Naturalistic Fallacy: Mengapa Sesuatu yang Alami Belum Tentu Baik?
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Itu kan alami, jadi pasti baik”? Mungkin tentang makanan. Mungkin tentang obat. Mungkin tentang cara mendidik anak. Mungkin tentang perilaku manusia. Anda mendengar kata “alami” dan Anda langsung merasa bahwa itu benar. Anda merasa bahwa alam tidak mungkin salah. Anda merasa bahwa apa yang alami pasti baik.
Tetapi pernahkah Anda bertanya, “Apakah semua yang alami itu baik?” Penyakit itu alami. Gempa bumi itu alami. Kematian itu alami. Apakah semua itu baik? Apakah kita harus menerima penyakit karena alami? Apakah kita harus menerima gempa bumi karena alami? Apakah kita harus menerima kematian karena alami?
Pertanyaan itu membawa kita pada sebuah kesalahan berpikir yang sudah dibahas oleh seorang filsuf Inggris bernama G.E. Moore. Kesalahan itu bernama Naturalistic Fallacy. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Apa Itu Naturalistic Fallacy?
Naturalistic Fallacy adalah kesalahan berpikir ketika seseorang menyimpulkan apa yang seharusnya dari apa yang alami. Ia menganggap bahwa karena sesuatu itu alami, maka sesuatu itu baik. Ia menganggap bahwa alam adalah sumber moral. Ia menganggap bahwa apa yang terjadi di alam adalah apa yang seharusnya terjadi.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh G.E. Moore dalam bukunya yang berjudul “Principia Ethica,” yang diterbitkan pada tahun 1903. Moore adalah seorang filsuf Inggris yang sangat berpengaruh. Ia mengajar di Universitas Cambridge. Ia adalah teman dan kolega Bertrand Russell.
Moore berargumen bahwa “baik” tidak bisa didefinisikan dengan istilah alami. “Baik” bukanlah “menyenangkan.” “Baik” bukanlah “diinginkan.” “Baik” bukanlah “berguna.” “Baik” bukanlah “sesuai evolusi.” “Baik” adalah konsep yang sederhana dan tidak bisa dianalisis. Ia seperti warna kuning. Anda bisa menunjuk pada kuning. Anda bisa mengalami kuning. Tetapi Anda tidak bisa menjelaskan kuning dengan kata-kata lain.
Ketika seseorang mencoba mendefinisikan “baik” dengan istilah alami, ia melakukan Naturalistic Fallacy. Ia mencampuradukkan fakta dengan nilai. Ia mencampuradukkan apa yang ada dengan apa yang seharusnya.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya teori filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda membeli produk karena labelnya mengatakan “alami”? Anda merasa bahwa “alami” berarti “sehat.” Anda merasa bahwa “alami” berarti “aman.” Anda merasa bahwa “alami” berarti “baik.” Tetapi apakah itu benar? Racun ular itu alami. Arsenik itu alami. Apakah keduanya baik?
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Manusia itu pada dasarnya kompetitif. Jadi kita harus bersaing.” Argumen ini menggunakan fakta tentang manusia. Lalu melompat ke kesimpulan moral. Tetapi apakah kompetisi selalu baik? Apakah kerja sama tidak lebih baik?
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Perempuan itu alami mengasuh anak. Jadi perempuan seharusnya di rumah.” Argumen ini menggunakan fakta tentang biologi. Lalu melompat ke kesimpulan moral. Tetapi apakah semua perempuan harus di rumah? Apakah laki-laki tidak bisa mengasuh anak?
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Perang itu sudah ada sejak dulu. Jadi perang tidak bisa dihindari.” Argumen ini menggunakan fakta sejarah. Lalu melompat ke kesimpulan moral. Tetapi apakah karena sesuatu sudah lama terjadi, maka sesuatu itu baik? Apakah perbudakan tidak pernah dihapus?
Naturalistic Fallacy juga muncul dalam kedokteran. Dulu, orang percaya bahwa penyakit adalah takdir. Mereka percaya bahwa sakit adalah kehendak alam. Mereka tidak mencoba menyembuhkan. Mereka hanya menerima. Sekarang, kita tahu bahwa banyak penyakit bisa disembuhkan. Kita tidak lagi menerima penyakit sebagai takdir. Kita melawan. Kita mencari obat.
Naturalistic Fallacy juga muncul dalam lingkungan. Beberapa orang berkata, “Manusia itu bagian dari alam. Jadi apa pun yang dilakukan manusia adalah alami.” Argumen ini digunakan untuk membenarkan polusi. Ia digunakan untuk membenarkan eksploitasi. Tetapi apakah karena manusia bagian dari alam, maka manusia boleh menghancurkan alam?
Naturalistic Fallacy juga muncul dalam agama. Beberapa orang berkata, “Tuhan menciptakan alam. Jadi alam itu baik.” Argumen ini menggunakan fakta tentang penciptaan. Lalu melompat ke kesimpulan moral. Tetapi apakah semua yang diciptakan Tuhan itu baik? Apakah ular berbisa itu baik? Apakah virus itu baik?
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang ibu memberi anaknya obat herbal. Ia berkata, “Ini alami, jadi pasti aman.” Anaknya minum. Anaknya sakit. Ibu itu bingung. Ia tidak tahu bahwa obat herbal juga bisa berbahaya. Ia tidak tahu bahwa dosis yang salah bisa mematikan. Ia tidak tahu bahwa “alami” bukan berarti “aman.”
Seorang karyawan bekerja di perusahaan yang penuh persaingan. Ia berkata, “Ini kan dunia nyata. Persaingan itu alami.” Ia tidak mencoba bekerja sama. Ia tidak mencoba membantu rekan kerjanya. Ia hanya fokus pada dirinya sendiri. Ia merasa bahwa itu benar. Ia merasa bahwa itu wajar. Ia tidak sadar bahwa ia melakukan Naturalistic Fallacy.
Seorang pengguna media sosial membaca berita tentang kekerasan. Ia berkata, “Manusia itu memang agresif. Itu sudah dari sananya.” Ia merasa bahwa kekerasan tidak bisa dihindari. Ia merasa bahwa perdamaian hanyalah mimpi. Ia tidak sadar bahwa manusia juga punya empati. Manusia juga punya kasih sayang. Manusia juga bisa memilih untuk tidak agresif.
Seorang politisi berkata, “Negara ini kaya akan sumber daya alam. Jadi kita harus mengeksploitasinya sebanyak mungkin.” Ia menggunakan fakta tentang kekayaan alam. Lalu melompat ke kesimpulan moral. Tetapi apakah karena negara kaya, maka negara boleh menghabiskan semua sumber dayanya? Apakah generasi mendatang tidak punya hak?
Seorang filsuf merenung tentang moral. Ia membaca tentang Naturalistic Fallacy. Ia menyadari bahwa banyak argumen moral menggunakan alam sebagai dasar. Ia menyadari bahwa itu tidak cukup. Ia menyadari bahwa moral membutuhkan lebih dari sekadar fakta tentang alam.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Naturalistic Fallacy bukan hanya teori. Ia terjadi di sekitar kita. Ia terjadi pada kita. Ia terjadi karena kita.
Tiga Fase Menghadapi Naturalistic Fallacy
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda percaya bahwa alam itu baik. Anda percaya bahwa apa yang alami pasti benar. Anda tidak pernah mempertanyakannya. Anda menggunakan kata “alami” sebagai pembenaran.
Fase kedua, Anda mulai meragukan. Anda membaca tentang Naturalistic Fallacy. Anda menyadari bahwa tidak semua yang alami itu baik. Anda mulai bertanya, “Apakah penyakit itu baik? Apakah gempa bumi itu baik? Apakah kematian itu baik?”
Fase ketiga, Anda mencari keseimbangan. Anda menyadari bahwa alam bukanlah sumber moral. Alam adalah fakta. Moral adalah nilai. Anda tidak bisa menyimpulkan nilai dari fakta. Anda butuh dasar lain. Anda butuh prinsip. Anda butuh keyakinan.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Naturalistic Fallacy
Naturalistic Fallacy tidak lepas dari kritik. Beberapa filsuf berargumen bahwa Moore terlalu kaku.
Pertama, apakah “baik” benar-benar tidak bisa didefinisikan? Mungkin “baik” bisa didefinisikan, tetapi definisinya rumit. Mungkin “baik” adalah kumpulan dari banyak hal. Mungkin “baik” adalah fungsi dari banyak faktor.
Kedua, apakah fakta dan nilai benar-benar terpisah? Mungkin fakta dan nilai saling terkait. Mungkin nilai muncul dari fakta. Mungkin alam memang punya nilai.
Ketiga, apakah Moore mengabaikan intuisi moral? Kita sering merasa bahwa sesuatu itu baik atau buruk tanpa bisa menjelaskan mengapa. Mungkin intuisi itu adalah sumber moral. Mungkin intuisi itu adalah cara alam berbicara kepada kita.
Keempat, apakah Naturalistic Fallacy berguna? Jika kita tidak bisa menyimpulkan moral dari alam, dari mana kita mendapatkan moral? Apakah dari Tuhan? Apakah dari akal? Apakah dari kesepakatan?
Cara Menyikapi Naturalistic Fallacy
Pertama, waspadai kata “alami.” Ketika seseorang berkata, “Ini alami,” tanyakan, “Apakah alami berarti baik? Apakah ada yang alami tetapi tidak baik?” Jangan langsung percaya.
Kedua, bedakan antara fakta dan nilai. Fakta adalah apa yang ada. Nilai adalah apa yang seharusnya. Fakta bisa diuji. Nilai bisa diperdebatkan. Jangan mencampuradukkan keduanya.
Ketiga, jangan gunakan alam untuk membenarkan moral. Alam bisa memberi kita informasi. Alam bisa memberi kita inspirasi. Tetapi alam tidak memberi kita perintah. Kita yang harus memilih. Kita yang harus menilai.
Keempat, hargai alam. Meskipun alam bukan sumber moral, alam tetap berharga. Alam adalah rumah kita. Alam adalah ciptaan Tuhan. Kita harus menjaganya. Kita harus merawatnya. Kita harus bersyukur.
Kelima, hargai akal. Akal membantu kita membedakan antara fakta dan nilai. Akal membantu kita membuat keputusan moral. Akal adalah anugerah. Gunakan dengan bijak.
Keenam, hargai iman. Iman memberi kita dasar moral. Iman memberi kita keyakinan tentang apa yang baik dan buruk. Iman melengkapi akal. Iman memberi arah.
Ketujuh, jangan sombong. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Moral itu kompleks. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahaminya.
Kedelapan, fokus pada tindakan. Terlalu banyak berpikir tentang moral bisa membuat Anda lumpuh. Kadang yang paling penting bukanlah definisi moral, tetapi bagaimana Anda memperlakukan orang lain. Mulailah dari sana.
Penutup
Naturalistic Fallacy mengajarkan satu hal yang penting. Sesuatu yang alami belum tentu baik. Penyakit itu alami. Gempa bumi itu alami. Kematian itu alami. Tetapi kita tidak menerimanya begitu saja. Kita melawan penyakit. Kita bersiap menghadapi gempa. Kita berduka atas kematian. Kita tidak bilang, “Ah, ini alami, jadi ini baik.”
Ini bisa terasa menantang. Jika alam bukan sumber moral, dari mana kita mendapatkan moral? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu menerima segala sesuatu hanya karena itu alami. Kita bisa memilih. Kita bisa menilai. Kita bisa memperbaiki.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah menggunakan kata “alami” untuk membenarkan sesuatu? Apakah Anda pernah merasa bahwa apa yang alami pasti baik? Dan jika ya, apakah Anda masih percaya itu? Atau apakah Anda mulai melihat bahwa alam dan moral adalah dua hal yang berbeda?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai memeriksa argumen Anda tentang alam dan moral.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Naturalistic Fallacy: Kenapa “Alami” Nggak Otomatis Berarti “Baik”?
Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi debat sama seseorang. Mungkin soal gaya hidup. Mungkin soal pilihan hidup. Mungkin soal hubungan. Mungkin soal politik. Lo ngasih argumen. Lo kasih alasan. Lo kasih logika.
Terus dia jawab satu kalimat yang bikin lo diem. “Ya emang udah alami gitu. Jadi ya harus gitu.”
Lo diem. Lo mikir. Lo ngerasa ada yang aneh. Tapi lo nggak bisa ngejelasin kenapa. Karena argumennya kedengeran kokoh. Kedengeran benar. Kedengeran nggak bisa dibantah.
Tapi tunggu dulu. Ada yang bolong dari argumen itu. Ada yang nggak beres. Dan itu udah dibahas filsuf lebih dari seratus tahun lalu. Namanya Naturalistic Fallacy. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat argumen “alami” dengan mata yang beda.
Sebenernya Naturalistic Fallacy Itu Apa Sih?
Naturalistic Fallacy itu simpelnya gini: nggak bisa nyimpulin apa yang seharusnya dari apa yang alami. Nggak bisa bilang sesuatu itu baik cuma karena sesuatu itu natural.
Cuma karena sesuatu terjadi di alam, bukan berarti sesuatu itu baik. Cuma karena sesuatu itu wajar di dunia hewan, bukan berarti sesuatu itu benar buat manusia. Cuma karena sesuatu itu “udah dari sananya,” bukan berarti sesuatu itu harus diterima.
Istilah ini dipopulerin sama filsuf Inggris namanya G.E. Moore. Dia hidup di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Lahir 1873. Meninggal 1958. Dia nulis buku terkenal tahun 1903. Judulnya Principia Ethica. Di situ, dia ngejelasin kenapa banyak filsuf salah paham soal moral.
Moore bilang: banyak filsuf nyoba mendefinisikan “baik” pakai istilah alami. Baik itu menyenangkan. Baik itu diinginkan. Baik itu evolusioner. Baik itu sehat. Baik itu alami. Tapi semua definisi itu salah. Karena “baik” nggak bisa didefinisiin pakai istilah alami apa pun.
Kenapa? Karena lo selalu bisa nanya lagi. “Tapi apa yang menyenangkan itu baik?” “Tapi apa yang diinginkan itu baik?” “Tapi apa yang alami itu baik?” Pertanyaan itu selalu tetap terbuka. Selalu tetap masuk akal. Dan karena pertanyaan itu tetap terbuka, artinya “baik” nggak bisa diganti sama istilah alami apa pun.
Bedanya Naturalistic Fallacy sama Is-Ought Problem
Ini penting. Banyak orang nyampur aduk dua hal ini. Mereka mirip. Tapi beda.
Is-Ought Problem yang dibahas David Hume itu soal lompatan logika. Lo nggak bisa nyimpulin “seharusnya” dari “kenyataan.” Lo nggak bisa bilang “orang berbohong, jadi orang harus berbohong.”
Naturalistic Fallacy yang dibahas G.E. Moore itu soal definisi. Lo nggak bisa mendefinisikan “baik” pakai istilah alami. Lo nggak bisa bilang “baik itu ya yang alami.” Karena “baik” bukan “alami.” Dua hal yang beda.
Jadi, Hume ngomongin proses. Moore ngomongin definisi. Dua-duanya nunjukin bahwa moral nggak bisa direduksi jadi fakta. Tapi dengan cara yang beda.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Naturalistic Fallacy nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah dikatain “nggak alami” karena pilihan hidup lo. Lo nggak pengen nikah. Lo nggak pengen punya anak. Lo suka sama orang yang beda jenis kelamin. Lo milih kerjaan yang dianggap “nggak normal.” Dan ada yang bilang, “Itu nggak alami. Itu salah.” Lo diem. Lo ngerasa ada yang aneh. Tapi lo nggak bisa bantah.
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa harus ikutin sesuatu karena “udah dari sananya.” Cowok harus kuat. Cewek harus lembut. Orang tua harus dihormati. Anak harus nurut. Lo ngerasa nggak nyaman. Tapi lo nggak bisa ngelawan. Karena ada yang bilang, “Ya emang udah kodratnya. Ya emang udah alaminya.”
Ketiga, lo mungkin pernah mikir bahwa sesuatu itu baik cuma karena sesuatu itu wajar. Persaingan itu wajar. Jadi kita harus bersaing. Perang itu wajar. Jadi perang nggak bisa dihindari. Ketidaksetaraan itu wajar. Jadi nggak perlu diperjuangin. Lo mulai mikir. “Kok bisa gitu? Kok wajar berarti harus?”
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bingung nentuin apa yang bener. Ada yang bilang, “Ini alami, jadi ini bener.” Ada yang bilang, “Ini nggak alami, jadi ini salah.” Lo nggak tau harus percaya yang mana. Karena dua-duanya pake kata “alami” tapi nggak ada yang ngejelasin kenapa “alami” itu penting.
Tanda-Tanda Lo Lagi Kejebak Naturalistic Fallacy
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah ngerasa bersalah karena nggak ngikutin sesuatu yang dianggap “alami”? Itu tanda lo lagi kejebak Naturalistic Fallacy.
Lo pernah dikatain “nggak alami” karena pilihan hidup lo? Itu tanda lo lagi ngalamin lompatan dari alami ke baik.
Lo pernah mikir “ya emang udah dari sananya, jadi ya harus gitu”? Itu tanda lo lagi ngejalanin lompatan ini.
Lo pernah ngerasa ada yang salah dari argumen “alami”? Itu tanda lo lagi mikir.
Lo pernah mikir “kok alami berarti baik?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti Naturalistic Fallacy.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener pelik. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di hubungan. Ada yang bilang, “Cowok itu poligami itu wajar. Itu alami. Hewan aja gitu.” Lo nanya, “Tapi apa semua yang alami itu baik?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena alami nggak sama dengan baik. Alami cuma berarti terjadi. Bukan berarti harus.
Di kerjaan. Ada yang bilang, “Persaingan itu alami. Manusia itu kompetitif dari sananya. Jadi kita harus bersaing. Nggak perlu bantu-bantu.” Lo nanya, “Tapi apa semua yang alami itu baik?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena kerja sama juga alami. Empati juga alami. Dua-duanya ada di manusia. Tapi yang satu dianggap lebih “alami” dari yang lain.
Di politik. Ada yang bilang, “Ketidaksetaraan itu wajar. Ada yang kaya. Ada yang miskin. Itu alami.” Lo nanya, “Tapi apa semua yang alami itu baik?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena banyak hal alami yang kita coba lawan. Penyakit. Bencana. Kematian. Kenapa ketidaksetaraan nggak?
Di keluarga. Ada yang bilang, “Anak harus nurut orang tua. Itu kodrat. Itu alami.” Lo nanya, “Tapi apa semua yang alami itu baik?” Dia diem. Dia nggak punya jawabannya. Karena pemberontakan juga alami. Perkembangan juga alami. Anak yang tumbuh jadi mandiri juga alami. Tapi yang dianggap “alami” cuma yang sesuai sama tradisi.
Di diri lo sendiri. Lo lagi mikir. Lo nanya, “Apa yang harus gue lakuin?” Ada suara di kepala lo yang bilang, “Ikutin yang alami aja. Ikutin yang wajar aja. Ikutin yang orang lain lakuin.” Lo diem. Lo mikir. Apa bener yang alami itu yang baik? Apa bener yang wajar itu yang bener? Belum tentu.
Fase-Fase Lo Ngadepin Naturalistic Fallacy
Fase pertama: lo nggak sadar.
Lo denger argumen “alami.” Lo terima. Lo ikutin. Lo nggak pernah nanya kenapa. Lo nggak pernah nanya apa hubungannya antara alami dan baik. Lo cuma jalanin.
Fase kedua: lo mulai mikir.
Lo mulai nyadar bahwa banyak argumen “alami” itu nggak nyambung. Lo mulai nanya. “Kok alami berarti baik?” “Kok wajar berarti harus?” Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa ada yang aneh.
Fase ketiga: lo mulai nanya.
Lo mulai nanya ke orang lain. “Kenapa alami itu penting?” “Apa bedanya alami dan baik?” “Apa semua yang alami itu harus diikutin?” Dan lo mulai nemuin bahwa banyak orang nggak punya jawabannya. Mereka cuma ngulang apa yang mereka denger. Mereka cuma ngikutin tradisi. Mereka cuma nggak mau mikir.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Naturalistic Fallacy nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin konsep ini.
Pertama, masalah definisi “alami”. Apa yang dimaksud dengan “alami”? Apakah manusia itu bagian dari alam? Kalo iya, bukannya semua yang manusia lakuin itu alami? Termasuk teknologi? Termasuk moral? Termasuk budaya?
Kedua, masalah moral alami. Ada filsuf yang bilang bahwa moral itu bisa didasarkan pada alam. Misalnya, etika lingkungan. Kalo alam itu baik, maka kita harus ngejagain alam. Apakah itu Naturalistic Fallacy?
Ketiga, masalah intuisi. Banyak orang ngerasa bahwa hal-hal tertentu itu “alami” dan “baik.” Misalnya, cinta itu alami dan baik. Persahabatan itu alami dan baik. Apakah intuisi ini salah?
Keempat, masalah praktis. Kalo kita nggak bisa pake “alami” sebagai dasar moral, terus pake apa? Apa ada dasar lain yang lebih baik? Apa ada dasar yang nggak punya masalah?
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Naturalistic Fallacy punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang konsep ini sempurna. Mereka sering bilang konsep ini penting.
Mereka bilang, “alami” itu emang susah didefinisiin. Tapi itu nggak berarti “alami” nggak ada. “Alami” bisa berarti “terjadi tanpa campur tangan manusia.” Atau “terjadi di alam liar.” Atau “terjadi sebelum peradaban.” Ada banyak definisi. Tapi yang penting, “alami” nggak sama dengan “baik.”
Mereka bilang, moral bisa didasarkan pada alam. Tapi bukan karena alam itu “baik.” Tapi karena kita peduli pada alam. Peduli itu moral. Bukan alam. Jadi, dasarnya tetap moral. Bukan alami.
Mereka bilang, intuisi itu penting. Tapi intuisi bisa salah. Dulu, orang ngerasa bahwa perbudakan itu alami dan baik. Sekarang, kita tau itu salah. Jadi, intuisi bukan patokan mutlak.
Mereka bilang, masalah praktis bukan alasan buat nolak konsep. Kalo “alami” bukan dasar yang baik, kita cari dasar lain. Ada banyak dasar moral. Keadilan. Hak. Kebahagiaan. Kebaikan bersama. Kita nggak kekurangan opsi.
Cara Nyikapin Naturalistic Fallacy Tanpa Kehilangan Akal
1. Waspadai argumen “alami”.
Kalo ada yang bilang “ini alami, jadi ini baik,” tanya. “Kenapa alami berarti baik?” “Apa ada alasan lain?” “Apa ada bukti lain?” Jangan langsung nerima. Jangan langsung nolak. Tanya dulu.
2. Bedain antara alami dan baik.
Alami itu fakta. Baik itu nilai. Dua hal yang beda. Sesuatu bisa alami tapi nggak baik. Sesuatu bisa baik tapi nggak alami. Jangan campur aduk.
3. Jangan pake “alami” buat ngejudge.
Kalo lo pake “alami” buat ngejudge orang lain, lo bisa salah. Karena banyak hal yang dulu dianggap “nggak alami” sekarang dianggap normal. Dan banyak hal yang dulu dianggap “alami” sekarang dianggap salah.
4. Hargai keragaman.
Apa yang alami di satu tempat, belum tentu alami di tempat lain. Apa yang alami di satu zaman, belum tentu alami di zaman lain. Jadi, jangan pake “alami” sebagai standar universal.
5. Cari dasar yang lebih kokoh.
Kalo lo mau ngomong moral, cari dasar yang lebih kokoh dari “alami.” Keadilan. Hak. Kebahagiaan. Kebaikan bersama. Penderitaan. Semua itu bisa jadi dasar yang lebih jelas dari “alami.”
6. Jangan takut beda.
Kalo lo ngerasa bahwa sesuatu yang dianggap “alami” itu nggak baik buat lo, jangan takut buat beda. Lo nggak harus ikutin arus. Lo nggak harus ikutin tradisi. Lo bisa milih. Lo bisa nentuin. Lo bisa hidup dengan cara yang lo pilih.
7. Hormati orang lain.
Kalo lo nggak setuju sama argumen “alami” orang lain, hormati. Nggak perlu berantem. Nggak perlu ngejek. Cukup nanya. Cukup diskusi. Cukup dengerin. Kadang, orang cuma butuh ditanya buat mulai mikir.
8. Terbuka pada kemungkinan.
Mungkin ada alasan lain kenapa sesuatu itu baik. Bukan cuma karena alami. Mungkin ada alasan lain kenapa sesuatu itu salah. Bukan cuma karena nggak alami. Terbuka. Jangan dogmatis.
9. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Nggak ada yang tau segalanya. Apa yang lo anggap “alami” bisa jadi cuma kebiasaan. Apa yang lo anggap “baik” bisa jadi cuma tradisi. Terimalah itu. Dan teruslah belajar.
10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti apa yang baik. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Jadi Nggak Alami
Yang paling lo takutin bukan jadi nggak alami. Bukan jadi beda. Bukan jadi aneh.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo udah ngikutin sesuatu cuma karena “alami.” Kalo lo sadar lo udah ngejudge orang lain cuma karena “nggak alami.” Kalo lo sadar lo udah nolak sesuatu yang baik cuma karena “nggak wajar.” Kalo lo sadar lo udah ngejalanin hidup yang bukan milik lo. Cuma karena lo takut dianggap nggak alami.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa mulai. Kalo lo sadar, lo bisa mikir. Kalo lo sadar, lo bisa milih. Kalo lo sadar, lo bisa hidup dengan cara yang bener-bener milik lo. Bukan cara yang orang lain bilang “alami.”
Naturalistic Fallacy bukan tentang nolak alam. Dia tentang nolak lompatan logika. Dia tentang nolak definisi yang salah. Dia tentang ngajarin lo buat lebih jeli. Lebih kritis. Lebih jujur.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Naturalistic Fallacy ngajarin satu hal yang menantang. Alami nggak sama dengan baik. Wajar nggak sama dengan benar. Kodrat nggak sama dengan kewajiban. Lo nggak bisa nyimpulin moral dari alam.
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo alam bukan dasar moral, apa yang jadi dasar? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo alam bukan dasar, maka lo bebas. Lo nggak perlu ikutin apa yang orang bilang “alami.” Lo bisa milih. Lo bisa nentuin. Lo bisa hidup dengan cara yang lo pilih.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah dikatain “nggak alami” karena pilihan hidup lo? Lo pernah ngerasa harus ikutin sesuatu karena “udah dari sananya”? Lo pernah mikir “kok alami berarti baik”?
Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo tetep ikutin? Apa lo mulai nanya? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai milih jalan lo sendiri?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa “alami” bukan segalanya.
