filsafat

Akrasia: Mengapa Anda Tahu yang Benar tetapi Tetap Melakukan yang Salah?

Pernahkah Anda berniat tidur lebih awal, tetapi malah begadang menonton serial sampai jam tiga pagi? Pernahkah Anda bertekad diet, tetapi di tengah malam Anda membuka kulkas dan mengambil es krim? Pernahkah Anda tahu bahwa Anda harus belajar untuk ujian, tetapi Anda malah bermain ponsel selama berjam-jam? Anda tahu apa yang seharusnya Anda lakukan. Anda tahu apa yang baik untuk Anda. Tetapi Anda tetap melakukan yang sebaliknya. Anda melakukannya sambil menyadari bahwa itu salah. Anda melakukannya sambil merasa bersalah. Tetapi Anda tetap melakukannya.

Itulah Akrasia. Sebuah istilah Yunani kuno untuk menggambarkan kelemahan kehendak. Kondisi ketika Anda mengetahui apa yang benar, tetapi Anda gagal melakukannya. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Akrasia?

Akrasia adalah istilah dari bahasa Yunani yang berarti “kurangnya kendali diri” atau “kelemahan kehendak”. Dalam filsafat, akrasia mengacu pada tindakan seseorang yang bertentangan dengan penilaian terbaiknya sendiri. Anda tahu bahwa X lebih baik daripada Y. Anda tahu bahwa Anda seharusnya memilih X. Tetapi Anda memilih Y. Anda memilih Y bukan karena Anda tidak tahu. Anda memilih Y karena keinginan, emosi, atau kebiasaan Anda lebih kuat daripada pengetahuan Anda.

Akrasia bukan hanya tentang hal-hal besar. Akrasia terjadi dalam hal-hal kecil setiap hari. Anda tahu bahwa Anda harus bangun lebih pagi, tetapi Anda menekan tombol snooze. Anda tahu bahwa Anda harus menelepon orang tua Anda, tetapi Anda menundanya. Anda tahu bahwa Anda harus berhenti merokok, tetapi Anda menyalakan satu batang lagi. Anda tahu bahwa Anda harus jujur, tetapi Anda berbohong kecil.

Akrasia adalah pengalaman manusia yang universal. Setiap orang pernah mengalaminya. Bahkan orang yang paling disiplin pun pernah mengalaminya. Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah mengalami akrasia. Pertanyaannya adalah seberapa sering, seberapa parah, dan apa yang Anda lakukan setelahnya.

Socrates dan Aristotle: Dua Pandangan yang Berbeda

Akrasia sudah dibahas oleh para filsuf Yunani kuno. Dua filsuf besar, Socrates dan Aristotle, punya pandangan yang berbeda tentang akrasia.

Socrates percaya bahwa akrasia sebenarnya tidak mungkin. Ia berargumen bahwa jika seseorang benar-benar tahu apa yang baik, ia tidak akan melakukan yang buruk. Menurut Socrates, orang yang berbuat salah sebenarnya tidak tahu apa yang benar. Mereka hanya mengira mereka tahu. Mereka salah paham tentang apa yang baik. Jika mereka benar-benar tahu, mereka pasti akan melakukannya.

Socrates percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Jika Anda tahu yang baik, Anda akan melakukan yang baik. Jika Anda tidak melakukan yang baik, berarti Anda tidak benar-benar tahu. Mungkin Anda tahu secara intelektual, tetapi Anda tidak tahu secara mendalam. Mungkin Anda tahu di kepala, tetapi tidak di hati.

Aristotle tidak setuju dengan Socrates. Aristotle percaya bahwa akrasia itu mungkin. Ia berargumen bahwa seseorang bisa tahu apa yang baik, tetapi tetap melakukan yang buruk. Mengapa? Karena emosi dan keinginan bisa mengalahkan akal.

Aristotle membedakan antara mengetahui secara umum dan mengetahui secara khusus. Anda tahu secara umum bahwa makan sehat itu baik. Tetapi ketika Anda melihat kue cokelat di depan Anda, pengetahuan umum itu kalah oleh keinginan khusus saat itu. Anda tahu bahwa Anda harus diet. Tetapi Anda juga ingin merasakan nikmatnya kue itu sekarang. Dan keinginan itu menang.

Aristotle melihat akrasia sebagai kelemahan karakter. Ia bukan tentang ketidaktahuan. Ia tentang kurangnya kendali diri. Orang yang akratik tahu apa yang benar. Ia hanya tidak mampu melakukannya.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya istilah filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda gagal menepati janji pada diri sendiri? Pernahkah Anda merasa frustrasi karena Anda tahu apa yang harus dilakukan, tetapi Anda tidak melakukannya? Pernahkah Anda merasa bahwa Anda adalah musuh terbesar bagi diri Anda sendiri? Pernahkah Anda merasa bahwa Anda memiliki pengetahuan, tetapi tidak memiliki kekuatan?

Akrasia juga muncul dalam masalah kesehatan. Orang tahu bahwa merokok membunuh. Orang tahu bahwa junk food merusak tubuh. Orang tahu bahwa olahraga itu penting. Tetapi banyak orang tetap merokok, tetap makan junk food, tetap malas olahraga. Mereka tahu. Tetapi mereka tidak melakukannya.

Akrasia juga muncul dalam masalah keuangan. Orang tahu bahwa menabung itu penting. Orang tahu bahwa berutang itu berbahaya. Tetapi banyak orang tetap berbelanja berlebihan. Mereka tetap menggunakan kartu kredit untuk hal-hal yang tidak perlu.

Akrasia juga muncul dalam masalah hubungan. Orang tahu bahwa mereka harus mendengarkan pasangannya. Orang tahu bahwa mereka harus menghargai orang lain. Tetapi banyak orang tetap marah, tetap egois, tetap menyakiti.

Akrasia juga muncul dalam masalah lingkungan. Orang tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu buruk. Orang tahu bahwa menggunakan plastik berlebihan itu merusak. Tetapi banyak orang tetap melakukannya karena malas atau karena tidak nyaman.

Akrasia adalah masalah manusia. Ia bukan masalah pengetahuan. Ia masalah kehendak. Ia masalah kebiasaan. Ia masalah emosi.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa tahu bahwa ia harus belajar untuk ujian besok. Ia sudah menyiapkan buku. Ia sudah membuat jadwal. Tetapi ketika ia duduk di meja, ia membuka ponsel. Ia melihat media sosial. Ia melihat video. Ia melihat berita. Dua jam berlalu. Ia belum belajar. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tetapi ia tidak melakukannya.

Seorang karyawan tahu bahwa ia harus menyelesaikan laporan hari ini. Ia sudah berjanji pada atasannya. Tetapi ketika ia membuka komputer, ia membuka email. Ia membalas pesan. Ia membaca berita. Ia menunda pekerjaan itu. Sore tiba. Laporan belum selesai. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tetapi ia tidak melakukannya.

Seorang ibu tahu bahwa ia harus lebih sabar pada anaknya. Ia sudah membaca buku tentang parenting. Ia sudah bertekad untuk tidak membentak. Tetapi ketika anaknya berbuat salah, ia meledak. Ia membentak. Ia menyesal setelahnya. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tetapi ia tidak melakukannya.

Seorang perokok tahu bahwa rokok membunuhnya. Ia sudah melihat foto paru-paru yang hitam. Ia sudah mendengar nasihat dokter. Ia sudah bertekad untuk berhenti. Tetapi ketika stres datang, ia menyalakan rokok. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tetapi ia tidak melakukannya.

Seorang pengguna media sosial tahu bahwa ia harus mengurangi waktu layar. Ia sudah membaca tentang dampak buruknya. Ia sudah mencoba membatasi diri. Tetapi ketika bosan, ia membuka ponsel lagi. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tetapi ia tidak melakukannya.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa akrasia bukan hanya teori. Ia adalah pengalaman yang kita alami setiap hari. Kita tahu. Tetapi kita tidak melakukannya.

Tiga Fase Menghadapi Akrasia

Fase pertama, Anda menyadari. Anda tahu apa yang seharusnya Anda lakukan. Anda tahu bahwa ada jarak antara pengetahuan Anda dan tindakan Anda. Anda merasa bersalah. Anda merasa frustrasi. Anda bertanya, “Mengapa saya begini?”

Fase kedua, Anda mencari alasan. Anda mencoba memahami mengapa Anda gagal. Apakah karena Anda tidak cukup termotivasi? Apakah karena Anda lelah? Apakah karena Anda stres? Apakah karena kebiasaan? Anda mulai melihat pola. Anda mulai melihat pemicu.

Fase ketiga, Anda berlatih. Anda menyadari bahwa akrasia bukan tentang pengetahuan. Ia tentang kebiasaan. Ia tentang kendali diri. Anda mulai berlatih. Anda mulai membuat perubahan kecil. Anda mulai membangun sistem. Anda mulai mencari dukungan. Anda tidak menjadi sempurna. Tetapi Anda menjadi lebih baik.

Cara Menyikapi Akrasia

Pertama, akui bahwa Anda mengalami akrasia. Jangan menyangkal. Jangan berpura-pura bahwa Anda tidak tahu. Akui bahwa Anda tahu apa yang benar, tetapi Anda gagal melakukannya. Mengakui adalah langkah pertama.

Kedua, jangan hanya mengandalkan pengetahuan. Pengetahuan saja tidak cukup. Anda bisa tahu bahwa olahraga itu baik, tetapi Anda tetap tidak berolahraga. Anda perlu lebih dari sekadar tahu. Anda perlu sistem. Anda perlu kebiasaan. Anda perlu lingkungan yang mendukung.

Ketiga, perhatikan pemicu Anda. Apa yang membuat Anda melakukan hal yang bertentangan dengan penilaian terbaik Anda? Apakah stres? Apakah bosan? Apakah lelah? Apakah godaan tertentu? Kenali pemicu itu. Hindari jika bisa. Atau siapkan strategi untuk menghadapinya.

Keempat, buat pilihan menjadi lebih mudah. Jika Anda ingin makan sehat, jangan simpan junk food di rumah. Jika Anda ingin belajar, jauhkan ponsel dari meja. Jika Anda ingin berolahraga, siapkan pakaian olahraga di malam hari. Kecilkan hambatan untuk tindakan yang baik. Besarkan hambatan untuk tindakan yang buruk.

Kelima, gunakan aturan if-then. Rencanakan sebelumnya. “Jika saya merasa stres, maka saya akan berjalan kaki selama lima menit.” “Jika saya ingin membuka media sosial, maka saya akan minum air dulu.” Aturan ini membantu Anda mengambil keputusan tanpa berpikir saat godaan datang.

Keenam, jangan menuntut kesempurnaan. Anda akan gagal. Anda akan kembali ke kebiasaan lama. Itu normal. Yang penting adalah Anda bangkit lagi. Jangan biarkan satu kesalahan menghancurkan seluruh usaha Anda. Mulailah lagi.

Ketujuh, cari dukungan. Anda tidak perlu melakukannya sendirian. Beritahu teman tentang tujuan Anda. Minta mereka mengingatkan Anda. Bergabunglah dengan komunitas yang punya tujuan sama. Lingkungan yang baik membuat akrasia lebih sulit terjadi.

Kedelapan, berbelas kasih pada diri sendiri. Akrasia bukan tanda bahwa Anda orang jahat. Ia tanda bahwa Anda manusia. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Rasa bersalah yang berlebihan bisa membuat Anda semakin sulit berubah. Maafkan diri Anda. Lalu coba lagi.

Penutup

Akrasia mengajarkan satu hal yang tidak nyaman. Tahu saja tidak cukup. Anda bisa tahu apa yang benar, tetapi tetap melakukan yang salah. Anda bisa tahu apa yang baik, tetapi tetap memilih yang buruk. Anda bisa tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tetap tidak melakukannya.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika pengetahuan saja tidak cukup, apa yang bisa diandalkan? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Anda tidak perlu menyalahkan ketidaktahuan. Anda bisa fokus pada kebiasaan. Anda bisa fokus pada sistem. Anda bisa fokus pada latihan. Anda bisa berubah, sedikit demi sedikit.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Di bagian mana hidup Anda mengalami akrasia? Apa yang Anda tahu harus Anda lakukan, tetapi tidak Anda lakukan? Dan jika Anda sudah menyadarinya, apakah Anda siap untuk mulai melatih kendali diri Anda?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai melatih kehendak Anda sendiri.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Akrasia: Kenapa Lo Tau yang Bener, Tapi Tetep Ngelakuin yang Salah?

Coba inget lagi. Malem. Lo udah rebahan. HP di tangan. Jam nunjukin angka 11. Lo bilang ke diri sendiri, “Oke, abis ini gue tidur.” Tapi episode berikutnya muncul di layar. Cuma satu episode lagi. Lo pencet next.

Jam 12. Episode berikutnya muncul lagi. Lo pencet next lagi. Jam 1. Jam 2. Jam 3. Mata lo perih. Badan lo pegel. Tapi lo tetep nggak bisa berhenti. Lo tau besok lo harus bangun pagi. Lo tau lo bakal nyesel. Lo tau lo bakal capek seharian. Tapi lo tetep nggak berhenti.

Terus pas jam 4 pagi, lo akhirnya matiin HP. Lo rebahan. Lo merem. Lo ngerasa bersalah. Lo ngerasa bodoh. Lo ngerasa lemah. Lo nanya dalam hati. “Kenapa sih gue gini amat? Gue kan tau ini salah. Kenapa gue tetep ngelakuin?”

Itulah yang orang Yunani kuno sebut Akrasia. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal ngerti kenapa lo (dan semua orang) sering ngelakuin hal yang lo tau bakal ngerugiin lo.

Sebenernya Akrasia Itu Apa Sih?

Akrasia itu istilah dari bahasa Yunani. Artinya “kurangnya kendali diri” atau “kelemahan kehendak.”

Dalam filsafat, akrasia ngacu pada tindakan seseorang yang bertentangan dengan penilaian terbaiknya sendiri. Lo tau bahwa X lebih baik daripada Y. Lo tau bahwa lo harus milih X. Tapi lo milih Y. Lo milih Y bukan karena lo nggak tau. Lo milih Y karena keinginan, emosi, atau kebiasaan lo lebih kuat daripada pengetahuan lo.

Akrasia bukan cuma soal hal-hal gede. Akrasia terjadi dalam hal-hal kecil setiap hari. Lo tau harus bangun pagi, tapi lo nekan snooze. Lo tau harus nelpon orang tua, tapi lo nunda. Lo tau harus berhenti merokok, tapi lo nyalain satu batang lagi. Lo tau harus jujur, tapi lo bohong kecil.

Akrasia adalah pengalaman manusia yang universal. Setiap orang pernah ngalaminnya. Bahkan orang yang paling disiplin pun pernah ngalaminnya. Pertanyaannya bukan apakah lo pernah ngalamin akrasia. Pertanyaannya adalah seberapa sering, seberapa parah, dan apa yang lo lakuin setelahnya.

Socrates vs Aristoteles: Dua Pandangan yang Beda

Akrasia udah dibahas filsuf Yunani kuno. Dua filsuf besar, Socrates dan Aristoteles, punya pandangan yang beda tentang akrasia.

Socrates percaya bahwa akrasia sebenernya nggak mungkin. Dia berargumen bahwa kalo seseorang bener-bener tau apa yang baik, dia nggak akan ngelakuin yang buruk. Menurut Socrates, orang yang berbuat salah sebenernya nggak tau apa yang bener. Mereka cuma ngira mereka tau. Mereka salah paham tentang apa yang baik. Kalo mereka bener-bener tau, mereka pasti akan ngelakuinnya.

Socrates percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Kalo lo tau yang baik, lo akan ngelakuin yang baik. Kalo lo nggak ngelakuin yang baik, berarti lo nggak bener-bener tau. Mungkin lo tau secara intelektual, tapi lo nggak tau secara mendalam. Mungkin lo tau di kepala, tapi nggak di hati.

Aristoteles nggak setuju sama Socrates. Aristoteles percaya bahwa akrasia itu mungkin. Dia berargumen bahwa seseorang bisa tau apa yang baik, tapi tetep ngelakuin yang buruk. Kenapa? Karena emosi dan keinginan bisa ngalahin akal.

Aristoteles bedain antara mengetahui secara umum dan mengetahui secara khusus. Lo tau secara umum bahwa makan sehat itu baik. Tapi ketika lo liat kue cokelat di depan lo, pengetahuan umum itu kalah oleh keinginan khusus saat itu. Lo tau bahwa lo harus diet. Tapi lo juga pengen ngerasain nikmatnya kue itu sekarang. Dan keinginan itu menang.

Aristoteles liat akrasia sebagai kelemahan karakter. Dia bukan tentang ketidaktahuan. Dia tentang kurangnya kendali diri. Orang yang akratik tau apa yang bener. Dia cuma nggak mampu ngelakuinnya.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma istilah filsuf. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Akrasia nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah gagal nepatin janji ke diri sendiri. Lo udah bilang, “Besok gue mulai diet.” “Besok gue mulai olahraga.” “Besok gue mulai belajar.” Tapi besoknya, lo ngelakuin hal yang sama. Lo gagal. Lo ngerasa frustrasi. Lo nanya, “Kenapa gue nggak bisa konsisten?”

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa jadi musuh terbesar buat diri lo sendiri. Lo tau apa yang harus dilakuin. Lo tau apa yang bikin lo bahagia. Lo tau apa yang bikin lo sukses. Tapi lo malah ngelakuin sebaliknya. Lo malah ngerugiin diri lo sendiri.

Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bersalah setelah ngelakuin sesuatu yang lo tau salah. Lo makan terlalu banyak. Lo belanja terlalu banyak. Lo main HP terlalu lama. Lo nunda kerjaan terlalu sering. Dan lo ngerasa bersalah. Tapi besoknya, lo ngulangin lagi.

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa nggak punya kendali. Lo ngerasa kayak ada dua orang di dalem kepala lo. Satu orang yang pengen lo sukses. Satu orang yang pengen lo seneng. Dan yang kedua sering menang.

Tanda-Tanda Lo Lagi Kena Akrasia

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah begadang padahal lo tau harus tidur? Itu tanda lo kena akrasia.

  2. Lo pernah nunda kerjaan padahal deadline udah deket? Itu tanda lo kena akrasia.

  3. Lo pernah makan berlebihan padahal lo tau itu nggak sehat? Itu tanda lo kena akrasia.

  4. Lo pernah nggak bisa berhenti scroll medsos padahal lo tau itu buang waktu? Itu tanda lo kena akrasia.

  5. Lo pernah ngerasa bersalah setelah ngelakuin sesuatu yang lo tau salah? Itu tanda lo kena akrasia.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener manusiawi. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo manusia.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di pagi hari. Alarm bunyi. Lo harus bangun. Lo tau lo harus bangun. Tapi tangan lo ngeraih HP. Lo pencet snooze. Lo rebahan lagi. Lima menit. Sepuluh menit. Tiga puluh menit. Lo telat. Lo buru-buru. Lo ngelewatin sarapan. Lo nyampe kantor kesiangan. Lo ngerasa bersalah. Tapi besoknya, lo ngulangin lagi.

Di kerjaan. Lo punya deadline. Lo punya laporan yang harus selesai. Lo tau itu penting. Lo tau itu urgent. Tapi lo malah buka YouTube. Lo malah buka Instagram. Lo malah buka TikTok. Lo nonton video lucu. Lo lupa waktu. Tiga jam berlalu. Laporan belum disentuh. Lo panik. Lo kerja sampe malem. Lo ngerasa capek. Lo ngerasa bodoh.

Di kesehatan. Lo tau merokok itu buruk. Lo tau rokok bikin kanker. Lo tau rokok bikin lo sesak. Tapi lo tetep nyalain. Karena lo lagi stres. Karena lo lagi capek. Karena lo lagi butuh. Lo tau apa yang harus dilakuin. Tapi lo nggak bisa berhenti.

Di keuangan. Lo tau harus nabung. Lo tau harus hemat. Lo tau utang itu bahaya. Tapi lo tetep belanja. Lo tetep checkout. Lo tetep pake kartu kredit. Karena lo pengen barang itu. Karena lo pengen ngerasa seneng. Karena lo pengen ngerasa dihargai. Lo tau apa yang harus dilakuin. Tapi lo nggak bisa nahan.

Di hubungan. Lo tau harus sabar sama pasangan lo. Lo tau harus dengerin. Lo tau harus ngomong baik-baik. Tapi pas lo capek. Pas lo kesel. Pas lo emosi. Lo ngomong kasar. Lo bikin dia sedih. Lo ngerasa bersalah setelahnya. Tapi lo tetep ngelakuin.

Di diri lo sendiri. Lo tau lo harus berubah. Lo tau lo harus bangun kebiasaan baik. Lo tau lo harus mulai dari sekarang. Tapi lo nunda. Lo bilang, “Besok aja.” Lo bilang, “Minggu depan aja.” Lo bilang, “Kalo udah siap.” Dan lo nggak pernah siap. Dan lo nggak pernah mulai.

Fase-Fase Lo Ngadepin Akrasia

Fase pertama: lo nyadar.
Lo tau apa yang harus lo lakuin. Lo tau bahwa ada jarak antara pengetahuan lo dan tindakan lo. Lo ngerasa bersalah. Lo ngerasa frustrasi. Lo nanya, “Kenapa gue begini?”

Fase kedua: lo nyari alasan.
Lo mulai mikir kenapa lo gagal. Apa karena lo nggak cukup termotivasi? Apa karena lo lelah? Apa karena lo stres? Apa karena kebiasaan? Lo mulai liat pola. Lo mulai liat pemicu.

Fase ketiga: lo berlatih.
Lo nyadar bahwa akrasia bukan tentang pengetahuan. Dia tentang kebiasaan. Dia tentang kendali diri. Lo mulai berlatih. Lo mulai bikin perubahan kecil. Lo mulai bangun sistem. Lo mulai nyari dukungan. Lo nggak jadi sempurna. Tapi lo jadi lebih baik.

Cara Nyikapin Akrasia Tanpa Kehilangan Akal

1. Akui bahwa lo mengalami akrasia.
Jangan nyangkal. Jangan pura-pura bahwa lo nggak tau. Akui bahwa lo tau apa yang bener, tapi lo gagal ngelakuinnya. Ngakuin adalah langkah pertama. Jangan malu. Jangan ngerasa sendiri. Semua orang ngalamin.

2. Jangan cuma ngandelin pengetahuan.
Pengetahuan aja nggak cukup. Lo bisa tau bahwa olahraga itu baik, tapi lo tetep nggak olahraga. Lo butuh lebih dari sekadar tau. Lo butuh sistem. Lo butuh kebiasaan. Lo butuh lingkungan yang mendukung.

3. Perhatiin pemicu lo.
Apa yang bikin lo ngelakuin hal yang bertentangan dengan penilaian terbaik lo? Apa stres? Apa bosan? Apa lelah? Apa godaan tertentu? Kenali pemicu itu. Hindari kalo bisa. Atau siapin strategi buat ngehadapinnya.

4. Bikin pilihan jadi lebih gampang.
Kalo lo pengen makan sehat, jangan simpen junk food di rumah. Kalo lo pengen belajar, jauhkan HP dari meja. Kalo lo pengen olahraga, siapin pakaian olahraga di malem hari. Kecilkan hambatan buat tindakan yang baik. Besarkan hambatan buat tindakan yang buruk.

5. Gunain aturan if-then.
Rencanain sebelumnya. “Kalo gue ngerasa stres, maka gue akan jalan kaki lima menit.” “Kalo gue pengen buka medsos, maka gue akan minum air dulu.” Aturan ini bantu lo ngambil keputusan tanpa mikir saat godaan dateng.

6. Jangan nuntut kesempurnaan.
Lo bakal gagal. Lo bakal balik ke kebiasaan lama. Itu normal. Yang penting adalah lo bangun lagi. Jangan biarin satu kesalahan ngehancurin seluruh usaha lo. Mulailah lagi. Dari awal. Nggak apa-apa.

7. Cari dukungan.
Lo nggak perlu ngelakuinnya sendirian. Bicarain tujuan lo ke temen. Minta mereka ngingetin. Gabung sama komunitas yang punya tujuan sama. Lingkungan yang baik bikin akrasia lebih susah terjadi.

8. Berbelas kasih pada diri sendiri.
Akrasia bukan tanda lo orang jahat. Dia tanda lo manusia. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Rasa bersalah yang berlebihan bisa bikin lo semakin susah berubah. Maafin diri lo. Terus coba lagi.

9. Terima kalo lo nggak akan pernah sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngendaliin diri lo sepenuhnya. Lo cuma bisa berlatih. Lo cuma bisa berusaha. Lo cuma bisa bikin lebih baik, sedikit demi sedikit. Dan itu cukup. Itu selalu cukup.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Kegagalan

Yang paling lo takutin bukan kegagalan. Bukan kelemahan. Bukan kesalahan.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo udah gagal berkali-kali. Kalo lo sadar lo udah janji berkali-kali. Kalo lo sadar lo udah ngecewain diri lo sendiri berkali-kali. Dan lo mulai percaya bahwa lo nggak akan pernah bisa berubah.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa mulai. Kalo lo sadar, lo bisa berlatih. Kalo lo sadar, lo bisa bangun sistem. Kalo lo sadar, lo bisa nyari dukungan. Kalo lo sadar, lo bisa maafin diri lo sendiri.

Akrasia bukan tentang jadi sempurna. Dia tentang terus berusaha. Dia tentang bangun setiap kali lo jatoh. Dia tentang nerima bahwa lo manusia. Dan manusia itu nggak sempurna.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Akrasia ngajarin satu hal yang nggak nyaman. Tau aja nggak cukup. Lo bisa tau apa yang bener, tapi tetep ngelakuin yang salah. Lo bisa tau apa yang baik, tapi tetep milih yang buruk. Lo bisa tau apa yang harus dilakuin, tapi tetep nggak ngelakuinnya.

Ini bisa berasa menakutkan. Kalo pengetahuan aja nggak cukup, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Lo nggak perlu nyalahin ketidaktahuan. Lo bisa fokus pada kebiasaan. Lo bisa fokus pada sistem. Lo bisa fokus pada latihan. Lo bisa berubah, sedikit demi sedikit.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Di bagian mana hidup lo mengalami akrasia? Apa yang lo tau harus lo lakuin, tapi nggak lo lakuin? Dan kalo lo udah nyadarinya, lo siap nggak buat mulai melatih kendali diri lo?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai sadar. Lo cuma harus mulai berlatih.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai melatih kehendak lo sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *