Buku Der Ernährungskompass Bas Kast, Herbert Schäfer, Kenapa Protein Bikin Kenyang dan Langsing

Bas Kast, Herbert Schäfer
Bas Kast membuka bukunya dengan
membahas salah satu zat gizi yang
paling penting dan paling sering
disalahpahami: protein. Dari semua
jenis zat gizi yang kita kenal, yaitu
karbohidrat, lemak, dan protein, ada
satu yang memiliki kekuatan paling
besar dalam mengendalikan rasa
lapar. Zat itu adalah protein.
Temuan utama dari penelitian yang
dikumpulkan Kast sangat jelas. Dari
semua zat gizi, protein memberikan
rasa kenyang paling kuat.
Jika kamu makan sepiring makanan
yang didominasi oleh karbohidrat,
kamu mungkin akan merasa kenyang
dengan cepat, tapi rasa kenyang itu
tidak bertahan lama. Beberapa jam
kemudian, kamu sudah lapar lagi.
Sebaliknya, jika sepiring makananmu
mengandung cukup protein, rasa
kenyang itu akan bertahan jauh lebih
lama. Kamu tidak akan tergoda untuk
ngemil di antara waktu makan.
Yang lebih menarik lagi, tubuh kita
sebenarnya membakar lebih
banyak kalori saat mencerna
protein dibandingkan saat mencerna
karbohidrat atau lemak. Fenomena
ini disebut efek termogenesis.
Bayangkan tubuhmu seperti mesin.
Setiap kali kamu makan, mesin itu
harus bekerja untuk mencerna
makanan. Mencerna karbohidrat dan
lemak hanya membutuhkan sedikit
energi. Tapi mencerna protein
membutuhkan energi yang jauh lebih
besar. Sekitar dua puluh hingga
tiga puluh persen dari kalori yang
terkandung dalam protein habis
begitu saja untuk proses pencernaan
itu sendiri. Ini berarti, secara
otomatis, tubuhmu membakar lebih
banyak kalori hanya dengan
memproses makanan yang kaya
protein.
Mengapa protein bisa begitu efektif?
Mekanismenya terletak di otak kita.
Di dalam otak, ada semacam sensor
khusus yang sangat peka terhadap
asam amino, yaitu komponen
pembangun protein. Begitu kamu
makan cukup protein, sensor ini akan
mendeteksi bahwa kebutuhan protein
tubuh sudah terpenuhi. Sinyal
kemudian dikirim ke seluruh tubuh
yang isinya sederhana:
“Berhenti makan. Kita sudah dapat
apa yang kita butuhkan.” Rasa lapar
otomatis berkurang secara alami,
bukan karena kamu memaksakan diri
untuk berhenti, tapi karena tubuhmu
memang sudah merasa puas.
Inilah penjelasan mengapa pola
makan rendah protein sering
memicu makan berlebih. Jika
makanan yang kamu konsumsi
miskin protein, sensor asam amino
di otakmu tidak pernah mendapatkan
sinyal “cukup”. Akibatnya, tubuhmu
akan terus “memaksa” kamu untuk
makan lebih banyak, mencari protein
yang belum didapatkannya. Kamu
mungkin sebenarnya sudah makan
banyak, tapi karena yang kamu
makan kebanyakan karbohidrat dan
lemak tanpa protein yang memadai,
tubuhmu tetap merasa kekurangan.
Kamu akan terus merasa lapar, terus
ngemil, terus mencari makanan,
padahal kalori yang masuk sudah
sangat banyak.
Implikasi dari temuan ini sangat
praktis. Kamu tidak perlu menjadi
atlet binaraga atau mengikuti diet
tinggi protein yang ekstrem. Kast
tidak menyarankan kamu untuk
hanya makan dada ayam dan putih
telur sepanjang hari. Yang ia
sarankan jauh lebih sederhana:
pastikan setiap porsi
makananmu mengandung
sumber protein yang cukup.
Apa saja sumber protein itu?
Pilihannya sangat beragam. Ikan
adalah sumber protein yang sangat
baik, terutama ikan berlemak seperti
salmon yang juga mengandung asam
lemak omega-3 yang sehat untuk
jantung. Ayam adalah pilihan praktis
yang rendah lemak. Tahu dan tempe
adalah sumber protein nabati yang
luar biasa, terutama bagi mereka yang
ingin mengurangi konsumsi daging.
Kacang-kacangan seperti kacang
merah, kacang hijau, dan lentil tidak
hanya kaya protein, tapi juga kaya
serat. Telur adalah sumber protein
lengkap yang murah dan mudah
dimasak. Yogurt dan produk susu
lainnya juga mengandung protein
yang baik.
Kuncinya adalah konsistensi, bukan
ekstremitas. Jangan hanya makan
protein dalam jumlah besar sekali
sehari, lalu sisanya tanpa protein.
Sebarkan asupan proteinmu secara
merata di setiap waktu makan.
Sarapan dengan telur atau yogurt.
Makan siang dengan ikan atau tahu.
Makan malam dengan ayam atau
kacang-kacangan. Dengan cara ini,
sensor protein di otakmu akan terus
menerima sinyal bahwa kebutuhan
protein sudah terpenuhi sepanjang
hari. Akibatnya, rasa lapar akan lebih
terkendali, keinginan untuk ngemil
akan berkurang, dan tubuhmu akan
secara alami membakar lebih banyak
kalori hanya dari proses mencerna
makanan.
versi yang sederhana:
Oke, kita ganti buku lagi! Kali ini kita
ngomongin soal makanan, tapi bukan
resep-resepan. Kita ngomongin sains
di balik apa yang lo makan,
berdasarkan buku
Der Ernährungskompass (The Diet
Compass) karya Bas Kast. Penasaran
kenapa lo sering lapar padahal udah
makan banyak? Bab pertama ini
bakal ngejelasin.
Kenapa Protein Itu Bikin Lo
Kenyang dan Langsing?
Dari semua jenis zat gizi yang lo kenal
—karbohidrat, lemak, dan protein
ada satu yang punya kekuatan super
dalam mengendalikan rasa lapar lo.
Itu dia protein.
Temuan utama dari riset yang
dikumpulin Kast itu jelas banget.
Dari semua zat gizi, protein
ngasih rasa kenyang paling
kuat. Coba lo bandingin. Lo makan
sepiring makanan yang isinya
didominasi karbohidrat (nasi, mie,
roti). Lo bakal cepet kenyang, tapi
cepet juga lapar lagi. Beberapa jam
kemudian lo udah nyari cemilan lagi.
Nah, kalau sepiring makanan lo
mengandung cukup protein, rasa
kenyang itu bertahan jauh lebih
lama. Lo nggak bakal gampang
tergoda buat ngemil di antara
waktu makan.
Yang lebih keren lagi, tubuh lo itu
sebenernya bakar lebih banyak
kalori pas nyerna protein
dibanding pas nyerna karbohidrat
atau lemak. Ini namanya efek
termogenesis. Bayangin tubuh lo
kayak mesin. Tiap lo makan, mesin
itu harus kerja buat nyerna. Nyerna
karbohidrat dan lemak cuma butuh
dikit energi. Tapi nyerna protein?
Butuh energi yang jauh lebih gede.
Sekitar 20-30% dari kalori yang ada
di protein itu abis begitu aja buat
proses pencernaan itu sendiri!
Jadi, secara otomatis, tubuh lo udah
ngebakar lebih banyak kalori cuma
dengan memproses makanan yang
kaya protein.
Kenapa protein bisa seefektif itu?
Mekanismenya ada di otak lo.
Di dalem otak lo, ada sensor
khusus yang peka banget sama asam
amino, yaitu komponen pembangun
protein. Begitu lo makan cukup
protein, sensor ini bakal ngedeteksi
bahwa kebutuhan protein tubuh lo
udah terpenuhi. Trus dia ngirim
sinyal ke seluruh tubuh yang isinya
simpel: “Berhenti makan. Kita
udah dapet apa yang kita
butuhin.” Rasa lapar lo otomatis
berkurang secara alami, bukan
karena lo maksa diri buat berhenti,
tapi karena tubuh lo emang udah
ngerasa puas.
Nah, ini dia penjelasan kenapa pola
makan rendah protein sering
bikin lo makan berlebihan. Kalau
makanan yang lo konsumsi miskin
protein, sensor asam amino di otak
lo nggak pernah dapet sinyal “cukup”.
Akibatnya, tubuh lo bakal terus
“maksa” lo buat makan lebih banyak,
nyari protein yang belum dia dapetin.
Lo mungkin ngerasa udah makan
banyak, tapi karena isinya kebanyakan
karbo dan lemak tanpa protein yang
memadai, tubuh lo tetep ngerasa
kekurangan. Lo bakal terus ngerasa
lapar, terus ngemil, terus nyari
makanan, padahal kalori yang masuk
udah banyak banget.
Pelajaran praktisnya gini: lo nggak
perlu jadi atlet binaraga atau ikutin
diet tinggi protein yang ekstrem.
Kast nggak nyaranin lo cuma makan
dada ayam dan putih telur seharian.
Yang dia saranin jauh lebih simpel:
pastiin setiap porsi makanan
lo mengandung sumber protein
yang cukup.
Sumber protein itu macem-macem.
Ikan, terutama yang berlemak kayak
salmon, kaya protein dan omega-3.
Ayam, praktis dan rendah lemak.
Tahu dan tempe, sumber protein
nabati juara, apalagi buat yang mau
ngurangin daging. Kacang-kacangan
(kacang merah, lentil, dll)
kaya protein dan serat. Telur, murah,
gampang dimasak, protein lengkap.
Yogurt dan produk susu juga oke.
Kuncinya adalah konsistensi,
bukan ekstrem. Jangan cuma
makan protein banyak sekali sehari,
trus sisanya nol. Sebar asupan
protein lo merata di setiap waktu
makan. Sarapan telur atau yogurt,
makan siang ikan atau tahu, makan
malam ayam atau kacang-kacangan.
Dengan cara ini, sensor protein
di otak lo bakal terus-terusan nerima
sinyal aman, rasa lapar lo lebih
terkendali, keinginan ngemil
berkurang, dan tubuh lo secara alami
ngebakar lebih banyak kalori.
Simpel kan?
