filsafat

Cogito Ergo Sum: Satu Satunya Hal yang Tidak Bisa Anda Ragukan

Pernahkah Anda terbangun dari
mimpi yang begitu nyata, lalu bingung
apakah Anda sedang bermimpi atau
sedang terjaga? Pernahkah Anda
merasa bahwa dunia ini tidak nyata?
Pernahkah Anda bertanya,
“Bagaimana jika semua yang saya
lihat, dengar, dan rasakan hanyalah
ilusi?” Pertanyaan itu bukan
pertanyaan baru. Ia sudah dibahas
seorang filsuf Prancis bernama Rene
Descartes lebih dari tiga ratus
tahun lalu. Dan dari keraguan itu,
ia menemukan satu kebenaran yang
tidak bisa digoyahkan. Kebenaran itu
bernama Cogito Ergo Sum. Mari
saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Siapa Itu Rene Descartes?

Rene Descartes lahir pada tahun 1596
di Prancis. Ia adalah seorang filsuf,
matematikawan, dan ilmuwan.
Ia dikenal sebagai bapak filsafat
modern. Ia juga terkenal dengan
kalimatnya yang singkat tetapi
mendalam. Kalimat itu adalah
“Cogito ergo sum,” yang berarti
“Saya berpikir, maka saya ada.”

Descartes hidup di zaman ketika
banyak keyakinan lama mulai
dipertanyakan. Ia ingin menemukan
dasar yang kokoh untuk
pengetahuan. Ia tidak ingin
menerima sesuatu hanya karena
orang lain mengatakannya. Ia tidak
ingin menerima sesuatu hanya
karena tradisi. Ia ingin menemukan
sesuatu yang pasti. Sesuatu yang
tidak bisa diragukan.

Apa Itu Metode Keraguan?

Untuk menemukan kepastian,
Descartes memulai dengan keraguan.
Ia meragukan segalanya.
Ia meragukan apa yang ia lihat.
Ia meragukan apa yang ia dengar.
Ia meragukan apa yang ia pelajari.
Ia meragukan apa yang ia yakini.

Ia bertanya, “Bagaimana jika semua
yang saya lihat hanyalah ilusi?
Bagaimana jika saya sedang
bermimpi?
Bagaimana jika ada makhluk jahat
yang memanipulasi pikiran saya?
Bagaimana jika semua yang saya
anggap benar sebenarnya salah?”

Descartes tidak main-main dengan
keraguannya. Ia meragukan
segalanya. Ia meragukan dunia
fisik. Ia meragukan tubuhnya
sendiri. Ia meragukan keberadaan
orang lain. Ia meragukan bahkan
keberadaan Tuhan.

Tetapi kemudian ia menyadari
sesuatu. Ketika ia meragukan
segalanya, ada satu hal yang tidak
bisa ia ragukan. Ia sedang
meragukan. Ia sedang berpikir.
Dan jika ia sedang berpikir, maka
harus ada sesuatu yang berpikir.
Harus ada sesuatu yang
melakukan keraguan itu.

Dari situ, Descartes menyimpulkan,
“Cogito ergo sum.” Saya berpikir,
maka saya ada. Bahkan jika semua
yang saya lihat adalah ilusi, bahkan
jika tubuh saya tidak nyata, bahkan
jika ada makhluk jahat yang
menipu saya, satu hal tetap pasti.
Saya ada. Karena saya sedang
berpikir.

Mengapa Ini Begitu Penting?

Cogito ergo sum adalah fondasi.
Ia adalah titik awal. Ia adalah
satu-satunya hal yang tidak bisa
diragukan. Descartes menemukan
bahwa bahkan dalam keraguan
yang paling ekstrem, ada sesuatu
yang tetap. Kesadaran. Pikiran.
Diri.

Ini penting karena Descartes ingin
membangun pengetahuan dari
dasar yang kokoh. Jika ia bisa
menemukan satu hal yang pasti,
ia bisa mulai dari situ. Ia bisa
membangun argumen tentang
keberadaan Tuhan. Ia bisa
membangun argumen tentang
keberadaan dunia. Ia bisa
membangun argumen tentang
pengetahuan.

Cogito ergo sum juga penting karena
ia mengubah cara kita memahami
diri. Sebelum Descartes, banyak
orang menganggap bahwa diri adalah
tubuh. Diri adalah materi. Diri adalah
sesuatu yang bisa dilihat dan disentuh.
Descartes menunjukkan bahwa diri
adalah pikiran. Diri adalah kesadaran.
Diri adalah sesuatu yang tidak bisa
dilihat dan disentuh, tetapi lebih
pasti daripada tubuh.

Apa Maksud Descartes
Sebenarnya?

Descartes tidak hanya mengatakan
bahwa ia ada. Ia mengatakan
sesuatu yang lebih dalam.
Ia mengatakan bahwa esensi manusia
adalah berpikir. Manusia bukan
hanya mesin yang bergerak.
Manusia bukan hanya hewan yang
lebih pintar. Manusia adalah
makhluk yang sadar. Manusia
adalah makhluk yang berpikir.

Descartes juga mengatakan bahwa
pikiran dan tubuh adalah dua hal
yang berbeda. Tubuh adalah materi.
Ia bisa dibagi. Ia bisa rusak.
Ia bisa mati. Pikiran adalah
non-materi. Ia tidak bisa dibagi.
Ia tidak bisa rusak. Ia tidak bisa
mati. Ini disebut dualisme.
Gagasan bahwa pikiran dan tubuh
adalah dua substansi yang berbeda.

Descartes percaya bahwa pikiran
bisa ada tanpa tubuh. Ia percaya
bahwa jiwa bisa hidup terus setelah
tubuh mati. Ia percaya bahwa
kesadaran adalah sesuatu yang
lebih dari sekadar materi.

Mengapa Ini Penting untuk
Anda?

Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya filsafat.
Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda merasa bahwa Anda
bukan tubuh Anda?
Pernahkah Anda merasa bahwa ada
sesuatu di dalam diri Anda yang
lebih dari sekadar daging dan tulang?
Pernahkah Anda merasa bahwa
kesadaran Anda adalah misteri?
Pernahkah Anda bertanya,
“Siapa saya sebenarnya?”

Cogito ergo sum juga muncul dalam
teknologi. Ketika Anda berbicara
dengan kecerdasan buatan, apakah
ia benar-benar berpikir? Apakah ia
benar-benar sadar? Apakah ia punya
“saya”? Jika ia bisa berpikir, apakah
ia juga ada? Jika ia tidak bisa
berpikir, apakah ia hanya mesin?

Cogito ergo sum juga muncul dalam
psikologi. Ketika Anda merasa
cemas, depresi, atau kehilangan
identitas, Anda bisa bertanya,
“Siapa saya?” Descartes akan
menjawab, “Anda adalah yang
berpikir. Anda adalah yang sadar.
Anda adalah yang mengalami.
Itu tidak bisa diragukan.”

Cogito ergo sum juga muncul dalam
spiritualitas. Ketika Anda bermeditasi,
Anda bisa mengamati pikiran Anda.
Anda bisa melihat pikiran datang
dan pergi. Tetapi ada sesuatu yang
mengamati. Ada sesuatu yang sadar.
Ada sesuatu yang tidak berubah.
Itulah “saya” yang Descartes maksud.

Contoh Sederhana di Kehidupan
Sehari-hari

Seorang mahasiswa belajar filsafat.
Ia membaca Descartes. Ia bertanya,
“Bagaimana jika semua yang saya
pelajari adalah salah?
Bagaimana jika dosen saya menipu
saya?
Bagaimana jika buku-buku ini
bohong?” Ia merasa cemas. Lalu ia
menyadari, “Tetapi saya sedang
berpikir. Saya sedang meragukan.
Itu pasti.”

Seorang karyawan merasa
hidupnya tidak nyata. Ia bekerja,
pulang, tidur, bekerja lagi.
Ia merasa seperti robot. Ia bertanya,
“Apakah saya benar-benar ada?”
Ia merenung. Ia menyadari,
“Saya sedang merasa. Saya sedang
berpikir. Saya sedang bertanya.
Jadi saya ada.”

Seorang pengguna media sosial
melihat berita palsu. Ia bertanya,
“Apa yang benar? Apa yang salah?
Bagaimana saya bisa tahu?”
Ia merasa bingung. Lalu ia
menyadari, “Saya sedang bingung.
Saya sedang berpikir.
Itu setidaknya pasti.”

Seorang pasien depresi merasa
tidak berharga. Ia bertanya,
“Apakah saya berarti?”
Ia merasa kosong. Lalu ia belajar
tentang Descartes. Ia menyadari,
“Saya sedang berpikir.
Saya sedang merasa. Saya sedang
ada. Itu tidak bisa diragukan.”

Seorang meditator duduk diam.
Ia mengamati napasnya.
Ia mengamati pikirannya.
Ia bertanya, “Siapa yang mengamati?”
Ia menyadari, “Ada sesuatu yang
sadar. Ada sesuatu yang hadir.
Itulah saya.”

Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Cogito ergo sum bukan
hanya argumen filsafat. Ia adalah
pengalaman yang bisa dialami
siapa saja. Ia mengajak kita untuk
menyadari kesadaran kita sendiri.

Kritik terhadap Cogito
Ergo Sum

Cogito ergo sum tidak lepas dari
kritik. Banyak filsuf dan pemikir
menolak atau meragukan
argumen ini.

Pertama, apakah “saya” itu ada?
Descartes mengatakan bahwa ada
“saya” yang berpikir. Tetapi beberapa
filsuf, seperti David Hume,
mengatakan bahwa tidak ada “saya”
yang tetap. Yang ada hanyalah aliran
pikiran. Yang ada hanyalah
pengalaman yang datang dan pergi.
Tidak ada pusat yang mengamati.

Kedua, apakah berpikir membuktikan
keberadaan? Mungkin pikiran itu ada.
Mungkin ada proses mental. Tetapi
apakah itu berarti ada “saya”?
Mungkin pikiran itu seperti awan.
Awan ada. Tetapi tidak ada “awan”
yang tetap. Awan hanya kumpulan
uap air.

Ketiga, apakah Cogito ergo sum
membuktikan terlalu banyak?
Jika saya berpikir, maka saya ada.
Tetapi bagaimana dengan
orang lain? Bagaimana saya tahu
bahwa orang lain juga berpikir?
Bagaimana saya tahu bahwa
orang lain juga ada?
Descartes mencoba menjawab ini
dengan argumen tentang Tuhan.
Tetapi banyak yang tidak puas.

Keempat, apakah Cogito ergo sum
hanya soal bahasa?
Mungkin masalahnya hanya pada
kata “saya.” Ketika saya mengatakan
“saya berpikir,” saya sudah
mengasumsikan bahwa ada “saya.”
Mungkin itu hanya cara bicara.
Mungkin tidak ada “saya” yang
sebenarnya.

Tanggapan terhadap Kritik

Pendukung Cogito ergo sum punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa argumen ini
sempurna. Mereka sering
mengatakan bahwa ini adalah titik
awal. Ini adalah fondasi. Ini adalah
sesuatu yang tidak bisa diragukan.

Mereka mengatakan bahwa bahkan
jika “saya” itu tidak tetap,
setidaknya ada pengalaman.
Ada kesadaran. Ada sesuatu yang
muncul. Itu tidak bisa disangkal.

Mereka juga mengatakan bahwa
keraguan itu sendiri membuktikan
adanya sesuatu. Anda tidak bisa
meragukan tanpa ada yang
meragukan. Anda tidak bisa
berpikir tanpa ada yang berpikir.

Mereka juga mengatakan bahwa
Cogito ergo sum bukan tentang
membuktikan segalanya. Ia hanya
tentang menemukan satu hal.
Satu hal yang pasti. Dari situ,
kita bisa mulai.

Tiga Fase Menghadapi
Cogito Ergo Sum

Fase pertama, Anda merasa yakin.
Anda merasa bahwa Anda tahu
siapa diri Anda. Anda merasa bahwa
dunia ini nyata. Anda tidak
meragukan apa pun. Anda hidup
dalam kepastian yang naif.

Fase kedua, Anda meragukan.
Anda mulai bertanya,
“Bagaimana jika semua ini ilusi?
Bagaimana jika saya sedang bermimpi?
Bagaimana jika saya tidak benar-benar
ada?” Anda merasa cemas. Anda
merasa goyah. Anda merasa
kehilangan pijakan.

Fase ketiga, Anda menemukan
pijakan. Anda menyadari bahwa
bahkan dalam keraguan, ada sesuatu
yang tetap. Anda berpikir.
Anda sadar. Anda ada. Itu tidak bisa
diragukan. Dari situ, Anda bisa
mulai membangun.

Cara Menyikapi Cogito Ergo Sum

Pertama, jangan takut pada keraguan.
Keraguan bukan musuh. Keraguan
adalah pintu. Keraguan mengajak
Anda untuk mencari. Keraguan
mengajak Anda untuk bertanya.
Keraguan mengajak Anda untuk
menemukan.

Kedua, sadari kesadaran Anda.
Luangkan waktu untuk duduk
diam. Amati pikiran Anda. Amati
perasaan Anda. Amati napas
Anda. Sadari bahwa ada sesuatu
yang mengamati. Itulah “saya”
yang paling dasar.

Ketiga, jangan terjebak pada pikiran.
Pikiran datang dan pergi. Perasaan
datang dan pergi. Tetapi ada
sesuatu yang tetap. Ada sesuatu
yang tidak berubah. Itulah
kesadaran. Itulah diri.

Keempat, bedakan antara diri dan isi
pikiran. Anda bukan pikiran Anda.
Anda bukan perasaan Anda. Anda
adalah yang mengamati pikiran dan
perasaan itu. Anda adalah ruang
tempat pikiran dan perasaan itu
muncul.

Kelima, gunakan keraguan untuk
bertumbuh. Ketika Anda meragukan
sesuatu, tanyakan, “Apakah ini benar?
Dari mana saya tahu? Apa buktinya?”
Keraguan bisa membawa Anda pada
pemahaman yang lebih dalam.

Keenam, jangan biarkan keraguan
melumpuhkan Anda. Keraguan bisa
menjadi obsesi. Keraguan bisa
membuat Anda tidak bisa bertindak.
Ingatlah bahwa Anda tidak perlu
punya semua jawaban. Anda hanya
perlu punya pijakan. Dan pijakan
itu adalah kesadaran Anda.

Ketujuh, hidup dengan sadar. Jika
Anda adalah makhluk yang berpikir,
maka hidup Anda adalah hidup
yang sadar. Jangan hidup dalam
autopilot. Jangan hidup tanpa
perhatian. Hadirkan diri Anda
di setiap momen.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak
tahu segalanya. Anda tidak bisa
membuktikan segalanya. Tetapi Anda
tahu bahwa Anda ada. Itu cukup
untuk memulai.

Penutup

Cogito ergo sum mengajarkan satu
hal yang sederhana tetapi mendalam.
Di tengah semua keraguan,
di tengah semua ketidakpastian, ada
satu hal yang tidak bisa diragukan.
Anda berpikir. Anda sadar. Anda
ada.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika
dunia ini tidak pasti, bagaimana
Anda bisa hidup? Jika Anda tidak
bisa mempercayai indra Anda,
apa yang bisa Anda percayai?
Jika Anda sendirian dalam
kesadaran Anda, bagaimana
Anda bisa terhubung?

Tetapi ini juga bisa terasa
membebaskan. Anda tidak perlu
punya semua jawaban.
Anda tidak perlu membuktikan
segalanya. Anda hanya perlu
menyadari bahwa Anda ada.
Dari situ, Anda bisa mulai.
Dari situ, Anda bisa bertanya.
Dari situ, Anda bisa hidup.

Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda
pernah meragukan segalanya?
Apakah Anda pernah merasa bahwa
dunia ini tidak nyata?
Jika ya, apa yang membuat Anda
kembali? Apakah kesadaran Anda?
Apakah pikiran Anda?
Apakah “saya” yang tidak bisa
diragukan?

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai menyadari bahwa
Anda ada.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Cogito Ergo Sum: Satu-satunya
Hal yang Nggak Bisa Lo Ragukan

Coba inget lagi. Momen di mana lo
bangun tidur, tapi lo nggak yakin lo
beneran bangun. Lo liat langit-langit
kamar. Lo liat jam. Lo liat tangan lo
sendiri. Tapi ada yang aneh.
Ada yang nggak beres. Lo ngerasa
kayak masih di dalem mimpi.
Lo ngerasa kayak dunia ini nggak
beneran. Lo ngerasa kayak lo lagi
ngeliat semuanya dari balik kaca.

Terus muncul pikiran yang bikin
merinding.
“Gimana kalo semua
ini nggak nyata?
Gimana kalo gue lagi mimpi?
Gimana kalo hidup gue cuma
ilusi yang otak gue ciptain?”

Lo coba tepis. Lo coba bangun.
Lo coba gerakin badan lo.
Tapi keraguannya nggak ilang.
Dia cuma nunggu di pojok
kepala lo. Siap balik kapan aja.

Kalo lo pernah ada di momen kayak
gini, lo udah nyentuh salah satu
pertanyaan paling fundamental
dalam filsafat. Dan ada satu filsuf
yang berani banget masuk
ke dalam keraguan itu sampe
ke dasar. Namanya
Rene
Descartes.
Dan dari keraguan yang
paling ekstrem, dia nemuin satu hal
yang nggak bisa digoyahin. Satu hal
yang bikin dia bisa bilang:
“Sampai di sini aja. Ini pasti.”

Gagasan itu namanya Cogito Ergo
Sum.
Dan gue jamin, setelah baca
ini, lo bakal liat keraguan dengan
mata yang beda.

Siapa Descartes dan Kenapa
Dia Begitu Penting?

Rene Descartes lahir tahun 1596
di Prancis. Dia filsuf.
Dia matematikawan. Dia ilmuwan.
Dia dijuluki bapak filsafat modern.
Tapi yang bikin dia terkenal sampe
sekarang cuma satu kalimat.
Pendek. Simpel. Tapi nggak bisa
dibantah.

“Cogito ergo sum.”

Artinya:
“Gue berpikir, maka gue ada.”

Descartes hidup di zaman di mana
banyak keyakinan lama mulai
dipertanyakan. Orang mulai nggak
percaya sama apa yang cuma
dikasih sama tradisi. Orang mulai
nanya, “Emang bener?
Dari mana lo tau? Apa buktinya?”

Descartes ngerasa hal yang sama.
Dia nggak mau nerima sesuatu
cuma karena orang lain bilang.
Dia nggak mau nerima sesuatu
cuma karena udah dari dulu gitu.
Dia pengen nemuin sesuatu yang
pasti. Sesuatu yang nggak bisa
diragukan. Sesuatu yang bisa jadi
fondasi buat semua pengetahuan.

Masalahnya: susah banget nemuin
hal yang pasti. Karena hampir
semua hal bisa diragukan. Jadi
Descartes ngelakuin sesuatu yang
berani. Dia mulai dari keraguan.
Bukan dikit. Tapi total.

Keraguan yang Nggak
Main-main

Descartes ngeraguin segalanya.
Bukan cuma ngeraguin apa yang
orang bilang. Tapi ngeraguin apa
yang dia liat. Apa yang dia denger.
Apa yang dia rasain. Apa yang dia
pelajarin. Apa yang dia yakini.

Dia nanya. Gimana kalo semua
yang gue liat ini cuma ilusi?

Gimana kalo gue lagi mimpi?
Gimana kalo ada makhluk jahat
yang lagi manipulasi pikiran gue?
Gimana kalo semua yang gue
anggap bener sebenernya salah?

Dia nggak main-main. Dia ngeraguin
dunia fisik. Dia ngeraguin tubuhnya
sendiri. Dia ngeraguin keberadaan
orang lain. Dia ngeraguin
keberadaan Tuhan. Dia ngeraguin
segalanya. Sampe nggak ada yang
tersisa.

Tapi terus dia sadar sesuatu.
Waktu dia ngeraguin segalanya,
ada satu hal yang nggak bisa dia
raguin.

Dia sedang meragukan.

Dia sedang berpikir. Dia sedang
mengalami keraguan itu. Dan kalo
dia sedang berpikir, harus ada
sesuatu yang berpikir. Harus ada
sesuatu yang ngelakuin keraguan itu.
Harus ada sesuatu yang ngelakuin
proses berpikir itu.

Dari situ, Descartes nyimpulin.
“Cogito ergo sum.”
Gue berpikir, maka gue ada.

Bahkan kalo semua yang gue liat
adalah ilusi. Bahkan kalo tubuh
gue nggak nyata. Bahkan kalo ada
makhluk jahat yang lagi nipu gue.
Satu hal tetep pasti.
Gue ada.
Karena gue sedang berpikir.

Kenapa Ini Begitu Penting
Banget?

Cogito ergo sum itu fondasi. Dia titik
awal. Dia satu-satunya hal yang
nggak bisa diragukan. Descartes
nemuin bahwa bahkan dalam
keraguan yang paling ekstrem,
ada sesuatu yang tetep. Kesadaran.
Pikiran. Diri.

Ini penting karena Descartes pengen
bangun pengetahuan dari dasar yang
kokoh. Kalo dia bisa nemuin satu hal
yang pasti, dia bisa mulai dari situ.
Dia bisa bangun argumen tentang
keberadaan Tuhan. Dia bisa bangun
argumen tentang keberadaan dunia.
Dia bisa bangun argumen tentang
pengetahuan.

Cogito ergo sum juga penting karena
dia ngubah cara kita ngerti diri.
Sebelum Descartes, banyak orang
nganggap diri adalah tubuh. Diri
adalah materi. Diri adalah sesuatu
yang bisa diliat dan disentuh.
Descartes nunjukin bahwa diri
adalah pikiran. Diri adalah
kesadaran. Diri adalah sesuatu yang
nggak bisa diliat dan disentuh, tapi
lebih pasti daripada tubuh.

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh
Gagasan Ini

Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa dunia
    ini nggak nyata?
    Kayak lo lagi nonton film,
    bukan lagi jalanin hidup?
    Itu tanda lo lagi nyentuh
    keraguan Descartes.

  2. Lo pernah bangun dari
    mimpi dan bingung
    mana yang nyata?

    Itu tanda lo ngerasain betapa
    rapuhnya batas antara mimpi
    dan kenyataan.

  3. Lo pernah mikir “gimana
    kalo gue sendirian
    di alam semesta ini”?

    Itu tanda lo lagi mikirin
    kesadaran lo sendiri.

  4. Lo pernah ngerasa ada
    sesuatu di dalem diri lo
    yang lebih dari sekadar
    daging dan tulang?
    Itu tanda lo lagi nyentuh konsep
    pikiran sebagai sesuatu yang
    beda dari tubuh.

  5. Lo pernah nanya “siapa gue
    sebenernya?”

    Bukan soal nama. Bukan soal
    pekerjaan. Tapi soal hakikat.
    Itu tanda lo lagi nyentuh Cogito.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener
fundamental. Dan itu nggak
apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di medsos. Lo scroll. Lo liat berita.
Lo liat foto. Lo liat video. Lo nggak
tau mana yang asli. Mana yang
editan. Mana yang hoaks. Mana yang
dibuat AI. Lo mulai bingung.
Apa yang bisa lo percayai?
Terus lo sadar. Setidaknya lo tau satu
hal.
Lo yang lagi scroll. Lo yang
lagi bingung. Lo yang lagi mikir.
Itu pasti.

Di kerjaan. Lo ngerasa hidup lo
kayak mesin. Bangun. Kerja. Pulang.
Tidur. Bangun lagi. Kerja lagi.
Pulang lagi. Tidur lagi. Lo nanya
dalam hati.
“Ini beneran hidup
gue? Atau gue cuma jalanin
skenario yang orang lain tulis?”
Terus lo sadar. Setidaknya lo tau
satu hal.
Lo yang lagi ngerasa
hampa. Lo yang lagi bertanya.
Itu pasti.

Di meditasi. Lo duduk. Lo tutup
mata. Lo amati napas lo. Lo amati
pikiran lo. Pikiran dateng. Pikiran
pergi. Perasaan dateng. Perasaan
pergi. Tapi ada sesuatu yang nggak
dateng dan pergi. Ada sesuatu yang
mengamati. Ada sesuatu yang sadar.
Itu yang Descartes maksud.
Itu Cogito.

Kritik: Kenapa Banyak yang
Nggak Setuju?

Cogito ergo sum nggak lepas dari
kritik. Banyak filsuf nolak atau
ngeraguin argumen ini.

Pertama, apa “saya” itu ada?
Descartes bilang ada “saya” yang
berpikir. Tapi beberapa filsuf,
kayak David Hume, bilang nggak ada
“saya” yang tetep. Yang ada cuma
aliran pikiran. Yang ada cuma
pengalaman yang dateng dan pergi.
Nggak ada pusat yang mengamati.

Kedua, apa berpikir
membuktikan keberadaan?

Mungkin pikiran itu ada. Mungkin
ada proses mental. Tapi apa itu
berarti ada “saya”?
Mungkin pikiran itu kayak awan.
Awan ada. Tapi nggak ada “awan”
yang tetep. Awan cuma kumpulan
uap air.

Ketiga, apa Cogito
membuktikan terlalu banyak?

Kalo gue berpikir, maka gue ada.
Tapi gimana dengan orang lain?
Gimana gue tau orang lain juga
berpikir?
Gimana gue tau orang lain juga ada?
Descartes nyoba jawab ini dengan
argumen tentang Tuhan. Tapi
banyak yang nggak puas.

Keempat, apa Cogito cuma
soal bahasa?
Mungkin masalahnya cuma
di kata “saya.” Waktu gue bilang
“gue berpikir,” gue udah
ngasumsiin bahwa ada “gue.”
Mungkin itu cuma cara bicara.
Mungkin nggak ada “gue” yang
sebenernya.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Cogito punya tanggapan.
Mereka nggak selalu bilang argumen
ini sempurna. Mereka sering bilang
ini titik awal. Ini fondasi. Ini sesuatu
yang nggak bisa diragukan.

Mereka bilang bahkan kalo “saya”
itu nggak tetep, setidaknya ada
pengalaman. Ada kesadaran.
Ada sesuatu yang muncul.
Itu nggak bisa disangkal.

Mereka juga bilang keraguan itu
sendiri membuktikan adanya
sesuatu. Lo nggak bisa ngeraguin
tanpa ada yang ngeraguin.
Lo nggak bisa berpikir tanpa
ada yang berpikir.

Mereka juga bilang Cogito bukan
tentang membuktikan segalanya.
Dia cuma tentang nemuin satu hal.
Satu hal yang pasti. Dari situ, lo
bisa mulai.

Cara Nyikapin Keraguan Tanpa
Kehilangan Akal

1. Jangan takut sama keraguan.
Keraguan bukan musuh. Keraguan
adalah pintu. Keraguan ngajak lo
buat nyari. Keraguan ngajak lo buat
nanya. Keraguan ngajak lo buat
nemuin. Jangan kabur dari
keraguan. Masukin. Duduk
di dalemnya. Liat apa yang ada
di sana.

2. Sadari kesadaran lo.
Luangkan waktu buat duduk diem.
Amati pikiran lo. Amati perasaan
lo. Amati napas lo. Sadari bahwa
ada sesuatu yang mengamati.
Itulah “saya” yang paling dasar.
Itulah yang nggak bisa diragukan.

3. Jangan kejebak pada
pikiran.

Pikiran dateng dan pergi. Perasaan
dateng dan pergi. Tapi ada sesuatu
yang tetep. Ada sesuatu yang nggak
berubah. Itulah kesadaran. Itulah
diri. Lo bukan pikiran lo. Lo adalah
yang mengamati pikiran itu.

4. Bedain antara diri dan isi
pikiran.

Lo bukan pikiran lo. Lo bukan
perasaan lo. Lo adalah yang
mengamati pikiran dan perasaan
itu. Lo adalah ruang tempat
pikiran dan perasaan itu muncul.
Itu bedanya. Dan itu penting.

5. Gunain keraguan buat
tumbuh.

Waktu lo ngeraguin sesuatu,
tanya: “Apa ini bener?
Dari mana gue tau? Apa buktinya?”
Keraguan bisa bawa lo pada
pemahaman yang lebih dalem.
Keraguan bukan akhir.
Keraguan adalah awal.

6. Jangan biarin keraguan
nglumpuhin lo.

Keraguan bisa jadi obsesi.
Keraguan bisa bikin lo nggak bisa
bertindak. Ingetlah lo nggak perlu
punya semua jawaban. Lo cuma
perlu punya pijakan. Dan pijakan
itu adalah kesadaran lo.

7. Hidup dengan sadar.
Kalo lo adalah makhluk yang berpikir,
maka hidup lo adalah hidup yang
sadar. Jangan hidup dalam autopilot.
Jangan hidup tanpa perhatian.
Hadirin diri lo di setiap momen.
Rasain. Liat. Denger. Itu hidup.

8. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Lo nggak
bisa buktiin segalanya. Tapi lo tau
bahwa lo ada. Itu cukup buat mulai.
Itu cukup buat melangkah.
Itu cukup buat hidup.

9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.

Lo nggak akan pernah bisa buktiin
dengan pasti bahwa dunia ini
nyata. Lo nggak akan pernah bisa
buktiin dengan pasti bahwa
orang lain punya pikiran.
Lo cuma bisa hidup dengan
ketidakpastian itu. Dan itu nggak
apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia.

Yang Paling Lo Takutin
Bukan Keraguan

Yang paling lo takutin bukan
keraguan. Bukan ketidakpastian.
Bukan ilusi.

Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo ngeraguin segalanya,
nggak ada yang tersisa. Kalo lo
ngeraguin segalanya, lo bakal
kehilangan pijakan. Kalo lo
ngeraguin segalanya, lo bakal
jatuh ke dalam kekosongan
yang nggak ada dasarnya.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Descartes
ngeraguin segalanya. Sampe nggak
ada yang tersisa. Tapi dia nemuin
satu hal. Satu hal yang nggak bisa
diragukan. Kesadaran. Pikiran.
Diri. Dan dari situ, dia bisa bangun.
Dari situ, dia bisa mulai. Dari situ,
dia bisa hidup.

Lo juga bisa. Lo bisa ngeraguin
segalanya. Tapi lo nggak akan pernah
kehilangan kesadaran lo. Lo nggak
akan pernah kehilangan fakta bahwa
lo ada. Itu fondasi. Itu pijakan. Itu
yang bikin lo bisa bertahan.

Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur

Cogito ergo sum ngajarin satu hal
yang sederhana tapi mendalam.
Di tengah semua keraguan.
Di tengah semua ketidakpastian.
Ada satu hal yang nggak bisa
diragukan. Lo berpikir.
Lo sadar. Lo ada.

Ini bisa berasa menakutkan.
Kalo dunia ini nggak pasti,
gimana lo bisa hidup?
Kalo lo nggak bisa percaya indra
lo, apa yang bisa lo percaya?
Kalo lo sendirian dalam
kesadaran lo, gimana lo bisa
terhubung?

Tapi ini juga bisa berasa
membebaskan. Lo nggak perlu
punya semua jawaban. Lo nggak
perlu buktiin segalanya. Lo cuma
perlu sadar bahwa lo ada. Dari
situ, lo bisa mulai. Dari situ, lo
bisa nanya. Dari situ, lo bisa hidup.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah ngeraguin segalanya?
Lo pernah ngerasa dunia ini
nggak nyata?
Lo pernah bangun dari mimpi
dan bingung mana yang beneran?

Kalo iya, apa yang bikin lo balik?
Apa kesadaran lo?
Apa pikiran lo?
Apa “saya” yang nggak bisa
diragukan?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak
ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai sadar bahwa lo ada. Dan
dari situ, lo bisa mulai.

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai menyadari bahwa lo
ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *