Titik Balik Saratoga dan Aliansi Prancis
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 5 dan
Bab 6 dari buku Killing England.
Dua bab ini membawa kita ke dua
peristiwa yang paling kontras dalam
Revolusi Amerika. Di utara,
kemenangan besar yang mengubah
arah perang. Di selatan, perang
gerilya yang brutal dan
pengkhianatan yang nyaris
menghancurkan segalanya.
Bab 5: Titik Balik Saratoga
dan Aliansi Prancis
Sementara Washington berjuang
mati-matian untuk menjaga revolusi
tetap hidup, sebuah kampanye
militer yang sangat berbeda sedang
berlangsung di bagian utara
New York. Di sinilah,
di hutan-hutan lebat dan
lembah-lembah yang sunyi, nasib
revolusi akan ditentukan bukan
oleh Washington, melainkan oleh
dua jenderal yang saling membenci.
Jenderal Horatio Gates adalah pria
yang sangat berbeda dari
Washington. Ia ambisius,
suka mencari pujian, dan diam-diam
menginginkan posisi Washington
sebagai panglima tertinggi. Ia tidak
memiliki karisma, tetapi ia memiliki
keterampilan organisasi yang baik.
Di bawah komandonya, pasukan
Amerika di utara terus bertambah
besar, diperkuat oleh milisi dari
New England yang marah setelah
Inggris dan sekutu Indian mereka
menyerang pemukiman-pemukiman
perbatasan.
Benedict Arnold adalah kebalikan dari
Gates. Ia muda, tampan, pemberani
sampai ke titik kenekatan, dan
memiliki temperamen yang
meledak-ledak. Ia adalah prajurit
sejati, seseorang yang memimpin dari
depan, yang tidak takut menghadapi
peluru. Tetapi ia juga sensitif terhadap
penghinaan, mudah tersinggung, dan
terus-menerus merasa bahwa jasanya
tidak dihargai. Perpaduan antara
keberanian dan rasa tidak aman ini
akan menjadi racun yang
perlahan-lahan menghancurkannya.
Musuh mereka adalah Jenderal Inggris
John Burgoyne, yang dikenal sebagai
“Gentleman Johnny”.
Burgoyne adalah pria yang percaya
diri, flamboyan, dan yakin bahwa
kampanyenya akan berhasil dengan
mudah. Rencananya adalah bergerak
ke selatan dari Kanada, bertemu
dengan pasukan Inggris lain yang
bergerak dari utara dan barat, dan
memotong New England dari
koloni-koloni lainnya. Burgoyne
membawa serta lebih dari tujuh ribu
tentara reguler, pasukan Hessian,
dan sekutu Indian. Ia juga membawa
barang-barang pribadi yang tidak biasa
untuk sebuah kampanye militer:
pakaian mewah, anggur berkualitas,
dan bahkan gundiknya.
Serangkaian pertempuran terjadi
di hutan-hutan New York. Arnold,
yang seharusnya hanya menjadi
bawahan Gates, tidak bisa menahan
diri untuk tidak terjun ke medan
pertempuran. Di Freeman’s Farm
dan Bemis Heights, ia memimpin
serangan-serangan yang berani,
mengendarai kudanya langsung
ke arah tembakan musuh. Di Bemis
Heights, kudanya tertembak,
kakinya tertimpa tubuh kuda yang
mati, dan ia terluka parah. Tetapi
serangannya berhasil memukul
mundur pasukan Inggris.
Gates, yang memimpin dari
markasnya yang aman di belakang
garis pertempuran, menerima
pujian atas kemenangan itu. Arnold,
yang terbaring dengan kaki hancur,
tidak menerima apa pun.
Ketidakadilan ini membakar
hatinya.
Hasil akhirnya adalah penyerahan
seluruh pasukan Burgoyne
di Saratoga pada 17 Oktober 1777.
Hampir enam ribu tentara Inggris
meletakkan senjata mereka.
Ini adalah kemenangan terbesar
yang pernah diraih Amerika
sampai saat itu.
Di Paris, Benjamin Franklin telah
menunggu berita ini selama
berbulan-bulan. Franklin, yang kini
berusia tujuh puluhan, tinggal
di Passy, di luar Paris, sebagai
diplomat utama Amerika.
Ia memainkan perannya dengan
cemerlang: berpakaian sederhana,
mengenakan topi bulu
berang-berang, memproyeksikan
citra “orang Amerika yang jujur dan
bersahaja” yang sangat disukai oleh
masyarakat Prancis. Tetapi di balik
topeng kesederhanaan itu, Franklin
adalah negosiator yang sangat cerdik.
Prancis telah lama mendendam kepada
Inggris, yang telah mengalahkan
mereka dalam Perang Tujuh Tahun.
Raja Louis XVI ingin membalas, tetapi
ia ragu-ragu.
Apakah para pemberontak ini
benar-benar bisa menang?
Apakah layak mempertaruhkan
uang dan armada Prancis untuk
perjuangan yang sia-sia?
Kemenangan di Saratoga menjawab
semua pertanyaan itu. Franklin,
dengan bukti kemenangan
di tangannya, mendorong Prancis
untuk menandatangani aliansi terbuka.
Pada Februari 1778, Prancis secara
resmi mengakui kemerdekaan Amerika
dan berjanji untuk mengirimkan
tentara, kapal perang, dan uang.
O’Reilly dan Dugard mencatat bahwa
ini adalah momen yang mengubah
segalanya. Perang kolonial kini
menjadi konflik global.
Inggris sekarang harus bertempur
tidak hanya melawan para
pemberontak di Amerika, tetapi juga
melawan musuh lamanya, Prancis,
di seluruh dunia.
Sementara itu, di Valley Forge,
Pennsylvania, Washington dan
pasukannya sedang melalui salah satu
musim dingin paling brutal dalam
sejarah. Dua belas ribu tentara
berkemah di gubuk-gubuk kayu yang
mereka bangun sendiri. Mereka tidak
memiliki cukup makanan.
Mereka tidak memiliki selimut yang
layak. Banyak yang tidak memiliki
sepatu. Salju di luar sangat tebal.
Suhu turun jauh di bawah titik beku.
Penyakit menyebar dengan cepat.
Washington menderita bersama anak
buahnya. Ia menolak untuk tinggal
di rumah yang hangat dan nyaman
sementara tentaranya kedinginan
di gubuk-gubuk. Ia mengunjungi
mereka setiap hari, menatap mata
mereka, berbicara dengan mereka,
mendorong mereka untuk bertahan.
Istrinya, Martha, tiba di Valley Forge
dan membantu merawat yang sakit.
Ia mengorganisir wanita-wanita lain
untuk menjahit pakaian,
memasak sup, dan memberikan
kenyamanan apa pun yang bisa
mereka berikan.
Di tengah penderitaan ini, seorang pria
asing tiba di Valley Forge. Namanya
Friedrich Wilhelm von Steuben,
seorang mantan perwira Prusia yang
mengaku sebagai baron. Ia tidak bisa
berbahasa Inggris. Ia hanya berbicara
dalam bahasa Jerman dan Prancis.
Tetapi ia tahu cara melatih tentara.
Von Steuben mengambil alih pelatihan
pasukan Washington. Ia mengajari
mereka formasi, disiplin, dan cara
menggunakan bayonet. Ia berteriak
dalam bahasa Jerman,
menerjemahkan melalui penerjemah,
dan terkadang, ketika ia sangat
frustrasi, ia mengumpat dalam
berbagai bahasa sekaligus. Tetapi ia
berhasil. Dari Valley Forge, Tentara
Kontinental muncul sebagai kekuatan
tempur yang sesungguhnya, bukan
lagi sekadar kumpulan milisi yang
kacau.
Bab 6: Perang Bergeser
ke Selatan dan Pengkhianatan
Ketika perang di utara mencapai
kebuntuan, Inggris mengalihkan
fokus mereka ke koloni selatan.
Strateginya adalah mengeksploitasi
kesetiaan yang dianggap lebih kuat
kepada Kerajaan di Georgia,
Carolina, dan Virginia.
Mereka percaya bahwa dengan
menguasai selatan, mereka bisa
menghancurkan pemberontakan
dari bawah ke atas.
Di sinilah perang berubah menjadi
sesuatu yang jauh lebih brutal dan
personal. Ini bukan lagi pertempuran
antara tentara reguler di medan
terbuka. Ini adalah perang saudara
dalam segala hal kecuali nama.
Tetangga bertempur melawan
tetangga. Saudara melawan saudara.
Kelompok-kelompok Loyalis dan
Patriot saling menyerang, membakar
rumah, menjarah tanah, dan
membunuh tanpa ampun.
Dua tokoh muncul sebagai simbol
dari kebrutalan ini. Di pihak Inggris,
ada Letnan Kolonel Banastre
Tarleton. Ia muda, kejam, dan tidak
kenal ampun. Tarleton memimpin
pasukan kavaleri yang dikenal
sebagai “Tarleton’s Raiders” atau
“Green Dragoons”. Mereka bergerak
cepat, menyerang tanpa peringatan,
dan tidak memberikan belas kasihan.
Di Pertempuran Waxhaws, Tarleton
dan pasukannya membantai tentara
Amerika yang sudah menyerah.
Seruan “Tarleton’s Quarter!”
menjadi sinonim dengan
“no quarter at all”
—tidak ada ampun sama sekali.
Kebrutalan Tarleton membuatnya
dibenci di seluruh koloni selatan.
Di pihak Amerika, muncul seorang pria
yang sangat berbeda. Francis Marion
adalah seorang perwira kecil, pendiam,
dan tidak mencolok. Ia bukanlah
jenderal besar dengan seragam mewah.
Ia adalah pria kurus dengan kaki
bengkok dan wajah yang tidak akan
diingat siapa pun. Tetapi ia adalah ahli
dalam seni perang gerilya.
Marion memimpin sekelompok kecil tentara yang tinggal di rawa-rawa Carolina Selatan. Mereka menyerang konvoi pasokan Inggris, memotong jalur komunikasi, dan menghilang kembali ke rawa sebelum musuh bisa membalas. Inggris menjulukinya “Swamp Fox” (Rubah Rawa) karena kelicikannya. Jenderal Inggris yang frustrasi, Charles Cornwallis, mengeluh bahwa ia tidak pernah bisa menangkap “that damned swamp fox” (rubah rawa terkutuk itu). Taktik Marion tidak mungkin memenangkan perang sendirian, tetapi ia membuat pendudukan Inggris di selatan menjadi mimpi buruk yang konstan.
Sementara perang gerilya berkecamuk,
di utara, pengkhianatan paling terkenal
dalam sejarah Amerika sedang
berlangsung. Benedict Arnold,
pahlawan Saratoga yang kakinya masih
lumpuh, telah jatuh ke dalam
keputusasaan. Ia merasa bahwa
negaranya telah mengabaikannya.
Ia telah berjuang dengan gagah
berani, mengorbankan tubuhnya,
tetapi Kongres tidak memberinya
penghargaan yang ia rasa layak ia
terima. Ia terlilit utang. Istrinya yang
muda, Peggy Shippen, berasal dari
keluarga Loyalis dan memiliki koneksi
dengan perwira Inggris.
Secara perlahan, Arnold mulai
berkomunikasi secara rahasia dengan
musuh yang dulu ia lawan.
Kontak Inggris Arnold adalah Mayor
John André, seorang perwira muda
yang tampan dan cerdas. Melalui
serangkaian surat rahasia, Arnold
menawarkan untuk menyerahkan
West Point, benteng strategis yang
menguasai Sungai Hudson, kepada
Inggris. Harganya: dua puluh ribu
pound sterling dan jabatan tinggi
di tentara Inggris.
Rencana itu hampir berhasil. Arnold
telah ditunjuk sebagai komandan
West Point dan mulai melemahkan
pertahanannya secara diam-diam.
André, yang menyamar dengan
pakaian sipil, bertemu dengan
Arnold di malam hari untuk
menyelesaikan detailnya. Tetapi ketika
André mencoba kembali ke garis
Inggris, ia ditangkap oleh tiga milisi
Amerika yang mencurigai
gerak-geriknya. Dokumen-dokumen
yang disembunyikan di dalam
sepatunya mengungkapkan seluruh
rencana.
Ketika Washington menerima berita
ini, ia sedang dalam perjalanan
menuju West Point untuk bertemu
dengan Arnold. Ia tiba di markas
Arnold hanya beberapa jam setelah
Arnold melarikan diri. Washington,
pria yang jarang menunjukkan emosi,
berdiri dalam keheningan. Lalu ia
berkata dengan suara yang penuh
kesedihan: “Whom can we trust now?”
(Siapa yang bisa kita percayai
sekarang?)
Arnold berhasil mencapai kapal
Inggris dan melarikan diri. Ia menjadi
brigadir jenderal di tentara Inggris,
memimpin serangan terhadap bekas
rekan-rekannya. Namanya selamanya
menjadi sinonim dengan
pengkhianatan. André, sementara itu,
diadili sebagai mata-mata dan
dijatuhi hukuman mati. Ia digantung
dengan tenang dan bermartabat,
seorang perwira muda yang menjadi
korban dari permainan yang lebih
besar.
O’Reilly dan Dugard menutup bab ini
dengan refleksi yang mendalam.
Pengkhianatan Arnold adalah
pukulan emosional yang sangat
berat bagi Washington, tetapi juga
menjadi momen yang menyatukan
rakyat Amerika. Kemarahan
terhadap Arnold membakar semangat
patriotisme yang baru.
Jika sebelumnya ada yang meragukan
perjuangan ini, pengkhianatan Arnold
mengingatkan semua orang tentang
apa yang dipertaruhkan. Revolusi
tidak bisa menoleransi keraguan.
Ia menuntut kesetiaan total.
Dan di selatan, di bawah bayang-bayang
Tarleton dan Marion, perang terus
berkecamuk dengan kekejaman yang
belum pernah terjadi sebelumnya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut lagi, ya, ke Bab 5 dan
6. Di dua bab ini, ceritanya kontras
banget. Di utara, pahlawan muncul
dan pengkhianat mulai merangkak.
Di selatan, perang berubah jadi
brutal dan personal. Kita bakal liat
gimana sebuah kemenangan besar
bisa mengubah peta politik dunia,
dan gimana seorang pahlawan bisa
jatuh ke titik terendah. Yuk, kita
bedah.
Bab 5: Kemenangan di Saratoga
dan Tiket Emas dari Prancis
Sementara Washington jungkir balik
menjaga revolusi tetap hidup
di Valley Forge, di bagian utara
New York, sebuah kampanye militer
yang berbeda sedang berlangsung.
Di hutan-hutan lebat, nasib revolusi
justru ditentukan bukan oleh
Washington, tapi oleh dua jenderal
yang saling sikut.
Jenderal Horatio Gates ini beda
banget dari Washington.
Dia ambisius, demen cari muka,
dan diam-diam nginginin posisi
Washington sebagai panglima
tertinggi. Dia nggak punya karisma,
tapi lumayan rapi secara organisasi.
Di bawahnya, pasukan Amerika
di utara terus bertambah banyak.
Lalu ada Benedict Arnold,
kebalikannya total. Muda, ganteng,
nyalinya gila-gilaan,
tapi temperamennya meledak-ledak.
Dia prajurit sejati, pemimpin yang
maju paling depan, nggak takut
peluru. Tapi dia juga sensitif banget
sama penghinaan, gampang
tersinggung, dan terus-terusan ngerasa
jerih payahnya nggak dihargai.
Kombinasi keberanian dan rasa nggak
aman ini nantinya bakal jadi racun.
Musuh mereka, Jenderal Inggris John
Burgoyne, yang dikenal sebagai
“Gentleman Johnny”. Orangnya pede,
flamboyan, dan yakin kampanyenya
bakal gampang. Rencananya bergerak
ke selatan dari Kanada buat motong
New England. Dia bawa lebih dari
7.000 tentara reguler, pasukan
Hessian, dan bahkan barang pribadi
yang nggak biasa: baju mewah,
anggur mahal, bahkan gundiknya.
Pertempuran terjadi di hutan-hutan.
Arnold, yang harusnya cuma jadi
bawahan Gates, nggak bisa nahan diri
buat nggak terjun langsung.
Di Freeman’s Farm dan Bemis Heights,
dia pimpin serangan nekat, naik kuda
langsung ke arah tembakan musuh.
Di Bemis Heights, kudanya ketembak,
kakinya ketimpa, dan dia terluka parah.
Tapi serangannya berhasil mukul
mundur Inggris. Gates, yang comfy
di markas belakang, malah yang dapet
pujian. Arnold, yang kakinya remuk,
nggak dapet apa-apa. Ini ngebakar
hatinya.
Hasil akhirnya? Burgoyne dan nyaris
6.000 tentaranya menyerah
di Saratoga. Ini kemenangan terbesar
Amerika sampai saat itu.
Di Paris, Benjamin Franklin udah
nunggu berita ini berbulan-bulan.
Dia udah tua, tapi lihai banget mainin
perannya: pakaiannya sederhana,
topi bulu, proyeksikan citra
“orang Amerika jujur” yang disukai
publik Prancis. Tapi di balik itu, dia
negosiator ulung. Prancis dendam
sama Inggris. Raja Louis XVI ragu,
tapi kemenangan Saratoga jadi
jawabannya. Franklin, dengan bukti
di tangan, dorong Prancis buat teken
aliansi terbuka. Prancis resmi ngakuin
kemerdekaan Amerika dan janji kirim
tentara, kapal, dan duit. Perang koloni
langsung jadi konflik global. Inggris
sekarang harus lawan pemberontak
dan Prancis sekaligus.
Bab 6: Perang Pindah ke Selatan
dan Lahirnya Si Pengkhianat
Pas perang di utara mulai buntu,
Inggris alihin fokus ke selatan.
Strateginya, manfaatin kesetiaan yang
katanya lebih kuat ke Kerajaan
di Georgia, Carolina, dan Virginia.
Di sinilah perang berubah jadi brutal
dan personal. Bukan lagi tentara
reguler, tapi perang saudara. Tetangga
lawan tetangga, saudara lawan saudara.
Dua tokoh muncul. Di pihak Inggris,
ada Letnan Kolonel Banastre
Tarleton, muda, kejam, tanpa
ampun. Dia pimpin kavaleri yang
dikenal sebagai “Green Dragoons”,
bergerak cepat, nyerang tanpa
peringatan. Di Waxhaws, dia dan
pasukannya ngebantai tentara
Amerika yang udah nyerah. Seruan
“Tarleton’s Quarter!” artinya nggak
ada ampun sama sekali.
Di pihak Amerika, muncul Francis
Marion. Dia perwira kecil, pendiem,
nggak mencolok. Badannya kurus,
kakinya bengkok. Tapi dia jago
perang gerilya. Dia pimpin kelompok
kecil yang tinggal di rawa-rawa
Carolina Selatan, nyerang konvoi
musuh, terus ngilang lagi. Inggris
menjulukinya “Swamp Fox”
(Rubah Rawa) karena kelicikannya.
Jenderal Cornwallis sampe frustasi
ngeluh nggak bisa nangkep
“rubah rawa terkutuk” itu.
Sementara itu, di utara, pengkhianatan
paling legendaris lagi disusun.
Benedict Arnold, sang pahlawan
Saratoga yang kakinya masih pincang,
udah jatuh ke jurang keputusasaan.
Dia ngerasa diabaikan, jerih
payahnya nggak dihargai Kongres.
Dia terlilit utang, dan istrinya yang
muda, Peggy Shippen, dari keluarga
Loyalis, punya koneksi ke Inggris.
Pelan-pelan, Arnold mulai kirim
surat rahasia ke musuh.
Kontak Inggrisnya adalah Mayor
John André. Arnold nawarin West
Point, benteng strategis di Sungai
Hudson, dengan harga
20.000 pound sterling. Rencananya
hampir mulus. Arnold udah ditunjuk
jadi komandan West Point dan
mulai ngelemahin pertahanannya.
André nyamar buat ketemu Arnold,
tapi pas balik, dia ditangkep tiga
milisi yang curiga. Dokumen
di sepatunya ngebongkar semuanya.
Washington yang lagi di perjalanan
ke West Point tiba beberapa jam
setelah Arnold kabur. Dia berdiri
diem, terus ngomong dengan suara
penuh kesedihan,
“Siapa yang bisa kita percayai
sekarang?”
Arnold lolos ke kapal Inggris dan
jadi brigadir jenderal mereka.
Namanya jadi simbol pengkhianatan.
André, diadili dan digantung dengan
tenang.
Pengkhianatan Arnold adalah pukulan
telak buat Washington, tapi juga
momen yang nyatuin rakyat Amerika.
Kemarahan ke Arnold ngebakar
semangat patriotisme baru. Revolusi
nggak bisa mentolerir keraguan.
Di selatan, di bawah bayang-bayang
Tarleton dan Marion, perang terus
berkecamuk makin brutal.
