filsafat

Tragedy of the Commons: Mengapa Sumber Daya Bersama Cenderung Rusak?

Pernahkah Anda melihat laut yang dulu penuh ikan, sekarang kosong? Pernahkah Anda melihat jalanan yang dulu lancar, sekarang macet setiap hari? Pernahkah Anda melihat taman yang dulu indah, sekarang penuh sampah? Pernahkah Anda melihat udara yang dulu bersih, sekarang berpolusi? Semua itu bukan kebetulan. Semua itu adalah contoh dari satu pola yang berulang. Pola itu bernama Tragedy of the Commons.

Tragedy of the Commons adalah situasi ketika sumber daya bersama, yang tidak dimiliki siapa pun secara pribadi, dieksploitasi berlebihan oleh banyak orang yang bertindak demi kepentingan sendiri. Akibatnya, sumber daya itu rusak atau habis. Semua orang rugi. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Tragedy of the Commons?

Istilah ini dipopulerkan oleh seorang ahli biologi bernama Garrett Hardin pada tahun 1968. Ia menulis artikel di jurnal Science yang berjudul “The Tragedy of the Commons.” Ia menggambarkan sebuah padang rumput bersama. Padang rumput itu terbuka untuk semua peternak. Setiap peternak ingin menambah ternaknya. Setiap tambahan ternak memberi keuntungan pribadi. Tetapi setiap tambahan ternak juga mengurangi rumput yang tersedia untuk semua. Jika semua peternak berpikir seperti itu, padang rumput itu akan habis. Semua ternak mati. Semua peternak rugi.

Inti dari tragedi ini adalah konflik antara kepentingan individu dan kepentingan bersama. Individu mendapat keuntungan langsung dari eksploitasi. Kerugiannya ditanggung bersama. Karena itu, individu cenderung terus mengeksploitasi. Lama-kelamaan, sumber daya bersama itu rusak.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya soal padang rumput. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Udara yang Anda hirup adalah sumber daya bersama. Air yang Anda minum adalah sumber daya bersama. Laut yang Anda nikmati adalah sumber daya bersama. Hutan yang Anda kagumi adalah sumber daya bersama. Jalan yang Anda lalui adalah sumber daya bersama. Internet yang Anda gunakan adalah sumber daya bersama. Kepercayaan yang Anda bangun dengan orang lain juga sumber daya bersama.

Ketika satu orang membuang sampah ke sungai, ia mendapat kemudahan. Ketika sejuta orang membuang sampah ke sungai, sungai itu mati. Ketika satu orang menangkap ikan sebanyak mungkin, ia mendapat keuntungan. Ketika sejuta orang menangkap ikan sebanyak mungkin, laut kehabisan ikan. Ketika satu orang menyebarkan hoaks, ia mendapat perhatian. Ketika sejuta orang menyebarkan hoaks, masyarakat kehilangan kepercayaan.

Tragedy of the Commons juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Di kantor, printer dan kertas adalah sumber daya bersama. Jika satu orang memakainya untuk keperluan pribadi, tidak apa-apa. Jika semua orang memakainya untuk keperluan pribadi, persediaan habis. Di rumah, dapur dan kamar mandi adalah sumber daya bersama. Jika satu orang tidak membersihkan, tidak apa-apa. Jika semua orang tidak membersihkan, rumah menjadi kotor. Di media sosial, perhatian adalah sumber daya bersama. Jika satu orang menyebarkan kebencian, tidak apa-apa. Jika semua orang menyebarkan kebencian, ruang publik menjadi beracun.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang nelayan pergi ke laut. Ia melihat ikan masih banyak. Ia menangkap sebanyak mungkin. Ia mendapat banyak uang. Nelayan lain melihat dan melakukan hal yang sama. Mereka semua menangkap sebanyak mungkin. Beberapa tahun kemudian, laut itu kosong. Tidak ada ikan lagi. Semua nelayan kehilangan mata pencaharian.

Seorang peternak menambah satu sapi ke padang rumput bersama. Ia mendapat keuntungan. Peternak lain menambah satu sapi juga. Mereka semua menambah sapi. Padang rumput itu tidak lagi cukup. Rumput habis. Tanah menjadi gundul. Semua sapi mati. Semua peternak rugi.

Seorang pengguna media sosial melihat berita yang belum jelas kebenarannya. Ia membagikannya karena ingin terlihat tahu. Ia mendapat banyak suka. Pengguna lain melakukan hal yang sama. Mereka semua membagikan berita palsu. Masyarakat menjadi bingung. Kepercayaan pada media hilang. Semua orang rugi.

Seorang karyawan memakai kertas kantor untuk mencetak dokumen pribadi. Ia menghemat uang. Karyawan lain melakukan hal yang sama. Persediaan kertas habis. Perusahaan harus membeli lebih banyak. Biaya naik. Bonus karyawan berkurang. Semua orang rugi.

Seorang warga membuang sampah ke saluran air. Ia menghemat waktu. Warga lain melakukan hal yang sama. Saluran air tersumbat. Banjir datang. Rumah semua orang terendam. Semua orang rugi.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Tragedy of the Commons bukan hanya teori. Ia terjadi di sekitar kita. Ia terjadi pada kita. Ia terjadi karena kita.

Tiga Fase Tragedy of the Commons

Fase pertama, sumber daya masih melimpah. Semua orang merasa bahwa tidak ada masalah. Eksploitasi kecil tidak terasa. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang bertindak.

Fase kedua, sumber daya mulai menipis. Beberapa orang menyadari bahwa ada masalah. Tetapi mereka berpikir, “Jika saya berhenti, orang lain akan terus mengambil. Saya akan rugi.” Jadi, mereka terus mengambil. Eksploitasi meningkat.

Fase ketiga, sumber daya rusak atau habis. Semua orang rugi. Tidak ada yang bisa mengambil lagi. Penyesalan datang terlambat. Tidak ada yang mau bertanggung jawab. Semua menyalahkan orang lain.

Solusi-Solusi yang Ditawarkan

Para ekonom dan filsuf sudah mencoba menyelesaikan masalah ini. Tidak ada satu solusi yang sempurna. Tetapi ada beberapa pendekatan yang menarik.

Yang pertama adalah regulasi pemerintah. Pemerintah membuat aturan. Pemerintah membatasi jumlah tangkapan ikan. Pemerintah membatasi jumlah ternak. Pemerintah melarang pembuangan sampah ke sungai. Pemerintah memberikan sanksi bagi pelanggar. Regulasi bisa efektif. Tetapi regulasi juga bisa korup. Regulasi juga bisa tidak adil.

Yang kedua adalah privatisasi. Sumber daya bersama diubah menjadi milik pribadi. Pemilik punya kepentingan untuk merawat. Pemilik tidak akan menghabiskan sumber dayanya sendiri. Privatisasi bisa efektif. Tetapi privatisasi juga bisa tidak adil. Orang kaya bisa membeli semuanya. Orang miskin kehilangan akses.

Yang ketiga adalah pengelolaan komunitas. Pendekatan ini dikembangkan oleh Elinor Ostrom. Ia memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2009. Ia menunjukkan bahwa komunitas lokal sering bisa mengelola sumber daya bersama dengan baik. Mereka membuat aturan sendiri. Mereka mengawasi sendiri. Mereka memberi sanksi sendiri. Pengelolaan komunitas bisa efektif. Tetapi pengelolaan komunitas juga butuh kepercayaan. Butuh komunikasi. Butuh kepemimpinan.

Yang keempat adalah pajak dan insentif. Pemerintah memberi pajak pada eksploitasi. Pemerintah memberi insentif pada konservasi. Pajak membuat eksploitasi lebih mahal. Insentif membuat konservasi lebih menguntungkan. Pendekatan ini bisa efektif. Tetapi pajak dan insentif juga bisa disalahgunakan.

Yang kelima adalah norma sosial. Masyarakat membangun budaya peduli. Masyarakat mengajarkan bahwa eksploitasi berlebihan itu salah. Masyarakat memberi penghargaan pada yang merawat. Masyarakat memberi sanksi sosial pada yang merusak. Norma sosial bisa efektif. Tetapi norma sosial butuh waktu. Butuh pendidikan. Butuh keteladanan.

Kritik terhadap Solusi-Solusi

Setiap solusi punya kritik. Regulasi dianggap terlalu kaku. Privatisasi dianggap tidak adil. Pengelolaan komunitas dianggap tidak selalu bisa diterapkan. Pajak dan insentif dianggap bisa dimanipulasi. Norma sosial dianggap terlalu lambat. Tidak ada solusi yang sempurna. Setiap solusi punya risiko. Setiap solusi punya batas.

Cara Menyikapi Tragedy of the Commons

Pertama, sadari bahwa Anda adalah bagian dari masalah. Setiap kali Anda membuang sampah sembarangan, Anda berkontribusi pada tragedi. Setiap kali Anda mengambil lebih dari yang Anda butuhkan, Anda berkontribusi pada tragedi. Sadari itu.

Kedua, batasi diri Anda. Anda tidak perlu mengambil sebanyak mungkin. Anda tidak perlu mengeksploitasi tanpa batas. Ambil secukupnya. Sisakan untuk orang lain. Sisakan untuk masa depan.

Ketiga, dukung aturan yang adil. Ketika pemerintah membuat aturan untuk melindungi sumber daya bersama, dukung. Ketika ada sanksi bagi pelanggar, dukung. Jangan melanggar hanya karena Anda bisa.

Keempat, bangun norma sosial. Ajarkan pada anak-anak Anda untuk peduli pada lingkungan. Ajarkan pada teman-teman Anda untuk tidak menyebarkan hoaks. Ajarkan pada rekan kerja Anda untuk tidak memakai sumber daya kantor untuk keperluan pribadi. Jadilah teladan.

Kelima, jaga kepercayaan. Kepercayaan adalah sumber daya bersama. Ketika Anda berbohong, Anda merusak kepercayaan. Ketika Anda menepati janji, Anda membangun kepercayaan. Jaga kepercayaan seperti Anda menjaga air bersih.

Keenam, berpikirlah jangka panjang. Jangan hanya mengejar keuntungan sesaat. Pikirkan akibat jangka panjang. Pikirkan anak cucu Anda. Pikirkan dunia yang akan mereka warisi.

Ketujuh, bekerja samalah. Tragedy of the Commons tidak bisa diselesaikan sendirian. Butuh kerja sama. Butuh dialog. Butuh kesepakatan. Butuh pengawasan bersama. Jangan menunggu orang lain. Mulailah dari diri Anda. Ajak orang lain.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Tragedy of the Commons adalah masalah yang rumit. Tidak ada solusi yang sempurna. Terimalah bahwa Anda harus terus belajar. Terus mencoba. Terus memperbaiki.

Penutup

Tragedy of the Commons mengajarkan satu hal yang menantang. Sumber daya bersama cenderung rusak ketika individu bertindak demi kepentingan sendiri tanpa memikirkan kepentingan bersama. Kita semua adalah individu. Kita semua punya kepentingan sendiri. Tetapi kita juga adalah bagian dari komunitas. Kita juga bergantung pada sumber daya bersama.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika semua orang egois, sumber daya bersama akan habis. Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita bisa memilih untuk tidak egois. Kita bisa memilih untuk peduli. Kita bisa memilih untuk bekerja sama. Kita bisa memilih untuk menjaga sumber daya bersama.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah mengambil lebih dari yang Anda butuhkan? Apakah Anda pernah merusak sumber daya bersama tanpa menyadarinya? Dan jika ya, apakah Anda siap untuk mulai mengubah kebiasaan Anda? Apakah Anda siap untuk mulai menjaga apa yang kita miliki bersama?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai sumber daya bersama dalam hidup Anda.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Tragedy of the Commons: Kenapa Sumber Daya Bersama Selalu Habis Kalau Nggak Ada yang Ngatur?

Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi di jalan raya. Macet parah. Lo liat ke kiri. Ke kanan. Semua mobil berdesakan. Semua orang pengen cepet. Semua orang pengen duluan. Semua orang pake bahu jalan. Semua orang nyerobot lampu merah. Dan ujungnya? Macet makin parah. Nggak ada yang gerak. Nggak ada yang sampe. Semua stuck.

Terus lo mikir. “Kok bisa ya? Padahal kalo semua orang sabar, semua orang tertib, semua orang ikutin aturan, jalan ini bisa lancar. Tapi karena semua orang mau menang sendiri, semua orang jadi kalah.”

Itulah yang disebut Tragedy of the Commons. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat sumber daya bersama, kerja sama, dan egoisme dengan mata yang beda.

Sebenernya Tragedy of the Commons Itu Apa Sih?

Tragedy of the Commons itu simpelnya gini: sumber daya bersama yang terbatas, dipake sama banyak orang yang punya kepentingan sendiri-sendiri. Tiap orang ngambil sebanyak mungkin buat dirinya sendiri. Karena nggak ada yang ngatur. Ujungnya, sumber daya itu habis. Semua orang rugi.

Istilah ini dipopulerin sama ahli ekologi namanya Garrett Hardin tahun 1968. Dia nulis artikel di jurnal Science. Judulnya “The Tragedy of the Commons.” Artikel itu bikin heboh. Karena dia nunjukin sesuatu yang sederhana tapi dalem.

Hardin ngasih contoh klasik. Bayangin ada padang rumput bersama. Semua peternak boleh nggembalain ternak di situ. Padang itu terbatas. Kalo semua peternak ngambil secukupnya, padang itu bisa bertahan. Rumput bisa tumbuh lagi. Semua untung.

Tapi tiap peternak punya insentif buat nambah ternak. Karena kalo dia nambah satu ternak, dia dapet untung lebih. Kerugiannya dibagi bareng semua peternak. Jadi, secara individual, nambah ternak selalu menguntungkan. Tapi secara kolektif, kalo semua nambah terus, padang itu rusak. Rumput habis. Semua ternak mati. Semua peternak rugi.

Itulah tragedinya. Pilihan yang rasional secara individual bikin bencana secara kolektif.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma soal peternak. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Tragedy of the Commons nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah kejebak macet yang nggak ada ujungnya. Semua orang nyerobot. Semua orang pake bahu jalan. Semua orang mau duluan. Dan ujungnya, semua stuck. Itu tragedy of the commons. Jalan raya itu sumber daya bersama. Semua orang mau pake sebanyak mungkin. Tapi karena nggak ada yang ngatur, semua rugi.

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bahwa fasilitas umum selalu rusak. Taman yang kotor. Toilet umum yang jorok. Halte yang rusak. Bangku yang dicorat-coret. Semua itu karena orang pake fasilitas umum tanpa ngerawat. Karena ngerasa bukan milik sendiri. Karena ngerasa ada yang ngerawat. Padahal nggak ada.

Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lingkungan makin rusak. Sampah di mana-mana. Sungai kotor. Udara tercemar. Hutan gundul. Semua itu karena orang ngambil sumber daya tanpa mikirin akibat. Karena ngerasa bahwa kerusakan itu tanggung jawab orang lain. Karena ngerasa bahwa satu orang nggak akan ngaruh.

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa kerja kelompok selalu gagal. Lo punya tugas kelompok. Semua orang punya kepentingan sendiri. Ada yang sibuk. Ada yang males. Ada yang nungguin. Ada yang ngerjain. Dan ujungnya, yang ngerjain capek. Yang nggak ngerjain santai. Tapi nilai dibagi rata.

Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa sumber daya di kantor selalu habis. Kertas. Tinta. Kopi. Gula. Sendok. Semua cepet habis. Karena semua orang ngambil tanpa mikirin orang lain. Karena ngerasa bahwa itu bukan milik sendiri. Karena ngerasa bahwa ada yang ngisi ulang.

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Tragedy of the Commons

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah kejebak macet karena semua orang nyerobot? Itu tanda lo lagi ngalamin tragedy of the commons.

  2. Lo pernah liat fasilitas umum rusak karena nggak dirawat? Itu tanda lo lagi liat tragedi ini.

  3. Lo pernah ngerasa bahwa lingkungan makin rusak karena ulah manusia? Itu tanda lo lagi nyentuh masalah ini.

  4. Lo pernah ngerasa bahwa kerja kelompok selalu gagal? Itu tanda lo lagi ngalamin tragedi ini.

  5. Lo pernah mikir “kalo semua orang mikir kayak gue, apa yang terjadi?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti tragedi ini.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener manusiawi. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di jalan raya. Jalan raya itu sumber daya bersama. Semua orang punya hak pake. Tapi kalo semua orang nyerobot, semua orang pake bahu jalan, semua orang nggak sabar, maka jalan itu macet total. Semua orang rugi. Nggak ada yang sampe cepet. Padahal kalo semua orang tertib, semua orang bisa jalan lancar.

Di perairan. Laut itu sumber daya bersama. Semua nelayan punya hak nangkap ikan. Tapi kalo semua nelayan nangkap sebanyak mungkin, pake jaring besar, pake bom, pake racun, maka ikan di laut bakal habis. Semua nelayan rugi. Nggak ada yang dapet ikan. Padahal kalo semua nelayan nangkap secukupnya, ikan bisa berkembang biak. Semua bisa dapet.

Di udara. Udara itu sumber daya bersama. Semua orang punya hak pake. Tapi kalo semua pabrik buang asap tanpa filter, semua mobil buang emisi tanpa kontrol, maka udara jadi tercemar. Semua orang rugi. Semua orang sakit. Padahal kalo semua pabrik dan mobil dikontrol, udara bisa bersih. Semua bisa sehat.

Di air tanah. Air tanah itu sumber daya bersama. Semua orang punya hak ambil. Tapi kalo semua orang bikin sumur bor, ambil air sebanyak mungkin, pake buat industri, pake buat kolam, maka air tanah bakal habis. Tanah bakal amblas. Semua orang rugi. Padahal kalo semua orang ambil secukupnya, air tanah bisa terisi lagi. Semua bisa dapet.

Di medsos. Perhatian itu sumber daya bersama. Semua orang punya hak dapet perhatian. Tapi kalo semua orang bikin konten yang clickbait, semua orang nyebarin hoaks, semua orang bikin drama, maka perhatian itu jadi murah. Semua orang rugi. Nggak ada yang dipercaya. Nggak ada yang dihargain. Padahal kalo semua orang bikin konten yang berkualitas, perhatian itu jadi berharga. Semua bisa untung.

Di kantor. Fasilitas kantor itu sumber daya bersama. Kertas. Tinta. Kopi. Gula. Sendok. Tapi kalo semua orang ngambil tanpa mikirin orang lain, maka fasilitas itu cepet habis. Semua orang rugi. Nggak ada yang bisa pake. Padahal kalo semua orang ngambil secukupnya, fasilitas itu bisa bertahan lama. Semua bisa pake.

Di diri lo sendiri. Waktu lo itu sumber daya bersama. Bukan cuma milik lo. Tapi juga milik keluarga lo. Milik temen lo. Milik kerjaan lo. Milik komunitas lo. Kalo lo pake waktu lo cuma buat diri sendiri, tanpa mikirin orang lain, maka hubungan lo bisa rusak. Semua orang rugi. Padahal kalo lo pake waktu lo dengan seimbang, semua bisa untung.

Fase-Fase Lo Ngadepin Tragedy of the Commons

Fase pertama: lo ngambil sebanyak mungkin.
Lo pake sumber daya bersama. Lo ambil sebanyak yang lo bisa. Lo pikir, “Ah, cuma sekali ini.” Lo pikir, “Ah, orang lain juga gitu.” Lo pikir, “Ah, nggak akan ngaruh.” Dan lo terus ambil. Dan lo terus pake. Dan lo terus nikmatin.

Fase kedua: lo ngerasa ada yang salah.
Lo mulai ngeh bahwa sumber daya itu makin menipis. Lo mulai ngeh bahwa fasilitas itu makin rusak. Lo mulai ngeh bahwa lingkungan itu makin kotor. Lo mulai ngeh bahwa kerja kelompok itu makin gagal. Lo mulai mikir, “Kok bisa?”

Fase ketiga: lo nyari jalan keluar.
Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai nyari cara buat ngatasi. Lo mulai belajar bahwa ada beberapa solusi. Ada yang bilang harus ada yang ngatur. Ada yang bilang harus ada yang punya. Ada yang bilang harus ada yang jaga. Ada yang bilang harus ada kesepakatan. Lo mulai nemuin posisi lo sendiri.

Kritik: Kenapa Banyak yang Bilang Tragedy of the Commons Nggak Selalu Terjadi?

Tragedy of the Commons nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan ilmuwan nolak atau ngeraguin konsep ini.

Pertama, masalah Elinor Ostrom. Ada ekonom namanya Elinor Ostrom. Dia nulis buku terkenal tahun 1990. Judulnya Governing the Commons. Dia nunjukin bahwa banyak komunitas di seluruh dunia berhasil ngatur sumber daya bersama tanpa privatisasi. Tanpa pemerintah. Tanpa pasar. Cuma dengan kesepakatan lokal. Cuma dengan aturan bersama. Cuma dengan kepercayaan.

Kedua, masalah asumsi. Hardin ngasumsiin bahwa semua orang egois. Bahwa semua orang cuma mikirin diri sendiri. Padahal dalam kenyataan, banyak orang peduli sama orang lain. Banyak orang mau kerja sama. Banyak orang mau ngorbanin sedikit buat kebaikan bersama.

Ketiga, masalah konteks. Nggak semua sumber daya bersama mengalami tragedi. Ada yang berhasil dijaga. Ada yang berhasil diatur. Ada yang berhasil dilestarikan. Tergantung konteks. Tergantung budaya. Tergantung kepercayaan. Tergantung aturan.

Keempat, masalah solusi. Hardin bilang solusinya cuma dua. Privatisasi. Atau pemerintah. Tapi Ostrom nunjukin bahwa ada solusi ketiga. Komunitas. Kesepakatan. Aturan bersama. Dan itu sering lebih efektif dari dua solusi pertama.

Kelima, masalah sejarah. Tragedi of the Commons sering dipake buat membenarkan pengambilalihan tanah adat. Dipake buat membenarkan privatisasi. Dipake buat membenarkan kontrol pemerintah. Padahal nggak selalu gitu. Banyak komunitas adat yang berhasil ngatur sumber daya mereka selama berabad-abad.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Tragedy of the Commons bilang, kritik itu valid. Tapi nggak bikin tragedinya hilang.

Mereka bilang, tragedi ini emang terjadi. Bukan cuma di teori. Bukan cuma di buku. Tapi di dunia nyata. Di laut. Di udara. Di hutan. Di jalan raya. Di kantor. Di mana-mana.

Mereka bilang, tragedi ini terjadi kalo nggak ada aturan. Kalo nggak ada kepercayaan. Kalo nggak ada kesepakatan. Kalo nggak ada yang jaga. Jadi, solusinya bukan nolak tragedinya. Tapi nyari cara buat ngatasinya.

Mereka bilang, tragedi ini ngingetin kita buat nggak egois. Buat mikirin orang lain. Buat mikirin jangka panjang. Buat mikirin akibat dari tindakan kita.

Mereka bilang, tragedi ini ngedorong kita buat bikin aturan. Bikin kesepakatan. Bikin sistem. Bikin komunitas. Karena tanpa itu, sumber daya bersama bakal habis. Semua orang bakal rugi.

Cara Nyikapin Tragedy of the Commons Tanpa Kehilangan Akal

1. Sadari bahwa lo bagian dari sistem.
Lo nggak hidup sendirian. Lo hidup bareng orang lain. Lo pake sumber daya bersama. Lo nikmatin fasilitas bersama. Lo punya tanggung jawab bersama. Sadari itu. Jangan cuma mikirin diri sendiri.

2. Jangan ngambil berlebihan.
Ambil secukupnya. Jangan lebih. Jangan serakah. Jangan mikir “cuma sekali ini.” Jangan mikir “orang lain juga gitu.” Jangan mikir “nggak akan ngaruh.” Karena kalo semua orang mikir gitu, sumber daya itu bakal habis.

3. Jaga apa yang lo pake.
Kalo lo pake fasilitas umum, jaga. Kalo lo pake sumber daya bersama, rawat. Kalo lo pake lingkungan, lestarikan. Jangan cuma pake. Jangan cuma nikmatin. Jangan cuma ambil. Rawat. Jaga. Lestarikan.

4. Bikin aturan bersama.
Kalo lo bagian dari komunitas, bikin aturan. Bikin kesepakatan. Bikin sistem. Yang jelas. Yang adil. Yang bisa ditegakkan. Yang bisa dipatuhi. Aturan itu nggak perlu rumit. Yang penting jelas dan adil.

5. Bangun kepercayaan.
Aturan nggak cukup tanpa kepercayaan. Kalo semua orang curiga, aturan nggak akan jalan. Bangun kepercayaan. Tepatin janji. Jujur. Konsisten. Transparan. Dengan kepercayaan, kerja sama jadi lebih mungkin.

6. Kasih konsekuensi.
Kalo ada yang ngelanggar, kasih konsekuensi. Bukan hukuman yang kejam. Tapi konsekuensi yang adil. Yang bikin orang mikir. Yang bikin orang nggak ngulangin. Yang bikin orang belajar.

7. Libatkan semua orang.
Jangan bikin aturan sendirian. Libatkan semua orang. Dengerin suara mereka. Hormati pendapat mereka. Kalo semua orang ngerasa dilibatkan, semua orang bakal lebih patuh. Kalo semua orang ngerasa dihargain, semua orang bakal lebih peduli.

8. Pikirkan jangka panjang.
Jangan cuma mikirin sekarang. Pikirin besok. Pikirin minggu depan. Pikirin tahun depan. Pikirin anak lo. Pikirin cucu lo. Pikirin generasi yang bakal dateng. Karena sumber daya ini bukan cuma milik lo. Tapi juga milik mereka.

9. Jangan jadi free rider.
Jangan cuma nikmatin tanpa berkontribusi. Jangan cuma ambil tanpa ngasih. Jangan cuma pake tanpa ngerawat. Jangan cuma nuntut tanpa kerja. Jadi bagian dari solusi. Bukan bagian dari masalah.

10. Terima bahwa lo nggak bisa ngontrol semua orang.
Lo nggak bisa maksa semua orang buat peduli. Lo nggak bisa maksa semua orang buat kerja sama. Tapi lo bisa mulai dari diri sendiri. Lo bisa jadi contoh. Lo bisa ngajak. Lo bisa ngaruhin. Satu orang bisa bikin perbedaan.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Kehabisan Sumber Daya

Yang paling lo takutin bukan kehabisan sumber daya. Bukan kerusakan. Bukan kelangkaan.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo udah jadi bagian dari masalah. Kalo lo sadar lo udah ngambil lebih dari yang lo butuh. Kalo lo sadar lo udah ngerusak fasilitas yang orang lain pake. Kalo lo sadar lo udah ngerusak lingkungan yang orang lain butuh. Kalo lo sadar lo udah jadi orang yang lo benci. Dan lo nggak ngeh. Karena semua orang juga gitu.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa berubah. Kalo lo sadar, lo bisa ambil secukupnya. Kalo lo sadar, lo bisa ngerawat. Kalo lo sadar, lo bisa kerja sama. Kalo lo sadar, lo bisa nemuin solusi.

Tragedy of the Commons bukan tentang nyalahin diri lo. Dia tentang ngingetin lo bahwa lo bagian dari sistem. Dia tentang ngingetin lo bahwa lo punya tanggung jawab. Dia tentang ngingetin lo bahwa kerja sama itu mungkin. Dan kerja sama itu perlu.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Tragedy of the Commons ngajarin satu hal yang menantang. Sumber daya bersama yang terbatas, dipake sama banyak orang yang punya kepentingan sendiri-sendiri. Tiap orang ngambil sebanyak mungkin. Karena nggak ada yang ngatur. Ujungnya, sumber daya itu habis. Semua orang rugi.

Ini bisa berasa menakutkan. Kalo semua orang egois, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo semua orang egois, lo bisa milih buat nggak egois. Lo bisa milih buat kerja sama. Lo bisa milih buat jadi bagian dari solusi.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah kejebak macet karena semua orang nyerobot? Lo pernah liat fasilitas umum rusak karena nggak dirawat? Lo pernah ngerasa bahwa lingkungan makin rusak karena ulah manusia?

Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo ikut ngambil? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai ngerawat? Apa lo mulai kerja sama?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai milih.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa sumber daya bersama itu bukan cuma milik lo. Tapi juga milik orang lain. Dan milik generasi yang bakal dateng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *