Psikologi

Mention What Most People Do, They’ll Follow: Mengapa Menyebut Mayoritas Membuat Orang Ikut Arus

Pernahkah Anda mengalami momen
seperti ini: Anda bingung memilih
restoran. Lalu Anda melihat satu
tempat sangat ramai. Antreannya
panjang. Tanpa berpikir panjang,
Anda langsung merasa,
“Wah, ini pasti enak.” Padahal Anda
belum tahu rasanya. Itu bukan
keputusan logis. Itu naluri untuk
mengikuti mayoritas.

Teknik ini mengajarkan bahwa jika
Anda ingin orang melakukan
sesuatu, sebut saja bahwa banyak
orang sudah melakukannya.
Orang itu cenderung mengikuti.
Karena di otak kita, kalau banyak
yang memilih, berarti itu aman.
Dan kita semua ingin merasa aman.

Teknik ini adalah konsep yang sama
dengan 
Social Proof Exploitation
 yang pernah dibahas di daftar lama.
Waktu itu kita membahas
bagaimana orang bisa digiring lewat
ilusi mayoritas. Ada juga
False Consensus Effect yang
intinya mirip. Jadi jika Anda sudah
paham dua teknik itu, ini adalah
versi ringkasnya.

Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Menyebut Mayoritas Mendorong
Orang untuk Mengikuti

Eksperimen Solomon Asch (1951):
Konformitas

Solomon Asch, seorang psikolog sosial,
melakukan eksperimen yang sangat
terkenal tentang konformitas. Ia ingin
tahu seberapa kuat tekanan mayoritas
memengaruhi keputusan seseorang,
bahkan ketika jawaban mayoritas
jelas-jelas salah.

Partisipan diundang ke sebuah
ruangan dan diberi tahu bahwa
mereka akan mengikuti tes
penglihatan sederhana. Di ruangan
itu sudah ada beberapa orang lain
yang tampaknya juga partisipan,
tetapi sebenarnya mereka adalah
aktor yang bekerja sama dengan
Asch.

Tugasnya sederhana.
Asch menunjukkan sebuah kartu
bergambar satu garis lurus.
Kemudian ia menunjukkan kartu
kedua bergambar tiga garis dengan
panjang yang berbeda. Partisipan
diminta menyebutkan garis mana
di kartu kedua yang panjangnya
sama dengan garis di kartu pertama.
Jawabannya sangat jelas. Bahkan
anak kecil pun bisa melihatnya
dengan mudah.

Pada putaran pertama, semua aktor
menjawab dengan benar. Partisipan
sejati juga menjawab dengan benar.
Semua berjalan normal.
Pada putaran kedua, sama.
Pada putaran ketiga, sesuatu
berubah. Para aktor mulai
memberikan jawaban yang salah
secara serempak. Mereka semua
menyebut garis yang jelas-jelas lebih
pendek atau lebih panjang sebagai
jawaban yang benar.

Partisipan sejati, yang duduk
di urutan terakhir, kini menghadapi
dilema. Matanya melihat jawaban
yang benar. Tetapi semua orang
di ruangan itu memberikan jawaban
yang berbeda. Apa yang akan ia
lakukan?

Hasilnya mencengangkan.
Sekitar 75 persen partisipan
setidaknya sekali mengikuti jawaban
kelompok yang salah, meskipun
mereka tahu jawaban itu salah.
Beberapa partisipan benar-benar
mulai meragukan penglihatan
mereka sendiri.

Dialog antara peneliti dan partisipan
setelah eksperimen:

Peneliti: “Mengapa Anda menjawab
mengikuti kelompok, padahal
jawaban itu salah?”

Partisipan: “Saya merasa semua
orang yakin dengan jawaban itu.
Jadi saya pikir mungkin mata
saya yang salah.”

Peneliti: “Apakah Anda sadar
jawaban yang benar sebenarnya
sudah jelas?”

Partisipan: “Iya. Tapi saya tidak mau
jadi satu-satunya yang berbeda.
Rasanya tidak nyaman.”

Asch kemudian melakukan variasi.
Ia menempatkan satu aktor yang
memberikan jawaban benar
di antara para aktor yang salah.
Kehadiran satu orang yang berbeda
ini secara drastis mengurangi
tingkat konformitas. Partisipan
sejati menjadi lebih berani untuk
memberikan jawaban yang benar
ketika ia tidak sendirian.

Asch menyimpulkan bahwa tekanan
sosial untuk mengikuti mayoritas
sangat kuat. Bahkan ketika
mayoritas jelas-jelas salah, banyak
orang memilih untuk ikut daripada
berdiri sendiri. Seorang manipulator
yang memahami prinsip ini cukup
menciptakan kesan bahwa
“semua orang sudah setuju”, dan ia
bisa membuat Anda menyerah
tanpa perlu berdebat.

Eksperimen Cialdini (2008):
Tanda “Mayoritas Melakukan”
dan Perilaku Patuh

Robert Cialdini dan timnya
melakukan eksperimen di sebuah
hotel untuk menguji kekuatan social
proof dalam konteks yang lebih
praktis. Hotel itu ingin mendorong
tamu untuk menggunakan kembali
handuk mereka demi menghemat air
dan energi. Ada dua jenis pesan yang
dipasang di kamar mandi.

Separuh kamar mendapat pesan
standar yang berbunyi:
“Tolong bantu selamatkan lingkungan
dengan menggunakan kembali
handuk Anda. Ini adalah cara
sederhana untuk mengurangi limbah
dan menghemat air.”

Separuh kamar lainnya mendapat
pesan yang menggunakan social
proof: “Mayoritas tamu yang
menginap di hotel ini memilih untuk
menggunakan kembali handuk
mereka. Bergabunglah dengan
mereka dan bantu selamatkan
lingkungan.”

Hasilnya, tamu yang membaca pesan
social proof 26 persen lebih mungkin
untuk menggunakan kembali handuk
mereka dibandingkan tamu yang
membaca pesan standar. Pesan yang
sama-sama tentang lingkungan,
sama-sama tentang penghematan,
tetapi penambahan informasi bahwa
“mayoritas tamu melakukannya”
meningkatkan kepatuhan secara
signifikan.

Cialdini kemudian melakukan variasi
yang lebih spesifik. Ia mengubah
pesan social proof menjadi:
“Mayoritas tamu yang menginap
di kamar ini memilih untuk
menggunakan kembali handuk
mereka.” Frasa “di kamar ini”
menciptakan kedekatan sosial yang
lebih kuat. Tingkat kepatuhan
meningkat lebih tinggi lagi.

Dialog antara peneliti dan tamu
setelah eksperimen:

Peneliti: “Kenapa Anda memutuskan
untuk menggunakan kembali handuk?”

Tamu: “Saya lihat di pesan itu katanya
banyak tamu lain juga melakukannya.
Jadi saya merasa itu hal yang wajar.”

Peneliti: “Apakah pesan tentang
lingkungan saja tidak cukup?”

Tamu: “Sebenarnya cukup.
Tapi setelah tahu banyak yang
melakukannya, saya merasa tidak
ingin jadi yang tidak peduli.”

Cialdini menyimpulkan bahwa social
proof bukan hanya tentang mayoritas
secara umum, tetapi juga tentang
seberapa dekat mayoritas itu dengan
Anda. Semakin spesifik dan relevan
referensi sosialnya, semakin kuat
pengaruhnya.

Mengapa Mention What Most
People Do Begitu Efektif?

Manusia adalah makhluk sosial.
Sejak dulu, kita selamat karena
mengikuti kelompok. Jika banyak
orang lari, kita ikut lari. Jika banyak
orang makan buah itu, kita ikut
makan. Naluri itu masih menempel
sampai sekarang. Begitu Anda bilang,
“Banyak orang sudah memilih ini,”
otak lawan bicara langsung merasa,
“Oh, berarti aku juga harus.”

Mengikuti mayoritas juga mengurangi
beban berpikir. Ketika Anda bingung,
melihat pilihan yang sudah diambil
banyak orang memberi rasa lega.
Anda tidak perlu menganalisis lagi.
Anda tinggal ikut. Jalan pintas ini
terasa nyaman, meskipun kadang
menyesatkan.

Selain itu, ada rasa takut ketinggalan.
Jika banyak orang sudah melakukan
sesuatu, kita merasa aneh jika tidak
ikut. Kita takut dianggap tidak tahu
atau tidak up to date. Rasa takut ini
yang mendorong kita untuk
mengikuti arus.

Tiga Langkah Menerapkan
Mention What Most People Do:
Kisah Raka dan Timnya

Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia ingin timnya pindah ke sistem
kerja baru.

Langkah 1: Cari Fakta yang
Benar-benar Ada

Raka tidak asal mengarang. Ia tahu
bahwa tim sebelah sudah memakai
sistem baru dan hasilnya terlihat.

Raka: “Aku akan sampaikan fakta ini
sebagai bukti.”

Langkah 2: Sebutkan dengan
Tenang

Raka berbicara di depan timnya.

Raka: “Tim sebelah sudah memakai
sistem ini. Hasil laporan mereka
naik signifikan.”

Langkah 3: Jangan Lebay,
Cukup Bikin Arus Terasa

Raka tidak berteriak. Ia hanya
menyampaikan dengan tenang.
Tim Raka mulai merasa bahwa pindah
sistem bukan lagi pilihan aneh, tetapi
pilihan yang sudah terbukti.

Raka: “Banyak yang sudah pindah.
Kita tidak perlu takut mencoba.”

Satu per satu anggota tim mulai setuju.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Menjual Produk

Maya sedang menawarkan produk
ke pelanggan.

Maya: “Produk ini sudah dipakai
banyak orang di komunitas Ibu.
Mereka bilang hasilnya bagus.”

Pelanggan: “Oh ya? Kalau begitu
saya coba.”

Maya memakai bukti mayoritas
untuk meyakinkan.

2. Mengajak Teman Olahraga

Bima ingin Sari ikut joging pagi.

Bima: “Banyak teman kita sudah
mulai joging. Mereka bilang
lebih segar.”

Sari: “Iya ya? Aku jadi tertarik.”

Sari merasa ketinggalan jika
tidak ikut.

3. Mendorong Tim Mengikuti
Pelatihan

Rina ingin timnya ikut pelatihan
baru.

Rina: “Divisi lain sudah kirim
timnya. Mereka dapat banyak
manfaat.”

Tim Rina jadi lebih antusias
mendaftar.

Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini

Jika Anda merasa seseorang
memakai bukti mayoritas untuk
memengaruhi Anda, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, tanyakan detailnya.
“Siapa saja yang sudah
melakukannya?” atau
“Berapa orang tepatnya?”
Ini memaksa lawan bicara untuk
membuka kejelasan.

Kedua, jangan cepat merasa
ketinggalan.

Banyak yang ikut bukan berarti
pilihan itu tepat untuk Anda.

Ketiga, cari bukti lain.
Jangan hanya mengandalkan
kata orang. Cek sendiri.

Keempat, ingat bahwa
mayoritas sering kali cuma
ikut-ikutan juga.

Mereka belum tentu tahu lebih
banyak.

Mention What Most People Do,
They’ll Follow adalah teknik yang
memanfaatkan naluri sosial
manusia. Ketika digunakan dengan
jujur, ia bisa membantu orang
melihat pilihan yang sudah teruji.
Ketika digunakan untuk menipu,
ia bisa membuat orang mengikuti
arus yang salah. Gunakan dengan
bijak, karena arus yang Anda
ciptakan bisa membawa orang
ke tempat yang baik, atau justru
menyesatkan mereka.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Mention What Most
People Do, They’ll Follow
.

Lo pasti pernah ngalamin momen
kayak gini. Lo lagi bingung mau pilih
restoran. Terus lo liat satu tempat
rame banget. Antrinya panjang.
Tanpa mikir panjang, lo langsung
ngerasa, “Wah, ini pasti enak.”
Padahal lo belum tau rasanya.
Itu bukan keputusan logis. Itu naluri
buat ngikutin mayoritas.

Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
kalau lo mau orang ngelakuin
sesuatu, sebut aja bahwa banyak
orang udah ngelakuin. Orang itu
cenderung ngikut. Karena di otak
kita, kalau banyak yang milih,
berarti itu aman. Dan kita semua
pengen ngerasa aman.

Nah, kalau lo ingat, di daftar lama
kita pernah bahas 
Social Proof
Exploitation
. Nah, ini tuh persis.
Cuma beda istilah. Waktu itu kita
ngomongin gimana orang bisa
digiring lewat ilusi mayoritas.
Ada juga 
False Consensus
Effect
 yang intinya mirip.
Jadi kalau lo udah paham dua
teknik itu, ini cuma versi
ringkasnya.

Kenapa ini ampuh?
Karena manusia itu makhluk sosial.
Dari dulu, kita selamat karena ikut
kelompok. Kalau banyak orang lari,
kita ikut lari. Kalau banyak orang
makan buah itu, kita ikut makan.
Naluri itu masih nempel sampai
sekarang. Begitu lo bilang,
“Banyak orang udah pilih ini,”
otak lawan bicara lo langsung
ngerasa, “Oh, berarti gue juga harus.”

Contoh gampangnya gini. Lo mau
jualan produk. Jangan cuma bilang,
“Produk gue bagus.” Coba bilang,
“Produk ini udah dipake banyak
orang di kantor lo.” Orang jadi mikir,
“Kalau banyak yang pake, berarti
bagus.” Dia jadi lebih yakin buat beli.

Di dunia kerja juga gitu. Lo mau
ngeyakinin tim buat pindah ke sistem
baru. Jangan cuma bilang,
“Sistem ini lebih efisien.” Tambahin,
“Tim sebelah udah pake dan hasilnya
naik.” Tim lo bakal lebih gampang
diajak pindah. Karena mereka
ngerasa bukan lagi pilihan aneh,
tapi pilihan yang udah terbukti.

Contoh lain di kehidupan sehari-hari.
Lo mau temen lo ikut olahraga pagi.
Jangan cuma ngajak, “Yuk lari.”
Coba bilang, “Banyak temen kita
udah mulai lari pagi. Pada ngerasa
lebih seger.” Temen lo bakal lebih
tertarik. Karena dia ngerasa
ketinggalan kalau nggak ikut.

Cara pakainya gampang.
Pertama, cari fakta yang beneran
ada. Jangan ngarang.
Kedua, sebutkan dengan tenang.
“Mayoritas udah milih ini.” atau
“Banyak yang udah pindah ke sini.”
Ketiga, jangan lebay. Cukup bikin
lawan bicara lo ngerasa ada arus
yang udah jalan.

Tapi inget, jangan sampe lo nipu.
Kalau lo bilang “banyak yang udah”
tapi kenyataannya nggak ada,
orang bakal ilang percaya. Teknik
ini kuat kalau lo pake dengan jujur.

Jadi, Mention What Most People
Do, They’ll Follow
 itu ibarat lo
lagi bikin sungai kecil. Lo arahin
arusnya ke satu titik. Orang yang
tadinya bingung bakal ngikut arus,
karena ngerasa lebih aman ngikut
daripada nyari jalan sendiri.

Gimana? Udah inget kan miripnya
sama Social Proof? Kalau lo siap
lanjut, berikutnya kita bahas
Use an Open Body, They’ll
Feel Safe
. Ini soal bahasa tubuh
yang bikin orang rileks.
Stay tuned.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *