Buku The Glass Castle Jeannette Walls, Bab 1 Perempuan di Dalam Taksi

Jeannette Walls
Bab pembuka buku ini tidak dimulai
dengan kenangan masa kecil yang
indah. Ia dimulai dengan sebuah
pukulan keras di masa sekarang.
Jeannette Walls adalah seorang
perempuan dewasa yang sudah
sukses. Ia tinggal di New York City,
salah satu kota paling mahal dan
paling glamor di dunia. Ia bekerja
sebagai jurnalis untuk sebuah
majalah bergengsi. Ia mengenakan
pakaian mahal. Ia pergi
ke pesta-pesta mewah. Dari luar,
hidupnya tampak sempurna.
Ia adalah gambaran klasik dari
seseorang yang telah “berhasil”.
Suatu malam, Jeannette sedang duduk
di dalam taksi. Ia dalam perjalanan
pulang dari sebuah acara. Di luar,
hujan gerimis membasahi jalanan
Manhattan yang berkilauan oleh
lampu-lampu kota. Taksi itu berhenti
di lampu merah. Dan saat itulah
Jeannette melihat sesuatu yang
membuat seluruh dunia berputar.
Di trotoar, tidak jauh dari jendela
taksinya, ada seorang perempuan
tunawisma. Perempuan itu
mengenakan pakaian lusuh yang
sudah kotor dan robek di beberapa
bagian. Rambutnya acak-acakan dan
belum dicuci dalam waktu yang lama.
Ia sedang membungkuk di atas
sebuah tempat sampah,
mengais-ngais isinya. Tangannya
yang kotor menyisihkan botol-botol
kosong dan bungkus makanan bekas,
mencari sesuatu yang masih bisa
dimakan atau dijual.
Perempuan tunawisma itu adalah
ibunya sendiri. Rose Mary Walls.
Jeannette membeku di dalam taksinya.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa
membuka pintu taksi dan berlari
memeluk ibunya. Ia tidak bisa
berteriak menyapa. Yang ia lakukan
hanyalah bersembunyi.
Ia membungkuk di kursi taksinya,
berharap ibunya tidak melihatnya.
Ia merasa sangat malu.
Tapi kemudian, rasa malu itu
berganti menjadi sesuatu yang lain.
Rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia
bisa duduk di dalam taksi yang hangat,
mengenakan mantel mahal, dalam
perjalanan ke apartemennya yang
nyaman, sementara ibunya sendiri
mengais sampah di tengah hujan?
Bagaimana mungkin ia bisa hidup
dengan semua kenyamanan ini
sementara orang yang melahirkannya
tidak memiliki atap di atas kepalanya?
Didorong oleh rasa bersalah itu,
Jeannette memutuskan untuk
bertindak. Beberapa hari kemudian,
ia menghubungi ibunya dan
mengajaknya makan siang.
Mereka bertemu di sebuah restoran.
Rose Mary datang dengan pakaian
yang sedikit lebih rapi, tapi masih
terlihat sangat sederhana. Di sinilah
percakapan aneh antara ibu dan
anak ini terjadi.
Jeannette menawarkan bantuan.
Ia bisa menyewakan apartemen
untuk ibunya. Ia bisa memberinya
uang bulanan. Ia bisa memastikan
bahwa ibunya tidak perlu lagi mengais
sampah. Tapi Rose Mary menolak
semua tawaran itu. Ia tidak merasa
bahwa hidupnya adalah sebuah
masalah yang perlu diperbaiki.
Baginya, menjadi tunawisma adalah
pilihan. Ia hidup dengan caranya
sendiri, bebas dari aturan dan tekanan
masyarakat. Ia tidak ingin terikat pada
tagihan, jadwal, atau harapan
orang lain.
Di tengah percakapan itu, Rose Mary
justru balik menegur Jeannette.
Ia mengatakan bahwa Jeannette telah
berubah. Bahwa Jeannette sudah
terlalu terobsesi dengan uang dan
status sosial. Bahwa ia sudah
kehilangan nilai-nilai yang dulu
diajarkan oleh orang tuanya. Dalam
pandangan Rose Mary, Jeannette-lah
yang memiliki masalah, bukan dirinya.
Pertemuan ini memicu rentetan
pertanyaan di kepala Jeannette.
Bagaimana ia bisa sampai di titik ini?
Bagaimana mungkin ia, yang tumbuh
dalam kemiskinan ekstrem dan
keluarga yang kacau, sekarang duduk
di restoran mahal menawarkan
bantuan pada ibunya yang memilih
menjadi tunawisma?
Bagaimana mungkin ia berhasil
keluar dari semua itu sementara orang
tuanya tetap terperangkap, atau lebih
tepatnya, memilih untuk tetap berada
di sana?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang
menjadi mesin penggerak seluruh
buku ini. Dari titik ini, Jeannette
mulai menarik benang kenangan,
mundur jauh ke masa kecilnya yang
liar, keras, dan penuh warna.
Ia mengajak pembaca untuk
menyelami dunia yang hampir tidak
bisa dipercaya: dunia di mana
anak-anak tidur di bawah bintang
bukan karena berkemah, tapi karena
tidak punya rumah. Dunia di mana
seorang ayah yang brilian dan
alkoholik mengajari anak-anaknya
tentang fisika dan bintang-bintang,
tapi tidak bisa menahan pekerjaan
cukup lama untuk membeli makanan.
Pertemuan singkat di restoran ini
adalah pintu masuk ke seluruh cerita.
Ini adalah momen di mana Jeannette
dewasa berhadapan langsung dengan
masa lalunya. Dan dari sini, ia akan
membawa kita menyusuri jalan
panjang yang membawanya dari
seorang gadis liar yang memasak
hot dog sendiri di usia tiga tahun,
hingga menjadi jurnalis sukses yang
duduk di taksi di New York City,
menatap ibunya dari balik kaca.
Ini adalah kisah tentang kontras yang
luar biasa. Kontras antara kemiskinan
dan kesuksesan. Kontras antara
kebebasan dan stabilitas. Kontras
antara cinta pada keluarga dan
kebutuhan untuk menyelamatkan
diri sendiri. Dan di atas semuanya,
ini adalah kisah tentang seorang anak
yang mencintai orang tuanya,
meskipun orang tuanya
terus-menerus mengecewakannya,
dan tentang bagaimana ia akhirnya
belajar bahwa ia tidak bisa
menyelamatkan mereka. Ia hanya
bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Guys, kali ini kita ngomongin buku
yang bakal bikin lo ngerenung,
The Glass Castle karya Jeannette
Walls. Ini bukan buku motivasi biasa.
Ini adalah kisah nyata tentang
seorang anak yang tumbuh di tengah
kekacauan, dengan orang tua yang
brilian tapi juga menghancurkan.
Kita mulai obrolan ini dari titik
yang mungkin paling menohok:
momen di mana si anak, yang kini
udah sukses, bersembunyi dari
ibunya sendiri yang sedang mengais
sampah. Yuk, kita masuk ke ceritanya.
Bab 1: Perempuan di Dalam
Taksi, Awal dari Semua Kenangan
Bab pembuka buku ini sama sekali
nggak dimulai dengan kenangan
indah masa kecil. Nggak. Ia malah
dimulai dengan sebuah pukulan telak
di masa sekarang. Bayangin,
Jeannette Walls adalah perempuan
dewasa yang udah sukses. Dia tinggal
di New York City, salah satu kota
paling mahal dan gemerlap di dunia.
Dia kerja sebagai jurnalis untuk
majalah bergengsi, pake baju mahal,
dateng ke pesta-pesta mewah. Dari
luar, hidupnya keliatan sempurna
banget. Dia adalah potret sempurna
dari seseorang yang udah “jadi”.
Suatu malam, Jeannette lagi duduk
di dalem taksi dalam perjalanan
pulang dari sebuah acara. Di luar,
hujan gerimis ngebasahi jalanan
Manhattan yang berkilauan kena
lampu kota. Taksi itu berhenti pas
kena lampu merah. Dan di saat itulah,
guys, Jeannette ngeliat sesuatu yang
bikin dunianya serasa jungkir balik.
Di trotoar, nggak jauh dari jendela
taksinya, ada seorang perempuan
tunawisma. Bajunya lusuh, kotor,
robek di sana-sini. Rambutnya
acak-acakan, udah lama banget
nggak dicuci. Perempuan itu lagi
membungkuk di atas tempat
sampah, tangannya yang kotor
nyelip-nyelip di antara botol
kosong dan bungkus bekas, nyari
apa pun yang masih bisa dimakan
atau dijual.
Perempuan tunawisma itu… adalah
ibunya sendiri. Rose Mary Walls.
Jeannette langsung beku di dalem
taksinya. Jantungnya pasti
dag-dig-dug kenceng banget.
Dia nggak bisa gerak, nggak bisa buka
pintu taksi dan lari meluk ibunya.
Dia nggak bisa teriak nyapa. Yang
dia lakuin malah bersembunyi,
membungkuk di kursinya, berharap
banget ibunya nggak ngeliat dia. Dia
merasa malu. Malu yang teramat
sangat.
Tapi rasa malu itu dengan cepat
berubah jadi sesuatu yang lain:
rasa bersalah. Gimana mungkin
dia duduk di taksi anget, pake
mantel mahal, dalam perjalanan
ke apartemennya yang nyaman,
sementara orang yang ngelahirin
dia lagi ngorek-ngorek sampah
di tengah hujan? Gimana mungkin
dia hidup dengan semua
kenyamanan ini, sementara ibunya
bahkan nggak punya atap di atas
kepala?
Akhirnya, karena didorong rasa
bersalah itu, Jeannette mutusin buat
bertindak. Beberapa hari kemudian,
dia nelpon ibunya dan ngajak makan
siang. Mereka ketemu di sebuah
restoran. Rose Mary dateng dengan
pakaian yang sedikit lebih rapi, tapi
tetep keliatan sangat sederhana.
Dan di sinilah, salah satu percakapan
paling aneh antara ibu dan anak
terjadi.
Jeannette nawarin bantuan.
Dia bisa sewa apartemen buat ibunya,
kasih uang bulanan. Dia bisa mastiin
ibunya nggak perlu lagi ngorek
sampah. Tapi, lo tau nggak?
Rose Mary nolak semua tawaran itu.
Buat dia, hidupnya bukanlah masalah
yang perlu dibenerin. Jadi tunawisma
itu adalah pilihan. Dia hidup dengan
caranya sendiri, bebas dari aturan
dan tekanan masyarakat. Dia nggak
mau terikat sama tagihan, jadwal,
atau harapan orang lain.
Yang lebih bikin melongo, di tengah
obrolan itu, Rose Mary malah balik
negur Jeannette. Dia bilang,
Jeannette-lah yang udah berubah,
udah terlalu terobsesi sama uang
dan status. Dia bilang Jeannette
udah kehilangan nilai-nilai yang
dulu diajarin orang tuanya. Dalam
pandangan Rose Mary, Jeannette-lah
yang punya masalah, bukan dirinya.
Pertemuan singkat ini langsung
memicu rentetan pertanyaan
di kepala Jeannette. Gimana
dia bisa sampe di titik ini?
Gimana caranya dia, yang tumbuh
dalam kemiskinan ekstrem dan
keluarga super kacau, sekarang
malah duduk di restoran mahal
nawarin bantuan ke ibunya yang
milih jadi tunawisma? Gimana dia
bisa lolos dari semua itu, sementara
orang tuanya tetep terperangkap,
atau lebih tepatnya, memilih buat
tetep tinggal di sana?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang
jadi mesin penggerak seluruh buku.
Dari titik ini, Jeannette mulai narik
benang kenangan, mundur jauh
ke masa kecilnya yang liar, keras,
dan penuh warna. Dia ngajak lo
buat nyelam ke dunia yang hampir
nggak bisa lo percaya: dunia
di mana anak-anak tidur di bawah
bintang bukan karena lagi asik
berkemah, tapi karena nggak punya
rumah. Dunia di mana seorang ayah
yang brilian sekaligus pemabuk
ngajarin anak-anaknya soal fisika
dan bintang-bintang, tapi nggak bisa
nahan kerjaan cukup lama buat beli
makanan.
Pertemuan di restoran itu adalah
pintu masuk ke seluruh cerita.
Ini adalah momen di mana Jeannette
versi dewasa berhadapan langsung
dengan masa lalunya. Dan dari sini,
dia bakal bawa kita menyusuri jalan
panjang yang ngebentuknya:
dari seorang gadis liar yang masak
hot dog sendiri di usia tiga tahun,
sampe jadi jurnalis sukses yang
duduk di taksi di New York, natap
ibunya dari balik kaca.
Ini adalah kisah tentang kontras
yang luar biasa. Kontras antara
kemiskinan dan kesuksesan. Antara
kebebasan dan stabilitas. Antara cinta
pada keluarga dan kebutuhan buat
nyelamatin diri sendiri. Dan di atas
segalanya, ini adalah kisah tentang
seorang anak yang mencintai orang
tuanya, meskipun mereka
terus-terusan ngecewain, dan tentang
gimana dia akhirnya belajar bahwa
dia nggak bisa nyelamatin mereka.
Dia cuma bisa nyelamatin dirinya
sendiri.
