filsafat

Ontological Argument: Mengapa Keberadaan Tuhan Sudah Terkandung dalam Pikiran Kita

Pernahkah Anda merenung tentang Tuhan? Bukan sekadar bertanya, “Apakah Tuhan itu ada?” Tetapi benar-benar duduk diam, lalu menyadari bahwa Anda sedang memikirkan sesuatu yang Maha Besar. Sesuatu yang tidak ada bandingannya. Sesuatu yang paling sempurna. Dari mana datangnya gagasan itu? Mengapa manusia di mana-mana, di setiap zaman, di setiap budaya, selalu memiliki gagasan tentang Yang Maha Sempurna? Mengapa pikiran kita bisa menjangkau sesuatu yang jauh melampaui dunia ini?

Pertanyaan itu membawa kita pada salah satu argumen paling mendalam dalam sejarah filsafat. Argumen itu bernama Ontological Argument. Ia bukan argumen yang mencari Tuhan di langit atau di dalam alam. Ia mencari Tuhan di dalam pikiran kita sendiri. Dan dari situ, ia menunjukkan bahwa Tuhan pasti ada. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Ontological Argument?

Ontological Argument adalah argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan berdasarkan logika dan konsep tentang Tuhan itu sendiri. Ia tidak bergantung pada pengamatan alam. Ia tidak bergantung pada pengalaman indera. Ia hanya bergantung pada definisi tentang Tuhan. Dan dari definisi itu, ia menyimpulkan bahwa Tuhan harus ada.

Argumen ini pertama kali diajukan oleh seorang filsuf dan teolog abad pertengahan bernama Anselm dari Canterbury. Ia hidup pada abad ke-11. Ia adalah seorang biarawan Benediktin yang kemudian menjadi uskup agung. Ia menulis sebuah buku berjudul “Proslogion.” Di dalam buku itu, ia merumuskan argumen yang menjadi dasar dari Ontological Argument.

Anselm mendefinisikan Tuhan sebagai “sesuatu yang tidak ada yang lebih besar dapat dipikirkan.” Dengan kata lain, Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna. Tidak ada yang lebih sempurna dari Tuhan. Tidak ada yang lebih besar dari Tuhan. Tidak ada yang lebih mulia dari Tuhan.

Lalu Anselm bertanya. Jika Tuhan ada hanya sebagai ide di dalam pikiran, apakah itu yang paling sempurna? Tentu tidak. Sesuatu yang ada di dalam pikiran dan juga ada di dalam kenyataan lebih sempurna daripada sesuatu yang hanya ada di dalam pikiran. Jika Tuhan hanya ada di dalam pikiran, maka kita bisa memikirkan sesuatu yang lebih sempurna, yaitu Tuhan yang ada di dalam kenyataan. Tetapi itu bertentangan dengan definisi Tuhan sebagai yang paling sempurna. Jadi, Tuhan harus ada di dalam kenyataan.

Itulah inti dari Ontological Argument. Ia sederhana. Ia elegan. Ia hanya menggunakan logika. Dan ia menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan sudah terkandung dalam konsep tentang Tuhan.

Mengapa Ini Begitu Menghibur bagi Orang Beriman?

Bagi orang yang percaya pada Tuhan, Ontological Argument bukan sekadar latihan logika. Ia adalah peneguhan. Ia menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal. Ia menunjukkan bahwa akal sendiri menuntun kita pada Tuhan.

Ketika kita merenung tentang Tuhan, kita sedang merenung tentang sesuatu yang paling sempurna. Kita tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih sempurna dari Tuhan. Itu berarti pikiran kita sudah diarahkan pada Tuhan. Pikiran kita sudah menyentuh sesuatu yang ilahi.

Anselm menulis bahwa ia tidak mencari untuk memahami agar ia percaya. Ia percaya agar ia memahami. Ia sudah percaya pada Tuhan. Tetapi ia ingin memahami mengapa kepercayaannya itu masuk akal. Ontological Argument adalah jawabannya.

Bagi kita, argumen ini mengingatkan bahwa iman bukanlah lompatan buta. Iman adalah tanggapan pada sesuatu yang sudah tertanam dalam diri kita. Kita diciptakan dengan kemampuan untuk memikirkan Tuhan. Kita diciptakan dengan kerinduan akan Yang Maha Sempurna. Dan kerinduan itu tidak mungkin ada jika objeknya tidak ada.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang anak bertanya kepada ibunya, “Bu, apakah Tuhan itu ada?” Ibunya menjawab, “Nak, coba pikirkan sesuatu yang paling sempurna. Sesuatu yang tidak ada bandingannya. Sesuatu yang paling baik, paling kuat, paling tahu. Itulah Tuhan. Sekarang, apakah sesuatu yang paling sempurna itu bisa hanya ada di dalam pikiran kita? Tentu tidak. Sesuatu yang paling sempurna harus ada di dunia nyata juga. Jadi, Tuhan ada.” Anak itu terdiam. Ia belum sepenuhnya paham. Tetapi ia merasa ada sesuatu yang dalam dari jawaban itu.

Seorang mahasiswa belajar filsafat. Ia membaca tentang Ontological Argument. Ia terpesona. Ia menyadari bahwa imannya bukanlah sesuatu yang irasional. Ia menyadari bahwa akal manusia, jika digunakan dengan jujur, akan menuntun pada Tuhan. Ia merasa dikuatkan.

Seorang yang sedang ragu berdoa. Ia merasa jauh dari Tuhan. Ia membaca tentang Anselm. Ia menyadari bahwa keraguannya bukanlah akhir. Ia menyadari bahwa pikirannya sendiri sudah mencari Tuhan. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa berhenti memikirkan Yang Maha Sempurna. Ia merasa ditarik kembali.

Seorang filsuf merenung tentang Tuhan. Ia membaca tentang Anselm. Ia membaca tentang Descartes. Ia membaca tentang Leibniz. Ia menyadari bahwa banyak pemikir besar telah menemukan argumen ini meyakinkan. Ia merasa bahwa ia tidak sendirian dalam pencariannya.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Ontological Argument bukan hanya teori. Ia menyentuh hati. Ia menguatkan iman. Ia mengingatkan bahwa Tuhan tidak jauh. Ia dekat. Ia ada di dalam pikiran kita, dan karena itu, Ia ada di dalam kenyataan.

Tiga Fase Menghadapi Ontological Argument

Fase pertama, Anda merasa kagum. Anda membaca argumen itu. Anda merasa logikanya indah. Anda merasa bahwa iman Anda mendapat pencerahan baru. Anda merasa bahwa akal dan iman bisa berjalan bersama.

Fase kedua, Anda merenung. Anda menyadari bahwa argumen ini sudah diperdebatkan selama berabad-abad. Anda membaca kritik-kritik. Anda membaca tanggapan-tanggapan. Anda menyadari bahwa tidak semua orang menerimanya. Tetapi Anda juga menyadari bahwa banyak pemikir besar menemukannya meyakinkan.

Fase ketiga, Anda berpegang. Anda memilih untuk percaya. Bukan karena Anda tidak punya keraguan. Tetapi karena Anda melihat bahwa argumen ini menunjuk pada sesuatu yang nyata. Anda melihat bahwa kerinduan Anda akan Yang Maha Sempurna tidak sia-sia. Anda melihat bahwa Tuhan benar-benar ada.

Tanggapan terhadap Kritik

Ontological Argument tidak lepas dari kritik. Tetapi kritik-kritik itu tidak menggoyahkan orang beriman. Mari kita lihat beberapa kritik dan bagaimana kita bisa menanggapinya.

Salah satu kritik paling terkenal datang dari seorang biarawan bernama Gaunilo. Ia mengajukan argumen yang mirip dengan Anselm, tetapi tentang sebuah pulau. Ia berkata, bayangkan sebuah pulau yang sempurna. Jika pulau itu hanya ada di dalam pikiran, maka kita bisa memikirkan pulau yang lebih sempurna, yaitu pulau yang ada di dalam kenyataan. Jadi, pulau itu harus ada. Tetapi kita tahu bahwa pulau yang sempurna itu tidak ada. Jadi, argumen Anselm salah.

Anselm menjawab bahwa argumennya hanya berlaku untuk Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya makhluk yang keberadaannya niscaya. Tuhan tidak bisa tidak ada. Sedangkan pulau tidak niscaya. Pulau bisa ada. Pulau bisa tidak ada. Jadi, argumennya tidak bisa diterapkan pada pulau. Tuhan bukanlah benda yang terbatas. Tuhan adalah Yang Maha Sempurna. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan-Nya.

Kritik kedua datang dari Immanuel Kant. Ia mengatakan bahwa keberadaan bukanlah sifat. Keberadaan tidak menambah apa pun pada konsep sesuatu. Bayangkan Anda memiliki seratus thaler. Apakah seratus thaler yang ada di dalam pikiran sama dengan seratus thaler yang ada di kantong? Secara konsep, sama. Secara kenyataan, berbeda. Tetapi perbedaannya bukan pada sifat thaler itu. Perbedaannya pada keberadaannya. Keberadaan bukan bagian dari konsep. Jadi, Anda tidak bisa mendefinisikan sesuatu menjadi ada.

Tetapi kita bisa menanggapi bahwa Tuhan berbeda dari thaler. Thaler adalah benda yang terbatas. Tuhan adalah Yang Maha Sempurna. Bagi Tuhan, keberadaan adalah bagian dari kesempurnaan-Nya. Jika Tuhan tidak ada, maka Ia tidak sempurna. Tetapi kita tahu Tuhan itu sempurna. Jadi, Tuhan harus ada. Keberadaan bukan sifat biasa. Keberadaan adalah sifat khusus yang membuat sesuatu menjadi nyata. Dan bagi Yang Maha Sempurna, keberadaan adalah keharusan.

Kritik ketiga datang dari para empiris. Mereka mengatakan bahwa pengetahuan hanya berasal dari pengalaman. Kita tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan hanya dari konsep. Kita butuh bukti. Kita butuh pengalaman. Tetapi kita bisa menanggapi bahwa tidak semua pengetahuan berasal dari pengalaman. Matematika, misalnya, tidak berasal dari pengalaman. Ia berasal dari logika. Kita bisa mengetahui kebenaran matematika tanpa harus mengalaminya. Begitu juga dengan Tuhan. Kita bisa mengetahui keberadaan Tuhan melalui logika.

Kritik keempat datang dari beberapa filsuf modern. Mereka mengatakan bahwa konsep “kesempurnaan” itu kabur. Apa itu sempurna? Apakah sempurna berarti maha kuasa? Apakah sempurna berarti maha baik? Apakah sempurna berarti maha tahu? Tidak ada definisi yang jelas. Tetapi kita bisa menanggapi bahwa kesempurnaan adalah konsep yang kita pahami secara intuitif. Kita tahu apa itu sempurna, meskipun kita tidak bisa mendefinisikannya dengan sempurna. Kita tahu bahwa sempurna berarti tidak ada kekurangan. Kita tahu bahwa sempurna berarti memiliki semua kebaikan. Dan kita tahu bahwa Tuhan adalah Yang Maha Sempurna.

Cara Menyikapi Ontological Argument

Pertama, hargai akal sebagai anugerah. Tuhan memberi kita akal. Kita bisa berpikir. Kita bisa bertanya. Kita bisa mencari. Ontological Argument adalah salah satu hasil dari akal. Hargai itu. Gunakan akal untuk semakin mengenal Tuhan.

Kedua, hargai iman. Iman bukanlah lawan dari akal. Iman adalah tanggapan pada sesuatu yang sudah dikenal oleh akal. Iman adalah kepercayaan pada Tuhan yang sudah kita kenal melalui pikiran kita. Iman lebih dalam dari argumen. Tetapi argumen bisa memperkuat iman.

Ketiga, jangan takut pada pertanyaan. Pertanyaan sulit bukan musuh iman. Pertanyaan sulit adalah teman pertumbuhan. Semakin Anda bertanya, semakin dalam pemahaman Anda. Semakin Anda bertanya, semakin kuat iman Anda.

Keempat, renungkan Tuhan. Luangkan waktu untuk merenung tentang Tuhan. Bukan untuk membuktikan apa pun. Hanya untuk menyadari bahwa Anda sedang memikirkan Yang Maha Sempurna. Hanya untuk menyadari bahwa pikiran Anda sendiri adalah bukti akan Tuhan.

Kelima, hidup sesuai dengan iman Anda. Jika Anda percaya pada Tuhan, hiduplah seperti orang yang percaya pada Tuhan. Berbuat baiklah. Mengasihilah. Mengampunilah. Jadilah saksi akan kebaikan Tuhan.

Keenam, hargai misteri. Tidak semua pertanyaan bisa dijawab. Tidak semua argumen bisa diselesaikan. Kadang kita harus hidup dengan pertanyaan yang belum terjawab. Kadang kita harus percaya meskipun kita tidak sepenuhnya paham. Itulah iman.

Ketujuh, jangan menghakimi orang yang meragukan. Orang yang meragukan bukan berarti tidak beriman. Kadang keraguan adalah bagian dari perjalanan. Kadang keraguan membawa kita pada iman yang lebih dalam. Dengarkan. Belajar. Terbuka.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. Tuhan adalah misteri. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahami Tuhan. Tetapi Anda bisa mencintai-Nya. Anda bisa menyembah-Nya. Anda bisa hidup untuk-Nya.

Penutup

Ontological Argument mengajarkan satu hal yang menghibur. Keberadaan Tuhan sudah terkandung dalam pikiran kita. Kita tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih sempurna dari Tuhan. Kita tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih besar dari Tuhan. Itu berarti Tuhan sudah ada di dalam pikiran kita. Dan karena Tuhan adalah Yang Maha Sempurna, maka Ia tidak bisa hanya ada di dalam pikiran. Ia harus ada di dalam kenyataan.

Ini bisa terasa menenangkan. Jika kita meragukan Tuhan, kita bisa merenung. Kita bisa bertanya, “Mengapa saya bisa memikirkan Yang Maha Sempurna? Mengapa saya punya kerinduan akan sesuatu yang lebih besar dari dunia ini?” Jawabannya adalah karena Tuhan sudah menanamkan kerinduan itu di dalam diri kita. Kita diciptakan untuk mencari-Nya. Dan kita tidak akan pernah berhenti mencari sampai kita menemukan-Nya.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah merenungkan keberadaan Tuhan? Apakah Anda pernah menyadari bahwa pikiran Anda sendiri menuntun Anda pada Yang Maha Sempurna? Dan jika ya, apakah Anda merasa bahwa kerinduan itu tidak sia-sia? Apakah Anda percaya bahwa Tuhan yang Anda cari itu benar-benar ada?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menyadari bahwa Tuhan tidak jauh dari Anda. Ia dekat. Ia ada di dalam pikiran Anda. Dan karena itu, Ia ada di dalam kenyataan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Ontological Argument: Kenapa Banyak Orang Percaya Bahwa Keberadaan Tuhan Itu Nggak Perlu Dibuktiin?

Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi ngobrol sama seseorang. Mungkin temen. Mungkin keluarga. Mungkin orang yang baru lo kenal. Topiknya berat. Topiknya soal Tuhan. Apakah Tuhan itu ada? Apa buktinya? Gimana cara kita tau?

Lo diem. Lo mikir. Lo coba jawab. Mungkin lo bilang, “Ya karena alam semesta ini teratur.” Mungkin lo bilang, “Ya karena ada mukjizat.” Mungkin lo bilang, “Ya karena kitab suci bilang gitu.” Mungkin lo bilang, “Ya karena gue ngerasain kehadiran-Nya.”

Dia diem. Dia dengerin. Terus dia nanya. “Tapi apa ada bukti yang nggak perlu pengalaman? Apa ada bukti yang nggak perlu kitab suci? Apa ada bukti yang cuma dari logika? Cuma dari definisi? Cuma dari pikiran?”

Lo diem lagi. Lo nggak punya jawabannya. Karena lo nggak pernah mikir sampe situ. Lo cuma percaya. Lo cuma ngerasain. Lo cuma ngikutin.

Terus ada satu filsuf yang dateng. Dia bukan atheis. Dia bukan orang yang mau nyerang iman. Dia justru orang yang percaya. Dia seorang biarawan. Dia seorang uskup. Dia seorang yang sangat mencintai Tuhan. Namanya Anselm dari Canterbury. Dan dia bilang, “Ada. Ada cara buat ngomong soal Tuhan. Bukan buat nyerang. Tapi buat ngejelasin. Buat ngasih dasar. Buat ngasih alasan.”

Itulah yang disebut Ontological Argument. Dan gue mau lo liat argumen ini bukan sebagai serangan. Tapi sebagai salah satu cara orang percaya ngomong soal imannya.

Sebenernya Ontological Argument Itu Apa Sih?

Ontological Argument itu simpelnya gini: Tuhan itu ada. Bukan cuma karena ada bukti di dunia. Bukan cuma karena ada pengalaman. Bukan cuma karena ada kitab suci. Tapi karena definisi Tuhan itu sendiri udah mengandung keberadaan.

Dengan kata lain: kalo lo ngerti apa artinya “Tuhan,” maka lo udah ngerti bahwa Tuhan itu ada. Karena “Tuhan” itu nggak bisa didefinisiin tanpa keberadaan. Kaya gimana lo nggak bisa ngomong “segitiga” tanpa ngomong “tiga sisi.” Segitiga ya punya tiga sisi. Nggak bisa nggak.

Anselm bilang: Tuhan itu “sesuatu yang nggak ada yang lebih gede dari-Nya.” Tuhan itu makhluk paling sempurna. Makhluk paling hebat. Makhluk paling agung. Nggak ada yang bisa ngalahin.

Sekarang, Anselm nanya. “Kalo Tuhan itu makhluk paling sempurna, apa Tuhan cuma ada di pikiran kita? Atau Tuhan ada di dunia nyata juga?”

Kalo Tuhan cuma ada di pikiran, berarti ada sesuatu yang lebih gede. Yaitu Tuhan yang ada di pikiran DAN di dunia nyata. Karena sesuatu yang ada di pikiran dan di dunia nyata lebih gede daripada sesuatu yang cuma ada di pikiran.

Tapi tunggu dulu. Tadi kan definisinya: Tuhan itu nggak ada yang lebih gede. Kalo Tuhan cuma ada di pikiran, berarti ada yang lebih gede. Kontradiksi. Jadi, Tuhan nggak bisa cuma ada di pikiran. Tuhan harus ada di dunia nyata juga.

Itulah Ontological Argument. Dia bilang: Tuhan harus ada. Karena kalo nggak ada, Dia bukan Tuhan. Karena kalo nggak ada, ada yang lebih gede dari Dia. Dan itu mustahil.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma argumen filsuf. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Ontological Argument nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah ngerasa nggak bisa ngejelasin kenapa lo percaya Tuhan. Lo percaya. Tapi lo nggak bisa ngasih alasan yang rasional. Lo nggak bisa ngasih bukti yang logis. Lo cuma bisa bilang, “Gue ngerasa.” Atau, “Gue percaya aja.” Dan lo mulai nanya, “Apa ada cara buat ngejelasin iman gue dengan logika?”

Kedua, lo mungkin pernah debat sama orang yang nuntut bukti. Dia bilang, “Buktiin Tuhan itu ada. Kasih gue bukti yang logis. Kasih gue bukti yang rasional.” Lo diem. Lo nggak punya buktinya. Lo cuma punya iman. Lo cuma punya pengalaman. Dan lo mulai mikir, “Apa ada argumen yang bisa gue pake? Bukan buat menang. Tapi buat ngejelasin.”

Ketiga, lo mungkin pernah mikir soal definisi Tuhan. Apa itu Tuhan? Siapa itu Tuhan? Apa sifat-sifat-Nya? Apa artinya “Maha Kuasa”? Apa artinya “Maha Baik”? Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai ngerenung.

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa Tuhan itu sesuatu yang nggak bisa dijelasin. Tuhan itu misteri. Tuhan itu nggak bisa dipahami. Tuhan itu nggak bisa didefinisiin. Tapi Ontological Argument bilang: justru karena definisinya, Tuhan harus ada.

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Argumen Ini

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa nggak bisa ngejelasin kenapa lo percaya Tuhan? Itu tanda lo lagi nyentuh Ontological Argument.

  2. Lo pernah debat sama orang yang nuntut bukti? Itu tanda lo lagi mikir soal argumen.

  3. Lo pernah mikir soal definisi Tuhan? Itu tanda lo lagi ngerenung.

  4. Lo pernah ngerasa bahwa Tuhan itu nggak bisa didefinisiin? Itu tanda lo lagi mikir.

  5. Lo pernah mikir “apa Tuhan itu ada karena definisinya?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti argumen ini.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener dalem. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di percakapan. Lo lagi ngobrol sama temen. Dia bilang, “Gue nggak percaya Tuhan. Buktiin kalo Tuhan itu ada.” Lo diem. Lo mikir. Lo bilang, “Tuhan itu definisinya: nggak ada yang lebih gede dari-Nya. Kalo Tuhan cuma ada di pikiran lo, berarti ada yang lebih gede. Yaitu Tuhan yang ada di pikiran DAN di dunia nyata. Jadi, Tuhan harus ada di dunia nyata juga.” Temen lo diem. Dia bingung. Dia nggak bisa bantah. Tapi dia juga nggak yakin.

Di buku filsafat. Lo baca buku. Lo baca tentang Anselm. Lo baca tentang Ontological Argument. Lo mikir. Lo nanya. Lo ngerasa bahwa argumen ini terlalu gampang. Terlalu simpel. Tapi lo juga ngerasa bahwa argumen ini susah dibantah.

Di debat. Lo liat debat antara teis dan atheis. Teis pake Ontological Argument. Atheis bantah. Teis bales. Atheis bales lagi. Nggak ada yang menang. Nggak ada yang kalah. Dua-duanya punya poin. Dua-duanya punya alasan.

Di diri lo sendiri. Lo lagi sendiri. Lo lagi mikir. Lo nanya, “Apa Tuhan itu ada? Apa buktinya?” Lo coba pake Ontological Argument. Lo coba pake logika. Lo coba pake definisi. Lo ngerasa bahwa lo udah buktiin Tuhan itu ada. Tapi lo juga ngerasa ada yang bolong. Ada yang kurang. Ada yang nggak beres.

Fase-Fase Lo Ngadepin Argumen Ini

Fase pertama: lo ngerasa iman itu cukup.
Lo percaya Tuhan. Lo nggak perlu bukti. Lo nggak perlu argumen. Lo nggak perlu logika. Lo cuma percaya. Lo cuma ngerasain. Lo cuma ngikutin.

Fase kedua: lo mulai mikir.
Lo denger Ontological Argument. Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai ngerasa bahwa iman bisa dijelasin dengan logika. Lo mulai ngerasa bahwa ada argumen yang bisa dipake. Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa aneh.

Fase ketiga: lo nyari posisi.
Lo mulai baca. Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai nyari jawaban. Lo mungkin nemuin jawaban. Lo mungkin nggak nemuin jawaban. Lo mungkin percaya Ontological Argument. Lo mungkin nolak Ontological Argument. Lo mungkin ada di tengah. Yang penting, lo mulai mikir.

Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?

Ontological Argument nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin argumen ini. Tapi penting buat lo tau bahwa yang nolak bukan cuma atheis. Banyak teis juga ngerasa argumen ini nggak cukup. Mereka tetep percaya Tuhan. Tapi mereka nggak pake argumen ini.

Pertama, kritik dari Guanilo. Guanilo adalah biarawan yang sezaman sama Anselm. Dia juga percaya Tuhan. Tapi dia ngerasa argumen Anselm terlalu gampang. Dia bikin parodi. Dia bilang, “Kalo gitu, gue bisa buktiin bahwa pulau paling sempurna itu ada. Karena pulau paling sempurna nggak bisa cuma ada di pikiran. Dia harus ada di dunia nyata juga.” Anselm bales, “Pulau nggak sama kayak Tuhan. Pulau itu terbatas. Tuhan itu nggak terbatas. Jadi, argumennya beda.”

Kedua, kritik dari Kant. Immanuel Kant bilang, “Keberadaan itu bukan sifat. Keberadaan itu nggak nambah apa-apa ke konsep sesuatu.” Contoh: lo bayangin seratus dolar di pikiran. Terus lo bayangin seratus dolar di dompet. Apa bedanya? Secara konsep, sama aja. Yang beda cuma keberadaannya. Tapi keberadaan itu bukan sifat. Jadi, lo nggak bisa bilang bahwa sesuatu yang ada lebih sempurna daripada sesuatu yang nggak ada.

Ketiga, kritik dari Hume. David Hume bilang, “Lo nggak bisa nyimpulin keberadaan dari definisi. Keberadaan itu fakta. Fakta itu nggak bisa disimpulin dari konsep.” Contoh: lo bisa definisiin “dragon” sebagai makhluk yang ada. Tapi itu nggak berarti dragon itu beneran ada.

Keempat, kritik dari banyak filsuf modern. Banyak filsuf bilang, “Ontological Argument itu cuma permainan kata. Dia nggak buktiin apa-apa. Dia cuma ngasih definisi. Dan definisi nggak nciptain kenyataan.”

Tapi dengerin. Kritik-kritik ini bukan berarti argumennya salah total. Kritik ini cuma berarti argumennya nggak sempurna. Dan nggak ada argumen yang sempurna. Semua argumen punya celah. Semua argumen punya kritik.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Ontological Argument punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang argumen ini sempurna. Mereka sering bilang argumen ini berguna.

Mereka bilang, kritik Guanilo salah. Karena Tuhan itu nggak kayak pulau. Tuhan itu nggak terbatas. Tuhan itu nggak punya batas. Jadi, argumennya beda.

Mereka bilang, kritik Kant salah. Karena keberadaan itu emang bukan sifat. Tapi keberadaan itu syarat. Sesuatu yang ada lebih sempurna daripada sesuatu yang nggak ada. Karena sesuatu yang ada punya lebih banyak realitas.

Mereka bilang, kritik Hume salah. Karena argumen ini bukan tentang fakta. Argumen ini tentang konsep. Tentang definisi. Tentang logika. Dan logika itu valid.

Mereka juga bilang, ada versi modern dari Ontological Argument. Salah satunya dari Alvin Plantinga. Dia seorang filsuf Kristen yang sangat percaya Tuhan. Dia pake modal logic. Dia bilang, “Kalo Tuhan itu mungkin ada, maka Tuhan itu pasti ada.” Argumennya lebih rumit. Tapi intinya sama.

Dan ada satu hal yang penting. Banyak orang percaya nggak pake Ontological Argument. Mereka pake argumen lain. Argumen kosmologis. Argumen teleologis. Argumen moral. Atau cuma pengalaman pribadi. Atau cuma iman. Dan itu nggak apa-apa. Ontological Argument cuma salah satu cara. Bukan satu-satunya cara.

Cara Nyikapin Argumen Ini Tanpa Kehilangan Iman

1. Jangan takut sama argumen.
Argumen bukan musuh iman. Argumen adalah alat. Dia bisa nguatin iman. Dia bisa ngejelasin iman. Dia bisa bikin iman lebih kokoh. Jangan takut. Pelajari.

2. Jangan langsung percaya.
Jangan langsung percaya Ontological Argument cuma karena lo pengen percaya. Jangan langsung nolak cuma karena lo nggak ngerti. Baca. Pelajari. Pahami. Baru ambil sikap.

3. Jangan langsung nolak.
Jangan langsung nolak cuma karena kedengeran aneh. Kadang, yang aneh itu bener. Kadang, yang aneh itu cuma belum dipahami.

4. Bedain antara iman dan argumen.
Iman itu iman. Argumen itu argumen. Dua-duanya beda. Lo boleh punya iman tanpa argumen. Lo boleh punya argumen tanpa iman. Jangan campur aduk. Jangan ngerasa bahwa kalo argumennya lemah, iman lo juga lemah. Iman lo nggak tergantung pada satu argumen.

5. Hargai logika.
Logika itu alat yang kuat. Logika bisa ngasih pemahaman. Logika bisa ngasih kejelasan. Tapi logika juga punya batas. Jangan terlalu ngandelin logika. Jangan terlalu nolak logika.

6. Hargai misteri.
Tuhan itu misteri. Kalo Tuhan bisa dipahami sepenuhnya, Dia bukan Tuhan. Jadi, jangan ngerasa harus ngerti semuanya. Jangan ngerasa harus buktiin semuanya. Ada hal-hal yang cuma bisa dipahami lewat iman.

7. Jangan gunain argumen buat ngehakimin.
Jangan gunain Ontological Argument buat ngehakimin orang yang nggak percaya. Jangan gunain buat ngerendahin. Jangan gunain buat ngejek. Gunain buat memahami. Bukan buat menang.

8. Hormati perbedaan.
Ada yang percaya. Ada yang nggak. Ada yang di tengah. Nggak ada yang salah. Nggak ada yang bener. Setiap orang punya jalan sendiri. Hormati itu.

9. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Nggak ada yang tau segalanya. Tuhan itu misteri. Iman itu misteri. Terimalah itu. Dan teruslah belajar.

10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa buktiin dengan pasti apakah Tuhan itu ada. Lo nggak akan pernah bisa buktiin dengan pasti apakah Ontological Argument itu valid. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Ketidaktahuan

Yang paling lo takutin bukan ketidaktahuan. Bukan keraguan. Bukan ketidakpastian.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar iman lo nggak punya dasar. Kalo lo sadar keyakinan lo cuma warisan. Kalo lo sadar lo percaya cuma karena lo takut. Kalo lo sadar lo nggak pernah mikir. Lo nggak pernah nanya. Lo nggak pernah nyari. Lo cuma ngikutin.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa mikir. Kalo lo sadar, lo bisa nanya. Kalo lo sadar, lo bisa nyari. Kalo lo sadar, lo bisa nemuin jawaban. Kalo lo sadar, lo bisa nemuin iman yang lebih kokoh. Iman yang bukan cuma warisan. Tapi iman yang lo pilih. Iman yang lo pahami. Iman yang lo cintai.

Ontological Argument bukan tentang ngerusak iman. Dia tentang ngejelasin iman. Dia tentang ngasih dasar. Dia tentang ngasih argumen. Dia tentang ngasih cara buat ngomong.

Dan satu hal lagi. Lo nggak harus pake argumen ini. Kalo lo ngerasa argumen ini nggak cocok buat lo, nggak apa-apa. Lo bisa pake argumen lain. Atau lo bisa nggak pake argumen sama sekali. Karena iman itu bukan cuma soal argumen. Iman itu soal kepercayaan. Soal cinta. Soal hubungan. Dan hubungan nggak butuh bukti matematis. Hubungan butuh kehadiran.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Ontological Argument ngajarin satu hal yang menantang. Tuhan itu ada. Bukan cuma karena ada bukti di dunia. Bukan cuma karena ada pengalaman. Bukan cuma karena ada kitab suci. Tapi karena definisi Tuhan itu sendiri udah mengandung keberadaan.

Ini bisa berasa aneh. Kalo Tuhan itu ada cuma dari definisi, apa artinya? Tapi ini juga bisa berasa mengagumkan. Karena kalo Tuhan itu ada dari definisi, maka Tuhan itu nggak bisa nggak ada. Tuhan itu pasti. Tuhan itu mutlak. Tuhan itu fondasi dari segala sesuatu.

Jadi, gue mau nanya ke lo. Bukan buat ngeuji. Bukan buat ngehakimin. Cuma buat ngerenung.

Lo percaya Ontological Argument? Lo nolak? Lo nggak yakin? Lo ngerasa argumen ini kuat? Lo ngerasa argumen ini lemah?

Dan kalo lo nggak tau, apa lo siap mikir? Apa lo siap nanya? Apa lo siap nyari?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.

Dan kalo lo percaya Tuhan, nggak apa-apa kalo lo nggak ngerti semua argumen. Nggak apa-apa kalo lo nggak bisa jawab semua pertanyaan. Iman itu bukan tentang ngerti semuanya. Iman itu tentang percaya meskipun nggak ngerti. Iman itu tentang melangkah meskipun nggak liat. Iman itu tentang mempercayai sesuatu yang lebih gede dari diri lo.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai mikir soal dasar iman lo sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *