Bagian Dua The Man in the Window
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Guys, lanjut lagi obrolan kita soal
perburuan monster yang bikin
geregetan ini. Di bagian sebelumnya,
kita udah ngobrolin teror yang dia
sebarkan di Sacramento. Sekarang,
kita masuk ke fase yang lebih gelap,
di mana hantu ini berubah wujud
jadi sesuatu yang jauh lebih
mematikan.
The Man in the Window: Ketika
Si Hantu Berubah Jadi Pembunuh
Jadi, tahun 1979. Pria yang dijuluki
East Area Rapist di Sacramento
tiba-tiba ngilang. Serangan yang bikin
warga ketakutan setengah mati itu
berhenti total. Polisi waktu itu
mungkin ada yang mikir, “Nah, gitu
dong. Semoga aja dia udah mati atau
ketangkep kasus lain.” Tapi ternyata,
harapan itu cuma ilusi. Mimpi buruk
itu belum selesai, dia cuma lagi
pindah lokasi.
Pelaku ini ternyata cabut ke selatan,
guys, ke wilayah California Selatan.
Tapi, ada perbedaan yang bikin
merinding. Di Sacramento, dia
dikenal sebagai pemerkosa sadis,
mayoritas korbannya selamat. Nah,
di selatan, dia naik level. Dia berubah
jadi pembunuh.
Pola Baru yang Lebih Brutal:
Bukan Cuma Perkosa, Tapi Habisi
Lo inget kan, di Sacramento,
dia ngiket pasangan, bawa istrinya
ke ruangan lain, lalu setelah selesai,
dia pergi ninggalin korban
hidup-hidup. Trauma, hancur,
tapi masih bernapas. Nah,
di California Selatan, polanya
berubah total. Dia masih nyerang
malem-malem, masih ngintai
berhari-hari, masih pake topeng
dan senter. Tapi, begitu selesai
memerkosa, dia nggak langsung pergi.
Dia bakal nyari benda tumpul yang
ada di rumah korban. Bisa kayu dari
perapian, patung kecil, atau apa aja.
Lalu, dia mukulin kepala korban,
baik pria maupun wanita, sampai
mati. Keduanya dibunuh tanpa
ampun. Awalnya, polisi di selatan
nggak nyambungin pembunuhan
ini sama pemerkosa di Sacramento.
Jaraknya 600 kilometer, dan
modusnya beda. Yang satu
memperkosa, yang satu membunuh.
Butuh waktu bertahun-tahun buat
nyadar kalau itu orang yang sama.
McNamara dengan detail ngebedah
beberapa pembunuhan paling sadis
di fase ini. Dua yang paling bikin
dia terpaku adalah kasus di Goleta
dan Ventura.
Di Goleta, ada pasangan Robert
Offerman dan Debra Manning.
Mereka lagi tidur di rumah Robert.
Pelaku masuk lewat jendela yang
nggak dikunci, ngikat, memerkosa
Debra, lalu mukulin kepala Robert
pake kayu perapian. Debra juga
dibunuh. Mereka ditemuin keesokan
harinya.
Di Ventura, Lyman Smith, seorang
pengacara, dan istrinya Charlene.
Polanya sama persis. Masuk, ngikat,
memerkosa, lalu membunuh
keduanya dengan benda tumpul.
Mayat mereka ditemukan sama
anak Lyman dari pernikahan
sebelumnya. Bayangin, lo datang
ke rumah buat ngunjungin orang
tua, yang lo temuin malah TKP
pembunuhan. Ngeri banget.
DNA: Teknologi yang Akhirnya
Buka Semua Tabir
Lalu, gimana caranya teka-teki ini
akhirnya mulai terkuak? Jawabannya
adalah teknologi yang belum ada pas
kejahatan itu terjadi: tes DNA.
Di akhir 1990-an, polisi di California
Selatan mulai mengirim sampel dari
TKP ke lab. Hasilnya? Bikin merinding.
DNA pelaku di tempat pembunuhan
di Goleta dan Ventura itu cocok
dengan DNA dari pemerkosaan
di Sacramento! Artinya, selama ini
polisi di dua wilayah yang berbeda,
dengan pola serangan yang
kelihatannya beda, sebenernya lagi
ngejar satu orang yang sama.
Monster yang sama.
Dari situlah dia dapet nama baru.
Polisi gabungin dua julukannya:
East Area Rapist (EAR) dari
Sacramento, dan Original Night
Stalker (ONS) dari Selatan. Jadilah
dia dikenal sebagai EAR/ONS, yang
kemudian lebih populer sebagai
Golden State Killer.
Surat Misterius “The One” dan
Profil Si Hantu
Di tengah investigasi yang buntu,
sebuah surat misterius muncul.
Dikirim ke polisi. Pengirimnya
ngaku sebagai pelaku, dengan
nada yang super mengejek. Intinya
dia bilang, “Gue udah berhenti, gue
udah pindah, dan lo semua nggak
bakal bisa nangkep gue.”
McNamara terobsesi banget sama
surat ini. Gue bisa ngebayangin dia
baca surat itu berulang-ulang,
menganalisa setiap kata, setiap tanda
baca, bahkan setiap spasinya.
Dia yakin banget surat ini adalah
kunci.
Dari surat dan seluruh pola serangan
yang dia pelajari, McNamara mulai
nyusun profil psikologisnya sendiri.
Ini bukan profil resmi FBI, tapi hasil
renungannya yang mendalam.
Profilnya kira-kira begini:
Pertama, dia adalah pengintai
oportunis yang super sabar.
Dia nggak nyerang acak. Dia ngintai
berhari-hari, berminggu-minggu.
Dia pelajari kebiasaan lo.
Ini nunjukin dia terencana, cerdas,
dan sabar banget.
Kedua, dia haus kendali. Semua
aksinya adalah tentang kuasa.
Ngiket, merintah, nentuin segalanya.
Pemerkosaan itu bukan cuma soal
seks, tapi caranya nunjukin dia adalah
dewa atas hidup dan mati korbannya.
Ketiga, dia benci banget sama
perempuan. Ada kemarahan yang
dalem banget di balik setiap
serangan. Dia pengen ngehancurin,
bikin korbannya ngerasa nggak
berdaya. Telepon-teror
bertahun-tahun kemudian adalah
bukti kebencian itu. Dia mau
korbannya terus menderita.
Keempat, dia adalah pribadi
yang sangat terorganisir.
Bawa tali sendiri, pake sarung
tangan, bersihin TKP, hampir nggak
pernah ninggalin jejak. Ini nunjukin
dia sangat teliti, disiplin, dan
jelas-jelas susah banget ditangkep.
McNamara juga nulis gimana obsesi
ini mulai ngeracuni pikirannya
sendiri. Mimpi buruk, ngerasa
diawasi. Dia mulai paham betul kalau
monster ini bukan sosok yang
jelas-jelas serem. Dia adalah
seseorang yang bisa jalan siang hari,
nyapa tetangga, belanja ke toko, dan
nggak ada yang curiga. Pikiran itulah
yang paling menghantui.
Di akhir bagian ini, dia makin yakin
kalau jawabannya ada di suatu
tempat. Mungkin di DNA, di surat itu,
atau di kesaksian seorang saksi yang
belum berani ngomong. Dia nggak
tahu pasti, tapi dia tahu satu hal:
dia nggak akan berhenti mencari.
