Uncategorized

Is-Ought Problem: Mengapa Fakta Tidak Selalu Menjadi Dasar Moral?

Pernahkah Anda mendengar argumen
seperti ini? “Manusia itu pada
dasarnya egois. Jadi kita harus
mementingkan diri sendiri.” Atau,
“Sejak dulu perempuan memang
mengurus rumah. Jadi perempuan
seharusnya di rumah saja.” Atau,
“Persaingan itu alami. Jadi kita
harus bersaing, bukan bekerja
sama.”

Argumen-argumen itu terdengar
meyakinkan. Mereka menggunakan
fakta tentang dunia. Mereka
menggunakan pengamatan tentang
apa yang terjadi. Lalu mereka melompat
ke kesimpulan tentang apa yang
seharusnya terjadi. Tetapi apakah
lompatan itu sah? Apakah fakta
bisa membenarkan moral?

Pertanyaan itu sudah dibahas oleh
seorang filsuf Skotlandia bernama
David Hume. Ia mengajak kita
memeriksa cara kita berpikir
tentang moral. Gagasannya
kemudian dikenal sebagai
Is-Ought Problem, atau Masalah
Is-Ought. Mari saya ajak Anda
masuk ke dalamnya.

Apa Itu Is-Ought Problem?

Is-Ought Problem adalah masalah
logika dalam etika.
Ia mempertanyakan apakah kita
bisa menyimpulkan apa yang
seharusnya dilakukan dari apa yang
sebenarnya terjadi. Dengan kata lain,
apakah kita bisa menyimpulkan
“ought” dari “is”?

“Is” adalah pernyataan tentang fakta.
Contohnya, “Manusia cenderung
egois.” Ini adalah pernyataan
deskriptif. Ia menggambarkan
bagaimana dunia ini bekerja. Ia bisa
diuji dengan observasi. Ia bisa benar
atau salah.

“Ought” adalah pernyataan tentang
kewajiban moral. Contohnya,
“Manusia seharusnya egois.”
Ini adalah pernyataan preskriptif.
Ia memberi perintah. Ia memberi
arahan. Ia tidak bisa diuji dengan
observasi. Ia tidak bisa dibuktikan
benar atau salah dengan cara yang
sama.

Hume mengamati bahwa banyak
orang melompat dari “is” ke “ought”
tanpa penjelasan. Mereka mengamati
sesuatu. Lalu mereka menyimpulkan
bahwa sesuatu itu seharusnya. Hume
mengatakan bahwa lompatan itu
tidak sah. Anda tidak bisa
menyimpulkan kewajiban moral
hanya dari fakta.

Apa Kata Hume?

David Hume hidup pada abad ke-18.
Ia adalah salah satu filsuf paling
berpengaruh dalam sejarah.
Ia menulis banyak buku tentang
manusia, moral, dan pengetahuan.
Dalam bukunya yang berjudul
“A Treatise of Human Nature,”
ia membuat pengamatan yang
sederhana tetapi mendalam.

Hume memperhatikan bahwa banyak
penulis dan filsuf berbicara tentang
Tuhan, tentang manusia, tentang
masyarakat. Mereka membuat
pernyataan tentang apa yang ada.
Mereka membuat pernyataan
tentang apa yang terjadi.
Lalu tiba-tiba, mereka beralih
ke pernyataan tentang apa yang
seharusnya. Mereka menggunakan
kata “seharusnya” tanpa
menjelaskan dari mana kata itu
datang.

Hume menulis, “Saya tidak bisa
tidak memperhatikan bahwa dalam
setiap sistem moral yang saya temui,
penulisnya untuk sementara waktu
berbicara dengan cara yang biasa
, membuat pengamatan tentang sifat
manusia, lalu tiba-tiba saya terkejut
menemukan bahwa alih-alih
proposisi yang dihubungkan dengan
kata ‘adalah’ dan ‘bukan,’ saya hanya
menemukan proposisi yang
dihubungkan dengan kata
‘seharusnya’ dan ‘tidak seharusnya.’
Perubahan ini tidak terasa, tetapi
sangat penting. Karena ‘seharusnya’
atau ‘tidak seharusnya’
mengekspresikan hubungan atau
penegasan baru, hubungan itu perlu
dijelaskan dan dijelaskan mengapa
itu bisa disimpulkan dari yang lain.”

Dengan kata lain, Hume mengatakan
bahwa Anda tidak bisa menyimpulkan
apa yang seharusnya hanya dari apa
yang ada. Anda butuh sesuatu
yang lain. Anda butuh premis moral.
Anda butuh nilai. Anda butuh tujuan.
Anda butuh sesuatu yang tidak bisa
ditemukan hanya dengan
mengamati dunia.

