Use an Open Body, They’ll Feel Safe: Mengapa Bahasa Tubuh Terbuka Membuat Orang Merasa Nyaman
Pernahkah Anda merasa berbeda saat
mengobrol dengan dua tipe orang?
Yang satu duduk dengan tangan
dilipat, kaki menyilang, badan agak
miring. Rasanya kaku. Anda merasa
dia tidak nyaman, atau malah tidak
suka dengan Anda. Sekarang
bandingkan dengan orang yang
duduk santai, tangannya terbuka,
bahunya rileks, dan badannya
menghadap ke Anda. Anda langsung
merasa aman. Padahal belum lama
kenal. Itulah bedanya bahasa tubuh
terbuka dan tertutup.
Teknik ini mengajarkan bahwa postur
tubuh mengirim sinyal lebih dulu dari
kata-kata. Jika badan Anda terbuka,
orang merasa diterima. Jika badan
Anda tertutup, orang merasa
dihalangi. Ini terjadi di bawah sadar,
dan sangat memengaruhi rasa
nyaman lawan bicara.
Teknik ini masih nyambung dengan
Spatial Control dan Nonverbal
Ownership yang pernah dibahas
di daftar 30 teknik sebelumnya.
Bedanya, Spatial Control fokus pada
jarak dan posisi. Nonverbal
Ownership fokus pada memberi
tanda kekuasaan lewat sentuhan
benda. Teknik ini lebih sederhana.
Ini murni soal bagaimana Anda
membuka tubuh supaya orang
merasa Anda bukan ancaman.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Bahasa Tubuh Terbuka
Meningkatkan Rasa Nyaman
dan Kepercayaan
Eksperimen Mehrabian (1968):
Komunikasi Nonverbal dan
Sikap
Albert Mehrabian, seorang profesor
psikologi di UCLA, melakukan
penelitian klasik tentang komunikasi
nonverbal. Ia ingin tahu seberapa
besar pengaruh bahasa tubuh
dibandingkan kata-kata dalam
menyampaikan perasaan suka atau
tidak suka.
Mehrabian meminta aktor
menyampaikan pesan yang sama
dengan bahasa tubuh yang berbeda.
Pada kondisi pertama, aktor
menyampaikan pesan dengan postur
terbuka: tangan tidak dilipat, badan
condong ke depan, dan kontak mata
terjaga. Pada kondisi kedua, aktor
menyampaikan pesan dengan
postur tertutup: tangan dilipat,
badan menjauh, dan kontak mata
minim.
Setelah menonton, partisipan
diminta menilai seberapa besar aktor
itu menyukai lawan bicaranya, dan
seberapa besar lawan bicara akan
merasa nyaman.
Hasilnya sangat kontras. Aktor dengan
bahasa tubuh terbuka dinilai jauh
lebih menyukai lawan bicaranya dan
membuat lawan bicara merasa jauh
lebih nyaman. Sementara aktor
dengan bahasa tubuh tertutup dinilai
dingin, tidak tertarik, dan membuat
lawan bicara merasa tidak diterima.
Dialog antara peneliti dan partisipan:
Peneliti: “Kenapa Anda merasa aktor
yang pertama lebih menyukai lawan
bicaranya?”
Partisipan: “Karena badannya
menghadap ke depan. Tangannya
tidak menutupi dada. Dia terlihat
terbuka.”
Peneliti: “Bagaimana dengan aktor
yang kedua?”
Partisipan: “Dia seperti menolak.
Tangannya dilipat, badannya menjauh.
Saya tidak akan nyaman bicara
dengannya.”
Mehrabian menyimpulkan bahwa
bahasa tubuh adalah saluran utama
untuk menyampaikan perasaan suka
dan tidak suka. Ketika kata-kata dan
bahasa tubuh tidak sinkron, orang
lebih percaya pada bahasa tubuh.
Postur terbuka adalah sinyal
penerimaan yang sangat kuat.
Eksperimen Gifford (1994):
Postur Tubuh dan Persepsi
Keramahan
Robert Gifford, seorang peneliti
di bidang psikologi lingkungan,
melakukan studi tentang bagaimana
postur tubuh memengaruhi persepsi
orang lain. Ia meminta partisipan
duduk dalam berbagai posisi:
terbuka, tertutup, condong ke depan,
dan condong ke belakang. Kemudian,
orang lain diminta menilai seberapa
ramah dan dapat didekati mereka.
Hasilnya, partisipan yang duduk
dengan postur terbuka dan sedikit
condong ke depan dinilai paling
ramah dan paling mudah didekati.
Mereka dianggap hangat dan
tertarik pada lawan bicara.
Sebaliknya, partisipan yang duduk
dengan tangan dilipat dan badan
condong ke belakang dinilai paling
tidak ramah dan paling sulit
didekati.
Dialog antara peneliti dan penilai:
Peneliti: “Mengapa Anda menilai
orang dengan postur terbuka itu
lebih ramah?”
Penilai: “Dia terlihat seperti
memberi ruang. Saya merasa
boleh mendekat.”
Peneliti: “Bagaimana dengan
yang tertutup?”
Penilai: “Dia seperti sedang menjaga
jarak. Saya tidak berani memulai
pembicaraan.”
Gifford menyimpulkan bahwa postur
tubuh adalah penanda sosial yang
dibaca orang lain dalam hitungan
detik. Postur terbuka menciptakan
kesan hangat dan aman.
Postur tertutup menciptakan kesan
dingin dan berbahaya.
Mengapa Use an Open Body
Begitu Efektif?
Sejak zaman dulu, manusia membaca
bahasa tubuh untuk menilai bahaya.
Lengan dilipat terlihat seperti
menahan serangan. Badan miring
terlihat seperti mau kabur. Tetapi
lengan terbuka, telapak tangan
terlihat, adalah sinyal “aku tidak
membawa senjata, kamu aman
di dekatku”. Seketika orang rileks.
Postur terbuka juga menandakan
bahwa Anda tidak menyembunyikan
apa pun. Dada yang terbuka dan
tangan yang terlihat memberi kesan
jujur. Orang merasa bahwa Anda
tidak punya agenda tersembunyi.
Perasaan ini membangun
kepercayaan.
Selain itu, bahasa tubuh terbuka
membuat Anda terlihat lebih
percaya diri. Anda tidak meringkuk
atau menutup diri.
Anda menempati ruang dengan
tenang. Kepercayaan diri ini
menular. Lawan bicara ikut
merasa tenang.
Tiga Langkah Menerapkan Use
an Open Body: Kisah Raka dan
Klien Baru
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia sedang bertemu dengan klien
baru, Bu Rina.
Langkah 1: Jangan Lipat Tangan
Raka duduk di hadapan Bu Rina.
Ia meletakkan kedua tangannya
di atas meja, tidak dilipat di dada.
Raka: “Aku biarkan tanganku
terlihat. Supaya Bu Rina
merasa aku tidak menutup diri.”
Langkah 2: Arahkan Badan
ke Lawan Bicara
Raka mencondongkan badannya
sedikit ke depan.
Ia menghadapkan tubuhnya
sepenuhnya ke arah Bu Rina,
tidak setengah-setengah.
Raka: “Dengan begini, ia merasa
aku fokus kepadanya.”Langkah 3: Buka Telapak
Tangan Sesekali
Saat menjelaskan, Raka sesekali
membuka telapak tangannya.
Ini sinyal jujur yang tidak
disadari oleh Bu Rina.
Raka: “Kalau ada yang ingin
didiskusikan, saya terbuka.”
Bu Rina merasa nyaman.
Percakapan berjalan lancar, dan
Bu Rina lebih terbuka pada
penawaran Raka.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Mendengarkan Teman Curhat
Maya sedang mendengarkan Sari
yang sedang curhat. Maya duduk
dengan tangan terbuka dan badan
condong ke depan.
Sari: “Aku merasa aman cerita
sama kamu.”
Maya: “Aku di sini. Lanjutin.”
Sari bercerita lebih dalam karena
merasa tidak dihakimi.
2. Presentasi di Depan Tim
Bima sedang presentasi. Ia berdiri
dengan tangan terbuka, tidak
menyilangkan tangan di dada.
Ia juga bergerak pelan mendekati
timnya.
Tim merasa Bima terbuka dan
mudah didekati. Mereka lebih
berani bertanya.
3. Ngobrol dengan Orang Tua
Rina sedang berbicara dengan ibunya.
Ia duduk di samping ibunya, badan
menghadap, tangan tidak dilipat.
Ibu Rina merasa lebih nyaman
berbagi cerita. Ia merasa Rina
benar-benar mendengarkan.
Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini
Jika Anda merasa seseorang
memakai bahasa tubuh terbuka
untuk membuat Anda merasa
nyaman, ada beberapa langkah
yang bisa dilakukan.
Pertama, tetap evaluasi isi
pembicaraan.
Rasa nyaman dari postur terbuka
tidak berarti semua yang
dikatakan benar.
Kedua, jangan biarkan
kenyamanan menurunkan
kewaspadaan.
Anda boleh menikmati percakapan,
tetapi tetap pegang kendali atas
keputusan Anda.
Ketiga, perhatikan konsistensi.
Orang yang tulus biasanya
menunjukkan bahasa tubuh terbuka
secara alami, bukan hanya saat
butuh sesuatu.
Keempat, jaga jarak jika perlu.
Jika merasa terlalu didekati, Anda
boleh menggeser posisi atau
memberi batas dengan sopan.
Use an Open Body, They’ll Feel Safe
adalah teknik yang memanfaatkan
naluri manusia untuk membaca
keamanan dari bahasa tubuh.
Ketika digunakan dengan tulus,
ia menciptakan suasana hangat dan
percakapan yang terbuka. Ketika
dibuat-buat, ia bisa membuat Anda
menaruh kepercayaan terlalu cepat.
Gunakan dengan bijak, karena
tubuh Anda adalah gerbang.
Semakin terbuka, semakin banyak
orang yang berani datang. Dan
semakin banyak yang datang,
semakin besar pengaruh Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Use an Open Body,
They’ll Feel Safe.
Lo pasti pernah ngerasa beda pas
ngobrol sama dua tipe orang.
Yang satu duduk sambil tangan
dilipat, kaki nyilang, badannya agak
miring. Rasanya kaku. Lo ngerasa
dia nggak nyaman, atau malah nggak
suka sama lo. Sekarang bandingin
sama orang yang duduk santai,
tangannya kebuka, bahunya rileks,
dan badannya ngadep ke lo.
Lo langsung ngerasa aman.
Padahal lo belum kenal lama.
Nah, itu bedanya bahasa tubuh
terbuka dan tertutup.
Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
postur tubuh lo ngirim sinyal lebih
dulu dari kata-kata. Kalau badan lo
terbuka, orang ngerasa diterima.
Kalau badan lo tertutup,
orang ngerasa dihalangi. Ini terjadi
di bawah sadar, dan ngaruh banget
ke rasa nyaman lawan bicara.
Nah, kalau lo ingat, di daftar
30 teknik sebelumnya kita pernah
bahas Spatial Control dan
Nonverbal Ownership.
Dua-duanya masih nyambung
ke bahasa tubuh. Tapi kalau Spatial
Control fokus ke jarak dan posisi,
dan Nonverbal Ownership fokus
ke ngasih tanda kekuasaan lewat
sentuhan benda, teknik ini lebih
sederhana. Ini murni soal gimana lo
ngebuka tubuh lo biar orang
ngerasa lo bukan ancaman.
Kenapa ini ampuh? Karena dari jaman
dulu, manusia udah baca bahasa tubuh
buat nilai bahaya. Lengan dilipat itu
keliatan kayak nahan serangan. Badan
miring itu keliatan mau kabur. Tapi
lengan terbuka, telapak tangan
kelihatan, itu sinyal “gue nggak bawa
senjata, lo aman di deket gue”.
Seketika orang rileks.
Contoh gampangnya gini. Lo lagi
ketemu klien baru. Lo duduk dengan
tangan di atas meja, nggak dilipat.
Badan lo condong dikit ke depan.
Kaki lo nggak nyilang. Klien lo bakal
ngerasa lo orang yang terbuka dan
enak diajak ngomong. Coba kalau lo
duduk sambil tangan dilipat dan
badan nyender jauh, dia bakal
ngerasa lo males atau nggak suka.
Di pertemanan juga gitu. Temen lo
lagi cerita. Kalau lo dengerin sambil
tangan kebuka, dia bakal makin
nyaman. Tapi kalau lo sambil mainin
ponsel dan badan lo nggak ngadep,
dia bakal ngerasa nggak dihargai.
Cara pakainya gampang.
Pertama, jangan lipat tangan.
Letakin di samping atau di atas meja.
Kedua, arahkan badan lo ke lawan
bicara. Jangan setengah-setengah.
Ketiga, buka telapak tangan sesekali.
Itu sinyal jujur. Keempat, jaga bahu
lo tetap turun. Bahu yang naik itu
tanda tegang.
Tapi inget, jangan lebay. Kalau lo
buka tangan kelebar-lebar,
lo malah keliatan aneh. Cukup
rileks dan natural.
Jadi, Use an Open Body, They’ll
Feel Safe itu ibarat lo lagi buka
gerbang. Kalau gerbangnya ketutup,
orang ragu buat masuk. Tapi kalau lo
buka lebar, dia bakal jalan sendiri
ke dalem. Badan lo itu gerbang.
Semakin terbuka, semakin banyak
orang yang berani deket.
Gimana? Mulai kerasa kan kenapa
postur itu nentuin suasana?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas Give a Reason to Say Yes,
Even a Dumb One. Ini masih
nyambung sama teknik “karena”
yang tadi. Stay tuned.
