Buku Made in America Bill Bryson, William Roberts, Bab 1 The Mayflower and Before

Bill Bryson, William Roberts
Bill Bryson membuka bukunya dengan
membawa kita ke masa sebelum
Amerika Serikat menjadi sebuah
negara. Ia menelusuri akar bahasa
Inggris Amerika, yang dimulai dari
kapal-kapal kayu yang membawa para
pemukim pertama menyeberangi
Samudra Atlantik. Dua kelompok
paling terkenal adalah para pemukim
di Jamestown pada tahun 1607 dan
para Pilgrim yang tiba dengan kapal
Mayflower pada tahun 1620.
Orang-orang yang naik ke kapal
Mayflower dan kapal-kapal
berikutnya bukanlah bangsawan atau
cendekiawan. Mereka adalah petani,
pedagang kecil, pemburu, dan buruh
kasar. Mereka berasal dari berbagai
daerah di Inggris, masing-masing
membawa dialek dan logat
daerahnya sendiri. Di atas kapal
yang sempit,
selama berminggu-minggu di lautan,
dialek-dialek ini mulai bercampur.
Ketika mereka akhirnya mendarat
di dunia baru, mereka menemukan
hal-hal yang belum pernah mereka
lihat sebelumnya. Tidak ada kata
dalam bahasa Inggris untuk binatang
berkulit keras yang bisa menggulung
diri menjadi bola. Tidak ada kata
untuk pohon dengan kacang yang
keras dan pahit. Tidak ada kata untuk
hewan besar bertanduk yang mirip
rusa tapi jauh lebih besar.
Mereka meminjam kata-kata dari
penduduk asli Amerika. Dari bahasa
Indian inilah lahir kata-kata seperti
raccoon untuk hewan yang kita
kenal sebagai rakun, squash untuk
labu, moose untuk rusa besar,
skunk untuk sigung, dan hominy
untuk bubur jagung. Nama-nama
tempat juga banyak yang berasal dari
bahasa Indian. Mississippi,
Massachusetts, Chicago, Seattle,
Manhattan. Semua ini adalah
kata-kata asli yang diadopsi oleh para
pemukim karena tidak ada
padanannya dalam bahasa Inggris.
Para Puritan, yang mendominasi
pemukiman di New England,
memberikan pengaruh besar pada
kosakata keagamaan dan moral.
Mereka adalah kelompok yang sangat
serius dan taat. Bagi mereka, hidup
bukanlah untuk bersenang-senang,
melainkan untuk bekerja keras dan
beribadah. Dari merekalah lahir
kata-kata dan ungkapan yang masih
kita kenal sampai sekarang. Mereka
sering berbicara tentang sin, tentang
redemption, tentang providence.
Mereka percaya bahwa mereka
adalah “kota di atas bukit” yang
menjadi contoh bagi seluruh dunia.
Yang menarik, Bryson mencatat
bahwa sejak awal sudah terjadi
penyederhanaan ejaan dan
perbedaan dengan Inggris
Britania. Para pemukim ini bukanlah
orang yang berpendidikan tinggi.
Banyak dari mereka yang bahkan
tidak bisa membaca. Mereka menulis
sesuai dengan bunyi yang mereka
dengar. Ketika sebuah kata terdengar
seperti “fether”, mereka menulisnya
“fether”, bukan “feather”.
Toko menjadi “shoppe” atau “shop”,
tergantung siapa yang menulis.
Tidak ada kamus standar. Tidak ada
aturan baku. Setiap orang menulis
sesuka mereka.
Surat-surat dan dokumen dari masa
awal koloni menunjukkan betapa
kacaunya ejaan pada waktu itu.
Satu orang bisa menulis kata yang
sama dengan tiga cara berbeda dalam
satu halaman yang sama. Ini bukan
karena mereka bodoh. Ini karena
bahasa Inggris pada abad ke-17
memang belum distandardisasi,
bahkan di Inggris sekalipun. Tapi
di Amerika, kekacauan ini menjadi
lebih parah karena keterisolasian
dan kurangnya institusi pendidikan
formal.
Jadi, sejak awal, bahasa Inggris
di Amerika sudah berbeda dari bahasa
Inggris di Britania. Ia adalah campuran
dari berbagai dialek Inggris,
dipengaruhi oleh bahasa Indian,
dibentuk oleh semangat Puritan, dan
ditulis dengan ejaan yang semakin
lama semakin sederhana. Ini adalah
fondasi dari apa yang kelak menjadi
bahasa Inggris Amerika.
Bab 2: Becoming Americans
Bab ini menceritakan proses panjang
di mana para pemukim dan keturunan
mereka perlahan berhenti menyebut
diri sebagai orang Inggris dan mulai
menyebut diri sebagai orang
Amerika. Proses ini tidak terjadi
dalam semalam. Ia berlangsung
selama beberapa generasi, dan bahasa
adalah salah satu alat utamanya.
Orang-orang yang lahir di Amerika
tidak lagi memiliki aksen daerah
Inggris yang kental seperti orang tua
atau kakek-nenek mereka.
Di koloni-koloni yang berbeda,
mulai muncul aksen dan dialek lokal
yang berbeda satu sama lain. Orang
Boston tidak berbicara persis sama
dengan orang Virginia. Orang
Philadelphia memiliki logatnya
sendiri. Ini adalah awal dari apa yang
kelak menjadi aksen regional Amerika.
Tapi bahasa bukan hanya tentang
aksen. Ia juga tentang kosakata. Dan
di sinilah terjadi ledakan kata-kata
baru. Para pemukim menghadapi
kondisi alam yang sama sekali berbeda
dari Inggris. Inggris adalah negara
kecil dengan hutan yang sudah
dikelola selama ribuan tahun.
Amerika adalah benua raksasa
dengan hutan belantara yang belum
tersentuh. Tidak ada kata dalam
bahasa Inggris untuk menggambarkan
pengalaman ini. Maka, muncullah
istilah-istilah baru seperti
wilderness, backwoods, frontier,
clearing, backcountry.
Yang lebih penting lagi, para pemukim
mulai menciptakan sistem
pemerintahan sendiri yang berbeda
dari monarki Inggris. Mereka
memilih wakil-wakil mereka. Mereka
membuat undang-undang lokal. Dari
pengalaman inilah lahir kata-kata
politik yang diberi makna khas
Amerika. Kata congress dalam
bahasa Inggris dulunya hanya berarti
“pertemuan” atau “perkumpulan”.
Tapi di Amerika, ia menjadi nama
lembaga legislatif tertinggi.
Kata president dulunya hanya
berarti “ketua” atau “pemimpin rapat”.
Di Amerika, ia menjadi kepala negara.
Kata ballot yang berarti surat suara,
menjadi pusat dari sistem demokrasi
perwakilan. Kata senate dipinjam
dari Romawi kuno, tapi diisi dengan
makna Amerika.
Bryson menunjukkan bahwa proses
menjadi Amerika ini bukan hanya
politis, tapi juga linguistik.
Setiap kali seorang pemukim
menggunakan kata town meeting,
selectman, constable, sheriff,
ia sedang membangun identitas baru.
Ia bukan lagi sekadar orang Inggris
yang tinggal di seberang lautan.
Ia adalah warga dari sebuah
komunitas yang mengatur dirinya
sendiri.
Generasi pertama imigran mungkin
masih menyebut Inggris sebagai
“home”. Tapi anak-anak mereka,
yang lahir di tanah Amerika,
tidak lagi merasa bahwa Inggris
adalah rumah mereka. Mereka belum
pernah melihat Inggris. Bagi mereka,
rumah adalah desa di Massachusetts,
atau pertanian di Virginia, atau kota
pelabuhan di Pennsylvania. Bahasa
mereka mencerminkan kenyataan ini.
Mereka adalah orang Amerika, dan
mereka mulai berbicara dengan cara
yang berbeda.
Bab 3: A “Democratical
Phrenzy”: America in the
Age of Revolution
Bab ini membawa kita ke masa yang
paling bergolak dalam sejarah
Amerika: Revolusi. Bryson
menjelaskan bahwa revolusi bukan
hanya terjadi di medan perang.
Ia juga terjadi di dalam bahasa.
Retorika politik pada masa ini
melahirkan kata-kata dan semboyan
yang begitu kuat sehingga masih kita
gunakan sampai sekarang. Tyranny
menjadi kata untuk menggambarkan
Raja George III. Freedom dan
liberty menjadi seruan perang.
Inalienable rights atau hak-hak
yang tidak bisa dicabut, menjadi
fondasi dari Deklarasi Kemerdekaan.
Kata-kata ini bukanlah hal baru. Tapi
di masa revolusi, ia diberi bobot dan
urgensi yang belum pernah ada
sebelumnya.
Thomas Jefferson menulis Deklarasi
Kemerdekaan dengan pilihan kata
yang cermat. Ia tidak menulis
“kami ingin merdeka” atau
“kami pikir lebih baik kalau kami
memisahkan diri”. Ia menulis
tentang kebenaran yang
“terbukti dengan sendirinya”,
tentang hak-hak yang diberikan
oleh “Pencipta”, tentang “kehidupan,
kemerdekaan, dan pengejaran
kebahagiaan”. Kata-kata ini dipilih
bukan hanya untuk meyakinkan,
tapi juga untuk menginspirasi.
Ia berhasil.
Benjamin Franklin dan Thomas
Jefferson tidak hanya berdebat
tentang politik. Mereka juga berdebat
tentang bahasa. Franklin, yang selalu
praktis, mengusulkan reformasi ejaan
yang radikal. Ia ingin menghilangkan
huruf-huruf yang dianggapnya tidak
berguna. Huruf C, katanya, bisa
digantikan oleh K atau S. Jadi “cat”
akan ditulis “kat”, dan “city” akan
ditulis “sity”. Ide ini tidak pernah
diterima secara luas, tapi
menunjukkan bahwa para pendiri
bangsa sudah memikirkan tentang
bahasa Amerika yang terpisah dari
bahasa Inggris.
Pada masa inilah istilah
Americanism mulai dikenal. Kata
ini awalnya digunakan oleh orang
Inggris sebagai ejekan. Bagi mereka,
Americanism adalah penyimpangan
dari bahasa Inggris yang benar. Kata
“belittle”, misalnya, yang diciptakan
oleh Jefferson, diejek oleh para
kritikus Inggris sebagai kata kasar
yang tidak beradab. Tapi bagi orang
Amerika, Americanism justru menjadi
tanda kebanggaan. Mereka tidak lagi
peduli dengan standar Inggris.
Mereka memiliki bahasa mereka
sendiri.
Retorika revolusi juga melahirkan
banyak kata dan frasa yang masih
bertahan sampai sekarang. Patriot,
loyalist, traitor, freedom fighter.
Setiap pihak memiliki kosakata
sendiri untuk menggambarkan dirinya
dan musuhnya. Orang yang sama bisa
disebut “patriot” oleh satu pihak dan
“pemberontak” oleh pihak lain.
Bahasa adalah senjata, sama
tajamnya dengan pedang dan peluru.
Bab 4: Making a Nation
Setelah perang revolusi dimenangkan,
Amerika Serikat menghadapi
tantangan yang sama sekali baru.
Bagaimana cara menyatukan
tiga belas koloni yang berbeda
menjadi satu bangsa? Bagaimana
cara menciptakan identitas nasional
dari kumpulan negara bagian yang
masing-masing memiliki
kepentingan sendiri?
Konstitusi Amerika Serikat adalah
jawaban politiknya. Tapi ada juga
jawaban linguistiknya, dan di sinilah
Noah Webster masuk ke dalam
cerita.
Noah Webster adalah seorang guru
sekolah dari Connecticut. Ia percaya
bahwa untuk menjadi bangsa yang
benar-benar merdeka, Amerika
harus memiliki bahasanya sendiri.
Bukan hanya dialek atau aksen, tapi
sistem ejaan yang berbeda dari
Inggris. Webster menghabiskan
bertahun-tahun hidupnya untuk
menyusun kamus pertama bahasa
Inggris Amerika, yang diterbitkan
pada tahun 1828. Ini adalah proyek
raksasa. Ia mempelajari lebih dari
dua puluh bahasa untuk melacak
asal-usul kata. Ia menulis definisi
untuk lebih dari tujuh puluh ribu
kata, sebagian besar dengan tangan.
Webster tidak hanya
mendokumentasikan bahasa. Ia secara
sadar mengubahnya. Ia adalah orang
yang memutuskan bahwa orang
Amerika harus menulis color, bukan
colour. Center, bukan centre.
Honor, bukan honour. Theater,
bukan theatre. Defense, bukan
defence. Ini bukan sekadar selera
pribadi. Ini adalah tindakan politik.
Webster ingin menunjukkan bahwa
Amerika adalah bangsa yang
merdeka, dan kemerdekaan itu
harus tercermin dalam setiap aspek
kehidupan, termasuk ejaan.
Bryson mencatat bahwa tidak semua
usulan Webster diterima. Ia ingin
menulis “tung” untuk “tongue”,
“wimmen” untuk “women”, dan
“masheen” untuk “machine”.
Usulan-usulan radikal ini ditolak.
Tapi perubahan-perubahan yang
lebih moderat, seperti “color” dan
“center”, diterima secara luas dan
menjadi standar di Amerika
sampai sekarang.
Selain ejaan, pembentukan konstitusi
dan sistem federal juga memunculkan
kosakata politik dan hukum baru.
Kata federal sendiri menjadi sangat
penting. Sistem checks and
balances adalah konsep yang tidak
ada di Inggris. Supreme Court,
judicial review, impeachment,
veto, semua ini adalah istilah yang
diisi dengan makna Amerika.
Kata-kata ini bukan sekadar jargon
hukum. Ia adalah fondasi dari cara
Amerika mengatur dirinya sendiri.
Bryson menutup bagian ini dengan
pengamatan bahwa bahasa Amerika
adalah bahasa yang dibangun dengan
sengaja. Tidak seperti bahasa Inggris
Britania yang berevolusi secara
organik selama berabad-abad, bahasa
Inggris Amerika dibentuk oleh
keputusan-keputusan sadar. Webster
memutuskan bagaimana mengeja.
Para pendiri bangsa memutuskan
makna kata-kata politik. Para penulis
dan jurnalis memutuskan bagaimana
menceritakan kisah bangsa. Semua
ini adalah bagian dari proyek besar:
menciptakan sebuah bangsa dari nol,
dan menciptakan bahasa yang
mencerminkan identitas bangsa itu.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Bab 1
