Stanley Milgram dan Eksperimen Kepatuhan
Stanley Milgram adalah seorang
psikolog Amerika yang melakukan
salah satu eksperimen paling terkenal
dan paling kontroversial dalam
sejarah psikologi. Eksperimen ini
lahir dari sebuah pertanyaan yang
menghantui dunia setelah Perang
Dunia II. Jutaan orang Yahudi dan
kelompok minoritas lainnya telah
dibunuh secara sistematis oleh
rezim Nazi. Para pelakunya bukan
hanya orang-orang fanatik yang
sadis. Banyak dari mereka adalah
warga biasa, pegawai negeri,
tentara, dan petugas administrasi
yang menjalankan perintah atasan
mereka. Di pengadilan Nuremberg,
banyak dari mereka yang membela
diri dengan mengatakan hal yang
sama:
“Saya hanya menjalankan perintah.”
Milgram ingin tahu: apakah orang
biasa, yang tidak memiliki kebencian
atau niat jahat, bisa melakukan
tindakan yang sangat kejam hanya
karena diperintahkan oleh otoritas?
Seberapa jauh seseorang akan patuh
sebelum hati nuraninya mengambil
alih?
Desain Eksperimen
Milgram merancang eksperimen yang
tampak sederhana tapi sebenarnya
sangat cerdik. Ia memasang iklan
di koran lokal New Haven,
Connecticut, mencari sukarelawan
untuk berpartisipasi dalam sebuah
“studi tentang ingatan dan
pembelajaran”. Partisipan yang
mendaftar adalah pria biasa dari
berbagai latar belakang. Ada pekerja
pos, guru SMA, pedagang, insinyur,
dan buruh pabrik. Mereka tidak
tahu bahwa eksperimen ini
sebenarnya bukan tentang ingatan.
Eksperimen ini tentang kepatuhan.
Ketika setiap partisipan tiba
di laboratorium Universitas Yale,
ia disambut oleh seorang pria
berseragam jas putih laboratorium
yang tampak serius dan berwibawa.
Pria ini memperkenalkan diri
sebagai peneliti yang
bertanggung jawab atas eksperimen.
Partisipan juga bertemu dengan
“peserta didik”, seorang pria yang
tampak ramah dan sedikit gugup.
Partisipan diberitahu bahwa ia
akan berperan sebagai “guru” dan
peserta didik akan berperan
sebagai “pelajar”. Tapi yang tidak
diketahui oleh partisipan adalah
bahwa “peserta didik” itu
sebenarnya adalah aktor yang
bekerja untuk Milgram. Dialah
kaki tangan dalam eksperimen ini.
Prosedurnya dijelaskan kepada
partisipan. Peserta didik akan
diikat ke sebuah kursi dan elektroda
akan dipasang di lengannya.
Partisipan sebagai guru akan duduk
di ruangan terpisah. Ia tidak bisa
melihat peserta didik, tapi ia bisa
mendengarnya melalui interkom.
Tugas guru adalah membacakan
daftar pasangan kata kepada peserta
didik, lalu menguji ingatannya.
Setiap kali peserta didik memberikan
jawaban yang salah, guru harus
memberikan kejutan listrik. Tegangan
kejutan listrik dimulai dari 15 volt dan
meningkat 15 volt setiap kali jawaban
salah. Di atas meja guru, ada sebuah
kotak dengan tiga puluh saklar, dari
yang terendah bertanda
“15 volt – Kejutan Ringan” hingga
yang tertinggi bertanda
“450 volt – XXX”. Tiga saklar
terakhir hanya ditandai dengan
simbol XXX yang mengancam.
Untuk meyakinkan partisipan bahwa
kejutan listrik itu nyata, peneliti
memberikan satu contoh kejutan
ringan (45 volt) kepada partisipan
sendiri. Kejutan kecil itu cukup
untuk membuat partisipan percaya
bahwa seluruh peralatan itu bekerja
dengan sungguhan. Padahal,
setelah itu, tidak ada kejutan listrik
yang benar-benar diberikan.
Peserta didik hanyalah berpura-pura.
Tapi partisipan tidak tahu itu.
Proses Eksperimen dan Hasil
yang Mengejutkan
Eksperimen dimulai. Pada awalnya,
semuanya berjalan lancar. Peserta
didik menjawab beberapa pertanyaan
pertama dengan benar.
Tapi kemudian, ia mulai membuat
kesalahan, sesuai dengan skenario
yang sudah direncanakan. Guru
mulai memberikan kejutan listrik.
Saat tegangan mencapai 75 volt,
peserta didik mulai mengerang. Saat
mencapai 120 volt, ia berteriak
bahwa kejutannya mulai terasa sakit.
Saat mencapai 150 volt, ia berteriak,
“Biarkan aku keluar! Aku tidak mau
lagi ikut eksperimen ini! Aku punya
masalah jantung!” Saat mencapai
300 volt, ia berteriak kesakitan dan
mengatakan bahwa ia tidak akan
menjawab lagi. Saat mencapai
330 volt, dari ruangan sebelah hanya
terdengar keheningan. Peserta didik
itu tidak lagi merespons sama sekali,
seolah-olah ia sudah pingsan atau
bahkan mati.
Di titik ini, banyak partisipan yang
mulai ragu. Mereka menoleh
ke peneliti dan bertanya apakah
mereka harus melanjutkan.
Beberapa dari mereka berkeringat,
gemetar, menggigit bibir, bahkan
menangis. Mereka jelas-jelas
mengalami konflik batin yang sangat
berat. Mereka tidak ingin menyakiti
orang lain. Tapi peneliti di samping
mereka, dengan suara tenang dan
datar, memberikan instruksi yang
sudah disiapkan. “Mohon lanjutkan.”
“Eksperimen ini mengharuskan
Anda untuk melanjutkan.”
“Anda tidak punya pilihan, Anda
harus melanjutkan.”
“Anda harus terus melanjutkan.”
Dan banyak dari mereka yang
melanjutkan. Ini adalah hasil yang
mengejutkan Milgram dan seluruh
dunia psikologi. Milgram telah
bertanya kepada sekelompok ahli
psikologi, mahasiswa, dan
masyarakat umum sebelum
eksperimen dimulai. Mereka semua
memprediksi bahwa hanya sebagian
kecil orang, mungkin satu atau dua
persen, yang akan patuh sampai
tegangan tertinggi. Mereka semua
salah.
Hasil eksperimen menunjukkan
bahwa enam puluh lima persen
dari semua partisipan terus
menekan saklar sampai ke level
tertinggi, yaitu 450 volt. Mereka
patuh sampai akhir, meskipun
peserta didik sudah berhenti
merespons dan mungkin sudah
mati. Tidak ada yang berhenti
sebelum mencapai 300 volt.
Mengapa Orang Bisa Begitu
Patuh?
Milgram menjelaskan temuannya
melalui beberapa faktor. Pertama
adalah kehadiran otoritas yang
sah. Peneliti mengenakan jas putih
dan berada di laboratorium
Universitas Yale, sebuah institusi
yang sangat dihormati. Ini memberi
kesan bahwa ia adalah figur otoritas
yang kredibel dan sah. Kita telah
disosialisasikan sejak kecil untuk
mematuhi figur otoritas yang sah:
orang tua, guru, polisi, dokter.
Ketaatan ini begitu tertanam sehingga
sulit untuk dilawan, bahkan ketika
perintahnya bertentangan dengan
hati nurani.
Kedua adalah pemindahan
tanggung jawab. Peneliti selalu
menekankan bahwa dialah yang
bertanggung jawab penuh atas
apa pun yang terjadi. Ia berkata,
“Saya yang bertanggung jawab.
Lanjutkan.” Ini membebaskan
partisipan dari tanggung jawab
pribadi atas tindakan mereka.
Mereka bukan lagi pelaku. Mereka
hanyalah alat yang menjalankan
perintah. Ini adalah mekanisme
psikologis yang sama yang digunakan
oleh para tentara dan birokrat Nazi.
Ketiga adalah peningkatan
bertahap. Partisipan tidak langsung
diminta untuk memberikan kejutan
450 volt. Mereka mulai dari 15 volt,
yang sangat ringan. Setiap kenaikan
hanya 15 volt. Begitu mereka sudah
memberikan kejutan 150 volt, sulit
bagi mereka untuk membenarkan
berhenti di 165 volt. Di titik mana
mereka harus berhenti? Garis
batasnya menjadi kabur karena
prosesnya bertahap.
Keempat adalah situasi yang
tidak familiar. Partisipan tidak
pernah mengalami situasi seperti ini
sebelumnya. Mereka tidak memiliki
skrip atau aturan yang jelas tentang
bagaimana harus bertindak. Dalam
kebingungan, mereka mengandalkan
figur otoritas untuk memberi tahu
apa yang harus dilakukan.
Variasi Eksperimen
Milgram melakukan banyak variasi
dari eksperimen ini untuk menguji
faktor-faktor apa yang memengaruhi
tingkat kepatuhan. Ia menemukan
bahwa jarak fisik antara guru dan
peserta didik sangat berpengaruh.
Jika guru dan peserta didik berada
di ruangan yang sama, tingkat
kepatuhan turun menjadi empat puluh
persen. Jika guru harus memegang
tangan peserta didik dan
menempelkannya ke pelat listrik,
tingkat kepatuhan turun menjadi
tiga puluh persen.
Kedekatan otoritas juga berpengaruh.
Jika peneliti memberikan perintah
melalui telepon dan tidak hadir secara
fisik, tingkat kepatuhan turun drastis
menjadi dua puluh satu persen.
Bahkan, beberapa partisipan
berbohong kepada peneliti di telepon,
mengatakan bahwa mereka terus
menaikkan tegangan, padahal
sebenarnya mereka berhenti.
Jika ada dua peneliti yang saling
bertentangan, satu menyuruh
melanjutkan dan satu menyuruh
berhenti, tingkat kepatuhan menjadi
nol. Tidak ada yang melanjutkan.
Ini menunjukkan bahwa konflik
dalam otoritas menghancurkan
legitimasi perintah. Otoritas yang
tidak bulat bukanlah otoritas yang
kuat.
Jika ada rekan sesama guru yang
memberontak dan menolak untuk
melanjutkan, tingkat kepatuhan
juga turun drastis. Hanya sepuluh
persen yang melanjutkan. Dukungan
sosial dari rekan yang menolak
kepatuhan memberi kekuatan bagi
partisipan untuk mengikuti hati
nurani mereka sendiri.
Implikasi dan Kontroversi
Eksperimen Milgram memiliki
implikasi yang sangat besar.
Ia menunjukkan bahwa orang biasa,
yang tidak memiliki niat jahat, bisa
melakukan tindakan yang sangat
kejam jika berada dalam situasi yang
tepat dan diperintahkan oleh otoritas
yang mereka anggap sah. Ini adalah
penjelasan yang mengerikan tapi
penting tentang bagaimana
kekejaman massal seperti Holocaust
bisa terjadi. Bukan karena seluruh
bangsa Jerman adalah monster. Tapi
karena struktur otoritas, pemindahan
tanggung jawab, dan tekanan situasi
bisa membuat orang biasa melakukan
hal-hal yang tidak pernah mereka
bayangkan.
Tapi eksperimen ini juga sangat
kontroversial. Banyak yang
mempertanyakan etikanya. Partisipan
dalam eksperimen ini mengalami
tekanan psikologis yang sangat berat.
Mereka berkeringat, gemetar, dan
menangis. Beberapa dari mereka
mungkin membawa trauma dari
pengalaman itu selama
bertahun-tahun. Milgram membela
diri dengan mengatakan bahwa ia
melakukan debriefing menyeluruh
setelah eksperimen. Ia menjelaskan
kepada setiap partisipan bahwa
tidak ada kejutan listrik yang
benar-benar diberikan, bahwa
peserta didik hanyalah aktor, dan
bahwa respons mereka adalah
normal. Ia juga melakukan survei
tindak lanjut setahun kemudian
dan menemukan bahwa mayoritas
partisipan mengatakan bahwa
mereka senang telah berpartisipasi
dan belajar sesuatu yang penting
tentang diri mereka sendiri.
Apakah eksperimen ini bisa
direplikasi? Aturan etika penelitian
modern melarang eksperimen dengan
tingkat tekanan psikologis seperti ini.
Tapi beberapa peneliti telah
melakukan versi yang lebih etis dan
menemukan hasil yang serupa,
meskipun dengan tingkat yang sedikit
lebih rendah. Prinsip dasarnya tetap
bertahan: di bawah tekanan otoritas
yang kuat, banyak orang akan
melakukan apa yang diperintahkan,
bahkan jika itu bertentangan dengan
hati nurani mereka.
Eksperimen Milgram bukan hanya
tentang kejutan listrik di laboratorium.
Ia adalah cermin yang dipantulkan
ke wajah kita semua. Ia menanyakan
sebuah pertanyaan yang sangat tidak
nyaman: seberapa jauh Anda akan
patuh? Apakah Anda akan menjadi
salah satu dari enam puluh lima
persen yang melanjutkan sampai
akhir? Atau Anda akan menjadi
salah satu dari sedikit yang berani
berkata “tidak”? Kebanyakan dari
kita ingin percaya bahwa kita akan
menjadi pemberani yang melawan.
Tapi Milgram menunjukkan bahwa
keinginan itu mungkin hanyalah
ilusi yang menenangkan diri sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Setelah Perang Dunia II berakhir,
banyak orang bertanya-tanya:
“Bagaimana mungkin orang biasa
bisa ikut melakukan tindakan
yang begitu kejam?”
Banyak pelaku kejahatan perang
Nazi memberikan jawaban yang
sama:
“Saya hanya menjalankan perintah.”
Jawaban ini membuat psikolog
Amerika bernama Stanley
Milgram penasaran.
Ia ingin mengetahui:
Apakah orang biasa bisa melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan
hati nuraninya hanya karena
diperintah oleh orang yang
berwenang?
Eksperimen yang Tampak
Seperti Tes Ingatan
Milgram mengundang orang-orang
biasa untuk mengikuti sebuah
penelitian yang katanya membahas
ingatan dan pembelajaran.
Pesertanya berasal dari berbagai
pekerjaan:
- guru,
- pegawai kantor,
- pekerja pabrik,
- pedagang,
- dan profesi lainnya.
Namun sebenarnya, penelitian
itu bukan tentang ingatan.
Penelitian itu ingin menguji:
Seberapa jauh seseorang akan
mematuhi perintah dari figur
yang berwenang.
Peran “Guru” dan “Murid”
Peserta diberi tahu bahwa mereka
akan menjadi guru, sedangkan
orang lain menjadi murid.
Tugas guru sederhana:
- Membacakan pasangan kata.
- Menguji ingatan murid.
- Jika jawaban salah, memberikan
kejutan listrik yang semakin kuat.
Yang tidak diketahui peserta adalah:
- “murid” tersebut sebenarnya
seorang aktor, - tidak ada kejutan listrik
sungguhan, - semua teriakan kesakitan
sudah diatur sebelumnya.
Tetapi peserta tidak mengetahui
hal itu. Mereka percaya semuanya
nyata.
Konflik Batin Mulai Muncul
Pada awalnya, tegangan listrik
rendah sehingga peserta tidak
terlalu khawatir.
Namun semakin lama:
- murid mulai mengeluh
kesakitan, - kemudian berteriak,
- meminta dihentikan,
- bahkan akhirnya tidak
merespons sama sekali.
Banyak peserta mulai gelisah.
Mereka bertanya:
“Apakah saya harus melanjutkan?”
Tetapi peneliti yang mengenakan jas
laboratorium hanya menjawab
dengan tenang:
- “Silakan lanjutkan.”
- “Eksperimen ini mengharuskan
Anda melanjutkan.” - “Anda harus terus melanjutkan.”
Hasil yang Mengejutkan
Sebelum eksperimen dilakukan,
banyak orang memperkirakan
hampir semua peserta akan
berhenti ketika mendengar
teriakan kesakitan.
Namun hasilnya berbeda.
Sekitar 65% peserta terus
mengikuti perintah sampai
tingkat tertinggi.
Padahal mereka percaya bahwa orang
di ruangan sebelah mungkin sudah
pingsan atau bahkan meninggal.
Mengapa Orang Bisa Begitu
Patuh?
Milgram menemukan beberapa
alasan penting.
1. Pengaruh Figur yang
Berwenang
Sejak kecil kita terbiasa mematuhi:
- orang tua,
- guru,
- dokter,
- polisi.
Karena itu, ketika seseorang yang
tampak berwenang memberi
perintah, banyak orang otomatis
mengikutinya.
Bayangkan Anda berada
di rumah sakit.
Jika seorang dokter berkata:
“Silakan masuk ke ruangan ini.”
Kebanyakan orang akan menurut
tanpa banyak bertanya karena
dokter dianggap memiliki
pengetahuan dan wewenang.
2. Merasa Tanggung Jawab
Ada pada Orang Lain
Ketika peneliti berkata:
“Saya yang bertanggung jawab.”
Sebagian peserta merasa:
“Kalau ada masalah, itu bukan
kesalahan saya. Saya hanya
menjalankan perintah.”
Akibatnya, rasa tanggung jawab
pribadi menjadi berkurang.
3. Perubahan Terjadi Sedikit
demi Sedikit
Peserta tidak langsung diminta
memberikan kejutan terbesar.
Mereka memulai dari tingkat
yang sangat rendah.
Seperti menaiki tangga:
- satu anak tangga,
- lalu satu lagi,
- lalu satu lagi.
Karena perubahan terjadi secara
bertahap, banyak orang tidak
menyadari bahwa mereka telah
melangkah sangat jauh.
Bayangkan seseorang diminta
mengangkat beban 50 kilogram
sekaligus. Mungkin ia akan menolak.
Tetapi jika bebannya dinaikkan
sedikit demi sedikit:
- 5 kg,
- 10 kg,
- 15 kg,
ia mungkin terus melanjutkan tanpa
menyadari seberapa berat beban
yang sudah diangkatnya.
4. Tidak Tahu Harus Berbuat Apa
Situasi eksperimen sangat tidak biasa.
Karena bingung, peserta cenderung
mengikuti orang yang dianggap
lebih tahu.
Ini mirip ketika seseorang tersesat
di tempat asing dan memilih
mengikuti petugas yang dianggap
memahami situasi.
Apa yang Membuat Kepatuhan
Berkurang?
Milgram juga menemukan bahwa
orang lebih berani menolak ketika:
Korban berada lebih dekat
Semakin dekat seseorang dengan
orang yang menderita, semakin
sulit baginya untuk menyakiti.
Figur otoritas tidak hadir
langsung
Jika perintah hanya diberikan
melalui telepon, kepatuhan
menurun.
Ada orang lain yang berani
menolak
Ini sangat menarik.
Bayangkan satu kelas yang
diam ketika guru marah.
Mungkin semua siswa hanya
menunduk.
Tetapi jika satu siswa berkata
dengan sopan:
“Pak, mungkin teman kami
tidak sengaja.”
Siswa lain sering kali menjadi
lebih berani untuk berbicara juga.
Keberanian ternyata bisa
menular, sama seperti kepatuhan.
Pelajaran Penting dari Milgram
Eksperimen ini tidak mengatakan
bahwa manusia pada dasarnya jahat.
Sebaliknya, Milgram menunjukkan
bahwa:
Orang biasa bisa melakukan hal yang
tidak biasa ketika berada dalam
tekanan situasi tertentu.
Lingkungan, figur yang berwenang,
dan tekanan sosial dapat
memengaruhi keputusan kita lebih
besar daripada yang kita sadari.
Eksperimen Milgram mengajarkan
bahwa:
Mematuhi aturan adalah hal yang
penting, tetapi hati nurani tetap
harus digunakan.
Karena tidak semua perintah yang
datang dari orang yang berwenang
selalu benar.
Kadang-kadang, keberanian
terbesar bukanlah mengatakan
“ya”, melainkan berani mengatakan:
“Maaf, saya tidak bisa melakukan
itu.”
