filsafat

Mereological Nihilism: Apakah Meja, Kursi, dan Tubuh Anda Benar-Benar Ada?

Pernahkah Anda duduk di kursi, lalu tiba-tiba bertanya, “Apakah kursi ini benar-benar ada?” Anda menyentuhnya. Anda merasakannya. Anda melihatnya. Tentu saja kursi itu ada. Anda tidak perlu meragukannya. Tetapi bagaimana jika seseorang berkata, “Sebenarnya, kursi itu tidak ada. Yang ada hanyalah kumpulan atom yang kebetulan berkumpul. Kata ‘kursi’ hanyalah label yang kita berikan. Tidak ada kursi yang benar-benar ada.”

Anda mungkin menganggap orang itu gila. Tetapi ada filsuf yang serius mengatakan hal itu. Pandangan itu bernama Mereological Nihilism. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Mereological Nihilism?

Mereological Nihilism adalah pandangan dalam metafisika yang mengatakan bahwa objek komposit, yaitu objek yang tersusun dari bagian-bagian, tidak benar-benar ada. Yang benar-benar ada hanyalah objek sederhana, yaitu objek yang tidak punya bagian. Objek sederhana itu bisa berupa partikel fundamental seperti quark, elektron, atau apa pun yang ditemukan fisika sebagai penyusun paling dasar alam semesta.

Menurut pandangan ini, meja bukanlah objek. Kursi bukanlah objek. Mobil bukanlah objek. Tubuh Anda bukanlah objek. Semua itu hanyalah kumpulan partikel. Kita memberi mereka nama karena memudahkan hidup. Kita bilang “meja” karena kita ingin menaruh gelas di atasnya. Kita bilang “kursi” karena kita ingin duduk. Kita bilang “tubuh” karena kita ingin menunjuk diri sendiri. Tetapi sebenarnya, tidak ada meja, kursi, atau tubuh. Yang ada hanyalah partikel-partikel yang tersusun dalam pola tertentu.

Mereological Nihilism berbeda dari sekadar mengatakan bahwa meja terbuat dari kayu. Kayu juga tersusun dari molekul. Molekul tersusun dari atom. Atom tersusun dari proton, neutron, dan elektron. Proton dan neutron tersusun dari quark. Jika kita terus membagi, akhirnya kita sampai pada partikel yang tidak bisa dibagi lagi. Itulah objek sederhana. Hanya objek sederhana itu yang benar-benar ada. Semua yang lain hanyalah cara kita berbicara.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya permainan filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda merasa bahwa diri Anda hanyalah kumpulan sel? Pernahkah Anda merasa bahwa “saya” itu tidak nyata? Pernahkah Anda merasa bahwa identitas Anda hanyalah cerita yang Anda bangun? Mereological Nihilism menyentuh pertanyaan tentang siapa Anda sebenarnya.

Pernahkah Anda kehilangan seseorang, lalu bertanya, “Apakah orang itu benar-benar ada? Atau hanya kumpulan sel yang sekarang sudah terurai?” Mereological Nihilism menyentuh pertanyaan tentang hidup dan mati.

Pernahkah Anda merasa bahwa dunia ini tidak nyata? Bahwa semua yang Anda lihat hanyalah ilusi? Mereological Nihilism menyentuh pertanyaan tentang realitas.

Pandangan ini juga muncul dalam sains. Fisika modern menunjukkan bahwa materi sebagian besar adalah ruang kosong. Atom terdiri dari inti yang sangat kecil dan elektron yang mengorbit jauh. Jika Anda membayangkan atom sebagai stadion sepak bola, intinya hanyalah kelereng di tengah lapangan. Sisanya adalah kekosongan. Jadi, apa sebenarnya yang kita sentuh ketika kita menyentuh meja? Kita tidak menyentuh materi padat. Kita menyentuh medan gaya. Apakah itu berarti meja tidak ada?

Pandangan ini juga muncul dalam teknologi. Ketika Anda melihat gambar di layar, gambar itu tersusun dari piksel. Piksel tersusun dari sub-piksel. Tidak ada gambar yang benar-benar ada. Yang ada hanyalah titik-titik cahaya. Tetapi mata Anda melihat gambar. Apakah gambar itu nyata? Atau hanya ilusi?

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa belajar filsafat. Ia membaca tentang Mereological Nihilism. Ia mulai bertanya, “Apakah meja yang saya tulis ini benar-benar ada? Atau hanya kumpulan atom?” Ia menyentuh meja itu. Ia merasa padat. Tetapi ia juga tahu bahwa sebagian besar meja itu adalah ruang kosong. Ia merasa bingung. Ia merasa bahwa realitas tidak sesederhana yang ia kira.

Seorang karyawan bekerja di kantor. Ia duduk di kursi. Ia mengetik di komputer. Ia merasa bahwa kursi dan komputer itu nyata. Tetapi ia baru membaca tentang Mereological Nihilism. Ia bertanya, “Apakah kursi ini benar-benar ada? Atau saya hanya memberi nama pada kumpulan plastik dan logam?” Ia merasa aneh. Ia merasa bahwa ia sedang menipu dirinya sendiri.

Seorang ibu memeluk anaknya. Ia merasakan kehangatan. Ia merasakan cinta. Ia merasa bahwa anaknya nyata. Tetapi ia juga tahu bahwa anaknya tersusun dari sel-sel. Sel-sel tersusun dari molekul. Molekul tersusun dari atom. Apakah anaknya benar-benar ada? Atau hanya kumpulan partikel yang kebetulan hidup? Ia tidak mau memikirkan itu. Ia hanya ingin memeluk anaknya.

Seorang pengguna media sosial melihat fotonya sendiri. Ia melihat wajahnya. Ia melihat tubuhnya. Ia merasa bahwa dirinya nyata. Tetapi ia juga tahu bahwa tubuhnya terus berubah. Sel-selnya mati dan diganti. Dalam beberapa tahun, tidak ada satu pun sel yang sama. Apakah ia masih orang yang sama? Atau ia hanyalah kumpulan sel yang terus berganti?

Seorang filsuf merenung tentang alam semesta. Ia melihat bintang-bintang. Ia melihat galaksi. Ia melihat dirinya sendiri. Ia bertanya, “Apakah semua ini nyata? Atau hanya kumpulan partikel yang bergerak menurut hukum fisika?” Ia tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Ia hanya bisa kagum pada misteri keberadaan.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Mereological Nihilism bukan hanya teori. Ia menyentuh pengalaman kita tentang realitas, identitas, dan makna.

Tiga Fase Menghadapi Mereological Nihilism

Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda melihat meja. Anda melihat kursi. Anda melihat tubuh Anda. Anda merasa bahwa semuanya jelas. Anda tidak pernah mempertanyakan apakah benda-benda itu benar-benar ada.

Fase kedua, Anda merasa bingung. Anda membaca tentang Mereological Nihilism. Anda menyadari bahwa benda-benda itu tersusun dari bagian-bagian. Anda mulai bertanya, “Jika semua benda tersusun dari bagian, apakah ada yang benar-benar ada? Atau hanya bagian terkecil yang ada?”

Fase ketiga, Anda mencari posisi. Anda menyadari bahwa tidak ada jawaban yang mudah. Anda mulai memilih cara memahami realitas. Anda mungkin menerima bahwa hanya partikel dasar yang ada. Anda mungkin menerima bahwa benda komposit juga ada. Anda mungkin memilih jalan tengah. Yang penting, Anda tidak lagi menerima begitu saja.

Tanggapan-Tanggapan terhadap Mereological Nihilism

Mereological Nihilism tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf menolak atau meragukan pandangan ini.

Pertama, apakah pandangan ini masuk akal? Kita jelas melihat meja. Kita jelas duduk di kursi. Kita jelas memeluk anak kita. Jika semua itu tidak ada, mengapa kita bisa mengalaminya? Apakah pengalaman kita menipu kita?

Kedua, apakah pandangan ini berguna? Jika meja tidak ada, mengapa kita harus merawatnya? Jika tubuh tidak ada, mengapa kita harus merawatnya? Jika semua hanya partikel, mengapa kita harus peduli pada apa pun?

Ketiga, apakah pandangan ini konsisten? Jika hanya partikel dasar yang ada, bagaimana partikel-partikel itu bisa berkumpul? Apakah ada hukum yang mengatur? Apakah hukum itu ada? Jika hukum itu ada, apakah hukum itu juga partikel? Jika tidak, maka ada sesuatu selain partikel.

Keempat, apakah pandangan ini mengabaikan tingkat realitas? Mungkin ada tingkat-tingkat realitas. Partikel dasar ada pada tingkat paling dasar. Benda komposit ada pada tingkat yang lebih tinggi. Keduanya nyata, tetapi dengan cara yang berbeda.

Cara Menyikapi Mereological Nihilism

Pertama, hargai pengalaman Anda. Apakah meja itu benar-benar ada atau tidak, Anda tetap bisa menggunakannya. Apakah tubuh Anda benar-benar ada atau tidak, Anda tetap bisa merasakannya. Pengalaman Anda nyata bagi Anda. Jangan biarkan teori menghapus pengalaman itu.

Kedua, jangan terlalu serius. Mereological Nihilism adalah pandangan filosofis. Ia bukan cara hidup. Anda tidak perlu berhenti duduk di kursi hanya karena kursi itu tidak ada. Anda tidak perlu berhenti memeluk anak Anda hanya karena anak Anda hanyalah kumpulan sel. Hidup ini tetap perlu dijalani.

Ketiga, hargai sains. Sains menunjukkan bahwa materi sebagian besar adalah ruang kosong. Itu fakta yang menakjubkan. Tetapi sains juga menunjukkan bahwa partikel-partikel itu bekerja sama membentuk sesuatu yang lebih besar. Kerja sama itu nyata. Pola itu nyata. Kita bisa menghargai keduanya.

Keempat, hargai misteri. Apakah benda komposit itu ada atau tidak, itu pertanyaan yang belum terjawab. Tidak ada yang tahu pasti. Terimalah bahwa ada misteri yang tidak bisa dipecahkan. Hidup dengan rasa kagum.

Kelima, jangan gunakan pandangan ini untuk merendahkan. Jangan bilang, “Kamu tidak ada.” Itu tidak membantu. Itu hanya menyakiti. Gunakan pandangan ini untuk memahami, bukan untuk menghancurkan.

Keenam, hargai hubungan. Apakah tubuh Anda hanyalah kumpulan sel atau tidak, hubungan Anda dengan orang lain itu nyata. Cinta Anda nyata. Kasih sayang Anda nyata. Itu yang membuat hidup ini berharga.

Ketujuh, hargai makna. Apakah alam semesta ini hanya partikel atau tidak, Anda tetap bisa memberi makna pada hidup Anda. Anda tetap bisa memilih tujuan. Anda tetap bisa mencintai. Anda tetap bisa berkarya.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Mereological Nihilism adalah salah satu cara memahami realitas. Mungkin benar. Mungkin salah. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah tahu sepenuhnya.

Penutup

Mereological Nihilism mengajarkan satu hal yang menantang. Benda-benda yang kita anggap nyata mungkin tidak benar-benar ada. Meja, kursi, mobil, tubuh, bahkan diri kita sendiri mungkin hanyalah kumpulan partikel. Hanya partikel dasar yang benar-benar ada.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika tidak ada yang benar-benar ada, apa yang bisa dipegang? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu terikat pada benda-benda. Kita tidak perlu terikat pada identitas yang kaku. Kita bisa melihat realitas sebagai proses yang terus berubah. Kita bisa melihat diri kita sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah meja Anda benar-benar ada? Apakah kursi Anda benar-benar ada? Apakah tubuh Anda benar-benar ada? Atau apakah semua itu hanyalah kumpulan partikel yang kebetulan berkumpul? Dan jika ya, apakah itu mengubah cara Anda hidup? Apakah itu mengubah cara Anda mencintai? Apakah itu mengubah cara Anda bersyukur?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai misteri realitas yang Anda jalani setiap hari.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Mereological Nihilism: Sebenernya Meja, Kursi, dan Tubuh Lo Itu Nggak Beneran Ada?

Coba inget lagi. Lo lagi duduk di kursi. Lo liat meja di depan lo. Lo liat HP di tangan lo. Lo liat tangan lo sendiri. Lo liat kamar lo. Lo liat semua benda di sekitar lo. Semuanya keliatan nyata. Semuanya keliatan ada. Semuanya keliatan punya bentuk. Punya batas. Punya identitas.

Terus ada yang bilang ke lo. “Sebenernya, meja itu nggak ada. Kursi itu nggak ada. HP itu nggak ada. Bahkan tubuh lo juga nggak ada. Yang ada cuma partikel-partikel kecil yang tersusun.”

Lo diem. Lo mikir. Lo ngerasa ada yang aneh. Tapi lo nggak bisa langsung bantah. Karena argumennya kedengeran masuk akal. Dan lo mulai nanya dalam hati. “Apa bener meja ini nggak ada? Apa bener gue ini nggak ada? Kalau semua benda gabungan nggak ada, terus apa yang ada?”

Itulah yang disebut Mereological Nihilism. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat benda-benda di sekitar lo dengan mata yang beda.

Sebenernya Mereological Nihilism Itu Apa Sih?

Mereological Nihilism itu pandangan dalam filsafat yang bilang: nggak ada benda gabungan. Yang ada cuma benda-benda paling dasar. Benda-benda yang nggak punya bagian.

Benda paling dasar itu disebut simple. Simple itu partikel fundamental. Dia nggak bisa dibagi lagi. Dia nggak terdiri dari bagian apa pun. Dia cuma ada. Titik.

Nah, menurut mereological nihilism, semua benda yang lo liat sehari-hari itu bukan benda beneran. Meja bukan benda. Kursi bukan benda. Mobil bukan benda. Pohon bukan benda. Bahkan manusia bukan benda. Yang ada cuma simple-simple yang tersusun dalam pola tertentu.

Meja itu sebenarnya cuma kumpulan simple yang tersusun secara meja. Kursi cuma kumpulan simple yang tersusun secara kursi. Tubuh lo cuma kumpulan simple yang tersusun secara tubuh. Tapi nggak ada benda tunggal yang namanya meja, kursi, atau lo.

Jadi, waktu lo bilang, “Ini meja,” lo sebenernya cuma ngasih label ke sekumpulan simple. Lo bukan nunjuk ke satu benda. Lo cuma nunjuk ke banyak benda yang kebetulan deketan dan tersusun rapi.

Pandangan ini beda dari akal sehat. Akal sehat bilang meja itu ada. Meja itu satu benda. Meja itu punya bagian, tapi bagian-bagiannya menyatu jadi satu keseluruhan. Mereological nihilism nolak itu. Buat mereka, nggak ada keseluruhan. Cuma ada bagian.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Mereological Nihilism nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah ngerasa bingung soal identitas lo. Apa lo ini satu benda? Apa lo ini kumpulan sel? Apa lo ini kumpulan atom? Apa lo ini kumpulan partikel? Kalau lo cuma kumpulan, apa yang bikin lo tetap “lo”? Apa yang bikin lo beda dari meja? Apa yang bikin lo punya kesadaran?

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bahwa semua yang lo punya nggak beneran milik lo. Rumah lo. Mobil lo. HP lo. Baju lo. Kalau semua itu bukan benda beneran, apa artinya “milik”? Apa artinya “punya”? Apa artinya “ini punya gue”?

Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa organisasi atau komunitas itu nggak nyata. Negara. Perusahaan. Sekolah. Keluarga. Semua itu kumpulan orang. Tapi apakah mereka benda beneran? Apakah mereka punya keberadaan sendiri? Atau cuma label yang kita kasih ke kumpulan individu?

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa hukum dan moral jadi aneh. Kalau manusia bukan benda beneran, siapa yang bertanggung jawab? Kalau meja bukan benda beneran, siapa yang punya meja? Kalau negara bukan benda beneran, apa artinya kewarganegaraan?

Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa sains dan akal sehat bertentangan. Sains bilang semua benda tersusun dari partikel. Akal sehat bilang meja itu ada. Kalau sains bener, apa meja masih ada? Kalau meja nggak ada, kenapa gue bisa bangun meja? Kenapa gue bisa duduk di kursi?

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Mereological Nihilism

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa bahwa benda gabungan itu cuma kumpulan bagian? Itu tanda lo lagi nyentuh mereological nihilism.

  2. Lo pernah ngerasa bahwa “gue” ini cuma kumpulan sel? Itu tanda lo lagi mikir soal identitas.

  3. Lo pernah ngerasa bahwa meja dan kursi itu nggak beneran ada? Itu tanda lo lagi nyentuh pandangan ini.

  4. Lo pernah bingung nentuin apa yang beneran ada dan apa yang cuma label? Itu tanda lo lagi mikir.

  5. Lo pernah ngerasa bahwa semua benda cuma cara ngomong? Itu tanda lo lagi nyentuh inti mereological nihilism.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener fundamental. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di kamar lo. Lo liat meja. Meja itu punya permukaan. Punya kaki. Punya kayu. Kayu itu punya serat. Serat itu punya sel. Sel itu punya molekul. Molekul itu punya atom. Atom itu punya partikel. Partikel itu simple. Nah, di bagian mana meja itu ada? Apakah meja itu ada di partikelnya? Apakah meja itu ada di atomnya? Apakah meja itu ada di susunannya? Kalau meja itu cuma susunan, apakah susunan itu benda? Atau cuma pola?

Di tubuh lo. Lo liat tangan lo. Tangan lo punya kulit. Kulit punya sel. Sel punya molekul. Molekul punya atom. Atom punya partikel. Partikel itu simple. Nah, di bagian mana “lo” itu ada? Apakah “lo” ada di partikelnya? Apakah “lo” ada di selnya? Apakah “lo” ada di otaknya? Apakah “lo” ada di kesadarannya? Kalau “lo” cuma kumpulan, apa yang bikin “lo” tetap “lo”?

Di HP lo. Lo liat HP. HP punya layar. Layar punya kaca. Kaca punya molekul. Molekul punya atom. Atom punya partikel. Partikel itu simple. Nah, di bagian mana HP itu ada? Apakah HP itu ada di partikelnya? Apakah HP itu ada di rangkaiannya? Kalau HP cuma rangkaian, apakah rangkaian itu benda? Atau cuma cara kita ngelompokin?

Di negara lo. Lo liat Indonesia. Indonesia punya pulau. Pulau punya tanah. Tanah punya partikel. Partikel itu simple. Nah, di bagian mana Indonesia itu ada? Apakah Indonesia ada di tanahnya? Apakah Indonesia ada di rakyatnya? Apakah Indonesia ada di pemerintahnya? Kalau Indonesia cuma kumpulan, apakah Indonesia beneran ada? Atau cuma kesepakatan?

Di hutan. Lo liat hutan. Hutan punya pohon. Pohon punya daun. Daun punya sel. Sel punya molekul. Molekul punya atom. Atom punya partikel. Partikel itu simple. Nah, di bagian mana hutan itu ada? Apakah hutan ada di pohonnya? Apakah hutan ada di tanahnya? Apakah hutan ada di ekosistemnya? Kalau hutan cuma kumpulan, apakah hutan beneran ada?

Fase-Fase Lo Ngadepin Mereological Nihilism

Fase pertama: lo percaya benda utuh.
Lo ngerasa bahwa meja itu ada. Lo ngerasa bahwa kursi itu ada. Lo ngerasa bahwa lo itu ada. Lo nggak pernah nanya apa bagiannya. Lo nggak pernah nanya apa batasnya. Lo cuma pake. Lo cuma jalanin.

Fase kedua: lo mulai ragu.
Lo mulai belajar sains. Lo mulai belajar filsafat. Lo mulai ngeh bahwa semua benda tersusun dari partikel. Lo mulai nanya. Kalau semua tersusun dari partikel, apakah benda gabungan itu ada? Apakah meja itu ada? Apakah lo itu ada? Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa aneh.

Fase ketiga: lo milih posisi.
Lo mulai mikir. Lo mulai nimbang. Lo mulai baca. Lo mulai diskusi. Lo mulai nemuin beberapa posisi. Ada yang bilang benda gabungan nggak ada. Ada yang bilang ada. Ada yang bilang cuma beberapa yang ada. Ada yang bilang semua ada. Lo mulai nemuin posisi lo sendiri. Mungkin lo milih mereological nihilism. Mungkin lo nolak. Mungkin lo ada di tengah. Yang penting, lo mulai mikir.

Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?

Mereological Nihilism nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin pandangan ini.

Pertama, masalah akal sehat. Akal sehat bilang meja itu ada. Kursi itu ada. Manusia itu ada. Kalau filsafat bilang nggak ada, mungkin filsafatnya yang salah. Bukan akal sehatnya.

Kedua, masalah bahasa. Kita pake kata benda buat nunjuk ke benda. Meja. Kursi. Mobil. Manusia. Kalau semua kata benda itu nggak nunjuk ke apa-apa, bahasa kita jadi aneh. Bahasa kita jadi kosong. Bahasa kita jadi nggak berguna.

Ketiga, masalah praktis. Kalau meja nggak ada, kenapa gue bisa duduk di kursi? Kalau tubuh nggak ada, kenapa gue bisa sakit? Kalau manusia nggak ada, kenapa gue bisa jatuh cinta? Kalau semua cuma partikel, kenapa pengalaman gue terasa nyata?

Keempat, masalah moral. Kalau manusia bukan benda beneran, siapa yang bertanggung jawab? Kalau negara bukan benda beneran, apa artinya hukum? Kalau masyarakat bukan benda beneran, apa artinya keadilan?

Kelima, masalah sains. Sains ngomongin benda. Sains ngomongin atom. Sains ngomongin molekul. Sains ngomongin organisme. Kalau semua benda gabungan nggak ada, apa yang sebenernya sains pelajari?

Keenam, masalah kesadaran. Kalau lo cuma kumpulan partikel, dari mana kesadaran datang? Kalau lo cuma kumpulan simple, kenapa lo bisa ngerasa? Kenapa lo bisa mikir? Kenapa lo bisa nanya?

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung mereological nihilism punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang pandangan ini sempurna. Mereka sering bilang pandangan ini konsisten.

Mereka bilang, akal sehat bisa salah. Dulu akal sehat bilang bumi itu datar. Dulu akal sehat bilang matahari muter di sekitar bumi. Ternyata salah. Jadi, akal sehat bukan patokan mutlak.

Mereka bilang, bahasa kita emang sering nyederhanain. Kita pake kata “meja” buat nunjuk ke kumpulan simple. Itu nggak berarti meja itu benda. Itu cuma cara kita ngomong. Sama kayak kita bilang “hutan” padahal hutan cuma kumpulan pohon. Sama kayak kita bilang “galaksi” padahal galaksi cuma kumpulan bintang.

Mereka bilang, pengalaman kita tetap nyata. Meskipun meja bukan benda, kita tetap bisa ngerasain meja. Meskipun tubuh bukan benda, kita tetap bisa ngerasain sakit. Pengalaman nggak butuh benda. Pengalaman cuma butuh simple yang tersusun.

Mereka bilang, moral dan hukum tetap bisa jalan. Kita bisa ngasih tanggung jawab ke manusia. Meskipun manusia bukan benda, kita tetap bisa nganggep manusia sebagai agen moral. Kita cuma perlu ngerti bahwa itu cara ngomong.

Mereka bilang, sains tetap bisa jalan. Sains emang ngomongin benda. Tapi sains juga ngomongin partikel. Sains juga ngomongin susunan. Sains juga ngomongin pola. Jadi, sains nggak masalah sama mereological nihilism.

Mereka bilang, kesadaran tetap misteri. Mereological nihilism nggak nyelesaiin masalah kesadaran. Dia cuma nolak benda gabungan. Kesadaran masih misteri. Tapi itu nggak bikin mereological nihilism salah.

Cara Nyikapin Mereological Nihilism Tanpa Kehilangan Akal

1. Jangan panik.
Kalo lo mikir “gimana kalo meja nggak ada,” jangan panik. Itu wajar. Banyak filsuf juga mikir gitu. Tapi mereka nggak panik. Mereka terus mikir. Mereka terus nyari.

2. Bedain antara bahasa sehari-hari dan metafisika.
Dalam bahasa sehari-hari, lo boleh bilang “meja.” Lo boleh bilang “kursi.” Lo boleh bilang “gue.” Itu praktis. Itu berguna. Tapi dalam metafisika, lo bisa nanya. Apakah meja itu beneran ada? Apakah kursi itu beneran ada? Apakah gue itu beneran ada? Dua level ini beda.

3. Jangan nuntut jawaban yang sempurna.
Nggak ada jawaban yang sempurna. Nggak ada posisi yang bebas masalah. Setiap posisi punya kritik. Setiap posisi punya kelemahan. Jadi, jangan nuntut. Cari yang paling masuk akal buat lo.

4. Gunain praktik.
Kadang, lo nggak perlu nyelesaiin masalah teoretis. Kadang, lo cuma perlu hidup. Lo cuma perlu duduk di kursi. Lo cuma perlu makan. Lo cuma perlu tidur. Lo cuma perlu ngobrol. Praktik nggak butuh metafisika.

5. Hormati perbedaan.
Ada yang percaya meja ada. Ada yang percaya meja nggak ada. Ada yang percaya cuma simple. Ada yang percaya semua ada. Nggak ada yang salah. Nggak ada yang bener. Setiap orang punya alasan. Hormati itu.

6. Jangan dogmatis.
Jangan ngerasa bahwa posisi lo yang paling bener. Jangan ngerasa bahwa posisi lo yang paling sempurna. Karena bisa jadi ada yang lebih baik. Bisa jadi ada yang lebih tepat. Bisa jadi lo yang salah.

7. Terbuka pada kritik.
Kalo ada yang nunjukin celah dari posisi lo, terima. Kalo ada yang nunjukin kelemahan dari pandangan lo, terima. Itu bukan kekalahan. Itu kemajuan.

8. Terus belajar.
Filsafat terus berkembang. Sains terus berkembang. Metafisika terus berkembang. Jadi, jangan berhenti belajar. Jangan berhenti mikir. Jangan berhenti nanya.

9. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Nggak ada yang tau segalanya. Bahkan filsuf pun nggak tau segalanya. Terimalah itu. Dan teruslah belajar.

10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti apakah meja itu ada. Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti apakah lo itu ada. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Ketidakadaan

Yang paling lo takutin bukan ketidakadaan. Bukan nggak ada. Bukan kosong.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak beneran ada. Kalo lo sadar meja lo nggak ada. Kalo lo sadar rumah lo nggak ada. Kalo lo sadar semua yang lo sayang nggak ada. Kalo lo sadar semua yang lo perjuangin nggak ada. Dan lo nggak bisa ngapa-ngapain. Karena lo cuma kumpulan partikel. Bukan benda. Bukan orang. Bukan apa-apa.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo cuma kumpulan partikel, itu artinya lo tersusun dari sesuatu yang lebih dasar. Itu artinya lo bagian dari alam semesta. Itu artinya lo nggak terpisah. Itu artinya lo terhubung. Dan kalo meja cuma kumpulan partikel, itu artinya meja juga bagian dari alam semesta. Sama kayak lo. Sama kayak bintang. Sama kayak galaksi.

Mereological Nihilism bukan tentang bikin lo ngerasa kosong. Dia tentang nunjukin bahwa realitas itu lebih rumit dari yang kita kira. Dia tentang nunjukin bahwa bahasa kita terbatas. Dia tentang nunjukin bahwa akal sehat bisa salah. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Mereological Nihilism ngajarin satu hal yang menantang. Mungkin meja nggak ada. Mungkin kursi nggak ada. Mungkin tubuh lo nggak ada. Mungkin yang ada cuma partikel-partikel kecil yang tersusun. Dan semua benda yang lo liat sehari-hari cuma cara ngomong. Cuma label. Cuma kesepakatan.

Ini bisa berasa menakutkan. Kalo semua benda nggak ada, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo semua benda cuma susunan, lo bisa ngerti bahwa realitas itu lebih dalem. Lo bisa ngerti bahwa lo bagian dari sesuatu yang lebih gede. Lo bisa ngerti bahwa lo nggak sendirian.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah ngerasa bahwa meja dan kursi itu cuma kumpulan bagian? Lo pernah ngerasa bahwa “gue” ini cuma kumpulan sel? Lo pernah bingung nentuin apa yang beneran ada dan apa yang cuma label?

Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo terus percaya akal sehat? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai nanya? Apa lo mulai nerima bahwa jawabannya nggak sesederhana yang lo kira?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa benda-benda di sekitar lo nggak sesederhana yang lo kira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *