buku

Maskulinitas yang Menjebak Laki-laki

Sahabat, kita lanjutkan ke bagian
keempat dari buku 
We Should All
Be Feminists
. Setelah membahas
bagaimana anak perempuan diajari
mengecilkan diri dan anak laki-laki
diajari membesar, Adichie sekarang
menyelami topik yang jarang dibahas
dalam diskusi tentang feminisme:
bagaimana budaya patriarki juga
menghancurkan laki-laki.

4. Maskulinitas yang Menjebak
Laki-laki

Inilah salah satu poin paling kuat
dalam seluruh buku ini. Chimamanda
Ngozi Adichie menekankan bahwa
budaya patriarki tidak hanya
merugikan perempuan. Budaya ini
juga membebani laki-laki dengan
cara yang sangat merusak. Ia menulis:
“We do a great disservice to boys in
how we raise them. We stifle the
humanity of boys. We define
masculinity in a very narrow way.”
 (Kita melakukan kerugian besar pada
anak laki-laki dalam cara kita
membesarkan mereka. Kita mencekik
kemanusiaan anak laki-laki.
Kita mendefinisikan maskulinitas
dengan cara yang sangat sempit.)

Kalimat ini sangat kuat karena ia
membalikkan anggapan umum bahwa
feminisme adalah gerakan yang hanya
peduli pada perempuan. Adichie
menunjukkan bahwa feminisme juga
peduli pada laki-laki, karena sistem
yang sama yang menindas perempuan
juga memenjarakan laki-laki dalam
peran yang kaku dan tidak manusiawi.

Apa yang dimaksud dengan definisi
maskulinitas yang sempit?
Adichie menjelaskannya melalui
contoh-contoh yang sangat nyata.
Di Nigeria, tempat ia dibesarkan,
ada aturan tak tertulis bahwa laki-laki
harus membayar tagihan saat kencan.
Jika seorang perempuan membayar,
pacarnya akan merasa tidak nyaman,
terancam, bahkan malu. Padahal,
secara logika, pembagian peran
seharusnya bisa lebih cair. Mungkin
perempuan memiliki penghasilan
lebih besar. Mungkin ia yang ingin
mentraktir. Mungkin mereka bisa
berbagi. Tetapi norma
“laki-laki harus membayar” begitu
kuatnya sehingga melanggarnya
akan menimbulkan rasa malu yang
mendalam bagi sang pria.

Norma ini membebani laki-laki.
Ia menempatkan beban finansial dan
psikologis di pundak mereka.
Jika mereka tidak mampu membayar,
mereka merasa gagal sebagai laki-laki.
Padahal ketidakmampuan membayar
bukanlah cerminan dari nilai
seseorang. Tetapi dalam budaya
yang mendefinisikan maskulinitas
sebagai kemampuan untuk
menyediakan dan mendominasi,
kegagalan finansial adalah pukulan
telak terhadap identitas seorang pria.

Bukan hanya soal uang.
Adichie menunjukkan bahwa anak
laki-laki diajari untuk membuktikan
kejantanan mereka melalui
kekerasan, dominasi, dan
ketidakpekaan. Mereka tidak boleh
menangis. Mereka tidak boleh
menunjukkan rasa takut. Mereka
tidak boleh lembut. Emosi-emosi ini
dianggap sebagai tanda kelemahan,
sesuatu yang “feminin” dan
karenanya memalukan. Seorang
anak laki-laki yang menangis akan
diejek. Ia akan diberi tahu,
“Jangan seperti perempuan.”
Pesan ini sangat merusak karena ia
mengajarkan bahwa menjadi
perempuan adalah sesuatu yang
buruk, sesuatu yang harus dihindari.

Akibatnya, laki-laki tumbuh dengan
kemampuan emosional yang
terhambat. Mereka tidak belajar
bagaimana mengekspresikan
kesedihan, ketakutan, atau
kerentanan dengan sehat.
Semua emosi itu ditekan, dikunci
rapat-rapat di dalam dada, sampai
akhirnya meledak dalam bentuk
kemarahan, kekerasan, atau
kehancuran diri sendiri. Laki-laki
kehilangan kesempatan untuk
menjadi manusia yang utuh,
manusia yang boleh takut, boleh
lembut, boleh rentan.

Adichie menyebut ini sebagai bentuk
ketidakadilan yang sering kali tidak
terlihat. Ketika kita berbicara tentang
kesetaraan gender, kita sering kali
hanya berfokus pada penderitaan
perempuan. Itu penting. Tetapi kita
juga harus mengakui bahwa laki-laki
menderita di bawah sistem yang
sama. Mereka dipaksa untuk menjadi
sesuatu yang mungkin tidak mereka
inginkan. Mereka dipaksa untuk
mengenakan topeng kekuatan dan
dominasi, bahkan ketika di dalam hati
mereka lelah, takut, dan ingin
menangis.

Feminisme sejati, menurut Adichie,
ingin membebaskan semua orang
dari penjara ini.
Ia ingin membebaskan perempuan
dari kewajiban untuk mengecilkan
diri. Ia juga ingin membebaskan
laki-laki dari kewajiban untuk selalu
membesar, selalu kuat, selalu
mendominasi. Dunia yang lebih adil
adalah dunia di mana setiap orang,
tanpa memandang jenis kelaminnya,
diizinkan untuk menjadi manusia
sepenuhnya. Itulah visi feminisme
yang Adichie tawarkan.
Bukan perang antar gender,
melainkan pembebasan bersama
dari sangkar yang sama.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ke bagian keempat.
Ini salah satu poin paling nampol
di buku ini yang jarang banget dibahas
pas orang ngomongin feminisme.
Chimamanda Ngozi Adichie sekarang
ngebedah satu fakta yang bikin banyak
cowok melongo: budaya patriarki itu
gak cuma nyiksa cewek. Budaya yang
sama juga ngancurin laki-laki dengan
cara yang brutal.

4. Maskulinitas yang Ngejebak
Cowok Sendiri

Adichie nulis kalimat yang dalem
banget buat ngegambarin ini.
Dia bilang,
“We do a great disservice to boys in
how we raise them. We stifle the
humanity of boys. We define
masculinity in a very narrow way.”

“Kita melakukan kesalahan besar
terhadap anak laki-laki dalam
cara kita mendidik mereka.
Kita menekan kemanusiaan
anak laki-laki. Kita mendefinisikan
maskulinitas dengan cara yang
sangat sempit.”
Artinya, kita tuh ngerugiin banget
anak laki-laki lewat cara kita
ngasuh mereka. Kita mencekik
kemanusiaan mereka.
Kita mendefinisikan maskulinitas
dengan cara yang SEMPIT BANGET.

Kalimat ini kuat karena dia ngebalikin
anggapan umum kalo feminisme
cuma ngurusin cewek. Adichie
nunjukin kalo feminisme juga peduli
sama cowok. Kenapa? Karena sistem
yang sama yang nindas cewek,
juga MEMENJARAKAN cowok
di dalam peran yang kaku dan gak
manusiawi. Jadi ini bukan soal perang
antar gender. Ini soal lawan sistem
yang sama-sama ngejebak kita semua.

Apa sih maksudnya definisi
maskulinitas yang sempit itu?
Adichie jelasin lewat contoh nyata.
Di Nigeria, tempat dia gede,
ada aturan gak tertulis kalo cowok
HARUS bayar tagihan pas kencan.
Kalo si cewek yang bayar, pacarnya
bakal ngerasa gak nyaman, terancam,
bahkan MALU. Padahal kalo lo pake
logika sehat, pembagian peran ini
harusnya bisa lebih cair. Mungkin
si cewek penghasilannya lebih gede.
Mungkin dia yang pengen nraktir.
Mungkin mereka bisa bayar
masing-masing. Tapi norma
“cowok harus bayar” ini nyangkut
begitu kuat, sampe ngelanggarnya
bikin si cowok ngerasa dipermalukan.

Nah, bayangin betapa beratinya
beban ini. Norma kayak gini naro
tekanan finansial dan psikologis yang
gak sehat di pundak cowok. Kalo lo
gak mampu bayar, lo bakal ngerasa
GAGAL total sebagai laki-laki.
Padahal, gak mampu bayar itu
bukan cerminan nilai diri lo sebagai
manusia. Tapi di budaya yang
nganggep maskulinitas itu sama
dengan kemampuan nyediain dan
mendominasi, kegagalan finansial
jadi pukulan telak yang ngelukain
identitas cowok dalem-dalem.

Dan masalahnya, bukan cuma soal
duit. Adichie nunjukin kalo anak
laki-laki diajarin buat ngebuktiin
kejantanan mereka lewat kekerasan,
dominasi, dan KEBAL PERASAAN.
Lo gak boleh nangis. Lo gak boleh
takut. Lo gak boleh lembut. Emosi
yang wajar dan manusiawi ini malah
dianggep aib, tanda kelemahan,
sesuatu yang “feminin” dan
karenanya memalukan. Anak cowok
yang nangis bakal diejek. Dia bakal
dibilangin, “Jangan kayak cewek!”
Pesannya merusak banget, gaes,
karena secara gak langsung ngajarin
kalo JADI CEWEK ITU BURUK.
Sesuatu yang harus lo jauhi dan lo
hinain.

Akibatnya parah. Laki-laki gede
dengan kemampuan emosional yang
kerdil. Mereka gak pernah belajar
gimana caranya mengekspresikan
kesedihan, ketakutan, atau
kerentanan dengan cara yang sehat.
Semua emosi itu diteken
dalem-dalem, dikunci mati,
disumpal rapat di dalem dada.
Sampe akhirnya, BOOM. Meledak
dalam bentuk kemarahan buta,
kekerasan, atau malah ngancurin
diri sendiri. Cowok kehilangan
kesempatan buat jadi manusia utuh.
Manusia yang boleh takut, boleh
lembut, boleh bilang “gue rapuh”.
Itu semua direbut dari mereka.

Adichie nyebut ini sebagai bentuk
ketidakadilan yang sering kali
GAK KELIHATAN.
Pas kita ngomongin kesetaraan
gender, fokus kita seringnya cuma
ke penderitaan cewek. Dan itu
penting banget, gak salah. Tapi kita
juga harus ngakuin kalo laki-laki
juga MENDERITA di bawah sistem
yang sama. Mereka dipaksa jadi
sesuatu yang mungkin gak mereka
inginkan. Mereka dipaksa pake
topeng kuat dan dominan, padahal
di dalem hati mereka capek, takut,
dan pengen nangis
sekenceng-kencengnya.

Feminisme sejati, kata Adichie, pengen
ngebebasin SEMUA ORANG dari
penjara gender ini. Dia pengen
bebaskan cewek dari kewajiban
mengecilkan diri. Dan dia juga pengen
BEBASKAN COWOK dari kewajiban
untuk selalu membesar, selalu kuat,
selalu mendominasi. Dunia yang lebih
adil adalah dunia di mana setiap
orang, gak peduli jenis kelaminnya,
diizinin buat jadi MANUSIA
SEPENUHNYA. Itulah visi feminisme
yang ditawarin Adichie. Bukan perang
antar gender. Tapi pembebasan
bareng-bareng dari sangkar yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *