang menyangkal atau menekan sesuatu di bawah sadar.
Jadi, baik setuju maupun menolak sama-sama dipakai untuk membenarkan teori. Tidak ada respons yang bisa membuat teori itu salah. Karena tidak bisa disalahkan, teori itu tidak memberi pengetahuan yang bisa diuji.
Intinya:
Ilmu yang baik harus berani memasang taruhan. Ia harus berkata, “Jika pengamatan ini terjadi, maka teori saya salah.” Kalau teori tidak pernah mau salah, ia bukan ilmu. Ia hanya keyakinan, tafsiran, atau klaim yang tidak bisa diuji.
Catatan penting: Popper tidak mengatakan astrologi pasti salah atau psikoanalisis tidak berguna. Ia hanya mengatakan keduanya tidak memenuhi syarat sebagai ilmu menurut kriteria falsifikasi. Banyak orang juga memperdebatkan apakah kriteria Popper ini terlalu ketat.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya masalah filsafat sains. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang tidak pernah mau mengakui kesalahan? Pernahkah Anda mendengar klaim yang selalu bisa dibenarkan? Pernahkah Anda membaca berita yang tidak bisa diverifikasi? Pernahkah Anda mendengar teori konspirasi yang tidak bisa dibantah?
Falsificationism mengajak kita untuk bertanya, “Apa yang bisa menyalahkan klaim ini? Bukti seperti apa yang akan membuat klaim ini runtuh?” Jika tidak ada jawaban, maka klaim itu tidak ilmiah. Klaim itu hanya keyakinan. Klaim itu hanya opini.
Falsificationism juga muncul dalam kedokteran. Ketika dokter membuat diagnosis, mereka membuat hipotesis. Mereka menguji hipotesis itu dengan tes. Jika tes menunjukkan hasil yang bertentangan, mereka merevisi diagnosis. Mereka tidak bertahan pada diagnosis yang salah.
Falsificationism juga muncul dalam bisnis. Ketika perusahaan membuat strategi, mereka membuat asumsi. Mereka menguji asumsi itu dengan data. Jika data menunjukkan bahwa asumsi itu salah, mereka mengubah strategi. Mereka tidak bertahan pada rencana yang gagal.
Falsificationism juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda membuat keputusan, Anda membuat prediksi. Anda menguji prediksi itu dengan kenyataan. Jika kenyataan tidak sesuai, Anda belajar. Anda berubah. Anda tidak bertahan pada keyakinan yang sudah terbukti salah.
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang mahasiswa percaya bahwa ia tidak bisa belajar matematika. Ia sudah mencoba sekali dan gagal. Ia menyimpulkan bahwa ia memang bodoh matematika. Ia tidak pernah menguji keyakinan itu. Ia tidak pernah mencoba cara belajar yang berbeda. Ia tidak pernah mencari bukti yang bisa menyalahkan keyakinannya. Falsificationism mengajaknya untuk bertanya, “Apa yang bisa membuktikan bahwa saya bisa belajar matematika? Bagaimana jika saya mencoba metode lain?”
Seorang karyawan percaya bahwa atasannya tidak menyukainya. Ia melihat setiap tindakan atasan sebagai bukti kebencian. Jika atasan tersenyum, itu berarti ia menyembunyikan kebencian. Jika atasan marah, itu berarti ia memang membenci. Keyakinan itu tidak bisa difalsifikasi. Tidak ada yang bisa menyalahkannya. Falsificationism mengajaknya untuk bertanya, “Apa yang bisa membuktikan bahwa atasan saya tidak membenci saya? Apakah ada bukti yang bertentangan?”
Seorang pengguna media sosial percaya pada teori konspirasi. Setiap berita yang membantah teori itu dianggap bagian dari konspirasi. Setiap bukti yang mendukung dianggap sebagai kebenaran. Teori itu tidak bisa salah. Falsificationism mengajaknya untuk bertanya, “Apa yang bisa menyalahkan teori ini? Apakah ada bukti yang akan membuat saya berubah pikiran?”
Seorang dokter mendiagnosis pasien dengan penyakit tertentu. Ia memberikan obat. Pasien tidak membaik. Dokter itu bisa bertahan pada diagnosisnya. Ia bisa mengatakan bahwa obatnya butuh waktu. Ia bisa mengatakan bahwa pasiennya tidak patuh. Atau ia bisa menggunakan falsificationism. Ia bisa bertanya, “Apakah diagnosis saya salah? Apakah ada penyakit lain yang lebih cocok?” Ia bisa menguji ulang.
Seorang ilmuwan mengembangkan teori. Ia mengumpulkan banyak data yang mendukung. Tetapi ia tidak berhenti di situ. Ia mencari data yang bisa menyalahkan teorinya. Ia melakukan eksperimen yang berani. Ia mencoba membuktikan bahwa teorinya salah. Jika teorinya bertahan, maka teorinya semakin kuat. Jika teorinya runtuh, maka ia belajar. Itulah sains.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Falsificationism bukan hanya teori sains. Ia adalah cara berpikir. Ia adalah sikap. Ia adalah keberanian untuk salah.
Tiga Fase Menghadapi Falsificationism
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda punya keyakinan. Anda punya teori. Anda mengumpulkan bukti yang mendukung. Anda merasa benar. Anda tidak mau mendengar bukti yang bertentangan.
Fase kedua, Anda mulai meragukan. Anda belajar tentang falsificationism. Anda menyadari bahwa keyakinan Anda mungkin tidak bisa difalsifikasi. Anda mulai bertanya, “Apa yang bisa menyalahkan keyakinan saya? Apakah saya berani menguji?”
Fase ketiga, Anda menguji. Anda mencari bukti yang bisa menyalahkan keyakinan Anda. Anda melakukan eksperimen. Anda bertanya pada orang lain. Anda membaca pendapat yang berbeda. Anda bersedia mengubah pikiran Anda jika bukti menunjukkan bahwa Anda salah. Itulah sikap ilmiah.
Cara Menyikapi Falsificationism
Pertama, beranilah salah. Jangan takut pada kesalahan. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar. Jika Anda tidak pernah salah, berarti Anda tidak pernah menguji keyakinan Anda.
Kedua, cari bukti yang menyalahkan. Jangan hanya mencari bukti yang mendukung. Cari bukti yang menantang. Cari bukti yang membuat Anda tidak nyaman. Itu adalah bukti yang paling berharga.
Ketiga, bedakan antara sains dan pseudosains. Ketika Anda mendengar klaim, tanyakan, “Apa yang bisa menyalahkan klaim ini? Apakah ada kemungkinan bahwa klaim ini salah?” Jika tidak ada, klaim itu tidak ilmiah.
Keempat, jangan bertahan pada keyakinan yang sudah terbukti salah. Jika bukti menunjukkan bahwa Anda salah, akui. Ubah pikiran Anda. Jangan biarkan ego menghalangi pembelajaran.
Kelima, gunakan falsificationism pada diri sendiri. Ketika Anda membuat keputusan, pikirkan bagaimana Anda bisa mengujinya. Pikirkan apa yang bisa membuktikan bahwa keputusan Anda salah. Lalu cari bukti itu.
Keenam, hargai kritik. Kritik adalah alat falsifikasi. Ketika seseorang mengkritik Anda, dengarkan. Jangan langsung membela diri. Tanyakan, “Apakah kritik ini valid? Apakah ada kebenaran di dalamnya?”
Ketujuh, jangan menjadi dogmatis. Dogma adalah keyakinan yang tidak bisa difalsifikasi. Dogma adalah keyakinan yang tidak mau diuji. Jauhi dogma. Peluk keterbukaan.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Anda mungkin salah. Terimalah bahwa pengetahuan Anda terbatas. Terimalah bahwa Anda perlu terus belajar.
Kritik terhadap Falsificationism
Falsificationism tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan ilmuwan menolak atau meragukan gagasan ini.
Pertama, terlalu kaku. Dalam praktiknya, ilmuwan tidak langsung membuang teori hanya karena satu eksperimen gagal. Mereka sering merevisi teori, menambahkan asumsi, atau mencari penjelasan lain. Teori ilmiah tidak selalu hitam putih.
Kedua, beberapa teori sulit difalsifikasi. Teori evolusi, misalnya, sulit difalsifikasi secara langsung. Kita tidak bisa mengamati evolusi dalam waktu singkat. Tetapi kita bisa menguji prediksinya. Apakah itu cukup untuk disebut ilmiah?
Ketiga, falsificationism mengabaikan peran konfirmasi. Meskipun kita tidak bisa membuktikan teori dengan pasti, bukti yang mendukung tetap penting. Bukti yang mendukung memberi kita keyakinan bahwa teori itu berguna.
Keempat, sejarah sains menunjukkan bahwa teori sering bertahan meskipun ada anomali. Contohnya, teori Newton bertahan selama berabad-abad meskipun ada pengamatan yang tidak sesuai. Teori itu baru digantikan setelah ada teori yang lebih baik.
Kelima, Popper terlalu optimis tentang rasionalitas ilmuwan. Ilmuwan juga manusia. Mereka punya ego. Mereka punya kepentingan. Mereka tidak selalu mau mengakui kesalahan. Falsificationism mengasumsikan bahwa ilmuwan akan jujur dan terbuka. Kenyataannya tidak selalu begitu.
Penutup
Falsificationism mengajarkan satu hal yang menantang. Ilmu bukanlah tentang memiliki jawaban yang pasti. Ilmu adalah tentang berani bertanya. Ilmu adalah tentang berani menguji. Ilmu adalah tentang berani salah.
Ini bisa terasa menakutkan. Jika kita tidak pernah bisa yakin bahwa kita benar, bagaimana kita bisa hidup? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu sempurna. Kita tidak perlu tahu segalanya. Kita hanya perlu jujur. Kita hanya perlu terbuka. Kita hanya perlu berani.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah keyakinan Anda bisa difalsifikasi? Apakah ada bukti yang bisa menyalahkan keyakinan Anda? Dan jika ada, apakah Anda berani mencarinya? Atau apakah Anda lebih suka bertahan pada keyakinan yang tidak pernah bisa salah?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai berani salah.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Falsificationism: Kenapa Teori yang Nggak Bisa Disalahin Justru Bukan Sains?
Coba inget lagi. Lo lagi debat sama seseorang. Mungkin soal kesehatan. Mungkin soal politik. Mungkin soal hubungan. Lo kasih argumen. Lo kasih bukti. Lo kasih contoh. Tapi dia selalu punya jawaban. Selalu ada pembenaran. Selalu ada alasan kenapa argumen lo nggak berlaku.
Lo bilang, “Tapi faktanya gini.” Dia bilang, “Ah, itu kebetulan.”
Lo bilang, “Tapi ada penelitiannya.” Dia bilang, “Ah, penelitian itu bisa salah.”
Lo bilang, “Tapi logikanya gini.” Dia bilang, “Ah, logika lo terbatas.”
Lo capek. Lo ngerasa debat ini nggak ada ujungnya. Lo ngerasa dia nggak bisa salah. Apapun yang lo bilang, dia selalu punya cara buat bertahan. Dia selalu punya cara buat membenarkan dirinya.
Terus lo mikir dalam hati. “Kalo dia nggak bisa salah, apa artinya dia bener? Kalo nggak ada bukti yang bisa bikin dia ganti pikiran, apa dia sebenernya tau sesuatu? Atau dia cuma percaya?”
Kalo lo pernah ada di situasi kayak gini, lo udah nyentuh salah satu prinsip paling penting dalam filsafat sains. Namanya Falsificationism. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat klaim-klaim di sekitar lo dengan mata yang beda.
Sebenernya Falsificationism Itu Apa Sih?
Falsificationism itu simpelnya gini: sebuah teori disebut ilmiah kalo dia bisa disalahin. Kalo dia nggak bisa disalahin, dia bukan sains.
Intinya, sains bukan tentang membuktikan sesuatu bener. Sains tentang mencoba membuktikan sesuatu salah. Kalo lo nyoba nyalahin teori, dan teori itu bertahan, berarti teori itu kuat. Kalo lo nyoba nyalahin teori, dan teori itu runtuh, berarti teori itu salah. Dan itu bagus. Karena sains maju lewat kesalahan.
Prinsip ini dikembangin sama filsuf Austria-Inggris namanya Karl Popper. Dia hidup di abad ke-20. Lahir 1902. Meninggal 1994. Dia salah satu filsuf sains paling berpengaruh dalam sejarah. Dia nulis buku terkenal judulnya The Logic of Scientific Discovery. Terbit 1934. Di buku itu, dia ngejelasin gagasannya tentang falsifikasi.
Popper ngerasa ada masalah sama cara orang ngerti sains. Waktu itu, banyak orang ngira sains itu tentang ngumpulin bukti yang mendukung. Semakin banyak bukti, semakin kuat teorinya. Semakin banyak contoh, semakin yakin kita bahwa teori itu bener.
Tapi Popper nggak setuju. Dia bilang, nggak ada jumlah bukti yang cukup buat membuktikan teori itu bener. Sejuta contoh yang mendukung nggak bisa jamin bahwa contoh ke-sejuta-satu juga bakal mendukung. Tapi satu contoh yang bertentangan bisa ngeruntuhin seluruh teori.
Contoh paling terkenal: “Semua angsa itu putih.” Lo bisa ngamati seribu angsa. Semuanya putih. Lo bisa ngamati sejuta angsa. Semuanya putih. Tapi itu nggak membuktikan bahwa semua angsa putih. Karena suatu hari, bisa aja ada satu angsa hitam. Dan begitu lo nemuin angsa hitam, teori “semua angsa putih” langsung runtuh.
Jadi, menurut Popper, yang bikin sains itu ilmiah bukan kemampuannya dibuktikan bener. Tapi kemampuannya disalahin. Kalo sebuah teori nggak bisa disalahin, dia bukan sains.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat sains. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Falsificationism nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah debat sama orang yang nggak bisa salah. Apapun yang lo bilang, dia selalu punya jawaban. Apapun buktinya, dia selalu punya pembenaran. Lo capek. Lo ngerasa debat ini sia-sia. Falsificationism ngasih lo alat buat ngerti kenapa debat itu nggak ada ujungnya. Karena klaimnya nggak bisa disalahin. Dan kalo nggak bisa disalahin, dia bukan klaim yang bisa diuji.
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa keyakinan lo nggak bisa digoyahin. Lo yakin banget sama sesuatu. Apapun yang orang bilang, lo tetep yakin. Apapun buktinya, lo tetep percaya. Falsificationism ngajak lo buat nanya: “Apa yang bisa bikin gue ganti pikiran? Kalo nggak ada, berarti gue nggak percaya karena bukti. Gue cuma percaya.”
Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa sains itu pasti. Lo percaya penelitian. Lo percaya dokter. Lo percaya ilmuwan. Lo ngira sains itu bener. Tapi Falsificationism ngajarin bahwa sains nggak pernah bener. Sains cuma belum salah. Sains cuma bertahan dari ujian. Sains bisa runtuh kapan aja kalo ada bukti baru.
Keempat, lo mungkin pernah denger klaim yang kedengeran ilmiah tapi sebenernya nggak bisa diuji. Ramalan. Teori konspirasi. Pseudosains. Semua itu sering nggak bisa disalahin. Apapun buktinya, mereka selalu punya jawaban. Dan itu tanda bahwa mereka bukan sains.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Prinsip Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah debat sama orang yang nggak bisa salah? Itu tanda lo lagi nyentuh Falsificationism.
Lo pernah ngerasa keyakinan lo nggak bisa digoyahin? Itu tanda lo perlu nanya apa yang bisa bikin lo ganti pikiran.
Lo pernah denger klaim yang selalu punya pembenaran? Itu tanda lo lagi ngadepin klaim yang nggak bisa difalsifikasi.
Lo pernah ngerasa sains itu pasti? Itu tanda lo perlu ngerti bahwa sains cuma belum salah.
Lo pernah mikir “kalo nggak bisa disalahin, apa artinya bener?” Itu tanda lo lagi mikir.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener penting. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di debat. Seseorang bilang, “Energi positif itu nyata. Kalo lo ngerasa positif, lo bakal dapet hal positif.” Lo nanya, “Kalo lo ngerasa positif tapi tetep dapet hal negatif, gimana?” Dia jawab, “Berarti lo belum cukup positif.” Lo nanya, “Kalo lo ngerasa negatif tapi dapet hal positif, gimana?” Dia jawab, “Berarti alam semesta baik sama lo.” Apapun yang terjadi, teorinya nggak bisa salah. Dan kalo nggak bisa salah, dia bukan klaim yang bisa diuji.
Di agama. Seseorang bilang, “Kalo doa lo nggak dikabulin, berarti belum waktunya.” Atau, “Kalo doa lo dikabulin, berarti Tuhan baik.” Atau, “Kalo doa lo nggak dikabulin, berarti Tuhan ngasih yang lebih baik.” Apapun hasilnya, klaimnya nggak bisa salah. Tapi Popper nggak bilang agama itu salah. Dia cuma bilang agama bukan sains. Karena sains harus bisa diuji. Harus bisa disalahin.
Di medsos. Ada yang bilang, “Vaksin itu bahaya.” Lo nanya, “Tapi ada penelitian yang bilang vaksin aman.” Dia jawab, “Itu penelitian yang dibayar perusahaan farmasi.” Lo nanya, “Tapi ada penelitian independen.” Dia jawab, “Itu juga dibayar.” Apapun buktinya, dia selalu punya jawaban. Teorinya nggak bisa disalahin. Dan kalo nggak bisa disalahin, dia bukan klaim yang bisa diuji.
Di psikologi pop. Ada yang bilang, “Kalo lo pemalu, berarti lo trauma masa kecil.” Lo nanya, “Tapi ada orang yang pemalu tapi nggak trauma.” Dia jawab, “Berarti traumanya nggak disadari.” Lo nanya, “Kalo ada orang yang trauma tapi nggak pemalu.” Dia jawab, “Berarti dia nyembunyiin.” Apapun yang terjadi, teorinya nggak bisa salah.
Di diri lo sendiri. Lo yakin lo gagal karena lo nggak cukup usaha. Kalo lo berhasil, lo bilang, “Ya karena gue usaha.” Kalo lo gagal, lo bilang, “Ya karena gue kurang usaha.” Apapun hasilnya, keyakinan lo nggak berubah. Falsificationism ngajak lo nanya: “Apa yang bisa bikin gue ngubah keyakinan ini? Kalo nggak ada, berarti gue nggak percaya karena bukti. Gue cuma percaya.”
Fase-Fase Lo Ngadepin Prinsip Ini
Fase pertama: lo ngerasa yakin.
Lo percaya sama sesuatu. Lo yakin itu bener. Lo nggak pernah nanya apa yang bisa bikin lo ganti pikiran. Lo nggak pernah nanya apa yang bisa bikin keyakinan lo runtuh. Lo cuma ngumpulin bukti yang mendukung.
Fase kedua: lo ngeraguin.
Lo mulai nanya, “Apa keyakinan gue ini bisa diuji? Apa ada bukti yang bisa bikin gue ganti pikiran? Apa ada skenario yang bisa bikin keyakinan gue runtuh?” Lo mulai nyari bukti yang bertentangan. Lo mulai nyari alibi.
Fase ketiga: lo belajar.
Lo nyadar bahwa keyakinan yang nggak bisa disalahin itu nggak punya kekuatan. Lo mulai lebih terbuka. Lo mulai lebih jujur. Lo mulai lebih berani ngaku, “Gue mungkin salah. Dan ini yang bisa bikin gue ganti pikiran.”
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Falsificationism nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin prinsip ini.
Pertama, apa sains beneran cuma tentang falsifikasi? Ilmuwan sering ngejar teori yang bener. Mereka nggak cuma nyoba nyalahin. Mereka juga nyoba buktiin. Falsifikasi itu penting. Tapi bukan satu-satunya.
Kedua, apa ada klaim yang bener-bener nggak bisa disalahin? Bahkan klaim “semua angsa putih” bisa disalahin. Tapi gimana dengan klaim “ada angsa putih”? Klaim itu sulit disalahin. Tapi dia juga nggak begitu berguna.
Ketiga, apa falsifikasi selalu mungkin? Dalam praktik, ilmuwan sering nggak langsung nolak teori cuma karena ada satu anomali. Mereka sering nyari penjelasan. Mereka sering ngubah teori. Mereka sering nerima anomali sementara. Jadi falsifikasi nggak sesederhana yang Popper bilang.
Keempat, apa psikoanalisis dan teori Marxis beneran bukan sains? Popper bilang dua-duanya bukan sains karena nggak bisa difalsifikasi. Tapi banyak orang ngerasa dua-duanya punya nilai. Mungkin nggak sebagai sains. Tapi sebagai kerangka berpikir.
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Falsificationism punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang prinsip ini sempurna. Mereka sering bilang prinsip ini alat yang berguna.
Mereka bilang falsifikasi adalah garis pembeda. Antara sains dan bukan sains. Antara klaim yang bisa diuji dan klaim yang nggak bisa diuji. Dan garis itu berguna.
Mereka juga bilang sains maju lewat kesalahan. Lewat teori yang runtuh. Lewat hipotesis yang gagal. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari proses.
Mereka juga bilang falsifikasi ngajarin kerendahan hati. Ilmuwan nggak boleh sombong. Ilmuwan nggak boleh ngira teorinya pasti bener. Ilmuwan harus selalu siap salah.
Cara Nyikapin Falsificationism Tanpa Kehilangan Akal
1. Tanya: “Apa yang bisa bikin gue salah?”
Kalo lo punya keyakinan, tanya. Apa bukti yang bisa bikin lo ganti pikiran? Kalo nggak ada, curiga. Mungkin lo nggak percaya karena bukti. Mungkin lo cuma percaya karena nyaman.
2. Bedain antara sains dan pseudosains.
Sains bisa disalahin. Pseudosains nggak bisa disalahin. Kalo ada klaim yang selalu punya jawaban, curiga. Kalo ada klaim yang apapun buktinya tetep bertahan, curiga.
3. Jangan takut salah.
Salah itu bagian dari belajar. Teori yang runtuh itu teori yang berguna. Karena dia ngasih tau kita apa yang nggak bener. Dan itu bikin kita lebih deket ke yang bener.
4. Jangan cuma ngumpulin bukti yang mendukung.
Cari bukti yang bertentangan. Cari alibi. Cari skenario yang bikin teori lo runtuh. Kalo teori lo bertahan, berarti teori lo kuat. Kalo teori lo runtuh, berarti lo belajar sesuatu.
5. Jangan ngeklaim lebih dari yang lo tau.
Jangan bilang “pasti.” Bilang “sejauh yang gue tau.” Jangan bilang “selalu.” Bilang “setau gue, selalu.” Bahasa lo nentuin cara pikir lo.
6. Terima ketidakpastian.
Sains nggak pernah pasti. Sains cuma belum salah. Sains bisa berubah kapan aja. Dan itu bukan kelemahan. Itu kekuatan. Karena sains mau belajar.
7. Bedain antara keyakinan pribadi dan klaim ilmiah.
Lo boleh punya keyakinan pribadi. Lo boleh punya agama. Lo boleh punya filosofi. Tapi jangan campur aduk. Kalo lo ngeklaim sesuatu sebagai sains, dia harus bisa diuji. Dia harus bisa disalahin.
8. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Nggak ada yang tau segalanya. Sains nggak tau segalanya. Ilmuwan nggak tau segalanya. Terimalah itu. Dan teruslah belajar.
9. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa buktiin teori lo bener. Lo cuma bisa buktiin teori lo belum salah. Dan itu cukup. Itu cukup buat melangkah.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Kesalahan
Yang paling lo takutin bukan kesalahan. Bukan kekeliruan. Bukan teori yang runtuh.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo udah pegang keyakinan yang nggak bisa disalahin. Kalo lo sadar lo udah percaya sesuatu tanpa bukti. Kalo lo sadar lo udah nolak bukti karena lo nggak mau salah. Kalo lo sadar lo udah jadi orang yang nggak bisa digoyahin. Bukan karena kuat. Tapi karena nggak mau denger.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa lebih terbuka. Kalo lo sadar, lo bisa lebih jujur. Kalo lo sadar, lo bisa lebih berani. Kalo lo sadar, lo bisa lebih rendah hati. Kalo lo sadar, lo bisa lebih bijak.
Falsificationism bukan tentang ngerusak keyakinan. Dia tentang ngasih lo alat buat ngeuji keyakinan. Dia tentang ngajarin lo buat rendah hati. Dia tentang ngajarin lo buat belajar.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Falsificationism ngajarin satu hal yang menantang. Sains bukan tentang membuktikan bener. Sains tentang mencoba nyalahin. Teori yang nggak bisa disalahin bukan sains. Teori yang nggak bisa disalahin nggak punya kekuatan.
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo sains nggak pernah pasti, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Kita nggak perlu punya semua jawaban. Kita nggak perlu yakin 100 persen. Kita cuma perlu terus belajar. Terus uji. Terus terbuka.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Apa keyakinan lo yang nggak bisa disalahin? Apa yang lo pegang sampe lo nggak mau denger bukti lain? Dan kalo keyakinan itu diuji, lo siap nggak? Lo siap nggak kalo ternyata lo salah?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai nanya. Lo cuma harus mulai terbuka.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngeuji keyakinan lo sendiri.
