buku

Google: Dewa Zaman Modern

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 5 dan
Bab 6 dari buku 
The Four. Setelah
membongkar Apple dan Facebook,
Scott Galloway kini mengarahkan
perhatiannya pada Google,
perusahaan yang telah menjadi
“dewa” di era modern, dan
kemudian membahas bagaimana
keempat raksasa ini bersama-sama
telah menghancurkan industri
media dan menciptakan krisis
informasi global.

Bab 5: Google:
Dewa Zaman Modern

Scott Galloway membuka bab ini
dengan sebuah pernyataan yang
provokatif: Google adalah dewa
zaman modern. Di masa lalu,
ketika manusia memiliki
pertanyaan yang tidak bisa mereka
jawab
—mengapa ada penderitaan,
apa arti hidup, bagaimana cara
menyembuhkan penyakit
—mereka pergi ke kuil, ke pendeta,
ke dukun. Hari ini, mereka pergi
ke Google. Setiap detik, sekitar
delapan puluh ribu pencarian
dilakukan di Google. Itu adalah
delapan puluh ribu doa yang
dipanjatkan ke altar mesin pencari.

Apa yang membuat Google begitu
berkuasa?
Galloway menjelaskan bahwa Google
telah memenuhi naluri primitif
manusia untuk 
mengetahui dan
merasa aman
. Di alam liar,
pengetahuan adalah kekuatan.
Nenek moyang kita yang tahu di mana
letak predator, di mana sumber air
bersih, dan bagaimana cuaca besok
memiliki peluang lebih besar untuk
bertahan hidup. Google telah menjadi
sumber pengetahuan itu.
Kita bertanya kepada Google tentang
segala hal: dari resep masakan hingga
diagnosis kanker, dari berita terkini
hingga pertanyaan eksistensial.

Model bisnis Google adalah AdWords,
sistem periklanan yang mencetak
uang dari setiap ketukan niat
pengguna. Ketika seseorang mengetik
“sepatu lari murah” di Google, ia tidak
hanya mencari informasi. Ia sedang
mengungkapkan niatnya. Ia sedang
memberi tahu Google apa yang ia
inginkan, kapan ia menginginkannya,
dan seberapa besar kemauannya untuk
membeli. Informasi ini adalah tambang
emas bagi pengiklan. Google melelang
kata kunci tersebut kepada penawar
tertinggi, dan pengiklan membayar
setiap kali seseorang mengklik iklan
mereka.

Galloway menekankan bahwa
AdWords adalah mesin pencetak
uang paling efisien yang pernah
diciptakan. Tidak seperti iklan
tradisional yang menebak-nebak
siapa audiensnya, iklan Google
muncul tepat ketika seseorang
sedang mencari produk atau
layanan tersebut. Tingkat
konversinya jauh lebih tinggi.

Google mengetahui rahasia
terdalammu. Setiap kali kamu
mencari sesuatu, kamu meninggalkan
jejak digital. Google tahu apa yang
kamu takuti, karena kamu mengetik
“gejala kanker paru-paru” atau “cara
mengatasi serangan panik”. Google
tahu apa yang kamu hasratkan,
karena kamu mencari “harga iPhone
terbaru” atau “hotel murah di Bali”.
Google tahu apa yang kamu
rahasiakan, karena kamu mencari
“cara menghapus riwayat pencarian”
atau “pengacara perceraian terbaik
di Jakarta”.

Dengan semua data ini, Google bisa
menampilkan iklan kontekstual
yang sangat tepat sasaran.
Ketika kamu mencari
“gejala sakit kepala”, iklan obat sakit
kepala akan muncul. Ketika kamu
mencari “harga tiket pesawat
ke Tokyo”, iklan paket wisata Jepang
akan muncul. Galloway menyebut ini
sebagai “the commodification of
intent” (komodifikasi niat).
Keinginanmu dijual kepada penawar
tertinggi, dalam lelang yang terjadi
dalam hitungan milidetik, tanpa
kamu sadari.

Bab 6: Berbohong Kepadaku:
The Four dan Media

Bab ini adalah dakwaan Scott
Galloway terhadap The Four atas
peran mereka dalam
menghancurkan industri media.
Galloway menyebutnya sebagai
“the greatest wealth transfer in
history” (transfer kekayaan terbesar
dalam sejarah). Dia mengacu pada
perpindahan pendapatan iklan yang
sangat besar, dari perusahaan
media tradisional
—surat kabar, majalah, televisi,
radio ke tangan empat
perusahaan teknologi.

Bagaimana ini terjadi?
Galloway menjelaskan bahwa Google
dan Facebook bersama-sama
sekarang menguasai lebih dari enam
puluh persen pendapatan iklan
digital di seluruh dunia. Mereka
tidak menciptakan konten. Mereka
tidak mempekerjakan ribuan
jurnalis yang menyelidiki korupsi
atau meliput perang. Mereka hanya
menyediakan platform, dan uang
iklan yang dulu membiayai
jurnalisme kini mengalir
ke rekening bank mereka.

Ambil contoh sebuah surat kabar besar.
Dulu, mereka menghasilkan uang dari
iklan baris, iklan lowongan kerja, dan
iklan display. Sekarang, Google dan
Facebook telah mengambil semua itu.
Iklan baris digantikan oleh Google
Search. Iklan lowongan kerja
digantikan oleh LinkedIn
(milik Microsoft) dan platform lain.
Iklan display digantikan oleh
Facebook Ads yang jauh lebih akurat
dan efisien. Surat kabar itu
kehilangan pendapatannya,
memaksa mereka untuk
memangkas anggaran, mengurangi
jumlah jurnalis, dan akhirnya
gulung tikar atau dijual ke konglomerat.

Galloway juga membahas bagaimana
The Four menciptakan gelembung
informasi yang merusak demokrasi.
Algoritma Google, Facebook, dan
YouTube dirancang untuk
menampilkan konten yang
membuatmu tetap berada di platform,
bukan konten yang akurat atau
seimbang. Setiap kali kamu mengklik
sebuah artikel atau video, algoritma
mempelajari preferensimu dan
menampilkan lebih banyak konten
serupa. Akibatnya, seorang
pendukung partai politik tertentu
hanya akan melihat berita yang
mendukung partainya. Seorang yang
percaya pada teori konspirasi akan
terus-menerus disuguhi video yang
memperkuat keyakinannya. Dialog
antara kelompok yang berbeda
menjadi mustahil, karena
masing-masing hidup di dunianya
sendiri.

Galloway juga mengkritik tajam
bagaimana The Four menghindari
tanggung jawab. Ketika ditanya
tentang peran mereka dalam
menyebarkan berita palsu atau ujaran
kebencian, mereka berkata,
“Kami hanyalah platform. Kami tidak
bertanggung jawab atas konten yang
diunggah pengguna.” Tetapi ketika
bernegosiasi dengan pengiklan,
mereka berkata, “Kami adalah
perusahaan media. Kami memiliki
data audiens paling akurat di dunia.”
Mereka ingin mendapatkan manfaat
dari kedua sisi: kebebasan dari
tanggung jawab sebagai platform,
dan uang dari pengiklan sebagai
perusahaan media. Galloway
menyebut ini sebagai “the great
hypocrisy” (kemunafikan besar)
dari The Four.

Bagi Galloway, ini adalah krisis
yang mengancam fondasi
masyarakat demokratis. Pers yang
bebas dan independen adalah pilar
keempat demokrasi. Ketika pers
dihancurkan secara finansial, ketika
berita palsu menyebar lebih cepat
daripada kebenaran, dan ketika
setiap orang hidup dalam gelembung
informasinya sendiri, maka
kemampuan warga negara untuk
membuat keputusan yang cerdas
akan rusak. The Four, dengan segala
inovasi dan kemudahan yang mereka
bawa, juga membawa serta ancaman
eksistensial terhadap masyarakat
terbuka. 

Contoh Kasus Nyata Bab 5: Google

Kasus 1: Google Sebagai Sumber
Pengetahuan dan Rasa Aman

Seorang ibu rumah tangga bernama
Ratna baru saja pindah ke Jakarta.
Suatu malam, anaknya yang berusia
dua tahun tiba-tiba demam tinggi
dan mengalami kejang. Ratna panik.
Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Ia tidak punya nomor telepon dokter.
Suaminya sedang dinas ke luar kota.
Dalam kepanikannya, ia meraih
ponselnya dan mengetik ke Google:
“anak kejang demam apa yang harus
dilakukan.”

Dalam waktu kurang dari satu detik,
Google menampilkan ribuan hasil.
Artikel dari situs kesehatan
terkemuka, video tutorial pertolongan
pertama, dan forum diskusi tempat
orang tua lain berbagi pengalaman
serupa. Ratna mengikuti petunjuk
dari sebuah artikel: longgarkan
pakaian anak, miringkan tubuhnya,
jangan masukkan apa pun
ke mulutnya, dan segera bawa
ke rumah sakit. Ia memanggil taksi
online dan membawa anaknya
ke IGD. Dokter kemudian
mengatakan bahwa tindakan Ratna
tepat, dan anaknya selamat.

Ratna tidak pernah pergi ke kuil atau
bertanya pada dukun. Ia pergi
ke Google. Dan Google memberinya
jawaban yang mungkin
menyelamatkan nyawa anaknya.
Inilah yang dimaksud oleh Scott
Galloway ketika ia menyebut Google
sebagai “dewa” zaman modern.
Google tidak hanya memberikan
informasi. Google memberikan rasa
aman. Setiap kali kita menghadapi
ketidakpastian, kita mengetik
pertanyaan kita ke dalam kotak
pencarian, dan kita percaya bahwa
Google akan memberikan jawaban
yang benar.

Kasus 2: AdWords dan
Komodifikasi Niat

Seorang pengusaha muda bernama
Fikri memiliki toko online yang
menjual sepatu lari. Ia tahu bahwa
pelanggan potensialnya adalah
orang-orang yang aktif mencari
sepatu lari di Google. Maka ia
mendaftar ke Google Ads dan
menawar kata kunci
“sepatu lari murah,” “sepatu jogging
pria,” dan “rekomendasi sepatu
marathon.”

Ketika Rian, seorang pekerja
kantoran yang mulai hobi berlari,
mengetik “sepatu lari murah”
ke Google, ia melihat iklan toko Fikri
di bagian paling atas hasil pencarian.
Iklan itu ditandai dengan huruf kecil
“Ad,” tetapi tampilannya mirip
dengan hasil pencarian biasa.
Rian mengklik iklan itu, melihat
katalog sepatu Fikri, dan akhirnya
membeli sepasang sepatu lari
seharga tujuh ratus ribu rupiah.

Google mendapatkan bayaran dari
Fikri untuk setiap klik yang diterima
iklannya. Fikri tidak keberatan
membayar, karena setiap klik berasal
dari orang yang memang sedang
mencari sepatu lari. Ini sangat
berbeda dengan memasang iklan
di koran atau billboard, di mana ia
membayar untuk dilihat oleh ribuan
orang yang mungkin tidak tertarik
sama sekali. Inilah yang oleh
Galloway disebut sebagai
“the commodification of intent”
(komodifikasi niat). Niat Rian untuk
membeli sepatu lari dijual oleh
Google kepada Fikri, dalam lelang
yang terjadi dalam hitungan
milidetik, tanpa Rian sadari.

Kasus 3: Google Mengetahui
Rahasia Terdalammu

Seorang pria bernama Arman sedang
mengalami masa sulit. Ia dicurigai
oleh istrinya berselingkuh. Suatu
malam, setelah pertengkaran hebat,
istrinya mengancam akan
menceraikannya dan membawa
anak-anak mereka. Arman panik.
Ia duduk di depan komputernya
dan mulai mencari di Google:
“cara meyakinkan istri tidak
selingkuh,” “pengacara perceraian
terbaik di Surabaya,”
“hak asuh anak jika bercerai,” dan
“cara menghapus riwayat
pencarian Google.”

Arman tidak menyadari bahwa semua
pencariannya disimpan oleh Google.
Setiap ketakutan, setiap kecemasan,
setiap rahasia yang ia ketik ke dalam
kotak pencarian, semuanya terekam.
Beberapa hari kemudian, saat ia
membuka YouTube, algoritma Google
mulai merekomendasikan video
tentang “cara menyelamatkan
pernikahan” dan “tips menghadapi
perceraian.” Arman terkejut. Ia tidak
pernah memberi tahu siapa pun
tentang masalahnya. Tetapi Google
tahu. Google tahu sebelum siapa
pun tahu.

Inilah yang dimaksud Galloway
ketika ia mengatakan bahwa Google
mengetahui ketakutan, hasrat, dan
rahasia terpendam kita.
Dan dengan pengetahuan itu,
Google bisa menampilkan iklan
yang sangat personal. Arman mulai
melihat iklan jasa konseling
pernikahan dan iklan pengacara
keluarga di setiap situs yang ia
kunjungi. Niatnya, ketakutannya,
telah dikomodifikasi.

Contoh Kasus Nyata Bab 6:
The Four dan Media

Kasus 1: Transfer Kekayaan
Terbesar dalam Sejarah

Bayangkan sebuah surat kabar
bernama Harian R. Pada tahun 2005,
koran ini memiliki dua ratus jurnalis
yang bekerja di seluruh Indonesia.
Mereka meliput pemilu, menyelidiki
korupsi, dan mewawancarai
tokoh-tokoh penting. Pendapatan
mereka berasal dari iklan baris, iklan
lowongan kerja, iklan properti, dan
iklan display dari
perusahaan-perusahaan besar.
Bisnis mereka sehat.

Kemudian datanglah Google dan
Facebook. Perusahaan yang ingin
memasang iklan lowongan kerja
tidak lagi membayar Harian R. Mereka
cukup memasang iklan di Google
dengan kata kunci “lowongan kerja
Jakarta.” Perusahaan properti tidak
lagi memasang iklan di koran.
Mereka beriklan di Facebook,
menargetkan orang berusia dua puluh
lima sampai empat puluh tahun yang
tinggal di kota besar. Toko-toko kecil
tidak lagi membayar untuk iklan
baris. Mereka membuat halaman
Facebook dan beriklan secara gratis
atau dengan biaya sangat murah.

Dalam waktu sepuluh tahun,
pendapatan Harian R merosot tajam.
Mereka terpaksa mengurangi jumlah
jurnalis dari dua ratus menjadi lima
puluh. Mereka menutup biro
di beberapa kota. Kualitas liputan
mereka menurun. Akhirnya,
mereka dijual ke seorang konglomerat
yang lebih tertarik menggunakan
koran itu untuk kepentingan
politiknya daripada untuk
menghasilkan jurnalisme
berkualitas.

Inilah yang oleh Galloway disebut
sebagai “transfer kekayaan terbesar
dalam sejarah.” Uang yang dulu
membiayai jurnalisme independen
kini mengalir ke rekening bank
Google dan Facebook. The Four tidak
menciptakan konten. Mereka tidak
mempekerjakan jurnalis. Tetapi
mereka mengambil hampir semua
uang iklan. Ketika pendapatan iklan
hilang, jurnalisme investigasi menjadi
semakin langka. Berita-berita tentang
korupsi, pelanggaran hak asasi
manusia, dan kejahatan lingkungan
semakin jarang terungkap, karena
tidak ada lagi yang membiayai
pekerjaan itu.

Kasus 2: Gelembung Informasi
dan Polarisasi

Seorang pria bernama Budi adalah
pendukung setia partai politik
tertentu. Setiap pagi, ia membuka
YouTube untuk menonton berita.
Algoritma YouTube, yang dirancang
untuk memaksimalkan waktu tonton,
mempelajari preferensi Budi.
Ia menyukai video dari saluran berita
yang mendukung partainya.
Ia melewatkan video dari saluran yang
kritis. Setelah beberapa minggu,
rekomendasi YouTube Budi berubah
drastis. Hampir semua video yang
muncul di halaman utamanya berasal
dari saluran yang mendukung partai
yang ia sukai.

Budi tidak lagi melihat berita yang
menantang keyakinannya. Ia hanya
disuguhi konten yang memperkuat
apa yang sudah ia percayai. Ketika
pemilu tiba, Budi sangat yakin
bahwa partainya akan menang
telak. Ia tidak bisa memahami
mengapa ada orang yang memilih
partai lain. Bukankah semua berita
yang ia tonton menunjukkan bahwa
partainya adalah yang terbaik?

Ketika hasil pemilu diumumkan dan
partainya kalah, Budi tidak percaya.
Ia yakin ada kecurangan.
Ia menonton video-video yang
mengklaim bahwa pemilu telah
dicurangi, dan algoritma YouTube
memberinya lebih banyak lagi video
serupa. Budi tidak pernah keluar
dari gelembung informasinya.
Ia hidup di dunia paralel, dipisahkan
dari kenyataan oleh algoritma yang
dirancang untuk membuatnya tetap
menonton. Inilah yang oleh
Galloway disebut sebagai ancaman
eksistensial terhadap demokrasi.
Ketika warga negara tidak bisa lagi
menyepakati fakta-fakta dasar,
dialog demokratis menjadi mustahil.

Kasus 3: Berita Palsu Menyebar
Lebih Cepat dari Kebenaran

Pada tahun 2018, sebuah video viral
beredar di Facebook Indonesia.
Video itu menunjukkan seorang pria
yang mengaku sebagai dokter,
mengatakan bahwa vaksin
mengandung racun berbahaya yang
menyebabkan autisme pada anak.
Video itu diproduksi dengan sangat
meyakinkan: ada jas putih, grafik
yang tampak ilmiah, dan narasi yang
emosional. Dalam waktu seminggu,
video itu ditonton oleh lebih dari lima
juta orang dan dibagikan ratusan
ribu kali.

Padahal, klaim dalam video itu
sepenuhnya palsu. Organisasi
Kesehatan Dunia sudah berulang
kali menyatakan bahwa tidak ada
hubungan antara vaksin dan autisme.
Tetapi kebenaran ini tidak menarik
secara emosional. Ia tidak memicu
kemarahan atau ketakutan. Ia tidak
membuat orang ingin
membagikannya. Algoritma Facebook
tidak dirancang untuk membedakan
antara kebenaran dan kebohongan.
Ia dirancang untuk memaksimalkan
keterlibatan. Dan video yang memicu
kemarahan dan ketakutan selalu
mendapatkan lebih banyak
keterlibatan daripada artikel yang
tenang dan faktual.

Akibatnya, ribuan orang menolak
untuk memvaksin anak-anak mereka.
Angka vaksinasi turun. Penyakit yang
dulu sudah hampir punah mulai
muncul kembali. Beberapa anak
meninggal karena penyakit yang
seharusnya bisa dicegah. Inilah
konsekuensi nyata dari apa yang
oleh Galloway disebut sebagai
kemunafikan besar The Four. Ketika
ditanya tentang peran mereka dalam
menyebarkan berita palsu, Facebook
berkata, “Kami hanyalah platform.
Kami tidak bertanggung jawab atas
konten yang diunggah pengguna.”
Tetapi algoritma mereka sendiri
yang secara aktif mempromosikan
konten itu, karena konten itu
menghasilkan lebih banyak
keterlibatan, dan lebih banyak
keterlibatan berarti lebih banyak
uang dari iklan.

Sahabat, contoh-contoh ini
menunjukkan bahwa analisis Galloway
tentang Google dan dampak The Four
terhadap media bukanlah sekadar
teori. Ia adalah kenyataan yang
memengaruhi hidup kita setiap hari.
Google telah menjadi dewa yang kita
tanyai segalanya, dan setiap
pertanyaan yang kita ajukan
menjadikannya semakin kaya.
The Four, dengan mengambil alih
pendapatan iklan dan menciptakan
gelembung informasi, telah
menghancurkan fondasi ekonomi
jurnalisme dan mengancam
demokrasi itu sendiri. 

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ngulik The Four.
Setelah ngebedah Apple yang jualan
status dan Facebook yang jualan
perhatian lo, sekarang Scott Galloway
ngarahin pisaunya ke Google.
Perusahaan yang udah jadi “dewa”
di era modern. Lalu, dia bakal bongkar
gimana keempat raksasa ini
bareng-bareng NGANCURIN industri
media dan nyiptain krisis informasi
global. Serem.

Bab 5: Google, Dewa Zaman Now
yang Tahu Segala Isi Kepala Lo

Galloway buka bab ini dengan
pernyataan yang PROVOKATIF.
Google adalah DEWA ZAMAN
MODERN. Dulu, pas manusia
punya pertanyaan yang gak bisa
mereka jawab
—kenapa ada penderitaan, apa
arti hidup, gimana nyembuhin
penyakit mereka pergi ke KUIL.
Ke PENDETA. Ke DUKUN.
Sekarang?
Mereka pergi ke Google. Setiap
detik, sekitar DELAPAN PULUH
RIBU pencarian dilakukan
di Google. Itu delapan puluh ribu
DOA yang dipanjatkan ke altar
mesin pencari. Lo mungkin
termasuk yang lagi “berdoa”
sekarang.

Apa yang bikin Google begitu
berkuasa? Galloway jelasin,
Google udah memenuhi NALURI
PRIMITIF manusia buat
MENGETAHUI dan MERASA
AMAN. Di alam liar, pengetahuan
adalah kekuatan. Nenek moyang
kita yang tau di mana predator,
di mana sumber air bersih, gimana
cuaca besok, peluangnya buat idup
lebih gede. Google udah jadi SUMBER
PENGETAHUAN itu. Kita nanya
ke Google tentang SEGALA HAL.
Dari resep masakan, diagnosis
kanker, berita terkini, sampe
pertanyaan eksistensial kayak
“apa itu cinta”. Google kayak
oracle modern.

Model bisnis Google adalah AdWords.
Sistem periklanan yang NGECETAK
DUIT dari setiap ketukan NIAT
pengguna. Pas lo ngetik “sepatu lari
murah” di Google, lo gak cuma nyari
info. Lo lagi NGUNGKAPIN NIAT lo.
Lo lagi NGASIH TAU Google apa yang
lo inginkan, kapan lo
menginginkannya, dan seberapa gede
kemauan lo buat beli. Informasi ini
adalah TAMBANG EMAS buat
pengiklan. Google MELELANG kata
kunci lo ke penawar tertinggi. Dan
pengiklan BAYAR setiap kali lo
ngeklik iklan mereka. Niat lo
diperjualbelikan dalam hitungan
milidetik.

Galloway nekanin, AdWords adalah
MESIN PENCETAK DUIT PALING
EFISIEN yang pernah diciptakan.
Gak kayak iklan tradisional yang
NGEBAK-NGEBAK siapa audiensnya.
Iklan Google MUNCUL TEPAT pas
seseorang lagi NYARI produk atau
layanan itu. Tingkat konversinya
JAUH LEBIH TINGGI. Lo lagi butuh,
langsung dikasih. Ini jualan di saat
yang paling tepat.

Google tahu RAHASIA TERDALAM
lo. Setiap lo nyari sesuatu, lo ninggalin
JEJAK DIGITAL. Google tau APA
YANG LO TAKUTI. Karena lo ngetik
“gejala kanker paru-paru” atau
“cara ngatasin serangan panik”.
Google tau APA YANG LO
HASRATIN. Karena lo nyari
“harga iPhone terbaru” atau
“hotel murah di Bali”. Google tau
APA YANG LO RAHASIAIN. Karena
lo nyari “cara ngapus history
pencarian” atau “pengacara cerai
terbaik di Jakarta”. Google kayak
punya buku harian digital lo.

Dengan semua data ini, Google bisa
nampilin IKLAN KONTEKSTUAL
yang SUPER TEPAT SASARAN.
Pas lo nyari “gejala sakit kepala”,
iklan obat sakit kepala langsung
nongol. Pas lo nyari “harga tiket
ke Tokyo”, iklan paket wisata
Jepang langsung nyamber.
Galloway nyebut ini
“the commodification of intent”,
KOMODIFIKASI NIAT. Keinginan
lo DIJUAL ke penawar tertinggi,
dalam lelang yang terjadi dalam
HITUNGAN MILIDETIK. Tanpa
lo sadar, tanpa lo tau.

Bab 6: Berbohong Kepadaku,
The Four dan Pembantaian
Industri Media

Bab ini adalah DAKWAAN Scott
Galloway terhadap The Four atas
peran mereka dalam NGANCURIN
industri media. Galloway nyebutnya
“the greatest wealth transfer in
history”
, TRANSFER KEKAYAAN
TERBESAR DALAM SEJARAH.
Dia ngerujuk ke perpindahan
pendapatan iklan yang SUPER GEDE.
Dari perusahaan media tradisional
—surat kabar, majalah, televisi, radio
ke tangan EMPAT PERUSAHAAN
TEKNOLOGI ini.

Gimana ini bisa terjadi?
Galloway jelasin, Google dan Facebook
bareng-bareng sekarang NGENDALIIN
lebih dari 60 PERSEN pendapatan
iklan digital di seluruh dunia. Mereka
GAK NYIPTAIN KONTEN. Mereka
GAK memperkerjakan ribuan jurnalis
yang nyelidikin korupsi atau ngeliput
perang. Mereka CUMA nyediain
PLATFORM. Dan duit iklan yang dulu
ngebiayain JURNALISME, sekarang
ngucur deras ke REKENING BANK
MEREKA. Uangnya pindah.

Ambil contoh surat kabar gede.
Dulu, mereka ngasilin duit dari iklan
baris, iklan lowongan kerja, dan iklan
display. Sekarang? Google dan
Facebook UDAH NGAMBIL SEMUA
ITU. Iklan baris digantiin Google
Search. Iklan lowongan kerja
digantiin LinkedIn (milik Microsoft)
dan platform lain. Iklan display
digantiin Facebook Ads yang JAUH
LEBIH AKURAT dan efisien. Surat
kabar itu KEHILANGAN
pendapatannya. Maksa mereka buat
ngurangin anggaran, ngurangin
jumlah jurnalis, dan akhirnya
GULUNG TIKAR atau dijual
ke konglomerat. Jurnalisme
berkualitas sekarat.

Galloway juga ngebahas gimana
The Four nyiptain GELEMBUNG
INFORMASI yang NGERUSAK
DEMOKRASI. Algoritma Google,
Facebook, dan YouTube
DIRANCANG buat nampilin
konten yang bikin lo TETEP
BERADA di platform. BUKAN
konten yang AKURAT atau
SEIMBANG. Setiap lo ngeklik artikel
atau video, algoritma BELAJAR
preferensi lo. Dan nampilin LEBIH
BANYAK konten serupa.

Akibatnya?
Seorang pendukung partai politik
tertentu CUMA bakal ngeliat berita
yang ndukung partainya. Seorang
yang percaya teori konspirasi bakal
terus-terusan DISUGUHIN video
yang nguatin keyakinannya. DIALOG
antara kelompok yang berbeda jadi
MUSTAHIL. Karena masing-masing
HIDUP DI DUNIANYA SENDIRI.
Lo dikurung di dalam gelembung
algoritma.

Galloway juga NGKRITIK TAJEM
gimana The Four NGINDARIN
TANGGUNG JAWAB. Pas ditanya
soal peran mereka nyebarin berita
palsu atau ujaran kebencian, mereka
ngomong,
“Kami hanyalah PLATFORM. Kami
gak bertanggung jawab atas konten
yang diunggah pengguna.”
Tapi pas negosiasi sama pengiklan?
Mereka ngomong,
“Kami adalah PERUSAHAAN MEDIA.
Kami punya data audiens paling
akurat di dunia.”
Mereka pengen DAPET MANFAAT
dari KEDUA SISI. Kebebasan dari
tanggung jawab sebagai platform.
Dan duit dari pengiklan sebagai
perusahaan media. Galloway nyebut
ini 
“the great hypocrisy”,
KEMUNAFIKAN BESAR dari The
Four. Mainnya dua kaki.

Buat Galloway, ini adalah KRISIS
yang NGANCAM FONDASI masyarakat
demokratis. PERS YANG BEBAS dan
INDEPENDEN adalah pilar keempat
demokrasi. Ketika pers DIHANCURKAN
secara finansial. Ketika berita palsu
MENYEBAR LEBIH CEPAT daripada
kebenaran. Dan ketika setiap orang
HIDUP DALAM GELEMBUNG
INFORMASINYA SENDIRI. Maka,
kemampuan warga negara buat bikin
KEPUTUSAN YANG CERDAS bakal
RUSAK. The Four, dengan segala
inovasi dan kemudahan yang mereka
bawa, juga BAWA SERTA ANCAMAN
EKSISTENSIAL terhadap masyarakat
terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *