The Paradox of Expectations: Mengapa Harapan yang Terlalu Tinggi Justru Membuka Jalan untuk Kekecewaan
Pernahkah Anda membayangkan
sesuatu sebelum kejadian? Liburan,
bertemu orang, acara tertentu.
Anda sudah membayangkan serunya.
Anda sudah memasang harapan
tinggi. Tetapi ketika kejadiannya tiba,
rasanya biasa saja. Bahkan ada rasa
kecewa sedikit, padahal kejadiannya
tidak buruk-buruk amat. Inilah yang
disebut The Paradox of
Expectations.
Paradoks ini mengajarkan bahwa
semakin tinggi harapan Anda,
semakin besar peluang untuk kecewa.
Bukan karena kenyataannya jelek.
Tetapi karena otak Anda sudah
membuat versi sempurna di kepala,
dan kenyataan tidak pernah bisa
mengalahkan versi sempurna itu.
Yang membuat Anda kecewa bukan
kejadiannya. Tetapi jarak antara
bayangan Anda dan kenyataan.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Harapan Mempengaruhi Cara
Kita Menilai Pengalaman
Eksperimen Lee, Frederick, dan
Ariely (2006): Ekspektasi dan
Penilaian Rasa
Leonard Lee, Shane Frederick, dan
Dan Ariely melakukan penelitian
tentang bagaimana ekspektasi
memengaruhi penilaian rasa.
Partisipan diminta mencicipi bir.
Separuh partisipan diberi tahu bahwa
bir itu mengandung cuka balsamik.
Separuh lainnya tidak diberi tahu
apa pun.
Hasilnya, partisipan yang tahu tentang
cuka balsamik sebelum mencicipi
menilai bir itu lebih buruk daripada
partisipan yang mencicipi tanpa
informasi. Padahal birnya sama.
Ekspektasi negatif membuat mereka
menilai rasa bir itu lebih jelek.
Menariknya, ketika partisipan baru
diberi tahu tentang cuka balsamik
setelah mencicipi, mereka menilai
bir itu lebih baik. Ini menunjukkan
bahwa ekspektasi yang terbentuk
sebelum pengalaman sangat
memengaruhi cara Anda menilai
pengalaman itu.
Lee dan timnya menyimpulkan bahwa
otak tidak menilai pengalaman secara
murni. Ia membandingkan
pengalaman dengan ekspektasi yang
sudah terbentuk. Jika ekspektasi
terlalu tinggi atau terlalu spesifik,
kenyataan akan terasa kurang
memuaskan.
Eksperimen Wilson, Wheatley,
Meyers, Gilbert, dan Axsom
(2000): Afective Forecasting
Timothy Wilson dan timnya
melakukan penelitian tentang
affective forecasting, yaitu
kemampuan manusia untuk
memprediksi seberapa bahagia atau
sedih mereka di masa depan.
Partisipan diminta memprediksi
bagaimana perasaan mereka setelah
suatu kejadian, seperti menang
lomba atau gagal ujian.
Hasilnya, partisipan cenderung
melebih-lebihkan intensitas emosi
mereka. Mereka mengira akan
sangat bahagia setelah menang,
atau sangat sedih setelah gagal.
Tetapi ketika kejadian itu terjadi,
emosi mereka tidak sekuat yang
diprediksi.
Wilson menyimpulkan bahwa
manusia buruk dalam memprediksi
perasaan. Kita cenderung
membangun skenario emosional
yang terlalu dramatis.
Ketika kenyataan tidak sesuai
skenario itu, muncul kekecewaan
atau kebingungan.
Mengapa The Paradox of
Expectations Begitu Efektif?
Otak Anda suka membuat skenario.
Ia ingin rasa aman, jadi ia membuat
prediksi. Tetapi prediksi itu sering
terlalu rapi. Dan hidup tidak pernah
serapi skenario. Begitu kenyataan
tidak sesuai, otak Anda
menganggapnya sebagai kekurangan.
Padahal itu hanya perbedaan.
Ketika Anda memasang harapan terlalu
tinggi, Anda menciptakan standar
yang tidak realistis. Anda menuntut
kenyataan untuk mengikuti skenario
di kepala Anda. Ketika kenyataan
datang dengan versinya sendiri, Anda
merasa kecewa, meskipun versi itu
sebenarnya baik.
Paradoksnya adalah Anda pikir
harapan tinggi membuat Anda lebih
bersemangat. Padahal harapan tinggi
sering membuat Anda buta terhadap
hal-hal kecil yang sebenarnya bagus.
Anda pikir menurunkan harapan
membuat Anda tidak bersemangat.
Padahal justru itu yang membuat
Anda bisa merasakan apa adanya.
Tiga Langkah Menerapkan
The Paradox of Expectations:
Kisah Rina yang Kecewa pada
Liburan
Untuk memahami cara kerja paradoks
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia merencanakan liburan ke pantai.
Langkah 1: Sadari Bahwa Anda
Sedang Membangun Skenario
Rina sudah membayangkan
liburannya. Ia membayangkan
pantai yang sepi, matahari terbenam
yang sempurna, dan udara yang
tidak terlalu panas.
Rina: “Ini akan jadi liburan terbaik.
Semuanya harus sesuai rencana.”
Ia memasang harapan sangat tinggi.
Setiap detail sudah ia bayangkan.
Langkah 2: Lihat Kenyataan
Tanpa Menuntut
Saat tiba di pantai, kenyataannya
berbeda. Pantainya ramai.
Cuacanya lebih panas dari perkiraan.
Rina mulai kecewa.
Rina: “Ini tidak sesuai bayanganku.”
Tetapi kemudian ia bertanya,
“Ini buruk, atau hanya tidak sesuai
skenarioku?”
Ia mulai melihat hal-hal yang tetap
bagus. Ombaknya tenang.
Makanannya enak. Ia bisa duduk
santai di tepi pantai.
Langkah 3: Nikmati Apa Adanya
Rina memutuskan untuk melepas
skenarionya. Ia tidak lagi menuntut
liburan itu menjadi sempurna.
Ia hanya menikmati apa yang ada.
Rina: “Liburan ini tidak seperti yang
kubayangkan. Tapi tetap
menyenangkan.”
Ia pulang dengan perasaan puas,
bukan kecewa.
Contoh Nyata dengan Dialog
Pikiran
1. Menonton Film yang Sedang
Populer
Raka ingin menonton film yang sedang
ramai dibicarakan. Semua orang
bilang bagus.
Pikiran: “Ini pasti film terbaik
tahun ini. Aku harus merasakannya.”
Raka menonton dengan harapan
sangat tinggi. Setelah selesai,
ia merasa filmnya biasa saja.
Raka: “Kok tidak seheboh yang
kubayangkan?”
Ia menyadari bahwa harapannya yang
terlalu tinggi yang membuat film itu
terasa kurang.
2. Bertemu Orang Baru
Maya akan bertemu teman baru yang
dikenalkan oleh sahabatnya.
Pikiran: “Kami pasti langsung akrab.
Dia pasti sangat menyenangkan.”
Saat bertemu, mereka mengobrol
dengan baik, tetapi tidak langsung
akrab seperti yang dibayangkan.
Maya merasa sedikit kecewa.
Maya: “Ternyata tidak secepat yang
kubayangkan.”
Ia mencoba menikmati prosesnya
tanpa tuntutan. Pertemanan itu
akhirnya tumbuh perlahan.
3. Mencoba Restoran yang
Terkenal
Bima datang ke restoran yang
katanya sangat enak.
Pikiran: “Ini pasti makanan terbaik
yang pernah kucoba.”
Bima memesan dan makan. Rasanya
enak, tetapi tidak seheboh yang ia
bayangkan.
Bima: “Biasa saja. Padahal banyak
yang bilang enak.”
Ia sadar bahwa harapannya yang
terlalu tinggi membuat
makanannya terasa kurang istimewa.
Cara Keluar dari Jebakan The
Paradox of Expectations
Jika Anda sering kecewa karena
harapan, ada beberapa langkah
yang bisa dilakukan.
Pertama, jangan membuat
skenario terlalu detail.
Cukup katakan, “Aku akan jalani,
lihat nanti bagaimana.”
Ini memberi ruang untuk kejutan.
Kedua, antusiaslah tanpa
menuntut. Anda boleh
bersemangat, tetapi jangan
mengubah semangat itu menjadi
daftar tuntutan.
Ketiga, saat merasa kecewa,
tanyakan sumbernya.
“Aku kecewa karena ini buruk,
atau karena tidak sesuai
bayangan?”
Keempat, fokus pada yang ada,
bukan pada yang tidak ada.
Setiap pengalaman punya hal baik.
Cari itu.
The Paradox of Expectations
mengajarkan bahwa kekecewaan
sering kali bukan karena Anda
menerima yang buruk, melainkan
karena Anda mengharapkan yang
sempurna. Lepaskan skenario
di kepala Anda. Biarkan kenyataan
datang dengan versinya sendiri.
Karena justru di dalam ruang yang
tidak terikat harapan, Anda bisa
merasakan hal-hal baik yang
selama ini tertutup.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya The Paradox of
Expectations.
Lo pasti sering ngebayangin sesuatu
sebelum kejadian. Liburan,
ketemu orang, acara tertentu.
Lo udah kebayang serunya.
Lo udah pasang harapan tinggi.
Tapi pas kejadiannya dateng, rasanya
biasa aja. Bahkan ada rasa kecewa
dikit, padahal kejadiannya nggak
buruk-buruk amat. Nah, ini yang
namanya The Paradox of
Expectations.
Simpelnya, paradoks ini ngajarin
bahwa makin tinggi harapan lo, makin
gede peluang lo buat kecewa. Bukan
karena kenyataannya jelek.
Tapi karena otak lo udah bikin versi
sempurna di kepala, dan kenyataan
nggak pernah bisa ngalahin versi
sempurna itu. Jadi, yang bikin lo
kecewa bukan kejadiannya. Tapi jarak
antara bayangan lo dan kenyataan.
Contoh gampangnya gini. Lo mau
nonton film yang lagi rame. Semua
orang bilang bagus. Lo udah kebayang
filmnya bakal gila. Pas nonton,
filmnya bagus. Tapi karena
ekspektasi lo udah setinggi langit,
filmnya nggak kerasa seheboh yang lo
bayangin. Akhirnya lo bilang,
“Biasa aja.” Padahal kalau lo nonton
tanpa harapan, lo mungkin bakal
lebih nikmatin.
Nah, kalau lo ingat, di daftar lama
kita pernah bahas Anchoring Bias
dan juga Framing Manipulation.
Dua-duanya masih nyambung
ke gimana informasi awal ngebentuk
cara lo ngejudge sesuatu. Nah, kalau
dibandingin, Anchoring Bias itu
jangkar dari angka atau info pertama.
Sedangkan Paradox of Expectations
ini jangkar dari harapan lo sendiri.
Jadi mirip di mekanisme, beda
di sumber.
Contoh lain, lo mau ketemu orang
baru. Temen lo bilang, “Orangnya
seru banget.” Lo udah ngebayangin
bakal langsung nyambung.
Pas ketemu, dia emang seru, tapi
nggak secepat yang lo bayangin.
Lo malah ngerasa canggung. Padahal
kalau lo dateng tanpa ekspektasi,
lo mungkin lebih santai dan lebih
bisa nikmatin prosesnya.
Kenapa ini terjadi? Karena otak lo suka
bikin skenario. Dia pengen rasa aman,
jadi dia bikin prediksi. Tapi prediksi
itu sering terlalu rapi. Dan hidup
nggak pernah serapi skenario. Begitu
kenyataan nggak sesuai, otak lo
nganggep itu sebagai kekurangan.
Padahal itu cuma perbedaan.
Di sinilah paradoksnya. Lo pikir
pasang harapan tinggi itu bikin lo
lebih semangat. Padahal harapan
tinggi itu sering bikin lo buta sama
hal-hal kecil yang sebenernya bagus.
Dan lo pikir kalau lo nurunin
harapan, lo jadi nggak bersemangat.
Padahal justru itu yang bikin lo bisa
ngerasain apa adanya.
Cara pakainya gampang.
Jangan bikin skenario terlalu detail.
Cukup bilang, “Gue bakal jalanin,
lihat nanti gimana.” Itu aja. Bukan
berarti lo nggak boleh antusias.
Tapi antusiasnya jangan dibikin
jadi daftar tuntutan.
Terus, kalau lo mulai ngerasa kecewa,
tanya, “Ini kecewa karena emang jelek,
atau karena nggak sesuai bayangan
gue?” Biasanya jawabannya yang kedua.
Jadi, The Paradox of Expectations
itu ibarat lo mesen makanan, terus lo
udah ngebayangin rasanya
muluk-muluk. Begitu dateng, rasanya
enak, tapi nggak seenak bayangan lo.
Padahal makanannya nggak salah.
Yang salah cuma bayangan lo yang
kelewat tinggi.
Gimana? Mulai kerasa kan kenapa
kadang kita kecewa bukan karena
dapet yang buruk, tapi karena
berharap yang sempurna?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas The Paradox of Control in
Relationships. Ini masih
nyambung, tapi kali ini soal kenapa
makin lo coba ngatur orang, makin
dia menjauh. Stay tuned.
