buku

Buku Killing England Bill O’Reilly, Martin Dugard, Pemicu dan Pemanasan (1774–1775)

Killing EnglandBill O'Reilly, Martin Dugard
Killing England
Bill O’Reilly, Martin Dugard

Sahabat, kali ini kita akan menyelami
sebuah buku yang membawa kita
kembali ke abad ke-18, ke masa ketika
tiga belas koloni kecil di Amerika
memberanikan diri menantang
kekaisaran paling kuat di dunia.
Killing England karya Bill O’Reilly
dan Martin Dugard adalah catatan
tentang Revolusi Amerika, tentang
darah yang ditumpahkan, tentang
pengkhianatan dan keberanian, dan
tentang orang-orang biasa yang
melakukan hal-hal luar biasa untuk
menciptakan sebuah bangsa yang
belum pernah ada sebelumnya.
Mari kita mulai dari Bab 1 dan Bab 2.

Bab 1: Pemicu dan Pemanasan
(1774–1775)

Bill O’Reilly dan Martin Dugard
membuka buku ini bukan dengan
suara tembakan, melainkan dengan
suara kemarahan yang mendidih
di tiga belas koloni Amerika.
Tahun 1774. Ketegangan antara
Inggris dan koloni-koloninya
di Amerika sudah mencapai titik didih.
Akar dari semua ini adalah uang,
pajak, dan rasa keadilan yang dilanggar.

Beberapa bulan sebelumnya, pada
Desember 1773, sekelompok pemukim
yang marah menyamar sebagai suku
Indian Mohawk dan membuang
342 peti teh milik East India Company
ke perairan Pelabuhan Boston.
Peristiwa yang dikenal sebagai Boston
Tea Party ini adalah tindakan
pembangkangan yang spektakuler.
Parlemen Inggris merespons bukan
dengan negosiasi, melainkan dengan
serangkaian undang-undang yang oleh
para kolonis disebut sebagai
“Intolerable Acts” atau Undang-Undang
yang Tidak Bisa Ditoleransi. Pelabuhan
Boston ditutup total, melumpuhkan
ekonomi kota. Pemerintahan mandiri
Massachusetts dicabut. Tentara Inggris
dikirim untuk menegakkan aturan
dengan bayonet.

Di London, Benjamin Franklin berdiri
di antara dua dunia yang semakin
menjauh. Franklin adalah orang
Amerika paling terkenal pada
zamannya, seorang ilmuwan,
diplomat, dan pemikir yang dihormati
di seluruh Eropa. Ia telah
menghabiskan bertahun-tahun
di Inggris sebagai perwakilan koloni,
berusaha meyakinkan Parlemen
untuk bersikap lunak. Tetapi
usahanya gagal. Franklin
dipermalukan di depan umum oleh
Dewan Penasihat Raja. Ia dipanggil
ke Whitehall, dan di sana, selama
lebih dari satu jam, ia berdiri dalam
diam sementara Jaksa Agung Inggris
menghujaninya dengan cercaan.
Franklin tidak membalas. Ia hanya
berdiri, wajahnya tidak menunjukkan
emosi. Tetapi di dalam hatinya,
ia tahu bahwa jembatan antara
Inggris dan Amerika telah terbakar.
Ia meninggalkan London tak lama
setelah itu dan berlayar pulang.

Sementara Franklin gagal dalam
diplomasi, suara-suara yang jauh
lebih keras mulai terdengar di koloni.
Samuel Adams adalah pria yang
berbeda dari Franklin. Ia bukan
ilmuwan atau diplomat. Ia adalah
agitator, seorang pria yang percaya
bahwa kebebasan hanya bisa
diperoleh dengan perlawanan,
bukan dengan kata-kata. Adams telah
menghabiskan bertahun-tahun
membangun jaringan rahasia yang
disebut Sons of Liberty, menyebarkan
propaganda anti-Inggris melalui surat
kabar dan pertemuan-pertemuan
rahasia di kedai minuman. Baginya,
kemerdekaan bukanlah sekadar
kemungkinan. Ia adalah satu-satunya
jalan.

Di Virginia, suara lain yang sama
kerasnya mulai bergema. Patrick
Henry, seorang pengacara dengan
lidah yang tajam dan karisma yang
membara, berdiri di depan Virginia
Convention dan mengucapkan
kata-kata yang akan dikenang
selamanya:
“Give me liberty, or give me death!”
Henry tidak berbicara tentang
negosiasi. Ia berbicara tentang
perang. Kata-katanya membakar
hati para pendengarnya, membuat
mereka yang tadinya ragu-ragu
menjadi yakin bahwa tidak ada
jalan kembali.

Pada September 1774, para perwakilan
dari dua belas koloni berkumpul
di Philadelphia untuk Kongres
Kontinental Pertama. Ini adalah
pertemuan yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Koloni-koloni yang
sebelumnya terpisah dan sering kali
bersaing satu sama lain kini duduk
bersama, mencoba menemukan suara
yang sama. Mereka belum berbicara
tentang kemerdekaan. Mereka masih
berbicara tentang hak-hak mereka
sebagai warga Inggris.
Mereka mengirim petisi kepada Raja
George III, memohon agar ia campur
tangan melawan Parlemen yang
korup. Mereka tidak tahu bahwa Raja
sudah menganggap mereka sebagai
pemberontak yang harus ditumpas.

Di Massachusetts, persiapan perang
sudah berjalan. Milisi-milisi lokal
mulai berlatih di lapangan-lapangan
desa, menembak sasaran,
menyimpan mesiu dan peluru.
Mereka menyebut diri mereka
“Minutemen”, karena mereka berjanji
siap bertempur dalam waktu satu
menit setelah panggilan. Mereka
bukan tentara profesional. Mereka
adalah petani, pandai besi, pedagang,
dan guru sekolah. Mereka tidak
memiliki seragam mewah seperti
tentara Inggris. Tetapi mereka
memiliki sesuatu yang lebih kuat:
keyakinan bahwa mereka berjuang
untuk tanah mereka, untuk keluarga
mereka, dan untuk kebebasan
mereka.

O’Reilly dan Dugard menutup bab ini
dengan gambaran yang mencekam.
Di kedua sisi Atlantik, tidak ada yang
menginginkan perdamaian lagi.
Raja George III telah memutuskan
bahwa pemberontakan harus
dihancurkan. Para pemimpin koloni
telah memutuskan bahwa mereka
tidak akan tunduk.
Bentrokan bersenjata bukan lagi
pertanyaan tentang “jika”, melainkan
tentang “kapan”. Dan ketika fajar
menyingsing di atas desa-desa
Massachusetts pada musim semi
tahun 1775, waktu itu telah tiba.

Bab 2: Lexington, Concord,
dan Bunker Hill

Jenderal Thomas Gage adalah orang
yang diberi tugas mustahil. Sebagai
gubernur militer Massachusetts, ia
memimpin empat ribu tentara reguler
Inggris yang ditempatkan di Boston.
Ia menerima perintah langsung dari
London: hancurkan pemberontakan,
tangkap para pemimpinnya, dan sita
semua senjata yang disembunyikan
oleh para kolonis. Gage bukanlah
orang yang haus darah. Ia berharap
bisa menyelesaikan krisis ini tanpa
pertumpahan darah besar-besaran.
Tetapi perintahnya jelas, dan sebagai
seorang perwira, ia harus mematuhinya.

Pada malam 18 April 1775,
Gage mengirimkan tujuh ratus tentara
elit ke desa Concord, sekitar tiga puluh
kilometer dari Boston. Intelijen Inggris
melaporkan bahwa para pemberontak
menyimpan persediaan mesiu dan
senjata dalam jumlah besar di sana.
Misi ini harus dilakukan dengan
rahasia, cepat, dan tanpa peringatan.

Tetapi para kolonis memiliki mata-mata
mereka sendiri. Joseph Warren, seorang
dokter muda yang menjadi pemimpin
patriot di Boston, mengetahui rencana
Gage sebelum pasukan itu berangkat.
Ia segera mengirimkan dua orang
penunggang kuda untuk
memperingatkan desa-desa
di sepanjang rute menuju Concord.
Nama mereka adalah Paul Revere
dan William Dawes.

Di bawah sinar bulan, Revere dan
Dawes memacu kuda mereka
melewati jalan-jalan gelap, mengetuk
pintu-pintu rumah, membangunkan
para petani dari tidur mereka.
“The British are coming! The regulars
are coming out!”
(Orang-orang Inggris datang! Para
tentara reguler sedang bergerak
keluar!) seru Revere.
Peringatan ini menyebar seperti api.
Di setiap desa, lonceng gereja mulai
berdentang. Tembakan peringatan
dilepaskan ke udara. Para Minutemen
bangkit dari tempat tidur mereka,
meraih senapan, dan bergegas
ke titik-titik pertemuan.

Fajar 19 April 1775. Di desa Lexington,
sekitar tujuh puluh milisi koloni
berdiri dalam formasi longgar
di lapangan desa, menghadap ke arah
datangnya pasukan Inggris. Mereka
bukanlah tentara. Mereka adalah
petani dengan senapan buru,
beberapa di antaranya bahkan tidak
memiliki bayonet. Di hadapan mereka,
berbaris rapi tujuh ratus tentara
reguler dengan seragam merah
menyala, senjata terlatih, dan
disiplin yang ditempa oleh latihan
bertahun-tahun. Kedua belah pihak
saling berhadapan dalam keheningan
yang tegang. Kapten John Parker,
komandan milisi Lexington,
memberikan perintah yang terkenal:
“Jangan tembak kecuali ditembak.
Tetapi jika mereka ingin perang,
biarkan perang dimulai di sini.”

Tiba-tiba, sebuah tembakan meletus.
Sampai hari ini, tidak ada yang tahu
siapa yang menembak lebih dulu.
Tetapi tembakan itu memicu
rentetan yang tidak bisa dihentikan.
Pasukan Inggris melepaskan
tembakan voli ke arah milisi.
Delapan orang Amerika tewas
di tempat, sepuluh lainnya terluka.
Sisanya melarikan diri. Pasukan
Inggris melanjutkan perjalanan
ke Concord, membakar persediaan
yang mereka temukan. Tetapi
di North Bridge, mereka bertemu
dengan milisi yang jauh lebih besar
dan lebih terorganisir. Di sinilah,
untuk pertama kalinya, para kolonis
menembak balik dengan efektif.
Tentara Inggris mulai mundur.

Mundurnya pasukan Inggris dari
Concord ke Boston adalah mimpi
buruk. Sepanjang jalan yang panjang
dan berdebu, para Minutemen
bersembunyi di balik pepohonan,
pagar batu, dan bangunan,
menembaki tentara Inggris dari
tempat persembunyian. Ini bukan
perang yang diajarkan di akademi
militer. Ini adalah perang gerilya,
pertempuran tanpa garis depan yang
jelas, di mana musuh bisa berada
di mana saja. Satu per satu tentara
Inggris jatuh. Mereka yang selamat
tiba di Boston dalam keadaan
kelelahan, berdarah, dan
terguncang. Revolusi Amerika
telah dimulai.

Tiga bulan kemudian, pada Juni
1775, pertempuran yang jauh lebih
besar terjadi di Bunker Hill, sebuah
bukit yang menghadap ke Pelabuhan
Boston. Pasukan koloni,
yang sekarang berjumlah ribuan,
membangun benteng darurat
di puncak bukit. Jenderal Gage
memutuskan untuk menyerang
secara langsung, yakin bahwa
tentara regulernya akan dengan
mudah mengusir para pemberontak
yang tidak terlatih.

Serangan pertama Inggris gagal.
Para kolonis, dengan amunisi yang
sangat terbatas, menunggu sampai
pasukan Inggris berada dalam jarak
dekat sebelum melepaskan tembakan.
Perintah terkenal bergema
di sepanjang garis pertahanan:
“Don’t fire until you see the whites of
their eyes!”
Jangan tembak sampai kau melihat
bagian putih mata mereka.

Maksud dari perintah ini adalah
untuk menghemat amunisi yang
sangat terbatas. Para kolonis hanya
memiliki sedikit mesiu dan peluru.
Jika mereka menembak dari jarak
jauh, kemungkinan besar tembakan
mereka akan meleset dan amunisi
mereka akan habis percuma.
Dengan menahan tembakan sampai
tentara Inggris berada sangat dekat,
begitu dekat sehingga bagian putih
mata mereka terlihat jelas, setiap
tembakan akan mengenai sasaran
dan memberikan dampak maksimal.

Perintah ini juga memiliki efek
psikologis yang mengerikan.
Bayangkan kamu adalah seorang
tentara Inggris yang maju dalam
barisan rapi menuju benteng musuh.
Tidak ada tembakan yang
menyambutmu. Keheningan itu
mencekam. Kamu terus berjalan,
semakin dekat, semakin dekat,
sampai kamu bisa melihat wajah
musuh dengan jelas. Lalu, tepat
ketika kamu merasa aman, puluhan
senapan meletus secara bersamaan
dari jarak yang hampir mustahil
untuk meleset. Barisan depanmu
hancur seketika. Inilah yang terjadi
di Bunker Hill, dan inilah yang
membuat pertempuran itu begitu
berdarah bagi pihak Inggris.

Ketika tembakan dilepaskan,
barisan depan Inggris hancur.
Mayat-mayat berserakan
di lereng bukit. Serangan kedua
juga gagal. Baru pada serangan
ketiga, setelah amunisi para kolonis
habis, pasukan Inggris berhasil
merebut bukit itu.

Secara teknis, Bunker Hill adalah
kemenangan Inggris.
Mereka menguasai posisi
strategis tersebut.
Tetapi kemenangan itu dibayar
dengan harga yang sangat mahal.
Lebih dari seribu tentara Inggris
tewas atau terluka, termasuk
sejumlah besar perwira. Di pihak
Amerika, korban jauh lebih sedikit.
Lebih penting lagi, para kolonis
membuktikan sesuatu yang belum
pernah mereka buktikan sebelumnya:
mereka bisa bertempur melawan
tentara paling kuat di dunia dan
hampir menang.

Di tengah semua kekacauan ini,
seorang pria dari Virginia tiba
di Boston untuk mengambil alih
komando. Namanya George
Washington. Ia tinggi, pendiam,
dan memiliki aura otoritas yang tidak
bisa diabaikan. Ia tidak memiliki
pengalaman memimpin pasukan
besar. Ia bahkan pernah mengalami
kekalahan memalukan dalam Perang
Prancis-Indian dua dekade
sebelumnya. Tetapi ia adalah pria
yang dipilih oleh Kongres Kontinental
untuk memimpin Angkatan Darat
Kontinental yang masih
compang-camping.

Washington mendapati pasukannya
dalam keadaan yang menyedihkan.
Tidak ada seragam yang seragam.
Tidak ada rantai komando yang jelas.
Amunisi sangat sedikit. Disiplin
hampir tidak ada. Para tentara dari
koloni yang berbeda sering kali lebih
setia kepada negara bagian mereka
sendiri daripada kepada tentara
kontinental yang baru lahir.
Washington harus membangun
tentara dari nol, sementara musuh
yang sangat kuat berada hanya
beberapa kilometer jauhnya.

Sementara itu, di Virginia, Martha
Washington merasakan beban
perang dengan caranya sendiri.
Ia ditinggalkan oleh suaminya
yang pergi berperang, mengelola
perkebunan Mount Vernon
sendirian, dan terus-menerus
dicekam oleh ketakutan bahwa
suaminya akan terbunuh atau
bahwa tentara Inggris akan
menyita tanah mereka. Martha
bukanlah wanita yang lemah.
Ia kuat dan tangguh, tetapi perang
mengambil korban darinya
sebagaimana dari semua orang
yang terlibat.

O’Reilly dan Dugard menutup bab ini
dengan gambaran yang kontras.
Di satu sisi, kemenangan moral
di Bunker Hill memberikan harapan
bahwa revolusi ini mungkin untuk
dimenangkan. Di sisi lain, kenyataan
di lapangan sangat suram.
Washington memimpin pasukan yang
kurang makan, kurang senjata, dan
kurang pelatihan. Musuh yang
dihadapinya adalah tentara
profesional terbaik di dunia,
didukung oleh angkatan laut paling
kuat dalam sejarah. Perjalanan masih
sangat panjang, dan darah yang akan
ditumpahkan baru saja mulai mengalir.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kali ini kita ngomongin revolusi,
pemberontakan, dan lahirnya sebuah
negara adidaya. Bukunya 
Killing
England
 karya Bill O’Reilly dan
Martin Dugard, yang bakal ngebawa
lo mundur ke abad ke-18. Di masa itu,
tiga belas koloni kecil di Amerika
dengan pedenya nantang kekaisaran
paling kuat di dunia. Ini cerita
tentang darah, pengkhianatan, nyali,
dan orang-orang biasa yang ngelakuin
hal luar biasa buat bikin bangsa yang
belum pernah ada sebelumnya.
Yuk, kita mulai dari Bab 1 dan 2.

Bab 1: Bara dalam Sekam, Dari
Teh Sampe Siap Tempur
(1774–1775)

O’Reilly dan Dugard buka buku ini
bukan dengan suara tembakan, tapi
dengan suara amarah yang udah
mendidih di tiga belas koloni Amerika.
Tahun 1774. Ketegangan antara
Inggris dan koloninya udah
di ubun-ubun. Akar dari semua ini
klasik: duit, pajak, dan rasa keadilan
yang diinjak-injak.

Beberapa bulan sebelumnya, Desember
1773, sekelompok pemukim yang udah
muak nyamar jadi suku Mohawk dan
ngebuang 342 peti teh milik East India
Company ke laut di Pelabuhan Boston.
Boston Tea Party, sebuah aksi
pembangkangan yang spektakuler.
Parlemen Inggris nggak merespon
dengan negosiasi, tapi malah ngeluarin
serangkaian undang-undang yang
dijuluki para kolonis sebagai
“Intolerable Acts” (Undang-Undang
yang Nggak Bisa Ditoleransi).
Pelabuhan Boston ditutup total,
lumpuhin ekonomi kota. Pemerintahan
mandiri Massachusetts dicabut. Tentara
Inggris dikirim buat negakin aturan
dengan bayonet.

Di London, Benjamin Franklin berdiri
di antara dua dunia yang makin
menjauh. Dia orang Amerika paling
kondang di zamannya, ilmuwan,
diplomat, dan pemikir. Dia udah
bertahun-tahun di Inggris sebagai
perwakilan koloni, nyoba ngebujuk
Parlemen buat lunak. Tapi usahanya
gagal total. Dia malah dipermalukan
di depan umum, dipanggil
ke Whitehall, dan selama lebih dari
sejam dia berdiri diem sambil dihujani
cerca sama Jaksa Agung Inggris.
Franklin diem, mukanya nggak
nunjukin emosi. Tapi di dalem hatinya,
dia tahu jembatan antara Inggris dan
Amerika udah kebakar. Dia pun
angkat kaki dari London dan balik.

Sementara diplomasi gagal,
suara-suara yang jauh lebih keras
mulai terdengar di koloni.
Samuel Adams beda banget dari
Franklin. Dia bukan ilmuwan atau
diplomat, tapi agitator. Dia yakin
kebebasan cuma bisa didapet dengan
perlawanan, bukan omongan.
Dia udah bertahun-tahun ngebangun
jaringan rahasia 
Sons of Liberty,
nyebarin propaganda anti-Inggris.

Di Virginia, Patrick Henry,
pengacara dengan lidah setajam
pedang dan karisma ngebara, berdiri
dan ngomong kata-kata yang bakal
dikenang selamanya:
“Give me liberty, or give me
death!”
 (Beri aku kebebasan, atau
beri aku kematian!). Dia bukan
ngomongin negosiasi, tapi perang.

September 1774, para perwakilan
dari dua belas koloni ngumpul
di Philadelphia buat Kongres
Kontinental Pertama. Mereka belum
ngomongin kemerdekaan, masih soal
hak-hak sebagai warga Inggris.
Mereka ngirim petisi ke Raja George
III, minta dia turun tangan. Mereka
nggak tahu, Raja udah nganggep
mereka pemberontak yang harus
ditumpas.

Di Massachusetts, persiapan perang
udah jalan. Milisi lokal mulai latihan,
nyimpen mesiu. Mereka nyebut diri
“Minutemen” , siap tempur dalam
satu menit. Bukan tentara profesional,
tapi petani, pandai besi, pedagang,
dan guru. Nggak punya seragam, tapi
punya keyakinan.

Bab 2: Tembakan Pertama dan
Ujian Nyali di Bukit

Jenderal Thomas Gage dapet tugas
mustahil: jadi gubernur militer
Massachusetts, pimpin 4.000 tentara
reguler di Boston, dengan perintah
langsung dari London buat ngancurin
pemberontakan dan sita senjata.
Malam 18 April 1775, Gage kirim 700
tentara elit ke Concord, buat sita
mesiu. Misi harus rahasia.

Tapi para kolonis punya mata-mata.
Dokter Joseph Warren tau rencana
itu dan langsung kirim dua
penunggang kuda buat peringatan.
Nama mereka 
Paul Revere dan
William Dawes. Di bawah sinar
bulan, mereka pacu kuda, ngetuk
pintu, ngebangunin petani.
“The British are coming!” Peringatan
nyebar kayak api.

Fajar 19 April 1775, di desa Lexington.
Sekitar 70 milisi koloni berdiri
berhadap-hadapan dengan
700 tentara reguler Inggris. Kapten
John Parker, komandan milisi, ngasih
perintah terkenal: “Jangan tembak
kecuali ditembak. Tetapi jika mereka
ingin perang, biarkan perang dimulai
di sini.” Tiba-tiba, tembakan misterius
meletus. Sampai sekarang nggak ada
yang tahu siapa yang mulai. Inggris
ngelepaskan voli, 8 orang Amerika
tewas. Pasukan Inggris lanjut
ke Concord, bakar persediaan. Tapi
di North Bridge, mereka ketemu milisi
yang lebih gede dan terorganisir.
Untuk pertama kalinya, kolonis nembak
balik dengan efektif. Inggris mulai
mundur.

Mundurnya Inggris dari Concord
ke Boston adalah mimpi buruk.
Sepanjang jalan, Minutemen sembunyi
di balik pohon dan pagar, nembakin
tentara Inggris. Ini perang gerilya,
bukan perang gentlemen. Tentara
Inggris sampe di Boston dalam
keadaan babak belur. Revolusi
Amerika udah dimulai.

Tiga bulan kemudian, Juni 1775,
pertempuran gede terjadi di 
Bunker
Hill
. Pasukan koloni bangun benteng
darurat di puncak. Jenderal Gage
nyerang frontal. Serangan pertama
Inggris gagal. Para kolonis, dengan
amunisi sangat terbatas, nunggu
sampai Inggris deket banget. Perintah
terkenal: 
“Don’t fire until you see
the whites of their eyes!”
 (Jangan tembak sampai lo lihat
bagian putih mata mereka!).
Pas tembakan dilepas, barisan depan
Inggris remuk. Serangan kedua juga
gagal. Baru di serangan ketiga, setelah
amunisi kolonis abis, Inggris ngambil
alih bukit.

Secara teknis, Inggris menang. Tapi
kemenangan itu dibayar mahal banget.
Lebih dari 1.000 tentara Inggris tewas
atau terluka. Di pihak Amerika,
korban jauh lebih dikit. Yang paling
penting, para kolonis ngebuktiin
mereka bisa ngelawan tentara paling
kuat di dunia dan hampir menang.

Di tengah semua kekacauan ini,
seorang pria dari Virginia dateng
ke Boston buat ngambil alih komando.
Namanya 
George Washington.
Tinggi, pendiem, punya aura wibawa.
Dia belum punya pengalaman pimpin
pasukan besar, bahkan pernah kalah
memalukan di Perang Prancis-Indian.
Tapi Kongres milih dia buat pimpin
Angkatan Darat Kontinental yang
masih amburadul. Washington
nemuin pasukannya ngenes:
nggak ada seragam, rantai komando
kacau, amunisi tipis, disiplin nyaris
nol. Dia harus bangun tentara dari
nol.

Di Virginia, Martha Washington
ngerasain beban perang dengan
caranya sendiri. Dia kelola
perkebunan Mount Vernon
sendirian, dicekam ketakutan
suaminya bakal mati atau tanahnya
disita.

O’Reilly dan Dugard nutup bab ini
dengan kontras: kemenangan moral
di Bunker Hill ngasih harapan
revolusi ini mungkin menang.
Tapi kenyataan di lapangan suram.
Washington pimpin pasukan yang
kurang makan, kurang senjata,
kurang latihan. Musuhnya tentara
profesional terbaik di dunia.
Perjalanan masih panjang, dan
darah yang bakal ngalir baru aja
mulai. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *