Let Them Correct You, They’ll Feel Superior: Mengapa Memberi Ruang untuk Mengoreksi Membuat Orang Merasa Nyaman
Pernahkah Anda mengalami momen
ketika salah menyebut sesuatu, lalu
orang lain buru-buru membetulkan?
“Eh, bukan itu. Yang benar tuh
begini.” Anehnya, setelah itu ia
terlihat senang. Wajahnya berbinar.
Ia jadi lebih semangat berbicara.
Mengapa? Karena di momen itu ia
merasa lebih pintar dari Anda.
Dan perasaan itu nyaman sekali.
Teknik ini mengajarkan bahwa Anda
bisa membangun kedekatan dengan
cara mengalah sedikit. Anda sengaja
membuat kesalahan kecil yang tidak
penting, lalu membiarkan orang lain
membetulkannya. Dengan begitu,
Anda memberi dia kesempatan untuk
merasa lebih unggul. Orang yang
merasa unggul di dekat Anda akan
merasa nyaman dan semakin
menyukai Anda.
Teknik ini masih satu rumpun dengan
The Ben Franklin Effect yang
pernah dibahas di daftar lama.
Bedanya, Ben Franklin Effect bekerja
lewat meminta tolong. Teknik ini
bekerja lewat memberi ruang untuk
merasa pintar. Sama-sama memberi
panggung, hanya beda cara.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Mengoreksi Membuat Orang
Merasa Lebih Baik dan Lebih
Terikat
Eksperimen Deci dan Ryan
(2000): Kebutuhan akan
Kompetensi
Edward Deci dan Richard Ryan, dalam
teori penentuan nasib sendiri,
menyatakan bahwa manusia memiliki
tiga kebutuhan dasar: otonomi,
keterhubungan, dan kompetensi.
Kompetensi adalah kebutuhan untuk
merasa mampu dan punya
pengetahuan yang berharga.
Dalam berbagai eksperimen, Deci dan
Ryan menemukan bahwa ketika
seseorang merasa kompetensinya
diakui, ia mengalami peningkatan
kepuasan dan kesejahteraan.
Sebaliknya, ketika kompetensinya
diabaikan, ia merasa tidak berharga.
Momen mengoreksi orang lain adalah
salah satu cara paling langsung untuk
merasakan kompetensi. Begitu Anda
membiarkan seseorang mengoreksi
Anda, Anda sedang memberi dia
kesempatan untuk membuktikan
bahwa ia tahu sesuatu. Pengakuan itu
memenuhi kebutuhan kompetensinya.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Bagaimana perasaan Anda
ketika berhasil mengoreksi
orang lain?”
Partisipan: “Saya merasa senang.
Saya merasa pengetahuan saya
berguna.”
Peneliti: “Apakah itu membuat Anda
merasa lebih dekat dengan orang
yang Anda koreksi?”
Partisipan: “Lumayan. Saya merasa
kami terhubung karena saya bisa
membantunya.”
Eksperimen Elliot, Moller, dan
Friedman (2006):
Efek Mengoreksi terhadap
Harga Diri
Penelitian oleh psikolog sosial
menunjukkan bahwa memberi
koreksi, ketika diterima dengan baik,
meningkatkan harga diri
si pengoreksi. Partisipan diminta
mengoreksi jawaban orang lain
dalam diskusi. Separuh koreksi
diterima dengan baik,
separuh lainnya diabaikan.
Hasilnya, partisipan yang koreksinya
diterima melaporkan peningkatan
harga diri dan rasa keterhubungan
yang lebih tinggi. Mereka merasa
bahwa mereka punya andil dalam
membantu orang lain menjadi
lebih benar.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Kenapa Anda merasa lebih
baik ketika koreksi Anda diterima?”
Partisipan: “Karena saya merasa
dihargai. Orang itu mau
mendengarkan saya.”
Peneliti: “Apakah itu membuat Anda
ingin terus berinteraksi dengannya?”
Partisipan: “Iya. Saya merasa dia
orang yang rendah hati.”
Eksperimen ini menunjukkan bahwa
ketika Anda membiarkan orang lain
mengoreksi Anda, ia merasa dihargai.
Perasaan dihargai itu membuat ia
lebih suka kepada Anda.
Mengapa Let Them Correct
You Begitu Efektif?
Manusia butuh merasa berharga.
Begitu ia bisa menunjukkan bahwa
ia mengerti sesuatu yang Anda tidak,
harga dirinya naik. Dan karena Anda
yang memberi kesempatan itu,
ia akan merasa Anda orang yang
enak diajak bicara.
Teknik ini juga menciptakan suasana
yang tidak kompetitif. Anda tidak
sedang berlomba untuk terlihat
paling pintar. Anda justru memberi
ruang kepada lawan bicara untuk
tampil. Ini membuat percakapan
terasa hangat dan nyaman.
Selain itu, membiarkan diri dikoreksi
menunjukkan kerendahan hati. Anda
tidak gengsi mengakui kesalahan
kecil. Sikap ini membuat Anda terlihat
manusiawi dan mudah didekati.
Orang akan lebih terbuka kepada Anda
karena ia merasa tidak perlu bersaing.
Tiga Langkah Menerapkan Let
Them Correct You: Kisah Raka
dan Temannya
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia sedang mengobrol dengan
temannya, Bima, tentang film.
Langkah 1: Buat Kesalahan
Kecil yang Wajar
Raka tahu betul bahwa pemeran
utama film itu adalah B, bukan A.
Tetapi ia sengaja menyebut A.
Raka: “Pemeran utamanya itu
si A kan ya?”
Langkah 2: Biarkan Lawan
Bicara Mengoreksi
Bima langsung menanggapi dengan
semangat.
Bima: “Bukan, bukan. Yang bener
si B. Masa lupa.”
Raka tidak membela diri.
Ia menerima koreksi itu.
Langkah 3: Dengarkan dan
Apresiasi
Raka mengangguk dan
mengucapkan terima kasih.
Raka: “Oh iya, bener. Gue inget
sekarang. Lo emang apal detail ya.”
Bima tersenyum lebar. Sejak itu, ia
lebih sering mengajak Raka
mengobrol. Raka berhasil membuat
Bima merasa dihargai.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Diskusi di Kantor
Maya sedang berbicara dengan rekan
kerjanya, Doni.
Maya: “Meeting minggu lalu itu
tanggal 10 kan ya?”
Doni: “Bukan, tanggal 9. Kamu lupa.”
Maya: “Oh iya, bener. Makasih Doni.”
Doni merasa senang karena
ingatannya akurat. Ia jadi lebih
ramah kepada Maya.
2. Ngobrol Ringan
Raka sedang berbicara dengan Sari
tentang tempat makan.
Raka: “Tempat yang terkenal itu
namanya Warung Biru atau apa ya?”
Sari: “Warung Hijau, bukan Biru.”
Raka: “Ah iya, Warung Hijau.
Untung kamu ingat.”
Sari tersenyum. Percakapan jadi
lebih cair.
3. Minta Koreksi
Bima sedang menulis catatan dan
bertanya kepada Rina.
Bima: “Tadi maksudnya budget naik
dua puluh persen atau dua persen ya?”
Rina: “Dua puluh. Kamu salah catat.”
Bima: “Makasih. Penting banget itu.”
Rina merasa heran kenapa Bima bisa
lupa, tetapi ia juga merasa diandalkan.
Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini
Jika Anda merasa seseorang sengaja
membuat kesalahan untuk membuat
Anda merasa superior, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, jangan terlalu cepat
terbawa perasaan superior.
Mengoreksi itu menyenangkan,
tetapi tidak berarti Anda harus
selalu siap menolong.
Kedua, perhatikan pola.
Jika orang itu terlalu sering “lupa”
hal-hal kecil, mungkin itu disengaja.
Ketiga, jangan biarkan rasa
superior membuat Anda lengah.
Anda bisa tetap ramah tanpa harus
terbawa suasana.
Keempat, jaga interaksi tetap
seimbang.
Jangan biarkan diri Anda selalu
menjadi pihak yang mengoreksi,
atau selalu menjadi pihak yang
dikoreksi.
Let Them Correct You, They’ll Feel
Superior adalah teknik yang
memanfaatkan kebutuhan manusia
untuk merasa kompeten. Ketika
digunakan dengan tulus, ia membuat
percakapan lebih hangat dan
hubungan lebih dekat.
Ketika digunakan berlebihan,
ia bisa membuat Anda terlihat tidak
kompeten. Gunakan dengan bijak,
karena mengalah sedikit kadang
lebih kuat daripada selalu menang.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Let Them Correct You,
They’ll Feel Superior.
Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo salah sebut sesuatu,
terus orang lain buru-buru
ngebenerin. “Eh, bukan itu. Yang
bener tuh gini.” Dan anehnya,
setelah itu dia kelihatan seneng.
Mukanya berbinar. Dia jadi lebih
semangat ngomong. Kenapa?
Karena di momen itu dia ngerasa
lebih pinter dari lo. Dan perasaan
itu nyaman banget.
Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
lo bisa ngebangun kedekatan dengan
cara ngalah dikit. Lo sengaja bikin
kesalahan kecil yang nggak penting,
lalu biarin orang lain ngebenerin.
Dengan begitu, lo ngasih dia
kesempatan buat ngerasa lebih
unggul. Dan orang yang ngerasa
unggul di deket lo, bakal ngerasa
nyaman dan lebih suka sama lo.
Kenapa ini ampuh?
Karena manusia itu butuh ngerasa
berharga. Begitu dia bisa nunjukin
bahwa dia ngerti sesuatu yang lo
nggak, harga dirinya naik.
Dan karena lo yang kasih dia
kesempatan itu, dia bakal ngerasa
lo orang yang enak diajak ngobrol.
Nah, kalau lo ingat, di daftar lama
kita pernah bahas The Ben
Franklin Effect. Itu kan soal
bikin orang ngerasa penting
dengan minta tolong. Nah,
ini masih satu rumpun. Bedanya,
kalau Ben Franklin Effect itu lewat
minta tolong, ini lewat kasih ruang
buat dia ngerasa pinter. Sama-sama
ngasih panggung, cuma beda cara.
Contoh gampangnya gini. Lo lagi
ngobrolin film. Lo bilang,
“Pemeran utamanya itu si A kan ya?”
Padahal lo tau yang bener si B.
Temen lo langsung nyamber,
“Bukan, si B. Masa lupa.”
Terus lo tanggepin, “Oh iya, gue
inget sekarang. Lo emang apal
detail ya.” Temen lo bakal seneng
banget. Dia ngerasa dihargai
pengetahuannya.
Di dunia kerja juga gitu. Lo bisa
bilang, “Wah, aku lupa angka
pastinya. Kamu masih inget nggak?”
Rekan lo bakal antusias nyebutin.
Setelah itu, dia ngerasa berkontribusi.
Dan lo keliatan rendah hati, bukan
bego. Karena lo cuma ngalah di hal
kecil.
Cara pakainya gampang.
Pertama, pilih topik yang emang
ringan. Jangan kesalahan yang bikin
lo keliatan nggak kompeten.
Kedua, buat kesalahan kecil yang
wajar. Bisa lupa nama, lupa tanggal,
atau salah sebut istilah.
Ketiga, pas dia ngebenerin, dengerin
dan apresiasi. Bilang, “Oh iya, bener.
Makasih.” Itu udah cukup.
Tapi ingat, jangan terlalu sering.
Nanti lo malah keliatan nggak tau
apa-apa. Kuncinya ada di sesekali
dan di momen yang pas.
Jadi, Let Them Correct You,
They’ll Feel Superior itu ibarat
lo lagi main catur, terus lo sengaja
ngalah satu langkah. Lawan lo seneng,
padahal lo masih pegang kendali.
Kadang, menang bukan dengan cara
selalu bener. Tapi dengan cara kasih
orang lain ruang buat ngerasa dia
yang menang.
Gimana? Mulai kerasa kan gimana
ngalah dikit bisa bikin orang makin
deket? Kalau lo siap lanjut, berikutnya
kita bahas Ask What Would You
Do, Not Why. Ini soal cara nanya
yang bikin orang lebih terbuka dan
nggak defensif. Stay tuned.