Mengapa Ini Penting untuk
Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan
hanya masalah filsuf. Saya tidak
peduli.” Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda mendengar argumen
seperti ini? “Orang kaya itu
berpendidikan. Jadi orang kaya
seharusnya lebih dihormati.” Atau,
“Orang miskin itu kurang berusaha.
Jadi orang miskin seharusnya tidak
dibantu.” Atau, “Perempuan itu
lebih emosional. Jadi perempuan
seharusnya tidak memimpin.” Atau,
“Perang itu sudah ada sejak dulu.
Jadi perang tidak bisa dihindari.”

Argumen-argumen ini menggunakan
fakta, atau setidaknya klaim tentang
fakta. Lalu mereka melompat
ke kesimpulan moral. Is-Ought Problem
mengajak kita untuk memeriks
a lompatan itu. Apakah lompatan itu
sah? Apakah fakta benar-benar
mendukung kesimpulan moral itu?

Is-Ought Problem juga muncul dalam
debat tentang hukum.
“Hukum mengatakan bahwa ini benar.
Jadi ini benar.” Tetapi hukum bisa
salah. Hukum bisa tidak adil.
Hukum bisa berubah. Fakta bahwa
sesuatu legal tidak berarti sesuatu
itu baik.

Is-Ought Problem juga muncul dalam
debat tentang agama. “Kitab suci
mengatakan bahwa ini dosa. Jadi ini
salah.” Tetapi bagaimana kita tahu
bahwa kitab suci itu benar?
Bagaimana kita tahu bahwa tafsir kita
benar? Kita butuh alasan lain. Kita
butuh premis moral yang tidak hanya
berasal dari teks.

Is-Ought Problem juga muncul dalam
debat tentang sains.
“Sains mengatakan bahwa manusia
cenderung kompetitif. Jadi kita harus
kompetitif.” Tetapi sains hanya
menggambarkan. Sains tidak
memerintahkan. Sains tidak memberi
nilai. Kita yang memberi nilai.
Kita yang memutuskan apa yang
ingin kita lakukan dengan
pengetahuan itu.

Contoh Sederhana di Kehidupan
Sehari-hari

Seorang ayah berkata, “Anak-anak
harus patuh pada orang tua.
Itu sudah tradisi.” Argumen ini
menggunakan fakta tentang tradisi.
Tetapi apakah tradisi selalu benar?
Apakah kepatuhan selalu baik?
Apakah ada situasi di mana anak
seharusnya tidak patuh?
Is-Ought Problem mengajak kita
untuk bertanya.

Seorang manajer berkata,
“Karyawan harus bekerja lembur.
Itu sudah budaya perusahaan.”
Argumen ini menggunakan fakta
tentang budaya. Tetapi apakah
budaya selalu adil? Apakah lembur
selalu perlu? Apakah ada cara lain?
Is-Ought Problem mengajak kita
untuk bertanya.

Seorang politisi berkata,
“Negara ini mayoritas satu agama.
Jadi hukum harus mengikuti
agama itu.” Argumen ini
menggunakan fakta tentang
demografi. Tetapi apakah mayoritas
selalu benar? Apakah minoritas
tidak punya hak? Apakah keadilan
hanya untuk mayoritas? Is-Ought
Problem mengajak kita untuk
bertanya.

Seorang pengguna media sosial
berkata, “Banyak orang melakukan
ini. Jadi ini wajar.” Argumen ini
menggunakan fakta tentang
perilaku. Tetapi apakah banyak
orang selalu benar? Apakah wajar
selalu baik? Apakah ada perilaku
yang banyak dilakukan tetapi tetap
salah? Is-Ought Problem mengajak
kita untuk bertanya.

Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Is-Ought Problem bukan
hanya teori. Ia adalah alat untuk
memeriksa argumen. Ia mengajak
kita untuk tidak menerima
lompatan dari fakta ke moral
tanpa pertanyaan.

Kritik terhadap Is-Ought
Problem

Is-Ought Problem tidak lepas dari
kritik. Beberapa filsuf berargumen
bahwa lompatan dari is ke ought
bisa dilakukan, asalkan ada premis
tambahan.

Misalnya, jika kita menerima premis
bahwa “kita harus mengurangi
penderitaan,” dan kita mengamati
bahwa “tindakan X mengurangi
penderitaan,” maka kita bisa
menyimpulkan bahwa “kita harus
melakukan X.” Tetapi premis
pertama itu sendiri adalah premis
moral. Ia bukan fakta. Ia adalah
nilai.

Kritik lain mengatakan bahwa
Hume terlalu kaku. Dalam praktik,
fakta dan nilai sering terjalin.
Kita tidak bisa memisahkan
keduanya dengan bersih. Ketika
kita mengamati sesuatu, kita sudah
membawa nilai. Ketika kita menilai
sesuatu, kita sudah membawa fakta.

Kritik lain mengatakan bahwa
Is-Ought Problem hanya masalah
bahasa. Mungkin kita bisa
merumuskan ulang pernyataan moral
sehingga lompatan itu tidak terlihat.
Misalnya, “Kebaikan adalah
mengurangi penderitaan” adalah
pernyataan yang menghubungkan
fakta dan nilai. Tetapi apakah itu
menyelesaikan masalah? Atau hanya
menyembunyikannya?

Tanggapan terhadap Kritik

Pendukung Is-Ought Problem punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa lompatan dari
is ke ought tidak mungkin. Mereka
sering mengatakan bahwa lompatan
itu membutuhkan penjelasan. Anda
tidak bisa melompat tanpa
jembatan. Anda butuh premis moral.
Anda butuh nilai. Anda butuh tujuan.

Mereka juga mengatakan bahwa
Is-Ought Problem bukan tentang
melarang moral. Ia tentang kejujuran.
Jika Anda membuat argumen moral,
akui premis moral Anda. Jangan
berpura-pura bahwa itu berasal dari
fakta. Jangan berpura-pura bahwa
itu objektif. Akui bahwa Anda punya
nilai.

Mereka juga mengatakan bahwa
Is-Ought Problem mengajak kita
untuk berpikir lebih dalam. Ketika
seseorang mengatakan,
“Ini seharusnya begitu,” tanyakan,
“Mengapa? Dari mana Anda
mendapatkan ‘seharusnya’ itu?
Apa nilai yang mendasarinya?
Apa tujuan yang ingin dicapai?”

Tiga Fase Menghadapi Is-Ought
Problem

Fase pertama, Anda merasa yakin.
Anda mendengar argumen moral.
Anda menerimanya begitu saja.
Anda tidak memeriksa lompatan
dari fakta ke moral. Anda tidak
bertanya dari mana “seharusnya”
itu datang.

Fase kedua, Anda meragukan.
Anda mulai menyadari bahwa
banyak argumen moral melompat
dari fakta ke nilai. Anda mulai
bertanya, “Apakah fakta ini
benar-benar mendukung
kesimpulan moral ini?
Atau ada premis tersembunyi
yang tidak diakui?”

Fase ketiga, Anda memeriksa.
Anda mulai menganalisis argumen
moral. Anda mencari premis yang
tersembunyi. Anda mencari nilai
yang mendasari. Anda menjadi
lebih kritis. Anda tidak lagi
menerima begitu saja.

Cara Menyikapi Is-Ought
Problem

Pertama, waspadai lompatan. Ketika
Anda mendengar argumen moral,
perhatikan apakah argumen itu
melompat dari is ke ought. Apakah
ada fakta yang digunakan untuk
mendukung kesimpulan moral?
Apakah ada premis moral yang diakui?

Kedua, tanyakan “mengapa.”
Ketika seseorang mengatakan,
“Ini seharusnya begitu,” tanyakan,
“Mengapa?” Tanyakan, “Dari mana
Anda mendapatkan ‘seharusnya’ itu?”
Tanyakan, “Apa nilai yang
mendasarinya?”

Ketiga, akui premis moral Anda.
Ketika Anda membuat argumen
moral, akui premis moral Anda.
Jangan berpura-pura bahwa itu
berasal dari fakta.
Jangan berpura-pura bahwa itu
objektif. Akui bahwa Anda punya
nilai.

Keempat, jangan takut pada nilai.
Is-Ought Problem bukan berarti moral
itu tidak mungkin. Ia berarti moral
membutuhkan nilai. Nilai bukan hal
yang buruk. Nilai adalah apa yang
memberi arah pada hidup kita. Nilai
adalah apa yang membuat kita peduli.

Kelima, bedakan antara fakta dan nilai.
Fakta adalah apa yang ada. Nilai adalah
apa yang kita anggap penting. Fakta
bisa diuji. Nilai bisa diperdebatkan.
Jangan mencampuradukkan keduanya.

Keenam, berhati-hatilah dengan klaim
“alami.” Banyak argumen moral
menggunakan klaim tentang alam.
“Ini alami. Jadi ini baik.” Tetapi alam
tidak selalu baik. Penyakit itu alami.
Gempa bumi itu alami. Kematian itu
alami. Apakah semua itu baik?

Ketujuh, terbuka pada dialog. Is-Ought
Problem mengajak kita untuk
berdialog. Jika kita mengakui premis
moral kita, kita bisa berdiskusi. Kita
bisa mencari titik temu. Kita bisa
belajar dari satu sama lain. Kita tidak
perlu berdebat tanpa akhir.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak
punya semua jawaban. Nilai Anda
mungkin berbeda dari nilai
orang lain. Itu tidak apa-apa.
Yang penting adalah Anda jujur
tentang nilai Anda. Yang penting
adalah Anda menghormati nilai
orang lain.

Penutup

Is-Ought Problem mengajarkan satu hal
yang penting. Fakta tidak cukup untuk
membenarkan moral. Anda butuh nilai.
Anda butuh tujuan. Anda butuh premis
yang tidak bisa ditemukan hanya
dengan mengamati dunia.

Ini bisa terasa menantang. Jika moral
tidak bisa disimpulkan dari fakta, dari
mana moral datang? Apakah moral
hanya soal perasaan? Apakah moral
hanya soal pilihan? Apakah moral
hanya soal kekuasaan?

Tetapi ini juga bisa terasa
membebaskan. Anda tidak perlu
menerima moral yang diberikan
begitu saja. Anda bisa memeriksa.
Anda bisa bertanya. Anda bisa
memilih nilai Anda sendiri.
Anda bisa bertanggung jawab atas
pilihan itu.

Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda
pernah mendengar argumen yang
melompat dari is ke ought?
Apakah Anda pernah membuat
argumen seperti itu?
Dan jika ya, apakah Anda sadar
bahwa ada premis moral yang
tersembunyi?
Apakah Anda siap untuk
memeriksanya?

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai memeriksa lompatan
dalam argumen Anda sendiri.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Is-Ought Problem: Kenapa
“Kenyataannya Gitu”
Nggak Otomatis Berarti
“Harusnya Gitu”

Coba inget lagi. Lo lagi kumpul sama
keluarga besar. Atau mungkin sama
temen-temen lo. Atau mungkin lagi
di kantor. Ada topik yang bikin lo
nggak nyaman. Mungkin soal pilihan
hidup lo. Mungkin soal cara lo ngatur
hidup lo. Mungkin soal sesuatu yang
lo pengen lakuin tapi orang lain
nggak setuju.

Terus ada yang bilang. “Ya memang
udah dari dulu gitu. Jadi lo
harus ikutin.”

Atau. “Semua orang juga
ngelakuin itu. Jadi lo harus
ngelakuin juga.”

Atau. “Orang lain aja bisa,
kenapa lo nggak bisa?”

Atau. “Kenyataannya hidup itu
susah. Jadi lo harus terima aja.”

Argumen-argumen ini kedengeran
meyakinkan. Kedengeran logis.
Kedengeran kayak ada dasarnya.
Tapi coba lo diemin dulu. Tarik
napas. Terus tanya dalam hati.
“Bener nggak sih? Dari mana
dia tau kalo ‘kenyataannya
gitu’ berarti ‘harusnya gitu’?”

Kalo lo pernah ngerasa ada yang
aneh dari argumen kayak gitu,
lo udah nyentuh salah satu masalah
paling penting di filsafat. Namanya
Is-Ought Problem. Dan gue jamin,
setelah baca ini, lo bakal liat
argumen-argumen sehari-hari
dengan mata yang beda.

Sebenernya Is-Ought Problem
Itu Apa Sih?

Is-Ought Problem itu simpelnya gini:
lo nggak bisa nyimpulin apa yang
“seharusnya” dari apa yang
“kenyataannya.”

Ada dua jenis pernyataan di dunia ini.

Yang pertama: pernyataan
tentang fakta.
Ini yang disebut “is.”
Contohnya: “Manusia cenderung
egois.” “Perempuan secara biologis
bisa hamil.” “Persaingan itu ada
di mana-mana.” “Sejak dulu,
laki-laki yang jadi pemimpin.”
Ini pernyataan deskriptif.
Dia ngambarin apa yang ada.
Apa yang terjadi. Apa yang bisa
diamati.

Yang kedua: pernyataan tentang
kewajiban moral.
Ini yang disebut
“ought.” Contohnya: “Manusia
seharusnya egois.” “Perempuan
seharusnya di rumah.” “Kita harus
bersaing.” “Laki-laki seharusnya
memimpin.” Ini pernyataan preskriptif.
Dia ngasih perintah. Dia ngasih arahan.
Dia ngasih nilai.

