Bagian ketiga ini adalah puncak dari
seluruh buku. Di sinilah Michelle
McNamara menuangkan seluruh
tenaga, pikiran, dan sisa hidupnya
untuk menjawab satu pertanyaan
yang telah menghantuinya selama
bertahun-tahun: siapakah dia?
Siapakah pria bertopeng yang
meneror California selama
puluhan tahun?
Petunjuk Baru yang Digali
McNamara
McNamara tidak hanya
mengandalkan laporan polisi lama.
Ia aktif mencari petunjuk baru.
Ia seperti detektif sungguhan,
meskipun ia tidak memiliki lencana
atau seragam. Ada tiga hal utama
yang ia lakukan.
Pertama, sketsa wajah yang
direvisi. Polisi sudah memiliki
beberapa sketsa wajah pelaku
berdasarkan ingatan para korban
yang sempat melihat sekilas
wajahnya. Tapi sketsa-sketsa ini
sudah sangat tua, dibuat pada tahun
1970-an. McNamara bekerja sama
dengan seorang seniman forensik
untuk membuat versi revisi dari
sketsa-sketsa ini. Mereka
menggunakan teknologi komputer
untuk menuaikan wajah pelaku.
Bagaimana kira-kira tampangnya
sekarang, setelah puluhan tahun
berlalu? Sketsa yang direvisi ini
disebarkan ke publik dengan
harapan seseorang akan mengenali
wajah itu.
Kedua, peta berbasis data.
McNamara mulai memetakan semua
serangan yang dilakukan oleh East
Area Rapist dan Original Night Stalker.
Ia menandai setiap lokasi di peta
digital. Ia melihat polanya. Di mana
pelaku pertama kali menyerang.
Ke mana ia pindah. Bagaimana
radius serangannya. Peta ini
membantunya memahami bagaimana
pelaku berpikir dan bergerak.
Ketiga, hubungan kekerabatan
DNA. Inilah petunjuk yang paling
penting. McNamara sangat yakin
bahwa jawabannya ada di DNA. Pada
masa itu, teknologi DNA forensik
sudah cukup maju untuk mencocokkan
sampel dari tempat kejadian perkara.
Tapi ada satu masalah besar.
DNA pelaku tidak cocok dengan
siapa pun di database polisi. Artinya,
pelaku belum pernah ditangkap
sebelumnya. Ia tidak pernah
memberikan sampel DNA-nya
ke pihak berwenang.
McNamara mulai mempelajari
pendekatan baru yang saat itu masih
sangat jarang digunakan.
Pendekatan ini disebut genealogi
forensik. Caranya adalah dengan
mengunggah profil DNA pelaku
ke situs-situs silsilah keluarga yang
biasa digunakan orang untuk mencari
leluhur mereka. Situs-situs ini
memiliki jutaan sampel DNA dari
orang biasa. Harapannya, mungkin
ada kerabat jauh pelaku yang pernah
mengunggah DNA mereka ke situs
tersebut. Jika kerabat jauh itu
ditemukan, polisi bisa melacak silsilah
keluarganya, mempersempit daftar
tersangka, dan akhirnya menemukan
pelakunya.
McNamara mendorong pendekatan
ini dengan sangat gigih. Ia menulis
tentangnya di blognya.
Ia membicarakannya dengan detektif
Paul Holes. Ia yakin bahwa metode
inilah yang akhirnya akan memecahkan
kasus ini. Dan ia benar. Metode inilah
yang kelak, dua tahun setelah
kematiannya, akan menangkap
pelaku aslinya.
Bab “The One”: Surat Terbuka
untuk Si Pembunuh
Salah satu bagian paling kuat dalam
buku ini adalah bab yang berjudul
“The One”. Bab ini ditulis sebagai
surat terbuka dari McNamara
langsung kepada si pembunuh. Ini
bukan surat yang dikirim melalui pos.
Ini adalah surat yang dipublikasikan
di dalam bukunya, sebagai tantangan
langsung kepada pria yang telah
menghabiskan begitu banyak
waktunya.
Dalam surat ini, McNamara berbicara
langsung kepada pelaku.
Ia memanggilnya dengan kata
“kamu”. Ia mengatakan bahwa ia tahu
pelaku masih hidup. Ia tahu pelaku
mungkin sudah pensiun, tinggal
di rumah yang tenang, memotong
rumput di halaman depannya, dan
tidak ada tetangga yang curiga.
Ia tahu pelaku bersembunyi di depan
mata, di balik topeng warga biasa
yang tidak mencurigakan.
Tapi McNamara juga mengatakan
bahwa ia tidak akan berhenti.
Ia akan terus menulis. Ia akan terus
menyelidiki. Ia akan terus
membongkar kebenaran, tidak
peduli berapa lama waktu yang
dibutuhkan. Surat ini adalah
pernyataan perang. Ini adalah
tantangan dari seorang penulis yang
tidak memiliki senjata kecuali
kata-katanya, melawan seorang
pembunuh berantai yang selama
puluhan tahun selalu lolos dari
jerat hukum.
Kematian Michelle McNamara
Perburuan ini memakan korban.
Bukan korban kejahatan, tapi korban
dari obsesi itu sendiri. Michelle
McNamara menghabiskan
bertahun-tahun tenggelam dalam
kegelapan. Setiap hari ia membaca
tentang pemerkosaan dan
pembunuhan. Setiap malam ia
memikirkan pelaku yang masih
berkeliaran bebas. Pikirannya
tidak pernah berhenti.
Akibatnya, ia mengalami insomnia
kronis. Ia tidak bisa tidur. Malam
demi malam, ia berbaring di tempat
tidur, menatap langit-langit,
pikirannya dipenuhi oleh gambaran
tempat kejadian perkara, suara
bisikan pelaku, dan wajah para
korban. Untuk bisa tidur, ia mulai
mengonsumsi obat-obatan. Obat
resep dari dokter. Tapi
lama-kelamaan, dosisnya
meningkat. Ketergantungannya
bertambah.
Tekanan psikologis juga semakin
berat. Ia memikul beban yang
sangat besar. Ia merasa
bertanggung jawab untuk
menemukan pelaku. Ia merasa
bahwa para korban menunggunya.
Bahwa detektif-detektif yang
sudah pensiun menunggunya.
Bahwa seluruh California
menunggunya. Beban ini
menghancurkannya dari dalam.
Pada tanggal 21 April 2016, Michelle
McNamara meninggal dalam
tidurnya. Ia baru berusia empat
puluh enam tahun. Penyebab
kematiannya adalah kombinasi
dari penyakit jantung yang tidak
terdiagnosis dan overdosis obat
resep yang ia konsumsi untuk
mengatasi insomnia-nya. Ia pergi
sebelum sempat melihat akhir dari
perburuannya. Ia pergi dalam gelap,
sama seperti ancaman pelaku
kepada korbannya dulu.
Menyelesaikan Buku yang
Belum Selesai
Ketika McNamara meninggal, naskah
bukunya belum selesai.
Ia meninggalkan ribuan halaman
catatan, wawancara, berkas polisi,
dan draf tulisan yang belum
dirapikan. Semua bahan ini
tersimpan di komputernya, di lemari
arsipnya, di kotak-kotak yang
memenuhi ruang kerjanya.
Dua orang kemudian mengambil
alih tugas untuk menyelesaikan
buku ini. Paul Haynes, seorang
peneliti yang sudah lama bekerja
dengan McNamara, dan Billy
Jensen, seorang jurnalis investigasi.
Mereka berdua menyisir semua
bahan yang ditinggalkan McNamara.
Mereka membaca setiap catatan,
mendengarkan setiap rekaman
wawancara, dan menyusunnya
menjadi buku yang sekarang ada
di tangan kita. Mereka melakukan
ini untuk menghormati McNamara.
Agar kerja kerasnya selama
bertahun-tahun tidak sia-sia. Agar
suaranya tetap terdengar, meskipun
ia sudah tiada.
Epilog: Penangkapan Joseph
James DeAngelo
Epilog buku ini ditulis oleh Patton
Oswalt, suami McNamara. Epilog
ini menceritakan momen yang
paling dinanti-nantikan oleh semua
orang yang terlibat dalam kasus ini.
Pada bulan April 2018, dua tahun
setelah McNamara meninggal,
polisi akhirnya menangkap seorang
pria berusia tujuh puluh dua tahun
di Citrus Heights, California.
Pria itu bernama Joseph James
DeAngelo. Ia adalah mantan polisi.
Ia pernah bertugas di dua
departemen kepolisian yang berbeda
di California. Ironisnya, ia adalah
bagian dari sistem yang seharusnya
menangkapnya.
Bagaimana polisi akhirnya bisa
menemukannya? Mereka
menggunakan metode yang persis
seperti yang didorong oleh
McNamara: genealogi forensik.
Polisi mengunggah DNA pelaku
ke sebuah situs silsilah keluarga.
Mereka menemukan kecocokan
dengan kerabat jauh DeAngelo.
Dari situ, mereka melacak silsilah
keluarganya, mempersempit daftar
tersangka, dan akhirnya sampai
pada Joseph James DeAngelo.
Untuk memastikan, polisi
mengambil sampel DNA dari
barang yang dibuang oleh DeAngelo.
Sampel itu cocok dengan DNA yang
ditemukan di tempat kejadian
perkara puluhan tahun lalu.
Tidak ada keraguan lagi.
Dialah Golden State Killer.
Yang paling mencengangkan adalah
betapa cocoknya profil DeAngelo
dengan apa yang sudah McNamara
gambarkan bertahun-tahun
sebelumnya. DeAngelo adalah
seorang pensiunan yang tinggal
di rumah biasa di lingkungan biasa.
Tetangganya tidak pernah curiga.
Ia dikenal sebagai pria yang pemarah
dan suka membentak, tapi tidak ada
yang menduga bahwa ia adalah
pembunuh berantai yang paling
dicari di California. McNamara
sudah menulis bahwa pelaku
bersembunyi di depan mata,
di balik topeng warga biasa yang
pensiunan. Tulisannya tepat sasaran,
meskipun ia sendiri tidak sempat
menyaksikan penangkapannya.
Ada satu catatan tambahan yang
penting. Surat misterius “The One”
yang selama ini menjadi pusat
obsesi McNamara ternyata mungkin
bukan ditulis oleh DeAngelo.
Para ahli masih memperdebatkan
apakah surat itu asli atau palsu.
Tapi obsesi McNamara terhadap
surat itu tidak sia-sia. Justru karena
ia begitu terpaku pada surat itu,
ia terus menggali dan menggali.
Proses penggalian inilah yang
membongkar kebenaran yang lebih
besar. Surat itu adalah umpan yang
membuatnya tidak pernah berhenti
mencari.
Penutup: Cahaya yang Tidak
Padam
Buku ini ditutup dengan sebuah pesan
yang sangat kuat. Michelle McNamara
memang sudah tiada. Ia “pergi dalam
gelap”, sama seperti ancaman yang
dulu diucapkan oleh pelaku kepada
korbannya. Tapi cahaya yang ia sulut
tidak padam. Ia telah menyalakan
api di dalam diri para detektif, para
penyintas, dan para pembaca. Api itu
terus menyala, dan akhirnya
menyeret si pembunuh ke pengadilan.
Pada tahun 2020, Joseph James
DeAngelo mengakui kesalahannya
di depan pengadilan. Ia mengaku
bersalah atas tiga belas tuduhan
pembunuhan dan puluhan tuduhan
penculikan serta pemerkosaan.
Ia dijatuhi hukuman penjara
seumur hidup tanpa kemungkinan
pembebasan bersyarat. Ia akan
mati di dalam penjara.
Para korban yang selamat, yang
sekarang sudah lanjut usia,
satu per satu berdiri di ruang
sidang dan memberikan pernyataan.
Mereka menatap langsung pria yang
telah menghancurkan hidup mereka
puluhan tahun lalu. Pria itu kini
sudah tua, lemah, dan duduk
di kursi roda. Tapi kenangan tentang
apa yang ia lakukan tidak akan
pernah pudar.
Michelle McNamara tidak ada
di ruang sidang itu. Tapi suaranya
ada. Kata-katanya ada. Di setiap
halaman bukunya, di setiap artikel
yang ia tulis, di setiap petunjuk yang
ia gali, ia hadir. Ia adalah pengingat
bahwa satu orang biasa, dengan
tekad yang luar biasa, bisa membuat
perbedaan. Bahwa obsesi yang
diarahkan pada kebaikan bisa
menjadi senjata yang ampuh
melawan kegelapan. Bahwa meskipun
kita pergi dalam gelap, cahaya yang
kita tinggalkan bisa terus menyala,
menerangi jalan bagi mereka yang
datang setelah kita.
catatan:
Michelle McNamara tidak sempat
menyelesaikan buku tersebut
secara penuh karena ia meninggal
dunia saat proses penulisan masih
berjalan.
Buku “I’ll Be Gone in the Dark”
bisa tetap terbit karena diselesaikan
oleh orang-orang terdekatnya
menggunakan catatan yang ia
tinggalkan.
Berikut adalah kronologi bagaimana
buku tersebut akhirnya bisa
diterbitkan:
1. Progres Penulisan Terakhir
- Saat Michelle meninggal pada
April 2016, draf buku tersebut
baru selesai sekitar dua
pertiga bagian. - Ia meninggalkan ribuan file
komputer, catatan digital, dan
tumpukan dokumen hasil
investigasinya.
2. Tim yang Melanjutkan Draf
- Suaminya, komedian Patton
Oswalt, tidak ingin kerja keras
mendiang istrinya sia-sia. - Oswalt merekrut jurnalis
investigasi Bill Jensen dan
aktivis kriminal Billy Jensen
(serta detektif Paul Holes). - Mereka memilah semua tulisan,
transkrip wawancara, dan
catatan kaki yang ditinggalkan
Michelle.
3. Proses Penyusunan Buku
- Tim penulis pendamping
menyusun sisa bab yang belum
selesai berdasarkan arahan
garis besar komitmen Michelle. - Bagian awal hingga tengah
buku murni teks asli tulisan
Michelle. - Bagian akhir buku dilengkapi
oleh tim menggunakan
kombinasi riset mandiri dan
sisa draf mentah milik Michelle.
4. Penerbitan Posthumous
- Buku ini akhirnya diterbitkan
secara posthumous
(setelah penulisnya tiada)
pada Maret 2018. - Buku tersebut sukses besar dan
langsung menjadi salah satu
buku terlaris di dunia.