Psikologi

Choice Overload Paralysis: Ketika Terlalu Banyak Pilihan Membuat Anda Lumpuh dan Tidak Bisa Memilih

Pernahkah Anda mengalami momen
ketika Anda ingin menonton film
di platform streaming, tetapi malah
termenung selama setengah jam?
Anda menggulir dari satu judul
ke judul lain. Tidak ada yang dipilih.
Akhirnya Anda mematikan televisi
dan tidak menonton apa pun.
Padahal pilihannya banyak.
Seharusnya mudah. Tetapi justru
karena banyak, Anda tidak bisa
memilih. Inilah yang disebut
Choice Overload Paralysis.

Choice Overload Paralysis adalah
kondisi di mana terlalu banyak
pilihan membuat Anda beku.
Bukan bebas. Tetapi lumpuh.
Otak Anda kewalahan. Ia tidak
sanggup menimbang semuanya.
Akhirnya Anda memilih satu dari
dua hal. Entah Anda memilih yang
paling mudah, atau Anda tidak
memilih sama sekali. Pelaku
memanfaatkan kebekuan itu untuk
mengarahkan Anda ke pilihan
yang ia inginkan.

Teknik ini berhubungan dengan
Decision Fatigue
Weaponization
 yang telah
dibahas sebelumnya. Pada teknik
itu, pelaku memberikan banyak
keputusan agar Anda lelah.
Pada Choice Overload Paralysis,
pelaku memberikan banyak pilihan
agar Anda beku. Keduanya bermain
di jumlah pilihan. Perbedaannya,
satu membuat capek,
satu membuat tidak bisa bergerak.

Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Terlalu Banyak
Pilihan Membuat Orang
Menunda atau Menghindari
Keputusan

Eksperimen Amos Tversky dan
Eldar Shafir (1992):
The Disjunction Effect

Amos Tversky dan Eldar Shafir dari
Stanford University melakukan
eksperimen yang sangat terkenal
tentang bagaimana konflik antara
pilihan dapat menyebabkan
penundaan keputusan. Eksperimen
ini diterbitkan dalam jurnal
Psychological Science.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diberi skenario tentang seorang
mahasiswa yang telah menyelesaikan
ujian penting. Mahasiswa itu
memiliki dua pilihan. Jika ia lulus,
ia akan pergi berlibur ke Hawaii.
Jika ia tidak lulus, ia akan tetap
tinggal di kampus untuk belajar lagi.
Namun, hasil ujiannya belum keluar.
Ia belum tahu apakah ia lulus atau
tidak.

Partisipan dibagi menjadi tiga
kelompok.
Kelompok pertama diberi tahu bahwa
mahasiswa itu lulus ujian.
Kelompok kedua diberi tahu bahwa
mahasiswa itu tidak lulus.
Kelompok ketiga tidak diberi tahu
hasil ujiannya. Semua kelompok
diminta memprediksi apakah
mahasiswa itu akan membeli tiket
liburan ke Hawaii.

Hasilnya sangat mencengangkan.
Partisipan yang diberi tahu bahwa
mahasiswa itu lulus memprediksi
bahwa ia akan membeli tiket.
Partisipan yang diberi tahu bahwa
mahasiswa itu tidak lulus juga
memprediksi bahwa ia akan
membeli tiket, karena ia butuh
hiburan. Tetapi partisipan yang
tidak diberi tahu hasil ujiannya
memprediksi bahwa mahasiswa itu
akan menunda keputusan dan
tidak membeli tiket.

Dialog setelah eksperimen:

Tversky: “Mengapa Anda memprediksi
bahwa mahasiswa itu akan menunda?”

Partisipan: “Karena ia belum tahu
hasilnya. Ia tidak bisa memutuskan.”

Tversky: “Tetapi ia bisa membeli tiket
sekarang dan menggunakannya nanti
jika ia lulus.”

Partisipan: “Iya, tapi ia mungkin
merasa tidak nyaman membeli
tiket tanpa tahu hasilnya.”

Tversky: “Jadi ketidakpastian
membuatnya menunda?”

Partisipan: “Ya. Ia lebih memilih
untuk tidak memilih.”

Tversky dan Shafir menyimpulkan
bahwa ketika seseorang dihadapkan
pada dua pilihan yang sama-sama
menarik, tetapi ia belum memiliki
informasi yang cukup untuk
memilih, ia cenderung menunda
keputusan. Penundaan itu bukan
karena ia tidak ingin memilih.
Ia hanya tidak sanggup
menanggung risiko salah memilih.
Dalam Choice Overload Paralysis,
pelaku memanfaatkan penundaan
ini. Ketika korban beku, pelaku
masuk dengan satu opsi yang
tampak paling aman.

Eksperimen Ravi Dhar (1997):
Consumer Preference for a
No-Choice Option

Ravi Dhar, seorang profesor
pemasaran dari Yale University,
melakukan eksperimen tentang
bagaimana konflik antara pilihan
memengaruhi keputusan
konsumen. Penelitian ini diterbitkan
dalam Journal of Consumer Research.

Dalam eksperimen ini, partisipan
dihadapkan pada dua skenario
pembelian. Pada skenario pertama,
partisipan diminta memilih antara
dua produk yang sangat mirip,
seperti dua kamera dengan fitur
yang hampir sama.
Pada skenario kedua, partisipan
diminta memilih antara dua
produk yang sangat berbeda,
seperti kamera dan pemutar MP3.
Keduanya sama-sama menarik,
tetapi memiliki kegunaan yang
berbeda.

Partisipan juga diberi opsi untuk
menunda keputusan dan tidak
membeli apa pun saat itu. Mereka
bisa memilih untuk datang lagi
nanti setelah mempertimbangkannya.

Hasilnya, partisipan yang dihadapkan
pada dua produk yang sangat mirip
lebih cenderung memilih untuk
menunda keputusan. Mereka merasa
sulit membedakan mana yang lebih
baik. Mereka takut salah memilih.
Akhirnya mereka memilih untuk
tidak memilih sama sekali.

Sebaliknya, partisipan yang
dihadapkan pada dua produk yang
sangat berbeda lebih mudah
membuat keputusan. Mereka bisa
menilai mana yang lebih mereka
butuhkan. Mereka tidak merasa
tertekan oleh perbandingan yang
rumit.

Dialog setelah eksperimen:

Dhar: “Mengapa Anda memilih
untuk menunda?”

Partisipan: “Karena kedua kamera
itu hampir sama. Saya tidak tahu
mana yang lebih baik.”

Dhar: “Apakah Anda merasa
tertekan?”

Partisipan: “Iya. Saya takut
menyesal jika memilih yang salah.”

Dhar: “Jadi Anda memilih untuk
tidak memilih?”

Partisipan: “Ya. Setidaknya dengan
menunda, saya tidak membuat
kesalahan.”

Dhar menyimpulkan bahwa konflik
antara pilihan yang mirip
menciptakan ketidaknyamanan yang
lebih besar daripada konflik antara
pilihan yang berbeda. Ketika pilihan
terlalu mirip, otak sulit menemukan
alasan yang kuat untuk memilih
salah satunya. Akibatnya,
orang cenderung menunda atau
menghindari keputusan.
Pelaku Choice Overload Paralysis
memanfaatkan ini dengan
memberikan banyak pilihan yang
mirip. Korban menjadi beku.
Pelaku masuk dengan satu opsi
yang ia inginkan.

Eksperimen Simona Botti dan
Christopher Hsee (2010):
Choice Overload in Medical
Decisions

Simona Botti dari London Business
School dan Christopher Hsee dari
University of Chicago melakukan
eksperimen tentang bagaimana
terlalu banyak pilihan memengaruhi
keputusan medis. Penelitian ini
diterbitkan dalam Journal of
Consumer Research.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diberi skenario tentang seorang
pasien yang harus memilih dokter
untuk operasi. Separuh partisipan
diberi dua pilihan dokter.
Separuh lainnya diberi sepuluh
pilihan dokter. Setiap dokter
memiliki kualifikasi dan pengalaman
yang berbeda. Partisipan diminta
memilih dokter mana yang akan
mereka rekomendasikan kepada
pasien.

Hasilnya, partisipan yang diberi
sepuluh pilihan merasa lebih tidak
yakin dengan keputusan mereka.
Mereka juga lebih cenderung
menunda keputusan atau
menyerahkan keputusan kepada
orang lain. Mereka merasa bahwa
mereka tidak memiliki cukup
informasi untuk membandingkan
semua dokter. Mereka takut
merekomendasikan dokter yang
salah.

Sebaliknya, partisipan yang diberi
dua pilihan merasa lebih yakin.
Mereka bisa membandingkan kedua
dokter itu dengan lebih mudah.
Mereka juga lebih cepat
mengambil keputusan.

Dialog setelah eksperimen:

Botti: “Mengapa Anda merasa tidak
yakin dengan keputusan Anda?”

Partisipan: “Terlalu banyak dokter.
Saya tidak bisa membandingkan
semuanya. Saya takut
merekomendasikan yang salah.”

Botti: “Apakah Anda merasa lebih
baik jika pilihannya lebih sedikit?”

Partisipan: “Iya. Dengan dua pilihan,
saya bisa fokus. Saya bisa
menimbang dengan lebih baik.”

Botti menyimpulkan bahwa dalam
situasi yang berisiko tinggi, terlalu
banyak pilihan justru menurunkan
kepercayaan diri dan meningkatkan
penundaan. Orang merasa
kewalahan dan akhirnya
menyerahkan keputusan kepada
orang lain. Dalam Choice Overload
Paralysis, pelaku memanfaatkan ini.
Korban yang beku akhirnya
menyerahkan keputusan kepada
pelaku. Pelaku memilih opsi yang
ia inginkan.

Mengapa Choice Overload
Paralysis Begitu Efektif?

Otak manusia memiliki kapasitas
terbatas. Ia tidak bisa
membandingkan sepuluh opsi
sekaligus dengan akurat.
Begitu pilihan melewati lima atau
enam, otak mulai kewalahan.
Ia mulai membandingkan hal-hal
yang tidak penting. Ia mulai ragu.
Ia mulai takut salah. Akhirnya,
ia memilih untuk tidak memilih.
Pelaku mengetahui ini. Ia sengaja
membuat pilihan yang banyak.
Agar Anda beku. Ketika Anda beku,
ia menyodorkan satu opsi yang
tampak paling sederhana.

Choice Overload Paralysis juga
memanfaatkan rasa takut menyesal.
Ketika pilihan terlalu banyak, Anda
merasa bahwa setiap pilihan
memiliki risiko. Anda takut memilih
yang salah. Anda takut menyesal.
Rasa takut ini melumpuhkan. Anda
memilih untuk tidak memilih sama
sekali. Pelaku memanfaatkan
kebekuan ini.

Selain itu, terlalu banyak pilihan
menciptakan 
konflik kognitif.
Anda ingin memilih yang terbaik,
tetapi Anda tidak tahu mana yang
terbaik. Anda ingin memilih yang
termurah, tetapi Anda juga ingin
yang berkualitas. Anda ingin yang
paling cepat, tetapi Anda juga ingin
yang paling aman. Konflik ini
menguras energi. Ketika energi
habis, Anda menyerah.
Anda memilih opsi default yang
disiapkan pelaku.

Empat Fase Choice Overload
Paralysis:
Kisah Rina dan Pembelian
Asuransi

Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia sedang mencari asuransi
kesehatan.

Fase 1: Menyajikan Terlalu
Banyak Pilihan

Rina duduk di hadapan agen
asuransi bernama Doni. Ia ingin
membeli asuransi kesehatan untuk
keluarganya. Doni menyambutnya
dengan ramah. Ia kemudian
membuka laptopnya dan
menampilkan sepuluh paket
asuransi.

Doni: “Bu Rina, kami memiliki
sepuluh paket yang bisa Ibu pilih.
Paket A, B, C, D, E, F, G, H, I, dan J.
Masing-masing memiliki
keunggulan dan harga yang berbeda.”

Rina melihat layar. Ada begitu
banyak angka, begitu banyak fitur,
begitu banyak perbandingan.
Ia merasa pusing.

Doni: “Paket A murah, tetapi rumah
sakitnya terbatas. Paket B lebih
mahal, tetapi jaringan rumah
sakitnya luas. Paket C ada fitur gigi,
tetapi tidak ada rawat inap. Paket D…”

Rina mencoba mengikuti.
Tetapi semakin Doni menjelaskan,
semakin Rina bingung. Ia tidak tahu
mana yang terbaik untuk keluarganya.

Fase 2: Menciptakan Kebekuan

Rina mencoba membandingkan.
Ia membuka catatannya.
Ia menuliskan fitur-fitur yang ia
butuhkan. Tetapi daftarnya semakin
panjang. Setiap paket memiliki
kelebihan dan kekurangan. Ia tidak
bisa memutuskan.

Rina: “Saya bingung. Semuanya
kelihatan bagus.”

Doni: “Tidak apa-apa, Bu. Silakan
dipikirkan.”

Rina terus melihat layar. Ia menggulir
ke atas dan ke bawah. Ia membaca
ulang deskripsi setiap paket. Ia mulai
merasa lelah. Ia mulai merasa cemas.
Ia takut memilih yang salah. Ia takut
menyesal.

Rina: “Saya tidak tahu harus pilih
yang mana.”

Doni melihat bahwa Rina sudah beku.
Ia menunggu. Ia tidak mendesak.
Ia membiarkan Rina tenggelam
dalam kebingungannya.

Fase 3: Menawarkan Satu Opsi
yang Tampak Simpel

Setelah beberapa saat, Doni
berbicara dengan nada tenang.

Doni: “Bu Rina, kalau Ibu bingung,
saya bisa bantu. Kebanyakan
pelanggan memilih Paket E.
Paket ini paling seimbang.
Harganya 1,5 juta per bulan.
Fiturnya cukup lengkap.
Rumah sakitnya juga banyak.”

Rina merasa lega. Ada satu opsi yang
ditawarkan. Ia tidak perlu memilih
dari sepuluh. Ia hanya perlu
memilih satu.

Rina: “Paket E? Apa sudah cukup
untuk keluarga saya?”

Doni: “Cukup, Bu. Ini paket
terpopuler kami.”

Rina mengangguk. Ia merasa bahwa
Paket E adalah pilihan yang aman.
Ia tidak membandingkannya
dengan paket lain. Ia tidak
menghitung untung rugi. Ia hanya
ingin segera menyelesaikan
keputusan itu.

Fase 4: Kepatuhan dan
Penyesalan

Rina menandatangani kontrak untuk
Paket E. Ia pulang dengan perasaan
lega. Tetapi beberapa minggu
kemudian, ia bertemu dengan
temannya yang juga memiliki
asuransi dari perusahaan yang sama.
Temannya memilih Paket G.
Paket G lebih murah 200 ribu
per bulan, tetapi memiliki fitur
rawat inap yang lebih baik.

Rina membandingkan.
Ia menyadari bahwa ia sebenarnya
bisa mendapatkan paket yang lebih
baik dengan harga yang lebih
murah. Ia menyesal. Ia merasa
telah membuat keputusan yang
buruk. Ia menyalahkan dirinya
sendiri karena tidak teliti.

Padahal, kebingungan Rina adalah
hasil dari sepuluh pilihan yang
diberikan Doni. Doni sengaja
membuat Rina kewalahan.
Doni sengaja membuat Rina beku.
Doni sengaja menawarkan Paket E,
yang sebenarnya ia inginkan sejak
awal. Rina menuruti karena ia
sudah tidak sanggup berpikir.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Memilih Menu di Restoran

Seorang pelanggan, Bima, duduk
di restoran. Pelayan memberikan
menu yang sangat tebal. Ada lebih
dari lima puluh pilihan makanan.
Bima melihat halaman demi
halaman. Ia bingung.

Pelayan: “Bapak, sudah siap
memesan?”

Bima: “Sebentar. Saya masih
bingung.”

Bima terus melihat menu.
Ia membandingkan harga, porsi,
dan gambar. Ia merasa lelah.
Akhirnya ia menyerah.

Bima: “Saya ambil yang paling
laris aja. Apa itu?”

Pelayan: “Nasi goreng spesial,
Pak.”

Bima: “Ya sudah, itu saja.”

Bima tidak benar-benar ingin nasi
goreng. Ia hanya memilih opsi yang
paling mudah. Pelayan tidak perlu
menawarkan menu lima puluh
pilihan. Ia bisa menawarkan tiga
atau empat. Tetapi restoran sengaja
membuat menu yang tebal agar
pelanggan memilih menu yang
paling menguntungkan restoran.

2. Memilih Kursus Online

Seorang karyawan, Sari, ingin
mengikuti kursus online.
Ia membuka platform pembelajaran.
Ada ratusan kursus yang tersedia.
Ada kursus desain, pemrograman,
pemasaran, dan masih banyak
lagi. Sari bingung.

Sari: “Saya harus mulai dari mana?”

Ia menggulir layar. Ia melihat kursus
yang satu, lalu kursus yang lain.
Ia membaca ulasan.
Ia membandingkan harga. Ia merasa
kewalahan. Akhirnya ia menutup
platform itu dan tidak mendafta
r apa pun.

Padahal, jika platform itu
menawarkan tiga rekomendasi
kursus yang sesuai dengan minat
Sari, ia mungkin akan mendaftar.
Tetapi karena pilihannya terlalu
banyak, ia memilih untuk tidak
memilih.

3. Memilih Kandidat dalam
Pemilihan

Seorang pemilih, Bima, menghadapi
pemilihan kepala daerah.
Ada delapan kandidat.
Setiap kandidat memiliki visi, misi,
dan program yang berbeda.
Bima mencoba membaca semua
brosur. Ia mencoba
membandingkan. Ia merasa
bingung. Semua kandidat tampak
baik. Semua menjanjikan
perubahan.

Bima: “Saya tidak tahu harus
pilih siapa.”

Akhirnya Bima memilih untuk tidak
memilih. Ia merasa bahwa suaranya
tidak akan berarti. Ia merasa bahwa
semua kandidat sama. Padahal
perbedaan di antara mereka
signifikan. Tetapi karena terlalu
banyak pilihan, Bima menjadi beku.

4. Memilih Paket Internet

Seorang pelanggan, Rina, ingin
berlangganan internet. Penyedia
layanan menawarkan sepuluh paket
dengan kecepatan, kuota, dan harga
yang berbeda. Rina mencoba
membandingkan. Ia membuat tabel.
Ia menghitung kebutuhan.
Ia merasa pusing.

Rina: “Saya tidak tahu mana
yang paling cocok.”

Agen: “Ibu, kalau bingung, ambil
paket yang paling laris saja.
Paket 50 Mbps.”

Rina: “Ya sudah, itu saja.”

Rina tidak membandingkan dengan
paket lain. Ia tidak menghitung
apakah ia benar-benar membutuhkan
50 Mbps. Ia hanya menuruti karena
ia sudah lelah. Agen berhasil menjual
paket yang ia inginkan.

Cara Melindungi Diri dari Choice
Overload Paralysis

Jika Anda merasa dibanjiri terlalu
banyak pilihan, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, sadari bahwa Anda
sedang diberi terlalu banyak
pilihan.
 Ketika Anda merasa
bingung dan lelah karena harus
membandingkan banyak opsi,
berhentilah sejenak. Tanyakan pada
diri sendiri: “Apakah saya
benar-benar perlu
mempertimbangkan semua ini?”

Kedua, batasi pilihan.
Minta dua atau tiga opsi saja.
Katakan, “Saya hanya ingin
membandingkan tiga pilihan.
Tolong pilihkan yang terbaik.”
Ini mengurangi beban mental Anda.

Ketiga, tunda keputusan.
Jangan memilih ketika Anda sedang
beku. Ambil jeda. Tarik napas. Pergi
sebentar. Kembali dengan pikiran
yang lebih jernih.

Keempat, tentukan kriteria
terlebih dahulu.
 Sebelum melihat
pilihan, tentukan apa yang paling
penting bagi Anda. Apakah harga?
Apakah kualitas?
Apakah kenyamanan?
Dengan kriteria yang jelas,
Anda bisa menyaring pilihan
dengan lebih cepat.

Kelima, jangan takut memilih
yang salah.
 Tidak ada pilihan
yang sempurna. Setiap pilihan
memiliki risiko. Yang penting
adalah Anda bergerak. Anda bisa
memperbaiki keputusan nanti
jika ternyata kurang tepat.

Keenam, jangan biarkan
orang lain memilih untuk
Anda.
 Jika seseorang menawarkan
satu opsi setelah Anda beku,
tanyakan: “Mengapa opsi ini?
Apa alasannya?” Jangan langsung
menuruti. Pastikan opsi itu
benar-benar sesuai dengan
kebutuhan Anda.

Ketujuh, latih diri untuk
merasa cukup.
 Semakin Anda
merasa cukup dengan apa yang
Anda miliki, semakin sulit
orang lain membuat Anda beku
dengan banyak pilihan.
Anda tidak perlu memiliki yang
terbaik. Anda hanya perlu
memiliki yang cukup baik.

Choice Overload Paralysis adalah
teknik yang memanfaatkan
keterbatasan kapasitas otak
manusia. Pelaku tidak perlu
menyerang Anda secara langsung.
Pelaku hanya perlu memberikan
terlalu banyak pilihan. Anda
menjadi beku. Pelaku masuk
dengan satu opsi yang tampak
sederhana. Anda menuruti karena
Anda tidak sanggup berpikir lagi.
Kenali polanya. Batasi pilihan.
Tentukan kriteria. Dan ingatlah
bahwa terlalu banyak pilihan
bukanlah kebebasan. Terlalu
banyak pilihan adalah jebakan
yang membuat Anda lumpuh.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Choice Overload
Paralysis
.

Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo mau nonton film
di platform streaming, tapi malah
bengong setengah jam. Scroll dari
satu judul ke judul lain. Nggak ada
yang dipilih. Akhirnya lo matiin TV,
dan nggak nonton apa-apa. Padahal
pilihannya banyak. Harusnya
gampang. Tapi justru karena
banyak, lo jadi nggak bisa milih.
Nah, itu yang namanya 
Choice
Overload Paralysis
.

Simpelnya, choice overload paralysis
adalah kondisi di mana terlalu
banyak pilihan bikin lo beku.
Bukan bebas. Tapi lumpuh.
Otak lo kewalahan. Dia nggak
sanggup nimbang semuanya.
Akhirnya lo milih dua hal. Entah
lo pilih yang paling gampang, atau
lo nggak milih sama sekali.
Dan pelaku manfaatin kebekuan
itu buat ngarahin lo ke pilihan
yang dia mau.

Kalau lo ingat, ini masih nyambung
banget sama 
Decision Fatigue
Weaponization
 yang barusan
kita bahas. Di situ pelaku ngasih
banyak keputusan biar lo lelah.
Nah, kalau choice overload
paralysis ini lebih ke efek dari
kebanyakan pilihan. Bukan cuma
lelah. Tapi beku. Dua-duanya
sama-sama main di jumlah pilihan.
Tapi efeknya beda. Satu bikin
capek, satu bikin nggak bisa gerak.

Kenapa ini ampuh? Karena otak kita
punya kapasitas terbatas. Dia nggak
bisa ngebandingin sepuluh opsi
sekaligus dengan akurat. Begitu
pilihan lewat dari lima atau enam,
otak mulai kewalahan. Dia mulai
ngebandingin hal-hal yang nggak
penting. Dia mulai ragu. Dia mulai
takut salah. Dan akhirnya,
dia milih buat nggak milih. Pelaku
tau ini. Jadi dia sengaja bikin
pilihan yang banyak. Biar lo beku.
Dan pas lo beku, dia nyodorin satu
opsi yang keliatan paling simpel.

Contoh gampangnya gini. Lo mau
beli asuransi. Agennya ngasih
lo sepuluh paket. Ada yang murah,
ada yang mahal, ada yang fiturnya
ini, ada yang fiturnya itu.
Lo bingung. Lo nggak tau mana
yang bener. Akhirnya lo bilang,
“Terserah, yang penting aman.”
Dia langsung kasih satu paket.
Yang sebenernya dia mau jual dari
awal. Padahal lo belum bandingin
sama yang lain.

Di dunia kerja juga gitu. Bos ngasih
lo banyak opsi. “Kamu mau pake
strategi A, B, C, D, atau E?”
Lo bingung. Lo nggak tau mana yang
paling bagus. Akhirnya lo bilang,
“Terserah, Pak. Mana yang Bapak
rasa paling oke.” Dia langsung
pilih. Yang sebenernya dia udah
incer dari awal. Lo cuma terlalu
beku buat nolak.

Cara pakainya, bagi pelaku,
gampang.
Pertama, siapin banyak pilihan.
Jangan dua atau tiga. Bikin tujuh
atau sepuluh.
Kedua, kasih semua di depan
target. Jangan bertahap. Biar dia
kewalahan.
Ketiga, tunggu sampai dia bingung.
Keempat, tawarin satu opsi yang
paling simpel.
Kelima, target bakal ambil karena
dia udah nggak sanggup mikir.

Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi dikasih
terlalu banyak pilihan.
Kedua, batasi. Minta dua atau tiga
aja. Bilang, “Gue cuma mau
bandingin tiga.”
Ketiga, tunda. Jangan milih pas lo
lagi beku. Ambil jeda. Tarik napas.
Keempat, tentuin dulu kriteria lo.
Sebelum liat pilihan, tentuin apa
yang paling penting buat lo. Jadi lo
punya filter. Kelima, jangan takut
milih yang salah. Karena nggak ada
pilihan yang sempurna. Yang
penting lo gerak.

Jadi, Choice Overload Paralysis
 itu ibarat lo lagi berdiri di depan
sepuluh pintu. Semua pintu
keliatan sama. Lo nggak tau mana
yang bener. Lo nggak tau man
a yang salah. Akhirnya lo diem
di tempat. Dan orang yang ngasih
lo sepuluh pintu itu dateng,
nunjuk satu pintu, dan bilang,
“Ini aja.” Lo masuk. Padahal bisa
jadi itu pintu yang dia mau dari
awal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *