buku

Perempuan Diajari Mengecilkan Diri, Laki-laki Diajari Membesar

Sahabat, kita lanjutkan ke bagian
ketiga dari buku 
We Should All Be
Feminists
. Setelah menunjukkan
bagaimana ketimpangan
dinormalisasi dalam kehidupan
sehari-hari, Chimamanda Ngozi
Adichie kini menyelami akar dari
masalah tersebut. Akarnya bukan
terletak pada satu kebijakan atau
satu undang-undang. Akarnya
terletak pada cara kita
membesarkan anak-anak kita.

3. Perempuan Diajari
Mengecilkan Diri, Laki-laki
Diajari Membesar

Adichie berargumen bahwa sejak kecil,
anak perempuan dan anak laki-laki
menerima pesan yang sangat berbeda
tentang siapa mereka seharusnya.
Pesan-pesan ini tidak selalu
disampaikan secara langsung.
Sering kali, ia tersembunyi dalam
nasihat-nasihat yang terdengar bijak,
dalam ekspektasi yang tidak diucapkan,
dan dalam aturan-aturan tidak tertulis
yang mengatur perilaku kita.

Anak perempuan, menurut Adichie,
dibesarkan untuk menjadi “pengecil”.
Mereka diajari untuk mengecilkan
ambisi, mengecilkan suara,
mengecilkan keberadaan mereka.
Mereka diberi tahu bahwa mereka
boleh memiliki cita-cita, tetapi
jangan terlalu tinggi. Mereka boleh
sukses, tetapi jangan terlalu sukses,
karena kesuksesan yang terlalu besar
bisa mengancam laki-laki. Adichie
menuliskan pesan ini dengan sangat
tajam:
“We say to girls, ‘You can have
ambition, but not too much.
You should aim to be successful,
but not too successful, otherwise
you would threaten the man.'”

(Kita bilang pada anak perempuan,
“Kamu boleh punya ambisi, tetapi
jangan terlalu besar. Kamu harus
sukses, tetapi jangan terlalu sukses,
nanti kamu mengancam laki-laki.”)

Pesan ini sangat berbahaya karena ia
menanamkan rasa bersalah pada anak
perempuan atas pencapaian mereka
sendiri. Mereka tumbuh dengan
keyakinan bahwa kesuksesan mereka
adalah sesuatu yang harus
disembunyikan, atau setidaknya
dikecilkan, agar tidak membuat
orang lain merasa tidak nyaman.
Mereka belajar untuk merendah,
untuk meminta maaf, bahkan ketika
mereka tidak melakukan kesalahan
apa pun.

Adichie memberikan contoh dari
hidupnya sendiri. Suatu kali, ia
diminta untuk memimpin sebuah
lokakarya menulis. Ini adalah
pekerjaan yang ia kuasai. Ia adalah
penulis yang sukses, dan ia tahu
bahwa ia memiliki kemampuan
untuk mengajar orang lain. Tetapi
ketika tiba waktunya untuk
memperkenalkan diri kepada para
peserta, ia ragu-ragu. Ia merasa
tidak nyaman menyebut dirinya
sebagai “pemimpin” lokakarya.
Kata itu terasa terlalu besar, terlalu
sombong. Maka ia memilih kata
yang lebih rendah: “fasilitator”.
Ia hanyalah seorang fasilitator,
seseorang yang membantu,
bukan seseorang yang memimpin.

Pada saat yang sama, ia mengamati
seorang teman laki-lakinya yang
juga diminta untuk memimpin
sebuah lokakarya. Temannya itu
tidak memiliki keraguan sedikit pun.
Dengan mudah dan percaya diri, ia
memperkenalkan dirinya sebagai
“guru”. Ia tidak merasa perlu untuk
mengecilkan perannya. Ia tidak
merasa bersalah atas posisinya.
Ia menerima otoritas itu sebagai
sesuatu yang wajar.

Perbedaan ini sangat mencolok, dan
Adichie menyadari bahwa ini
bukanlah sekadar perbedaan
kepribadian. Ini adalah hasil dari pola
asuh yang berbeda. Perempuan dilatih
untuk merendah, untuk meminta maaf
bahkan atas prestasi mereka sendiri.
Mereka diajari bahwa kepercayaan
diri pada perempuan adalah sesuatu
yang buruk, sesuatu yang harus
dihindari. Sementara laki-laki dilatih
untuk membesar, untuk tampil
percaya diri, untuk mengambil ruang
tanpa merasa bersalah.

Hal sebaliknya terjadi pada laki-laki.
Mereka dibesarkan untuk menjadi
“pembesar”. Mereka diajari untuk
memperbesar ambisi, memperbesar
suara, memperbesar keberadaan
mereka. Tetapi ini juga datang
dengan harga yang mahal. Mereka
diajari bahwa maskulinitas adalah
tentang kekuatan, dominasi, dan
penekanan emosi. Mereka tidak
boleh menangis. Mereka tidak boleh
takut. Mereka tidak boleh lemah.
Ekspresi emosi dianggap sebagai
tanda kelemahan yang memalukan.

Adichie menyebut ini sebagai
bentuk ketidakadilan yang merugikan
semua orang. Laki-laki dipenjara
dalam definisi maskulinitas yang
sangat sempit, dan mereka
kehilangan kesempatan untuk
menjadi manusia yang utuh. Mereka
kehilangan kemampuan untuk
mengekspresikan ketakutan,
kerentanan, dan kelembutan. Mereka
dipaksa untuk selalu tampil kuat,
bahkan ketika di dalam hati mereka
rapuh. Ini bukanlah kebebasan.
Ini adalah penjara lain, hanya saja
bentuknya berbeda.

Pola asuh yang berbeda ini
menciptakan dunia yang tidak
seimbang. Perempuan tumbuh
dengan perasaan bahwa mereka
harus mengecilkan diri untuk
diterima. Laki-laki tumbuh dengan
perasaan bahwa mereka harus
membesar untuk dihormati.
Keduanya adalah korban dari
sistem yang sama. Dan sampai kita
berani mengubah cara kita
membesarkan anak-anak kita,
ketimpangan ini akan terus
berlanjut dari generasi ke generasi.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, gas lagi. Kita lanjut ke bagian
ketiga dari We Should All Be
Feminists. Setelah Adichie nunjukin
bukti-bukti nyata ketimpangan yang
udah dinormalisasi dalam keseharian,
sekarang dia nyemplung lebih dalem.
Dia gak cuma nunjukin lukanya, tapi
dia bongkar AKAR MASALAHNYA.
Dan akarnya ini bukan di kebijakan
pemerintah atau undang-undang
yang rumit. Akarnya ada di rumah
kita sendiri, di cara kita ngasuh dan
ngajar anak-anak sejak kecil.

3. Cewek Diajarin Mengecil,
Cowok Diajarin Membesar

Adichie ngasih argumen yang nampol
banget. Sejak masih bocah, anak
cewek dan anak cowok itu udah
dicekokin pesan yang BEDA JAUH
tentang siapa mereka seharusnya.
Pesan ini gak selalu dikirim secara
gamblang dan kasar. Justru seringnya
dia nyelip halus di balik nasihat yang
keliatannya bijak, di balik ekspektasi
yang gak diomongin, dan aturan gak
tertulis yang ngatur banget cara kita
bersikap.

Nah, menurut Adichie, anak cewek
itu dibesarkan buat jadi 
“pengecil”.
Mereka diajarin buat mengecilkan
ambisi, mengecilkan suara,
mengecilkan keberadaan mereka
sendiri. Bayangin, lo bilang ke anak
cewek kalo mereka BOLEH punya
cita-cita, tapi inget, JANGAN terlalu
tinggi. Mereka BOLEH sukses, tapi
JANGAN terlalu sukses. Loh, kenapa?
Karena nanti lo bisa ngancam
laki-laki. Adichie nulis pesan ini
dengan tajem banget:
“We say to girls, ‘You can have
ambition, but not too much.
You should aim to be successful,
but not too successful, otherwise
you would threaten the man.'”

Gila ya, pesannya. Ini berbahaya
banget, gaes, karena lo secara gak
langsung nanemin rasa BERSALAH
di diri anak cewek atas pencapaian
mereka sendiri. Mereka gede dengan
keyakinan kalo sukses itu adalah
sesuatu yang harus disembunyiin,
atau minimal dikecilin, biar
orang lain gak ngerasa gak nyaman.
Mereka belajar buat selalu merendah,
selalu minta maaf, bahkan pas
mereka GAK SALAH APA-APA.

Adichie ngasih contoh dari
pengalamannya sendiri yang bikin
geleng-geleng. Suatu kali, dia diminta
buat memimpin sebuah lokakarya
menulis. Ini mah pekerjaan yang dia
jagokan banget. Dia penulis sukses,
dia tau banget dia punya kemampuan
buat ngajar. Tapi pas tiba waktunya
buat ngenalin diri ke peserta?
Dia RAGU. Dia ngerasa gak nyaman
kalo nyebut dirinya sebagai
“pemimpin” lokakarya. Kata itu
rasanya kegedean, sombong. Jadi dia
milih kata yang lebih rendah, yang
lebih “aman”: 
“fasilitator”.
Dia cuma fasilitator, seseorang yang
“bantu-bantu”, bukan seseorang
yang memimpin.

Di saat yang sama, dia merhatiin temen
cowoknya. Temennya itu juga diminta
buat memimpin lokakarya serupa.
Dan coba tebak? Si temen cowok ini
GAK PUNYA KERAGUAN SEDIKIT
PUN. Dengan enteng dan pede tingkat
dewa, dia ngenalin dirinya sebagai
“guru”. Dia gak merasa perlu ngecilin
perannya. Gak ada rasa bersalah atas
posisinya. Dia nerima otoritas itu
sebagai sesuatu yang WAJAR aja.

Perbedaan ini kontras banget, dan
Adichie sadar ini bukan cuma soal
beda kepribadian introvert atau
ekstrovert. Ini adalah HASIL dari
pola asuh yang berbeda. Cewek dilatih
buat merendah, buat minta maaf
bahkan atas prestasi mereka sendiri.
Mereka diajarin kalo percaya diri
di diri cewek itu sesuatu yang
BURUK, sesuatu yang harus
dijauhin. Sementara cowok dilatih
buat membesar, tampil pede, ngambil
ruang tanpa perlu ngerasa bersalah
sedikitpun.

Nah, kebalikannya terjadi sama
laki-laki. Mereka dibesarkan buat
jadi 
“pembesar”. Mereka diajarin
buat memperbesar ambisi, suara,
dan keberadaan mereka. Tapi, ini
juga ada harga mahalnya, gaes.
Mereka diajarin kalo maskulinitas
itu soal kekuatan, dominasi, dan
yang paling parah, penekanan emosi.
Cowok gak boleh nangis. Gak boleh
takut. Gak boleh lembek. Ekspresi
emosi dianggep sebagai aib, tanda
kelemahan yang memalukan.

Adichie nyebut ini sebagai bentuk
ketidakadilan yang MERUGIKIN
SEMUA ORANG. Laki-laki tuh
dipenjara dalam definisi
maskulinitas yang sempit banget.
Mereka jadi kehilangan kesempatan
buat jadi manusia yang utuh.
Kehilangan kemampuan buat
mengekspresikan ketakutan,
kerentanan, dan kelembutan.
Mereka dipaksa buat selalu tampil
kuat, padahal di dalem mungkin
rapuh berkeping-keping. Ini bukan
kebebasan, gaes. Ini penjara juga,
cuma bentuknya beda. Penjara
buat jiwa.

Pola asuh yang gak seimbang ini
akhirnya nyiptain dunia yang
pincang. Cewek gede dengan
perasaan harus mengecilkan diri
biar diterima. Cowok gede dengan
perasaan harus membesar biar
dihormati. Tapi ujung-ujungnya,
KEDUANYA ADALAH KORBAN
dari sistem yang sama. Dan sampe
kita punya nyali buat ngubah cara
kita ngasuh anak-anak, ketimpangan
ini bakal terus-terusan diwarisin.
Dari generasi ke generasi. Gak ada
habisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *