Compliment Their Taste, Not Them: Mengapa Memuji Selera Lebih Mengena daripada Memuji Barang
Pernahkah Anda mendengar pujian
seperti, “Baju kamu bagus” atau
“Rumah kamu keren”?
Itu pujian biasa. Ngena, tetapi cepat
hilang. Sekarang bandingkan dengan
kalimat, “Kamu punya selera bagus”
atau “Kamu jago milih barang.”
Rasanya berbeda. Lebih dalam.
Karena yang dipuji bukan bendanya,
tetapi keputusan orang itu. Dan itu
yang membuatnya merasa dihargai.
Teknik ini mengajarkan bahwa pujian
yang paling mengena bukan pujian
pada sesuatu yang dimiliki orang,
melainkan pujian pada kemampuannya
memilih. Jika Anda memuji barangnya,
ia hanya senang dengan barangnya.
Tetapi jika Anda memuji seleranya,
ia merasa dirinya yang dihargai.
Teknik ini masih serumpun dengan
Nonlinear Compliments yang
pernah dibahas di daftar 30 teknik
sebelumnya. Bedanya, Nonlinear
Compliments fokus pada sisi yang
jarang dilihat orang. Teknik ini fokus
pada “taste” atau selera. Jadi lebih
spesifik.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Memuji Pilihan Lebih
Menguatkan Identitas
Eksperimen Fogg dan
Nass (1997): Pujian Spesifik
dan Rasa Dihargai
B.J. Fogg dan Clifford Nass melakukan
penelitian tentang bagaimana pujian
memengaruhi perasaan dihargai.
Partisipan berinteraksi dengan
program komputer yang memberikan
umpan balik. Sebagian menerima
pujian umum, seperti “Kerja bagus.”
Sebagian lainnya menerima pujian
spesifik, seperti “Pilihan strategimu
di langkah ketiga sangat tepat.”
Hasilnya, partisipan yang menerima
pujian spesifik merasa lebih dihargai.
Mereka juga lebih menyukai program
komputer itu, meskipun tahu bahwa
pujian itu berasal dari mesin.
Fogg menyimpulkan bahwa pujian
yang menunjuk pada keputusan atau
tindakan tertentu lebih kuat
daripada pujian umum.
Karena pujian spesifik menunjukkan
bahwa pemberi pujian benar-benar
memperhatikan.
Eksperimen Mueller dan
Dweck (1998): Pujian pada
Proses dan Usaha
Claudia Mueller dan Carol Dweck
melakukan penelitian tentang pujian
pada anak-anak. Separuh anak dipuji
karena hasilnya, misalnya
“Kamu pintar.” Separuh lainnya
dipuji karena prosesnya, misalnya
“Kamu bekerja keras dan memilih
cara yang bagus.”
Hasilnya, anak-anak yang dipuji
karena prosesnya menunjukkan
motivasi yang lebih tinggi dan lebih
tahan menghadapi kesulitan. Mereka
merasa bahwa keberhasilan mereka
berasal dari usaha dan keputusan
mereka, bukan dari bakat bawaan.
Dweck menyimpulkan bahwa memuji
pilihan dan proses lebih membangun
daripada memuji hasil. Pujian pada
proses menguatkan rasa kendali atas
diri sendiri.
Mengapa Compliment Their
Taste, Not Them Begitu Efektif?
Orang merasa bangga pada pilihannya.
Ketika Anda memuji pilihan itu, Anda
secara tidak langsung memuji
kecerdasannya, kepribadiannya, dan
caranya melihat dunia. Itu jauh lebih
dalam daripada sekadar memuji
benda yang ia miliki.
Pujian pada selera juga menciptakan
koneksi personal. Anda tidak sedang
menilai barangnya. Anda sedang
melihat bagaimana ia berpikir dan
apa yang ia sukai. Ini membuatnya
merasa dikenali sebagai individu,
bukan sekadar pemilik barang.
Selain itu, pujian pada selera jarang
terdengar. Kebanyakan orang memuji
barang. Ketika Anda memuji pilihan,
Anda terdengar berbeda. Perbedaan
itu membuat pujian Anda lebih diingat.
Tiga Langkah Menerapkan
Compliment Their Taste:
Kisah Raka dan Temannya
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Temannya, Sari, baru saja memakai
sepatu baru.
Langkah 1: Cari Hal yang Dipilih
atau Diputuskan
Raka melihat sepatu Sari. Ia tidak
langsung memuji sepatunya.
Raka: “Sari, kamu paham banget
soal warna.”
Langkah 2: Puji Keputusannya,
Bukan Barangnya
Sari tersenyum. “Menurutmu cocok?”
Raka: “Cocok. Pilihan warnanya pas
sama gayamu. Kamu emang jeli.”
Langkah 3: Jangan Berlebihan
Raka tidak melanjutkan dengan
pujian panjang. Ia berhenti di situ.
Pujiannya terasa tulus dan singkat.
Sari merasa dihargai. Ia lebih
menikmati pujian itu daripada
sekadar “sepatumu bagus”.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Memuji Slide Presentasi
Maya melihat slide presentasi rekan
kerjanya, Bima.
Maya: “Bima, kamu emang jago bikin
slide yang enak dilihat.
Pilihan warnanya pas.”
Bima: “Makasih. Aku emang suka
main-main sama warna.”
Bima merasa kemampuan desainnya
diakui.
2. Memuji Dekorasi Rumah
Raka berkunjung ke rumah Sari.
Raka: “Sari, kamu tahu banget cara
nata ruangan. Rumahnya jadi adem.”
Sari: “Aku suka cari-cari referensi.”
Sari merasa seleranya dihargai.
3. Memuji Playlist Musik
Bima sedang mendengarkan
musik di mobil bersama Rina.
Bima: “Rina, pilihan lagunya enak
semua. Kamu ngerti suasana.”
Rina: “Senang kamu suka.”
Rina merasa playlist buatannya
diakui, bukan sekadar lagunya.
Cara Melindungi Diri dari
Pujian pada Selera
Jika Anda merasa seseorang memuji
selera Anda untuk mengambil hati,
ada beberapa langkah yang bisa
dilakukan.
Pertama, nikmati pujiannya,
tetapi tetap jaga jarak.
Pujian yang tulus itu wajar. Namun
jangan langsung merasa dekat.
Kedua, perhatikan motifnya.
Apakah pujian itu datang tiba-tiba
dan diikuti permintaan? Jika ya,
waspadalah.
Ketiga, jangan merasa berutang.
Pujian bukan alat tukar. Anda tidak
wajib membalas dengan sesuatu.
Keempat, tetap kritis pada
keputusan Anda sendiri.
Pujian pada selera bisa membuat
Anda terlalu percaya diri. Tetaplah
pada penilaian yang rasional.
Compliment Their Taste, Not Them
adalah teknik yang memanfaatkan
kebanggaan orang pada pilihannya.
Ketika digunakan dengan tulus,
ia membuat orang merasa dikenali
dan dihargai. Ketika digunakan
untuk memanipulasi, ia bisa membuat
orang merasa dekat terlalu cepat.
Gunakan dengan bijak, karena pujian
yang jujur pada selera adalah hadiah
yang lebih berkesan daripada seratus
pujian pada barang.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Compliment Their
Taste, Not Them.
Lo pasti sering denger pujian kayak,
“Baju lo bagus.” Atau,
“Rumah lo keren.” Itu pujian biasa.
Ngena, tapi cepet ilang. Sekarang
coba bandingin sama kalimat,
“Lo tuh punya selera bagus.” Atau,
“Lo jago milih barang.” Rasanya
beda. Lebih dalem. Karena yang
dipuji bukan bendanya, tapi
keputusan lo. Dan itu yang bikin
orang ngerasa dihargai.
Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
pujian yang paling ngena bukan
pujian ke sesuatu yang dimiliki orang,
tapi pujian ke kemampuan dia buat
milih. Kalau lo muji barangnya,
dia cuma seneng barangnya.
Tapi kalau lo muji seleranya,
dia ngerasa dirinya yang dihargai.
Nah, kalau lo ingat, di daftar
30 teknik sebelumnya kita sempat
bahas Nonlinear Compliments.
Itu kan pujian yang nggak terduga,
yang nggak cuma muji hal umum.
Teknik ini tuh masih serumpun.
Bedanya, kalau Nonlinear
Compliments fokus ke sisi yang
jarang dilihat orang, ini fokus
ke “taste” atau selera. Jadi lebih
spesifik.
Kenapa ini ampuh? Karena orang itu
ngerasa bangga sama pilihannya.
Kalau lo muji pilihan dia, lo secara
nggak langsung muji kecerdasannya,
kepribadiannya, dan caranya ngeliat
dunia. Itu jauh lebih dalem daripada
sekadar muji benda yang dia punya.
Contoh gampangnya gini. Lo liat
temen lo pake sepatu baru.
Jangan cuma bilang, “Sepatu lo
keren.” Coba bilang, “Lo tuh bisa
banget ya milih sepatu. Warnanya
cocok sama gaya lo.” Temen lo bakal
ngerasa lo ngeliat dia, bukan cuma
sepatunya.
Di dunia kerja juga gitu. Lo liat rekan
lo bikin slide presentasi yang rapi.
Jangan cuma bilang, “Slide lo bagus.”
Coba bilang, “Lo emang jago bikin
slide yang enak dilihat.
Pilihan warnanya pas.” Rekan lo bakal
ngerasa skill-nya diakui.
Cara pakainya gampang.
Pertama, cari hal yang emang dipilih
atau diputusin orang itu. Bisa baju,
dekorasi, cara ngatur kerja, bahkan
playlist musik.
Kedua, puji keputusannya,
bukan barangnya. Misalnya,
“Lo paham banget soal warna.”
Ketiga, jangan berlebihan.
Cukup tulus dan singkat.
Tapi ingat, pujian lo harus jujur.
Kalau dipaksa, orang bisa ngerasa
lo cuma ngambil hati. Dan itu
malah bikin lo keliatan
manipulatif.
Jadi, Compliment Their Taste,
Not Them itu ibarat lo lagi muji
pelukis lewat lukisannya. Lo nggak
bilang, “Lukisan lo bagus.” Tapi,
“Lo jago milih warna.” Itu yang
bikin dia ngerasa dikenali sebagai
seniman, bukan cuma pemilik
lukisan.
Gimana? Mulai kerasa kan bedanya
muji barang dan muji selera?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas Stand Behind Them and
They Behave Better.
Ini soal pengaruh posisi tubuh.
Stay tuned.
