buku

Dorongan Menuju Kemerdekaan

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 3 dan
Bab 4 dari buku 
Killing England.
Dua bab ini membawa kita ke dua
medan yang sangat berbeda namun
sama-sama menentukan nasib
revolusi. Di Philadelphia, kata-kata
sedang dirangkai untuk menyatakan
kemerdekaan. Di New York, darah
sedang ditumpahkan untuk
mempertahankannya.

Bab 3: Dorongan Menuju
Kemerdekaan

Sementara Washington berjuang
mempertahankan pasukannya yang
compang-camping, di Philadelphia
terjadi pertempuran dengan jenis
yang berbeda. Di dalam
ruangan-ruangan berpanel kayu
di Pennsylvania State House, yang
kelak akan dikenal sebagai
Independence Hall, perdebatan
sengit sedang berlangsung.
Pertanyaannya bukan lagi tentang
hak-hak sebagai warga Inggris.
Pertanyaannya sekarang jauh lebih
berani: haruskah koloni-koloni ini
menyatakan diri sebagai bangsa
yang merdeka?

John Adams adalah penggerak utama
di balik layar. Ia bertubuh pendek,
gemuk, dan memiliki kepribadian yang
oleh banyak orang dianggap
menjengkelkan. Ia berbicara
terus-menerus, tanpa henti, mendorong
dan mendesak. Ia tidak memiliki
karisma seperti sepupunya, Samuel
Adams. Ia tidak memiliki kebijaksanaan
seperti Benjamin Franklin. Tetapi ia
memiliki sesuatu yang sama
pentingnya: keyakinan mutlak bahwa
kemerdekaan adalah satu-satunya jalan.
Adams tahu bahwa Kongres
membutuhkan dokumen yang akan
menjelaskan kepada dunia mengapa
koloni-koloni ini memisahkan diri.
Dokumen ini harus ditulis oleh
seseorang yang memiliki pena yang
tajam dan pikiran yang jernih.
Pilihannya jatuh pada seorang pria
pendiam dari Virginia bernama
Thomas Jefferson.

Jefferson adalah pilihan yang tidak
terduga. Di Kongres, ia jarang
berbicara. Ia lebih suka
mendengarkan, mengamati, dan
menulis. Tetapi Adams telah
membaca tulisan-tulisan Jefferson
sebelumnya dan mengenali
kecemerlangan di dalamnya.
Jefferson muda, berusia tiga puluh
tiga tahun, dan ia membawa serta
kejeniusannya serta seorang budak
pribadi yang menemaninya
ke Philadelphia. Selama tujuh belas
hari, Jefferson mengurung diri
di kamarnya, menulis di meja kecil
yang ia rancang sendiri, menuangkan
kata-kata yang akan mengubah
sejarah dunia.

Jefferson menulis tentang
“unalienable Rights” (hak-hak yang
tidak bisa dicabut), tentang
“Life, Liberty and the pursuit of
Happiness” (Kehidupan, Kebebasan,
dan pengejaran akan Kebahagiaan).
Ia menulis daftar panjang keluhan
terhadap Raja George III, tuduhan
demi tuduhan yang membenarkan
pemisahan diri. Franklin, yang kini
sudah tua dan menderita asam urat,
membaca draf Jefferson dan
memberikan beberapa perubahan
kecil. Adams juga memberikan
masukannya. Dokumen itu
diperdebatkan, direvisi, dipotong,
dan akhirnya disetujui.

Pada tanggal 4 Juli 1776, Deklarasi
Kemerdekaan diadopsi secara resmi.
Adams, yang selalu visioner, menulis
surat kepada istrinya, Abigail,
meramalkan bahwa hari ini akan
dirayakan selamanya dengan
“Pomp and Parade, with Shews,
Games, Sports, Guns, Bells, Bonfires
and Illuminations” (Kemegahan dan
Parade, dengan Pertunjukan,
Permainan, Olahraga, Senjata,
Lonceng, Api Unggun, dan
Penerangan). Ramalannya benar.

Tetapi saat tinta Deklarasi masih
basah, perang sesungguhnya sedang
berkecamuk. New York telah menjadi
target invasi besar-besaran Inggris.
Armada terbesar yang pernah
dikerahkan oleh Kerajaan Inggris
berkumpul di pelabuhan New York:
lebih dari empat ratus kapal perang
dan kapal transportasi, membawa
lebih dari tiga puluh ribu tentara.
Ini adalah pertunjukan kekuatan
yang dirancang untuk
menghancurkan pemberontakan
sekali dan untuk selamanya.

Washington tahu bahwa pasukannya
tidak bisa menang melawan kekuatan
sebesar ini. Pasukannya hanya
berjumlah sekitar sembilan belas ribu
orang, banyak di antaranya milisi
yang tidak terlatih. Meskipun
demikian, ia harus bertempur. Dalam
serangkaian pertempuran di Long
Island, Manhattan, dan White Plains,
tentara Washington dihancurkan.
Mereka mundur, mundur, dan terus
mundur, meninggalkan New York
kepada Inggris.

Di tengah keputusasaan ini, seorang
kapten muda bernama Nathan Hale
menjadi salah satu kisah paling
mengharukan dari revolusi.
Hale, seorang guru sekolah berusia
dua puluh satu tahun, mengajukan
diri untuk misi yang sangat
berbahaya: menyusup ke belakang
garis musuh di Long Island untuk
mengumpulkan intelijen tentang
pergerakan pasukan Inggris.
Ia tertangkap. Tentara Inggris, yang
menemukan catatan-catatan
di tubuhnya, tidak memberinya
pengadilan. Mereka menggantungnya
sebagai mata-mata keesokan harinya.

Menurut catatan sejarah, kata-kata
terakhir Nathan Hale adalah:
“I only regret that I have but one life
to lose for my country.”
(Aku hanya menyesal bahwa aku
hanya memiliki satu nyawa untuk
dikorbankan demi negaraku.)
Kata-kata ini, yang disampaikan oleh
seorang pria muda yang menghadapi
kematian dengan ketenangan yang
luar biasa, menjadi simbol
pengorbanan bagi perjuangan yang
masih panjang.

Wabah cacar juga mulai menyebar
di antara pasukan Washington.
Penyakit ini membunuh lebih
banyak tentara daripada peluru
Inggris. Washington, yang selamat
dari cacar saat masih muda dan
karena itu kebal, menyaksikan
anak buahnya sekarat dalam
penderitaan yang mengerikan.
Ia akhirnya mengambil keputusan
kontroversial: memvaksin seluruh
pasukannya, sebuah prosedur yang
masih primitif dan berbahaya pada
masa itu, tetapi menjadi salah satu
keputusan paling penting yang
menyelamatkan tentara dari
kepunahan.

Bagaimana Cara Vaksinasi
pada Masa Itu?

Pada tahun 1770-an, belum ada
vaksin modern seperti yang kita
kenal sekarang. Yang tersedia
adalah prosedur yang disebut
variolasi (variolation), sebuah
teknik kuno yang berasal dari
Tiongkok dan dibawa ke Eropa
melalui Kekaisaran Ottoman.
Prosedur ini sangat berbeda dengan
vaksinasi modern yang
menggunakan virus yang dilemahkan
atau dimatikan. Variolasi
menggunakan virus cacar hidup yang
diambil langsung dari penderita.

Prosedurnya bekerja sebagai berikut.
Pertama, seorang dokter atau ahli
bedah akan mencari seseorang yang
sedang menderita cacar dalam
bentuk yang relatif ringan. Dari luka
atau bintil bernanah di tubuh pasien
itu, dokter akan mengambil sedikit
cairan menggunakan pisau kecil atau
jarum. Cairan inilah yang
mengandung virus cacar hidup.
Kemudian, dokter akan membuat
sayatan kecil di kulit orang yang sehat,
biasanya di lengan. Cairan yang
mengandung virus itu dioleskan
ke dalam sayatan tersebut, dan luka
itu ditutup dengan perban.

Setelah beberapa hari, orang yang
divariolasi akan mengalami gejala
cacar ringan: demam, menggigil,
dan munculnya bintil-bintil kecil
di sekitar lokasi sayatan. Sebagian
besar orang akan sembuh dalam
waktu dua hingga tiga minggu.
Setelah sembuh, mereka akan
memiliki kekebalan seumur hidup
terhadap cacar, sama seperti orang
yang selamat dari infeksi alami.

Mengapa Prosedur Ini Disebut
Primitif dan Berbahaya?

Prosedur ini disebut primitif karena
dilakukan tanpa pemahaman tentang
virus, tanpa peralatan steril, dan tanpa
kontrol dosis yang tepat. Dokter pada
masa itu tidak tahu apa itu virus.
Mereka hanya tahu bahwa prosedur ini
berhasil, tetapi mereka tidak mengerti
mengapa. Peralatan yang digunakan
sering kali tidak steril, sehingga risiko
infeksi sekunder sangat tinggi.

Prosedur ini berbahaya karena beberapa
alasan. Pertama, sekitar dua hingga
tiga persen orang yang menjalani
variolasi meninggal karena prosedur itu
sendiri. Ini adalah risiko yang sangat
tinggi menurut standar modern.
Kedua, orang yang sedang menjalani
variolasi tetap bisa menularkan cacar
kepada orang lain selama masa
inkubasi. Jika mereka tidak
dikarantina dengan benar, mereka
bisa memicu wabah baru.
Ketiga, kualitas cairan yang diambil
dari pasien tidak bisa distandardisasi.
Beberapa pasien menerima dosis
virus yang lebih kuat daripada
yang lain, sehingga tingkat keparahan
gejala sangat bervariasi.

O’Reilly dan Dugard menggambarkan
dilema ini dengan jelas. Washington
harus memilih antara membiarkan
tentaranya mati satu per satu oleh
wabah cacar yang tidak bisa
dikendalikan, atau mengambil risiko
kehilangan sebagian kecil tentaranya
melalui prosedur yang berbahaya
tetapi bisa menyelamatkan sebagian
besar yang lain.

Mengapa Keputusan Ini Sangat
Penting?

Pada awal perang, cacar adalah
pembunuh yang lebih efektif daripada
peluru Inggris. Wabah cacar
menyebar dengan cepat
di kamp-kamp militer yang padat,
kotor, dan penuh dengan tentara
yang kurang gizi. Satu tentara yang
terinfeksi bisa menulari puluhan
orang lain dalam hitungan hari.
O’Reilly dan Dugard mencatat bahwa
selama invasi Inggris ke New York
dan mundurnya pasukan Washington
melintasi New Jersey,
cacar membunuh lebih banyak tentara
Amerika daripada pertempuran itu
sendiri.

Washington sendiri tahu betapa
mengerikannya penyakit ini.
Ia selamat dari cacar saat masih muda,
saat mengunjungi pulau Barbados
bersama saudara tirinya. Wajahnya
memiliki bekas-bekas cacar yang
menjadi pengingat seumur hidup.
Karena ia sudah pernah terkena,
ia kebal. Tetapi ia menyaksikan anak
buahnya, yang tidak memiliki
kekebalan, sekarat dalam jumlah
yang mengerikan.

Pada Februari 1777, saat pasukannya
berkemah di Morristown, New Jersey,
Washington membuat keputusan
yang berani. Ia memerintahkan agar
seluruh tentara Kontinental menjalani
variolasi. Ini adalah keputusan yang
belum pernah diambil oleh komandan
militer mana pun dalam skala sebesar
ini. Ribuan tentara harus menjalani
prosedur yang menyakitkan dan
berbahaya. Mereka yang sedang dalam
masa pemulihan harus dikarantina,
jauh dari pertempuran, selama
berminggu-minggu. Ini adalah risiko
militer yang sangat besar. Jika Inggris
menyerang saat sebagian besar
pasukan sedang dalam karantina,
tentara Kontinental bisa dihancurkan.

Tetapi taruhan Washington
membuahkan hasil. Setelah program
variolasi massal ini, tingkat kematian
akibat cacar di kalangan tentara
Kontinental menurun drastis.
Wabah yang sebelumnya selalu
menghantui setiap kamp militer
berhasil dikendalikan. Pasukan
Washington menjadi salah satu dari
sedikit pasukan pada masa itu yang
relatif bebas dari ancaman cacar.
Ini memberikan keuntungan strategis
yang signifikan terhadap tentara
Inggris, di mana cacar masih
menjadi masalah.

O’Reilly dan Dugard menekankan
bahwa keputusan Washington untuk
memvaksin pasukannya, meskipun
dengan metode yang primitif dan
berbahaya, adalah salah satu
keputusan paling penting dalam
perang. Tanpa langkah ini, sangat
mungkin tentara Kontinental akan
musnah oleh penyakit jauh sebelum
mereka dikalahkan oleh Inggris.
Keputusan ini mencerminkan
karakter Washington:
berani mengambil risiko besar demi
menyelamatkan lebih banyak nyawa,
dan cukup visioner untuk memahami
bahwa perang tidak hanya
dimenangkan dengan peluru, tetapi
juga dengan menjaga kesehatan
pasukannya.

Bab 4: Titik Nadir dan Serangan
Balik (Trenton-Princeton)

Akhir tahun 1776. Tentara Kontinental
berada di titik terendahnya. Mundur
melintasi New Jersey dengan Inggris
di belakang mereka, pasukan
Washington menyusut drastis.
Banyak yang melarikan diri.
Banyak yang sakit. Banyak yang
tewas. Mereka yang tersisa
compang-camping, lapar, dan
kedinginan. Kontrak para tentara
akan segera habis pada akhir
Desember. Jika Washington tidak
melakukan sesuatu yang dramatis,
tentaranya akan lenyap begitu saja
pada malam Tahun Baru.

Thomas Paine, seorang penulis yang
sebelumnya telah membakar
semangat revolusi dengan pamfletnya
“Common Sense”, kini menulis
pamflet baru berjudul “The American
Crisis”. Ia menulis di bawah cahaya
lilin, di kamp militer, saat pasukan
sedang mundur melintasi salju.
Kata-kata pembukanya yang terkenal
berbunyi: “These are the times that
try men’s souls.” (Inilah saat-saat
yang menguji jiwa manusia.)
Paine menulis tentang “the summer
soldier and the sunshine patriot”
(tentara musim panas dan patriot
cuaca cerah), mereka yang hanya
mau berjuang saat segalanya mudah,
tetapi akan melarikan diri saat
kesulitan datang. Washington
memerintahkan agar pamflet ini
dibacakan kepada seluruh
pasukannya. Kata-kata itu
memberikan kekuatan yang
sangat dibutuhkan.

Washington menyusun rencana yang
sangat berbahaya. Ia tahu bahwa
pasukan Hessian, tentara bayaran
Jerman yang disewa oleh Inggris
untuk bertempur, sedang bermarkas
di kota Trenton, New Jersey. Mereka
tidak mengharapkan serangan
di tengah musim dingin, apalagi
pada malam Natal. Washington
memutuskan untuk menyerang.

Pada malam 25 Desember 1776,
Washington memimpin sekitar dua
ribu empat ratus tentara
menyeberangi Sungai Delaware.
Cuacanya sangat buruk. Hujan es
dan salju turun dengan deras.
Angin bertiup kencang, mendorong
bongkahan-bongkahan es di sungai
yang gelap. Perahu-perahu yang
membawa tentara, kuda, dan meriam
berjuang melawan arus. Banyak
tentara yang tidak memiliki sepatu
yang layak. Mereka membungkus
kaki mereka dengan kain,
meninggalkan jejak-jejak darah
di salju. Washington, yang berdiri
di perahu utama, tidak menunjukkan
keraguan.

Penyeberangan itu sendiri adalah
prestasi yang luar biasa. Ketika
mereka mencapai sisi lain, perjalanan
masih panjang. Mereka harus
berbaris sejauh lima belas kilometer
dalam kegelapan dan badai menuju
Trenton. Dua tentara tewas membeku
di sepanjang jalan. Tetapi tepat
sebelum fajar, mereka tiba
di pinggiran kota.

Serangan itu adalah kejutan total.
Tentara Hessian, yang merayakan
Natal dengan minuman keras,
tidak siap menghadapi serangan.
Pertempuran berlangsung singkat.
Lebih dari seratus Hessian tewas,
hampir seribu ditawan, dan sisanya
melarikan diri. Washington tidak
kehilangan satu pun tentaranya
dalam pertempuran. Ia menulis
dalam laporannya: “The troops
behaved with great firmness and
bravery.” (Pasukan bertempur
dengan keteguhan dan keberanian
yang besar.)

Kemenangan di Trenton belum
cukup. Inggris segera mengirim
pasukan besar di bawah Jenderal
Charles Cornwallis untuk membalas.
Cornwallis yakin bahwa ia akhirnya
bisa menjebak Washington.
Ia bahkan berkata dengan sombong:
“We’ve got the old fox now.
We’ll bag him in the morning.”
(Kita sudah menangkap si rubah tua
itu sekarang. Kita akan
membungkusnya besok pagi.)

Tetapi Washington memiliki rencana
lain. Meninggalkan api unggun yang
tetap menyala untuk mengelabui
musuh, ia memimpin pasukannya
dalam keheningan total pada malam
hari, berbaris memutar melewati
posisi Cornwallis, dan menyerang
Princeton. Pasukan Inggris
di Princeton tidak siap menghadapi
serangan. Washington sendiri
memimpin serangan, mengendarai
kudanya di depan garis tembak,
sementara peluru-peluru
beterbangan di sekitarnya. Seorang
perwira muda menutupi wajahnya
dengan topi, tidak sanggup melihat
jenderalnya terbunuh.
Tetapi Washington selamat tanpa
cedera, dan Princeton jatuh.

Kedua kemenangan ini, di Trenton
dan Princeton, secara militer tidaklah
besar. Tetapi secara psikologis,
mereka menyelamatkan revolusi.
Moral pasukan melonjak. Kongres
kembali percaya. Rakyat mulai
percaya bahwa Washington bisa
menang. Tentara Kontinental tidak
lagi melarikan diri. Mereka bertahan,
siap untuk bertempur lagi di musim
semi. Revolusi belum mati. Faktanya,
ia baru saja mulai hidup kembali.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut lagi ke Bab 3 dan 4
dari 
Killing England. Dua bab ini
bakal ngebawa lo ke dua medan yang
beda banget, tapi sama-sama nentuin
nasib revolusi. Di Philadelphia,
orang-orang lagi ngerangkai
kata-kata pamungkas buat nyatain
kemerdekaan. Sementara di New
York, darah lagi ditumpahin buat
ngejagainnya.

Bab 3: Lahirnya Sang Deklarasi

Sementara Washington pusing
ngurusin pasukannya yang
amburadul, di Philadelphia lagi
terjadi “pertempuran” jenis lain.
Di ruangan-ruangan berpanel kayu
di Pennsylvania State House
(yang nanti dikenal sebagai
Independence Hall), perdebatan
sengit lagi berlangsung.
Pertanyaannya sekarang jauh lebih
gila: 
haruskah koloni-koloni ini
menyatakan diri sebagai
bangsa yang merdeka?

John Adams adalah dalang utama
di balik layar. Badannya pendek,
gemuk, dan terus terang, banyak
yang bilang kepribadiannya nyebelin.
Dia ngomong terus, ngedorong,
maksa. Dia nggak punya karisma
kayak sepupunya Samuel, atau
kebijaksanaan kayak Benjamin
Franklin. Tapi dia punya keyakinan
mutlak kalau kemerdekaan adalah
satu-satunya jalan. Adams sadar,
Kongres butuh dokumen sakti yang
ngejelasin ke dunia kenapa mereka
misahin diri. Penulisnya harus
orang yang punya pena tajam dan
pikiran jernih. Pilihannya jatuh
ke pria pendiem dari Virginia:
Thomas Jefferson.

Jefferson adalah pilihan yang nggak
terduga. Di Kongres, dia jarang
ngomong. Dia lebih suka dengerin,
ngamatin, dan nulis. Tapi Adams
udah baca tulisannya dan ngeliat
kejeniusan di sana. Jefferson masih
muda, 33 tahun, dan dia bawa serta
kejeniusannya. Selama tujuh belas
hari, dia ngurung diri di kamar,
nulis di meja kecil rancangannya
sendiri, ngegubah kata-kata yang
bakal ngubah sejarah.

Jefferson nulis tentang
“unalienable Rights”
(hak-hak yang nggak bisa dicabut),
tentang 
“Life, Liberty and the
pursuit of Happiness”

(Kehidupan, Kebebasan, dan
pengejaran akan Kebahagiaan).
Dia nulis daftar panjang keluhan
ke Raja George III. Franklin yang
udah tua dan sakit, baca drafnya dan
ngasih perubahan kecil. Adams juga
masukin idenya. Dokumen itu
diperdebatkan, direvisi, dipotong,
dan akhirnya disetujui.

4 Juli 1776, Deklarasi Kemerdekaan
resmi diadopsi. Adams, yang selalu
visioner, nulis surat ke istrinya,
Abigail, ngramalin kalau hari ini
bakal dirayain selamanya dengan
parade, lonceng, dan kembang api.
Ramalannya bener.

Tapi pas tinta Deklarasi masih basah,
perang beneran lagi ganas-ganasnya.
New York udah jadi target invasi
gila-gilaan Inggris. Armada terbesar
yang pernah dikerahin Inggris
ngumpul: lebih dari 400 kapal
perang dan transportasi, bawa lebih
dari 30.000 tentara. Ini pamer
kekuatan buat ngancurin
pemberontakan. Washington tahu
pasukannya cuma sekitar 19.000,
banyak yang milisi kacau. Meski gitu,
dia harus tempur. Dalam serangkaian
pertempuran, tentara Washington
dihajar habis-habisan.
Mereka mundur terus, ninggalin
New York ke Inggris.

Di tengah keputusasaan, ada kisah
haru dari Nathan Hale, kapten muda
umur 21 tahun yang sehari-harinya
guru sekolah. Dia ngajuin diri buat
misi super bahaya:
nyusup ke belakang garis musuh
buat ngumpulin intelijen.
Dia ketangkep. Inggris langsung
gantung dia. Kata-kata terakhir Hale
yang legendaris: 
“I only regret that
I have but one life to lose for my
country.”
 (Aku hanya menyesal
bahwa aku hanya memiliki satu nyawa
untuk dikorbankan demi negaraku.)
Ini jadi simbol pengorbanan.

Wabah cacar juga mulai nyebar
di pasukan Washington, bunuh
lebih banyak tentara daripada
peluru. Washington, yang kebal
karena pernah kena, nyaksiin
anak buahnya mati mengenaskan.
Dia akhirnya ngambil keputusan
kontroversial: vaksinasi seluruh
pasukannya. Prosedurnya masih
primitif dan bahaya, tapi ini
nyelamatin tentara dari kepunahan.

Bab 4: Titik Nadir dan Serangan
Balik di Tengah Badai Salju

Akhir tahun 1776. Tentara Kontinental
di titik terendahnya. Mundur melintasi
New Jersey dengan Inggris
di belakang mereka, pasukan
Washington menyusut drastis.
Banyak yang kabur, sakit, mati. Yang
tersisa compang-camping, lapar, dan
kedinginan. Kontrak para tentara
akan segera habis pada akhir
Desember. Jika Washington tidak
melakukan sesuatu yang dramatis,
tentaranya akan lenyap begitu saja
pada malam Tahun Baru.

Thomas Paine, penulis yang
sebelumnya ngebakar semangat
revolusi dengan 
Common Sense,
kini nulis pamflet baru berjudul
The American Crisis. Dia nulis
di bawah cahaya lilin, di kamp militer,
pas pasukan lagi mundur melintasi
salju. Kalimat pembukanya yang
terkenal:
“These are the times that try
men’s souls.”

(Inilah saat-saat yang menguji jiwa
manusia.)
Dia nulis tentang “tentara musim
panas dan patriot cuaca cerah”,
mereka yang cuma mau berjuang
saat segalanya mudah. Washington
merintahin pamflet ini dibacakan
ke seluruh pasukannya. Kata-kata
itu memberikan kekuatan yang
sangat dibutuhkan.

Washington menyusun rencana yang
sangat berbahaya. Ia tahu bahwa
pasukan Hessian, tentara bayaran
Jerman yang disewa oleh Inggris,
sedang bermarkas di kota Trenton,
New Jersey. Mereka tidak
mengharapkan serangan di tengah
musim dingin, apalagi pada malam
Natal. Washington memutuskan
untuk menyerang.

Pada malam 25 Desember 1776,
Washington memimpin sekitar dua
ribu empat ratus tentara
menyeberangi Sungai Delaware.
Cuacanya sangat buruk. Hujan es
dan salju turun dengan deras.
Angin bertiup kencang, mendorong
bongkahan-bongkahan es di sungai
yang gelap. Perahu-perahu yang
membawa tentara, kuda, dan meriam
berjuang melawan arus.
Banyak tentara yang tidak memiliki
sepatu yang layak.
Mereka membungkus kaki mereka
dengan kain, meninggalkan
jejak-jejak darah di salju.
Washington, yang berdiri di perahu
utama, tidak menunjukkan keraguan.

Penyeberangan itu sendiri adalah
prestasi yang luar biasa.
Ketika mereka mencapai sisi lain,
perjalanan masih panjang. Mereka
harus berbaris sejauh lima belas
kilometer dalam kegelapan dan badai
menuju Trenton. Dua tentara tewas
membeku di sepanjang jalan. Tetapi
tepat sebelum fajar, mereka tiba
di pinggiran kota.

Serangan itu adalah kejutan total.
Tentara Hessian, yang merayakan
Natal dengan minuman keras,
tidak siap menghadapi serangan.
Pertempuran berlangsung singkat.
Lebih dari seratus Hessian tewas,
hampir seribu ditawan, dan sisanya
melarikan diri. Washington tidak
kehilangan satu pun tentaranya
dalam pertempuran. Ia menulis dalam
laporannya: “Pasukan bertempur
dengan keteguhan dan keberanian
yang besar.”

Kemenangan di Trenton belum cukup.
Inggris segera mengirim pasukan
besar di bawah Jenderal Charles
Cornwallis untuk membalas.
Cornwallis yakin bahwa ia akhirnya
bisa menjebak Washington.
Ia bahkan berkata dengan sombong:
“We’ve got the old fox now.
We’ll bag him in the morning.”
(Kita sudah menangkap si rubah tua
itu sekarang. Kita akan
membungkusnya besok pagi.)

Tetapi Washington memiliki rencana
lain. Meninggalkan api unggun yang
tetap menyala untuk mengelabui
musuh, ia memimpin pasukannya
dalam keheningan total pada malam
hari, berbaris memutar melewati
posisi Cornwallis, dan menyerang
Princeton. Pasukan Inggris
di Princeton tidak siap menghadapi
serangan. Washington sendiri
memimpin serangan, mengendarai
kudanya di depan garis tembak,
sementara peluru-peluru beterbangan
di sekitarnya. Seorang perwira muda
menutupi wajahnya dengan topi,
tidak sanggup melihat jenderalnya
terbunuh. Tetapi Washington
selamat tanpa cedera, dan Princeton
jatuh.

Kedua kemenangan ini, di Trenton
dan Princeton, secara militer tidaklah
besar. Tetapi secara psikologis,
mereka menyelamatkan revolusi.
Moral pasukan melonjak. Kongres
kembali percaya. Rakyat mulai
percaya bahwa Washington bisa
menang. Tentara Kontinental tidak
lagi melarikan diri. Mereka bertahan,
siap untuk bertempur lagi di musim
semi. Revolusi belum mati. Faktanya,
ia baru saja mulai hidup kembali. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *