Bisnis dan Tubuh: Cara The Four Mengeksploitasi Otak Primitif
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 7 dan
Bab 8 dari buku The Four. Setelah
membongkar dominasi
masing-masing perusahaan dan
dampaknya terhadap media, Scott
Galloway kini menyelami akar paling
dalam dari kekuasaan The Four:
otak manusia itu sendiri. Ia membawa
kita ke dunia neurosains dan psikologi
evolusioner untuk memahami mengapa
kita begitu rentan terhadap pesona
mereka, lalu merangkumnya menjadi
sebuah formula yang ia sebut sebagai
Algoritma T.
Bab 7: Bisnis dan Tubuh:
Cara The Four Mengeksploitasi
Otak Primitif
Scott Galloway membuka bab ini
dengan sebuah pengakuan yang
merendahkan hati: kita semua adalah
binatang. Di balik pakaian rapi, gelar
akademis, dan kecanggihan teknologi,
otak kita masih dikendalikan oleh
struktur paling kuno yang telah ada
sejak zaman reptil. The Four
memahami ini dengan sangat baik,
dan inilah rahasia terdalam dari
kesuksesan mereka.
Galloway menjelaskan bahwa otak
manusia terdiri dari tiga lapisan utama
yang berevolusi secara bertahap selama
jutaan tahun. Lapisan pertama dan
paling dalam adalah apa yang disebut
sebagai “otak reptil” atau batang otak.
Bagian ini mengendalikan fungsi-fungsi
paling dasar untuk bertahan hidup:
bernapas, detak jantung, suhu tubuh,
dan naluri primitif seperti lapar, takut,
dan hasrat seksual. Lapisan kedua
adalah sistem limbik, pusat emosi dan
memori. Di sinilah perasaan cinta, benci,
cemburu, dan keterikatan diproses.
Lapisan ketiga dan paling luar adalah
neokorteks, bagian yang membedakan
kita dari hewan lain. Neokorteks
bertanggung jawab atas pemikiran
rasional, bahasa, perencanaan jangka
panjang, dan kesadaran diri.
Kebanyakan perusahaan mencoba
menjual produk mereka ke neokorteks.
Mereka menyajikan data, spesifikasi
teknis, perbandingan harga, dan
argumen logis. Tetapi The Four
melakukan sesuatu yang sama sekali
berbeda. Mereka mengabaikan
neokorteks dan langsung menuju
ke sistem limbik dan otak reptil.
Galloway menyebut ini sebagai
“membajak otak primitif.” Mereka
tahu bahwa keputusan pembelian,
seperti hampir semua keputusan
manusia, dibuat secara emosional
terlebih dahulu, dan logika hanyalah
pembenaran yang menyusul kemudian.
Amazon membajak naluri lapar dan
keinginan untuk mengumpulkan.
Di zaman purba, manusia harus
terus-menerus mencari makanan
dan menyimpannya untuk masa sulit.
Naluri ini tidak pernah hilang. Ketika
kita membeli sesuatu di Amazon
dengan harga murah dan pengiriman
cepat, otak reptil kita merasakan
kepuasan yang sama seperti nenek
moyang kita yang berhasil menemukan
sumber makanan berlimpah. Tombol
“Buy Now” (Beli Sekarang) adalah
pelatuk yang menembak langsung
ke inti primitif kita.
Apple membajak naluri birahi dan
keinginan untuk berkembang
biak. Dalam dunia hewan, individu
yang paling menarik secara visual
akan mendapatkan pasangan dan
mewariskan gen mereka. Galloway
menjelaskan bahwa memiliki iPhone
terbaru adalah versi modern dari
bulu merak yang indah. Ia adalah
sinyal kepada lawan jenis dan kepada
masyarakat bahwa kamu adalah
individu yang unggul, yang layak
mendapatkan perhatian dan status.
Desain Apple yang ramping, material
premium, dan logo yang bersinar
adalah alat untuk memicu naluri ini.
Facebook membajak naluri cinta,
koneksi, dan kebutuhan untuk
diterima dalam kelompok.
Manusia adalah makhluk sosial yang
tidak bisa bertahan hidup sendirian.
Di zaman purba, diusir dari suku
berarti kematian. Facebook
memanfaatkan kebutuhan mendalam
ini dengan menciptakan platform yang
memberikan validasi sosial instan.
Setiap like, setiap komentar, setiap
notifikasi adalah sinyal bahwa kamu
diterima, bahwa kamu termasuk,
bahwa kamu dicintai.
Google membajak naluri rasa aman
melalui pengetahuan. Di alam liar,
hewan yang tahu di mana predator
bersembunyi, di mana air bisa
ditemukan, dan bagaimana cuaca besok
memiliki peluang lebih besar untuk
bertahan hidup. Google telah menjadi
sumber pengetahuan itu. Setiap kali
kita mencari sesuatu di Google dan
mendapatkan jawaban, otak primitif
kita merasa lebih aman. Kita merasa
bahwa kita memiliki kendali atas
lingkungan kita.
Galloway menekankan bahwa The Four
tidak hanya memahami naluri-naluri
ini. Mereka secara sengaja merancang
produk dan layanan mereka untuk
memicunya. Setiap warna, setiap suara
notifikasi, setiap animasi, setiap
penempatan tombol, semuanya
dirancang dengan pemahaman
mendalam tentang bagaimana otak
primitif bekerja. Mereka adalah
pembajak sistem limbik yang paling
sukses dalam sejarah.
Bab 8: Algoritma T
Setelah membongkar cara The Four
membajak otak primitif,
Scott Galloway memberikan sebuah
alat yang sangat berharga bagi para
investor, pengusaha, dan siapa pun
yang ingin memahami apa yang
membuat sebuah perusahaan bisa
mencapai valuasi triliunan dolar.
Ia menyebutnya sebagai
T Algorithm (Algoritma T).
T Algorithm adalah cetak biru untuk
mengevaluasi apakah sebuah
perusahaan memiliki potensi untuk
menjadi raksasa. Galloway
mengidentifikasi delapan karakteristik
yang dimiliki oleh
perusahaan-perusahaan dengan
kapitalisasi pasar mendekati atau
melebihi satu triliun dolar.
Karakteristik-karakteristik ini, katanya,
adalah DNA dari dominasi bisnis
di abad kedua puluh satu.
Karakteristik pertama adalah
asset light (aset ringan).
Perusahaan-perusahaan paling bernilai
di dunia saat ini tidak memiliki banyak
aset fisik. Mereka tidak memiliki
pabrik, gudang, atau armada truk
dalam jumlah besar. Sebagian besar
nilai mereka terletak pada aset tak
berwujud: kode perangkat lunak, data
pengguna, merek, dan efek jaringan.
Karakteristik kedua adalah
global reach (jangkauan global).
Untuk mencapai valuasi triliunan
dolar, sebuah perusahaan harus bisa
menjangkau miliaran orang
di seluruh dunia. Pasar domestik
tidak cukup besar. The Four semuanya
memiliki kehadiran global yang sangat
kuat.
Karakteristik ketiga adalah
iconic brand differentiation
(diferensiasi merek yang ikonis).
Merek perusahaan harus begitu kuat
sehingga ia menjadi kata kerja atau
simbol budaya. Kita tidak
“mencari di internet.” Kita
“googling.” Kita tidak “berbagi foto.”
Kita “Instagram.” Merek yang ikonis
tidak perlu menjelaskan siapa
mereka. Semua orang sudah tahu.
Facebook mengakuisisi
Instagram pada tahun 2012, dan
Galloway menjadikan akuisisi ini
sebagai salah satu contoh utama
strategi Facebook untuk
memonopoli jejaring sosial.
Jadi, ketika Galloway berbicara
tentang bagaimana Facebook
mengeksploitasi naluri cinta dan
koneksi, ia juga merujuk pada
Instagram sebagai alat yang
digunakan Facebook untuk
mencapai tujuan itu. Keduanya
adalah bagian dari mesin yang
sama.
Karakteristik keempat adalah
intersection with core human
desires (bersinggungan langsung
dengan hasrat inti manusia).
Perusahaan harus menyentuh naluri
primitif yang telah dibahas di Bab 7:
lapar, birahi, cinta, dan rasa aman.
Semakin dalam sebuah perusahaan
terhubung dengan kebutuhan dasar
manusia, semakin besar potensinya.
Karakteristik kelima adalah
ability to survive recessions
(kemampuan bertahan dalam resesi).
Perusahaan besar harus cukup kuat
secara finansial untuk bertahan ketika
ekonomi memburuk. Mereka harus
memiliki neraca yang solid, arus kas
yang stabil, dan model bisnis yang
tidak runtuh ketika konsumen
mengurangi pengeluaran.
Karakteristik keenam adalah
high margins (margin tinggi).
Perusahaan-perusahaan paling
bernilai menikmati margin
keuntungan yang jauh di atas
rata-rata industri. Apple, misalnya,
menikmati margin kotor yang
sangat tinggi karena kekuatan
mereknya memungkinkan mereka
mengenakan harga premium.
Karakteristik ketujuh adalah
low capital intensity
(intensitas modal rendah).
Perusahaan tidak membutuhkan
investasi besar-besaran dalam
infrastruktur fisik untuk tumbuh.
Facebook bisa menambah miliaran
pengguna tanpa harus membangun
gedung baru. Google bisa memproses
miliaran pencarian tanpa harus
membeli server dalam jumlah yang
proporsional.
Bayangkan dua jenis bisnis yang
sangat berbeda. Bisnis pertama
adalah sebuah restoran. B
isnis kedua adalah Google.
Jika kamu memiliki sebuah
restoran kecil dengan dua puluh
kursi, kamu bisa melayani sekitar
dua puluh pelanggan dalam satu
waktu. Suatu hari, restoranmu
menjadi sangat populer. Seratus
orang ingin makan di tempatmu
setiap hari.
Apa yang harus kamu lakukan?
Kamu tidak bisa hanya mengandalkan
dua puluh kursi yang ada. Kamu harus
menyewa tempat yang lebih besar.
Kamu harus membeli lebih banyak
meja, lebih banyak kursi, lebih banyak
peralatan dapur. Kamu harus
merekrut lebih banyak koki, lebih
banyak pelayan, lebih banyak staf
kebersihan. Kamu harus membeli
lebih banyak bahan makanan.
Ini berarti, untuk melayani lima kali
lipat lebih banyak pelanggan, biaya
operasionalmu juga akan melonjak
drastis, mungkin juga lima kali lipat
atau lebih. Ini adalah bisnis dengan
intensitas modal yang tinggi.
Pertumbuhan pendapatan selalu
diikuti oleh pertumbuhan biaya
yang hampir proporsional.
Sekarang, lihatlah Google. Google
membangun pusat data raksasa.
Ini adalah investasi awal yang
sangat mahal, miliaran dolar.
Pusat data ini memiliki server,
sistem pendingin, kabel bawah laut,
dan infrastruktur fisik lainnya.
Ini adalah biaya tetap (fixed cost)
yang sangat besar.
Tetapi, begitu pusat data itu berdiri
dan beroperasi, ia memiliki kapasitas
yang sangat besar. Pusat data itu
bisa memproses satu juta pencarian
per hari, atau satu miliar pencarian
per hari. Biaya untuk memproses
satu pencarian tambahan, yang
dalam istilah bisnis disebut biaya
marjinal (marginal cost), hampir
mendekati nol. Pencarian tambahan
itu hanya menggunakan sedikit sekali
listrik dan daya komputasi dari
kapasitas raksasa yang sudah tersedia.
Jadi, ketika pengguna Google
bertambah dari satu miliar menjadi
dua miliar, Google memang mungkin
perlu membangun beberapa pusat
data baru. Investasi mereka
bertambah. Tetapi pendapatan
mereka dari iklan melonjak
berkali-kali lipat, sementara biaya
infrastruktur mereka tidak bertambah
secara proporsional. Mereka tidak
perlu membangun pusat data dua kali
lebih banyak untuk melayani dua kali
lipat pencarian.
Itulah mengapa Google adalah bisnis
dengan intensitas modal yang
rendah. Begitu fondasi
infrastrukturnya sudah ada, mereka
bisa tumbuh secara eksponensial
dengan penambahan biaya yang
jauh lebih kecil.
Karakteristik kedelapan adalah
network effects (efek jaringan).
Nilai produk atau layanan meningkat
seiring dengan bertambahnya jumlah
pengguna. Semakin banyak orang
menggunakan Facebook, semakin
berharga Facebook bagi setiap
penggunanya, karena semua teman
dan keluarga mereka ada di sana.
Efek jaringan menciptakan lingkaran
yang sangat sulit ditembus oleh
pesaing.
Galloway menutup bab ini dengan
sebuah tantangan. Ia meminta
para pembacanya untuk menggunakan
T Algorithm ini untuk mengevaluasi
perusahaan-perusahaan yang mereka
minati, baik sebagai investor, sebagai
karyawan, atau sebagai pengusaha
yang ingin membangun bisnis sendiri.
Apakah perusahaan itu memenuhi
delapan karakteristik ini? Jika tidak,
apa yang kurang? Apakah bisa
diperbaiki? T Algorithm bukanlah
jaminan sukses. Tetapi ia adalah
kompas yang bisa membantu kita
menavigasi dunia bisnis yang semakin
didominasi oleh segelintir raksasa.
Contoh Kasus Bab 7:
Cara The Four Mengeksploitasi
Otak Primitif
Kasus 1: Amazon dan Naluri
Mengumpulkan
Seorang pria bernama Andi memiliki
kebiasaan yang mungkin sangat mirip
dengan jutaan orang lainnya.
Setiap kali ia menerima notifikasi
bahwa gaji bulanannya sudah masuk,
hal pertama yang ia lakukan adalah
membuka aplikasi Amazon. Ia tidak
pergi ke mal. Ia tidak pergi ke pasar.
Ia membuka ponselnya dan mulai
mencari barang-barang yang sudah
lama ia simpan di keranjang belanja
virtualnya.
Suatu hari, Andi menyadari sesuatu
yang aneh. Ia membeli sebuah alat
pembersih keyboard yang sebenarnya
tidak terlalu ia butuhkan. Ia membeli
karena Amazon menampilkan kata
“Flash Sale: Stok Tinggal 3”
(Obral Kilat: Stok Tinggal 3)
dengan huruf merah dan penghitung
waktu mundur. Otak Andi langsung
bereaksi. “Kalau aku tidak beli
sekarang, aku akan kehilangan
kesempatan ini selamanya,” pikirnya.
Ia menekan tombol “Buy Now”
(Beli Sekarang).
Yang tidak disadari Andi adalah bahwa
Amazon telah membajak otak
primitifnya. Di zaman purba,
ketika nenek moyang kita menemukan
sumber makanan, mereka harus
mengambilnya segera sebelum diambil
oleh hewan lain atau membusuk.
Naluri untuk mengumpulkan dengan
cepat ketika sumber daya tersedia
adalah naluri bertahan hidup. Amazon
mengeksploitasi naluri ini dengan
menciptakan rasa urgensi buatan.
Tombol “Buy Now,” penghitung waktu
mundur, notifikasi “Stok Terbatas,”
dan kemudahan pembelian dengan
satu klik, semuanya dirancang untuk
memicu otak reptil Andi, melewati
neokorteks yang akan bertanya,
“Apakah aku benar-benar
membutuhkan ini?” Andi membeli.
Otak primitifnya menang.
Kasus 2: Apple dan Naluri
Birahi serta Status
Seorang mahasiswa bernama Raka
sudah memiliki iPhone 14 yang
berfungsi dengan sempurna.
Layarnya tidak retak, baterainya
masih bertahan seharian, dan semua
aplikasi berjalan lancar. Tetapi ketika
Apple meluncurkan iPhone 15 dengan
warna “Titanium Blue” yang baru,
Raka merasakan dorongan yang sulit
dijelaskan. Ia mulai memperhatikan
bahwa beberapa teman sekelasnya
sudah memiliki iPhone 15. Ketika
mereka mengeluarkan ponsel itu
di meja kafe kampus, Raka merasa
ponsel lamanya tiba-tiba terlihat
kusam dan ketinggalan zaman.
Raka tidak bisa menjelaskan secara
logis mengapa ia membutuhkan
iPhone 15. Spesifikasinya hanya sedikit
lebih baik dari iPhone 14. Kamera
depannya mungkin sedikit lebih tajam.
Prosesornya sedikit lebih cepat. Tetapi
tidak ada satupun dari argumen logis
itu yang mendorong keinginannya.
Yang mendorongnya adalah sesuatu
yang jauh lebih primitif: keinginan
untuk tidak tertinggal, keinginan
untuk diakui, keinginan untuk menjadi
bagian dari kelompok yang memiliki
akses ke barang terbaik dan terbaru.
Scott Galloway akan menunjuk Raka
sebagai contoh sempurna dari apa
yang ia sebut sebagai
“peacock feather display”
(pamer bulu merak). Di alam liar,
burung merak jantan dengan bulu
paling indah akan mendapatkan
pasangan. Raka, dengan iPhone
15 di sakunya, sedang memamerkan
bulu meraknya. Ia mengirimkan
sinyal sosial: “Aku adalah orang
yang mampu. Aku peduli pada
kualitas. Aku mengikuti
perkembangan zaman.” Apple tidak
menjual ponsel. Apple menjual tiket
masuk ke dalam klub eksklusif yang
disebut “pemilik iPhone terbaru.”
Kasus 3: Facebook dan Naluri
Koneksi serta Validasi Sosial
Seorang remaja bernama Dinda
memiliki rutinitas malam yang
persis sama selama bertahun-tahun.
Sebelum tidur, ia membuka
Instagram dan Facebook, menggulir
tanpa henti, melihat foto-foto
teman-temannya, influencer, dan
selebriti. Ia memposting foto dirinya
sendiri, lalu menunggu. Beberapa
menit kemudian, ia memeriksa.
Lima belas likes. Ia merasa senang.
Satu jam kemudian, ia memeriksa
lagi. Delapan puluh tiga likes.
Ia merasa lebih baik.
Tetapi kemudian Dinda melihat bahwa
temannya, Sari, mendapat dua ratus
likes untuk foto yang hampir sama.
Perasaan senangnya langsung berubah
menjadi cemas. “Apakah fotoku kurang
bagus? Apakah aku kurang populer?
Apakah aku kurang menarik?”
Dinda tidak bisa tidur. Ia terus
memeriksa ponselnya, berharap
jumlah likes-nya bertambah dan
melampaui Sari.
Inilah yang oleh Galloway disebut
sebagai “social validation loop”
(lingkaran validasi sosial). Facebook
dan Instagram sengaja menampilkan
jumlah likes, komentar, dan berbagi
secara publik karena ini memicu
naluri primitif manusia untuk
diterima dalam kelompok.
Di zaman purba, diusir dari suku
berarti kematian. Otak kita masih
memperlakukan penerimaan sosial
sebagai masalah hidup dan mati.
Setiap notifikasi adalah sinyal bahwa
kita aman, bahwa kita diterima,
bahwa kita termasuk. Facebook telah
membajak sistem limbik Dinda,
membuatnya kecanduan validasi
yang tidak pernah cukup.
Kasus 4: Google dan Naluri Rasa
Aman melalui Pengetahuan
Seorang ibu rumah tangga bernama
Ratna sedang hamil anak pertamanya.
Suatu malam, ia merasakan nyeri
yang aneh di perutnya. Ia takut.
Ia tidak tahu apakah ini normal atau
tanda bahaya. Ia tidak bisa langsung
menghubungi dokternya karena
sudah larut malam. Dalam
kepanikannya, ia membuka Google
dan mengetik: “nyeri perut saat hamil
trimester pertama apakah berbahaya.”
Dalam waktu kurang dari satu detik,
Google menampilkan ratusan hasil.
Ratna membaca artikel dari situs
kesehatan terkemuka, forum diskusi
ibu hamil, dan blog dokter kandungan.
Ia menemukan bahwa nyeri ringan
adalah normal karena rahim yang
sedang berkembang. Ia merasa lega.
Ia tidak lagi takut.
Inilah yang dimaksud Galloway ketika
ia mengatakan bahwa Google telah
menjadi “dewa” zaman modern.
Di masa lalu, Ratna akan pergi
ke dukun, ke pendeta, atau ke tabib
untuk mencari jawaban. Hari ini, ia
pergi ke Google. Setiap kali kita
mengetik pertanyaan ke dalam kotak
pencarian, kita sedang berdoa. Dan
Google, dengan algoritmanya yang
maha tahu, memberikan jawaban.
Google memenuhi naluri primitif kita
untuk merasa aman melalui
pengetahuan. Kita merasa bahwa
selama kita bisa mencari, selama kita
bisa tahu, kita memiliki kendali. Dan
Google, dengan senang hati,
menyediakan ilusi kendali itu.
Contoh Kasus Bab 8:
Algoritma T
Kasus 1: Menerapkan T
Algorithm pada Uber
Uber adalah perusahaan ride-hailing
yang didirikan pada tahun 2009.
Mari kita evaluasi Uber menggunakan
delapan karakteristik T Algorithm
untuk melihat mengapa perusahaan
ini memiliki valuasi puluhan miliar
dolar, tetapi belum mencapai satu
triliun dolar.
Asset light. Uber tidak memiliki
satu pun mobil. Semua mobil yang
digunakan adalah milik pengemudi.
Ini adalah contoh sempurna dari
bisnis aset ringan. Uber hanya
menyediakan platform yang
menghubungkan pengemudi dengan
penumpang. Karakteristik ini
terpenuhi.
Global reach. Uber beroperasi
di lebih dari tujuh puluh negara dan
ratusan kota di seluruh dunia.
Jangkauannya sangat luas.
Karakteristik ini terpenuhi.
Iconic brand differentiation.
Merek Uber sangat kuat. Di banyak
negara, “uber” telah menjadi kata
kerja. Orang berkata “aku akan uber
ke sana” sama seperti mereka
berkata “aku akan google.”
Karakteristik ini terpenuhi.
Intersection with core human
desires. Uber terhubung dengan
naluri manusia untuk bergerak
dan menghemat waktu.
Di zaman purba, kemampuan untuk
berpindah tempat dengan cepat
adalah keunggulan bertahan hidup.
Hari ini, Uber memenuhi naluri itu
dengan kemudahan transportasi.
Namun, koneksinya dengan hasrat
inti manusia tidak sedalam Amazon
(makan), Apple (birahi), Facebook
(cinta), atau Google (rasa aman).
Karakteristik ini terpenuhi sebagian.
Ability to survive recessions.
Uber belum pernah diuji oleh resesi
besar sejak menjadi perusahaan
publik pada tahun 2019. Namun,
selama pandemi COVID-19, bisnis
Uber sangat terpukul karena orang
tidak bepergian. Uber bertahan,
tetapi menunjukkan kerentanannya.
Karakteristik ini belum sepenuhnya
terbukti.
High margins.
Uber memiliki margin yang rendah
karena harus membayar pengemudi,
memberikan diskon untuk bersaing,
dan menghadapi regulasi di banyak
negara. Margin Uber jauh di bawah
Apple atau Google. Karakteristik ini
tidak terpenuhi.
Low capital intensity.
Uber tidak membutuhkan investasi
besar dalam infrastruktur fisik.
Biaya utamanya adalah
pengembangan perangkat lunak,
pemasaran, dan insentif untuk
pengemudi. Karakteristik ini
terpenuhi.
Network effects.
Semakin banyak pengemudi Uber,
semakin cepat penumpang
mendapatkan tumpangan, dan
semakin banyak penumpang, semakin
banyak pendapatan untuk pengemudi.
Ini adalah efek jaringan dua sisi yang
kuat. Karakteristik ini terpenuhi.
Kesimpulannya, Uber memenuhi
lima dari delapan karakteristik,
dengan satu karakteristik terpenuhi
sebagian dan dua lainnya belum
terbukti. Ini menjelaskan mengapa
Uber memiliki valuasi puluhan miliar
dolar, tetapi belum mendekati satu
triliun dolar. Untuk mencapai level
The Four, Uber perlu menemukan
cara untuk meningkatkan marginnya
secara signifikan dan membuktikan
ketahanannya dalam resesi.
Kasus 2: Menerapkan T
Algorithm pada Netflix
Netflix adalah perusahaan streaming
yang didirikan pada tahun 1997
sebagai penyewaan DVD melalui pos,
lalu bertransformasi menjadi raksasa
streaming global. Mari kita evaluasi
Netflix menggunakan T Algorithm.
Asset light.
Netflix tidak memiliki jaringan kabel
atau satelit. Mereka mengirimkan
konten melalui internet, yang
infrastrukturnya dimiliki oleh
orang lain. Namun, Netflix
menghabiskan miliaran dolar untuk
memproduksi konten orisinal. Mereka
memiliki aset dalam bentuk
perpustakaan film dan acara TV. Ini
lebih berat daripada Facebook atau
Google, tetapi lebih ringan daripada
perusahaan manufaktur tradisional.
Karakteristik ini terpenuhi sebagian.
Global reach.
Netflix tersedia di lebih dari seratus
sembilan puluh negara.
Jangkauannya hampir universal.
Karakteristik ini terpenuhi.
Iconic brand differentiation.
Merek Netflix sangat kuat.
“Netflix and chill” (Netflix dan
bersantai) telah menjadi frasa
budaya. Karakteristik ini terpenuhi.
Intersection with core human
desires. Netflix terhubung dengan
naluri manusia untuk bercerita
dan mencari hiburan. Bercerita
adalah aktivitas paling kuno manusia,
jauh sebelum tulisan ditemukan.
Netflix memenuhi kebutuhan kita
untuk melarikan diri dari kenyataan,
untuk merasakan emosi melalui
karakter fiksi, dan untuk berbagi
pengalaman budaya dengan
orang lain. Koneksi ini cukup dalam.
Karakteristik ini terpenuhi.
Ability to survive recessions.
Selama pandemi COVID-19, Netflix
justru berkembang pesat karena
orang tinggal di rumah. Namun,
ketika inflasi tinggi dan konsumen
mengurangi pengeluaran, Netflix
menghadapi persaingan ketat dari
Disney+, HBO Max, dan layanan
streaming lainnya. Karakteristik ini
terpenuhi sebagian.
High margins.
Margin Netflix cukup baik, tetapi
tidak setinggi Apple atau Google.
Biaya produksi konten yang sangat
besar menggerogoti keuntungan
mereka. Karakteristik ini tidak
terpenuhi sepenuhnya.
Low capital intensity.
Netflix menghabiskan miliaran
dolar setiap tahun untuk konten.
Ini adalah pengeluaran modal
yang sangat besar. Dibandingkan
dengan Facebook yang hanya
menyediakan platform tanpa
membuat konten, Netflix jauh
lebih padat modal. Karakteristik
ini tidak terpenuhi.
Network effects.
Netflix memiliki efek jaringan yang
lemah. Bertambahnya pelanggan
tidak secara langsung membuat
layanan Netflix lebih baik bagi
pelanggan lain. Karakteristik ini
tidak terpenuhi.
Kesimpulannya, Netflix hanya
memenuhi tiga karakteristik
penuh, dua terpenuhi sebagian,
dan tiga lainnya tidak terpenuhi.
Ini menjelaskan mengapa Netflix,
meskipun sangat sukses, memiliki
kapitalisasi pasar yang jauh
di bawah The Four. Netflix adalah
perusahaan yang hebat, tetapi
menurut T Algorithm, mereka tidak
memiliki DNA untuk menjadi
perusahaan satu triliun dolar.
Sahabat, contoh-contoh ini
menunjukkan bagaimana T Algorithm
bisa digunakan sebagai alat evaluasi
yang praktis. Dengan delapan
karakteristik ini, kita bisa memahami
mengapa beberapa perusahaan bernilai
puluhan miliar dolar, sementara yang
lain, yaitu The Four, bernilai triliunan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngulik The Four.
Setelah puas ngebongkar dominasi
masing-masing perusahaan dan
dampaknya ke media, sekarang
Scott Galloway ngajak lo nyemplung
ke AKAR PALING DALAM dari
kekuasaan The Four. Yaitu OTAK
LO SENDIRI. Dia bawa kita
ke dunia neurosains dan psikologi
evolusioner buat paham kenapa kita
begitu RENTAN kena pesona
mereka. Lalu, dia rangkum semuanya
jadi formula mematikan yang dia
sebut Algoritma T.
Bab 7: Bisnis dan Tubuh, Gimana
The Four Mainin Otak Primitif Lo
Galloway buka bab ini dengan
pengakuan yang bikin kita rendah
hati. Kita semua ini BINATANG, gaes.
Dibalik baju rapi, gelar akademis, dan
gadget canggih, otak kita masih
DIKENDALIIN oleh struktur paling
KUNO yang udah ada sejak zaman
reptil. The Four PAHAM BANGET
ini. Dan inilah RAHASIA TERDALAM
dari kesuksesan mereka.
Dia jelasin, otak kita punya
TIGA LAPISAN utama yang
berevolusi selama jutaan tahun.
Lapisan pertama dan paling dalem:
OTAK REPTIL atau batang otak.
Bagian ini ngendaliin fungsi paling
dasar buat IDUP. Napas, detak
jantung, suhu tubuh, dan naluri
primitif kayak LAPAR, TAKUT,
dan HASRAT SEKSUAL.
Lapisan kedua: SISTEM LIMBIK.
Pusat EMOSI dan MEMORI.
Di sini perasaan cinta, benci,
cemburu, dan keterikatan diproses.
Lapisan ketiga dan paling luar:
NEOKORTEKS. Bagian yang
ngebedain kita dari hewan.
Pemikiran RASIONAL, bahasa,
perencanaan jangka panjang,
dan kesadaran diri.
Nah, KEBANYAKAN perusahaan tuh
jualannya ke NEOKORTEKS lo.
Mereka nyajiin DATA, SPESIFIKASI
TEKNIS, perbandingan harga, dan
argumen LOGIS. Tapi The Four?
Mereka ngelakuin hal yang BEDA
TOTAL. Mereka ABAIKAN
neokorteks. Dan LANGSUNG
TEMBAK ke SISTEM LIMBIK dan
OTAK REPTIL. Galloway nyebut ini
“MEMBAJAK OTAK PRIMITIF”.
Mereka TAU, keputusan beli, kayak
hampir semua keputusan manusia,
dibuat secara EMOSIONAL DULU.
LOGIKA cuma pembenaran yang
nyusul belakangan. Lo pikir lo beli
karena logis? Kata otak lo sih gitu,
tapi sebenernya emosi lo yang udah
dijajah duluan.
Amazon MBAJAK naluri LAPAR
dan KEINGINAN buat NGUMPULIN.
Di zaman purba, manusia harus terus
nyari makanan dan nyimpen buat
masa susah. Naluri ini GAK PERNAH
HILANG. Pas kita beli sesuatu
di Amazon dengan harga murah dan
kirim cepet, OTAK REPTIL kita
ngerasa PUAS. Persis kayak nenek
moyang yang baru aja nemu sumber
makanan berlimpah. Tombol
“Buy Now” adalah PELATUK yang
nembak langsung ke inti primitif lo.
Apple MBAJAK naluri BIRAHI dan
keinginan buat BERKEMBANG
BIAK. Di dunia hewan, individu
yang paling MENARIK secara
visual bakal dapet pasangan dan
nurunin gen. Galloway jelasin,
punya iPhone terbaru adalah VERSI
MODERN dari BULU MERAK YANG
INDAH. Dia adalah SINYAL
ke lawan jenis dan ke masyarakat,
kalo lo adalah individu yang UNGGUL.
Yang layak dapet perhatian dan status.
Desain Apple yang ramping, material
premium, dan logo yang bersinar
adalah ALAT buat micu naluri ini.
Lo dikondisikan buat pengen dilihat.
Facebook MBAJAK naluri CINTA,
KONEKSI, dan KEBUTUHAN buat
DITERIMA dalam kelompok.
Manusia makhluk sosial yang GAK
BISA idup sendirian. Di zaman purba,
diusir dari suku berarti MATI.
Facebook manfaatin KEBUTUHAN
MENDALAM ini dengan nyiptain
platform yang ngasih VALIDASI
SOSIAL INSTAN. Setiap LIKE, setiap
KOMEN, setiap NOTIFIKASI, adalah
SINYAL kalo lo DITERIMA. Kalo lo
TERMASUK. Kalo lo DICINTAI. Lo
balik lagi dan lagi buat ngejar rasa itu.
Google MBAJAK naluri RASA AMAN
lewat PENGETAHUAN. Di alam liar,
hewan yang tau di mana predator
ngumpet, di mana air bisa ditemuin,
dan gimana cuaca besok, peluangnya
buat idup lebih gede. Google udah jadi
SUMBER PENGETAHUAN itu.
Setiap kali lo nyari sesuatu di Google
dan dapet jawaban, OTAK PRIMITIF
lo ngerasa LEBIH AMAN. Lo ngerasa
lo PUNYA KENDALI atas lingkungan
lo. Padahal lo cuma dikasih info.
Galloway nekanin, The Four GAK CUMA
PAHAM naluri ini. Mereka secara
SENGAJA MERANCANG produk dan
layanan mereka buat MICUNYA. Setiap
WARNA, setiap SUARA NOTIFIKASI,
setiap ANIMASI, setiap PENEMPATAN
TOMBOL… SEMUANYA dirancang
dengan pemahaman DALEM tentang
gimana OTAK PRIMITIF lo bekerja.
Mereka adalah PEMBAJAK SISTEM
LIMBIK paling sukses dalam sejarah.
Lo kayak boneka yang talinya
ditarik-tarik pake algoritma.
Bab 8: Algoritma T, Cetak Biru
Jadi Raksasa Triliunan Dolar
Setelah bongkar cara The Four ngebajak
otak, Galloway ngasih lo sebuah ALAT
YANG SUPER BERHARGA.
Buat investor, pengusaha, atau siapapun
yang pengen paham apa yang bikin
perusahaan bisa nyampe valuasi
TRILIUNAN DOLAR. Dia nyebutnya
T Algorithm, Algoritma T.
T Algorithm adalah CETAK BIRU buat
NGEVALUASI apakah sebuah
perusahaan punya POTENSI buat jadi
RAKSASA. Galloway identifikasi
DELAPAN CIRI yang dimiliki
perusahaan dengan kapitalisasi pasar
mendekati atau lebih dari satu triliun
dolar. Ciri-ciri ini, katanya, adalah
DNA dari DOMINASI BISNIS
di abad 21.
Ciri pertama: ASSET LIGHT,
ASET RINGAN. Perusahaan paling
bernilai saat ini GAK PUNYA banyak
ASET FISIK. Mereka gak punya
pabrik, gudang, atau armada truk
gede. Sebagian besar NILAI mereka
ada di ASET GAK BERWUJUD:
kode software, data pengguna,
MEREK, dan EFEK JARINGAN.
Yang gak keliatan justru yang paling
mahal.
Ciri kedua: GLOBAL REACH,
JANGKAUAN GLOBAL. Buat
nyampe valuasi triliunan dolar,
perusahaan HARUS bisa ngejangkau
MILIARAN ORANG di seluruh dunia.
Pasar domestik doang GAK CUKUP
GEDE. The Four semuanya punya
kehadiran global yang SUPER KUAT.
Mereka ada di mana-mana.
Ciri ketiga: ICONIC BRAND
DIFFERENTIATION, MEREK
IKONIK YANG BEDA BANGET.
Merek perusahaan harus begitu
KUAT sampe dia jadi KATA KERJA
atau SIMBOL BUDAYA. Kita gak
“nyari di internet.” Kita “GOOGLING.”
Kita gak “berbagi foto.”
Kita “INSTAGRAM-an.” Merek yang
ikonis GAK PERLU ngejelasin siapa
mereka. SEMUA ORANG UDAH TAU.
Nama mereka udah nempel di kepala.
Ciri keempat: INTERSECTION
WITH CORE HUMAN DESIRES,
NYAMBUNG LANGSUNG SAMA
HASRAT INTI MANUSIA.
Perusahaan HARUS nyentuh NALURI
PRIMITIF yang udah dibahas tadi.
LAPAR. BIRAHI. CINTA. RASA AMAN.
Semakin DALEM sebuah perusahaan
terhubung dengan KEBUTUHAN
DASAR lo, semakin GEDE potensinya.
Mereka main di level insting lo.
Ciri kelima: ABILITY TO SURVIVE
RECESSIONS, KUAT NGADEPIN
RESESI. Perusahaan gede harus
cukup TANGGUH secara finansial buat
BERTAHAN pas ekonomi lagi jelek.
Mereka harus punya neraca yang
SOLID, arus kas STABIL, dan model
bisnis yang GAK RUNTUH pas
konsumen lagi ngirit. Gak gampang
oleng.
Ciri keenam: HIGH MARGINS,
MARGIN TEBEL. Perusahaan paling
bernilai menikmati margin keuntungan
yang JAUH DI ATAS rata-rata industri.
Apple, misalnya, menikmati margin
kotor yang super tinggi karena
KEKUATAN MEREKNYA
memungkinkan mereka pasang HARGA
PREMIUM. Lo bayar mahal, mereka
untung gede.
Ciri ketujuh: LOW CAPITAL
INTENSITY, GAK PERLU MODAL
GEDE BUAT TUMBUH. Perusahaan
GAK butuh investasi gede
di infrastruktur fisik. Facebook bisa
NAMBAH MILIARAN pengguna
TANPA harus bangun gedung baru.
Google bisa memproses miliaran
pencarian TANPA harus beli server
dalam jumlah yang proporsional.
Tumbuhnya murah, cuannya gede.
Ciri kedelapan:
NETWORK EFFECTS, EFEK
JARINGAN. Nilai produk atau
layanan NAIK seiring dengan
NAMBAHNYA jumlah pengguna.
Semakin BANYAK orang pake
Facebook, semakin BERHARGA
Facebook buat setiap penggunanya.
Karena SEMUA TEMEN dan
KELUARGA mereka ada di sana.
Efek jaringan nyiptain LINGKARAN
yang SUPER SULIT ditembus
pesaing. Pesaing gak cuma lawan
produk, tapi lawan seluruh jaringan
sosial lo.
Galloway nutup bab ini dengan
TANTANGAN. Dia minta lo pake
T Algorithm ini buat NGEVALUASI
perusahaan yang lo minati.
Baik sebagai investor, karyawan, atau
pengusaha yang pengen bangun bisnis
sendiri. Apakah perusahaan itu
memenuhi DELAPAN CIRI ini?
Kalo enggak, APA YANG KURANG?
APA BISA DIPERBAIKI?
T Algorithm BUKAN jaminan sukses.
Tapi dia adalah KOMPAS yang bisa
ngebantu lo NAVIGASI dunia bisnis
yang makin didominasi segelintir
RAKSASA.
