Ben Franklin Effect: Bagaimana Meminta Tolong Mengubah Musuh Menjadi Teman
Pernahkah Anda mengalami situasi
aneh seperti ini: ada seseorang
di kantor atau di kampus yang
jelas-jelas tidak menyukai Anda.
Setiap bertemu, raut wajahnya selalu
sinis. Anda sudah mencoba bersikap
baik, menyapa lebih dulu, bahkan
tersenyum, tetapi ia justru semakin
dingin. Kebanyakan orang akan
berpikir, “Ya sudah, saya juga tidak
peduli. Dia benci saya, saya benci dia.”
Namun ternyata, ada satu trik
psikologi yang bisa membalikkan
keadaan. Trik ini tidak masuk akal.
Caranya bukan dengan Anda
membantu dia, tetapi justru
sebaliknya: Anda meminta tolong
kepadanya. Inilah yang disebut
Ben Franklin Effect atau
Efek Ben Franklin.
Dalam konteks dark psychology,
Ben Franklin Effect adalah fenomena
psikologis di mana seseorang yang
tadinya membenci atau bersikap
biasa saja terhadap Anda,
justru akan menjadi lebih menyukai
Anda setelah ia melakukan sesuatu
kebaikan atau memberikan
pertolongan kepada Anda.
Ini melawan semua logika yang
selama ini kita percaya. Seharusnya,
kalau kita menyukai seseorang,
kita akan membantunya. Tetapi
efek ini mengatakan kebalikannya:
kalau kita sudah terlanjur menolong
seseorang, otak kita akan memaksa
diri kita untuk menyukai orang itu.
Teknik ini sangat kuat karena melawan
hukum sebab-akibat yang selama ini
Anda yakini. Anda tidak perlu
merendahkan diri atau mencari muka.
Anda cukup meminta tolong untuk
hal kecil. Dan secara perlahan, benih
persahabatan atau kepatuhan akan
tumbuh di hati orang itu.
Asal Usul dan Eksperimen Ilmiah
Cerita ini bermula dari Benjamin
Franklin sendiri. Sebelum menjadi
salah satu tokoh paling dihormati
dalam sejarah Amerika Serikat,
Franklin adalah seorang politikus
muda yang memiliki musuh
bebuyutan di parlemen. Musuhnya
ini tidak hanya berbeda pendapat,
tetapi secara terbuka menyerang
karakter Franklin di depan umum.
Franklin tahu bahwa kalau ia
mencoba menjilat atau menyogok,
situasinya akan semakin buruk.
Maka ia melakukan satu langkah
cerdik.
Franklin mendengar bahwa musuhnya
itu memiliki koleksi buku langka yang
sangat sulit ditemukan. Ia kemudian
menulis surat yang isinya kira-kira:
“Saya mendengar Anda memiliki buku
langka itu. Apakah saya boleh
meminjamnya selama beberapa hari?”
Orang itu langsung menyetujui.
Franklin meminjam buku itu,
membacanya, dan mengembalikannya
dengan ucapan terima kasih yang
sopan.
Ajaibnya, seminggu kemudian
orang itu mulai menyapa Franklin
dengan ramah. Mereka mulai
mengobrol. Dan akhirnya, mereka
menjadi sahabat seumur hidup.
Franklin kemudian menulis dalam
otobiografinya: “Dia yang pernah
melakukan satu kebaikan untukmu
akan lebih siap untuk melakukan
kebaikan lainnya untukmu,
dibandingkan dia yang kamu bantu.”
Prinsip ini terdengar terlalu aneh
untuk dipercaya. Namun penelitian
psikologi modern membuktikan
bahwa Franklin benar.
Eksperimen Jecker dan
Landy (1969):
Meminta Bantuan dan
Meningkatkan Rasa Suka
Jon Jecker dan David Landy dari
University of Texas merancang
eksperimen untuk menguji apakah
meminta bantuan benar-benar
bisa meningkatkan rasa suka.
Mereka mengundang partisipan
ke laboratorium untuk mengikuti
serangkaian tes. Partisipan diberi
tahu bahwa mereka akan
mengerjakan tugas-tugas kognitif
dan akan mendapatkan uang
sebagai imbalan.
Setelah tes selesai, partisipan dibagi
menjadi tiga kelompok.
Pada kelompok pertama, peneliti
mengatakan bahwa eksperimen
sudah selesai, dan partisipan
langsung menerima pembayaran
penuh.
Pada kelompok kedua, peneliti
mengatakan hal yang sama, tetapi
menambahkan bahwa dana
penelitian mereka terbatas. Peneliti
meminta bantuan kepada partisipan:
“Apakah Anda bersedia
mengembalikan sebagian dari uang
yang Anda terima sebagai donasi
untuk penelitian ini?”
Pada kelompok ketiga, permintaan
yang sama diajukan, tetapi kali ini
bukan oleh peneliti, melainkan oleh
administrasi universitas, bukan
oleh orang yang secara langsung
berinteraksi dengan partisipan.
Setelah itu, semua partisipan diminta
mengisi kuesioner yang menilai
seberapa mereka menyukai peneliti
yang berinteraksi dengan mereka.
Hasilnya sangat menarik. Partisipan
di kelompok kedua, yang dimintai
bantuan secara langsung oleh peneliti,
memberikan penilaian rasa suka yang
paling tinggi kepada peneliti tersebut.
Mereka lebih menyukai peneliti yang
meminta bantuan mereka
dibandingkan peneliti yang tidak
meminta bantuan. Padahal secara
logika, peneliti yang meminta mereka
mengembalikan uang seharusnya
kurang disukai. Tetapi yang terjadi
justru sebaliknya.
Partisipan di kelompok ketiga, yang
dimintai bantuan oleh administrasi
universitas, tidak menunjukkan
peningkatan rasa suka kepada
peneliti. Ini menunjukkan bahwa
permintaan bantuan harus datang
langsung dari orang yang ingin
disukai.
Jecker dan Landy menyimpulkan
bahwa ketika seseorang melakukan
kebaikan untuk orang lain, otaknya
akan menyesuaikan sikapnya agar
konsisten dengan tindakannya.
“Saya menolong orang ini” adalah
fakta yang tidak bisa diubah. Maka
otak mengubah perasaannya:
“Kalau saya menolongnya, berarti
saya menyukainya.”
Eksperimen Nisbett dan
Wilson (1977):
Mengapa Kita Tidak Sadar
Richard Nisbett dan Timothy Wilson
melakukan studi klasik tentang
ketidaksadaran manusia terhadap
proses mental mereka sendiri.
Mereka ingin menguji apakah orang
benar-benar memahami alasan
di balik perasaan dan keputusan
mereka.
Dalam salah satu eksperimen,
partisipan diminta memilih di antara
beberapa pasangan stoking nilon
yang dijejerkan di atas meja.
Semua stoking itu sebenarnya identik.
Namun sebagian besar partisipan
memilih stoking yang terletak
di posisi paling kanan. Ketika ditanya
mengapa mereka memilih stoking itu,
mereka memberikan alasan seperti
“bahannya lebih lembut”,
“warnanya lebih bagus”, atau
“kualitasnya terasa lebih baik.”
Mereka tidak menyebutkan posisi
stoking di meja sebagai alasan.
Mereka benar-benar tidak sadar
bahwa posisi memengaruhi
pilihan mereka.
Eksperimen ini relevan dengan
Ben Franklin Effect karena
menunjukkan bahwa manusia
sering kali tidak sadar akan penyebab
sebenarnya dari perasaan mereka.
Seseorang yang mulai menyukai Anda
setelah membantu Anda tidak akan
menyadari bahwa penyebabnya
adalah bantuan yang ia berikan.
Ia akan mencari alasan lain:
“Oh, ternyata dia orangnya
menyenangkan,” atau,
“Kayaknya dulu gue salah nilai deh
sama dia.” Prosesnya terjadi
di bawah sadar.
Mengapa Ben Franklin Effect
Begitu Efektif?
Ben Franklin Effect bekerja dengan
memanfaatkan mekanisme
disonansi kognitif yang sudah kita
bahas secara mendalam di artikel
sebelumnya. Secara ringkas,
otak manusia sangat membenci
inkonsistensi antara tindakan
dan keyakinan.
Ketika seseorang yang tidak
menyukai Anda tiba-tiba diminta
bantuan oleh Anda dan ia setuju
untuk membantu, terjadi
pertentangan di dalam otaknya.
Tindakan: “Saya baru saja menolong
orang ini.” Keyakinan:
“Saya tidak menyukai orang ini.”
Dua hal ini tidak bisa hidup
berdampingan dengan damai.
Otak akan merasa tidak nyaman.
Untuk menghilangkan
ketidaknyamanan ini, otak harus
mengubah salah satunya. Tindakan
sudah terjadi dan tidak bisa diubah.
Fakta bahwa ia sudah membantu
Anda adalah kenyataan yang tidak
bisa dihapus. Maka otak memilih
untuk mengubah keyakinan:
“Mungkin saya sebenarnya tidak
terlalu membencinya. Mungkin dia
bukan orang yang seburuk itu.”
Dan perlahan-lahan, perasaannya
berubah.
Selain disonansi kognitif,
ada mekanisme kedua yang bekerja:
investasi emosional. Ketika seseorang
menghabiskan waktu, tenaga, atau
pikiran untuk membantu Anda,
ia telah berinvestasi pada Anda.
Secara psikologis, orang cenderung
peduli pada hal-hal yang sudah
mereka investasikan. Ini adalah
fenomena yang sama yang membuat
seseorang terus mempertahankan
mobil tua yang sering rusak karena
sudah menghabiskan banyak uang
untuk memperbaikinya. Semakin
besar investasinya, semakin besar
keinginan untuk membenarkan
investasi itu.
Tiga Fase Ben Franklin Effect:
Untuk memahami bagaimana
Ben Franklin Effect bekerja secara
bertahap, kita akan mengikuti
kisah Fajar. Ia adalah seorang staf
baru di sebuah perusahaan periklanan.
Di timnya, ada seorang desainer senior
bernama Reza. Reza sudah bekerja
di perusahaan itu selama enam tahun.
Ia sangat berbakat, tetapi juga terkenal
jutek, terutama kepada karyawan baru.
Setiap kali Fajar menyapanya
di koridor, Reza hanya menjawab
dengan anggukan dingin atau bahkan
tidak menjawab sama sekali.
Fase 1: Memasang Perangkap
Kebaikan Kecil
Fajar sudah mencoba berbagai cara
untuk mencairkan suasana. Ia pernah
membelikan kopi untuk Reza.
Reza menerimanya, meminumnya,
dan tetap bersikap dingin. Ia pernah
mencoba memuji desain Reza
di rapat tim. Reza hanya mengangguk
singkat. Semua usaha Fajar tampak
sia-sia.
Suatu hari, Fajar mendapat tugas
membuat presentasi untuk klien
besar. Ia sudah menyusun
slide-slidenya, tetapi ia merasa ada
yang kurang. Ia ingin meminta
pendapat, tetapi ia ragu untuk
mendekati Reza. Namun kemudian ia
teringat satu hal: Reza adalah
satu-satunya orang di tim yang paling
ahli soal tipografi. Fajar punya ide.
Sore itu, Fajar mendekati meja Reza
dengan hati-hati. Reza sedang
mengedit desain di komputernya,
tidak menoleh sedikit pun.
Fajar berdiri di samping mejanya
dan menunggu sampai Reza melirik.
Fajar: “Rez, maaf ganggu. Aku lagi
nyiapin presentasi buat klien.
Ada satu slide yang aku ragu soal
font-nya. Aku tahu kamu paling
jagonya soal tipografi di sini.
Bisa tolong lihat sebentar?
Cuma satu slide aja. Nggak sampai
lima menit.”
Perhatikan apa yang dilakukan Fajar.
Ia tidak meminta bantuan besar.
Ia tidak meminta Reza mengerjakan
desainnya. Ia hanya minta pendapat
tentang satu slide. Permintaannya
kecil, spesifik, dan mudah dilakukan.
Ia juga memberikan pujian yang
tulus: “kamu paling jagonya soal
tipografi di sini.” Pujian itu membuat
Reza merasa diakui keahliannya.
Reza menatap Fajar selama dua detik.
Ekspresinya tetap datar, tetapi ia
tidak menolak.
Reza: “Mana slidenya?”
Fajar menunjukkan layar laptopnya.
Reza melihat slide itu, lalu menunjuk
ke bagian judul.
Reza: “Font ini terlalu dekoratif.
Buat klien korporat, lo mending
pake yang lebih bersih.
Coba ganti ke Helvetica atau Lato.”
Fajar: “Oh iya ya. Aku nggak
kepikiran. Makasih, Rez.
Bener-bener ngebantu.”
Reza mengangguk singkat dan kembali
menatap layarnya. Fajar mundur dan
kembali ke mejanya. Pertukaran itu
hanya berlangsung dua menit. Tetapi
sesuatu telah berubah.
Fase 2: Otak Reza Berkonflik
Sore itu, Reza duduk di mejanya dan
tanpa sadar memikirkan interaksi
tadi. Ada sesuatu yang mengganggu
pikirannya.
Di satu sisi, Reza sudah terbiasa
bersikap dingin kepada Fajar. Fajar
adalah karyawan baru yang masih
canggung. Reza tidak punya alasan
khusus untuk membencinya, tetapi
ia juga tidak punya alasan untuk
menyukainya. Ia hanya malas
berinteraksi.
Namun sekarang, fakta baru sudah
tercipta. Reza baru saja membantu
Fajar. Ia memberikan saran tentang
font. Ia menghabiskan dua menit
waktunya untuk melihat slide Fajar
dan memberikan masukan yang
berguna.
Otak Reza mulai memproses
pertentangan ini. Keyakinan lama:
“Fajar itu cuma anak baru, nggak
perlu dianggap.” Tindakan baru:
“Gue barusan ngasih saran penting
ke Fajar.”
Kedua hal ini tidak cocok. Kenapa
Reza rela membantu seseorang yang
tidak ia anggap?
Otaknya mulai merasa tidak nyaman.
Ini adalah disonansi kognitif yang
mulai bekerja.
Fase 3: Otak Reza Membangun
Narasi Baru
Keesokan harinya, Fajar kembali
mendekati meja Reza. Kali ini ia
hanya ingin mengucapkan
terima kasih lagi.
Fajar: “Rez, makasih buat kemarin.
Presentasinya lancar. Klien suka.”
Reza menoleh. Kali ini ia tidak
hanya mengangguk.
Reza: “Bagus. Font-nya lo ganti kan?”
Fajar: “Iya, aku ganti ke Lato sesuai
saran kamu. Jauh lebih enak dilihat.”
Reza: “Ya udah. Lain kali kalau ada
yang ragu, tanya aja.”
Fajar hampir tidak percaya dengan
apa yang ia dengar. Reza, si paling
jutek, baru saja menawarkan bantuan
untuk lain kali. Ini adalah perubahan
yang signifikan.
Apa yang terjadi di otak Reza?
Untuk menyelesaikan disonansi
kognitifnya, otak Reza memilih untuk
mengubah penilaiannya tentang
Fajar. Tindakan membantu sudah
terjadi dan tidak bisa diubah.
Maka otak menyesuaikan
perasaannya:
“Kayaknya Fajar nggak se-nyebelin
itu deh. Dia lumayan sopan. Dia mau
dengerin saran. Dia menghargai
keahlian gue.”
Perlahan-lahan, narasi baru terbentuk.
Reza bukan lagi orang yang membenci
Fajar tanpa alasan. Kini ia adalah
mentor yang membantu juniornya.
Citra dirinya sebagai orang yang
membantu membuat ia merasa lebih
baik. Dan untuk mempertahankan
citra itu, ia harus terus bersikap baik
kepada Fajar.
Seiring waktu, Reza dan Fajar mulai
sering berdiskusi tentang desain.
Reza bahkan mulai menyapa Fajar
duluan di koridor. Enam bulan
kemudian, mereka menjadi rekan
kerja yang solid. Semua bermula
dari satu permintaan kecil:
“Bisa tolong lihat satu slide?”
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Dunia Kerja: Klien yang Sulit
Bu Maya adalah seorang konsultan
pemasaran. Ia sedang menangani
klien baru, Pak Budi, seorang
pemilik bisnis yang dikenal sangat
kritis dan sulit diajak bekerja sama.
Dalam setiap rapat, Pak Budi selalu
meragukan strategi yang Bu Maya
usulkan. Ia memotong pembicaraan,
melempar komentar sinis, dan
tidak pernah terlihat puas.
Setelah tiga kali rapat yang
melelahkan, Bu Maya hampir
menyerah. Tetapi ia teringat tentang
Ben Franklin Effect. Di rapat
keempat, ia mengubah pendekatannya.
Bu Maya: “Pak Budi, sebelum kita
lanjutkan, saya ingin jujur.
Saya melihat Bapak punya
pemahaman yang sangat dalam
tentang industri ini. Saya belajar
banyak dari kritik Bapak
di rapat-rapat sebelumnya.”
Pak Budi menatap Bu Maya dengan
alis terangkat. Ia tidak menyangka
mendengar ini.
Bu Maya: “Saya sedang menyusun
analisis kompetitor untuk strategi
kuartal depan. Ada satu bagian
yang saya rasa kurang tajam.
Bisa Bapak lihat sebentar?
Saya ingin dengar pendapat Bapak.”
Pak Budi terdiam sejenak.
Ekspresi sinisnya sedikit melunak.
Pak Budi: “Mana? Coba saya lihat.”
Bu Maya menunjukkan dokumen itu.
Pak Budi membacanya dengan serius,
lalu memberikan beberapa poin
masukan. Bu Maya mendengarkan
dengan saksama dan mencatat.
Bu Maya: “Ini persis yang saya
butuhkan. Terima kasih banyak,
Pak Budi. Masukan Bapak sangat
membantu.”
Setelah rapat itu, sikap Pak Budi mulai
berubah. Di rapat-rapat berikutnya,
ia masih kritis, tetapi tidak lagi sinis.
Ia bahkan mulai membela Bu Maya
ketika ada pihak lain yang meragukan
strateginya. Bu Maya menyadari
bahwa perubahan ini terjadi sejak ia
meminta bantuan Pak Budi. Pak Budi
telah berinvestasi dalam pekerjaan
Bu Maya. Dan sekarang, keberhasilan
Bu Maya adalah keberhasilannya juga.
2. Pertemanan: Circle Baru
Tika baru saja bergabung dengan
sebuah komunitas fotografi.
Di pertemuan pertamanya, ia merasa
canggung. Semua orang tampak sudah
akrab. Ada satu orang bernama Selly
yang terlihat sangat populer.
Selly selalu dikelilingi teman-teman,
tertawa lepas, dan tampak percaya
diri. Tetapi setiap kali Tika mencoba
mendekat, Selly hanya melirik sekilas
dan melanjutkan percakapannya
dengan orang lain.
Tika merasa diabaikan. Ia hampir
memutuskan untuk tidak datang lagi.
Tetapi di pertemuan kedua,
ia mencoba pendekatan yang berbeda.
Ia memperhatikan bahwa Selly selalu
membawa kamera mirrorless dengan
lensa vintage yang unik.
Saat sesi istirahat, Tika mendekati
Selly yang sedang duduk sendirian.
Kali ini ia tidak mencoba untuk
bergabung dalam obrolan.
Tika: “Sel, maaf ganggu. Aku lihat
lensa kamu unik banget. Itu lensa
manual ya?
Aku lagi cari lensa serupa buat
kamera analogku.
Kamu beli di mana?”
Selly menoleh. Untuk pertama kalinya,
ia menatap Tika dengan ketertarikan.
Selly: “Oh, ini lensa Helios. Aku dapet
dari marketplace, tapi harus cari yang
review-nya bagus. Banyak yang palsu.”
Tika: “Wah, aku nggak ngerti bedain
yang asli sama palsu. Ada tipsnya
nggak?”
Selly tersenyum. Ia mulai
menjelaskan dengan antusias tentang
karakteristik lensa Soviet, ciri-ciri
lensa asli, dan toko online yang
terpercaya. Tika mendengarkan
dengan serius, sesekali mengajukan
pertanyaan.
Setelah sesi itu, Selly mengajak Tika
duduk di mejanya.
Ia memperkenalkan Tika kepada
teman-temannya.
Di pertemuan-pertemuan berikutnya,
Selly selalu menyapa Tika dengan
ramah. Tika akhirnya merasa
diterima di komunitas itu.
Semua bermula dari satu pertanyaan
tentang lensa.
3. Negosiasi dan Musuh Bisnis
Pak Hendra adalah pemilik sebuah
perusahaan distribusi. Ia memiliki
pesaing berat, Pak Irwan, yang sudah
bertahun-tahun bersaing dengannya.
Hubungan mereka sangat buruk.
Di setiap acara asosiasi bisnis,
mereka saling menghindari.
Suatu hari, Pak Hendra menghadapi
masalah besar. Supplier utamanya
tiba-tiba menaikkan harga secara
drastis. Pak Hendra perlu mencari
alternatif dengan cepat. Ia tahu bahwa
Pak Irwan memiliki koneksi dengan
supplier yang sama dan mungkin
tahu cara menghadapinya.
Alih-alih mencari informasi
di tempat lain, Pak Hendra melakukan
hal yang tidak terduga. Ia mengirim
pesan pribadi kepada Pak Irwan.
Pak Hendra: “Pak Irwan, saya tahu
kita jarang sependapat. Tapi saya
menghargai pengalaman Bapak
di industri ini. Supplier utama saya
menaikkan harga 40 persen.
Saya mendengar Bapak pernah
menghadapi situasi serupa.
Boleh saya minta saran?
Hanya sharing, tidak ada
kewajiban apa-apa.”
Pak Irwan membaca pesan itu.
Ia terdiam. Permintaan ini
mengejutkannya.
Setelah beberapa jam,
ia membalas.
Pak Irwan: “Saya pernah di posisi itu.
Ada distributor alternatif di Surabaya
yang harganya lebih stabil.
Tapi hati-hati sama kontraknya.
Saya kirim kontaknya via email.”
Pak Hendra menerima email itu dan
membalas dengan ucapan terima
kasih yang tulus. Seminggu
kemudian, mereka bertemu
di sebuah acara. Pak Irwan tidak lagi
menghindar. Ia justru mendekati Pak
Hendra dan bertanya bagaimana
perkembangannya. Percakapan itu
membuka jalan untuk hubungan
yang lebih baik. Mereka tidak menjadi
sahabat, tetapi permusuhan yang dulu
tajam kini berubah menjadi
rasa saling menghormati.
Cara Melawan Ben Franklin Effect
Jika seseorang menggunakan teknik ini
kepada Anda, ada beberapa cara untuk
tetap waspada.
Pertama, sadari ketika Anda
sedang dijebak dengan kebaikan
kecil.
Jika tiba-tiba seseorang yang biasanya
tidak dekat dengan Anda meminta
bantuan untuk hal kecil, dan
setelah itu Anda mulai merasa lebih
positif terhadapnya, tanyakan pada
diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar menyukai
dia, atau saya hanya merasa tidak
enak karena sudah terlanjur
membantu?”
Kesadaran ini akan membantu Anda
memisahkan antara perasaan yang
asli dan perasaan yang muncul
akibat disonansi kognitif.
Kedua, bedakan antara investasi
dan ketulusan.
Jika Anda mulai merasa peduli atau
loyal kepada seseorang, periksa
kembali: “Apakah saya peduli karena
dia memang baik kepada saya?
Atau karena saya sudah banyak
memberi sesuatu kepadanya?”
Banyak orang terjebak dalam
hubungan yang tidak sehat hanya
karena mereka sudah terlanjur
banyak berkorban. Jangan biarkan
investasi masa lalu membutakan
Anda terhadap kenyataan saat ini.
Ketiga, jangan takut menolak
permintaan kecil.
Anda selalu berhak untuk mengatakan
tidak. Anda tidak berkewajiban
membantu semua orang. Perasaan
Anda valid. Jika Anda memang tidak
menyukai seseorang, menolak
permintaannya tidak membuat
Anda menjadi orang yang jahat.
Katakan dengan sopan:
“Maaf, kali ini saya tidak bisa bantu.”
Tanpa perlu menjelaskan panjang
lebar.
Ben Franklin Effect adalah fenomena
yang sangat unik karena ia
membalikkan logika sebab-akibat
yang selama ini kita percaya.
Kita mengira bahwa perasaan
menentukan tindakan. Padahal,
sering kali justru tindakan yang
menentukan perasaan. Sekali Anda
berhasil membuat seseorang
berkorban untuk Anda, meskipun
hanya sekecil apa pun, hatinya akan
mulai melunak. Ia akan berusaha
meyakinkan dirinya sendiri bahwa
pengorbanannya itu berarti.
Jangan gunakan teknik ini untuk
memanipulasi atau memperbudak
orang lain. Tetapi gunakanlah untuk
mencairkan kebencian yang tidak
perlu, membangun jembatan dengan
orang yang sulit, dan menciptakan
hubungan yang lebih baik dari
situasi yang tampaknya mustahil.
Selanjutnya, kita akan membahas
sebuah fenomena yang lebih dalam.
Sebuah fenomena di mana
kepercayaan dan ekspektasi
seseorang terhadap Anda bisa
benar-benar mengubah nasib Anda.
Kalau ada yang percaya Anda jenius,
Anda benar-benar bisa menjadi
jenius. Kalau ada yang percaya Anda
gagal, Anda benar-benar akan gagal.
Namanya The Pygmalion Effect.
Kita akan membahasnya secara rinci
di materi berikutnya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Lo pasti pernah ngalamin situasi aneh
kayak gini. Ada satu orang di kantor
atau di kampus yang jelas jelas nggak
suka sama lo. Mukanya sinis tiap
ketemu. Lo udah coba baikin, lo sapa
duluan, lo senyumin, tapi dia makin
jutek. Nah, kebanyakan orang bakal
mikir, “Ya udah, gue juga males.
Dia benci gue, gue benci dia.”
Tapi ternyata, ada satu trik psikologi
yang bisa balikin keadaan. Dan trik
ini nggak masuk akal. Caranya bukan
dengan lo bantuin dia. Tapi justru
sebaliknya. Lo minta tolong sama
dia. Namanya Ben Franklin Effect.
Dalam konteks dark psychology,
Ben Franklin Effect atau
Efek Ben Franklin adalah
fenomena psikologis di mana
seseorang yang tadinya membenci
atau biasa aja sama lo, justru akan
jadi lebih suka sama lo setelah dia
melakukan sesuatu kebaikan atau
pertolongan buat lo. Ini ngejebol
semua logika. Harusnya, kalau kita
suka sama orang, kita bantuin dia.
Tapi efek ini bilang kebalikannya:
kalau kita udah terlanjur nolong
orang, otak kita akan memaksa diri
kita buat suka sama orang itu.
Ini udah level black belt
(sabuk hitam) karena melawan
hukum sebab-akibat yang lo percaya
selama ini. Lo nggak perlu
merendah-rendah atau nyari muka.
Lo cukup minta tolong hal kecil, dan
secara ajaib, benih persahabatan
atau kepatuhan akan tumbuh
di hati dia.
Ceritanya datang dari Benjamin
Franklin sendiri. Waktu masih jadi
politikus, dia punya musuh
bebuyutan di parlemen. Orang ini
nggak cuma beda pendapat, tapi
terang-terangan menyerang karakter
Franklin di depan umum. Franklin
tahu, kalau dia ngejilat atau nyogok,
malah makin parah. Jadi dia lakukan
satu jurus maut. Dia dengar orang ini
punya koleksi buku langka yang sangat
susah dicari. Franklin nulis surat.
Isinya kira-kira, “Saya mendengar
Anda memiliki buku langka itu.
Apakah saya boleh meminjamnya
selama beberapa hari?”
Orang itu langsung setuju. Franklin
pinjem, baca, dan balikin dengan
ucapan terima kasih yang sopan.
Ajaibnya, minggu berikutnya, orang itu
mulai menyapa Franklin dengan ramah.
Lalu mereka ngobrol. Dan akhirnya,
mereka jadi sahabat seumur hidup.
Franklin menyimpulkan:
“Dia yang pernah melakukan satu
kebaikan untukmu akan lebih siap
untuk melakukan kebaikan lainnya
untukmu, dibandingkan dia yang
kamu bantu.”
Cara kerjanya nyentrik banget
dan ada tiga langkah:
1. Lo Pasang Perangkap
Kebaikan Kecil
Ini langkah pertama. Lo minta tolong
sesuatu yang sangat kecil,
sangat mudah, dan nggak mungkin
ditolak. Bukan minta duit, bukan
minta proyek besar. Cukup minta
pendapat tentang satu slide presentasi,
atau pinjem notes, atau minta
pendapat soal outfit lo hari ini.
Hal yang remeh temeh.
2. Otak Dia Berkonflik
Ini kuncinya. Begitu dia nolongin lo,
terjadilah perang di otak dia.
Otak dia punya dua data yang
bertentangan. Data pertama:
“Gue nggak suka sama orang ini.”
Data kedua: “Tapi kok gue tadi
nolongin dia ya?” Ini namanya
disonansi kognitif, rasa nggak
nyaman karena ada dua keyakinan
yang bentrok di saat bersamaan.
Otak manusia benci banget sama
inkonsistensi.
3. Otak Dia Membangun
Narasi Baru
Untuk menyelesaikan perang
di otak, dia harus buang salah satu
keyakinan. Keyakinan yang lebih
mudah diubah adalah perasaannya.
Dia nggak bisa meralat fakta bahwa
dia udah nolong lo. Jadi, otaknya
mengubah perasaan dia.
“Ah, kayaknya gue nggak se-benci
itu deh sama dia. Dia baik kok.
Kalau dia jahat, ngapain gue tadi
bantuin?” Tuntas sudah. Benci
berubah jadi suka hanya karena
satu kebaikan kecil.
Contoh di dunia nyata? Banyak.
Dunia Kerja.
Lo kerja satu tim, dan ada satu orang
yang sinis. Lo jangan malah bantuin
dia. Lo minta tolong sama dia. Bilang,
“Bro, gue lagi stuck nih. Lo jago soal
analisis data ya? Bisa tolong lihatin
hasil kerjaan gue bentar nggak?
Gue takut ada yang salah.”
Dia dengan senang hati nolongin.
Setelah itu, dia bakal lebih peduli
sama hasil kerja lo. Kenapa?
Karena dia udah investasi waktu dan
tenaga di kerjaan lo. Kalau kerjaan
lo gagal, berarti kebaikannya sia-sia.
Jadi dia akan memastikan lo sukses.
Pertemanan.
Lo di circle baru dan ada yang agak
jutek. Lo jangan ngajak dia nongkrong
duluan. Lo minta saran kecil.
“Eh, lo tau nggak di mana tempat beli
kado yang bagus?
Gue udah pusing nyari.”
Dia akan ngerasa diakui sebagai orang
yang berpengetahuan. Begitu dia udah
ngasih saran, di otaknya dia udah
berperan sebagai “penolong lo”.
Dia akan lebih terbuka.
Percintaan.
Ini jangan dipake buat manipulasi
berat. Tapi prinsip ini menjelaskan
kenapa orang yang udah sering
ngasih perhatian justru bisa lebih
cinta daripada yang menerima
perhatian. Kalau gebetan lo agak
cuek, sesekali minta pendapatnya.
“Menurut lo, baju ini cocok nggak?”
Begitu dia ngasih pendapat,
dia mulai mikir,
“Kenapa gue peduli ya?” Jawabannya,
karena dia udah berinvestasi pikiran
buat lo.
Negosiasi dan Musuh.
Franklin udah buktiin. Kalau lo punya
musuh di bisnis, jangan lo serang
balik. Minta pendapatnya.
“Saya tahu kita sering beda
pandangan. Tapi saya menghargai
keahlian Anda. Bisa minta masukan
soal ini?” Begitu dia ngasih masukan,
dia akan ngerasa dihargai. Dan harga
dirinya akan melindungi lo, karena
kalau lo gagal setelah pakai sarannya,
dia juga yang malu.
Nah, gimana cara ngelawan
Ben Franklin Effect
kalau dipake ke lo? Waspada.
Pertama, sadar kalau lo dijebak
kebaikan.
Kalau tiba tiba ada orang yang nggak
lo suka minta tolong hal kecil, dan
setelah itu lo ngerasa kok dia jadi
baik, tanya ke diri sendiri:
“Apa gue suka sama dia, atau gue
cuma nggak enak karena udah
terlanjur bantu?”
Kedua, bedakan investasi dan
ketulusan.
Kalau lo mulai ngerasa sayang atau
loyal ke seseorang, cek:
“Apa gue peduli karena dia baik,
atau karena gue udah banyak ngasih
sesuatu ke dia?” Banyak orang
terjebak di hubungan toxic karena
udah terlanjur banyak berkorban.
Ketiga, jangan takut menolak
permintaan kecil.
Lo berhak bilang, “Maaf, gue lagi
nggak bisa.” Lo nggak wajib
nolongin semua orang. Dan perasaan
lo tetap valid. Nggak suka ya nggak
suka.
Jadi ingat, Ben Franklin Effect
ini ibarat menanam utang budi
di kebun orang lain. Sekali lo
berhasil bikin seseorang berkorban
untuk lo, meskipun cuma sekecil
apapun, hatinya akan mulai
melunak. Karena dia akan berusaha
meyakinkan dirinya sendiri bahwa
pengorbanannya itu berarti.
Jangan gunakan ini untuk
memperbudak orang. Tapi gunakanlah
untuk mencairkan kebencian yang
nggak perlu.
Nah, dari efek meminta tolong yang
ajaib, kita lanjut ke jurus yang lebih
dalam. Jurus di mana kepercayaan
dan ekspektasi seseorang bisa
mengubah nasib lo sepenuhnya.
Kalau ada yang percaya lo jenius,
lo benar benar bisa jadi jenius.
Namanya The Pygmalion Effect.
Stay tuned!