Nah, masalahnya: banyak orang
melompat dari “is” ke “ought”
tanpa njelasin kenapa.

Mereka ngamati sesuatu. Terus
mereka nyimpulin bahwa sesuatu
itu harus. Tanpa ngejelasin dari
mana “harus” itu datang.

Hume nyebut ini sebagai lompatan
yang nggak sah.
Lo nggak bisa
nyimpulin kewajiban moral
cuma dari fakta.
Lo butuh sesuatu
yang lain. Lo butuh premis moral.
Lo butuh nilai. Lo butuh tujuan.
Lo butuh sesuatu yang nggak bisa
ditemukan cuma dengan ngamati
dunia.

Hume dan Pengamatan yang
Bikin Dunia Filsafat Bergetar

David Hume hidup di abad ke-18.
Dia filsuf Skotlandia. Dia salah
satu filsuf paling berpengaruh dalam
sejarah. Dia nulis banyak buku
tentang manusia, moral, dan
pengetahuan.

Di bukunya yang berjudul A Treatise
of Human Nature, dia bikin
pengamatan yang sederhana tapi
mendalam. Dia bilang gini. Dia liat
banyak penulis dan filsuf ngomongin
Tuhan, ngomongin manusia,
ngomongin masyarakat. Mereka
bikin pernyataan tentang apa yang
ada. Mereka bikin pernyataan
tentang apa yang terjadi. Terus
tiba-tiba, mereka beralih
ke pernyataan tentang apa yang
seharusnya. Mereka pake kata
“seharusnya” tanpa ngejelasin
dari mana kata itu datang.

Hume bilang, “Gue nggak bisa
nggak ngeh. Dalam setiap sistem
moral yang gue temuin, penulisnya
ngomong dengan cara biasa, bikin
pengamatan tentang sifat manusia.
Terus tiba-tiba, gue kaget nemuin
bahwa bukan lagi proposisi yang
dihubungin sama kata ‘adalah’ dan
‘bukan.’ Tapi proposisi yang
dihubungin sama kata ‘seharusnya’
dan ‘nggak seharusnya.’ Perubahan
ini nggak berasa. Tapi sangat
penting. Karena ‘seharusnya’ itu
ngeekspresiin hubungan baru.
Hubungan itu perlu dijelasin.
Dan perlu dijelasin kenapa itu bisa
disimpulin dari yang lain.”

Dengan kata lain, Hume bilang:
lo nggak bisa nyimpulin apa yang
seharusnya cuma dari apa yang
ada. Lo butuh sesuatu yang lain.

Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
masalah filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Masalah ini
nyentuh hidup lo dengan cara yang
sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah
denger argumen kayak gini:

“Orang kaya itu berpendidikan. Jadi
orang kaya seharusnya lebih dihormati.”

“Orang miskin itu kurang berusaha.
Jadi orang miskin seharusnya nggak
dibantu.”

“Perempuan itu lebih emosional.
Jadi perempuan seharusnya
nggak memimpin.”

“Perang itu udah ada sejak dulu.
Jadi perang nggak bisa dihindari.”

Argumen-argumen ini pake fakta.
Atau setidaknya klaim tentang fakta.
Terus mereka melompat
ke kesimpulan moral. Is-Ought
Problem ngajak lo buat meriksa
lompatan itu. Apa lompatan itu sah?
Apa fakta bener-bener mendukung
kesimpulan moral itu?

Kedua, lo mungkin pernah
ngerasa dijebak sama argumen
kayak gitu.
Lo ngerasa ada yang
salah. Tapi lo nggak bisa ngejelasin
kenapa. Lo nggak bisa mbantah.
Karena argumennya kedengeran
logis. Tapi lo ngerasa ada yang
nggak beres.

Ketiga, lo mungkin pernah
pake argumen kayak gitu
tanpa sadar.
Lo bilang,
“Ya memang gitu kenyataannya,
jadi ya harus gitu.” Lo nggak ngeh
bahwa lo lagi melompat. Lo nggak
ngeh bahwa lo lagi nyembunyiin
premis moral lo.

Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa nggak nyaman waktu
orang lain pake argumen
kayak gitu ke lo.
Lo ngerasa
dipojokin. Lo ngerasa dipaksa.
Lo ngerasa nggak punya ruang buat
mbantah. Karena argumennya
keliatan kokoh. Padahal ada yang
bolong.

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh
Masalah Ini

Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa
    “kenapa sih orang lain
    maksa gue buat ikutin apa
    yang mereka lakuin?”

    Itu tanda lo lagi nyentuh
    Is-Ought Problem.

  2. Lo pernah denger argumen
    “udah dari dulu gitu” dan
    lo ngerasa ada yang salah?
    Itu tanda lo lagi ngeraguin
    lompatan dari is ke ought.

  3. Lo pernah ngerasa
    “ah, semua orang juga
    ngelakuin, jadi gue harus
    ngelakuin juga” padahal lo
    nggak yakin?
    Itu tanda lo lagi
    kejebak lompatan itu.

  4. Lo pernah mikir “kenapa
    fakta harus jadi alasan
    buat moral?”
    Itu tanda lo
    lagi mikir.

  5. Lo pernah ngerasa
    “gue cuma pengen
    ngelakuin apa yang gue
    mau, tapi orang lain maksa
    gue buat ikutin aturan
    yang mereka anggap
    bener”?
    Itu tanda lo lagi
    ngerasain ketegangan antara
    fakta dan nilai.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener penting.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.

Analogi: Lo Kayak Detektif yang
Cuma Punya Sidik Jari

Coba bayangin lo detektif. Lo lagi
nyelesain kasus. Lo punya bukti.
Sidik jari. Rekaman CCTV.
Kesaksian saksi. Semua itu fakta.
Semua itu “is.”

Tapi lo nggak bisa langsung
nyimpulin siapa pelakunya. Lo butuh
sesuatu yang lain. Lo butuh teori.
Lo butuh kerangka. Lo butuh asumsi
tentang gimana dunia ini bekerja.
Lo butuh premis yang nggak bisa lo
temuin cuma dari ngeliat sidik jari.

Kalo lo punya sidik jari si X di TKP,
itu fakta. Tapi itu nggak otomatis
berarti si X yang ngelakuin. Bisa aja
dia cuma lewat. Bisa aja dia cuma
berkunjung. Bisa aja ada orang lain
yang pake sarung tangan dan naruh
sidik jari si X.

Lo butuh premis tambahan.
“Kalo sidik jari seseorang ada
di TKP, maka orang itu pelakunya.”
Tapi premis itu sendiri bukan fakta.
Itu asumsi. Itu nilai. Itu keyakinan.

Itu Is-Ought Problem. Lo nggak bisa
nyimpulin kesimpulan moral cuma
dari fakta. Lo butuh premis moral.
Lo butuh nilai. Lo butuh keyakinan
tentang apa yang penting.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di keluarga. Lo ngomong
ke orang tua lo. “Gue pengen ambil
jurusan seni.” Orang tua lo bilang,
“Seniman itu susah kaya. Jadi lo
harus ambil kedokteran.” Argumen
ini pake fakta. Fakta bahwa seniman
susah kaya. Tapi dari fakta itu,
apakah otomatis lo harus ambil
kedokteran? Nggak juga. Ada premis
moral yang tersembunyi. “Lo harus
kaya.” “Lo harus punya karier yang
stabil.” “Kebahagiaan lo nggak
sepenting keamanan finansial.”
Premis-premis itu nggak diakui.
Tapi dipake.

Di kantor. Bos lo bilang, “Karyawan
di sini biasanya kerja lembur. Jadi lo
harus kerja lembur juga.” Argumen
ini pake fakta. Fakta tentang budaya
kerja. Tapi dari fakta itu, apakah
otomatis lo harus lembur?
Nggak juga. Ada premis moral yang
tersembunyi. “Lembur itu baik.”
“Produktivitas lebih penting dari
kesehatan.” “Lo harus ngorbanin
waktu pribadi buat perusahaan.”
Premis-premis itu nggak diakui.
Tapi dipake.

Di media sosial. Lo liat komentar.
“Orang Indonesia itu mayoritas
santai. Jadi kita nggak usah kerja
keras.” Argumen ini pake fakta.
Fakta tentang demografi. Tapi dari
fakta itu, apakah otomatis kita nggak
usah kerja keras? Nggak juga.
Ada premis moral yang tersembunyi.
“Kerja keras itu nggak penting.”
“Santai itu lebih baik.”
“Standar kita harus rendah.”
Premis-premis itu nggak diakui.
Tapi dipake.

Di politik. Politisi bilang,
“Negara ini mayoritas satu agama.
Jadi hukum harus ikutin agama itu.”
Argumen ini pake fakta. Fakta
tentang demografi. Tapi dari fakta
itu, apakah otomatis hukum harus
ikutin agama mayoritas?
Nggak juga. Ada premis moral yang
tersembunyi. “Mayoritas selalu
benar.” “Minoritas nggak punya
hak.” “Keadilan cuma buat yang
mayoritas.” Premis-premis itu
nggak diakui. Tapi dipake.

Di diri lo sendiri. Lo mikir,
“Gue orangnya pemalu. Jadi gue
nggak bisa ngomong di depan
umum.” Argumen ini pake fakta.
Fakta tentang kepribadian lo.
Tapi dari fakta itu, apakah
otomatis lo nggak bisa ngomong
di depan umum? Nggak juga. Ada
premis moral yang tersembunyi.
“Kepribadian nggak bisa berubah.”
“Gue nggak bisa belajar.”
“Gue harus terima apa adanya.”
Premis-premis itu nggak diakui.
Tapi dipake.

Semua contoh ini nunjukin satu hal:
Is-Ought Problem bukan cuma
teori. Dia alat buat meriksa
argumen. Dia ngajak lo buat
nggak nerima lompatan dari
fakta ke moral tanpa
pertanyaan.

Kritik: Kenapa Banyak yang
Nggak Setuju?

Is-Ought Problem nggak lepas dari
kritik. Beberapa filsuf berargumen
bahwa lompatan dari is ke ought
bisa dilakuin. Asalkan ada premis
tambahan.

Misalnya. Kalo kita nerima premis
bahwa “kita harus ngurangin
penderitaan.” Dan kita ngamati
bahwa “tindakan X ngurangin
penderitaan.” Maka kita bisa
nyimpulin bahwa
“kita harus ngelakuin X.”

Tapi tunggu dulu. Premis pertama
itu sendiri adalah premis moral.
Dia bukan fakta. Dia nilai.
Jadi lompatan itu tetep butuh
premis moral. Cuma premisnya
udah diakui. Bukan disembunyiin.

Kritik lain bilang Hume terlalu kaku.
Dalam praktik, fakta dan nilai sering
terjalin. Lo nggak bisa misahin
dua-duanya dengan bersih. Waktu lo
ngamati sesuatu, lo udah bawa nilai.
Waktu lo nilai sesuatu, lo udah bawa
fakta.

Kritik lain bilang Is-Ought Problem
cuma masalah bahasa. Mungkin lo
bisa ngerumusin ulang pernyataan
moral sehingga lompatan itu nggak
keliatan. Misalnya, “Kebaikan
adalah ngurangin penderitaan.”
Itu pernyataan yang ngubungin
fakta dan nilai. Tapi apa itu
nyelesaiin masalah?
Atau cuma nyembunyiin?

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Is-Ought Problem
punya tanggapan. Mereka nggak
selalu bilang lompatan dari is
ke ought nggak mungkin.
Mereka sering bilang lompatan itu
butuh penjelasan. Lo nggak bisa
melompat tanpa jembatan.
Lo butuh premis moral. Lo butuh
nilai. Lo butuh tujuan.

Mereka juga bilang Is-Ought
Problem bukan tentang nglarang
moral. Dia tentang kejujuran.
Kalo lo bikin argumen moral,
akui premis moral lo. Jangan
pura-pura bahwa itu berasal dari
fakta. Jangan pura-pura bahwa
itu objektif. Akui bahwa lo punya
nilai.

Mereka juga bilang Is-Ought
Problem ngajak lo buat mikir lebih
dalem. Waktu seseorang bilang,
“Ini seharusnya gitu,” tanya,
“Kenapa? Dari mana lo dapet
‘seharusnya’ itu? Apa nilai yang
mendasarinya? Apa tujuan yang
pengen dicapai?”

Cara Nyikapin Masalah Ini
Tanpa Kehilangan Akal

1. Waspadai lompatan.
Waktu lo denger argumen moral,
perhatiin apa argumen itu melompat
dari is ke ought. Apa ada fakta yang
dipake buat mendukung kesimpulan
moral? Apa ada premis moral yang
diakui? Kalo nggak ada, curiga.
Ada yang disembunyiin.

2. Tanya “kenapa.”
Waktu seseorang bilang,
“Ini seharusnya gitu,” tanya,
“Kenapa?” Tanya, “Dari mana lo
dapet ‘seharusnya’ itu?” Tanya,
“Apa nilai yang mendasarinya?”
Jangan puas sama jawaban yang
cuma ngulang fakta. Karena
fakta nggak cukup.

3. Akui premis moral lo.
Waktu lo bikin argumen moral, akui
premis moral lo. Jangan pura-pura
bahwa itu berasal dari fakta. Jangan
pura-pura bahwa itu objektif. Akui
bahwa lo punya nilai. Kalo lo jujur,
orang lain bakal lebih gampang
ngerti posisi lo.

4. Jangan takut sama nilai.
Is-Ought Problem bukan berarti moral
itu nggak mungkin. Dia berarti moral
butuh nilai. Nilai bukan hal yang
buruk. Nilai adalah apa yang ngasih
arah pada hidup lo. Nilai adalah apa
yang bikin lo peduli. Nilai adalah
apa yang bikin lo manusia.

5. Bedain antara fakta dan nilai.
Fakta adalah apa yang ada. Nilai
adalah apa yang lo anggap penting.
Fakta bisa diuji. Nilai bisa
diperdebatkan. Jangan nyampur
aduk dua-duanya. Jangan pura-pura
nilai lo adalah fakta. Jangan
pura-pura fakta lo adalah nilai.

6. Waspada sama klaim “alami.”
Banyak argumen moral pake klaim
tentang alam. “Ini alami. Jadi ini
baik.” Tapi alam nggak selalu baik.
Penyakit itu alami. Gempa bumi
itu alami. Kematian itu alami.
Apa semua itu baik? Tentu nggak.
Jadi “alami” nggak otomatis
berarti “baik.”

7. Terbuka pada dialog.
Is-Ought Problem ngajak lo buat
berdialog. Kalo lo ngakui premis
moral lo, lo bisa berdiskusi.
Lo bisa nyari titik temu. Lo bisa
belajar dari satu sama lain.
Lo nggak perlu berdebat tanpa
akhir. Lo nggak perlu ngerasa
terancam.

8. Rendah hati.
Lo nggak punya semua jawaban.
Nilai lo mungkin beda dari nilai
orang lain. Itu nggak apa-apa.
Yang penting lo jujur tentang nilai lo.
Yang penting lo ngormatin nilai
orang lain. Yang penting lo nggak
maksa nilai lo ke orang lain tanpa
ngejelasin kenapa.

9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.

Lo nggak akan pernah bisa nentuin
dengan pasti nilai mana yang paling
bener. Lo cuma bisa hidup dengan
ketidakpastian itu. Dan itu nggak
apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia. Itu bagian dari kebebasan lo.

Yang Paling Lo Takutin Bukan
Fakta

Yang paling lo takutin bukan fakta.
Bukan kenyataan. Bukan dunia
yang keras.

Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo sadar bahwa banyak
keyakinan moral lo ternyata
nggak punya dasar. Kalo lo
sadar bahwa banyak aturan
yang lo ikutin ternyata cuma
kesepakatan yang nggak
pernah lo pertanyakan.
Kalo lo sadar bahwa lo udah
ngikutin “seharusnya” yang
orang lain tulis, bukan yang
lo pilih sendiri.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar,
lo bisa milih. Kalo lo sadar, lo bisa
nimbang. Kalo lo sadar, lo bisa
ngubah. Kalo lo sadar, lo bisa
nentuin nilai lo sendiri. Bukan nilai
yang orang lain tulis. Tapi nilai
yang bener-bener milik lo.

Is-Ought Problem bukan tentang
ngerusak moral. Dia tentang ngasih
lo alat buat nimbang. Dia tentang
ngasih lo kebebasan buat milih.
Dia tentang ngasih lo keberanian
buat nanya. “Kenapa?”

Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur

Is-Ought Problem ngajarin satu hal
yang penting. Fakta nggak cukup
buat mbenerin moral. Lo butuh nilai.
Lo butuh tujuan. Lo butuh premis
yang nggak bisa ditemuin cuma
dengan ngamati dunia.

Ini bisa berasa menantang. Kalo
moral nggak bisa disimpulin dari
fakta, dari mana moral datang?
Apa moral cuma soal perasaan?
Apa moral cuma soal pilihan?
Apa moral cuma soal kekuasaan?

Tapi ini juga bisa berasa
membebaskan. Lo nggak perlu
nerima moral yang dikasih gitu aja.
Lo bisa meriksa. Lo bisa nanya.
Lo bisa milih nilai lo sendiri.
Lo bisa bertanggung jawab atas
pilihan itu.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah denger argumen
yang melompat dari is
ke ought? Lo pernah bikin
argumen kayak gitu?

Dan kalo iya, lo sadar nggak
bahwa ada premis moral
yang tersembunyi?
Lo siap nggak buat
meriksanya?

Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue
bisa ngingetin: lo nggak harus
punya jawaban sekarang.
Lo cuma harus mulai nanya.
Lo cuma harus mulai meriksa.
Lo cuma harus mulai jujur
sama diri sendiri.

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai meriksa lompatan
dalam argumen lo sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *