buku

Buku Oh Crap! Potty Training Jamie Glowacki, In the Beginning… (Pembukaan)

Oh Crap! Potty TrainingJamie Glowacki
Oh Crap! Potty Training
Jamie Glowacki

Jamie Glowacki membuka bukunya
dengan sebuah pernyataan yang jujur
dan langsung. Banyak orang tua
merasa bahwa mengajari anak
menggunakan toilet adalah salah satu
tugas yang paling menakutkan.
Mereka menundanya. Mereka takut
gagal. Mereka mendengar cerita horor
dari teman-teman tentang anak yang
masih mengompol di usia lima tahun,
tentang perang kemauan, tentang
karpet yang rusak. Glowacki
memahami ketakutan ini. Tapi ia
juga mengatakan bahwa ketakutan ini
sebagian besar tidak perlu.
Potty training sebenarnya tidak
serumit yang dibayangkan.
Masalahnya adalah kita telah
membuatnya menjadi rumit.

Glowacki menjelaskan bahwa ada
beberapa alasan mengapa potty
training di zaman sekarang terasa
lebih sulit dibandingkan dulu.

Alasan pertama adalah
banyaknya mitos yang beredar.

Ada begitu banyak informasi yang
saling bertentangan di luar sana.
Satu buku mengatakan Anda harus
menunggu sampai anak benar-benar
siap. Buku lain mengatakan Anda
harus memulainya sejak bayi.
Satu artikel di internet menyarankan
metode tiga hari. Artikel lain
mengatakan metode itu tidak berhasil.
Nenek Anda memberi saran
berdasarkan pengalamannya tiga
puluh tahun lalu. Teman Anda
memberi saran berdasarkan apa yang
berhasil untuk anaknya.
Semua informasi yang berbeda ini
membuat orang tua bingung dan
ragu-ragu. Keraguan ini berbahaya
karena potty training membutuhkan
keyakinan dan ketegasan dari
orang tua. Jika orang tua sendiri tidak
yakin dengan apa yang mereka lakukan,
anak akan merasakannya dan
prosesnya akan gagal.

Salah satu mitos terbesar yang
dibongkar oleh Glowacki adalah mitos
tentang “kesiapan anak”.
Banyak orang tua yang menunggu
sampai anak mereka menunjukkan
tanda-tanda siap. Mereka menunggu
anak mengatakan bahwa ia ingin
menggunakan toilet. Mereka
menunggu anak menunjukkan
ketertarikan pada pispot. Glowacki
mengatakan bahwa menunggu ini
adalah kesalahan. Anak-anak
di zaman sekarang memiliki terlalu
banyak hal yang lebih menarik
daripada toilet. Mereka tidak akan
tiba-tiba memutuskan untuk
meninggalkan popok mereka yang
nyaman hanya karena mereka
sudah “siap”. Tugas orang tua
bukanlah menunggu. Tugas orang tua
adalah memimpin dan mengajarkan.

Alasan kedua adalah orang tua
terlalu hati-hati.
 Glowacki
mengamati bahwa generasi orang tua
sekarang cenderung ingin menghindari
konflik dengan anak. Mereka ingin
semuanya berjalan mulus dan
menyenangkan. Mereka tidak ingin
anak mereka menangis atau merasa
frustrasi. Akibatnya, mereka terlalu
ragu-ragu saat potty training. Begitu
anak menunjukkan perlawanan
sedikit saja, orang tua langsung
mundur. “Mungkin dia belum siap,”
kata mereka. Padahal, perlawanan
adalah hal yang normal. Setiap kali
Anda meminta anak untuk mengubah
kebiasaan yang sudah nyaman,
mereka akan melawan. Itu bukan
tanda bahwa mereka belum siap.
Itu tanda bahwa mereka manusia.

Glowacki membandingkan potty
training dengan mengajari anak
makan menggunakan sendok.
Ketika Anda mengajari anak makan
dengan sendok, Anda tidak
menunggu sampai anak menunjukkan
“tanda-tanda siap”.
Anda tidak bertanya pada diri sendiri,
“Apakah anakku sudah siap secara
emosional untuk menggunakan
sendok?”
Anda tidak menunda-nunda karena
takut anak akan menangis atau
menolak. Anda cukup mengajarinya.
Anda menunjukkan caranya. Anda
membimbing tangannya.
Anda membersihkan tumpahannya.
Anda terus mencoba sampai anak
bisa. Potty training seharusnya
diperlakukan dengan cara yang sama.
Ini adalah keterampilan yang harus
diajarkan oleh orang tua, sama
seperti keterampilan lainnya.

Alasan ketiga adalah anak
terlalu banyak distraksi.

Glowacki menunjukkan bahwa
anak-anak zaman sekarang hidup
dalam dunia yang penuh dengan
gangguan atau distraksi.
Ada televisi, tablet,
ponsel, mainan elektronik, dan
berbagai macam hiburan yang
tersedia setiap saat.
Dalam lingkungan seperti ini, anak
tidak pernah benar-benar fokus
pada tubuhnya sendiri. Mereka tidak
memperhatikan sinyal bahwa mereka
perlu buang air. Mereka terlalu sibuk
menonton kartun atau bermain game.
Sinyal kencing atau buang air besar
yang seharusnya mereka rasakan
diabaikan begitu saja karena ada
sesuatu yang lebih menarik yang
sedang terjadi.

Contohnya:

  • Televisi yang menyala
    sepanjang hari dengan gambar
    bergerak dan suara keras.

  • Tablet dan ponsel yang
    menampilkan video kartun,
    permainan, atau aplikasi
    yang penuh warna.

  • Mainan elektronik yang
    mengeluarkan bunyi-bunyian
    dan lampu berkedip.

Semua benda ini membuat otak anak
terus-menerus sibuk memperhatikan
hal-hal di luar dirinya. Akibatnya,
mereka jadi 
tidak peka terhadap
sinyal dari tubuhnya sendiri
.
Mereka tidak menyadari ketika
kandung kemih mereka penuh.
Mereka tidak merasakan dorongan
untuk buang air. Perhatian mereka
sudah habis tersedot oleh layar dan
mainan.

Glowacki menyarankan agar selama
proses potty training, semua distraksi
ini dikurangi atau dihilangkan sama
sekali. Televisi dimatikan. Tablet
disimpan. Anak perlu belajar untuk
fokus pada sensasi di dalam tubuhnya
sendiri. Mereka perlu merasakan apa
yang terjadi ketika kandung kemih
mereka penuh. Mereka perlu
mengenali perasaan itu dan
menghubungkannya dengan tindakan
pergi ke toilet. Ini tidak akan terjadi
jika perhatian mereka terus-menerus
teralihkan oleh layar.

Komitmen Penuh dan
Menghentikan Popok
Secara Total

Inilah inti dari pesan Glowacki
di bab pertama. Potty training
bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan
setengah hati. Anda tidak bisa
membiarkan anak memakai popok
kadang-kadang dan berharap mereka
belajar menggunakan toilet. Itu akan
membingungkan mereka. Bayangkan
jika Anda sedang belajar mengetik
dengan sepuluh jari, tapi
kadang-kadang Anda diizinkan
mengetik dengan dua jari. Anda tidak
akan pernah benar-benar menguasai
keterampilan baru itu karena Anda
selalu bisa kembali ke cara lama
yang lebih mudah.

Glowacki sangat menekankan bahwa
popok harus dihentikan secara
total di siang hari
.
Bukan dikurangi. Bukan hanya
dipakai saat tidur siang. Bukan hanya
dipakai saat bepergian. Dihentikan
total. Anak harus merasakan basah
ketika mereka mengompol. Ini adalah
umpan balik alami yang sangat
penting. Popok sekali pakai modern
dirancang untuk menyerap cairan
dengan sangat cepat sehingga anak
tidak merasa basah sama sekali.
Mereka tidak pernah mengalami
konsekuensi alami dari buang air
di celana. Mereka tidak belajar
menghubungkan tindakan mereka
dengan hasilnya. Dengan melepas
popok sepenuhnya, anak akhirnya
bisa merasakan sensasi basah yang
tidak nyaman, dan ini menjadi
motivasi alami bagi mereka untuk
menggunakan toilet.

Glowacki juga menekankan bahwa
potty training adalah tentang
komitmen penuh dari orang tua.
Anda tidak bisa memulai dengan
ragu-ragu, mencoba beberapa hari,
lalu menyerah karena “anak belum
siap”. Begitu Anda memutuskan
untuk memulai, Anda harus
berkomitmen untuk
menyelesaikannya. Ini berarti Anda
harus siap dengan kenyataan bahwa
akan ada kecelakaan. Akan ada ompol
di lantai. Akan ada momen-momen
frustrasi. Ini semua adalah bagian
normal dari proses belajar. Jika Anda
tidak siap untuk itu, lebih baik jangan
mulai dulu. Tunggu sampai Anda
benar-benar siap secara mental,
lalu mulai dengan keyakinan penuh.

Glowacki menutup bab pertama ini
dengan pesan yang memberdayakan.
Potty training bukanlah misteri yang
hanya bisa dipecahkan oleh para ahli.
Ini adalah keterampilan dasar yang
bisa diajarkan oleh siapa pun. Anda
tidak membutuhkan gelar psikologi
anak. Anda tidak membutuhkan
peralatan mahal. Yang Anda butuhkan
hanyalah keyakinan pada diri sendiri
sebagai orang tua, dan kemauan
untuk memimpin anak Anda melalui
proses ini dengan tenang dan tegas.
Anak Anda akan merespons
kepemimpinan Anda. Jika Anda
ragu-ragu, mereka akan ragu-ragu.
Jika Anda yakin, mereka akan
mengikuti.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kali ini kita ngomongin sesuatu
yang mungkin bikin lo yang baru jadi
orang tua agak merinding:
potty training alias ngajarin si kecil
pake toilet. Bukunya Jamie Glowacki,
Oh Crap! Potty Training, bakal jadi
penyelamat lo. Dia buka bukunya
dengan jujur banget, kayak ngomong
langsung ke hati lo yang lagi galau.

Glowacki paham banget, banyak dari
kita yang ngerasa ngajarin anak toilet
itu kayak misi mustahil.
Kita nunda-nunda, takut gagal,
denger cerita horor dari temen yang
anaknya masih ngompol sampe gede.
Tapi, dia langsung ngegas,
“Tenang, gaes. Sebenernya nggak
seseram yang lo kira. Kita sendiri
yang bikin ini jadi rumit.”

Nah, kenapa sih potty training jaman
now kerasa lebih susah?
Glowacki ngebedahnya gini.

Pertama, kebanyakan mitos.
Lo pasti pusing sendiri kan, dibanjiri
info yang beda-beda. Buku A bilang
tunggu anak siap, buku B bilang
mulai aja dari bayi. Belum lagi saran
dari nenek, temen, atau artikel
random di internet. Semua info yang
bentrok ini bikin lo ragu-ragu.
Dan ini bahaya, gaes. Soalnya,
potty training itu butuh keyakinan
dan ketegasan dari lo. Kalau lo aja
nggak yakin, si kecil bakal ngerasa
dan prosesnya bakal kacau.

Salah satu mitos paling gede yang
dibantai Glowacki adalah soal
“kesiapan anak”. Banyak yang
nunggu sampe anak nunjukin
tanda-tanda siap, kayak dia bilang
sendiri pengen ke toilet. Glowacki
bilang, itu kesalahan. Anak jaman
sekarang tuh punya banyak banget
hiburan yang lebih seru dari toilet.
Mereka nggak bakal tiba-tiba
ninggalin popok nyamannya cuma
gara-gara udah “siap”. Tugas lo
bukan nunggu, tapi 
memimpin
dan ngajarin
.

Kedua, orang tua sekarang terlalu
hati-hati
. Glowacki ngeliat, generasi
kita tuh pengennya semua mulus,
nggak ada konflik. Begitu anak
nunjukin perlawanan dikit, kita
langsung mundur.
“Ah, mungkin dia belum siap,” dalih
kita. Padahal, perlawanan itu wajar
banget. Setiap kali lo minta anak
ngubah kebiasaan nyamannya,
mereka pasti ngelawan. Itu bukan
tanda mereka belum siap, tapi tanda
mereka manusia.

Dia bandingin gini, pas lo ngajarin
anak pake sendok, apa lo nunggu
sampe dia “siap secara emosional”?
Nggak, kan? Lo ya langsung ajarin,
tuntun tangannya, lo bersihin
tumpahannya. 
Potty training
harusnya sama aja. Ini cuma
keterampilan yang lo ajarin,
bukan ilmu sulap.

Ketiga, anak kebanyakan
distraksi
.
Coba deh, liat sekitar lo. Ada
TV, tablet, hape, mainan
elektronik. Anak-anak hidup
di dunia yang penuh gangguan
atau distraksi. Mereka jadi
nggak fokus sama tubuhnya
sendiri. Sinyal mau pipis atau pup
yang harusnya mereka rasain,
mereka cuekin karena lagi asik
nonton kartun.

Nah, selama proses ini, Glowacki
nyaranin banget buat ngurangin
atau bahkan ngilangin semua
distraksi itu. TV matiin, tablet
simpen dulu. Anak harus belajar
fokus ke sensasi di dalem tubuhnya.
Rasain gimana pas kandung kemihnya
penuh, dan nyambungin rasa itu
dengan “Oh, gue harus ke toilet.”
Ini nggak bakal terjadi kalau perhatian
mereka terus-terusan ketarik sama
layar.

Komitmen Penuh Itu Kayak
“Move On”, Nggak Bisa
Setengah-Setengah

Ini inti pesannya Glowacki, gaes.
Potty training itu nggak bisa lo
lakuin setengah hati. Lo nggak bisa
ngebolehin anak pake popok
kadang-kadang, trus berharap mereka
belajar. Itu bakal bikin bingung.
Bayangin lo lagi belajar ngetik 10 jari,
tapi kadang lo diizinin ngetik 2 jari.
Lo nggak bakal pernah jago karena lo
selalu bisa balik ke cara lama yang
lebih gampang.

Glowacki tegas banget: popok harus
disetop total di siang hari
. Bukan
dikurangi, bukan cuma pas tidur
siang, bukan cuma pas jalan-jalan.
STOP TOTAL. Kenapa?
Karena si kecil harus ngerasain
basah pas mereka ngompol.
Itu 
feedback alami yang penting
banget. Popok modern itu terlalu
canggih, nyerepnya cepet banget
sampe anak nggak ngerasa basah
sama sekali. Mereka nggak pernah
ngalamin konsekuensi alami dari
pipis di celana. Dengan ngelepas
popok sepenuhnya, mereka akhirnya
bisa ngerasain sensasi nggak nyaman
itu, dan itu jadi motivasi alami buat
mereka pake toilet.

Glowacki juga ngingetin, ini semua
soal 
komitmen lo sebagai
orang tua
. Lo nggak bisa mulai
dengan ragu-ragu, nyoba beberapa
hari, trus nyerah karena
“anak belum siap”. Begitu lo mutusin
mulai, lo harus berkomitmen buat
nyelesaiin. Artinya, lo harus siap
mental kalau bakal ada ‘kecelakaan’.
Bakal ada ompol di lantai, bakal ada
momen frustrasi. Itu semua bagian
normal dari proses belajar. Kalau lo
belum siap, mending jangan mulai
dulu. Tunggu sampe lo beneran siap,
baru mulai dengan pede.

Di akhir bab ini, Glowacki nutup
dengan pesan yang nguatin.
Potty training itu bukan misteri
cuma para ahli yang bisa mecahin.
Ini keterampilan dasar yang bisa
lo ajarin. Lo nggak butuh gelar
psikologi anak, nggak butuh alat
mahal. Yang lo butuhin cuma
keyakinan pada diri sendiri
sebagai orang tua
, dan kemauan
buat memimpin si kecil melewati
proses ini dengan tenang dan tegas.
Anak lo bakal ngerespon
kepemimpinan lo. Kalau lo ragu,
mereka ragu. Kalau lo yakin, mereka
bakal ngikut. Percaya deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *