buku

Buku Astrophysics for People in a Hurry Neil deGrasse Tyson and Blackstone Audio, Inc., Kisah Terhebat yang Pernah Diceritakan

Astrophysics for People in a HurryNeil deGrasse Tyson and Blackstone Audio, Inc.
Astrophysics for People in a Hurry
Neil deGrasse Tyson and Blackstone Audio, Inc.

Sahabat, kali ini kita akan menjelajahi
sebuah buku yang mengajak kita
melesat ke bintang-bintang.
Astrophysics for People in a
Hurry
 karya Neil deGrasse Tyson
adalah panduan singkat bagi siapa pun
yang ingin memahami alam semesta
tanpa harus bergelut dengan
rumus-rumus fisika yang rumit.
Tyson menulis dengan suara yang
bersahabat, seolah-olah ia sedang
duduk di sampingmu sambil
menunjuk ke langit malam dan
berkata, “Lihatlah ini. Dan inilah
yang kita ketahui tentangnya.”
Mari kita mulai dari Bab 1 dan Bab 2.

Bab 1: Kisah Terhebat yang
Pernah Diceritakan

Neil deGrasse Tyson membuka
bukunya dengan satu pernyataan
berani: sains telah berhasil
mengungkapkan kisah terhebat yang
pernah diceritakan. Ini bukanlah
dongeng yang diwariskan dari
generasi ke generasi, bukan pula
mitos yang lahir dari imajinasi para
leluhur. Ini adalah narasi yang ditulis
oleh alam semesta itu sendiri, dan
para ilmuwan hanya bertugas
membacanya dengan alat-alat yang
semakin canggih.

Kisah ini dimulai 13,8 miliar tahun
yang lalu. Pada saat itu, segala sesuatu
yang ada, setiap partikel, setiap energi,
seluruh ruang, berada dalam satu titik
yang sangat kecil dan sangat padat.
Titik ini disebut sebagai singularitas.
Tidak ada ruang di luar titik ini.
Tidak ada waktu sebelum titik ini.
Pertanyaan tentang apa yang terjadi
“sebelum” Big Bang tidak memiliki
arti, karena waktu itu sendiri lahir
bersama dengan Big Bang.

Lalu, dalam sekejap yang tidak bisa
dibayangkan singkatnya,
alam semesta mulai mengembang.
Tyson menggambarkan peristiwa ini
bukan sebagai ledakan di dalam
ruang, melainkan sebagai
pengembangan ruang itu sendiri.
Bayangkan sebuah balon yang ditiup.
Titik-titik di permukaan balon akan
saling menjauh, bukan karena mereka
bergerak di atas permukaan,
melainkan karena permukaannya
yang meregang. Seperti itulah alam
semesta mengembang.

Selama 380.000 tahun pertama, alam
semesta adalah tempat yang sangat
panas dan padat. Begitu panasnya
sehingga atom tidak bisa terbentuk.
Proton, neutron, dan elektron
beterbangan bebas, terus-menerus
bertabrakan. Cahaya tidak bisa
menembus jauh karena ia langsung
diserap dan dipancarkan ulang oleh
partikel-partikel ini. Alam semesta
pada masa itu adalah sup partikel
dan radiasi yang keruh. Jika kamu
bisa berdiri di sana, kamu tidak
akan bisa melihat apa pun.

Kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi.
Alam semesta cukup mendingin.
Ketika suhu turun cukup rendah,
proton dan elektron bisa saling
menangkap dan membentuk atom
hidrogen yang stabil. Untuk pertama
kalinya, cahaya bisa bergerak bebas
tanpa terus-menerus dihamburkan.
Alam semesta menjadi transparan.
Cahaya itu, yang telah bergerak
selama 13,8 miliar tahun, masih bisa
kita deteksi hari ini.
Kita menyebutnya sebagai radiasi
latar belakang gelombang mikro
kosmik atau 
Cosmic Microwave
Background
 (Radiasi Latar Belakang
Gelombang Mikro Kosmik).
Ini adalah foto bayi alam semesta,
potret dari masa ketika ia baru
berusia 380.000 tahun.

Atom-atom hidrogen dan helium
sederhana itu mulai berkumpul
di bawah tarikan gravitasi. Mereka
membentuk awan-awan raksasa.
Awan-awan ini runtuh dan memanas,
sampai akhirnya di pusatnya, tekanan
dan suhu begitu tinggi sehingga fusi
nuklir menyala. Bintang-bintang
pertama lahir. Bintang-bintang ini
berkumpul dalam
kelompok-kelompok raksasa yang
kita sebut galaksi. Di dalam
bintang-bintang inilah unsur-unsur
berat seperti karbon, nitrogen, dan
oksigen ditempa.
Ketika bintang-bintang itu mati dan
meledak sebagai supernova, mereka
menyebarkan unsur-unsur itu
ke seluruh ruang angkasa,
menyediakan bahan baku untuk
planet-planet, untuk lautan, untuk
kehidupan, dan pada akhirnya,
untuk kita.

Inilah narasi yang dijabarkan oleh
sains. Bukan berdasarkan spekulasi
atau wahyu, melainkan berdasarkan
bukti pengamatan, eksperimen, dan
perhitungan matematis yang ketat.
Tyson menyebutnya sebagai
“the greatest story ever told”
(kisah terhebat yang pernah
diceritakan)
karena ia melampaui batas-batas
suku, bangsa, dan agama.
Ia adalah milik seluruh umat
manusia.

Bab 2: “Di bumi seperti di surga”,

Setelah menceritakan kisah besar
alam semesta, Neil deGrasse Tyson
membawa kita ke sebuah terobosan
pemikiran yang mengubah segalanya.
Bab ini berjudul “On Earth as in the
Heavens”, frasa yang diambil dari
doa yang sudah sangat dikenal,
tetapi di sini digunakan dalam
konteks yang sama sekali baru.
Tyson menekankan bahwa hukum
fisika yang berlaku di Bumi sama
persis dengan hukum fisika yang
berlaku di seluruh alam semesta.

Ini bukanlah kesimpulan yang selalu
jelas bagi umat manusia.
Selama ribuan tahun, orang percaya
bahwa langit dan Bumi adalah dua
wilayah yang terpisah, diatur oleh
aturan yang berbeda. Benda-benda
langit dianggap bergerak karena
digerakkan oleh makhluk ilahi, atau
karena mereka terbuat dari unsur
kelima yang berbeda dari tanah, air,
udara, dan api yang ada di Bumi.
Pemisahan ini membuat langit
tampak misterius dan tidak
terjangkau.

Isaac Newton mengubah segalanya.
Pada tahun 1666, ketika ia masih
berusia dua puluh tiga tahun dan
sedang mengasingkan diri
di pedesaan untuk menghindari
wabah, Newton mengajukan sebuah
pertanyaan yang sangat sederhana
namun revolusioner:
bagaimana jika gaya yang membuat
apel jatuh dari pohon adalah gaya
yang sama yang menjaga Bulan
tetap mengorbit Bumi?

Ini adalah lompatan imajinasi yang
sangat berani. Sebuah apel yang jatuh
dan Bulan yang mengorbit tampak
seperti dua fenomena yang sama
sekali berbeda. Tetapi Newton
menyadari bahwa Bulan sebenarnya
terus-menerus “jatuh” ke arah Bumi.
Ia hanya tidak pernah sampai
ke permukaan karena ia bergerak
ke samping dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Gravitasi yang
dirasakan oleh apel dan gravitasi
yang dirasakan oleh Bulan adalah
satu dan sama.

Prinsip universalitas hukum fisika ini
adalah fondasi dari semua astrofisika
modern. Jika hukum fisika di sini
berlaku di mana-mana, maka kita
bisa mempelajari bintang-bintang
yang jauh seolah-olah mereka ada
di laboratorium kita. Kita tidak perlu
pergi ke sana. Kita cukup mengamati
cahaya yang datang dari mereka.

Bagaimana caranya?
Tyson menjelaskan tentang sebuah
alat yang disebut spektroskopi.
Ketika cahaya dari sebuah bintang
dilewatkan melalui prisma atau kisi
difraksi, ia terurai menjadi spektrum
warna, seperti pelangi.
Tetapi spektrum bintang tidak
mulus. Ada garis-garis gelap
di dalamnya, seperti kode batang
kosmik. Setiap garis gelap itu
mewakili sebuah unsur kimia tertentu
yang telah menyerap cahaya pada
panjang gelombang tertentu.

Dengan mempelajari kode batang ini,
para astronom bisa mengetahui
bahwa bintang Betelgeuse
mengandung besi, bahwa nebula
Orion penuh dengan hidrogen,
dan bahwa galaksi Andromeda
terbuat dari unsur-unsur yang sama
persis dengan yang ada di Bumi.
Kita tidak perlu mengunjungi
bintang-bintang itu. Cahayanya
sudah membawa pesan tentang
komposisinya langsung kepada kita.

Tyson menutup bab ini dengan satu
implikasi yang menakjubkan. Alam
semesta ini besar dan tampak asing,
tetapi ia sebenarnya sangat akrab.
Ia terbuat dari bahan yang sama. Ia
tunduk pada aturan yang sama.
Helium ditemukan di Matahari
sebelum ditemukan di Bumi, dan
itulah mengapa unsur itu dinamai
dari kata Yunani untuk Matahari,
“Helios”. Ini adalah bukti bahwa kita
bisa mempelajari kosmos dengan
percaya diri, karena hukum alam
bersifat universal. Seperti di Bumi,
begitu juga di langit.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kali ini kita ngeluncur
ke bintang-bintang. Buku yang bakal
kita bedah adalah 
Astrophysics for
People in a Hurry
 karya Neil
deGrasse Tyson. Sesuai judulnya, ini
panduan singkat buat lo yang pengen
ngerti alam semesta, tapi males
bergelut sama rumus-rumus fisika
yang bikin kepala pusing.
Tyson nulis dengan suara yang
bersahabat banget. Kayak dia lagi
duduk di samping lo, nunjuk ke langit
malam, terus ngomong, “Liat deh itu.
Nah, begini lho ceritanya.”

Bab 1: Kisah Terhebat yang
Pernah Diceritakan

Neil deGrasse Tyson buka bukunya
dengan pernyataan berani. Sains tuh
udah berhasil ngungkapin kisah
TERHEBAT yang pernah diceritakan.
Ini bukan dongeng turun-temurun
atau mitos hasil imajinasi leluhur.
Ini adalah narasi yang DITULIS
sendiri oleh alam semesta, dan para
ilmuwan cuma bertugas bacain
pake alat yang makin canggih.

Kisah ini dimulai 13,8 miliar tahun
yang lalu. Saat itu, segala sesuatu
yang ada. Setiap partikel, setiap
energi, seluruh ruang. Semua
berhimpitan dalam satu titik yang
super kecil dan super padat.
Titik ini disebut SINGULARITAS.
Nah, di luar titik ini gak ada ruang.
Sebelum titik ini gak ada waktu.
Pertanyaan “apa yang terjadi
sebelum Big Bang?” itu gak ada
artinya, gaes. Soalnya, WAKTU itu
sendiri lahir barengan sama Big Bang.

Lalu, dalam sekejap yang gak bisa
dibayangin singkatnya, alam semesta
mulai MENGEMBANG.
Tyson ngegambarin ini BUKAN
sebagai ledakan di dalam ruang.
Tapi sebagai PENGEMBANGAN
RUANG itu sendiri. Bayangin lo niup
balon. Titik-titik di permukaan balon
bakal saling menjauh. Bukan karena
mereka bergerak di atas permukaan,
tapi karena permukaannya yang
MEREGANG. Kayak gitulah alam
semesta mengembang.

Selama 380.000 tahun pertama, alam
semesta itu tempat yang panas banget
dan padet. Panasnya gila, sampe atom
aja gak bisa terbentuk. Proton,
neutron, dan elektron beterbangan
bebas, terus-terusan nabrak. Cahaya
gak bisa nembus jauh karena langsung
diserap dan dipancarin ulang.
Alam semesta saat itu kayak sup
partikel dan radiasi yang keruh.
Kalo lo bisa berdiri di sana,
lo GAK BAKAL BISA ngeliat apa-apa.
Gelap total.

Kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi.
Alam semesta cukup mendingin.
Pas suhu udah rendah, proton dan
elektron bisa saling tangkep dan
membentuk atom hidrogen yang
stabil. Buat pertama kalinya,
CAHAYA BISA BERGERAK BEBAS
tanpa terus-terusan dihamburin.
Alam semesta jadi TRANSPARAN.
Nah, cahaya itu, yang udah bergerak
selama 13,8 miliar tahun, masih bisa
kita deteksi hari ini. Kita nyebutnya
Cosmic Microwave Background,
Radiasi Latar Belakang Gelombang
Mikro Kosmik. Ini adalah
FOTO BAYI alam semesta. Potret
dari masa ketika dia baru berumur
380.000 tahun.

Atom-atom hidrogen dan helium
sederhana itu mulai ngumpul
di bawah tarikan gravitasi. Mereka
membentuk awan-awan raksasa.
Awan ini runtuh dan memanas,
sampe akhirnya di pusatnya,
tekanan dan suhu begitu tinggi
sehingga FUSI NUKLIR MENYALA.
Bintang-bintang pertama LAHIR.
Bintang-bintang ini ngumpul dalam
kelompok raksasa yang kita sebut
galaksi. Di dalem bintang-bintang
inilah unsur-unsur berat kayak
karbon, nitrogen, dan oksigen
DITEMPA. Pas bintang-bintang itu
mati dan meledak sebagai
supernova, mereka NYEBARIN
unsur-unsur itu ke seluruh ruang
angkasa. Menyediakan bahan baku
buat planet, lautan, kehidupan,
dan ujung-ujungnya, buat KITA.

Inilah narasi yang dijabarin sains.
Bukan berdasarkan spekulasi atau
wahyu. Tapi berdasarkan bukti
pengamatan, eksperimen, dan
perhitungan matematis yang ketat.
Tyson nyebutnya 
“the greatest
story ever told”
, kisah terhebat yang
pernah diceritakan. Kenapa? Karena
dia ngelampauin batas suku, bangsa,
dan agama. Kisah ini MILIK
SELURUH UMAT MANUSIA.

Bab 2: “Di bumi seperti di surga”,

Setelah cerita kisah besar alam
semesta, Tyson ngajak kita
ke terobosan pemikiran yang ngubah
segalanya. Bab ini judulnya
“On Earth as in the Heavens”, frasa
yang diambil dari doa yang udah
dikenal banget. Tapi di sini dipake
dalam konteks yang beda total. Tyson
nekanin, HUKUM FISIKA yang
berlaku di Bumi itu SAMA PERSIS
dengan yang berlaku di seluruh alam
semesta.

Ini bukan kesimpulan yang selalu
jelas buat kita, gaes. Selama ribuan
tahun, orang percaya langit dan Bumi
adalah dua wilayah terpisah, diatur
aturan yang beda. Benda langit
dianggap gerak karena digerakin
makhluk ilahi, atau karena terbuat
dari unsur kelima yang beda dari
tanah, air, udara, api. Pemisahan ini
bikin langit keliatan misterius dan
gak terjangkau.

Terus Isaac Newton muncul dan
ngubah segalanya. Tahun 1666,
pas umurnya masih 23 tahun dan
lagi ngasingin diri di pedesaan
ngindarin wabah, Newton ngajuin
pertanyaan yang sederhana tapi
REVOLUSIONER: Gimana kalo
gaya yang bikin apel jatuh dari
pohon adalah GAYA YANG SAMA
yang jagain Bulan tetep ngorbit
Bumi?

Ini lompatan imajinasi yang GILA
BERANI. Sebuah apel jatuh dan Bulan
ngorbit, keliatannya dua fenomena
yang beda banget. Tapi Newton sadar,
Bulan itu sebenernya terus-menerus
“JATUH” ke arah Bumi. Dia cuma gak
pernah nyampe permukaan karena
dia bergerak ke samping dengan
kecepatan super tinggi. Gravitasi yang
dirasain apel dan gravitasi yang
dirasain Bulan adalah SATU DAN
SAMA.

Prinsip universalitas hukum fisika ini
adalah fondasi dari SEMUA
astrofisika modern. Kalo hukum fisika
di sini berlaku di mana-mana,
kita bisa belajar bintang-bintang yang
jauh seolah mereka ada di lab kita.
Kita gak perlu ke sana. Cukup
ngamatin CAHAYA yang dateng dari
mereka.

Gimana caranya? Tyson jelasin
tentang alat namanya
SPEKTROSKOPI. Pas cahaya
bintang dilewatin prisma atau kisi
difraksi, dia terurai jadi spektrum
warna kayak pelangi. Tapi spektrum
bintang gak mulus.
Ada GARIS-GARIS GELAP
di dalemnya, kayak kode batang
kosmik. Setiap garis gelap itu
ngewakilin sebuah unsur kimia
tertentu yang udah nyerap cahaya
di panjang gelombang tertentu.

Dengan belajar kode batang ini, para
astronom bisa tau kalo bintang
Betelgeuse mengandung besi. Nebula
Orion penuh hidrogen. Galaksi
Andromeda terbuat dari unsur yang
SAMA PERSIS dengan yang ada
di Bumi. Kita gak perlu ngunjungin
bintang-bintang itu. Cahayanya udah
bawa pesan tentang komposisinya
langsung ke kita.

Tyson nutup bab ini dengan satu
implikasi yang bikin melongo.
Alam semesta ini GEDE dan tampak
asing, tapi dia sebenernya AKRAB
BANGET. Dia terbuat dari bahan
yang sama. Dia tunduk pada aturan
yang sama. Helium ditemukan
di Matahari DULUAN sebelum
di Bumi, makanya dinamain dari kata
Yunani buat Matahari, “Helios”.
Ini bukti kalo kita bisa belajar kosmos
dengan percaya diri, karena hukum
alam bersifat UNIVERSAL. Seperti
di Bumi, begitu juga di langit.
Keren banget, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *